Jumat, 10 Juli 2009

Hari Ketiga dan Keempat Panum: Lulus SKed!

Hari ketiga dan keempat kepaniteraan umum sudah saya lalui. Banyak kejutan-kejutan yang Tuhan berikan.

Hari ketiga, dimulai dengan kuliah Anamnesa dan Pemeriksaan Neurologi oleh dr. Dewi SpS. Kemudian kuliah Pemeriksaan Abdomen Anak oleh dr. Irene, SpA, dan Pemeriksaan Mammae oleh dr. Bonifacius Lukmanto, SpB.

Kuliah pemeriksaan neurologi banyak sekali memutar otak dan memacu otak untuk mengingat lagi bahan neurologi yang saya sudah selesaikan di semester 6, alias satu tahun lalu. Saya berusaha mengingat apa itu Tes Kernig, Burdzinski 1 dan 2, tes kaku kuduk untuk rangsangan selaput meningeal. Berbagai uji saraf kranialis juga. Memang cukup membantu, karena sebelumnya saya sudah mencoba mengulang bahan dari checklist yang ada. Saya berusaha untuk membangkitkan semangat lagi dan membuka buku buku neurologi. Begitu pula pada kuliah-kuliah berikutnya.

Ada rasa yang muncul lagi saat panum ini saya lakukan. Saya harus mengulang dan mengulang bahan-bahan yang sudah lalu. Bahan-bahan yang dapat saja sudah terlupa. Ada juga hasrat untuk mengulang lagi bahan farmakologi, patologi klinik. Bahan penting yang terlupa beriringan dengan waktu.

Hari keempat, hari ini. Dimulai dengan kuliah mengenai Mortalitas dan ICD dari dr. Sarimawar Djaja, MKes. Memang harus kita sadari bahwa data epidemiologi yang ada di Indonesia masih sangat buruk dibandingkan dengan negara maju. Namun hal ini tentu harus diperbaiki. Caranya? Mulailah dari diri kita sebagai dokter untuk mau membuat catatan yang baik akan epidemiologi. Kuliah lainnya, Pemeriksaan thorax anak oleh dr. Elvira, SpA juga memacu otak untuk membuka lagi materi pemeriksan fisik.

Kuliah Keperawatan dari Ns. Melissa Wahyu, SKep juga membuka wawasan apa itu keperawatan dan bagaimana seharusnya hubungan mitra antara kedokteran dan keperawatan. Dan bagaimana juga seorang dokter muda harus bersikap. Saya rasa yang perlu adalah kearifan antara keduanya dan hubungan yang profesional. Sebenarnya ini berkaitan juga dengan diskusi Etika Kedokteran bersama dr. T. Sintak Gunawan, MA yang mengangkat kasus e-mail keluhan pasien akan RS G di kota M. Memang terjadi perdebatan dan diskusi, mengapa RS melakukan begini, mengapa pasien begitu. Yang menjadi kesimpulan dari diskusi adalah seorang dokter harus menjadi orang yang tulus, rendah hati, profesional dan berdedikasi tinggi. Dengan seperti ini, apapun yang terjadi pada pasien bahkan meninggal, kerabatnya akan tetap menghormati dan berterima kasih kepada dokter karena ketekunan dan keseriusannya.

Saya terus berpikir sepanjang pulang di dalam taksi. Saya harus mampu untuk menjadi dokter idaman itu. Saya masih ingat kisah dr. Saito di Say Hello to Black Jack, hingga akhir hayatnya pasien berterima kasih pada dokter karena ketekunannya kepada pasien.

Dan sore hari, sesampai di rumah. Ada pesan SMS di telepon seluler saya. Katanya, nilai semester ini sudah ada di internet. Saya mulai panik, walau tidak keringat dingin atau takikardi. Membuka nilai...

Ilmu Kedokteran Forensik C
Kedaruratan Medik A-
Ilmu Bedah II B
Radiologi A
Anestesiologi A-
Ilmu Kedokteran Jiwa B


Terlepas ada nilai C, hehehe.... Saya sangat bersyukur pada Tuhan Yesus. Akhirnya perjuangan 4 tahun di kuliah SKed, lulus! Dan siap mengarungi 200961!

Saya Lulus!!!!
*Masih terharu

*Buat Patsy yang juga lulus semua, tetap semangat UK IKMnya ^^

Selasa, 07 Juli 2009

Hari Kedua Panum: "Siang, Saya Dokter Muda Andreas"

Hari kedua panum, ketika Salmonella typhii masih mengerogoti tapi sudah dalam rentang yang lebih rendah. Hari ini masuk lebih siang karena kelas kuliah Anamnesa Anak oleh dr. Elvira SpA dipindahkan ke minggu depan. dr. Wita SpS yang seharusnya memberikan kuliah Anamnesa Saraf juga berhalangan dan diganti pada Kamis depan. Alhasil hari ini kami belajar lagi mengenai Anamnesa Psikiatri (dr. Dharmady Agus SpKJ) dan Anamnesa Bedah (oleh dr. Sutanto Gandakusuma, SpB).

