Kamis, 11 April 2013

Menikmati Hasil Keringat Sendiri

Saya baru hampir genap satu setengah tahun ketika resmi sebagai dokter. Ya, banyak pekerjaan yang saya alami, mulai dari editor kedokteran, dokter umum untuk bakti sosial, sampai dokter umum di Puskesmas. Di sinilah menempa saya untuk bekerja dan saya pun menghasilkan uang dengan keringat saya sendiri.

Memang ini bukan kali pertama saya. Saya masih ingat dulu saya pernah mendapatkan honorarium ketika menulis walkthrough untuk game Final Fantasy VIII dan dimuat di Final Fantasy World dari HotGame Gramedia. Saat itu seingat saya, saya masih siswa SMP (tahun 2000 atau 2001) dan sekitar satu atau dua ratus ribu rupiah jumlah honor saya. Kalau dipikir-pikir, cukup besar juga ya untuk saat itu.

Ada enaknya sebenarnya dalam mendapatkan uang untuk diri sendiri. Pertama adalah sebuah kebanggaan hidup mandiri. Paling tidak saya tidak perlu meminta kepada orang tua untuk membeli barang sehar-hari. Kedua, saya jadi mengerti susahnya mengumpulkan rupiah demi rupiah. Bukannya saya mata duitan, tetapi toh setiap orang perlu uang untuk hidup, bukan demikian?

Saya pun merasa bangga dengan berbagai barang-barang yang saya beli dengan keringat saya sendiri seperti iPad dan PlayStation 3. Ya, inilah hasil keringat sendiri! Namun saya juga tidak boleh lupa menabung, paling tidak untuk keluarga kecil saya kelak. Semoga cukup ya :)


Kamis, 04 April 2013

Terima Kasih Menjalin

Hari Senin, 1 April 2013 adalah salah satu hari terbaikku. Hari terbaik di dalam perjalanan saya sebagai dokter. Hari itu adalah hari perpisahan antara saya dengan staf Puskesmas Menjalin yang telah menemani saya selama 1 tahun ini.

 

Label terbaik ini bukannya karena saya suka perpisahan. Secara pribadi yang lebih cenderung menyukai zona nyaman, saya tidak suka dengan perpisahan. Namun suatu hal yang tak dapat terpungkiri adalah hidup harus jalan terus. Jalan ke depan.

 

Saya meninggalkan Menjalin, yang terutama adalah habisnya masa SK saya untuk diangkat sebagai dokter PTT di Kabupaten Landak. Kemudian saya pun memiliki rencana untuk bekerja di rumah sakit dan ingin melanjutkan studi lagi. Walaupun sebenarnya masih ada kesempatan bagi saya untuk mengabdi di Landak selama dua tahun ke depan. Namun jika adapun saya tak akan mengambilnya, karena saya tidak mungkin di Menjalin lagi. Saya sudah terlanjur jatih cinta dengan Menjalin.

 

Mungkin Anda terheran-heran ada apa dengan Menjalin? Ya saya sudah terlanjur cocok dengan Bumi Samabue ini. Terlanjur cocok dengan orang-orang di dalamnya. Saya sudah kepalang tanggung. Sikap masyarakatnya, kondisi kehidupannya sudah sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

Ya, staf-stafnya amat ramah, dalam arti yang sesungguhnya. Saya bersyukur, karena saya pun mendengar ada kawan-kawan saya lain di tempat lainnya bahkan seringkali tak harmonis. Saya suka lingkungan kerja yang tetap humoris, paling tidak untuk menyegarkan pekerjaan dokter yang sungguh menaikkan tensi. Staf-staf seperti Om Saibu, Pak Didy, Bang Uut, Kak Osik, Kak Hatenah Kak Rika, pendatang baru Bang Ason yang bisa membuat rahang Anda pegal. Dan saya suka staf yang suka "wisata kuliner" seperti Trio Macan, Kak Agnes, Kak Ola, Bang Agus, Kak Wila sang pecinta kuning. Kemudian Kak Banyu yang suka membagi kuenya, Kak Sri yang menjual kuenya. Kak Nia dan Mak Dela yang juga tak jarang berbagi. Trio Macan juga menjadi kawan merujak dan gorengan serta apam pinang.

