Tampilkan postingan dengan label rotasi jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rotasi jiwa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juli 2010

Pasien Psikiatri: Sebuah Topi Biru

Hari ini hari terakhir di Psikiatri. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, 5 minggu. Hari-hari yang berbeda dengan apa yang saya jalani selama beberapa stase belakangan ini. Ada satu hal yang saya peroleh di sini. Saya harus mampu mendengar. Jelas, kepekaan harus diasah dan dipertajam di sini. Mungkin dulu saya mendengarkan pasien yang mengeluh demam lima hari tak urung sembuh. Namun kini mungkin saya mendengarkan kisah serupa, pasien marah-marah dan mengamuk, misalnya. Yang membuat berbeda adalah akar kisah-kisah yang ada. Mungkin bila dulu akar masalahnya adalah karena lingkungannya sedang banyak nyamuk demam berdarah. Nah yang ini, karena sejak dulu ia memang pendiam dan sulit mengungkapkan perasaannya.

Di dalam psikiatri, yang saya rasakan, diperlukan sensor-sensor rasa yang peka. Ketika ia mutisme, tidak mau bercerita. Atau mungkin ia sedang euforia, sehingga meluap-luap berbicara. Dan tentunya keduanya memiliki artinya masing-masing. Dan di sinilah bergantung bagaimana kita mampu berkomunikasi dan observasi. Dan tentunya hal ini tak sekedar menggunakan logika dan rasional saja, tetapi perasaan.

Itulah uniknya psikiatri sejauh yang saya peroleh. Kita pun perlu merajut ulang bagaimana perjalanan hati mereka sehingga pada akhirnya mereka mengalami gangguan jiwa. Memahami mereka sebagai individu dan bagaimana kita, mungkin, bisa menjadi pihak yang bisa "membela" mereka ketika mereka dihantui dan ditikam oleh stigma masyarakat.

Mengarungi Hidup

Gangguan jiwa memiliki perjalanan yang pelik dan rumit, serta personal. Di sinilah kehidupan seorang pasien dirajut. Bagaimana pasien bisa akhirnya terjatuh dan mengarungi hidup mereka. Hidup rumit bagi mereka dan jelas tak serumit apa yang selama ini kita keluhkan. Mereka merasakan lebih dari kita.

Adalah Tn. F, pasien yang kebetulan menjadi tanggung jawab saya untuk menyusun laporan kasus. Ok, pada awalnya mungkin sebuah "neraka" bagi saya. Bagaimana tidak! Ia mutisme (tidak mau berbicara), miskin isi pikiran, tertawa menyeringai, suasana perasaan sulit dirabarasakan, kurang kooperatif. Ya, sebuah kasus yang tentunya sulit. Dasar memang otak saya, keluarlah isi pikiran egoistik: "Bagaimana laporan saya ini?", "Apa yang mau saya tulis kalau dia ngomong saja tidak mau?". "Haduh! Cilaka ini.". Otak saya yang egois itu berceramah panjang. Tapi ada satu hal yang akhirnya meredam semua, "Memang nanti kalau praktik bisa memilih pasien sesuka jidatmu?". Hati nurani pun menang. Saya mulai mendekati dia.

Dan... oh Tuhan ternyata ia lumpuh, dengan otot tungkai bawahnya yang mengecil. Ketika saya memperkenalkan diri, ternyata ia menyambut jabatan tangan itu. Saya pun mulai berbicara dan ketika saya mulai dengan pembicaraan formal sesuai dengan isi status laporan (Riwayat gangguan sekarang, riwayat gangguan sebelumnya, dsb), semuanya kacau. Ia tidak tahu apa-apa. Ya, saya sadar bahwa saya salah langkah. Akhirnya saya berbicara biasa saja, tentang makanan kesukaannya, apa cita-citanya, siapa artis favoritnya, memberinya kertas dan membiarkan ia menggambar. Memang masih kesulitan, dan ternyata pembicaraannya lebih baik daripada sebelumnya, walaupun status laporan saya masih kosong.

