Selasa, 17 Maret 2009

Benarkah Alasan Belajar saat Kuliah adalah Segalanya?

Ini adalah sebuah refleksi sejenak bagi saya. Hal ini timbul dalam suatu kejadian ketika ada sebuah kegiatan yang telah direncanakan sudah lama, dan kemudian seketika bertabrakan dengan jadwal akademik, dan kemudian ada permintaan kegiatan itu untuk dapat mengakomodir mahasiswa yang ingin kuliah. Padahal kegiatan tersebut sudah dirancang sedemikian rupa dan akan berantakan bila diminta mengakomodir akademik.

Dan kegiatan ini tetap saja menggantung dan tetap pihak peserta tetap mengatakan: Lebih pentingnya akademik dibandingkan kegiatan yang sudah direncanakan itu.

Tentunya kegiatan ini bukanlah kegiatan main-main, fun, hura-hura atau riang gembira namun sebuah kegiatan pengembangan diri.

Saya sendiri berpendapat bahwa alasan akademik ini tidak beralasan walaupun terhadap dalih alasan kita kuliah adalah untuk belajar! Namun di balik itu kita tetap harus melihat tingkat prioritas. Dalam menentukan prioritas kita tetap harus melihat: kepentingan acara, urgensi acara.

Dalam kegiatan tersebut memiliki urgensi yang sangat tinggi, tanpa ini jalannya kegiatan lainnya tentu akan berpengaruh dan yang mendapat pengaruh adalah orang-orang yang ada di luar dirinya dan dirinya sendiri.

Kalau melihat dari kuliah, kegiatan ini adalah kegiatan untuk diri sendiri tidak langsung ke orang lain secara eksternal. Dan diri sendiri pun tak akan rugi karena banyak cara lain untuk dalam mengompensasi hal ini.

Tentunya kuliah dalam hal ini adalah salah satu bentuk atau cara belajar. Kita tidak bisa mengatakan bahwa saat kuliah adalah mutlak untuk belajar. Banyak cara belajar yang lain yang dapat menggantikan kuliah dalam kesempatan tertentu.

Contoh ekstrimnya. Ketika Anda dalam jalan kaki menuju kuliah dan Anda sudah telat, kemudian Anda melihat kecelakaan dan korban memerlukan pertolongan segera. Apakah tetap alasan kuliah adalah segalanya?

Kefleksibelan hidup pun diperlukan.

Sabtu, 14 Maret 2009

Mempertanyakan Kekatolikan?

PERHATIAN!
Tulisan ini memuat ajaran nilai agama. Bila Anda merasa tidak bisa menerima dan ingin meniadakan serta memperolok ajaran agama karena berbeda dengan ajaran agama Anda yang Anda yakini, Anda tidak perlu membaca tulisan ini. Tulisan ini adalah hasil kognitif dan afek pribadi saya terhadap agama yang saya anut. Mohon maaf bila ada sedikit miskonsepsi kecil dengan ajaran yang ada dengan tulisan saya ini. Anda bisa memberikan komentar kepada saya untuk koreksi.


Akhir-akhir ini entah mengapa saya tiba-tiba banyak dipaparkan mengenai hal-hal keagamaan, terutama agama yang saya anut, Katolik. Banyak sekali hal-hal yang ada, dan sebenarnya berpucuk dalam satu inti: Mengapa Katolik? atau Why Catholic?

Memang dalam usia saya yang hampir 22 tahun, iman saya memang belum setegar beringin. Namun hati terasa gatal untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu.

Masa Awal

Saya memang dibaptis sejak bayi dan menyandang nama salah satu rasul, Andreas. Konon saya dibabptis di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Jakarta. Kemudian saya masuk di TKK Kristen Immanuel yang dipayungi oleh Gereja Kristen Jemaat Kalimantan Barat. Saya sempat mengalami kebingungan karena apa yang diajari oleh ibu saya berbeda. Doa Bapa Kami berbeda! Saya hanya bisa mengikuti.

Saat saya pindah ke SD Suster, saya sempat menolak karena teman-teman saya tentunya melanjutkan ke SD Immanuel. Namun orang tua memasukkan saya ke SD Suster. Di sinilah saya mengalami pelajaran Katolik secara resmi dan menhadiri kelas Bina Iman setiap Jumat pulang sekolah. Ketika kelas 4 atau 5 SD saya mengikuti kelas Komuni Pertama. Saya sangat senang, pada akhirnya saya bisa menerima komuni dengan ibu saya.Saat kelas 6 SD, saya menjadi putera altar atau misdinar di Putera Puteri Altar Santo Kristoforus, Paroki Katedral St. Yosef, Pontianak.

