Kamis, 02 April 2009

Lara dan Juang

Well, sekarang sudah masuk bulan April. Bulan keempat dalam tahun 2009 ini. Saya semakin menyadari semakin cepatnya waktu berlari di depan. Dua hingga tiga bulan lagi saya akan masuk klinik!

Bulan yang dimulai dengan sedikit rasa lelah yang masih bertahan pasca menjadi panitia LKMM Senat Mahasiswa FK-UAJ lalu. Semoga dalam bulan ini bisa berjalan dengan baik. Dan rasa juang tetap mampu bertengger dalam hati saya, untuk mampu tegar menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup.

Rasa perjuangan yang ada di dalam diri terkadang dirasakan menjadi suatu ambivalensi yang ada. Bukan sebuah distraktibilitas belaka, namun itu yang saya rasakan. Saya bukanlah orang yang begitu mampu untuk tegar dalam setiap detik, walau itulah yang saya harapkan. Saya berusaha agar terus dapat termotivasi baik dalam hidup ini.

Rasa mendua ini namun akhir-akhir ini terus menghampiri dan saya berusaha untuk mencari jawabannya dan solusinya. Otak ini memang kian berkecamuk. Namun saya harus tetap mampu menunjukkan ketegaran. Memang ini adalah brengseknya suatu mekanisme defensif dalam diri saya.

Perihal yang datang dalam diri saya memang pada akhir-akhir ini sangat menguras pikiran, mungkin saja inilah yang membuat saya berusaha tidur tenang dalam malam hari. Apakah memang ini sebab musababnya, entahlah. Namun memang ini sangat menguras tenaga dan berdampak pada saya menjadi kurang memeroleh rasa semangat dalam menghadapi pagi.

Namun saya sadar. Bukan seperti inilah hidup yang ingin saya raih. Saya tidak ingin dalam masa hidyp saya hidup dalam kelaraan dan kezaliman. Saya harus mampu bangkit dan belajar kembali untuk tersenyum kepada matahari pagi dan kembali setia kepada Tuhan. Apakah aku sudah setia pada Tuhanku dan sesamaku?

Berjuang dalam hidup!

Selasa, 31 Maret 2009

Kata-kata Bagus: Dunia, Putraku Mulai Sekolah Hari Ini!

"Dunia, awasilah anakku - ia mulai sekolah hari
ini! Selama beberapa saat, semuanya akan
menjadi aneh dan baru baginya, dan aku berharap
engkau akan memperlakukannya dengan lembut.
Engkau lihat, sampai sekarang, ia telah menjadi
raja. Ia menjadi bos halaman rumah belakang.
Saya senantiasa mendampinginya untuk merawat
luka-lukanya, dan saya selalu dekat untuk
menenangkan perasaan-perasaannya.


Tetapi sekarang segala sesuatu akan menjadi
berbeda. Pagi ini ia akan berjalan menuruni
tangga, melambaikan tangannya dan memulai
sebuah petualangan besar yang mungkin akan
termasuk perang, tragedi, dan kesedihan.


Hidup dalam dunia ini memerlukan iman, kasih
dan keberanian. Jadi, Dunia, aku berharap engkau
akan memegang tangannya yang masih muda dan
megajarnya hal-hal yang harus ia ketahui. Ajarilah
dia - tetapi dengan lembut, jika engkau bisa.


Aku tahu, ia akan belajar bahwa semua orang
tidak adil - bahwa semua laki-laki dan perempuan
tidak benar. Ajarilah dia bahwa untuk setiap
kelompok penjahat, ada seorang pahlawan; bahwa
di antara musuh ada seorang sahabat. Biarkanlah
ia belajar lebih awal bahwa para penggertak adalah
orang-orang yang paling mudah dikalahkan.


Ajarilah dia sesuatu yang menakjubkan dari
buku-buku. Berilah dia waktu tenang untuk
merenungkan rahasia abadi dari burung-burung di
udara, lebah yang beterbangan di siang hari dan
bunga-bunga di bukit yang hijau.


Ajarilah dia bahwa jauh lebih terhormat gagal
daripada menyontek. Ajarilah dia untuk meyakini
gagasan-gagasannya sendiri, walaupun setiap
orang mengatakan kepadanya bahwa gagasan-
gagasannya itu salah.