Mulai Tersenyum

Dan pada akhirnya pembicaraan itu mulai lunak, walau tidak selancar pasien lainnya. Menilai perilaku, tindak-tanduk dari observasi ternyata mulai memberi tanda untuk saya tuliskan. Mungkin pembicaraan saya tidak berstandar wawancara psikiatri sama sekali. Mungkin bila saya OSCE wawancara, saya sudah pasti akan her skillslab itu. Masa bodohlah pikir saya, yang penting bina rapportnya sudah mulai ada. Apa yang membuat saya senang adalah pada akhirnya dia bisa tersenyum simpul (bukan menyeringai tentunya) dengan membuat lelucon bodoh. Saya bilang saya malam-malam melihat dia sedang berbicara. Namun tiba-tiba ia seperti tertarik: "Memang dokter tahu saya berbicara apa?" (Satu-satunya kalimat terpanjang dia). Walaupun sepertinya tidak ada lucunya, namun mungkin bagi dia sesuatu yang menarik. Padahal itu lelucon lagi-lagi, untuk mengisi kolom "Halusinasi" di status.

Harapan Sebuah Topi

Lama kelamaan dia pun mulai berkata, "Saya mau topi." Ketika saya bertanya untuk apa, "Untuk gaul." Ternyata untuk gaul. Ah, menurut saya suatu hal yang biasa-biasa saja. Ternyata hal itu bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata setelah saya mewawancara ibunya. Ternyata ia adalah anak tertutup, sulit menyatakan perasaannya pada orang lain, dan seringkali putus asa karena harapannya sering tak tergapai. Dan inilah yang menjadikannya, skizofrenia hebefrenik, selain masa kecil dan remaja yang juga kurang baik. Ini membuat saya sedikit terpanggil. Mungkin saya selama ini masih tidak bersyukur dengan apa yang saya miliki, dengan kemampuan yang dimiliki orang tuaku. Saya padahal semestinya bersyukur dengan apa yang saya miliki dan saya masih bisa mewujudkan apa yang saya inginkan. Saya pun berkata kepadanya, "Dokter janji ya nanti dokter carikan topi yang dokter sudah tidak pakai lagi." Saya ingin paling tidak ia sesekali bisa menikmati apa yang ia ingini.

Saya pun kembali ke F,setelah laporan kasus selesai saya sampaikan. Pada akhirnya saya bertemu dengannya seraya memberikan topi biru berlogo sepak bola nasional Prancis kepadanya. Saat bertemu dengannya saya menemukannya sedang duduk sendiri, dengan baju yang dilepaskan dan diletakkan begitu saja di kepalanya. Saya pun menghampirinya, "F, kok begitu, bajunya dipakai atuh." dan saya mengenakan topi kepadanya. "Ayo, bilang apa?", kata saya. "Terima kasih dok" dan ia pun tersenyum. "Jangan hilang ya F topinya. Tetap semangat ya F, biar cepat pulih!" Dalam pikir saya, entah apakah kalimat terakhir itu dapat ia cerna atau tidak. Namun yang membuat saya senang adalah bisa membuat ia senang, itu saja.

Keesokan harinya, rekan saya mengabarkan kabar yang membuat saya sedikit terharu. F ternyata masih mengenakan topi itu, walaupun miring! Sedikit lega sih, saya kira barang itu akan entah bagaimana nasibnya. Terima kasih ya F, telah memberikan pengalaman ini di stase psikiatri.

Terima kasih bagian psikiatri, dan selamat datang stase anak untuk 11 minggu ke depan!

Sabtu, 19 Juni 2010

Pasien Gangguan Jiwa: Merangkul Mereka




Kini, saya sudah berada di minggu ke-3 di stase Ilmu Kedokteran Jiwa dan Perilaku. Sehari-hari memang saya menghabiskan waktu di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan, atau oleh masyarakat lebih populer disebut RSJ Grogol.

