Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

Manusiawikah?

Dalam keheningan
Sejenak aku tenggelam di dalam benak
Menatap meratap
Mengakal mengakar

Ketika kita bekerja dengan sepenuh hati
Konon katanya kita tengah berangkuh
Ketika kita tengah tak sehati dengan pekerjaan
Konon katanya kita malas tak terperikan

Ketika kita melambai senyum
Konon katanya kita manis dalam gulita
Ketika kita memberi durja
Konon katanya kita tak akan hidup bahagia

Dunia ini tak semudah ying dan yang
Namun benarkah ini?
Manusiawikah ini?

Ketika hidup bukanlah hitam dan putih
Namun terenyahkan dalam keabu-abuan
Ketika hidup tak lagi tahu benar dan salah
Namun terombang-ambing dalam lautan tak ternisbikan

Manusiawikah?
Inikah manusia?

Pontianak, 30 Juni 2014

Rabu, 08 Januari 2014

Kehadiranku dan Kepatutanmu

Kau yang hadir untuk dicintai
Kau yang patut untuk dikagumi
Kau yang berharga tak tertera
Kau yang nyaris tak tercela

Jika kehadiranku tak diinginkan bagimu
Jika kepatutanku jauh dari harapmu
Jika harga hatiku tak sebanding untukmu
Jika tingkah lakuku jadi cela bagimu

Biarkan hadir ini jangan menjadi milik kita
Biarkan kisah lama ini patut dijadikan debu
Biarkan masa lalu berharga menjadi karat
Biarkan segala celaan kita tersimpan erat-erat

Kehadiran kita nan dewasa
Patutlah kita temukan jalan nan baru
Biarkan orang lain yang hargai kita bak emas
Sisihkan segala caci, abukan segala cela

Pontianak, 8 Januari 2014


Kamis, 05 Desember 2013

Complicated

When I didn't have any word to say
When I dreadfully swayed
When I got no colorful vision than gray

Everyday
I just wake up for another day
Looking for an emptiness
Drooling for nothing

And
It's complicated
Being awkward chronically

Pontianak, December 5th, 2013

Sabtu, 26 Oktober 2013

Tunjukkan Padaku Seorang Wanita yang...

Malam ini
Aku berdoa pada Tuhanku

Tuhan jangan tunjukkan padaku
Seorang wanita yang berparas indah
Seorang bidadari yang turun dari khayangan
Seorang peri tak bercela
Seorang manusia yang sempurna

Tetapi berikanlah pasangan bagiku
Yang mengerti di kala aku kecewa
Yang menegurkan di kala kesedihanku
Yang bersamaku di kala aku membisu
Yang bergandengan tangan di kala aku dibutakan
Yang memberikan tawa di tengah kesungutanku
Menjadi obat penawar segala kesakitanku
Dan aku pun demikian juga bagimu

Aku menutup doa
Agar Tuhan selalu memelihara hatiku
Hatimu
Hati kita

Pontianak, 26 Oktober 2013


Jumat, 18 Oktober 2013

Di Tanjung Bajau

Di Tanjung Bajau
Aku enyahkan risau
Coba hilangkan ingat akan engkau

Membunuh semua rasa kecewa
Yakinkan diri segarkan jiwa
Jauhkan duka dekatkan tawa

Tuhan bantu diriku
Bukakan telinga mataku
Cairkan hati yang beku

Aku pandangi lagi pantai
Harap engkau di sejauh cakrawala laut ramai
Hidup baru 'kan lagi aku semai

Tanjung Bajau, Kalimantan Barat
14 Oktober 2013



Rabu, 14 Agustus 2013

Tak Terpikirkankah

Tak terpikirkankah pada dirimu

Segala untai sapa
Segala hasil kriya
Segala lukisan buana
Segala kata tanya

Segala rajutan mimpi
Segala kekhawatiran hati
Segala peluhnya matahari
Segala kerisauan diri