Pelajaran agama terus saya dapat saat SLTP. Saat SLTP saya lumayan sering ditugaskan pelayanan di misa-misa khusus, misalnya misa natal, misa tahun ajaran baru. Seringnya memang menjadi lektor -pembaca sabda-. Saya dulu merasa takut karena harus berbicara di depan publik dan sedikit-sedikit menghilang. Saat itu pula saya menerima Sakramen Penguatan, dan dengan nama penguatan: Valentinus.

Jadilah, Valentinus Andreas Erick Haurissa.

Masa SMA

Masa SMA ini membukakan mata saya akan perihal pelajaran agama. Karena di sini diajarkan lebih generalis dan menyentuh masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan bagaimana hubungannya dengan Gereja. Menyentuh ensiklik-ensiklik gereja, semacam Rerum Novarum dan Quaddragesimmo Anno. Di sini pula saya belajar akan sejarah-sejarah Gereja dan pergolakannya di Reformasi Gereja yang menghasilkan Kalvinisme dan Lutheran.

Katolik dan keluarga: masalah tradisi?

Katolik adalah sebuah agama yang banyak diterima oleh keluarga saya. Rata-rata keluarga dengan strata saya (sepupuan) sebagian besar menganut Katolik. Keluarga saya, terutama jika dibandingkan keluarga ayah, adalah keluarga Katolik pertama.

Pada awalnya, tidak mudah bagi saya menjadi seorang Katolik, paling tidak itu yang saya rasakan. Saya pun menerima tertawaan semacam: Katolik yang dipeyorasikan menjadi (Katok Terbalik - maaf, pakaian dalam yang dibalik). Semacam bahan tertawaan seperti itu. Karena dulu selain saya, semua sepupu menganut tradisi Tionghoa. Dan pada akhirnya mereka pun sebagian besar adalah Katolik.

Kekatolikan menjadi begitu besar di dalam keluarga saya, terutama keluarga ayah. Padahal dulu saya pun tahu, ada sepupu saya yang dimana ibunya tak setuju ia mengikuti sekolah minggu.

Tapi entah mengapa Katolik menjadi diterima. Saya berusaha mencari jawabannya. Dan saya paling tidak menemukan satu, bahwa Katolik sendiri terbuka dengan kultur budaya. Selama nilai-nilai itu dapat disinkronkan. Misalnya nilai Katolik dapat masuk ke dalam budaya Tionghoa. Katolik tidak melarang imlek dan tata caranya, tidak melarang cheng beng, dan fleksibel. Perlu dicatat bahwa ini diterima selama memang sesuai. Misalnya memegang hio tidak dilarang, karena di dalam Katolik pun mengenal dupa dan wirug, selama hio digunakan sebagai tanda penghormatan tidak apa-apa, bukan sebagai penyembahan berhala.

Katolik menerima tradisi selama esensinya tidak bertolak belakangan dengan agama

Pada akhirnya nilai-nilai tradisi, tidak perlu ditanggalkan dan masih bisa diterima.

Kekatolikan, ada yang salah: Benarkah?

Katolik berasal dari bahasa Yunani: καθολικός (katholikos) berarti universal.

Banyak nilai-nilai Katolik yang salah dipersepsikan dan dianggap sebagai suatu kesalahan. Karena persepsi yang salah itulah menjadi penilaian yang buruk akan Katolik dan tak jarang hal ini menjadi senjata. Di sini saya membahas sejauh pemahaman saya selama ini:

a. Mana Kristiani yang Asli?

Masing-masing Kristiani menganggap merekalah yang benar. Namun kalau kita ulur tali sejarah, bahwa Katolik adalah yang pertama. Penyebutan Katolik sendiri muncul pada akhir abad pertama setelah jemaat perdana. Kristen ortodoks (abad ke-11) sendiri berawal dari Katolik namun mengalami perkembangan sendiri karena pengaruh yang berbeda di Eropa Timur. Begitu juga ritus-ritus lain yang berkembang karena pengaruh geografis yang berbeda, sebut saja ritus Malabar yang dibawa Rasul Thomas. Namun ritus-ritus ini kemudian bergabung dalam Katolik.