Pada anamnesa piskiatri, tidak ada yang begitu masalah pada penjelasan dari dr. Dharmady Agus SpKJ, karena bahan psikiatri masih teringat jelas di kepala pasca ujian psikiatri minggu lalu. Beberapa pertanyaan masih bisa saya jawab seperti trias depresi, trias gangguan cemas. Memang sulit dalam psikiatri, kita harus pandai-pandai bak detektif ulung dalam mengorek-korek gangguan jiwa dalam wawancara dengan pasien. Pada akhir saya diminta untuk bermain peran sebagai dokter dan pasien (diperankan oleh Nancy). Saya merasa saya agak kagok atau tidak luwes dalam wawancara. Kaku sekali.

Ehm, selamat siang. Perkenalkan saya dokter muda Andreas. Siapa nama ibu?
Nama saya Nancy.
Berapa usia ibu?
30 tahun
Apa yang bisa saya bantu ibu?
Saya merasa kaku pada tengkuk saya, dok.
Sejak kapan ibu merasakannya?
Sejak beberapa bulan lalu dok. Saya merasa sangat cemas pada anak-anak saya, keluarga saya.
Apa yang membuat ibu cemas?
Saya merasa keadaan Indonesia sekarang tidak aman, banyak PHK, pengangguran, krisis global....
Kapan ibu merasakannya pertama kali cemas dan bagaimana?
Sejak saat saya melahirkan anak saya dok 1 tahun lalu. Saya takut akan keadaan Indonesia saat ini.
.... *bingung* (kehabisan pikiran) Lalu?
Maksud dokter?
Maksud saya, teruskan saja bu (Aneh deh sayanya >.<)
Ya itu dok, keadaan sekarang tidak menentu.
(Ini gangguan cemas... -.-, tanya apa lagi ya.... agoraphobia?) Ibu kalau berada di luar rumah, apakah merasakan kecemasan?
Iya dok, saya merasa tidak aman.
Apakah ibu merasa perlu ditemani?
Iya saya perlu ditemani suami saya, dok.
Kalau suami bekerja, apakah ibu tidak berpergian?
Saya tidak bisa tanpa suami saya dok.
(Makin kehabisan isi pikir >.<) Bagaimana dengan anak ibu? Apakah pertumbuhannya baik?
Baik-baik saja dok.

(Mungkin dr. Dharmady sudah melihat saya makin ngaco maka ia menyebutkan saya langsung ke simpulan. ^^)

Baik ibu. Saya melihat ibu memiliki kecemasan pada anak, kedaaan yang ada. Maka saya simpulkan ibu mengalami gangguan cemas. Saya akan memberi ibu obat agar kecemasan ibu bisa mereda. Saya sarankan ibu dapat mengerjakan kesenangan ibu agar ibu tidak seringkali terpikir akan hal-hal yang bisa mencemaskan ibu. Saya akan membuatkan janji pertemuan untuk kontrol satu bulan lagi. Terima kasih ibu, selamat siang.
Saya mengalami beberapa kesalahan seperti identitas yang masih sangat kurang lengkap. Dan kata dr. Dharmady, pasien terlalu "royal" memberikan clue yang sangat lengkap dalam menentukan diagnosis gangguan cemas, dan lengkapnya ibu ini mengalami gangguan cemas menyeluruh.

Saya berpikir, bahwa saya masih harus banyak belajar komunikasi agar menjadi lebih luwes. Mudah-mudahan dan tetap belajar untuk lebih baik menjadi seorang dokter muda.

Senin, 06 Juli 2009

Hari Pertama Panum: Apa Visi Misi Saya?

Hari ini adalah hari pertama kepaniteraan umum di FK-UAJ. Dimulai dengan pengenalan Panum dan Peraturan Dasar Kepaniteraan Klinik oleh dr. Bertha Soegiarto, SpA, kemudian Kiat Menjalani Pendidikan Klinik dan Peraturan Dokter Muda RSAJ dari Komite Pendidikan RSAJ, dr. Wita, SpS, dan ditutup dengan Menjadi Dokter di Indonesia oleh dr. Handrawan Nadesul.

Banyak hal yang didapatkan hari ini. Walaupun sebagian adalah peraturan teknis. Namun yang menjadi pertanyaaan dan renungan bagi saya adalah pertanyaan dari dr. Wita, SpS: Definisikan visi dan misi kamu menjadi dokter. Sesuai dengan ilmu manajemen, visi dan misi adalah pedoman dasar bagi langkah-langkah suatu organisasi, dalam hal ini diri sendiri. Saya memang belum mengetikkan secara formal apa yang menjadi visi dan misi, idealisme saya. Saya masih menyusunnya, agar tetap realistis walau idealis. Agar tidak muluk-muluk juga.

