Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Agustus 2012

Memimpikan Sushi

Ya, saya tidak tahu apa yang terjadi pagi ini. Entah mimpi jenis apa yang terjadi.
Saya terbangun dengan perasaan yang tidak seperti biasa.
Saya tersadar, dengan mulut yang begitu kering dan pahit, layaknya orang yang kelaparan.

Saya beranjak duduk dan tiba-tiba terlintas.
Ya ampun, saya baru bermimpi.
Mimpi yang cukup aneh, bermimpi bersantapkan sushi.
Menikmati nikmat pedasnya wasabi bercampur soyu.
Renyahnya kulit salmon.
Gurihnya unagi.
Serunya menggerogoti edamame.

Memang sudah hampir enam bulan saya tidak menyantap sushi.
Saya masih ingat, ketika di Jakarta, di depan meja sushi inilah saya tak jarang menghabiskan waktu.
Ketika masa galau tiba, ketika menyantap sushi, kegalauan terasa sirna.
Di depan meja sushi pula segala kisah kasih bertaut.
Di depan meja sushi all-you-can-eat juga banyak canda dan tawa bersama kawan di Jakarta.

Saya merindukan Sushi.
Saya merindukan Jakarta.



Untuk semua kawan makan sushi saya.
Ellen, Stevani, Teteh Ester, Handy, Julius, Rifky, Andy, Nicky, Eric, Debby, Patsy, Bim2, Ninu.

Selasa, 26 April 2011

Terjerat Sushi

Sushi, I'm craving for this =)


Saya lupa tepatnya kapan saya berkenalan dengan makanan yang namanya sushi. Saya dulu membayangkannya masuk ke dalam mulut pun membuat saya bergidik. Barang mentah tak dimasak? Oh, bukan mimpi yang indah tentunya.

Yang saya ingat dulu saya dan rekan-rekan, dijamu oleh salah satu yang berhari jadi. Kami dijamu di Poke Sushi yang hingga kini masih tenar dengan sushi semua-dapat-kau-makan (All you can eat, AYCE). Saya hanya berani makan yang matang. Saya belum punya nyali untuk yang mentah. Namun saya pun ditawari, saya hanya makan sebuah. Dan saya sudah siap dengan kertas tisu, jika alih-alih saya harus melepehkan. Ups, ternyata Tuhan, itu surga.

Hingga kini sushi masuk ke dalam salah satu jenis kuliner yang saya sukai. Bisa dibilang, satu kali sebulan saya pasti ke restoran sushi. Padahal harganya lumayan menguras saku dalam-dalam. Dan entah mungkin adiksi, makanan ini seringkali peneman atau antidotum ketika pikiran tak tenang nan galau. Tentunya saya lebih memilih sushi, daripada harus menenggak alprazolam. Sushi ini juga yang menjadi peneman saya dan rekan-rekan "Oncom Jaya" yang akhirnya menyegarkan jiwa kami ketika kami dijatuhi sanksi. Hehehe.....

Sushi ini kian menjadi dambaan dan rinduan. Apalagi ketika saya berdinas di luar kota seperti Pontianak dan Sukabumi. Oh Tuhan, tidak ada sushi. Dan hal ini membuat saya berpesta pora sushi setibanya di Jakarta.

Kini, saya tak bisa lepas dari sushi. Saya terjerat.

Sabtu, 22 Januari 2011

Cerita Tentang Makan-memakan Koas



Saya dan rekan-rekan (Vili, Devi, dr. Hendy, Astrid, Darwin, dan Gerry *yang mengambil gambar*) di Kantin STIKES St. Carolus di PK Sint Carolus Salemba, Jakarta. Gambar ini diambil saat Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam Sint Carolus.

Koas juga manusia. Koas juga perlu makan.

Bukannya karena saya berperut tambun terus berkoar-koar tentang makanan ya. Tetapi menurut saya, topik ini cukup menarik untuk diceritakan. Memang, makanan yang dimakan oleh koas itu tidak luar biasa. Namun, sebuah proses untuk mendapatkannya, itu yang luar biasa.

Kapan koas makan?

Ini pertanyaan pertama, yang mendasar. Kapan koas makan? Terkadang jawaban saya pada pernyataan ini membuat ibu saya mengelus dada. Saya selalu menjawab, saya akan makan ketika ada waktu. Saya seringkali tak makan pagi. Hanya menenggak susu panas buatan Mak Unah (salah satu orang di rumah tante saya), dan saya tak jarang mengatakan tak perlu susu bila pukul jam menunjukkan jam 5 pagi.

