Senin, 19 Juni 2006

Cita-citaku (bukan) Dokter dan Keinsensitifitas

Dokter itu...
Sebuah musuh yang gw takuti selama waktu gw kecil. Suntiknya, puyernya, obat pahit...
Entah karma, gw malah sekarang mahasiswa kedokteran. *Dooonggg!


Dokter adalah sebuah profesi yang nggak pernah gw pikirkan selama kecil. Dulu gw sangat terinspirasi untuk menjadi seorang insinyur (engineer), ya bukannya pengen ikutin si Doel. Tapi lihatin bokap gw yang notaris, kerjaannya banyak banget, dan males deh. Insinyur lebih santai ya.


Cita-cita insinyur tetap bergema selama gw SD dan SMP. Males sama IPS (paling ok cuma geografi, karena, mungkin loe ga percaya, dulu gw gemar banget sama Atlas dan Peta Buta). Khusus Geografi nih, dulu pas gw kecil, SD, udah bisa sebutin semua negara pecahan USSR. Pulau di Indonesia pun jago.... Gw sendiri malah agak prihatin dengan teman-teman SMA gw yang nggak tahu Pontianak (Kalimantan Timur kan?).


Dan mulai keliatan pas kelas 2 SMP yang biologinya topik sistem organ (jauh lebih berhasil dari biologi kelas 1 yang topiknya membosankan seperti ekologi). Menejlaskansistem organ enak kayaknya tapi kata "dokter" belum muncul sama sekali.


Gw akhirnya beranjak ke kelas 1, mulai bisa menikmati dunia. Dunia yang real di Jakarta. Kota kotor dan di SMA pula gw lebih intens dengan namanya kesehatan. Apalagi mendengar gula darah gw lebh dari 100 mg/dl (shock). Takut Diabetes.


Gw juga mulai mencintai dengan si sayur hijau. (Dulu cuma mau makan Kailan dan Daun Ubi) Dan gw juga melihat banyak yang perlu gw tolong. Mungkin enak kali ya nolong orang?


Kelas 1 mulai ada Education Fair di CC. Cari informasi. Kelas 2 SMA akhirnya mulai terbesit, gw mau masuk FK. Gw masih inget gara2 itu, nilai biologi gw agak jatuh karena menurut guru gw: "Kalian yang mau jadi dokter, nilai bio harus tinggi" gara-gara ini, gw ga bisa PMDK Atma... Hiks. Tapi mulai terpacu dengan bau-bau dokter. Masih terasa kurang mantap.


Kelas 3 udah harus nentuin keputusan. Akhirnya bulat gw mau jadi DOKTER. Masuk FK. Impian gw adalah FKUI, sbeelumnya sempat masuk di Jerman (tapi setelah mendengar regulasi susah nanti di Indo...). Gw toh kerjanya di Indo. FKUI gagal... malah kepilihnya FKUNPAD. Masuk FKUAJ saja deh. Maaf karena gw hilangin satu tempat di FKUNPAD T_T.


Masuk di FKUAJ adalah sebuah lingkungan baru buat gw. Sebuah tempat yang gw harap bisa gw jalani. Paling gw takuti dulu adlah bertemu mayat. (Dulu gw penakutnya....). Tapi sekarang biasa aja ngubrak ngabrik perut Mayat dan mengeluarkan usus... Kenapa ya?


Gw pun terus mau memantapkan jalan gw. Selagi gw belajar, pengen menemukan arti menjadi dokter. (Baca Black Jack yaaaa). Terus terang gw belum mengerti penuh apa inti menjadi dokter. Mengeruk uang? Atau membantu sesama? Sebuah paradoks melihat ketajiran dokter.


Adalagi sebuah nilai minus, tampaknya dokter adalah komunitas eksklusif. Berbicara dengan bahasa sendiri. Loe bisa enak banget menyebut kata-katayang sebnarnya haram jadah seperti "Flatus Lo" (Kentut Lo), "Labia Mayora", "Glandula Mamma", "Kelenjar Sirkumanalis". Yang gw sering salah gunakan.... (Maaf gw, Tuhan). Sebuah kata yang enak aja dikeluarkan di Mal, di Pizza Hut buat becandaan temen2 mahasiswa. Gila tadi gw di Kopami 02, sempat berpikir, apakah gw jadi insensitif ya?


Gw nggak mau jadi insensitif. Kalau begitu mendingan gw usah jadi dokter. Mungkin terdengar bego di telinga orang ide gw ini. Bego nggak mau membisiniskan kedokteran.


Terkadang gw merasa udah menjadi dokter. Ato karena geer ya. Pas gw di Baksos Cilincing. Gw sipanggil Pak Dokter. Padahal... gw cuma anamnesa. Gw sampai sekarang masih terkenang dengan pernyataan orang. Ketika pasien itu keluar gw mengucapkan "Terima kasih bu. Cepat sembuh ya." Pasien itu langsung menyahut "Pak Dokter, terbalik... Saya yang harusnya terima kasih." Ah, gila gw merasa gimana gitu. Merasa udah jadi dokter. Emang kebiasaan jelek gw selalu mengucapklan Terima Kasih dengan kondisi yang salah. Tapi kebiasaan baik kan itu? ^^


Hari ini cukup sekian...
Moga-moga gw bisa mencari makna untuk menjadi dokter....

