Kamis, 02 Oktober 2008

The Pingecuela Day: Ketika Logika Bermain....

Sakit


Badan saya mengalami nyeri yang cukup merangsang otak untuk memberi sinyal: "Jangan BERGERAK!". Oh no!


Mungkin ini adalah akibat dari hidup kebabian (baca: makan-tidur-nonton-main PC, ergh, mana belajarnya?), yang dijalani selama liburan. Orang-orang lain dengan kesibukannya masing-masing, ada yang pergi jauh, ada yang memilih merumah saja, dengan kilahan "mau belajar".


Hari ini pada dasarnya tidak begitu berbeza (begitu kata orang Malaysia) dengan hari lalu. Target membaca farmasi kayaknya ahrus digeser ke hari esok. Tapi berpikir lagi, apakah saya sudah siap -sebenarnya- untuk UTS depan. Tapi kayaknya harus dipikirkan lagi deh, dengan kehidupan-yang-tampaknya-sangat-siap-menghadapi-UTS.


Kring-kring (Suara Handphone maksudnya)


Saya melihat: "Debby xL 05"
Dalam hati: (Tumben Debby nelpon. Hehehehe)


Hau: Halo?
Debby: Halo, hau?
Hau: Kenapa Deb?
Debby: Lu udah baca appendicitis (salah satu topik bahan ujian bedah-red)?
Hau: Er...... belum....
Debby: Yakin lu?
Hau: Iya deb.
Debby: Yakin lu???
Hau: Ya iyalah (Tidak ada kata "ya iya dong" sebagai pengakhir atau penegas dialog-red)
Debby: Lu udah belajar apa?
Hau: Mata, deb.
Debby: Gw baru mau baca mata malam ini, hau.
Hau: (Tak bisa berkata)
Debby: Gw mau tanya deh tentang: "Appendicitis harus dioperasi kecuali pada anak di bawah 12 tahun SEBAB bla-bla-bla"
Hau: -Cengok-
Debby: hau?
Hau: Deb, menurut logika gw sih harusnya bla-bla-bla-bla
Debby: Oh gitu.
Hau: Deb itu analisa logika gw ya (Sok pinter banget ya gw...-red)
Debby: Oooohh....


Er mungkin dengan kata "analisa logika", sepertinya tampak meyakinkan, tapi padahal, selembar kertas diktat bedah aja belum memiliki sidik jari saya.... -Jangan ditiru.


Penjelasan Judul:
Pingecuela adalah tanda-tanda kekuningan dan keabuan pada konjungtiva bulbi okuli, dimana bukan disebabkan oleh proses radang konjungtiva (konjungtivitis). Pingecuela diperkirakan disebabkan oleh paparan kronis pada kontaktan pada mata.
Penulis ingin menggambarkan hari yang tampak semu, hanya bayangan hari lalu. Seperti pingecuela yang sebenarnya bukan radang tapi memberi gambaran seperti itu. (Pasti bingung deh?)

Rabu, 01 Oktober 2008

October 1st, A Urticaria

Hari ini hari ketiga yang ditetapkan menjadi libur lebaran. Hari ini sepi walau tidak begitu suram durja. Medulla spinalis dengan jaras-jarasnya tetap menghantar impuls ke korteks serebri, walau zat protein penduduk reseptor sensorik begitu leganya mencari tempat yang dia inginkan.


Mulai dengan bangun pagi ketika tidur REM (Rapid Eye Movement) telah mencapai titik nadir. Hari ini dimulai dengan niat baik, belajar. Ya, ujian farmasi kedokteran yang-gosipnya-ujiannya-sebagian-essay-hapalan, sebuah mimpi buruk bagi penderita dementia kronika seperti saya.


Dengan kegiatan biasa yang sebenarnya tidak perlu dan tidak penting untuk ditera di blog ini. (Tak perlu saya menuliskan bagaimana sinergi kerja otot fleksor dan ekstensor lengan untuk proses suapan, bukan?).


