Senin, 06 Maret 2006

Kau, Kenangan Indah Untukku

Inilah sebuah kenangan antara aku dan kamu
Kenangan yang akan terus terkunci dalam hidup
Tidak
Tidak ada yang meluapkan dan membuangnya


Sebuah kenangan yang menyatakan hati, bukan menyatukan
Memperhitam segenap lara, memutihkan sejumput asa
Bukan
Bukan untukmu semua kenangan


Telah lama kau semangati apa yang sering kurasa itu lemah
Menyemangati diriku walau mungkin kau takkan pernah tahu
Semua
Semua yang telah kau berikan sebagai kenangan


Semua yang telah tertulis dan semua yang terbaik untukmu
Biarlah semua untukmu dan tak perlu kau anggap aku
Aku
Aku cukup mendengar sedikit bisikan yang berlimpah


Jangan kau salahkan dirimu atau melihat segalanya salahmu
Tidak, kau telah berarti bagiku dan menjadi yang indah
Biar
Biarlah semua dapat kukisahkan kenangan ini bersama anakku kelak


Kau, tetap menjadi kenangan indahku
Selama jejak hidupku masih dapat menapakkan tanah ini.


Dituliskan di Jakarta, 6 Maret 2006. Di Perpustakaan Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta. 15:27 WIB dalam kekangan awan bermendung.

Kamis, 23 Juni 2005

Ich Denke Dich Immer

Jakarta, Indonesien. 24.06.2005

Liebe,

Hallo, liebe! Wie gehts dir? Ich hoffe dass du gut immer bist. Ich weiß nicht, warum ich etwas nicht gut glaube.

Liebe, kennen Sie in etwas in meinem Herzen jetzt aus? Ich denke, daß wir uns für eine lange Zeit gekannt. In Ihnen auszukennende genug. Ich und du. Ich kannte nicht in diesem Gefühl während dieser Zeit aus. Und 3 Jahre hat unterschiedlich uns. Tausenden des Kilometers. Wir können zwischen dem Ozean uns sehen. Kannst du uber das verstehen. Ich, hier, habe verstanden für lange Zeit. Ja, 3 jahre ist lange Zeit für mich. Ich möchte Sie glücklich bilden, und ich wünsche dass wir für reale dich sehen können.

Und eine Sache, die Sie wissen sollten....
Ich denke dich immer. Immer.

Dein.

Minggu, 22 Mei 2005

Bila Kau Ada

Setiap hari kulewati dan kulewati.
Sesuatu yang terus kusadari dalam hidup.
Aku semakin tua dan aku akan terus berhadapan dengan ujung hidup.
Rangkaian jalan yang akan kulewati, tak mudah.
Hidup penuh tajaman dan hujaman.
Tiada tersirat rasa ragu dalam pikiranku.

Aku tahu dan merasakan.
Sebuah yang terus menggelisahkan.
Sesuatu yang terus membuatku termenung.
Bilik hati tiada batas.


Seringkali aku melihat ke dalam sisi.
Sisi samping hidup dan sisi bilik citaku.
Alunan itu terus datang dan aku, gelisah.
Itu terus mengekspresikan jiwaku.


Bila kau ada di sampingku,
Kau yang ada di sana.


Bila kau ada di sampingku,
Kau membuat aku dapat tertawa.


Bila kau ada di sampingku,
Kau buat hidupku terus bergeming.


Bila kau ada di sampingku,
Kau buat aku tak merasakan ketuaanku.


Bila kau ada di sampingku,
Bersama kita hampiri sang waktu hingga ujung hidup.


Bila kau ada....


Jakarta, 22 Mei 2005.
Ditujukan untuk yang diujung kalbu.