Hingga pada abad ke-16 muncul reformasi gereja yang berawal dari Gereja Katolik. Memang, pada saat itu terjadi kesalahgunaan jabatan oleh para pengurus gereja yang menimbulkan reformasi ini. Dan gereja Katolik sendiri sadar akan kesalahan itu dan membenahi diri dan para sarjana gereja melakukan pembaruan dan tetap dalam Gereja Katolik. Tidak ada perubahan nilai-nilai secara religi. Yang dilakukan adalah pembaruan sumber daya, tidak ada masalah pada ajaran dasarnya.

Gereja Katolik sendiri membuka dirinya dan mengembangkan nilai-nilai sosialnya mulai dari Konsili Vatikan, kemudian ajaran sosial gereja. Tentunya pengembangan ini merupakan salah satu pengembangan dari nilai-nilai dasar Katolik.

Dari sini, saya menyimpulkan bahwa, bila mau didasari secara historis, maka Gereja Katoliklah jawabannya.

b. Benarkah Sola Scriptura?

Dalam Surat ke-2 Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (2 Tes: 2:15) memang disebutkan:

Oleh sebab itu, Saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah terus kepada ajaran-ajaran yang sudah kami berikan kepadamu, baik secara lisan maupun secara tertulis.

Yohanes pun menuliskan (Yoh 21:25)

Masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Yesus. Andaikata semuanya itu ditulis satu per satu, saya rasa tak ada cukup tempat di seluruh bumi untuk memuat semua buku yang akan ditulis itu.

Dalam buku Etika Dasar, Frans Magniz-Suseno juga menyebutkan bahwa perlu adanya pertimbangan-pertimbangan etika dalam menafsirkan sebuah ajaran agama.

Dan Petrus menuliskan (2 Pet 3:16)

Dalam semua suratnya, Paulus selalu menulis tentang hal itu. Memang ada beberapa hal yang sukar dipahami dalam surat-suratnya itu. Dan bagian itu diputarbalikkan oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan yang tidak teguh imannya. Hal itu tidak mengherankan, karena bagian-bagian lain dari Alkitab diperlakukan begitu juga oleh mereka. Apa yang mereka lakukan itu hanya mengakibatkan kehancuran mereka sendiri.

Oleh karena itu bahwa apa yang tertulis di Alkitab memang menjadi pedoman bagi kita. Namun dalam memahami Alkitab diperlukan juga hal-hal lain yang dipertimbangkan dan tidak serta-merta langsung diartikan.

Kita perlu memahami bahwa Alkitab sendiri ditulis oleh masyarakat masa lalu yang tentunya dengan serta Roh Kudus. Banyak hal yang mempengaruhi sudut pandang dari tulisan, seperti Injil yang dituliskan dalam empat sudut pandang. Kisah penciptaan di Kejadian yang memiliki dua versi yang sebenarnya merujuk ke keadaan masa saat itu dituliskan, dan terpengaruh oleh budaya dan cerita rakyat masa itu.

Gereja Katolik pun mengajarkan bahwa hal-hal dalam Kitab Suci memiliki makna yang perlu diresapi dan bergantung pada konteks dan tidak bisa diterjemahkan secara redaksional.

c. Katolik yang Penuh Tradisi

Perayaan Ekaristi, sebuah tradisi Katolik

Memang Katolik adalah agama yang banyak tradisi karena agama ini adalah agama yang berawal dari 2000 tahun lalu. Saya rasa kita pun bisa memperkirakan seperti apa 2000 tahun lalu. Tentu piala yang ada, bukan gelas glosi.

Tradisi ini ada karena tetap dipertahankan hingga saat ini. Tentunya ada tradisi yang mengalami perubahan karena perkembangan jaman dan pengubahan ini tidak mengubah esensi nilai-nilai Katolik tentunya.

Tradisi yang ada sebenarnya adalah perlambangan atas sikap kita. Misalnya ketika ada bendera dinaikkan, mengapa kita harus mengangkat tangan dan menghormat sedemikian rupa. Mengapa ketika kita bertemu dengan rekan kita perlu untuk berjabat tangan atau melambai tangan.

Begitulah analoginya, mengapa saat masuk misa membuat tanda salib. Ini sebagai tanda bahwa kita membersihkan diri kita untuk siap bermisa. Mengapa harus berlutut saat mengaku dosa, kaena ini sebagai tanda pertobatan dengan Tuhan. Seperti ketika seorang pria melamar dan berlutut sambil membawa kotak perhiasan. Mengapa ia berlutut? Karena ia ingin menunjukkan bahwa wanita tersebut adalah sesuatu yang berharga dan ia rela untuk merendahkan hatinya.