Jangan kau bertanya

Mengapa malamku gundah adanya
Mengapa pagiku terasa berat membukanya
Mengapa siangku terusik teraniaya

Siapakah engkau bagiku
Siapakah penenun rintihku
Siapakah penyimpul senyumku



Aku akhirnya terpenjara pada sanubari

Terajam indah tak terpatri
Tercabik ria tak terperi
Terantai bebas tak terberi



Jangan kau tanya apa maksudku

Sesuatu yang telah kau ukir di dalam hatiku
Sesuatu yang telah ku reka di dalam hatimu



Mungkinkah kau membiarkan aku begini

Tersungkur dan tak berarti



Tertidurlah dalam mimpimu, kapan-kapan kita bersua lagi


-Jakarta, 14 Agustus 2013, 23:05 WIB


Selasa, 23 Juli 2013

Melawan Garis

Terperangkap
Tersembunyikan
Terrantaikan

Sungguh erat
Hinggaku menarik dengan segenap ruhku
Sungguh erat

Aku terlahir dalam garisku
Aku berjalan dalam catatan terpatri
Aku bermimpi yang bukan peluhku

Aku ingin menangkis dengan tanganku
Aku ingin menyeret dengan kakiku
Aku ingin berontak dengan otakku

Namun
Tanganku termutilasi
Kakiku terpaku
Otakku tersihir

Sungguh berat
Hingga ragaku layaknya bukan empunyaku
Sungguh berat

Bergundah
Berkilah
Berserapah

Jakarta, 23 Juli 2013


Selasa, 02 April 2013

Tak Menyesal

Aku tak pernah menyesal untuk membuta
Aku tak pernah menyesal untuk berjalan dengan waktu
Aku tak pernah menyesal untuk menunggu hadirmu lagi
Aku tak pernah menyesal berdiam di dalam derasnya hujan
Aku tak pernah menyesal untuk menangis karenamu
Aku tak pernah menyesal untuk terus memandang buah tanganmu yang dulu
Aku tak pernah menyesal untuk lelah melihatmu jatuh hati
Aku tak pernah menyesal ketika kita memutuskan berkawan biasa

Kuserahkan semua padamu
Karena aku sadari ini tak mungkin hanya sebelah tangan

Biarlah aku pergi jika kau mau
Biarlah aku pergi jika dia memang lebih baik
Biarlah aku pergi jika aku mengganggu mu
Biarlah aku pergi jika itu semua yang terbaik bagimu
Biarlah aku pergi jika itu dapat mengembalikan lagi tawamu
Biarlah aku pergi dan aku tak akan menyesal

Pagi di Siantan, 1 April 2013
Setelah kau diam dalam kata

Kamis, 21 Maret 2013

Terlanjur

Tiada pernah ku bersangka

Tiada pernah ku berkhayal
Ketika perasaan anomali ini
Setiap jengkal kala aku rasakan

Ketika batas waktu telah berkelana
Ketika dunia telah berputar
Tetapi aku yakin akan sebuah yang tak berubah
Tak berubah rasaku padamu

Rintih tawa silih berganti
Ketika kejadian itu berlalu
Aku mencoba kerap menyangkal
Namun kusadari tak mampu

Aku sudah terlanjur sayang
Aku sudah terlanjur melawan
Aku ingin tidak terus dipertanyakan
Aku sudah terlanjur sayang

*Desa Galang, Bus Menjalin ke Pontianak. 15 Maret 2013, pk 13:45.
*Terinspirasi lirik Nathan Hartono - Terlanjur Sayang.