Sabtu, 14 Mei 2005

Emisivitas Hidup

Kini tiada hari dapat kujalani dengan rasa lepas
Aku hanya mampu bersandar dalam keorganisiran
Tanpa mampu menoktahkan catatan hidup lekas
Hidup yang akan kupandang dalam dimensi depan


Sang masa terus berlari ke depan hendak terburu
Engahan hidup masih terasa kurang untuk dikejar
Dalam relungan hendak kuteriak, "Masa kembalilah kau!"
Ia tak mampu mengerti dan menutup segala indera dengar


Aku berhenti dalam sugesti ketidakmampuan
Rasa endotermik menyergai segala raga
Aku tersesak dan menghendaki kelimpahan
Tiada rasa yang dapat mebangkitkan jiwa


Aku terdiam dan terpikirkan selintas benak
Mencoba untuk menemukan sang arti dan makna
"Lihatlah itu maka kau akan berkehendak"
Aku melihat dan menemukan sebuah kata


"Emisivitas"
Tak hanya sebuah difrak hitam dan putih
Tak hanya sebuah tekanan kontinuitas
Sesuatu yang membangunkan satu konstruksi


Bilangan boolean hidup satu dan bulat
Antara kebangkitan hidup dan kehampaan mati
Aku tiada mungkin hidup sempurna sesaat
Sadar tinggal berada di tengah lini


Ketika aku tetap terdiam dalam keterpurukan
Kaki hendak bergerak tanpa hendak berhenti
Kontraksinya tidak dapat tertahankan
Motorikku terus bergerak reseptor tiada berdaya meski


Ia datang dan memberikanku sebuah langkah baru
Ia datang dan memberikan topangan ketiga bagiku
Ia datang tanpa kenal segala semua kealpaanku
Aku merasa aku tidak pantas ia membimbingku
Aku sering tak mengindahkannya dan melepaskan diriku
Namun ia tetap datang dan memberikan senyuman biru


Ia mengantarkanku ke sebuah emisivitas nol
Tiada lagi hidup yang terus hitam legam
Tiada lagi hidup yang terus teradiktifkan metanol
Aku tak lagi menemukan hidupku dalam tumpukan sekam


Emisivitasku telah bangkit dan tiada layu
Aku telah dapat bergerak dan melangkah lagi
Berlari dan menemukan sang masa yang terus berlalu
Hanya kata yang terucap, "Hai Waktu, Kita bertemu lagi!"


Dituliskan dalam tinggalan Jakarta
Jakarta, 14 Mei 2005 14:25 WIB


Keterangan:
Emisivitas = Konstanta tak bersatuan yang digunakan untuk mengukur kertransparanan suatu benda hingga benda hitam dalam perhitungan daya radiasi.
Endotermik = Reaksi yang menghasilkan energi kalor dari sistem menuju lingkungan.
Kontinuitas = Kesenimbangan terus menerus
Boolean = Bilangan yang menyatakan True atau False atau yang sering disimbolisasikan dengan bilangan 0 atau 1.
Motorik = Rangkaian sel saraf yang meneruskan impuls saraf dari pusat saraf menuju indera.
Metanol = Senyawa karbinol yang memiliki rumush CH3OH atau memiliki nama derifat metil alkohol. Metanol dikenal juga sebagai alkohol sehari-hari secara trivial.


Kamis, 12 Mei 2005

Senandung Tengah Malam

Ah...
Berkas digital itu telah menunjukkannya
Sesuatu yang mengagetkan dan menarik perhatianku
Aku telah melewati sepersekian pikosekon dari perjalanan hidup
Aku tak tahu hendak ke mana aliran ini akan berlanjut


Alpha dan Omega
Di antara siapa aku melangkahkan jejak hidup
Kappa ataukah Lambda?
Surga ataukah Neraka?


Dalam pikiranku terus bergejolak hebat
Padahal adrenal tiada bergeming
Ia seakan-akan ingin membisikkan sesuatu
Tiada tertangkap oleh koklea nurani


Hidup memang tiada setimbang
Segala peruraian terjadi
Segala alpha terbukti
Hingga ia menuju setimbang itu


Kapankah aku mampu meraihnya
Tatkala aku kini dalam pergerakan jatuh bebas
Tanpa gravitasi atau gesekan
Tanpa mu dan tau hidup.


Harapan itu terus berjalan
Selama timus masih berdamping dengan pulmo
Ketika renal tetap setia kepada adrenalnya
Kini aku apa?


Apakah harapan itu terus berdetak?
Tetapkah aorta waktu memberikan maknanya?
Aku berharap itu.
Itu yang terjadi dalam diastola hidupku.


Senandung Tengah Malam
0:41 Dini Hari 12 Mei 2005

Jakarta.