Jumat, 26 Februari 2010

Api Tetap Hidup

Tidur memang cukup, tapi badan merasa tidak enak.
Pikiran tak terawang.
Kepala rumit, benang sukar.
Dan diri ini tetap berusaha memantikkan api,
Agar ia tetap hidup.

Minggu, 21 Februari 2010

Kasih Ibu: Tak Layakkah Dibalas?

Tulisan ini adalah tulisan yang mendadak dan begitu spontan. Ketika di bangsal rumah sakit, terdapat seorang oma yang dapat dikatakan tua renta. Umurnya tak muda lagi, 82 tahun. Badannya begitu terkulai lemah, tak berdaya. Badannya dulu mungkin gemuk, karena itu yang tersisa dari masa mudanya selain disertai dengan segala raut wajah tua yang menghiasinya. Matanya sayu dan cenderung untuk selalu tertutup, entah mungkin untuk meratapi segala nasibnya. Frase yang keluar dari mulutnya hanya gumaman yang sedengarnya bagaikan rintihan. Dia sudah lama terbaring di rumah sakit. Tubuhnya yang lemah kian digerogoti oleh usia tuanya.

Bukan itu sebenarnya, yang saya pikirkan. Pikiran ini muncul ketika saya melihat ke jam tangan dan ternyata sudah saatnya melakukan pemeriksaan tanda vital semua pasien. Mulailah saya menenteng satu kantung tensimeter dengan stetoskop terkalung. Saya mulai dengan kebiasaan menyapa. Seperti biasa sang oma hanya terkulai. Ia sedang bersama anaknya, tebak saya, atau paling tidak menantunya. Sang wanita muda itu tengah menyuapi bubur kepada oma. Sebuah hal yang cukup miris, bagi saya, ketika wanita muda itu bertindak kasar padanya. Ia hanya menukas "Ma, ayo makan!" dengan nada tinggi. Caranya untuk meminta membuka mulut pun tak pantas. Begitupula ketika sang oma enggan memakan sesuatu.

Saya memang dalam posisi tak layak untuk berkomentar. Saya hanya dokter muda yang tengah ingin memeriksa. Tetapi dalam pikiran saya luluh lantak. Tak bisakah engkau sabar padanya? Tak bisakah engkau lembut padanya? Ia yang dulu merawatmu atau suamimu hingga dapat besar seperti ini. Tanpa dia, siapa engkau? Tanpa belas kasihnya, mungkin engkau tak di sini. Tanpa pantang menyerahnya menghadapi kerasnya hidup, mungkin engkau pun tak bisa seperti ini. Kalau ia menyerah merawatmu dulu, kamu takkan bisa hidup.

Ibu tak mengharap apa-apa, inilah yang pernah diucapkan oleh ibu saya. Tidak perlu harta mewah, tak perlu cincin permata disetiap hari jadinya. Ia dalam hati mungkin berkata, air susuku tak perlu dikembalikan. Begitu ikhlas! Namun tak layakkah hal ini untuk dibalas? Tak pantaskah kalau kita pun bersikap lembut dan pantang menyerah ketika ia sudah tak berdaya di masa tuanya. Dan yang terpenting adalah, buatlah ia percaya dan bangga bahwa benar kita adalah anaknya.

Sabtu, 20 Februari 2010

Minggu Pertama Interna

Akhirnya, interna.

Dalam minggu ini saya telah tiba di Interna, alias Ilmu Penyakit Dalam. Suatu stase yang juga saya awali dengan perasaan harap-harap cemas. Apa mungkin saya setiap masuk ke stase baru selalu mengalami hal yang serupa. Banyak hal baru yang dialami. Dimulai mengemban amanah menjadi kepala kelompok, membangun hubungan dokter-pasien yang baik, mendapat pengalaman baru. Namun, yang berkesan adalah yang kedua. Saya mendapat pasien pertama yang konon tak lazim penyakitnya. Dengan tanda ini, saya mencari bahannya di jurnal, hanya sekitar 40 kasus yang diketahui dan tercatat. Dan, pengharapannya hanya satu, semoga ia baik-baik saja.