Perilaku dan simbol yang ada adalah perlambang diri kita.

d. Benarkah menyembah patung?

Patung Yesus Kristus

Analogi ini saya mengambil analogi yang diberikan guru agama saat SLTP. Ketika Anda menghormati bendera apakah artinya Anda menyembah? Ketika seseorang meninggal dan ada fotonya, kemudian kita menangisi di depan foto, apakah kita artinya menangisi foto?

Tentunya barang-barang ini hanyalah media yang membantu kita dalam mengenang atau memusatkan perhatian kita. Misalnya ada seseorang yang kita kasihi sudah lama meninggal. Kemudian kita melihat fotonya. Ada rasa terbesit tersebut perihal orang itu bukan? Begitu pula dengan patung Yesus dalam salib misalnya, kita tidak menyembah patung yang terbuat dari tanah liat itu atau logam, namun karakter Yesus itu sendiri.

e. Santo Santa?

St. Petrus Kanisius, seorang santo yang saya kagumi

Santo dan santa ini adalah sebagai mengenang jasa mereka dan dapat menjadi tauladan bagi kita. Santo dan santa (termasuk beata) adalah orang yang kudus. Kudus di sini artinya mereka telah menjalani sesuatu yang luar biasa dalam hidup mereka (merujuk pada "Etika" karangan Prof. Bertens).

Dengan adanya sosok ini kita dapat memiliki patokan, oh saya hidup dalam Katolik seperti ini yang telah dicontohkan.

Kita berdoa bukan kepada santo-santa tetapi melalui perantaraan mereka. Karena Katolik percaya adanya kehidupan kekal setelah kematian dan para santo santa ini memiliki tempat yang dekat dengan Tuhan. Karena kedekatan itulah kita bisa minta perantaraan mereka. Kita percaya bahwa mereka akan menyampaikannya ke Tuhan.

Lalu timbul pertanyaan mengapa kita harus pakai perantara? Tuhan seperti ayah kita. Santo santa seperti kakak kita. Terkadang kita lebih bisa mengutarakannya kepada kakak daripada langsung kepada ayah. Dan tidak ada salahnya juga memang kita langsung kepada ayah. Dan disinilah manusia sebagai umat dapat memilih, pada akhirnya semua pun akan kepada Tuhan.

Dalam Wahyu pun dituliskan bahwa orang kudus berperan: (Why 5:8)

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
Selain orang kudus, dalam Gereja manapun (Katolik dan bukan Katolik) pun percaya akan doa yang diperantarai oleh manusia. Ketika kita minta didoakan orang lain. Walaupun tingkatan berbeda, namun analoginya serupa.

f. Perihal Bunda Maria

Bunda Maria, Katolik tidak menyembah Bunda Maria


Sama seperti santo santa. Kita tidak berdoa kepada Bunda Maria, kita tidak menyembah Bunda Maria. Kita menghormati Bunda Maria sebagai orang terdekat Tuhan dan sebagai sosok wanita yang menjadi ibu bagi kita. Kita dapat menjadikannya perantara kepada Tuhan.

Dalam doa Salam Maria yang dianut oleh Katolik, sama sekali tidak menyebutkan bahwa adanya penyembahan Bunda Maria. Begitu pula makna doa Rosario.

Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu;
terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati
Amin.
Kita meminta Bunda Maria untuk mendoakan kita (meminta perantaraanya). Tidak ada penyembahan bukan di sini?

Katolik bagi Saya

Bagian ini adalah bagian terakhir. Kekatolikan bagi saya bukanlah hanya sekedar tradisi. Atau sekedar otomatis karena saya dibaptis bayi. Namun menjadi sesuatu yang bermakna mendalam bagi saya dan menjadi salah satu bagian hidup. Saya merasakan sesuatu dalam Katolik, baik itu kuasa Tuhan, dan berkah yang ada.

Saya bersyukur saya menjadi seorang Katolik.

Kamis, 12 Maret 2009

Mempersakit Pasien Penyakit Jiwa?

Ia pernah sakit jiwa dan itu menyakitkan bagi dia
Ibunya begitu pasrah dan merelakannya
Ketika ia mulai pulih dan dapat tersenyum
Ia masuk ke kehidupan yang biasa disebut "hidup normal"
Kini ia menikam gadis
dan masuk bui


Kisah di atas mungkin adalah sebuah kisah fiktif hasil tangan saya. Namun kita tidak bisa berpaling bahwa kisah ini nyata dalam kehidupan.