Di mulai dengan pikiran yang sebenarnya tak cukup jernih. "Mulailah dengan belajar" Ah, apa yang ada di pikiran tidak sesuai dengan apa yang dilihat, mudah-mudahan ini bukan sebuah waham. Akhirnya saya berusaha, dengan sedikit berkilah, membuka teve dan ya, melihat program idul fitri di saluran yang ada, bolak-balik membuka Celestial atau Channel News Asia. Saluran Indonesia hanya diisi laporan kelengangan Jakarta dan hikmatnya shalat Ied. Ya, terlalu universal dan tertebak isinya. Sedangkan CNA masih bercuap-cuap kegelisahan dari insan ekonomi Amerika dengan ditolaknya RUU Bailout oleh majelis senat.


Tutup.


Saya memilih melenggang ke dapur. Melihat mungkin makanan yang dapat memberi rangsangan lebih atas sensor males-banget saya. Masak Indomie goreng 2 bungkus dan Pop mie cukup menggoda bukan?


Setelah makan, mode konsentrasi pun dihidupkan. Buka slide di komputer (yang sebenarnya di dalamnya lebih banyak godaan). Saya memilih slide oftalmologi (ilmu penyakit mata). "Anatomi dan Fisiologi Mata" (Pelajaran anak semester 2-3 seharusnya, memalukan bila anak semester 7 tidak paham). Ya dimulai dengan bulbus okuli, adneksa okuli, rongga orbita... Bukannya saya

tidak paham, tetapi entah mengapa, saya kian merasa mengantuk.


Zzzz....


Dueng Dueng


Er, sebenarnya bukan "Dueng Dueng", tapi saya tidak menemukan onomatope yang tepat untuk melukiskan bunyi nada dering penanda pesan dari telepon seluler ini. Suara cukup -sangat- keras. Ya, sengaja ditetapkan demikian, daripada nanti ada yang manyun orisnya (mulutnya, red). Apalagi dia tampaknya sudah kesal karena smsnya kerap lama -bahkan pernah tak sama sekali- saya balas, karena adanya defek pada saraf vestibulokoklearis saya. Gomen, pat.


Cukup dengan suara nada dering. Saya terbangun, melihat sms dari Pramanta yang saya minta undangan untuk game berbasiskan web, e-republik. Tetapi ketika di cek kotak mail, nihil. Nantilah saya akan beritahu Pram lagi.


Sadar bahwa slide mata belum selesai, maka saya lanjutkan dengan slide "Pemeriksaan Mata", mulai dengan Snellen Chart, Jagger Chart, Tonometri, dan lainnya. Entah kenapa terbesit di otak, untuk mengorek-ngorek FS. Saya langsung terpikir untuk mencoba mengorek teman-teman lama yang jejaknya sudah tak terdengar lagi oleh saya. Mulai dengann mengeset umur 20-22 dan sekolah di "Suster". Haha, ketemu banyak teman-teman lama, yang terus-terang saya lupa namanya. Sial, dementia kronika mulai menjadi fulminan. Ada yang saya tebak-tebak karena yang bersangkutan menggunakan nama yang aneh binti ajaib. Bagaimana bisa, nama asli saja lupa apa lagi nama gaulnya? Oh my... Tapi saya menemukan banyak nama lama, dan mudah-mudahan mereka menyetujui akun saya untuk bergabung dengan akun mereka. Ya, kalau ditolak ya, wallahualam...


Akhirnya hari pun berlanjut dengan menulis blog ini. Ah sudah lama tidak menulis blog. Tapi agak males, sepertinya blog ini kian sepi saja, dan rodent-rodent pun berkeliaran.


