Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

Ibu

 

Kini aku hanya terduduk

Diiringi lantunan musik radio

Menarikan jemariku merangkai kata

Sembari menatapmu yang tengah terlelap

 

Aku memandangnya, seorang ibuku

Tertidur dengan oksigen di hidungnya

Dengan aneka untaian kabel di atas sanubarinya

Wajahnya memang tak seperti dulu tak berias

Tiada hapusan pensi di alis matanya

Atau jejak gulungan rambut helai rambutnya

 

Namun aku tetap bersyukur pada Tuhanku

Mimiknya kian hari kian bersinar

Dan relung senyum telah mampu tersimpul pada bibirnya

Walau itu adalah senyum getir palsu menahan sakitnya

 

Sebulan aku bersamanya

Menghabiskan waktu yang tak sedikit

Meninggalkan segala keseharianku

Aku belajar bagaimana bersamanya

Memang kusadari bahwa mungkin aku tak banyak mengingatnya di setiap peluhku

 

Aku mengingat ibuku dengan satu paradoks

Ia tampak begitu tegar menghadapi semuanya

Bahkan mungkin akulah yang cukup tersungkur dalam

Namun ia tetap berusaha untuk menikmati dunia dengan perkasa

 

Aku terbangun dalam lamunanku

Aku menunggu hari-hari esok, masa-masa kepulihannya

Ya Tuhan, biarkan yang terbaik terjadi

Namun aku masih ingin ia menikmati hari tuanya bersama cucunya kelak

 

Ibuku, segeralah pulih

 

Di samping ibuku, 26 Oktober 2012

Cardiothoracic Intensive Care Unit, NUH

 

Minggu, 09 Januari 2011

Resolusi 2011

Hal ini terangkat dari rekan-rekan yang tengah gencar menuliskan Resolusi mereka di tahun 2011. Bagaimana dengan resolusi saya?


1. Menentukan Jargon Kriteria "Mau Jadi Dokter Seperti Apa?"

2. Menyelesaikan Sisa Kepaniteraan Klinik agar tak lagi jadi sarden dan lulus tepat waktu

3. Lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia

4. Menentukan Minat Bidang Studi Lanjut (PTT? Sp atau Magister?)

5. Mengembangkan Bahasa, terutama Bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman

6. Travelling setelah koas

7. Cari pengalaman dunia kerja setelah koas

8. Terus memperbaiki diri, spirituil terutama berpikir positif dan mengendalikan diri

9. Mengembangkan kemampuan menulis, minimal 1 tulisan masuk ke media cetak

10. Memperbaiki berat badan, menuju ke BMI Overweight (Bye bye- Obese 1)

11. Menjalani resolusi dengan tepat guna.

Rabu, 22 Juli 2009

Dan Semoga Mereka Dapat Tersenyum

Ini adalah buah pikir setelah tadi menemukan status Facebook salah satu rekan yang tengah berduka karena kakeknya tiada. Terus terang ini suatu perasaan yang cukup asing bagi saya. Suatu hal yang tidak pernah saya "rasakan". Rasakan ini saya tulis dalam kutip. Bukan saya tidak bersedih, tapi saya masih dalam jangkauan perkembangan pikiran yang tidak matang.

Ayah dari ayah saya (a kong) meninggal 1990-1991. (Terus terang saya lupa tahun yang tepat), Ibu dari ibu saya (popo) meninggal 1991. Ayah dari ibu (kungkung) meninggal pada tahun 1995an. Ibu dari ayah (a ma) saya meninggal pada tahun 1996.

Bersama dengan A Ma dan sepupu-sepupu.

Saya masih ingat, tidak ada perasaan duka yang mendalam. Kenangan pun harus saya flashback dari foto-foto yang ada. Ya, mungkin ketika kungkung datang ke Pontianak ketika saya masih kecil. Konon dengan posturnya yang tinggi, ia kerap kali membawa saya berjalan kaki di Pontianak, hanya keliling sekitar saja. Namun ia tetap semangat dengan tongkatnya.

