Tampilkan postingan dengan label jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jerman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Januari 2011

Resolusi 2011

Hal ini terangkat dari rekan-rekan yang tengah gencar menuliskan Resolusi mereka di tahun 2011. Bagaimana dengan resolusi saya?


1. Menentukan Jargon Kriteria "Mau Jadi Dokter Seperti Apa?"

2. Menyelesaikan Sisa Kepaniteraan Klinik agar tak lagi jadi sarden dan lulus tepat waktu

3. Lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia

4. Menentukan Minat Bidang Studi Lanjut (PTT? Sp atau Magister?)

5. Mengembangkan Bahasa, terutama Bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman

6. Travelling setelah koas

7. Cari pengalaman dunia kerja setelah koas

8. Terus memperbaiki diri, spirituil terutama berpikir positif dan mengendalikan diri

9. Mengembangkan kemampuan menulis, minimal 1 tulisan masuk ke media cetak

10. Memperbaiki berat badan, menuju ke BMI Overweight (Bye bye- Obese 1)

11. Menjalani resolusi dengan tepat guna.

Minggu, 26 Desember 2010

Setelah Koas, Belajar Bahasa!

Saya dan rekan-rekan saat studi Bahasa Jerman di Goethe Institut Internationes Jakarta, Menteng.
Kalau tidak salah ini tahun 2003-2004!

Saya tiba-tiba ingin sekali menulis tentang ini. Ya, mungkin ini adalah tulisan mengenai hal-hal yang akan segera datang (Yeay!) paling tidak kurang dari 1 tahun mendatang. Artinya? Setelah saya menyelesaikan studi di Kepaniteraan Klinik ini. Mengapa harus setelah koas? Ya, koas ini secara tidak langsung mengubur beberapa impian saya, membuat hal-hal tidak bisa saya lakukan dalam masa ini. Ya, artinya hal-hal ini sudah terkubur selama 1,5 tahun terakhir. Saya sangat tidak sabar menunggu pertengahan 2011, dan artinya saya akan "bebas". Hahaha!

Pertama, saya sangat ingin melanjutkan kembali mempelajari kembali bahasa-bahasa, terutama beberapa bahasa yang saya rasa tanggung. Ya dulu sempat mempelajari beberapa tata bahasa sederhana. Saya ingin sekali melanjutkan lagi belajar bahasa Jerman, bahasa Mandarin, belajar bahasa Tio Ciu (Masak orang Pontianak, Tio Ciunya amburadul?), bahasa Jepang, bahasa Tagalog, dan ada keinginan untuk satu dari bahasa Eropa Selatan (Italia, mungkin?) dan satu bahasa Eropa Timur (Rusia!).

Saya kembali terinspirasi dari salah satu pengguna Youtube, loki2504, yang belajar banyak sekali bahasa dan dia bisa mempraktikkan dengan lancar. Seandainya, saya bisa seperti dia! Ingin sekali bisa seperti dia.

Hingga kini yang lancar saya hanya bisa Bahasa Indonesia (Hiks) baik untuk berbicara, menulis, dan mendengar serta menulis ilmiah. Bahasa Inggris ya kalau membaca buku teks kedokteran masih bisa, tapi berantakan juga kalau disuruh presentasi ilmiah (Jadi ingat presentasi Emergency Case Report ketika di stase Bedah). Kelompok bahasa Mandarin menjadi suatu impian juga untuk dikuasai, ya karena saya keturunan Tionghoa, paling tidak saya harus bisa juga. Bahasa Jepang sedikit-sedikit tahu kana (itu dulu, sekarang lupaa... ) karena kekerapan menonton anime. Bahasa Jerman, karena dulu terlanjur bahasa belajar resmi di Goethe. Bahasa lainnya menjadi keinginan.

Saya memang berusaha mempelajari secara otodidak, mendengar melalui ipod (sekarang ipodnya diwariskan ke adik saya). Koleksi beberapa buku belajar bahasa pun ada. Namun waktu tidak ada... Yang ada pulang ke rumah setelah koas, capai, dan tidur. Atau kalau tidak mengerjakan tugas. Hemmm, impian itu masih ada, dan sempat terkubur dan terlupa. Tetapi sejak melihat video dari loki2504, mimpi itu kembali bangkit.

Mungkin Anda bertanya mengapa susah-susah belajar bahasa? Saya juga sulit menjawabnya. Bagi saya sangat menarik belajar bahasa, dan itu sangat membuka wawasan yang ada di luar ilmu berbahasa lokal. Dan ternyata saya baru menyadari bahwa ini juga berhubungan dengan salah satu impian saya lainnya (setelah koas, tentunya) yaitu menjelajah, berpergian, keliling dunia. Semoga mimpi itu tetap ada!

Senin, 24 Mei 2010

Harus Ke Jerman, Suatu Saat

Sepertinya ini sekitar tahun 2003-2004.
Saya bersama rekan-rekan di Goethe Institut Internationes Jakarta.



Jerman? Ya, nama suatu negara yang tujuh tahun lalu muncul dalam benak saya dan ayah saya. Suatu negara yang harapannya saya melanjutkan studi. Tetapi, dengan pertimbangan bahwa keilmuan yang saya harapkan akan lebih baik dipelajari di dalam negeri, akhirnya saya memutuskan untuk kelak saya berkunjung untuk kursus atau seminar kedokteran saja di sana.

Saking saya mempersiapkannya, sejak kelas 2 SMA, saya sudah memulai kursus di Goethe Institue Internationes Jakarta di bilangan Menteng, dekat sekali dengan Kanisius, almamater saya. Tinggal jalan kaki saja. Dua tahun saya menghabiskan waktu di sana, walaupun pada akhirnya saya tidak mengambil ujian Zertifikat Deutsch (ZD), masih agak menyesal sih. Tapi walaupun demikian, saya tidak menyesal bahwa telah mempelajari bahasa Jerman ini. Ya, secara garis besar, banyak membantu dalam mempelajari kedokteran, paling tidak dari bahasanya. Paling tidak dari pelafalannya, seperti roentgen (demikian penulisan yang benar, dan dilafalkan: /ruensyen/). Dan syukurnya, saya masih bisa mengingat sedikit-sedikit tentang bahasa ini.

Saya juga mempelajari budaya, walau itu terbayang dalam benak fantasi saya. Bagaimana bisa menikmati Bradwurst yang lezat, minum Bier, budaya dan suasana Eropa yang kental. Aduh, sepertinya pengalaman yang bakal menarik. Saya masih menyimpan bertandang di Jerman menjadi hal yang akan saya lakukan. Kalau pun saya tidak bisa belajar di sana, saya paling tidak harus bisa berkunjung. =) Mudah-mudahan kelak Tuhan mengizinkannya ya.

Ngomong-ngomong soal Jerman, saya jadi teringat rekan SMA saya yang bernama Frans. Ada kisah menarik. Dulu saya yang mengajaknya untuk belajar bahasa Jerman, bahkan seingat saya, saya 1 tahun lebih dulu darinya. Namun, hasilnya sungguh luar biasa! Dia yang akhirnya ke Jerman, melanjutkan studinya di sana. Hehehe, mungkin dulu tidak terbayang, namun dengan usaha keras, hal itu bukanlah mustahil. Mudah-mudahan saya bisa menyusul ke sana ya, Frans!