Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2011

"Sindrom (Jelang) Pasca Koas" dan Travelling?

Ok, tiba-tiba di malam ini saya kebelet ingin mengetik pikiran saya. Suatu hal yang sebenarnya terus terang saja, cukup sulit dibangkitkan. Hasrat saya untuk menulis sepertinya sudah mulai megap-megap. Yeah, saya perlu mood untuk menulisnya.

Sindrom pasca koas akut

Seperti kebanyakan yang kalian tahu, mungkin, bahwa sekarang saya menderita sindrom pasca koas. Sebuah sindrom ciptaan saya, ya bukan itu nama yang tepat. Saya belum selesai dengan koas, paling tidak untuk satu minggu ke depan, saya bisa menanggalkan kata-kata "koas" hingga judisium tiba. Jika ujung-ujung hasilnya bertajuk "her", walahualam. Maka saya putuskan pemberian adendum kata (jelang).

Sekarang saya dalam keadaan yang agak luntang-lantung. Memang dasar saya yang manusia egoistik, saat koas mengerut dahinya dan tampaknya dunia ini sungguh melelahkan buat saya. Namun setelah koas, saya malahan cemburu dengan keadaan koas yang saya anggap penuh "dinamika". Tidak tahu mengapa, mungkin ada dipengaruhi rasa pribadi yang menyalahkan diri sendiri yang masih meminta uang tanpa malu ke orang tua. Sedangkan rekan-rekan saya yang lainnya, bahkan sudah berkeluarga. How can?

Saya memang tak menganggur seratus persen. Ada juga saya bekerja bersama rekan menggarap sana sini. Jadi, bukannya saya membabi di rumah dengan kudapan-kudapan tinggi kalori. Saya sempat bermimpi juga ingin membeli PS3, ya anggaplah membangkitkan mimpi saya untuk bermain game yang tertunda selama koas. Namun setelah timbang kanan, timbang kiri, lebih banyak mudharatnya. Saldo tabungan akan terjun bebas setelahnya. Jadi, saya putuskan untuk bekerja saja.

Travelling?

Lagi-lagi soal travelling. Bukan pesta pora di dalam benak. Namun kalau saya membaca weblog Trinity dan jurnal The Naked Traveler-nya atau buku yang baru saya beli, The Journeys, air liur saya bagai air bah. Meluap-luap. Saya hidup dalam fantasi. Saya ingin menikmati Hagia Sofia di Turki, mencoba bratwurst langsung dari Jerman, indahnya atoll di Maladewa, atau sekedar menikmati ramainya Shibuya atau Ginza di Jepang atau birunya air Raja Ampat.

Entahlah hal ini mengiang-ngiang. Pikiran ini disela bahwa, "Hei-hei, kau belum selesai dari koas sepenuhnya. Judisium, judisium." Ah, memang menganggu pikiran. Namun fantasi tersebut benar-benar psikostimulansia.

Debby, hari ini seraya merayakan detik-detik terakhirnya di stase IKM, tiba-tiba mengungkapkan keinginannya untuk berjalan-jalan, backpacking, atau apalah itu. Menikmati Bali, bahkan hingga ke Filipina. Ketika berada di pusat perbelanjaan di bilangan Pluit, ia menemukan buku semacam log travelling di Filipina dengan sekian juta. Hal ini lumayan membuat saya tertarik, bukan saja karena saya tengah belajar Tagalog. Tapi that's travelling! Ok, keinginan saya.

Oh tidak. Saya sudah bermain dengan bayangan-bayangan saya. Walau pada akhirnya saya harus sadar penuh, kaki saya masih menapak label koas. Dan saya mulai berhitung.

Minggu, 09 Januari 2011

Resolusi 2011

Hal ini terangkat dari rekan-rekan yang tengah gencar menuliskan Resolusi mereka di tahun 2011. Bagaimana dengan resolusi saya?


1. Menentukan Jargon Kriteria "Mau Jadi Dokter Seperti Apa?"

2. Menyelesaikan Sisa Kepaniteraan Klinik agar tak lagi jadi sarden dan lulus tepat waktu

3. Lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia

4. Menentukan Minat Bidang Studi Lanjut (PTT? Sp atau Magister?)

5. Mengembangkan Bahasa, terutama Bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman

6. Travelling setelah koas

7. Cari pengalaman dunia kerja setelah koas

8. Terus memperbaiki diri, spirituil terutama berpikir positif dan mengendalikan diri

9. Mengembangkan kemampuan menulis, minimal 1 tulisan masuk ke media cetak

10. Memperbaiki berat badan, menuju ke BMI Overweight (Bye bye- Obese 1)

11. Menjalani resolusi dengan tepat guna.

Minggu, 02 Mei 2010

Perjalanan Malam Lawang Sewu (+Berbonus Napak Tilas AAC)

Salah satu menara Lawang Sewu.