 

Sabtu, 02 Maret 2013

Kehadiranmu

Hanya satu harapku kini

Harapku akan kehadiranmu

Hadirmu untuk bantu menyekaku
Seka peluh dan air mata pikiranku

Pikiranku yang melayang jauh
Jauh terbang tak berarah

Kemana arah jalanku kini
Walau kini aku bak benang kusut

Kekusutan ini memerlukan tanganmu
Tanganmu yang mengurai lembut

Mengurai dan meredam segala kebingunganku
Meredam segala amarah dan pelikku

Walau hidup ini tak mungkin tak pelik dan kusam
Namun kusam ini patutlah tercerah akan harapku

Hanya satu harapku kini
Harapku akan kehadiranmu

Dalam perjalanan ke Menjalin,
26 Februari 2013

 

Jumat, 08 Februari 2013

Denganmu

Denganmu

Inginnya aku dapat nikmati jernihnya lautan Maladewa
Inginnya aku berkeliling Angkor Wat
Inginnya kita duduk menatap lampu Eiffel
Inginnya kita bersama menikmati hangatnya tteobokki di jalanan Seoul

Denganmu
Inginnya kau berteriak di pundakku kita nikmati roller coaster Disneyland
Inginnya aku membantu kamu mendaki Wat Arun
Inginnya kau membasuh peluhku di teriknya savana Afrika
Inginnya kau tertidur dalam pelukkanku sepanjang subway Tokyo

Denganmu
Aku ingin seirama kita menjelajah
Menjelajah dunia yang menjadi mimpiku
Dan juga bagian mimpimu
Yang kita sebut sebagai mimpi kita

Menjalin, 26 Januari 2013
Sambil membuka buku Lonely Planet...

 

Kamis, 10 Januari 2013

Ngahe Diri' Nian

Ketika alapm baganti siang
Siang baganti malapm
Lekoa uga' diri' jaku
Limpahe rasanya nang barubah

Ketika diri' diapm
Bapikir ka dalapm hati

Ngahe diri' nian ada ka' dian
Ngahe diri' nian masih basengat
Ngahe diri' nian masih bajalatn
Ahe nang diinginkatn Jubata jaku

Nanak ada lagi uang manyak
Nanak ada lagi makanan nang repo
Nanak ada lagi nang bera-bera
Kade sengat nian telah diambil Jubata sabesap mata

Auklah kade memang lekoa
Untuk ahe hidup untuk babaro
Bukeknya kita' arus hidup barage
Berbuat edo', bacuramin ka Saruga

Aku matakatn pada diriku
Hidup tak lebih dari sejentik jari Tuhan
Milekah aku dipanggilatnkanNya
Kita samua arus basiap-siap

Manyalitn, 10 Januari 2013


 

Jumat, 21 Desember 2012

Hidupku Mengalir

Sepi ini buatku teringat
Bak membuka album hidupku
Menikmati masa lalu
Menyimak rintih tawa


Betapa banyakku lewati
Segala gelak ketika berkawan
Segala tetes air mata ketika dirundung mala
Segala peluh keringat letih dan cemas

Beginilah hidupku
Hidupku yang telah tergariskan
Jalanku yang telah dituntun
Tanganku yang telah dipapah

Walau kisah cinta yang pupus
Ketika hati tak lagi bergeming
Aku putuskan aku melihatnya dari nun jauh di sana
Biarkan bisikin air laut ini yang menjangkaunya

Aku mengalir
Mengalir bak sungai yang tenang
Mengalir bak alunan biola
Hidupku mengalir

Apapun itu
Siapapun itu
Bagaimanapun itu
Hidupku tetap mengalir

Menjalin, 21 Desember 2012
Poli Umum







 

Sabtu, 17 November 2012

Hujan

Guntur gelegar

Petir bersambut

Gemuruh bersahut

Deru deras besar

 

Karenanya telingaku pekak

Namun aku tahu tak boleh berlunak

Walau hujan tak sedamai pohon rindang

Yakinku esok surya tak berhenti terundang

 

Pontianak, 18 November 2012

 

Jumat, 16 November 2012

Ibu

 

Kini aku hanya terduduk

Diiringi lantunan musik radio

Menarikan jemariku merangkai kata

Sembari menatapmu yang tengah terlelap

 