Ketika siklus mayor, saya sering harus mengeset alarm weker di pukul 04:30. Sering pula weker itu saya matikan tak sadar, dan ketika bangun sudah pukul 05:30. Astaganaga! Seringkali tak mandi (ups), tak makan, hanya bergegas ricuh, menyalakan si perak, tanpa pamit (karena orang rumah belum bangun kecuali Mak Unah), dan langsung ngacir ke rumah sakit yang menempuh 15-20 menit. Itu di rumah sakit di Pluit. Nah kalau di Kramat Jati, waktu harus diatur lebih awal lagi. Hal ini membuat ketika di rumah sakit, perut pun bernyanyi keroncong-an.

Memang, kalau di siklus minor yang datang jam 7, tidak perlu follow-up pasien, memang kesejahteraan perut di pagi hari lebih terjamin.

Tidak makan di pagi hari, sering juga dilanjutkan sampai siang menjelang sore, sehingga baru menyuapi perut dengan makanan pada sore hari.

Rekor saya makan adalah mendekati makan malam, karean harus menjaga pasien yang begitu buruk, dan rekan-rekan saya lain juga sibuk dengan pasiennya. Memang urusan pasien harus diutamakan dari urusan perut. Krukk.. krukkk...

Bagaimana cara koas makan?

Terutama kalau jaga malam, dan jam sudah mulai maghrib, inilah waktu koas mencari makan. Serunya, kalau jaganya ramai, kita akan berseragam memesan makanan. Saya sendiri jarang dan hampir tak pernah membawa makanan jaga untuk makan malam. Selain basi, tentu rasanya tidak sepenanggungan dengan rekan-rekan sejaga malam.

Mengapa saya katakan seru kalau memesan makanan? Karena masing-masing otak akan memesan seleranya masing-masing. Nah, sampai menemukan suara bulat, perlu waktu, dan menengok ke belakang makanan apa saja yang pernah dimakan di jaga malam sebelumnya. Untungnya kalau sedikit orang, dulu saya pernah memesan belasan kepala (karena ditebengi oleh koas bagian lain yang bangsalnya dekat). Hahaha... Selain ribet nelponnya karena pesanannya banyak, repot harus konfirmasi lagi (takut kalau ada yang ketinggalan), dan repot menagihnya! Pastinya uang itu akan ditalangi oleh seseorang dan menagihnya yang cukup repot. Di sinilah terlihat, siapa yang cincai-cincai (apa yang terjemahannya?) dan orang yang kikir dan teliti (bahkan ratusan pun dihitung!). Bagaimana membayar KFC yang harganya Rp 28.976 ya? Hehehe...

Apa saja yang dimakan koas?

Kami makan segala hal. Mulai dari nasi padang, nasi ayam, pesenan warung, indomie, sampai ayam goreng cepat saji. Kalau lagi di awal bulan atau uang masih "berlimpah" terkadang kami bisa sedikit royal memesan makanan. Kalau lagi bokek, indomie sudah bersyukur hehehehe....

Makan malam koas adalah suatu peristiwa yang harus disyukuri, peristiwa yang tak boleh dilewatkan. Dari sini akan mengenal kebiasaan masing-masing. Siapa yang jorok tidak cuci tangan, siapa yang makan supercepat tidak bernapas (*tunjuk tangan*), siapa yang makan berbunyi hehehe...

Ketika yang lain bersama keluarga

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah kami, para koas, harus makan malam di rumah sakit, dan sedangkan orang lain akan makan malam bersama keluarga mereka di rumah, menikmati masakan rumah. Ya, bisa menjadi suatu kerinduan, namun tetap menjadi suatu bela rasa di dalam diri, mengabdi dan melayani. Dan makan bersama rekan-rekan jaga pun tak kalah nikmat karena sudah anggap jadi keluarga sejaga malam.

Itulah kisah kami para koas, dokter muda dengan segala kisahnya mengenai makan-memakan. (Asal jangan makan teman saja ya... =p)

Sabtu, 01 Mei 2010

Catatan Kuliner Koas Forensik (1)

Super Penyet


Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa waktu 4 minggu di Semarang, oleh koas forensik juga dimanfaatkan sebagai waktu bernapas sedikit lega. Mungkin juga mendapat suasana yang berbeda dari Jakarta, menghabiskan waktu penuh di Semarang, juga tentunya dimanfaatkan untuk berwisata. Apalagi bila sebelumnya adalah koas siklus mayor yang juga menguras tenaga selama 10-11 minggu.