Catatan judul:
Urtikaria (hives, biduran, kaligata), adalah sebuah morfologi kelainan kulit dengan penonjolana yang diakibatkan vasodilatasi akibat reaksi hipersensitifitas (biasanya tipe I). Urtikaria biasanya timbul sangat cepat setelah terkena kontaktan dan akan menghilang secara perlahan di bawah 24 jam. Penulis ingin menandakan bahwa hari ini datang begitu cepat dan selesai begitu lama...

Rabu, 17 September 2008

Semester 7... dan Dunia pun Terbalik

Sebuah kemalasan bagi saya untuk mencari lagi tulisan-tulisan lama di dalam blog. Sebuah kerinduan juga untuk menggerakkan jari-jari, merangkai kata. Sebenarnya sudah ada niat untuk menulis, tetapi tampaknya hanya menjadi onggokkan di tengah keramaian jalan.


Untuk menuliskan perihal semester 7 sebenarnya menimbulkan kecemasan bagi saya, apakah masih layak untuk dituliskan, padahal dia sudah berjalan sekian lama.


Semester 7 adalah sebuah langkah yang berbeda dari sebelumnya. Keberanian mengambil 2 mata kuliah di depan yang cukup menguras tenaga, walaupun sebenarnya sudah tergembleng dengan semester palsu pada semester 6. 16 SKS terasa 24 SKS... Haha, tapi perasaan akhirnya hanyalah sebuah rasa.


Diawali dengan kegundahan sebenarnya. Mempertanyakan segala kemampuan dalam diri. Menengadah ke langit menanti jawaban. Hingga kata mampu pun tertera, sesulit menera neraca..


Semester ini terus-terang, saya lebih sering menjelajah dunia. Menginjak tanah Sumatera menjadi sebuah hal yang membahagiakan di tengah derap degup menanti Temu Ilmiah Nasional di FK USU. Dan alhamdullilah, UAJ berhasil meraih peringkat 3 di lomba proposal penelitian. Bertemu dengan rekan se-Indonesia menjadi euforia tersendiri. Sebuah hal yang jarang akan ditemui. Layaknya Munas ISMKI yang lampau.


Kehidupan kampus dengan manis getirnya menjadi warna sendiri di dalam hati. Pada akhirnya semua berpadu dan menjadi kubangan pengalaman yang memperkaya diri. =)


Saya sendiri merasa cukup bahagia dalam tetes peluh yang ada. Menjalani hidup, menapaki langkah, menatapi dunia, merasakan kesepoian. Dan angin pun membawaku, terbang.


*Catatan:
Saya sendiri setelah menulis, dibaca ulang, dan merasa komposisi tulisan ini aneh dan sepertinya tidak cukup bermakna. Hahaha.... Tapi originalitas tetap menjadi yang terutama.

Jumat, 09 Mei 2008

Bikin Film: Orgasmus Maksimus

Tidak dapat diduga sebelumnya, apa yang sudah saya lakukan pada minggu ini. Ya, minggu yang sekiranya cukup membebani budi pikiran. Bagaimana tidak, minggu penuh makna ini dilalui, ya, memang sedikit mengenyampingkan sisi akademik saya (mohon untuk tidak untuk diteladani soal hal ini). Namun, saya bersyukur mendapati pengalaman yang tidak ternilai.


Masa saya memang banyak terambil untuk proyek pembuatan multimedia dari rekan-rekan MEDISAR FKUAJ dalam rangka persiapan mereka menuju gaweannya, Medical First Response (MFR). Multimedia yang digarap ini bertemakan resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resucitation (CPR). Saya ditugaskan menjadi seorang editor video. Ya, cukuplah dengan pengalaman beberapa mengedit video sejak dari SMA (Terima kasih Pak Arwanto, seorang guru Bahasa Indonesia yang pasti menugaskan pembuatan video amatir).


