Sabtu, 23 Juni 2012

Belajar Abjad Sirilik: Done!

"Старославянская азбука (староболгарская азбука): то же, что кирилли́ческий (или кири́лловский) алфави́т: одна из двух (наряду с глаголицей) древних азбук для старославянского языка;" - Potongan artikel di Wikipedia
Apa artinya? Bagaimana cara membacanya? Saya penasaran.

Akhir minggu ini merupakan waktu yang sangat saya tunggu. Saya akan melewatkan bersama dua buku pesanan saya yang sudah tiba sejak satu minggu lalu. Ya, saya memesan buku secara online yaitu tentang travelling ke Filipina dan buku Russian for Tourism.


Yang saya buka yang pertama adalah buku bahasa Rusia tersebut. Saya sangat penasaran bagaimana dengan bahasa ini. Saya sangat ingin tahu sekali apa yang ada di balik tulisan-tulisan sirilik (Cyrillic alphabet) yang digunakan di bahasa-bahasa Slavik ini. Tulisannya tampak keren dan eksotik, dan tentu sangat menarik mempelajari hal yang tidak banyak dipelajari orang bukan?

Saya selalu penasaran dengan apa yang ditulis dan makna dari sebuah bahasa. Saya mengiyakan dengan apa yang disebut oleh loki2504 di youtube ini. Memahami sesuatu yang baru, memahami suatu yang unik, memahami suatu yang ada di luar sana, menjadi sebuah tantangan dan rasa ingin tahu tersendiri. Sangat menarik.

Tulisan Sirilik

Awalnya memang agak sulit, karena ternyata dari 33 alfabet sirilik, hanya 6 yang sama pengucapannya dengan bahasa Indonesia! Yaitu A, K, O, M, E, T. Sedangkan dua puluh tujuh lainnya sangat-sangat berbeda jauh, walau ada yang tulisannya mirip dengan Latin. Misalnya C yang dibaca /es/, P /er/, B /ve/, Y /u/. Namun ada huruf-huruf unik lainnya seperti Ш, Щ, dan si cantik Ж.

Banyak huruf-huruf vokal rusia yang tampak seperti huruf mati dalam bahasa Indonesia misalnya: Россия, yang ternyata adalah /russiya/. Ternyata tak begitu sulit dan sederhana.

Saya menemukan bahan belajar yang baik, walau awalnya sedikit membosankan. Namun dijelaskan dengan gamblang dan pelan yaitu Russian World Lesson. Pelajaran pertamanya di klik di sini. Saya baru samapai pelajaran ke delapan. Sangat menarik.

My Baby in the weekend


Saya pun mencoba-coba menuliskan nama saya dan impresi pertama saya: cool! Tulisan sirilik ini sangat keren.

Nama saya dalam abjad sirilik. Semoga benar translasi siriliknya :)


Abjad Sirilik dalam Bahasa Rusia
Hal yang unik juga dalam abjad sirilik adalah mempelajari tulisan kursifnya atau tulisan rangkainya. Sangat berbeda dengan apa yang dipelajari di bahasa latin. Seperti huruf T sirilik kursif yang mirip M dari tulisan rangkai yang saya pelajari di SD.

Saya pun jadi terbakar juga mempelajari skrip-skrip bahasa tertentu, mungkin seperti tulisan bahasan Brahmik seperti Devanagari, Thai, atau skrip lainnya seperti Arabia.

Well, Xорошо! /horosho/ (Baiklah!)

Senin, 18 Juni 2012

Pasca Pusling Amawakng: Hargailah Pasien

Hari ini sungguh luar biasa. Saya mendapatkan sesuatu yang berbeda hari ini. Saya tidak hanya menjaga kandang di poliklinik umum, tapi melakukan puskesmas keliling. Hari ini saya diajak Bang Agustinus, seorang perawat di Puskesmas Menjalin bersama Kak Fina, bidan di polindes Re'es. Ya, hari ini saya pergi ke desa Re'es, tepatnya dusun Amawakng.

Desa Re'es adalah salah satu desa di Menjalin yang berada di sebelah barat yang lebih cepat dijangkau kalau melalui jalan dari Gunseng, Toho, dibandingkan harus melalui simpang Raba di Menjalin.

Desa Re'es yang dilingkar di sebelah kiri. Yang dilingkar di tengah adalah Dusun Sungai Bandung, temapat Puskesmas Menjalin.