Salah satu wisatanya adalah wisata kuliner! Wisata olahraga mulut. Mungkin beberapa catatan ini berguna bagi mereka yang akan berada di Semarang:


  • Warteg Ibu Dewi, depan RS Kariadi di dekat Jalan Solo. Warteg yang lumayan untuk rasa dan harganya. Udang gorengnya cukup nikmat dan banyak pilihan makanan lain. Range harga sekitar Rp 5000-10000.
  • Super Penyet. Restoran sekitar Jalan Gajahmada. Yang mengagetkan bagi saya, makanannya cukup terjangkau antara Rp 10000-25000
  • Kantin Departemen Forensik. Ya cukuplah, nasi kotak 5000an. Gorengan 1500an. Juice 4500an. Belum ditambah ibunya yang lembbbuuuttt banget ngomongnya. Sampai ketika saya tak sengaja memecahkan botol teh, "Ndak apa-apa, mas". Waduh, jadi nggak enak..
  • Mie Lampung. Di dekat RS Kariadi. Harganya lumayan Rp5000-15000. Biasanya tempat kami makan sayur (karena makanan khas koas sering kurang serat). Kangkung cah tauconya lumayan. Untuk rasa, standar-standar saja.
  • Sapi Bali Semarang. Di Jalan Sibayak dekat Hotel Grand Candi di daerah Sisingamangaraja. Jelas sekali ini adalah makanan penuh dosa karena: enak banget, mahal, banyak lemaknya. Untuk iga bakar kecap saja seharga Rp35000+
  • Rumah Ijo. Sebelah Mie Lampung. Menu penyet. Harga lumayan murah, dan rasa standar. Namun yang enak banget adalah jus alpokat oreo... (seharga Rp 4500).
  • Delivery Lombok Idjo, menu ayam dan empal. Harga sekitar 10.000an. Rasanya enak dan apalagi para penikmat sambal. Saya memesan empal sambal terasi, enak. Tetapi menurut saya lebih enak di Super Penyet.
  • Nasi Ayam Bu Nyoto di depan sekolahan Pangudi Luhur Santo Yusup di Jalan Mataram. Ada si Eric dan Dedi yang mengantar ke sini. Makanan ala Semarang. Nasi dengan kuah santan, kuah sayur labu (?), dan potongan ayam. Harga Rp 8000.
  • Es Puter Conglik di dekat Hotel Horison Simpang Lima, jalan Ahmad Dahlan. Semacam es puter, ketika saya datang ada rasa cokelat, duren, leci, dan kelapa. Harga es krim duren 10000, non-duren 8000.
  • Nasi Pecel Yu Surip. Saya lupa dimana, karena saya hanya diantar saja oleh si Eric. Hehehehe... thanks sarapan paginya. Enak! Harganya Rp 5000.
  • Nasi Gandul Pak Subur di Jalan Ahmad Dahlan setelah RS Telogorejo dari arah Simpang Lima. Nasi dengan kuah daging sapi bersantan. Yang suka jeroan, bisa dipesan. Apalagi diiringi dengan penyanyi jalan yang bagus suaranya! Harga Rp 8000an.
  • Jagung Bakar Serut, sama di sepanjang Jalan Ahmad Dahlan. Ya, jagung bakar seperti biasa yang dilepaskan dari tongkolnya.
  • Lekker Paimo di depan Kolese Loyola, Jalan Karanganyar. Lekker cokelat, karamel, hingga telor sosis keju. Harga range Rp 1000-8000an. Dan tampaknya lekker ini legendaris dan ia tahu kita mahasiswa forensik dari Jakarta. Ketahuan kali ya gelagatnya hahahaha....
  • Asem-asem Koh Liem, tak jauh dari Kolese Loyola. Asem-asem itu semacam daging sapi kuah asam. Enak, dan ada juga menjual sate babi. Asem-asemnya seharga Rp 15.000.
  • Bakmi Titee Gang Lombok di Jalan Gajahmada samping bakery Swiss. Semacam bakmi, kuah, daging ayam dengan sayur. Lumayanlah, menurut saya. Harga Rp 12500.
  • Nasi Goreng Babat, ada di satu area Bakmi Titee. Menurut saya sih masih enakan nasi goreng babat di eat and eat, MKG5, Jakarta. Tapi bolehlah. Harga Rp 15000.
  • Es krim Toko Oen, di Jalan Pemuda di depan Mall Sri Ratu. Es krimnya sungguh luar biasa. Rasanya beda dan terasa asli banget. Apalagi rasa buah-buahannya. Memang harga agak mahal, tapi enak banget. Setaralah dengan harganya. Harganya berkisar Rp10000-17500an.
Dan ini adalah wisata pada 7 hari pertama dan sudah berhasil membuat berat badan saya naik 3 kg. =) Nantikan jilid keduanya.