Minggu, 30 Juli 2006

Beginning of Fantasy: DAHSYAT!

Ernest, Memes, Gw

Asli ngga nyeseelllll!

Penantian seorang gamer FF selama bertahun-tahun. Yang hanya bisa mendengar rekaman konser di 20020220 atau mengetik berita konser Dear Friends di FFIO. Akhirnya, gw bisa menonton LANGSUNG LANGSUNG LANGSUNG! Alunan orkestra lagu Final Fantasy di Konser Beginning of Fantasy, Jumat kemaren di Tenning Indoor.

Gw setengah mati bela-belain, karena Sabtu ujian Biokimia II. Brur. Alhashil gw dengan perjuangan naik Busway ke Senayan, dan ketemu temen-temen lama seperti Jeffru (udah sering ketemu kayaknya Jep!), Cecep, Ernest, Indra (baru tahu orangnya, tapi tahu nicknya di forum). Datang dengan sejuta harapan dan dibayar semiliar tuaian. Sip!

Banyak lagu-lagu yang dimainkan.

Bayangkan konser dibuka dengan Liberi Fatali (FF VIII), The Place I'll return Someay disambung Melodies of Life (FF IX) oleh Arina, Terra's Theme (yang ada di World Map FF VI), Eyes on Me FF VIII vokal Arina, The Door Behind (aduh lupa judul lengkapnya FF IX), Tifa'S Theme oleh Jessica G, Suteki da ne oleh Sherina (Sherinaa!), Aerit'h Theme (menyentuh.... FF VII), Tatakau Monotachi dari Advent Children oleh Kevin, Chocobo's Theme (kocak!), Cloud's Smile (FFVII AC), 1000 no Kotoba oleh Sherina, J-E-N-O-V-A oleh Wasabi, Satu lagu dari Gakutoi (Gackt), Tenrai Divinty Advent Children (choirnya keren), FF Theme, dan lagu andalan yang megah.... AdventL One Winged Angle dari AC. Keren kan!

Gw tidak menyesal dan sangat bangga kepada TO!

Kamis, 27 Juli 2006

Menuju Konser 'Beginning of Fantasy'

Konser Beginning of Fantasy akan diadakan besok malam di Tennis Indoor Senayan! Woo! Udah lama banget menantikan dan dulu mengira hanya sekedar impian.


Ya mungkin ini perasaan seorang penggila Final Fantasy? Yup, mungkin aja. Nggak disangkal. Yup, biasanya gw cuma mengedit berita di web tentang konser Uematsu-san di sini di Amerika di Jepang di mana, tapi kapan di Indonesia? Yup, menikmati lagu FF adalah suatu kenikmatan sendiri. Sebenarnya nggak hanya Eyes on Me atau Melodies of Life yang dimana orang hanya tahu itu. Masih ada Aerith's Theme dari FF VII, Tifa Theme, At Zanarkand FF X, May be I'm A Lion (yang jadi judul blogs ini dari FF VIII), The Place I'll return to someday FF IX, Vamo'alla Flamenco, Senno ktoba atau 1000 Words, Theme of Love FF IV, My Home Sweet Home FF V, Kid Run through to the City Corner FF VI.... Semua aseeekk tenan!


Di konser nanti katanya bakal ada Liberi fatali FF VIII, Tatakau monotachi Advent Children, J-E-N-O-V-A FF VIII, lalu ada nyanyian ya... gw harapsih Eyes on Me, Seeno ktoba atau nggak Kiss me goodbye... Sama ada choir (baca: kuayer), mudah-mdauahan bakal ada yang keren kayaknya nggak mungkin Hymne of The Fayth. Jadi misteri gunung merapi.....


Apa mungkin ada lagu konyol seperti Theme of Chocobo? Lalu gw mau lihat cosplay. Siapa tahu ada cici Aerith atau Tifa. ^^v

Rabu, 26 Juli 2006

Persepsi Kegagalan Nadine Chandrawinata

Shrine Auditorium telah menjadi sebuah saksi baru dalam pemahkotaan ratu sejagat yang baru, Zuleyka Rivera dari Puerto Riko. Nadine Chandrawinata pulang tanpa membawa penghargaan dan tidak dapat mengikuti jejak Artika Sari Devi yang sempat merasakan peringkat 15 besar di ajang yang sama tahun lalu. Apakah benar Nadine membawa kehampaan?