Saya sudah diberi wanti-wanti bahwa perjalanan mungkin tidak akan seluwes biasa bahkan menuju Baweng, Lamoanak di arah timur. Namun hal ini terus terang malah membuat saya kian penasaran.

Setelah saya bersiap-siap obat dan lainnya. Rasa penasaran saya semakin memuncak. Tiba Bang Agus datang untuk mengambil vaksin dan menjemput saya di Puskesmas. Perjalanan memang lurus-lurus saja dan lancar sampai di suatu simpang di Gunseng.

Kami masuk melalui jalan tanah. Untung saja hari itu kering dan tidak hujan kemarin. Kalau tidak mungkin jalan menjadi becek dan bisa dibayangkan kalau dilalui motor. Pastinya ajubileh. Perjalanan ini melalui medan yang beragam, dari jalan setapak, jalan dimana motor harus meniti kayu, melewati jembatan gantung, melalui jalan kecil yang mana kiri kanan hutan, melalui jalan lebar kebun sawit, jalan tanah dengan tanjakan yang aduhai, dan jalan becek dimana saya harus turun. Sungguh bermacam-macam. Dan baru akhirnya kami tiba di Re'es dan kemudian ke arah Amawakng untuk posyandu dan puskesmas keliling di rumah ibu dusun Amawakng. Saya sangat senang bahwa warga cukup antusias, dokter masuk ke dusun. Saya juga senang berinteraksi dengan mereka.

Tiba di Polindes Re'es. Lanjut lagi ke dusun...

Dan hal ini membuat saya berefleksi sejenak. Jikalau saya sendiri merasa kesulitan melalui jalan ini, bagaimana dengan warga sekitar di sini. Bagaimana dengan warga yang lebih pedalaman lagi? Saya sendiri juga sering mendapat pasien dari Re'es. Bagaimana tidak membayangkan perjuangan mereka ke  Puskesmas Menjalin di tepi jalan raya. Tentu mereka memiliki ekspektasi besar terhadap masalah mereka. Namun kadang-kadang sebagai dokter, kita juga terlena dengan rasa mood dan suasana hati, dan kadang pasien juga "menjadi korban". Mungkin suasana hati tak senang, pasien kita ketuskan. Namun dengan perjalanan ini saya sadar, bahwa dengan keadaan sakit mereka, mereka harus lagi berjalan pulang pergi melalui jalan yang tak hanya bisa dilewati tanpa rasa legowo dan kekuatan ekstra.

Jembatan gantung
Dan kadang kita pun harus berputar otak bagaimana menangani pasien dari pedalaman secara optimal. Kita tidak akan pernah mudah mengatakan, "kontrol lagi ya nanti". Seberapa besar effort yang harus mereka lakukan. Mereka ke Puskesmas bukan dengan kendaraan jalan tol, tetapi dengan motor dengan jalan yang rusak, dan tak jarang juga dengan kaki mereka sendiri.

Memang di satu sisi, terbatas ini terbatas itu. Tetapi dengan keterbatasan kita tidak boleh melalaikan harkat martabat manusia dan juga pelayanan yang optimal.

*Dituliskan di siang hari nan panas. Bokong dan punggung masih terasa sakit setelah berbonceng motor dengan Bang Agus. Namun hati senang. :)

Sabtu, 16 Juni 2012

Udah Pane Bahasa Diri', Pak Dokter?

Kisah ini dimulai malam kemarin, ketika saya menjelang terlelap setelah bermain dengan iPad, saya mendengar tiba-tiba pintu rumah diketuk-ketuk. Ternyata ada orang ramai di luar rumah, tak pelak saya pun terkejut. Ada pun kata pertama yang terlontar di mulut saya, "Sae nang sakit? Ada urakng jantu'?". (Siapa yang sakit? Ada orang jatuh?) Laki-laki di depan pun menjawab, "Inak pak. Ada bayi kami nanak mao nangis satalah melahirkan barusan.". "Au pak. Tama' pak." (Ya pak, silakan masuk.)

Meja Praktik di Puskesmas :)


Dan tiba-tiba orang di sebelahnya bercetus, "Orang dayak-kah Pak Dokter? Kenapa bisa bahasa kami?". "Inak. Saya orang sobat (Istilah tionghoa dalam Dayak Kanayatn)." "Wah, udah pane bahasa diri' ya Pak Dokter?" (Sudah pandai bahasa kita ya Pak Dokter?) "Saya sudah 2 bulan di sini, sudah belajar sedikit-sedikit." Saya pun tersenyum simpul.

