Senin, 20 April 2009

Ujian Semester Delapan Hari Pertama: Radiologi

Hari ini adalah hari pertama ujian di semester yang saya harapkan menjadi semester terakhir di preklinik alias semoga di semester depan saya sudah diwisuda.

Semester ini sebenarnya dapat saya rasakan cukup lengang, karena hanya mengambil 6 mata kuliah dan salah satunya adalah mata kuliah perbaikan, Radiologi. Dan suasana ini juga tak jarang membawa saya larut dalam hedonisme dan aktivitas ekstrakurikuler.

Ini baru saja selesai ujian dan mudah-mudahan hasilnya memuaskan. Paling tidak nilainya bisa lebih baik dari yang dulu. Hanya tadi saya lupa.. akan Hounsfield Unit. Waa... Tebak tebak kancing, saya menebak ini adalah satuan pada USG, dan ternyata adalah satuan pada modalitas CT-Scan. Ya, apa daya. Namun positifnya, semua adalah hasil yang terbaik yang bisa saya berikan. Dan tentunya tidak perlu ada rasa penyesalan. Berpikir positif!

Ujian berikutnya adalah Forensik di hari Rabu dan... harus berusaha! Acha-acha fighting.

Kamis, 16 April 2009

Avanza B7522JM: Saksi Kisah Perjuangan Seorang Pecundang

Syahdan, menurut kisah, adalah seorang yang memiliki hati pecundang tengah berjuang melawan semua apa yang menjadi ketakutannya. Ketakutan ini menjadi sungguh besar dan takjub sehingga merasuki segala sudut dalam hatinya. Keringat pun hanya bisa menetes sebagai peluh yang melulu hanya mengalir dan terjatuh ke bumi tanpa makna, tanpa arti. Adalah, saya, sejumput makhluk yang kecil, hanya dengan pikiran sempitnya yang berusaha menyeruak.

Sebuah fakta, saya dulu adalah orang yang penakut, pecundang. Saya takut hantu, entah kenapa saya malah masuk kedokteran dan bersapa dengan kadaver. Saya takut ketinggian, entah kenapa kini saya bisa naik Tornado di Dunia Fantasi. Tubuh lemah ini terisi sebuah nyala api lilin memberontak. Saya berusaha mencari jawaban. Dan sepertinya diri ini mulai memberontak ketika saya meninggalkan habitus di Pontianak dan memulai habitus baru di Jakarta.

Terkait dengan tulisan ini, saya adalah seorang penakut jika diminta menjadi supir. Segenap pikiran ini saling berargumentasi. Menjadi pengendara adalah orang yang mengemban begitu besar tanggung jawab. Ia harus bisa mengendarai kendaraan dengan baik, apalagi jika ia membawa penumpang selain dirinya. Maka tanggung jawab pun menjadi semakin masif. Beban yang tertopang di punggung pun bagaikan beban sang Atlas.

Melihat teman-teman yang sejak SMP sudah mampu mengemudi dengan baik dengan SIM palsu mereka. Saya merasa iri hati dan hati tertohok. Apalagi ketika sudah SMA dan awal kuliah, yang anggapannya sudah berumur atau sudah cukup dewasa untuk mampu berkendara. Sedangkan saya pada masa itu masihlah seorang upik abu yang tidak bisa apa-apa. Apalagi ketika saya dibanding-bandingkan dengan orang lain: "Lihat, dia saja sudah bisa." Ugh, tertohok makin dalam.

Saya pun mulai dari SMA mulai berusaha menyeruak. Ketika liburan panjang yang memungkinkan saya pulang ke Pontianak. Saya belajar berkendara. Sebelumnya juga saya diajari oleh karyawan ayah. Namun, selepas itu hilang sudah. Karena ketika di Jakarta tiba, saya pun tidak berkendara apapun. Di Jakarta, saya juga berusaha belajar dengan menggunakan mobil miliki saudara. Namun, sret, mobil saudara lecet, dan saya memilih saya tidak mau menggunakan mobil itu lagi. Dan semua perkembangan hanya menjadi grafika datar.

