Wew. Hari ini adalah hari terakhir ujian. Ujian dengan bahan yang banyak... Dimulai dengan tidur siang dulu dan terbangun pada jam 15an. Tapi hasrat belajar baru muncul pada malam. Bahan anestesti banyak.. Belum lagi farmakologi klinisnya. Dan prognosisnya pun tidak tahu, dubia. Hanya tadi ada belajar dan tanya jawab dengan rekan-rekan. Semoga dapat terbantu.
Rabu, 29 April 2009
Selasa, 28 April 2009
Ujian Semester Delapan Hari Kelima: Psikiatri
Selasa, April 28, 2009
No comments
Ujian psikiatri ini seyogyanya lebih matang saya persiapkan. Bahan-bahannya paling tidak sudah tidak asing ketika dibaca kembali. Tidak begitu menguras tenaga dibandingkan bahan ujian kemarin. Dan semua, entahlah, begitu cepat masuk dan terbayangkan. Memang ilmu ini saya cukup tertarik. Paling tidak seperti dapat menerawang hal-hal goib =) Memahami kejiwaan adalah hal yang paling sulit, dibandingkan orang untuk memahami kejadian fisika yang lumayan pasti dibandingkan gejolak jiwa seseorang. Mudah-mudahan prognosisnya bonam.. tidak ada dubia.
Dan besok adalah ujian terakhir! Ujian anestesi dan saya akan tetap berjuang untuk itu. Setelah istirahat singkat tadi, kini sudah siap untuk membuka si Morgan dan diktat. Beri semua yang terbaik.
Dan besok adalah ujian terakhir! Ujian anestesi dan saya akan tetap berjuang untuk itu. Setelah istirahat singkat tadi, kini sudah siap untuk membuka si Morgan dan diktat. Beri semua yang terbaik.
Senin, 27 April 2009
Ujian Semester Delapan Hari Keempat: Ilmu Bedah II
Senin, April 27, 2009
No comments
Jika dilakukan hitung-hitungan, maka hari ini adalah hari yang terberat bagi saya dalam menjalani ujian ini. Dengan persiapan yang semaksimal mungkin, menurut saya, namun tampaknya tidak begitu bermakna. Saya berusaha mengerti bahan-bahan yang ada, di balik memang ketidaktauladanan dalam belajar yaitu masih menganut sistem kebut semalam.
Saya memerlukan waktu 4 jam dalam mencoba memahami diktat mengenai payudara khususnya tumor-tumornya. Suatu kesulitan besar bagi saya yang konon gaya belajarnya banyak bergantung pada visual. Dengan histopatologi yang banyak misalnya ada sel besar dengan inti kecil dan sitoplasma bening dalam Paget Disease. Saya sulit membayangkannya. Begitu pula dengan penyakit dengan nama-nama baru semacam Cyto Sarcoma Pyhlloides atau Mammaria Ductectasia. Tidak terbayangkan pada pikiran saya.
Ujian hari ini berlangsung dengan memakan energi yang cukup menegangkan. Mengingat nilai bedah saya sebelumnya tidak terlalu baik. Namun saya tetap berusaha yang terbaik. Prognosis ujian hari ini: dubia ad bonam...
Saya memerlukan waktu 4 jam dalam mencoba memahami diktat mengenai payudara khususnya tumor-tumornya. Suatu kesulitan besar bagi saya yang konon gaya belajarnya banyak bergantung pada visual. Dengan histopatologi yang banyak misalnya ada sel besar dengan inti kecil dan sitoplasma bening dalam Paget Disease. Saya sulit membayangkannya. Begitu pula dengan penyakit dengan nama-nama baru semacam Cyto Sarcoma Pyhlloides atau Mammaria Ductectasia. Tidak terbayangkan pada pikiran saya.
Ujian hari ini berlangsung dengan memakan energi yang cukup menegangkan. Mengingat nilai bedah saya sebelumnya tidak terlalu baik. Namun saya tetap berusaha yang terbaik. Prognosis ujian hari ini: dubia ad bonam...
Sabtu, 25 April 2009
Skizofrenia, Bagaimana Kita Harus Bersikap?