Berusahalah memberi anakku kekuatan untuk
tidak mengikuti massa ketika setiap oarng
mengikuti arus. Ajarilah dfia mendengarkan orang
lain, tapi menyaring semua yang ia dengar dengan
penapis kebenaran dan mengambil hanya yang
baik.


Ajarilah dia untuk tidak menaruh kartu harga di
hati dan jiwanya. Ajarilah dia untuk menutup
teliganya pada ‘gonggongan’ orang banyak - dan
untuk berdiri kukuh dan berjuang jika ia yakin ia
benar. Ajarilah dia dengan lemah lembut, tetapi
janganlah memanjakan dia karena hanya dengan
ujian api, baja menjadi bermutu baik.


Ini adalah pesan yang besar, Dunia, tetapi
lihatlah apa yang dapat engkau lakukan. Ia adalah
seorang anak yang baik."


Abraham Lincoln

Cinta Almamater: Apa dan Bagaimana

Sedikit banyak ini adalah tulisan yang sebenarnya ingin sekali saya goreskan sejak lama. Mengenai apa yang saya rasakan ketika saya berada di dalam sebuah almamater.

Apa itu Almamater?
Almamater adalah sebuah potongan dari slogan Alma Mater Studiorum (yang dipakai juga sebagai slogan Universitas Bologna, Italia). Yang dalam bahasa Indonesia diartikan: Ibu yang Memelihara pada Pendidikan. Dahulu istilah Alma Mater sering merujuk pada dewi-dewi maternal pada Romawi kuno dan Bunda Perawan Maria pada masa Kristen bangkit.

Dalam masa modern ini, alma mater merujuk pada sebuah institusi (sekolah, universitas atau kolese) di mana seseorang belajar.

Saya pribadi paling tidak memiliki empat almamater:
  1. TKK Kristen Immanuel, Pontianak
  2. Sekolah Suster dari Yayasan Pengabdi Sesama Manusia, Pontianak
  3. Kolese Kanisius dari Yayasan Budi Siswa, Jakarta
  4. UNIKA Atma Jaya dari Yayasan Atma Jaya Jakarta

Almamater Saat SMA

Saat wisuda SMA Kolese Kanisius 2005

Saya sendiri merasa hadirnya sosok almamater dalam hati saya adalah sejak saya menempuh di Kolese Kanisius Jakarta. Perasaan ini bukan hanya sekedar perasaan berbangga atau secara sarkastik sebut saja chauvinisme, melainkan sebuah rasa memiliki yang terasuki dalam diri saya.

Saya memang hanya 3 tahun menempuh di Kolese Kanisius karena saya tidak menjalani SLTP di sana. Tetapi rasa ini begitu mengena di hati saya. Saya amat berbangga menyebut diri saya sebagai Kanisian, sebutan bagi pelajar yang menempuh di Kolese Kanisius.

Pada awalnya rasa memiliki ini timbul dari Ospek, Percasis (Perkenalan Calon Siswa). Saya begitu ditempa dengan kerasnya hidup yang harus dilalui oleh laki-laki (Bagi yang belum tahu, Kanisius adalah sekolah homogen pria). Saya yang segar datang dari daerah begitu tergugah dengan apa yang saya alami di Percasis.

Ketika menyanyi mars yang baru saja saya hapal, dengan teriakan slogan: "Aku Cinta CC" membangkitkan rasa Kanisianisme atau CC-isme dalam diri saya.

Memang, tidak serta merta bahwa Kanisianisme bisa tumbuh begitu dewasa dan ranumnya dalam diri saya selepas Percasis. Namun hal ini ditopang dengan semangat-semangat lainnya yang tetap dikobarkan saat menjalani masa pendidikan.

Pendidikan yang melatih bertanggungjawab, teman-teman yang memberikan makna solidaritas dan kebersamaan yang sangat tinggi, kebebasan berekspresi secara akademik dan ekstrakurikuler. Kemudian dijunjung semangat Kepintaran, Hati Nurani, dan Kepedulian (Competence, Conscience, Compassion). Semangat ini tidak hanya pada pelajar saja, namun guru dan pimpinan pun terlibat aktif dalam mengobarkan semangat ini.