Kamis, 08 Juni 2006

Aku Mati

Aku terbangun dalam pecahan
Menoleh ke ribaan tanah
Aku melihatku luluh darah
Tubuh tergeletak tanpa nyawa
Aku mati


Tak urung pikiranku tertuju
Kau telah tunggu di ujung
Merasah desah kalbu
Sayang,
Aku mati


Berkas putih lembar lara
Tangan terima pasrah
Aku sungguh tak mau kau berlinang
Aku mati


Pusara lara duka senja
Taburan kemboja lirih
Aku pergi menghadap bapa
Aku mati


Tak tahan aku melihatmu
Aku pun mau bersamamu
Bererita segala dunia
Tapi dunia siapa?


Kerjaku mengasah asa
Melihat jauh pada masa
Aku lihat dirimu!
Dari ujung
Aku hidup, sayang


Sunter - Jakarta
8 Juni 2006, 16:17 WIB


*Inspirasi ini tiba-tiba terbesit ketika gw melihat video opening dari sebuah sinetron. Ah, jadinya ada gunanya sinetron buat gw.

Rabu, 24 Mei 2006

Sahabat

Kala diri ini lemah

Kala diri ini penuh lara

Kala diri ini berakar dera

Kala diri tak lagi cerah

Hanya dapat diri menatap cakrawala

Cakap tanpa menala

Menatap terang sang surya

Tanpa mulut tiada daya

Sapa air laut biru

Tak lain hanya deru

Kepada siapa kini diri

Rusakkah semua alam

Hingga tiada satupun

Mampu memberi kata

Mereka diam tanpa bisik

Ingin diri menelisik

Hai kamu manusia

Kami bukanlah apa yang kau cari

Hidup tak pelik seperti yang kau kira

Kami bukan yang kau cari

Bukan? Siapa?


Hampakah hidup sehingga demikian buruknya?

Inilah ketika diri mendapatkannya

Diri seorang diri hilang

Termakan kekosongan bumi

Hancur!

Namun diri mendapati

Sebuah tangan bukan diri

Akhirnya yang dapat berkata dengan diri

”Kita sahabat bukan?”

Diperuntukkan
khusus untuk teman sejawatku semua. Dyana, Nicky, Andy, Handy, Yulius, Debby,
Erick. You’re great. Thanks for the memory today.

Dituliskan di Jakarta, 24 Mei 2006

Di kala mendungnya Sunter, kota Jakarta 19:24 WIB

Catatan: 25 Januari 2009, dikala memindahkan isi blog ke blogspot ini... Ini menjadi catatan saya atas perjalanan kita selama ini, guys. Entah kenapa saya memiliki hasrat yang tinggi kita bisa tertawa seperti dahulu kala... Saya hanya bisa termenung dan mengingat kejadian dahulu ketika tawa tetaplah tawa.


Kamis, 04 Mei 2006

Makna Hidup

Inilah sebuah kisah hidup


Kisah yang tak pernah tertulis nyata


Namun nyata ada
dalam fakta


Mengiring segala
nyawa dunia


Kisah yang
terjepit antara baik dan buruk


Mengerang dalam
keputusasaan


Menjerit lepas
dalam tanpa duka


Sebuah paradoks
tak terbantahkan

Anehnya manusia


Menghendaki
segala kebahagiaan


Tanpa
mengindahkan sepasir luka


Tanpa menengok
kehampaan

Anehnya manusia


Memaknai
hiperbolis sejumput kemurkaan


Mematahkan jalan
terbelok dan hancur


Menyampahkan
sedikit keriangan

Ya, aneh!


Ketika seberkas suka dimakna serakah


Ketika seberkas
lara dianggap neraka


Ego kita

Kita
sendiri suka


Mereka
sendiri biar


Kita
sendiri duka


Mereka
sendiri... salahkan mereka!

Sebuah tanda
tanya tak terjawabkan


Kapan manusia menjadi
manusia


Manusia yang sejati


Tak berarti abadi

Untuk mereka yang manusia

Dituliskan 4 Mei 2006

Pukul 19.00 WIB

Senin, 06 Maret 2006

Kau, Kenangan Indah Untukku

Inilah sebuah kenangan antara aku dan kamu
Kenangan yang akan terus terkunci dalam hidup
Tidak
Tidak ada yang meluapkan dan membuangnya


Sebuah kenangan yang menyatakan hati, bukan menyatukan
Memperhitam segenap lara, memutihkan sejumput asa
Bukan
Bukan untukmu semua kenangan


Telah lama kau semangati apa yang sering kurasa itu lemah
Menyemangati diriku walau mungkin kau takkan pernah tahu
Semua
Semua yang telah kau berikan sebagai kenangan


Semua yang telah tertulis dan semua yang terbaik untukmu
Biarlah semua untukmu dan tak perlu kau anggap aku
Aku
Aku cukup mendengar sedikit bisikan yang berlimpah


Jangan kau salahkan dirimu atau melihat segalanya salahmu
Tidak, kau telah berarti bagiku dan menjadi yang indah
Biar
Biarlah semua dapat kukisahkan kenangan ini bersama anakku kelak


Kau, tetap menjadi kenangan indahku
Selama jejak hidupku masih dapat menapakkan tanah ini.


Dituliskan di Jakarta, 6 Maret 2006. Di Perpustakaan Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta. 15:27 WIB dalam kekangan awan bermendung.