Penyakit Jiwa
Penyakit jiwa, kelompok penyakit lainnya yang sebenarnya setara saja dengan penyakit dalam (interna), kebidanan, saraf (neurologi), dan lainnya. Namun ia kian spesial karena terkadang menyulitkan dan menyakit jiwa seseorang. Jiwa, sesuatu yang amat abstrak. Jiwa bukanlah sebuah sisi anatomi yang memiliki segala sudut sehingga memiliki nomenklatur Latin. Jiwa mungkin memiliki sisi faali dan biokimiawi yang dapat menyokong sesuatu yang bernama "hidup".


Kejiwaan adalah sesuatu yang terkadang membuat masalah lebih besar dalam ilmu kedokteran. Ketika kita mengungkap schizophrenia, psikopat, homoseksual, kleptomania. Suatu keadaan yang sulit dapat didiagnosa dengan prinsip palpasi atau auskultasi.


Saya berusaha memikirkan sebuah pertanyaan, apakah penyakit jiwa adalah penyakit ringan? Apakah ia setara dengan penyakit flu? Atau dalam tingkatan berat seperti karsinoma pankreas stadium terminal yang akhirnya berakhir dengan morfin dosis tinggi dan meninggal? Apakah penyakit jiwa dapat benar-benar tersembuhkan atau paling tidak dapat dianalogikan dengan penyakit cacar air yang di mana bekas penderitanya memiliki kekebalan sehingga agen penyakit tidak bisa masuk ke tubuh?


Orang Gila?
Masalah yang ada dalam kisah yang saya tuliskan akan berlanjut,


Ia kembali sakit jiwa, demikian kata polisi
Ia kambuh lagi dan kembali terjun ke masa lalu
Ibunya kembali pasrah dan rela
Inikah nasibku?, katanya dalam hati
Aku memang orang gila, seperti kata mereka

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yang memiliki banyak label streotipe (stigma). Orang Cina dianggap pelit, orang Batak dianggap agak kasar. Begitu pula dengan streotipe penyakit, ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) itu adalah orang tunasusila. Orang dengan penyakit jiwa adalah orang gila.


Gila, menurut KBBI 1990, adalah orang yang sakit ingatan dan sakit jiwa (saraf terganggu atau pikiran tak normal). Demikian kata ahli bahasa Indonesia yang menyusun KBBI. Di sini memiliki satu kelemahan, bila kita mengikuti pakem yang sudah ada di masyarakat. Saya kembali mengkritisi apa yang dimaksud dengan normal? Bagaimana sesuatu bisa dianggap normal? Berapa orang yang diperlukan untuk menentukan kenormalan dan keabnormalan? Anggaplah seorang ahli seni menganggap gambar atau patung telanjang adalah normal, kemudian berbagai kelompok keagamaan mengatakan itu adalah pornografi yang tak direstui Tuhan. Mungkin Michaelangelo, pelukis pada masa Renaisans, akan menyesali "Daud"-nya?


Orang yang berpenyakit jiwa memang gila. Namun sayangnya, kata gila sendiri telah mengalami peyorasi yang sangat jauh. Orang sakit sakan harus keluar dari komunitas sosial dan dipersatukan dengan kelompok yang dianggap pantas. Adilkah ini? Kemanakah pasien flu, pasien batuk rejan? Bukankah itu lebih menular?


Kalaupun mau dikatakan orang gila atau sakit jiwa. Masing-masing personal memiliki unsur kelainan jiwa misalnya. Seperti ketidaksempurnaannya perkembangan individu sesuai dengan apa yang dikemukaan Sigmund Freud, Erik Erikson, Jean Piaget, atau Kohlberg? Seseorang yang mengalami stagnansi perkembangan. Mereka pun gila. Tapi sekali lagi, kata gila terlanjut dipeyorasikan.


Sakit Jiwa Terpeyoratif
Sebuah pertanyaan yang saya kemukakan di atas, apakah sakit jiwa dapat disembuhkan? Ini memiliki arti yang luas. Dalam kisah kita akan melihat orang tersebut (atau Aku) pernah menderita penyakit jiwa, kemudian kembali ke "hidup normal" dan kemudian mengalami masalah yang pelik, pembunuhan. Ia dianggap sebagai seorang psikopat oleh orang lain.


Sebuah label yang cepat ditempel dalam diri seseorang, karena ia memiliki riwayat sakit jiwa? Kejadian seperti ini akan menggemparkan dunia jurnalistik. Ahli psikiater mendadak terkenal dan diwawancarai oleh wartawan atau ada yang diundang ke studio televisi. Begitu gemparnyakah penyakit jiwa?