Dengan popo dan akong mungkin lebih rabun lagi di pikiran saya. Berarti saya baru 4-5 tahun, baru masuk TKK. Dan saya tidak ada kenangan bahkan hingga penguburannya. Mungkin kalau popo, beliau meninggal di Jakarta. Mengenai akong, ia meninggal di Pontianak, tapi saya tidak bisa teringat. Atau mungkin, saya yang masih kecil itu, tidak disertakan dalam seremonialnya.

Dengan ama lebih banyak kenangan-kenangan. Saya masih ingat ketidakfasihannya berbahasa Indonesia. Sosoknya yang agak pendek memang dan wajahnya masih saya ingat. Ketika ia meninggal, rumah dukanya adalah rumah yang saya tempati saat ini di Pontianak. Mungkin saat itu baru saya bisa merasakan orang lain berduka, tangisan dari sanak saudara. Tapi dari diri saya sendiri masih tidak terlalu mengerti, apa itu berduka.

Terkadang, ada rasa iri juga ketika melihat ada rekan yang sekarang masih bisa bersama dengan kakek dan nenek mereka. Masih bisa makan dengan mereka. Masih bisa bertukar pikiran, masih bisa bersenda gurau dan mengatakan: He is my best grandpa, atau she is my outstanding grandma. Tetapi walaupun demikian, saya juga bersyukur bahwa mereka kini telah senang di surga. Dan semoga mereka bisa tersenyum dari sana, melihat cucu-cucunya dapat sukses di masa sekarang.

Yang masih bersama dengan kakek dan nenek mereka. Berusahalah menjadi cucu yang dapat dibanggakan oleh mereka dan sayangilah mereka.

Sabtu, 29 November 2008

Orang tua, berartikah buat kita?

Sebuah hal yang sedikit banyak menohok saya hari ini. Ketika memirsa sebuah tayangan teve, Idola Cilik, di RCTI. Salah satu kontestan yang bernama Debo beserta apa yang dialaminya menjadi perenungan bagi saya.


Perenungan mengenai orang tua merupakan hal yang sungguh klasik. Suatu hal yang sudah ditegaskan oleh Tuhan melalui perintah ke-4 nya. Hormatilah ibu bapamu.


Namun apa yang dirasakan olehnya mungkin dapat dianggap sebagai suatu ketidakadilan. Ketika ia masih kini berusia 9 tahun mungkin, ia mendapati kenyataan bahwa ayahandanya bekerja jauh darinya. Begitu pula dengan ibundanya. Ia tumbuh dan berkembang dengan nenek dan kakeknya. Tanpa menyentuh kasih langsung orang tuanya.


Namun ia tetat tegar, ia tetap ingin mempersembahkan apa yang terbaik dari seorang anak. Anggaplah sebuah bakti kepada orang tua. Ia hanya mendengar suara ayahandanya, namun hal ini cukup membuat ia bercucuran air mata. Ketika ia hanya melihat foto ibunya yang kini berada di Timur Tengah, ia dapat mendapati sosok ibu dalam hatinya. Begitu ia tegarnya.


Air mata memang tercetus pada diri saya. Ketika tertohok, membandingkan apa yang terjadi pada diri saya. Terkadang kita bisa membuat label bahwa orang tua begitu menyebalkan dan cerewet. Atau orang tua adalah sosok yang tidak sayang pada diri kita.


Tetaplah kita berpikir, bahwa kasih orang tua adalah tiada batas. Bagaimana orang tua mampu menyayangi anaknya. Apalagi anak yang ia langsung ia besarkan. Kasihi orang tua, seburuk apapun ia. Tidak ada orang tua yang buruk, bahkan itu terburuk bagimu. Ketahuilah kita tidak akan ada apa-apanya tanpa kehadiran mereka.


Berikanlah yang terbaik bagi mereka, darma baktimu.


Love you, mami dan papi!