Saya pun menjadi tersadar akan suatu kelebihan yang saya miliki, belajar bahasa. Memang saya pun senang untuk belajar bahasa. Mungkin suatu hal yang paradoksal juga dengan saya yang cenderung introvert, hahaha. Namun saya semakin yakin ini bisa menjadi suatu plus bagi saya.

Penduduk yang kaget dengan saya yang berbahasa Dayak ini, bukan satu kali ini saja. Banyak yang bingung kalau saya berbahasa lokal. Hipotesa saya, rata-rata dokter PTT di Menjalin berasal dari luar Kalimantan Barat. Namun sebenarnya tidak juga, saya baru mengenal bahasa Dayak Kanayatn ini ketika saya bertugas di Menjalin.

Sebenarnya saya pun memiliki bingkai pikiran bahwa saya harus dapat mengenal bahasa lokal. Hal ini saya coba terapkan semenjak koas dulu. Seperti saat saya menjalani koas di Sukabumi, saya pun belajar sedikit bahasa Sunda. Dulu tujuan utamanya adalah memahami anamnesis pasien-dokter konsulen yang sering berbahasa Sunda. Dan lama-lama saya juga memahami bahwa dengan berbahasa lokal, kita lebih luwes dengan pasien.

Semakin luwes, inilah yang saya rasakan juga dengan pasien di Menjalin. Rata-rata mereka senang kalau mendengar kita berbahasa lokal, lebih akrab. Walaupun demikian biasanya saya hanya sebagai pembuka saja menggunakan bahasa lokal, karena saya sudah mulai pusing kepala kalau sudah menggunakan kosakata yang tidak saya ketahui. Hehehe, Pak Dokternya masih balajar uga'.

Dan kadang bahasa lokal ini juga menjadi satu-satunya jalan mewawancarai pasien, terutama pasien yang sudah lansia yang seringkali tidak fasih berbahasa Indonesia. Walaupun sebenarnya di Menjalin ini, tersebar juga bahasa Melayu, namun sepengamatan saya pada lansia-lansia yang bersuku Dayak juga tidak begitu fasih bahasa Melayu.

Jadi, sebenarnya ini sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Saya jadi belajar kearifan lokal, saya pun bisa meluweskan relasi dokter-pasien ini.

Pak Dokternyu udah pane sabebet bahasa diri'. Tapi masih nanak pane incakng bamotor koa. =D
(Pak Dokternya sudah pandai sedikit bahasa kita, tapi masih tidak pandai bawa motor :D) 

Rabu, 13 Juni 2012

Saat Pasien Menghadap Bapa

Hari ini adalah hari yang cukup mengena di hati saya dan mungkin hari di mana seluruh dokter pun di dunia pun pernah mengingatnya. Hari di mana seorang dokter kehilangan seorang pasiennya untuk selamanya.

Ya, hari ini pasien yang saya rawat menghadap Bapa. Kami berusaha dalam keterbatasan, memang Puskesmas di daerah tidak selengkap rumah sakit, dan kami pun masih harus bergelut dengan pertimbangan sosioekonomi dan lainnya. Apa yang saya lakukan memang tak serta merta buku teks yang begitu lugasnya menyatakan pasien ini harus dirujuk dan lainnya.



Dengan pasien ini, memang nurani saya berasa berbeda dengan pasien sebelumnya. Saya merasakan sesuatu insting yang tak nyaman. Hati saya berkata lain. Pasien ini tak biasa. Badannya begitu terkulai, kurus tak berdaya. Berbicara pun payah. Saya melihat kakinya yang bengkak. Di pikiran saya sudah bermain-main, "Gagal ginjal kah? Gangguan imunologis? Malnutrisi berat? Gangguan jantung?".

Saya pun meminta untuk segera memasang jalur infus untuk keperluan nanti. Saya pun meminta keluarga untuk segera merujuk ke rumah sakit, namun keluarga meminta untuk esok pagi saja. Saya hanya bisa menjawab bahwa, kami berusaha sebaik yang kami bisa di sini, tetapi memang lebih baik dirujuk. Namun semua kembali ke pertimbangan keluarga.