Saya menjadi semakin terpuruk ketika itu. Saya menyalahkan diri, saya tidak becus dalam berkendara. Bagaimana bisa, seseorang yang tidak becus dapat berkendara dengan baik? Apa kata dunia?

Untungnya tidak menjadi waham, ketika akhir 2007, orang tua dengan pertimbangan yang saat itu masih ragu-ragu -saya rasa-, memutuskan untuk membelikan mobil untuk saya. Anggapan mereka, dengan mobil sendiri maka akan lebih leluasa belajar. Saya sendiri mengatakan agar membeli mobil tangan kedua saja. Namun dengan pertimbangan teknis -yang saya pun buta-, maka memilih mobil baru dengan kelas yang pemula saja. Maka saya memilih Avanza G.

Rasa harap-harap cemas saya kembali hadir dalam pikiran. Apakah ketika mobil ini tiba saya bisa mengendarai? Atau hanya menjadi seonggok besi-besi di depan rumah saja. Saya masih menyangsikan akan diri saya.

Maret 2008, mobil itu tiba dan diantar ke rumah. Saya masih sangsi. Saya memilih mekanisme pertahanan dengan alasan menunggu mobil ini sudah terasuransi saja. Saya kini hanya memanaskan mobil berkala saja, tanpa memiliki gigi tajam untuk dapat mengendarainya. Saya hanya berkendara sepanjang kompleks rumah. Itu yang terjauh.

Asuransi tiba. Saya baru berkendara ke luar, ditemani oleh paman. Saya belajar di BSD, Tangerang, yang mana jalannya cukup luas. Keringat dingin muncul. Apalagi tanjakan menjadi mimpi buruk bagi saya. Saya tidak bisa menyelaraskan kopling dan gas agar kendaraan menjadi mantap menanjak. Bahkan mobil saya sempat mundur di tanjakan dan bisa dibayangkan betapa kerasnya klakson dan ditranslasikan menjadi "Imbisil!" -pikir saya lagi-.

Pada akhirnya saya berusaha untuk belajar diam-diam. Mengeluarkan mobil sendiri dan bekendara sendiri. Saya pikir, ketika saya sendiri, maka tidak ada orang lain, dan saya bisa menilai dengan tepat bagaimana kemampuan saya sebenarnya. Saya pernah berusaha sopan, meminta ridho orang tua, dan tanggapannya amat keras! "Tidak, lebih baik kamu sama pamanmu saja!" Ini menjadikan semacam amarah bagi saya dan ada ingin rasa: saya bisa membuktikan kalau saya bisa!

B7522JM, Sang saksi bisu
Foto diambil ketika mobil ini digunakan dalam kunjungan Tahun Baru China di rumah saudara, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan.

Saya pun jam 05:00 pagi berangkat, membuka pagar sendiri. Pikir saya, ketika itu tidak ada orang yang bisa menyela saya dan keadaan lalu lintas pas lengang pada pagi hari. Setidaknya ini menurunkan insidensi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya berhasil dengan baik sampai ke kampus yang tentunya masih turut lengang. Dan apa lacur, saya diomeli oleh orang tua karena paman dan bibi menemukan mobil saya hilang dan saya baru memberitakannya ketika saya sampai di kampus. "Beraninya kamu, kalau ada apa-apa bagaimana?", kata orang tua. Saya tidak menjawab pertanyaan, dan saya hanya berkata, "Yang penting saya sampai selamat, bukan?" Dan sejak saat itu orang tua sudah meridhokan saya berkendara sendiri dan tidak menyangsikan lagi. Saya dan orang tua kini hanya bisa tersenyum ketika mengingat cerita ini.