Sebuah hal yang cukup memutar otak, mengapa orang yang memiliki riwayat sakit jiwa yang sebelumnya telah dinyatakan sembuh, begitu diagung-agungkan pada seseorang tersangka pembunuhan? Tidakkah pernah ditulis: "Tersangka pembunuhan dengan riwayat hipertensi?". Apakah ini menomorsatukan atau menomorduakan penyakit jiwa?


Dulu merka dianggap sembuh. Seperti, sembuh dari flu. Sembuh dari gejala typhoid. Itu masa lalu dan hanya rekam medis. Dan kini ketika suatu masalah datang, inikah kambing hitamnya?


Sakit Jiwa Ada Jiwa
Tidakkah kita berpikir, atau terlintas di benak, mereka punya hati. Apa yang kita rasakan ketika mengatakan "Pak, Anda menderita kanker prostat.". Ini bukanlah suatu hal yang serupa dengan "Selamat Hari Jadi". Ini sama dengan perkataan "Ia terkena sakit jiwa".


Hati ini terus bergejolak dan semakin memanas. Apa yang ada di kepala menjadi racun. Apalagi ia masih sempat berpikir, apa kata orang tentang aku? Bagaimana ibuku? Ia memiliki anak berpenyakit jiwa?


Kita mengacuhkan itu... Yes, we do.

Sabtu, 07 Maret 2009

Saat Terakhirku

Hari ini derpaan terbang melandai
Aku pun mencoba untuk menerpa
Rasa itu terasuki hebat dan mataku terbelalak
Namun mulut ini tak mampu berkata
Lenyap kata

Mataku mulai tersungkur
Dalam pikiranku hanya terbuai lamunan
Tersambut gejolak mencari jalan
Tanganku ingin bergerak menopang
Dan seketika terpaku dalam hendaya

Renjatan jantungku miris tertatih
Telinga berdenging dan tak terdengar lagi dunia
Peparu berhenti dan napas tak terhembus
Dalam batinku, aku masih bergundah
Lidah pun merasa getirnya darah

Badanku sudah terhempas ke bumi
Mataku sudah hampir tertutup
Semua indera sudah menyelesaikan sang tugas mulia
Hanya mulutku yang masih bisa membahana

Walau tak ada lagi gema terucap
Hanya gerak kecil yang tertera
Aku hanya ingin
Alam untuk mendengarkan aku
"Terimalah jiwaku di saat akhirku"

Dan aku pun bisa tersenyum dengan indah
Dalam gurindam kedamaian
Dan meninggalkan badanku.

-hau
Jakarta, 7 Maret 2009
10:34 WIB
Dalam mengisi waktu kosong melankoliknya

Minggu, 01 Maret 2009

TDA, Engkau yang Membuat Hariku



Gilaaa.... hari ini saya berkutat seharian dengan TDA. Web ini akan diupgrade CMSnya.
Yup. dari versi 5 ke 6 yang lumayan berbeda tata caranya.
Mana lagi pada awalnya saya menghapus CMS versi 5 (tentunya saya backup dulu file lama). Dan saya unggah semua versi 6. Dan ternyata ada setting PHP yang tidak cocok. Dan ketika saya minta administrator host untuk diubah, adminnya menolak karena katanya memang variabel ini tidak boleh diubah.
Alamat, katanya diminta upgrade via Fantastico.
Dan akhirnya saya hapus lagu berkas versi6 dan ambil file backup versi5 dan diunggah kembali.
Dan update di Fanatstico pun terlihat aneh, proses saat itu memang belum selesai tetapi data di Fantasticonya menyebutkan bahwa berkas sudah terupgrade.

Dan apa daya saya melihat error-error. Ketika coba konsul ke Bim dan ada salah seorang member forum, ternyata katanya ada masalah di theme. Memang saya lupa mereset themenya. Namun masakan begitu? Dari siang begitu... hingga jam 21 tadi. Saya coba mengutak-ngutik lagi proses update di Fantastico dan saya mencium keanehan... Kok URLnya berubah! Dari proses http://www.xxx.com/update.php misalnya hanya menjadi http://update.php. Dan saya coba masukkan nama domainnya dan ternyata... It's work dan proses upgrade berlanjut dan sampai CMSnya mengatakan: Proses selesai!
Dan CMSnya bisa!
Kini mencoba mengatur ulang theme dan modulenya....

Fantastico, you sucks.