Ya, namanya sudah RSJ, berarti pasien yang ada adalah pasien dengan gangguan jiwa. Ini sebuah pengalaman yang menarik, pertama kalinya, hingga menegangkan. Bagaimana tidak, mungkin kalau kita bertemu dengan pasien lainnya sehari-hari, kita lebih mudah untuk membina hubungan dokter-pasien dan berkomunikasi satu sama lainnya. Tapi bagaimana dengan pasien gangguan jiwa? Akan seperti itu pulakah?

Bayangan Stigma

Di bayangan saya memang memiliki stigma, yang saya sadari sudah terlekat sejak kecil. Saya masih mengingat dulu di samping rumah saya di Sisingamangaraja, Pontianak. Adalah seorang ibu-ibu berperawakan menor, berperilaku aneh, berbicara cadel, dan bisa saja membuka baju dia bila disuruh. Pekerja tetangga saya sering mengerjai dia dan akhirnya memperolok dia, "Orang gila!". Selain itu, sering pula saya menemukan orang tanpa busana, jorok, hanya berjalan-jalan saja, tidur di trotoar, dan tak jarang mengamuk. Dan itu juga kata ayah saya, "Itu orang gila." Dan korelasi yang saya dapat adalah orang gila itu ada gangguan jiwanya. Dan saya pun berpikir sejenak,"Apakah saya akan bertemu seperti bayangan saya itu." Saya pun mula terbukakan ketika belajar Psikiatri, apa itu gangguan jiwa, apa itu rentang gangguan jiwa, dari Gangguan Mental Organik hingga berbagai gangguan semacam penggunaan zat psikoaktif, skizofrenia, manik-depresi, neurotik, dan lainnya. Ternyata sangat luas.

Namun tetap saja, jantung ini berdebar, pasien macam apa yang akan saya temui nanti.
Dan apa yang saya temukan di RSJ, memang pasien dalam rentang yang lebar. Memang ada yang berperilaku diam-diam saja, ada yang paranoid, gaduh-gelisah, namun tak sedikit yang bersahabat. Tetapi jujur saja, ketika masuk bangsal, saya masih tetap deg-degan, bagaimana kalau pasien mengamuk? Namun untungnya, itu hanya pikiran yang bodoh. Memang itu bisa saja terjadi, namun kalau bisa membina rapport yang baik, membuat pasien bisa merasa nyaman, dan itu bisa terjadi.

Dua Pengalaman

Ada pengalaman pula bahwa ada pasien yang tengah curiga gaduh-gelisah tiba-tiba menghardik saya, "Mana tangan dokter!". Terus-terang saya bingung apa saya memberi tangan saya atau tidak. Akhirnya saya berpikir mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Saya memberi tangan saya. Tapi hasilnya, tangan saya dijabat begitu erat dengan ekspresi mukanya yang galak. Saya bingung. Namun saya mencoba, "Sudah ya bu ya. Dokter mau keluar dulu.", dengan nada rendah. Untungnya, pada akhirnya ia melepaskannya.

Saya juga ada pengalaman dengan pasien yang logorrhea (banyak bicara) dan flight of ideas (ide pikirannya banyak). Dan seringkali kepala saya pusing, karena tak biasa. Mereka bercerita banyak dan berlompat-lompat, dan sulit dihentikan. Namun saya berpikir, mungkin ini karena ketidakbiasaan saya. Tentunya, saya perlu untuk biasa. Allah bisa karena biasa.

Apakah Mereka Berbeda?

Pada akhirnya saya mendapat jawaban bahwa mereka toh sama saja dengan pasien lain, kita dapat berkomunikas, berinteraksi dengan mereka, dan pastinya dengan cara berbeda. Cara yang berbeda ini juga bukanlah hal yang luar biasa, anggaplah pasien dengan gangguan saraf dengan pasien patah tulang, juga cara komunikasinya berbeda. Begitu pula dengan pasien gangguan jiwa.
Kita harus kembali disadarkan bahwa mereka tetaplah pasien, tetaplah sesama. Mereka bukan alien, atau orang yang perlu disingkirkan. Mereka memang kini termarjinalisasi oleh lingkungan sosial, namun kita yang sadar jangan ikut menyingkirkan atau bahkan memperburuk keadaan. Justru, kita perlu merangkul mereka.