Dan tak lama 2-3 jam kemudian, saya dipanggil. Salah satu keluarga itu datang dan berkata, "Dok, tampaknya dia sudah tidak ada." Seketika adrenalin saya pecah ke ubun-ubun. Saya langsung menyergap tas kecil saya dan memanggil bantuan perawat. Ketika saya tiba di bangsal, memang sudah tidak berdaya, tidak ada denyut nadi, pupil sudah sangat melebar. Saya mencoba resusitasi dan hasilnya tetap nihil. Dan inilah saya pertama kali menyatakan, "Bapak sudah tidak ada." Dan seketika hening.

Perasaan berkecamuk dalam benak saya, ketika saya berjalan ke rumah dinas. Saya bertanya-tanya mengapa, apa yang sebabkan ia meninggal? Dan seketika saya merasakan nurani saya. Saya mungkin sangat senang, bahwa pasien saya sembuh, membaik. Bagaimana bila pasien meninggal? Tak pelak saya mencoba mengoreksi diri dan mencoba menyerahkan pada Tuhan.

Namun saya mencoba berpikir lagi, dokter tetap harus profesional. Konon, empati yang harus ditunjukkan, bukan simpati, apalagi apatis. Namun perasaan ini tetap melayang-layang dengan beribu perkataan.

Saya pun sempat melakukan kilas balik, ketika dulu koas. Saya seperti sudah "biasa saja" dengan kematian pasien, kecuali resusitasi jantung paru saya yang pertama saat stase Penyakit Dalam. Namun perasaan ini kembali lagi mencuat.

Saya mencoba lagi untuk membela diri, inilah hidup manusia dengan dinamikanya, ada senang dan susah, ada hidup dan kelahiran. Dan inilah pekerjaan dokter dan petugas kesehatan yang mana manusia adalah "objek" ilmunya, dan seketika mereka menceburkan diri juga dalam dinamika manusia tersebut.

13 Juni 2012, 00:31 WIB
Setelah sehabis menemani Mas Pur mengantar jenazah pasien tersebut di Silung, Menjalin.

Selasa, 12 Juni 2012

Resensi Buku: Untaian Garnet dalam Hidupku


Judul Buku: Untaian Garnet dalam Hidupku
Penulis: Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tebal: 215 halaman

Sebenarnya saya sebagai peresensi sudah lama ingin membaca buku ini. Selain karena saya adalah sejawat almarhumah Menteri Kesehatan Ibu Endang sebagai petugas medis, saya penasaran dengan apa yang menjadi buah-buah pikirnya.

Kisah-kisah yang disampaikan dalam buku ini memang tak melulu soal dunia kesehatan atau kedokteran yang menjadi profesi selama hidupnya. Ia banyak menyampaikan soal keluarganya, suaminya, dan anak-anak yang dikasihinya. 

Semua kisah dalam buku ini disusun dengan alur yang tak kronologis. Alurnya bagai potongan puzzle, dan mungkin melompat-lompat. Mungkin saja, ini adalah ide penyunting untuk memacu kita merangkai sendiri kisahnya. Atau duga-dugaan saya, mungkin inilah memang urutan tulisan yang dibuat oleh Bu Endang, dan penyunting tetap mempertahankan orisinalitas kronologisnya.

Saya sebenarnya cukup takjub dengan apa yang disampaikan oleh Bu Endang dalam tulisannya. Ia menulis dengan lugu, apa adanya sesuai dengan apa yang ia rasakan. Mungkin ini akan bermain dalam pikiran kita, mengimajinasikan ketika ia menangis semasa hidupnya, bagaimana ia kaget bukan kepalang ketika diminta menjadi menteri, ketegasannya walaupun ia dalam hidupnya banyak tidak disukai oleh rekan sejawatnya. Semua ia curahkan tanpa malu dalam buku ini.

Memang, biografi ini dapat menjadi media belajar kita dalam merefleksikan jalan hidup kita, bagaimana naik turunnya dinamika perjalanan kita. Dan bahkan kita diberikan sedikit buah pikirnya di kala menjelang kepergiannya.

Buku ini baik bagi kita, baik bagi seorang ibu, layak dibaca bagi sesiapapun juga yang mau mengenal dan mendalami untaian hidup seorang Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit.

Tulisan ini juga diterbitkan di tanyadokter.com