Lawang Sewu, sebuah bangunan tua dan megah di bundaran Tugu Muda Kota Semarang. Saya sebenarnya memang telah merencanakan perjalanan ke sana, namun kemarin malam sontak rekan-rekan berinisiatif ke sana tanpa perencanaan.

Saat itu Lawang Sewu tengah ramai karena sedang ada pemilihan Dhenok dan Kenang (semacam Abang dan None) Kota Semarang. Yup, tapi tentu tak menyurutkan hati kami. Beberapa rekan sudah menolak untuk ikut dan memilih pulang ke rumah kost mereka. Dan tinggallah 13 orang menjalani perjalanan malam di Lawang Sewu.

Tiket masuk Rp5000,00. Ya cukup murah dan guide sendiri kami bayar Rp20000,00 secara sukarela saja dari rombongan.

Ketika masuk ke dalam Lawang Sewu. Suasana gelap, dan kami dijelaskan asal muasal gedung ini. Di lobby gedung, suasana sangat sepi. Sangat sepi dan gulita.

Lawang Sewu, menurut guide, didirikan 1904 dan digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, sebuah perusahaan kereta api masa Hindia Belanda. Dan kemudian pada masa penduduk Jepang, terutama pertempuran Angkatan Muda Kereta Api, digunakan sebagai tempat pembantaian dan penjara. Setelah masa kemerdekaan pernah dipakai sebagai kantor Kodam dan Kementerian Perhubungan.

Lawang Sewu, artinya Pintu Seribu, ya, gedung ini memiliki banyak sekali pintu-pintu. Dan dasar pikiran saya... kalau begitu apa arti Taman Lawang? Hahaha....

Kemudian setelah dijelaskan, kami naik ke lantai dua melalui tangga utama. Di sini sebenarnya ada kaca mosaik yang indah, namun sayangnya, gulita malam menyembunyikannya. Dan sebenarnya yang membuat saya krik-krik dimulai di sini.

Pemandu: "Ehm, di sini adalah tangga pengadilan."
Saya: "Pengadilan?"
Pemandu: "Iya, pengadilan di film Ayat-Ayat Cinta."
Saya: ... ...

Okay, saya pikir saya tidak menonton Ayat-Ayat Cinta. Ya, tangga pengadilan.

Kemudian kami masuk ke kamar pimpinan dan menikmati sejenak bundaran Tugu Muda atau bekas Tama Wilhelmina. Dan perjalanan dilanjutkan ke sebuah lorong tangga.

Pemandu: "Ya ini ada tangga apartemen yang digunakan ketika mengerek makanan."
Saya: (What the... Apartemen?)
Pemandu: "Ini adalah kamar apartemen Maria di Ayat-Ayat Cinta."
Saya: -.-! (No more Ayat-Ayat Cinta! Mana wisata seramnya.....)

Dan kami naik ke lantai tiga. Okay, ini baru saya sebut seram. Di sebuah plafon luas dan suasananya sangat berbeda. Sangat berbeda. Hawanya. Aroma udaranya. Berbeda. Ini adalah teman pembantaian pada masa pendudukan Jepang. Ada juga mereka yang digantung di besi-besi plafon. Setelah itu kami juga melewati plafon kantor pimpinan dengan aroma kelelawar. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke gedung tambahan Lawang Sewu.

Pemandu: "Ya, ini adalah rumah sakit ketika Farid (Benarkan Farid? Apa Faris? Haris? Entahlah.-red)."
Saya: -.-! (Ayat-Ayat Cinta lagi!)
Rekan: Wah, pas syuting mas di sini ya?
Pemandu: (Senyam-senyum)

Pada akhirnya perjalanan di Lawang Sewu berakhir di sebuah lokomotif di depan gedung. Sayangnya, penjara bawah tanah yang terkenal itu sedang tidak dapat diakses. Dan perjalanan malam di Lawang Sewu dengan bonus napak tilas syuting Ayat-Ayat Cinta (yang saya tak pernah tonton) pun selesai. Dan saran saya mungkin bisa dibuat dua paket, satu napak tilas sejarah Lawang Sewu da satu lagi napak tilas Ayat-Ayat Cinta.

*Saya sebenarnya ada banyak berfoto hanya tidak di kamera saya...