Begitu semangat ini dikobarkan terus menerus, sehingga timbul rasa mencintai Kanisius, kerela berkorbanan terhadap Kanisius, memiliki, dan adanya rasa tanggung jawab terhadap Kanisius. Hal ini saya rasakan dan kadang-kadang saya merasa implisit hingga tersadar. Misalnya ketika saya berjumpa dengan alumni Kanisius manapun, saya merasa berbangga. Saya merasa bahwa mereka saudara dan jika mereka perlu bantuan saya, maka saya memiliki suatu kewajiban moral dalam mengulurkan tangan.

Tercetus rasa keinginan yang kuat untuk dapat berkontribusi pada kolese saya ini ketika saya sudah mapan dan dapat berbagi.

Cinta Almamater: Bagaimana Harus Dikembangkan?

Ospek hanyalah pintu masuk untuk menggugah bagaimana mencintai almamater

Apakah cinta almamater penting? Penting. Dan bagaimana harus dikembangkan?

Cinta almamater bukanlah hanya sekedar tanggung jawab dari pelajar atau mahasiswa, atau dalam kata umumnya: peserta didik. Cinta almamater juga menjadi tanggung jawab pimpinan dan dosen atau guru. Pimpinan dan pengajar harus memberi tauladan dalam mencintai almamater. Banyak hal-hal sederhana yang sebenarnya dapat menunjukkan bagaimana seseorang mencintai almamaternya:
  • Bagaimana seseorang ini memberi citra pada dirinya yang menunjukkan almamaternya dengan segenap kerendahan hati?
  • Bagaimana seseorang bersikap atas identitas dan simbolisme almamaternya, seperti jaket almamater, lambang almamater?
  • Bagaimana ia merasa bertanggung jawab dan ingin berkontribusi secara profesional dalam pengembangan institusinya?
Rasa cinta almamater tidak hanya bisa (mohon diperhatikan, saya tidak menuliskan "tidak bisa") ditumbuhkan dalam ospek atau latihan dasar kepemimpinan. Namun ini dapat menjadi suatu penggugah semangat. Dan jelas, setelahnya perlu adanya tindakan berkelanjutan dalam pengembangan semangat ini. Jika hanya dipaparkan dalam satu kesempatan saja, maka semua akan sirna tak berbekas. Dan semua harus berupa tindakan secara konkrit bukan hanya sekedar teriakan-teriakan terhadap jargon belaka.

Senin, 30 Maret 2009

Aku dan AToMA



Posting asli ini bertanggal 10 Februari 2008 o9:33 pagi.

"Apa nilai Aku untuk AToMA dan AToMA untuk Aku?"


Itu adalah pertanyaan yang saya sampaikan ketika Grand Battle Calon Pengurus Baru AToMA 2008-2009. Semuanya mempertanyakan ulang apa maksud pertanyaan itu. Padahal sebenarnya jelas sekali, menurut saya. Jawablah dahulu "Apa nilai Aku untuk AToMA?", artinya apa yang akan kamu lakukan untuk organisasi ini. Kemudian "Apa nilai AToMA untuk Aku?" artinya bagi diri Anda, AToMA itu sebagai apa.


Pertanyaan yang terlalu filosofis mungkin.Sehingga orang pun terus mempertanyakan. Asyiknya filosofis. Termasuk pertanyaan: "Ada sebuah pintu di depan Anda, apakah Anda akan masuk?" Saya tidak menambahkan keterangan apapun, apakah disekitarnya ada pintu lain, apakah ada teman, dll. Saya ingin melihat apakah diri tersebut berani mengambil risiko.


Masuk ke dalam AToMA dan kepengurusannya adalah sebuah pilihan dan ketertarikan. Terlebih di dalam pengurus, Anda harus bernilai plus. Ya iya, karena ada titel pengurus. Sebagai pengurus, harus ada jiwa pemimpin dan manajer. Sebagai manajer bukanlah sekedar tuan tanah atau mandor. Di dalamnya pun ada loyalitas dan keinginan menciptakan komunitas. Komunitas tidak selamanya harus eksklusif.


AToMA. Sebenarnya apa dia? Sehingga saya sendiri sering dibuatnya pulang malam, tidur subuh, dan berputar otak. Saya pun sampai diomeli oleh bapak saya. "Organisasi terus..." (Karena beliau seringnya mendengar bahwa saya terus-terusan pulang malam karena rapat.) Oh begitu "sombong"nya saya, sehingga menjadi eksekuif muda berbaju mahasiswa...