Sabtu, 13 Februari 2010

Perut yang Progresif

Ada sebuah anekdot. Ia menyebutkan bahwa: "Justru Dokter yang Sulit Menjaga Kesehatan Dirinya Sendiri". Entah benar atau salah, entah apakah ini adalah pembenaran sinistik, atau apa? Kemudian ada juga yang menyebutkan bahwa dokter pria memiliki kemungkinan 40% lebih tinggi dari risiko bunuh diri dibandingkan pria umumnya. Begitu pula, dokter wanita memiki kemungkinan risiko 140% lebih tinggi. (Center et al, 2003 dan Schernhammer et al, 2004), Mungkin gampangnya begini, dari jumlah 10 orang pria dari populasi umum yang bunuh diri, 14 orang dokter pria bunuh diri. Dan dari jumlah 10 orang wanita dari populasi umum, maka 24 orang dokter wanita bunuh diri. Mencengangkan?

Sudahlah itu soal bunuh diri-bunuh dirian. Mengenai kesehatan umumnya pun tak sedikit yang mengalami kesulitan. Kita ambil salah satu indikator antropometrik, IMT misalnya. Tak sedikit yang IMTnya overweight atau obese (saya?).

Ya, saya mengakui salah satunya saya. Perut yang melegenda sejak akhir-akhir pendidikan pre-klinik. Tak hanya "dipuji" oleh sesama sebaya, bahkan perut ini pun diketahui dosen dan pimpinan. Begitu hebohnyakah perut saya? Hahaha...

Saat saya lulus dari Kanisius, perut saya masih kisaran 70an kilo. Kini orang yang tengah mengetik tulisan ini berbobot 85 kg. 10an kilogram bertambah. Dalam statistik, mungkin ini standar deviasi yang jauh dibandingkan rerata bobot saya selama ini.

Perut yang siap diapapun (termasuk dibully). Keuntungannya, bisa menjadi probadus Leopold. Tingginya masih di antara processus xiphoideus os Sternum dan umbilikus. Ya, anggaplah 6-7 bulan kehamilan. Perut ini juga tergolong dalam bamilresti (bapak hamil resiko tinggi) yang perlu mendapat pelayanan antenatal hingga indikator K-8 (Kunjugan ke-delapan).

Perut ini pun sempat disindir, Perut IT. Ya salah satu dosen berkata: "Wah, Hau gemuk sekali. Mungkin gara-gara kebanyakan main komputer, duduk saja." Tak juga ada perkataan ilmiah, "Hau, Perut Saudara sangat progresif".

Boleh ditanya, bahwa tiada hari tanpa membicarakan sang perut. Bahkan ibu saya selalu (saya saja sampai bosen) mengingatkan: "Kalau bisa fitness, di sebelah kampus kan ada Celebrity Fitness." Saya masih mengingat dulu (2 tahun lalu?) bahwa ibu saya begitu gembira ketika mendengar bahwa fitness akan dibuka di sebelah kampus. Sayangnya harapannya masih tak tercapai. Karena, "Waduh koas kan sibuk....", tukas saya.

Saya sendiri masih membingungkan diri saya. Tilikan saya akan kegemukan ini, saya masih dalam tahap tilikan yang sadar sesadar-sadarnya, bahwa keadaan ini salah. Bahwa kondisi badan saya tak baik. Bahwa saya memiliki resiko tinggi pada penyakit jantung koroner, stroke, perlemakan hati.

Tapi perut ini kian membesar, karena lambung yang cepat mengosong (salah lambung sekarang?). Hahahaha....

Ya mudah-mudahan saja, setelah koas ini, perut dapat mengecil (optimis atau pesimis?)


Jumat, 12 Februari 2010

Memoar IKM: Oncom dan Peneguhan

Hari ini, 12 Pebruari 2010, akhirnya saya menyelesaikan rotasi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Hari diselesaikan dengn ujian tutor dan masih menyisakan hutang kami, sebuah ujian yang harus dilaksanakan saat setelah seluruh rotasi berakhir. Yup rotasi yang dijalankan dari 30 November 2009 memberikan kesan bagi saya. Sebuah kesan yang menarik.

Rekan-rekan Sableng, Luar Biasa, dan Oncom

Belajar atau... Tidur?

Kami bersembilan belas. Sebuah kelompok yang cukup, namun tetap saja sering dikatakan "rombongan pasar" karena ributnya minta ampun. Dan saya juga pertama kali bertemu dengan rekan-rekan yang belum kenal sebelumnya dan ada juga beberapa yang sudah pernah berjumpa di siklus Bedah.