Setidak ini yang terus saya lihat sore ini, di TV yang terus merus menayangkan infotainmen. Ya mau bagaimana lagi, daripada suntuk terus membaca diktat Biokimia II. Capek juga kan. Lalu melongok VCD Say Hello to Black Jack yang sudah habis ditonton. Ya buka TV aja semua channel hampir membicarakan Nadine Chandrawinata atau kalau nggak Jihan Fahira yang baru melahirkan (Anjrit, penting nggak sih berita begini? Jangan-jangan nanti istri saya ketika melahirkan juga dikejar wartawan... -_-). Kecuali Metro TV di Public Corner yang terus mencuap-cuap masalah kekeringan di musim kemarau. Biasalah tipikal Indonesia, baru sadar kalau ditampar.


Menyimak Nadine Chandrawinata mengingatkan saya saat Artika Sari Devi tahun lalu. Yang Artika Sari Devi lebih meriah karena ini adalah kali pertama Indonesia mengirimkan wakilnya ke Miss Universe setelah Alya Rohali yang akhirnya cuma sebagai tamu penunjang. Saya harp pengiriman Nadine harusnya adem ayem saja. Toh udah bisa beradaptasi saat pengiriman Artika.


Ternyata itu. SALAH besar! Perhelatan kali ini amat-sangat-supra-super seru. Bagaimana tidak pengiriman ini saat yang nggak tepat, RUU APP seperti diminta teriak-teriak untuk dihapus dan disahkan. RUU APP seharusnya yang gampangnya nggak usah diadakan. Toh tanpa RUU APP sebenarnya kedua gender akan senang, ayah senang, ibu pun riang.


Kemudian, diberitakan lagi Nadine yang kemampuannya dianggap amit-amit di internasional. Menyebutkan: Indonesia is a beautiful city. Kata empat huruf itu kian mencuat sampai masuk ke infotainmen (Saya sendiri aneh dengan infotainmen setiap frame walau kehidupan itu lebih dari 120 fps kehidupan orang dikorek-korek). Ya bagi orang-orang yang nggak mengerti, bacalah buku psikoanalisis Sigmund Freud. Manusia itu ada 3 hal: Id, Ego, dan Superego. Id itulah yang muncul dalam diri Nadine. Mungkin karena sedang depresi karena masyarakat negaranya bikin dia stress, muncullah kata yang nggak diharapkan. It's normal. Analisa yang sama mengenai kata-kata "Wie finden Sie ueber Tika Panggabean?" Ya, daripada: "Wie findest Sie ueber Tika Panggabean?"


Kegagalan Nadine sebenarnya sebelumnya-tidak-diprediksikan alias unpredictable. Bagaimana tidak Nadine selalu menduduki peringkat kelas kakap pada beberapa polling situs internasional seperti missosology, global beauties, dan lainnya. Ya, cukup mengangetkan.


Bahkan ada yang melempar umpatan seperti "Indonesia mengalami kemunduran di Miss Universe". Aneh. Aneh. Aneh. Miss Universe bukan ajang seperti Indonesia Open yang pemenangnya itu-itu-itu terus karena memang yang main dia terus. Bukan juga ajang seperti Indonesian Idol dimana yang buruk belum tentu jatuh. Ini adalah Miss Universe bung! Tahun lalu adalah Artika sekarang adalah Nadine. Artika berbeda dengan Nadine bukan? Bukan seperti Indonesian Open tadi, tahun ini Indonesia, tahun depan Indonesia karena yang main tahun ini Taufik, tahun depan Taufik. Orang yang sama. Miss Universe orangnya lain. Jadi jangan diperbandingkan. Toh sebenarnya sudah bangga kalau Nadine bisa pulang ke Indonesia dengan selamat sentosa.


Ngomong-ngomong soal pulang. Nah, tadi di infotainmen bersangkutan ada kelompok ibu-ibu yang sepertinya tidak suka atas pengiriman Nadine. "Saya senang kalau Nadine kalah dari Miss Universe." Senang? Kayaknya pas jaman P4 nggak belajar: "Menghargai karya orang lain". Jelas walau kata senang selalu dikonotasikan positif, dari intonasinya amat senang pada "kekalahan" bukan pada "subyek" yaitu Nadine. Aneh bin(ti) ajaib. Alasannya merusak moral bangsa. benarkah 220 juta jiwa bangsa ini rusak seketika (seperti hubungan arus pendek) akibat melihat Nadine menggunakan two-piecesnya? Masak hanya seperti itu saja langsung rusak moral? Ya anggaplah berpikir mesum atau imoral (bukan amoral) ketika melihat wanita berpakaian renang berlenggak-lenggok atas sampai "mimisan" (sebenarnya ini adalah mitos belaka dari Jepang). Ini normal. Terutama kalau yang menonton laki-laki (Kalau perempuan, abnormal). Apakah itu merusak moral. Ya anggapnya seperti ini: pasangan suami istri setelah bermesraan dengan fantasi-fantasinya, apakah itu merusak moral kedua pasangan itu? Kalau demikian, habislah moral SEMUA penghuni bumi.