Aku memandangnya, seorang ibuku

Tertidur dengan oksigen di hidungnya

Dengan aneka untaian kabel di atas sanubarinya

Wajahnya memang tak seperti dulu tak berias

Tiada hapusan pensi di alis matanya

Atau jejak gulungan rambut helai rambutnya

 

Namun aku tetap bersyukur pada Tuhanku

Mimiknya kian hari kian bersinar

Dan relung senyum telah mampu tersimpul pada bibirnya

Walau itu adalah senyum getir palsu menahan sakitnya

 

Sebulan aku bersamanya

Menghabiskan waktu yang tak sedikit

Meninggalkan segala keseharianku

Aku belajar bagaimana bersamanya

Memang kusadari bahwa mungkin aku tak banyak mengingatnya di setiap peluhku

 

Aku mengingat ibuku dengan satu paradoks

Ia tampak begitu tegar menghadapi semuanya

Bahkan mungkin akulah yang cukup tersungkur dalam

Namun ia tetap berusaha untuk menikmati dunia dengan perkasa

 

Aku terbangun dalam lamunanku

Aku menunggu hari-hari esok, masa-masa kepulihannya

Ya Tuhan, biarkan yang terbaik terjadi

Namun aku masih ingin ia menikmati hari tuanya bersama cucunya kelak

 

Ibuku, segeralah pulih

 

Di samping ibuku, 26 Oktober 2012

Cardiothoracic Intensive Care Unit, NUH

 

Selasa, 23 Oktober 2012

Jika Aku Boleh Menunggu

Aku pun kini menilik lagi

Membesuk hatiku yang membeku

Entah apa yang jadi sebab

Hatiku kian terusik dan meronta


 

Lara asaku mengumpar

Mimpi melayang tak tentu mengarah

Berhasrat ingin mengurai

Bagai mencari jarum di atas jerami

 

Mimpi laluku berangsur kembali mengukir

Daun yang mengompos kembali bertunas

Ada apa ini oh Gusti

Ada apa ini

 

Jika aku boleh menunggu

Akan kusiapkan semua rasa riangku

 

Jika aku boleh menunggu

Akan kulapangkan sanubariku

 

Jika aku boleh menunggu

Ku tetapkan memohon pada Tuanku

 

Namun jika kau tak berkenan

Biarkan aku kembali

Agar aku tak lagi habiskan seribu tahunku

Untuk menangisi diriku

 

Di atas banyu, 21 Oktober 2012

 

Senin, 27 Agustus 2012

Semilir Angin Manyalitn


Kala pagi, mentari hendak beranjak
Aku menikmati angin
Angin nan semilir
Melewati segala muka kulitku
Beri kesejukan damai tak berbalas

Angin nan semilir
Angin bersumber dari tenangnya Samabue
Gagah kokoh tak bergeming

Angin nan semilir
Padi hijau menguning bergayung sambut
Berbuah berbulir tak berangkuh

Tanpa deru riuh rintihan kota
Ku nikmati semilir angin Manyalitn
Melepas lelah tak berbeban

Menjalin, 24 Agustus 2012

Pemandangan Desa Lamoanak, Menjalin

Senin, 20 Agustus 2012

Memimpikan Sushi

Ya, saya tidak tahu apa yang terjadi pagi ini. Entah mimpi jenis apa yang terjadi.
Saya terbangun dengan perasaan yang tidak seperti biasa.
Saya tersadar, dengan mulut yang begitu kering dan pahit, layaknya orang yang kelaparan.

Saya beranjak duduk dan tiba-tiba terlintas.
Ya ampun, saya baru bermimpi.
Mimpi yang cukup aneh, bermimpi bersantapkan sushi.
Menikmati nikmat pedasnya wasabi bercampur soyu.
Renyahnya kulit salmon.
Gurihnya unagi.
Serunya menggerogoti edamame.