Memang pada awalnya kelihatannya adem-ayem. Masing-masing bak belum menunjukkan taringnya. Namun sembari berjalannya waktu, mulailah bisnis peroncoman. Oncom? Yup, sebutan khas dari Michelle yang konon sebagai pronomina pengganti kata "o-on", dan akhirnya melegenda di IKM. Panggilan itu tak hanya kepada seseorang dan bahkan siapapun bisa menyandang nama "oncom". Oncom sudah seperti "panggilan sayang". Akhirnya guyonan oncom-oncoman semakin naik daun. Dan, mungkin sejak saat itu, suasana mencair.

Mungkin saya dulu tak pernah mengenal mereka dan hanya sebatas sapa. Namun riuh-rendah telah dimulai.

Ice Breaking

Di IKM, memang waktu lebih luang dibandingkan rotasi yang berbasis bangsal rumah sakit. Jam 13:00 adalah waktu pulang. Dan tak jarang waktu-waktu ini dimanfaatkan untuk apapun. Sebut saja: makan di Pluit Village, makan di Emporium, makan di Kantin, karaoke di Pluit Junction. Tampak hedonista ya? Tapi suasana semakin pecah di saat-saat itu.

Dengan semua hal-hal yang dilakukan, wajah ini kian ditelanjangi. Mungkin heran melihat saya yang "agak rakus" (salahkan lambung saya!), Michelle yang "makin dong-dong", Ririn dengan perilaku bayi sehat, Tia dengan kehebohan dan tawanya, Irene dengan kebawelannya, Stacy dengan aksi nekatnya, Ricky Pantat dengan salah satu asetnya yang merupakan yin-yang bersama saya, Andi Tan dengan ocehannya (makanya sempat masuk Pengadilan kan di?), Vonny dengan chichongfan dan nasi babi, Christ dengan paparazinya, Vani dengan "maaf ya..." dan semuanya rekan-rekan di IKM yang luar biasa. Tak lupa juga dengan kompetisi Plant Versus Zombie di kala senggang.

Tawa tak hanya berhenti saat bersama. Bahkan di Facebook dengan "banci comment-nya" menjadi penggerus duka.

Hiduplah dengan Ceria, Koas

Koas memang perlu ceria. Tak hanya murung, apatis, dan lainnya. Bahkan di kala kami mendapat kabar ujian tertunda, untuk apa terus bersedih? Ceria!

Makan-makan!

Begitu banyak banyolan aneh dari segala detik. Dari banyolan sehari-hari, banyolan saya sang best seller (penting nih ini didokumentasi), hingga banyolan a la Puskesmas Stacy. Eiittss... saya best seller? Iya! Hahahaha... Saya memiliki enam "Desperate Hau's Wife". Dasar poligami! Emang ini hanya lelucon, tidak ada benar-benarnya, salah luar biasa. Tapi ini hanya sekedar agar IKM kian ceria!

Apa yang Dilakukan, Sebenarnya?

Mungkin Anda bingung, dari tadi saya hanya menuliskan hal-hal sableng, banyolan, ceria. Apa sih sebenarnya yang dilakukan di IKM? Ya tugas pokok kami tetaplah sebagai koas. Pada minggu-minggu junior, kami melaksanakan program Sanggar Kegiatan Remaja Sehat (STARE) di RW 06 dan 16 Kelurahan Penjaringan. Ya sesuai dengan prinsip manajemen, kami merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kerja-kerja kami. Selain itu kami juga mendapatkan tutor dari dosen pembimbing. Setelah itu di minggu senior, kami turun ke Puskesmas. Beberapa pengalaman saya di Puskesmas sudah sempat saya tuliskan di blog ini.

STARE di Kel. Penjaringan

Saya dan rekan di Puskesmas Kamal Muara

Saya mendapatkan banyak hal, dan yang terpenting adalah peneguhan saya terhadap kepercayaan diri saya sebagai dokter. Kemudian bagaimana turun ke masyarakat, menjadi dokter sejuta masyarakat. Berempati, mengolah komunikasi yang baik, dan melihat sistem kesehatan di negara ini.

Ohya, kami juga turut membantu bakti sosial dalam perlindungan anak jalanan dari Dinas Sosial. Dan menyadarkan saya bahwa masalah-masalah seperti ini adalah lingkaran setan, yang perlu diatasi secara serempak oleh semua sektor-sektor yang ada.

Jadi?

Saya mendapatkan banyak hal. Namun yang paling berkesan (yang terpenting tak selalu harus berkesan kan?) adalah keluarbiasaan para oncom. Ingin kali suatu saat kita bisa berkumpul lagi. Terima kasih dosen pembimbing di IKM, terima kasih teman-teman di IKM. Sukses selalu beserta kita!