Perlu direnungkan tidak?

Minggu, 23 Juli 2006

Aku dan Ujian Biokimia II

Hari ini U-J-I-A-N!
Pusing euy, mana kemarinnya kepala ga konsen sama sekali gara-gara kepikiran satu hal. Hm, mudah-mudahan ga terjadi lagi hari ini. Soalnya besok ada ujian teori dan praktikum Histologi II.


Mudah-mudahan Biokimia II gw selamat sampai tujuan. Agak harap-harap cemas karena ujian UTS kemaren hanya 66. Apakah benar nilai Biokimia bakal mencerminkan nilai mata kuliah di semester mendatang ya?


Semoga jangan deh.


Huam... mau tidur dulu setelah kemaren tidur dari jam 01.00 dan bangun jam 05.00 WIB. Cia you!!!!! 加油!

Sabtu, 22 Juli 2006

Mencari Filosofi Kedokteran di Blackjack ni Yoroshiku (ブラックジャックによろしく)


Mungkin ada beberapa dari kalian yang belum tahu. Sebuah cerita yang selalu gw refrensikan. Say Hello to Black Jack karangan Syuho Sato. Komik ini gw temukan dengan tak sengaja. Baca di majalah dan ketemu komik dengan slogan : "Apa dokter itu?" Cukup menarikkan dengan bau kata "dokter". Siapa tahu menarik?

Ternyata komik yang luar biasa (untuk gw), mungkin nggak menarik untuk beberapa pihak. Jelas ebagai mahasiswa kedokteran, komik ini udah bagai harta buat gw. Bukan komik biasa layaknya Doraemon, atau lainnya. Ini sudah seperti buku filsafat untuk gw. Beberapa hal memang gw temukan serupa di pelajaran Ilmu Filsafat Kedokteran. (Berharap ada kuliah Filsafat II....).


Lalu baru beberapa hari lalu gw menemukan Blackjack dalam bentuk dorama Jepang. Nggak pikir panjang saya pesan. Nggak ada ruginya kok!


Baru beberapa hari yang lalu film 11 disk ini sampai di tempat gw. Beberapa hal persis di komik, nmun lebih emosional karena diperankan oleh orang.


Dikisahkan Eijiro Saito (diperankan Satoshi Tsubumaki) dan rekannya dr. Dekune Kuniya (Kato Koji) adalah dokter muda yang baru lulus dari masa praklinik di Fakultas Kedokteran Nagahuchi University. Saito adalah seorang yang amat idealis dengan pemikirannya seperti dokter haruslah merawat pasien sebaik-baiknya, dokter adalah pekerjaan yang mulia, dan lainnya. Dia amat kaget ketika menemukan dunia kedokteran adalah dunia yang kotor.


Pertama kali, ia magang di divisi bedah pertama, dimana ia amat kaget menemukan pasien yang rela membayar jutaan Yen agar ayahnya dapat dioperasi oleh profesor yang amat terkenal. Namun ternyata, harapan jutaan Yen hanyalah sia-sia. Suatu operasi yang sebenarnya tidak-berguna dilakukan semua atas instruksi profesor. "Perlukah dunia kedokteran memiliki orang yang berkuasa?"


Ia pun menjalani masa magangnya di bagian lainnya, dari bagian penyakit dalam I (sistem sirkulasi) dimana ia sempat mengalami konflik dengan Professor Fuzzi yang amat terpandang karena perbedaan idealis. Hingga menemukan makna perjuangan hidup sebagai dokter dalam bagian NICU (neonatus intensive care unit - perawatan untuk bayi baru lahir).


Berjuang melawan berbagai hal yang tidak seragam dengan idealisnya.


Eijiro Saito tetap mencari: "Apa sebenarnya dokter itu?"


*Tampaknya karakter Eijiro Saito kok sama seperti gw. Memiliki iealisme yang cukup konservartif dan terus terang banyak hal dari klimik ini yang menampar dan memberi banyak masukan untuk gw. Hingga suatu saat gw bisa seperti Saitp yang berkata: "Saya sangat beruntung menjadi seorang dokter.