Memang sudah hampir enam bulan saya tidak menyantap sushi.
Saya masih ingat, ketika di Jakarta, di depan meja sushi inilah saya tak jarang menghabiskan waktu.
Ketika masa galau tiba, ketika menyantap sushi, kegalauan terasa sirna.
Di depan meja sushi pula segala kisah kasih bertaut.
Di depan meja sushi all-you-can-eat juga banyak canda dan tawa bersama kawan di Jakarta.

Saya merindukan Sushi.
Saya merindukan Jakarta.



Untuk semua kawan makan sushi saya.
Ellen, Stevani, Teteh Ester, Handy, Julius, Rifky, Andy, Nicky, Eric, Debby, Patsy, Bim2, Ninu.

Rabu, 23 Mei 2012

Repo, Mae Kitak?

Dalapm diri aku bakata
Marasa sabebet udara dalam idukng
Udara nang atakng
Basengat nang dalapm

Ka' maraga aku baampus
Marasa diri nang tuha
Nanak ada lagi kamuda
Nanak ada lagi nang de' e

Kade aku bermimpi
Tentang ari-ariku nang repo
Ari dan ati Bacuramin ka masa nang lalu
Kade ariku nang aya'
Udahka ati uga'?

Ahe samua nang enek
Enek dan sabebet sabebet

Au', aku harus manarima samua
Baik kah jahat
Nian nang damanyu dunia
Lekoa lah idup Aku tarus balajar

Arukng idup
Nang aku nanak tahu sangahe lama agik
Aku pun hanya panjatnan doa ka Tuhan
Mancari mae ari nang repo

Menjalin, 23 Mei 2012



*teks dalam bahasa Dayak Kanayatn. Jika pembaca menemukan kesalahan tata bahasa, mohon disampaikan. Penulis pun juga tahap belajar bahasa ini.

Kamis, 15 Maret 2012

Galau, Berpuisilah

"Sangkala begitu cepat berlalu
Sekiranya rintih ini sudah tak lagi menitik
Menyisakan gusar yang tiada murka
Namun ihwal apa sebab kau bersoal

Jangan lagi kau kenang
Berjalan dan berlarilah
Biarkan jasadku tersenyum karam terlalaikan
Dan rohku merajut kembali "
-Mukhlis oleh AE Haurissa, 4 Juli 2010

Terkadang saya suka tersenyum-senyum dan merinding sendiri kalau membaca lagi koleksi puisi yang pernah saya buat. Saya sadari bahwa saya memiliki sedikit indera terhadap puisi ini. Ya, memang merangkai kata ini menjadi salah satu pelarian saya ketika hati sedang gundah, atau kata anak muda sekarang, galau.

Tapi galau-galau ini memang menghasilkan begitu banyak ide-ide puisi ini. Rasanya wong tidak ada bensinya kalau menulis puisi tanpa galau. Misalnya saja "Kala Malam di Taman Tribeca" adalah rasa yang saya rasakan ketika menungu hasil yudisium kuliah saya, "Magfirah"  adalah kegalauan hati saya dengan teman saya dulu (Magfirah artinya mengampuni, di mana proses saya berusaha mengampuni diri sendiri), "Aku Dua-Satu" adalah tulisan yang saya berikan untuk ulang tahun teman, "Ikrar Kita Kawan" adalah rintihan saya melihat perpecahan antar kawan, "Kau Kenangan Indah Untukku" di saat masa galau di awal kuliah, dan "Lieben" galau asmara semasa SMA (halah). 

Ya hampir semuanya mengenai kegalauan. Tapi memang, jika tidak ada kegalauan maka tulisan ini pasti juga tidak ada. Jadi, terima kasih rasa galau!

Sebenarnya saya juga ada impian, suatu saat puisi ini dapat dibukukan, namun ada yang mau beli tidak ya? Hahahaha.... Boleh dong bermimpi itu :)