Hari yang melelahkan, menyelingi kehidupan sebagai pengurus senat dan penasihat AToMA, bahkan ahrus membagi tugas sebagai mahasiswa, anak dari orang tua, dan berbagai jenis strata yang tertera. Hari Senin mengambil gambar dari sore hingga mentari pun terbenam. Pada hari Selasa, bersyukur ketika ada dokter yang membantu. Rabu, di mana kita bekerja hingga Kamis jam 2 pagi. Pengambilan gambar dari pukul 5 hingga 2 pagi di poli spesialis Rumah Sakit Atma Jaya yang kian menyepi tiap detikan waktu, sungguh menggugah. Belum lagi disembur dengan pengalaman cakram padat yang digunakan mengalami kesalahan fatal. Entah kenapa keesokan harinya, hal ini dapat teratasi, ternyata sang berkas pun tak jadi lenyap.


Suatu keharuan di antara kegembiraan, mungkin seperti itulah yang tergoreskan dalam benak. Hah, kini, sang video pun sudah di tangan dan siap untuk diedit dalam proses penyelesaian. Semoga, dapat memberi hasil yang terbaik.


Pengalaman ini mengingatkan saya pada jerih payah orang-orang dalam rumah produksi film. Video 18 menit dan amatir saja begitu memeras keringat dari pori. Apalaagi sebuah film profesional yang lebih menuntut kemaksimalan dalam senarai aspek. Dan kita pun percaya, kerja keras tidak akan sia-sia belaka. Dan orgasmus maksimus pun hadir dalam pikiran dan menghilangkan dahaga jiwa.

Jumat, 02 Mei 2008

Spesialisiasi: Terlalu dinikah untuk dibicarakan?

Sebuah retorika atau mungkin sebuah prasangka yang masih tak cukup memadai ketika kita (baca: mahasiswa fakultas kedokteran) diberikan pertanyaan:


Ingin menjadi (dokter) spesialis apakah Anda kelak?



Ini bagaikan sebuah simile ketika kita ditanyakan pula saat kita menjejakkan diri sebagai siswa SLTP atau SLTA: Apakah cita-citamu?


Menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran dengan strata 1, sudah jelas, artinya kita akan menjadi Dokter dengan gelar dr. di depan atau setidaknya S.Ked di belakang, yang akhirnya sang S.Ked tergeser tragis ketika dr. menjadi pionir di depan nama.


Kita bercita-cita menjadi dokter umum. Ya, dokter umum. Tetapi entah mengapa kini banyak yang mengatakan, lebih baik spesialisasi saja. Oh ya? Mengapa? Konon, katanya akan lebih terjamin masa depan.


Benarkah demikian? Padahal hendaknya, dokter umum adalah orang yang lebih depan dari dokter spesialis! Dokter umum adalah dokter pertama yang berkomunikasi dengan pasien, sebelum pasien bertemu dengan dokter spesialis dan konsulen.
Bila semua dokter umum menjadi dokter spesialis, akan kemanakah kita?


Yang saya truliskan adalah sebuah keadaan yang selayaknya terjadi. Tetapi lihatlah masyarakat (terutama yang mampu), biasanya langsung bertandang ke dokter spesialis walaupun itu hanya rhinitis akut ringan yang sebenarnya bisa sembuh sendiri dengan sistem immun kita. Sistem rujukan pun menjadi kacau balau.


Ketika ditanya spesialis apakah yang hendak saya ambil, saya pun hanya bisa berkata "belum tahu". Terlalu dinikah? Atau memang belum ada sesuatu yang dapat menarik minat saya? Tidak juga sebenarnya. Interna, neurologi, radiologi sedikit memberi kontribusi dalam kepala saya. Namun obstetri ginekologi kurang memberikan ketertarikan. Bidang yang cukup aneh, Med.Ed alias Pendidikan Kedokteran sedikit memberikan minat juga. Mungkin orang pun hanya terkekeh miris bila mendengarnya. Saya sendiri masih membentangkan lensa objektif dalam diri untuk memandang dunia yang lebih luas, tidak sesempit daun kelor. Dunia tidak brevis (pendek, red) bung!