Saya pun berusaha meningkatkan kemampuan saya dan berusaha menaklukan rasa cemas akan tanjakan dan parkir serta jalan sempit. Saya pun berterima kasih atas teman-teman yang secara tak sadar membantu saya dalam meningkatkan kemampuan saya. Patsy, sebagai penumpang pertama saya. Dye, yang dulu pernah sebagai penumpang rutin (entah apa dia sekarang sudah bisa bawa mobil sendiri?). Handy, yang dulu pernah menjadi majikan dan menyuruh saya mengantar dia ke tempat baru seperti Palmerah, Pondok Indah, Cirene, Salemba, Cempaka Putih dan dia saksi baretnya mobil saya di parkiran FK Trisakti. Bimbim, yang mengantar saya juga ketempat juga sangat baru. Eric, Julius, dan Andy, yang mengajari dasar-dasar otomotif. Debby, Pri, yang juga kadang menjadi penumpang. Teman-teman LKMM SMFK-UAJ 09 yang menemani pengalaman menantang maut dalam jalur Jakarta-Sukabumi-Jakarta tiga kali. Dan yang terpenting, Mami, Papi, Elen yang menerima bukti bahwa saya tidak lagi menjadi pecundang-seperti selama ini dalam pikiran saya. Yang tidak terlupa, Achilles, yang suka menggoreskan kukunya di mobil saya -walau kini tak lagi-.

Dan tak lupa B7522JM yang menjadi saksi utama perjuangan pecundang ini.

Kini saya bersyukur sudah 1 tahun saya mampu mengendarai mobil.

Minggu, 12 April 2009

Haurissa, Sebuah Tulisan akan Sebuah Nama

Hal ini tiba-tiba mencuat dari permukaan, dan sangat menarik bagi saya untuk didokumentasikan. Lagi-lagi tentang nama. Secara lengkap jejas sejarah nama saya sudah saya tuliskan di artikel Apa Arti Sebuah Nama.

Dan hal ini timbul dan memberi saya seberkas senyum simpul, yaitu perihal nama Haurissa.

Haurissa adalah sebuah kata nama yang sangat unik. Sejauh mata saya memandang, saya tidak pernah menemukan nama orang dengan nama depan atau nama keluarga Haurissa. Hingga-hingga teknologi jejaring sosial berbasiskan web seperti friendster dan facebook lahir dan ternyata banyak orang bernama Haurissa! Bahkan dengan menggugel (googling) nama ini dimiliki oleh banyak orang.

Nama yang unik

Nama Haurissa, konon, diberikan oleh Tua-Kou (Kakak perempuan tertua dari pihak ayah saya) yang memberi nama Hao, yang dalam kanji Mandarin dituliskan:

Dengan nama ini maka dicarikanlah padanan bahasa Indonesia, entah bagaimana ceritanya, tercetus Haurissa. Jadilah saya, Andreas Erick Haurissa. Di sekolah saya saat SD dan SMP mungkin teman-teman sebaya merasa lucu dengan nama Haurissa ini, dan banyak juga yang sulit melafalkannya, dari [horija], [horisa], [hauris'a], dan entah apa lagi. Dan ada juga yang dengan sebutan cakapan: horizontal, dan saya masih ingat teman saya yang memberi nama ini. Hehehe... Nita Novita namanya. Entah dia masih ingat atau tidak ya. Tapi saya masih dikenal sebagai Andreas atau Erick saat SD dan SMP.

Nama Hau menjadi Primadona

Dan dengan proses begitu panjang (lihat artikel Apa Arti Sebuah Nama sebelumnya), ketika SMA, nama Haurissa mencuat. Karena di SMA homogen pria ini memiliki koleksi nama Andreas dan Erick yang begitu banyaknya. Dan muncullah saya sebagai: Haurissa, dengan berbagai panggilan cakapan dari Hau, Hauhau, Haubee, dan entah apalagi panggilannya. Tapi nama Hauhau menjadi cap khas buat saya. Bahkan nama Hauhau ini melekat hingga di kampus sekarang ini! Dan kontan, nama Erick hanya menjadi panggilan keluarga di rumah dan teman lama.

Ada cerita menarik dibalik nama Haurissa. Ketika saya berada di Kampus Semanggi Atma Jaya, nama saya dipanggil, dan entah mengapa petugasnya bingung dan bertanya: "Mengapa yang dipanggil Haurissa, keluarnya keturunan Tionghoa ya?" Saya pun bingung, memangnya ada apa dengan nama saya ini? Hehehe... Dan ketika saya bertemu dengan rekan kampus, Ninu, dan ia menyebutkan bahwa Haurissa ini adalah nama keluarga yang khas dari Indonesia bagian Timur. Saya pun baru mengerti.