AToMA adalah organisasi yang satu-satunya saya ikuti di FK. Tahun 2005 saya masuk karena ajakan dari Bim2 (yang dulu mengaku sebagai kakak kelas di CC, padahal saya hanya tahu namanya dan bentuknya saja dari jurnalis Kaleidoskop karena pembatalan CSC hahaha...).


AToMA saya masuk dengan alasan, meneruskan jejak di Canicomp. Padahal saya masuk Canicomp baru di tahun 2004 dan langsung sekonyong-konyong menjadi kepala divisi web. Langsunglah saya bertemu dengan orang-orang di dalamnya seperti: Agnes (bernama Anyo, yang saya kira dulu adalah pria), Bim2, James, dll.


Masuk dengan keadaan yang biasa saja. Mengikuti apprentice yang... memeras serebrum (baca:otak). Belum ada loyalitas yang tumbuh begitu subur.


Ketika ditunjuk langsung menjadi wakil di kabinetnya Albert. Ketika merasa ada pemberian tongkat estafet. Memang ada rasa: "Mau tidak mau, saya ditugaskan menjadi wakil dan saya harus menjalaninya". Akhirnya rasa loyalitas mulai tumbuh sumbur, eksponensial.


Komunitas yang terasa nyaman. Komunitas yang bebas mengeluarkan ide dan pendapat. Komunitas yang menerima dirimu apa adanya. Komunitas yang ekspresif. Komunitas yang serius dan profesional. Komunitas yang berpandang jauh. Komunitas yang belajar. Komunitas beraneka ciri.


Bahwa artinya ada perkembangan yang didapat. Tidak sekedar saya membuang detik menit saya dengan percuma. Bukan berarti menghabiskan waktu di jam 7 malam di lab adalah kesiasiaan.


Saya mendapatkan sesuatu di dalamnya. Mendapatkan sesuatu yang tidak hanya berguna bagi saya sebagai dokter, tapi sebagai profesionalis.


Akhirnya pun saya memindahkan tongkat estafet saya ke rekan lainnya. Namun tidak seperti lari estafet di atletik yang saya harus berhenti. Saya pun harus tetap berlari bersama yang lainnya dan bersama para pemegang tongkat dahulu.


Akhirnya kita pun belari bersama.

Kamis, 26 Maret 2009

Cheng Beng Festival: Sebuah renungan akan hidup


Ini adalah tulisan lama saat Cheng Beng tahun lalu. Hari ini kami pun merayakan Cheng Beng, mungkin bisa menjadi refleksi. Tulisan ini 29 Maret 2008 pada 10:32 WIB di Tanah Kusir, Jakarta.


Ini adalah post gw dari blackberry yang masih kredit. Baru bayar sepertiganya. Hehe..


Hari ini, gw mewakili nyokap ikut dalam cheng beng. Yang menurut almanak tionghoa berarti semua ruh turun ke bumi. Kita sebagai jiwa terkandung badan memberikan sambutan kepada saudara yang telah mendahului kita.


Jam 6 saya dan beberapa keluarga dari nyokap berangkat ke pemakaman Tanah Kusir. Rencananya akan bertandang ke pusara Kungkung, Popo, om Kuncoro, tante Leony, dan Ci Budi, anak Ie Ie Gede.


Sebuah pikiran yang cukup menghenyakkan adrenalin. Hal ini timbul karena saya melihat pusara dari orang orang disekitar. Mereka yang begitu dikasihi oleh rekannya, meninggal dalam usia hidup yang beragam. Ada yang menjadi kakek dalam usia 60 tahun. Ada juga yang hanya 1 hari saja.


Saya terpikir lagi. Saya dalam usia 20 tahun. Saya pun agak merinding, mengingat kelak saya pun akan terlelap dalam pusara suatu hari. Hidup begitu banyak jenisnya. Awal dan akhir bukan lagi urusan logika dan campur tangan insani. Saya pun berpikir lagi, apa benar apa yang saya isi dalam hidup telah sedemikian berarti? Aku pun kini berpikir tentang hidupku yang bisa saja segera berakhir dan tak seorang pun yang dapayt menaksir dalam nisbi hidup.