Sabtu, April 25, 2009
No comments
Pertama-tama kamu hanya merasakan ada gejala yang tidak beres dari badanmu, namun kelak kamu tersadar akan ada yang tak beres akan sebuah dunia dan lingkungan hidupmu. Dari menit ke menit, kamu adalah pusat dari sebuah konspirasi rahasia dari kekuatan dahsyat dunia. Kamu dikuntit, diawasi oleh agen-agen rahasia yang kamu tak tahu mengapa mereka berbuat demikian. Kamu merasa dirimu harus bisa melawan agen-agen itu dan memiliki misi khusus. Namun yang mana? Kamu diawasi satelit dan otakmu dipindai (scanning) orang. Ada pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin membuatmu gila. Program-program televisi tiba-tiba membicarakan dirimu! Kamu berusaha memberontak. Kamu tak makan apa-apa namun merasa kuat. Setelah menenggak obat narkotika, kamu percaya dunia ada di kepala kamu dan keberlangsungan dunia ada di kepala kamu yang berkecamuk. Kamu tahu kamu tak mampu lagi berpikir jernih. Ada ilmuwan yang terus memantau kamu. Kamu merasa dirimu tak tahan dengan apa yang ada. Ini adalah mimpi buruk. Ini memang aneh, tapi ini adalah episode psikotik yang benar saya alami.Inilah skizofrenia. sebuah sindrom (kumpulan gejala) dengan penyebab yang banyak tidak diketahui dan perjalanan penyakit yang rumit, serta dapat juga dipengaruhi oleh genetika, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai adanya penyimpangan dasar dari pikiran dan persepsi , afek pun menjadi datar dan tumpul. Kesadaran dapat saja jernih dan intelektual tetap terpelihara. (PPDGJ III, Rusdi Maslim, 2003) - Bila Anda merasa sulit memahami istilah, saya menyediakan glosarium di akhir tulisan ini.
dituliskan oleh B. Bodenstein
1 dari 100 manusia menderita skizofrenia dan kebanyakan diderita oleh usia dewasa muda antara 25 tahun walau tidak tertutup orang dewasa. Penyebabnya masih tidak diketahui dan diperkirakan adalah faktor biologis, infeksi virus seperti retrovirus, atau genetika (ada penelitian yang menyebutkan anak dari orang tua yang skizofrenia juga memiliki kemungkinan yang besar). Apakah ada pengaruh neurotransmiter di susunan saraf? Semua masih diraba-raba.
Dalam kebudayaan atau kultur Indonesia kita sebut sebagai orang gila. Ini adalah sebuah stigma (cap buruk) bagi penderita skizofrenia. Ia diolok-olok dan dijauhi dengan cap itu. Ia tidak dapat diterima di masyarakat dan disingkirkan karena cap itu pula. Padahal, kita tidak pernah membuat stigma bagi pasien diabetes atau sakit jantung. Mengapa? Setidaknya ini menjadi refleksi pada kita.
Masyarakat banyak yang menjauhi pasien skizofrenia, karena dia dianggap tidak mampu lagi menjalankan fungsi sosial. Ia dianggap sebagai ancaman karena tindakan-tindakannya dianggap di luar batas. Seperti dalam gambaran tadi, ia merasa dirinya diawasi oleh agen rahasia. Sebuah hal yang bagi masyarakat biasa adalah hal yang diluar logika, mengada-ada, dan sinting. Namun ia memang benar merasakan hal itu! Ia merasakan waham! Sehingga menjadi sebuah jembatan ketidaksepahaman antara masyarakat dan penderita. Padahal, justru penderita ini memerlukan bantuan dari orang-orang di sekitarnya untuk menolongnya untuk mendukungnya dan memberikan dia jalan untuk pengobatan. Memang, suatu ketidakberuntungan, karena adanya pendapat masyarakat, skizofrenia tidak dapat diobati karena adalah sebuah kutukan.