Haurissa lainnya

Kini, di Facebook, saya menemukan banyak rekan-rekan lain yang bernama Haurissa dan menambahkan saya pada daftar temannya, dan banyak yang mungkin salah menangkap nama Haurissa dari saya sebagai nama keluarga. Tapi semua tetap saya terima, dan saya sangat bergembira bisa menjalin relasi dengan teman-teman Haurissa lainnya =)

Haurissa tetap jaya!
Ad maiorem dei Gloriam!

Ohya, Selamat paskah 2009!

Kamis, 02 April 2009

Sudahkah Aku Siap untuk Klinik?

Tulisan di tengah malam hehehe... Tiba-tiba terselintas di kepala saya. Hari ini saya membeli jas snelli di Mangga Dua. Entah bisa atau tidak, ini disebut sebuah batu loncatan dalam karir? Mungkin bukanlah sebuah langkah satu hasta yang ada, hanyalah satu jengkal dalam kehidupan saya.

Ketika saya melihat baju putih ini. Ada pertanyaan yang miris dan berdegup dalam hati saya. Apakah saya siap masuk ke klinik.

Bila dinilai dari segi masa, tentu saya adalah mahasiswa semester delapan yang harapan besar saya adalah semester terakhir saya di masa preklinik. Nah, di sinilah beratnya saya. Apakah saya sudah menjalani masa-masa semester satu hingga tujuh dengan sebaik mungkin. IP saya mungkin cukup baik, namun saya merasa ini tidak cukup tepat dapat mengindikasikan apa yang ada di memori saya sekarang ini.

Ada keinginan dalam diri untuk mengulang bahan-bahan klinik. Bahan-bahan ini tampaknya hanya seperti kereta dan menganggap perhentian di kepala saya sebagai stasiun anakan dan entah di mana statsiun induk akhirnya.

Saya sadar bahwa saya masih harus berjuang keras di klinik. Saya masih harus memperbaiki apa yang saya miliki sekarang sehingga saya mampu menempuh fase klinik ini dengan sebaik mungkin.

Saya tengah bersiap untuk klinik...

Lara dan Juang

Well, sekarang sudah masuk bulan April. Bulan keempat dalam tahun 2009 ini. Saya semakin menyadari semakin cepatnya waktu berlari di depan. Dua hingga tiga bulan lagi saya akan masuk klinik!

Bulan yang dimulai dengan sedikit rasa lelah yang masih bertahan pasca menjadi panitia LKMM Senat Mahasiswa FK-UAJ lalu. Semoga dalam bulan ini bisa berjalan dengan baik. Dan rasa juang tetap mampu bertengger dalam hati saya, untuk mampu tegar menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup.

Rasa perjuangan yang ada di dalam diri terkadang dirasakan menjadi suatu ambivalensi yang ada. Bukan sebuah distraktibilitas belaka, namun itu yang saya rasakan. Saya bukanlah orang yang begitu mampu untuk tegar dalam setiap detik, walau itulah yang saya harapkan. Saya berusaha agar terus dapat termotivasi baik dalam hidup ini.

Rasa mendua ini namun akhir-akhir ini terus menghampiri dan saya berusaha untuk mencari jawabannya dan solusinya. Otak ini memang kian berkecamuk. Namun saya harus tetap mampu menunjukkan ketegaran. Memang ini adalah brengseknya suatu mekanisme defensif dalam diri saya.

Perihal yang datang dalam diri saya memang pada akhir-akhir ini sangat menguras pikiran, mungkin saja inilah yang membuat saya berusaha tidur tenang dalam malam hari. Apakah memang ini sebab musababnya, entahlah. Namun memang ini sangat menguras tenaga dan berdampak pada saya menjadi kurang memeroleh rasa semangat dalam menghadapi pagi.

Namun saya sadar. Bukan seperti inilah hidup yang ingin saya raih. Saya tidak ingin dalam masa hidyp saya hidup dalam kelaraan dan kezaliman. Saya harus mampu bangkit dan belajar kembali untuk tersenyum kepada matahari pagi dan kembali setia kepada Tuhan. Apakah aku sudah setia pada Tuhanku dan sesamaku?

Berjuang dalam hidup!