Saya juga mendapat kesempatan untuk bertatap langsung dengan dr. Handrawan. Saya kagum atas tulisan-tulisannya. Tulisannya sangat disenangi oleh awam dan banyak sekali dibaca. Ini tentu harus ditiru, karena artinya dr. Handrawan mampu membangun komunikasi dengan masyarakat awam. Dan dengan sosoknya yang juga sastrawan dan penulis. Saya pun ingin sekali, pada suatu saat hasil tulisan saya bisa diterbitkan dan bermanfaat bagi publik.

Jumat, 03 Juli 2009

Sakit Menjelang Panum? Acha-acha Fighting!

Ujian memang sudah selesai hari ini. Ujian psikiatri yang mudah-mudahan dapat terselesaikan dengan baik.

Kini tinggal satu hal yang belum terselesaikan adalah sakit yang semenjak selasa tidak urung sembuh. Saya sudah mulai pusing... Semua obat dihantam, pijat refleksi dari Papa Gav, kerokan dari Ci Erni, dan lain-lainnya. Mungkin beruntung juga, ada ibunda yang kebetulan datang ketika sakit. (atau justru malah saya yang jadi tidak enak pada ibu, malah buat dia jadi repot >.<).

Sampai hari ke-4 ini panas tidak turun, selalu naik 38-39 kalau efek paracetamolnya hilang. Kalau sudah demam, rasanya aduhai. Tidur super tidak karuan, bolak-balik sana-sini. Akhirnya tadi siang memutuskan bertanya kepada ibunya Patsy, kira-kira apakah perlu tes laboratorium. Karena saya sendiri saja belum SKed masih belum yakin membuat daftar uji lab Darah Rutin, IgM IgG anti dengue, typhoid anti salmonella, SGOT, SGPT.

Jam 19:00 nanti baru akan dikirim hasilnya ke rumah. Ah, gimana ya? Masalahnya bukan apa-apa. Kalau pas panum perlu opname kan amit-amit. Artinya bolos panum dan mungkin saja dihitung panumnya tidak absah dan diulang 6 bulan lagi.

JANGGAAANNN...... TT__TT

Saya sendiri sudah berpikir, nanti dengan kondisi apapun harus bisa masuk panum. Dengan kondisi apapun >.< Tapi saya tetap berharap tidak akan terjadi penyakit yang harus diopname.

Rabu, 01 Juli 2009

Ujian Anestesiologi: Keajaiban?

Sumber Gambar: medgadget.com

Ujian anestesiologi, entah kenapa selalu menjadi yang terberat, begitu pula dengan UTS. Bahannya memang adalah ulangan dari ilmu-ilmu fisiologi dan farmakologi. Tapi dasar memang otak ini, semua bak ditelan bumi.

Ujian kali ini berkesan. Karena saya sakit di H-1 ujian. Demam 39C, bahkan sempat menggigil, efek parasetamol pun hanya berlangsung sekelebat. Akhirnya minum trimetroprim dan sulfametoksazol (bener ga ya namanya hehehe).

Alhasil belajar sangat-sangat tidak maksimal. Saya hanya bisa meringkuk di depan diktat, sembari mengumpulkan asa untuk membuka lembar demi lembar diktat. Diktat sih terbaca, ya hanya terbaca. Sedikit sekali yang menempel di otak. Alhasil tidur super tidak tenang. Konon, menurut nyokap, saya sempat mengigau.

Alhasil pagi dimulai dengan sangat suram. Bertemu dengan Patsy di perpustakaan. Kemudian kelak datang si Prianto, Eric, dan Debby. Mereka bilang saya yang paling siap. Ya mungkin ditilik dari saya yang libur ujian dari Jumat minggu lalu. Oh my...

Saya mulai berkeringat dingin. Mereka mulai membahas bahan. Begitu lancarnya. Saya hanya bisa harap-harap cemas dengan membuka diktat. Ya sudah, saya memutuskan untuk membahas bahan setelah saya kelar mengulang bahan. Tetap saja, apa yang tertulis hanya seperti news ticker. Lewat saja.

Ok, saya mendengar diskusi bahan mereka. Kemudian datang Andy dan saya membahas bahan dengan Andy. Ya cukuplah buat saya.

Ketika masuk ke ruang ujian. Saya bisa mengerjakan 60% (mudah-mudahan) yang saya yakin bisa. Dan yang lain walahualam deh. Mudah-mudahan anestesiologi ini lulus. Sangat tidak lucu kalau harus Ujian Ulangan Khusus.... AARRGHHH.... Lulus dengan C saja, saya sudah sangat bersyukur.

Kyrie, eleison... (Lord, have mercy)