Obat-obat anti-psikotik yang dapat membantu melepaskan dari psikotik sudah ada. Terapi lainnya seperti ECT (terapi dengan listrik) dibuktikan mampu membantu menurunkan gejala. Semakin cepat pasien itu tidak larut dalam penyakitnya, penyembuhan baginya semakin terbuka lebar. Namun apabila dia semakin dilecehkan, dianiaya, disingkirkan, maka ia akan semakin parah. Dan jelas ini tidak baik bagi penderita.
Maka bantulah mereka yang menderita, jangan malah kita mencemooh yang justru akan memperberat penderitaan mereka.
Video ini mungkin dapat membantu Anda dalam memahami mereka:
Glosarium:
- Pikiran: alur pikir yang dirangsang dengan adanya sebuah masalah dan menggunakan cara-cara logis dalam membuat kesimpulan atau penyelesaian.
- Persepsi: keadaan dimana adanya rangsangan atau impuls dan ditangkap oleh indera serta diolah atau diserap menjadi sisi psikologis dan kesadaran. Misalnya adanya halusinasi.
- Afek: suatu keadaan emosi dalam jangka yang pendek.
- Afek datar: afek yang monoton dan tanpa ekspresi.
- Afek tumpul: penurunan afek yang berat, intensitas ekspresi sangat berkurang.
- Kesadaran: kemampuan manusia dalam membuat pembatasan dan penghubungan terhadap keadaan lingkungan di luar. Dengan kesadaran yang baik ia diharapkan mampu membuat penilaian dan pemahaman akan suatu keadaan.
- Intelektual: kemampuan untuk mengingat, menggerakkan, menyatukan akan hal-hal yang ia pelajari.
- Waham atau delusi: kepercayaan palsu yang tidak sesuai dengan kenyataan, namun kepercayaan ini memang pasien rasakan dan berpengaruh pada tindakan-tindakannya. Ia tidak mampu mengontrol dirinya untuk menjadi sesuai realita yang ada.
Kamis, 23 April 2009
Ujian Semester Delapan Hari Ketiga: Kedaruratan Medik
Kamis, April 23, 2009
1 comment
Saya tidur jam 02 di dini hari. Memang karena selain pikiran lagi tidak lurus, jadi ilmu-ilmu yang ada enggan untuk masuk ke otak. Bahannya sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya 5 topik dan apalagi 1 topik mengenai trauma thoraks sudah pernah didapatkan di kuliah bedah. Bahan CPR atau RJP sudah pernah saya serap saat mengedit video RJP Medisar. Buset, dah diulang berapa kali tuh video sampai membuat saya botak. Ceritanya sudah ada di artikel Orgasmus Maksimus.
Syukurlah saya bisa melewati dengan baik. Saya tidak berani berasumsi atau berjudi, bahwa ekpektasi ini bisa berakibat pada baiknya nilai. Tapi ini sebuah pengharapan, boleh-boleh saja toh. Asal tidak berlebihan.
Pertaruangan ujian akan disambung kembali pada Senin depan saat ujian Ilmu Bedah II. Aduh, harus belajar lagi, karena saya merasa lemah di ilmu bedah. T__T Belum lagi, dengan tak ada jeda, berturut-turut di Selasa dan Rabu masih terdapat ujian Psikiatri dan Anestesiologi!
Syukurlah saya bisa melewati dengan baik. Saya tidak berani berasumsi atau berjudi, bahwa ekpektasi ini bisa berakibat pada baiknya nilai. Tapi ini sebuah pengharapan, boleh-boleh saja toh. Asal tidak berlebihan.
Pertaruangan ujian akan disambung kembali pada Senin depan saat ujian Ilmu Bedah II. Aduh, harus belajar lagi, karena saya merasa lemah di ilmu bedah. T__T Belum lagi, dengan tak ada jeda, berturut-turut di Selasa dan Rabu masih terdapat ujian Psikiatri dan Anestesiologi!
Langganan:
Postingan (Atom)





Seorang dokter umum yang meminati Ilmu Penyakit Dalam dan Kardiologi, Kanisian, poliglot (kini sedang memperdalam Bahasa Korea), pecinta jalan-jalan, pecinta sejarah.