 

Selain itu mereka pun menghormati satu sama lain dan tak segan belajar satu sama lain, dan bahkan saya pun tak canggung untuk belajar dari mereka juga. Kak Dewi dan Kak Emi yang banyak pengalaman. Atau sebaliknya saya pun sering berbagi dan mengajarkan yang saya bisa ke Dekri dan Bang Ryan, serta Bang Agus dan perawat magang lainnya.

 

Saya pun sering dibawa jalan-jalan, paling tidak karena saya tidak pandai naik motor. Diajak ke Rees oleh Bang Agus dan Kak Fina, ke Lamoanak bersama Bang Eko, keliling Menjalin, Mempawah, dan Serukam dengan Mas Pur. Saya juga ke Tikalong dengan keluarga Pak Uwi, dan perjalanan terakhir tak terlupakan berjam-jam berdiri dengan Kak Ester di bus Yosua.

 

Saya juga masih ingat dengan pasien-pasien saya, Pak Sakiman dari Lamoanak, Pak Alex yang sering meminta saya tensi ketika ia menumpang lewat di Puskesmas, Nenek Nulia, Pak Itop, Ibu Raani, We' Indra. Saya akan merindukan ketika bercengkerama dengan mereka di poliklinik atau di zaal rawat inap. Saya juga merindukan bercengkerama dengan perawat di ruang jaga.

 

Suatu hal yang membahagiakan juga bahwa saya dapat diterima oleh masyarakat tanpa kekurangan suatu apapun. Dan saya amat senang dapat menyumbang sedikit untuk tanah Menjalin, walau tak seberapa. Seperti gajah meninggalkan gadingnya, saya bersyukur dan bahagia dapat meninggalkan nama yang cukup baik sampai saya memparipurnakan tugas.

 

Kini saya harus terus melangkah ke depan, walau kabut masih di depan mata.

 

Terima kasih Menjalin.

 

"Ame lupa ana bamain agi ka Manyalitn boh", kata Bang Ryan.

"Auk!", jawab saya.

 

Di dalam GA503, perjalanan kembali ke Jakarta.

Selasa, 02 April 2013

Tak Menyesal

Aku tak pernah menyesal untuk membuta
Aku tak pernah menyesal untuk berjalan dengan waktu
Aku tak pernah menyesal untuk menunggu hadirmu lagi
Aku tak pernah menyesal berdiam di dalam derasnya hujan
Aku tak pernah menyesal untuk menangis karenamu
Aku tak pernah menyesal untuk terus memandang buah tanganmu yang dulu
Aku tak pernah menyesal untuk lelah melihatmu jatuh hati
Aku tak pernah menyesal ketika kita memutuskan berkawan biasa

Kuserahkan semua padamu
Karena aku sadari ini tak mungkin hanya sebelah tangan

Biarlah aku pergi jika kau mau
Biarlah aku pergi jika dia memang lebih baik
Biarlah aku pergi jika aku mengganggu mu
Biarlah aku pergi jika itu semua yang terbaik bagimu
Biarlah aku pergi jika itu dapat mengembalikan lagi tawamu
Biarlah aku pergi dan aku tak akan menyesal

Pagi di Siantan, 1 April 2013
Setelah kau diam dalam kata

Rabu, 27 Maret 2013

"Dokter, Tidak Akan Marah Kok"

Ada cerita unik, ketika saya bertemu dengan seorang ibu di rawat inap Puskesmas.

Saya: "Malam bu. Gajah, kitak agik ampus ka Puskesmas. Ada ahe nian?" (Malam bu. Ya ampun, Anda lagi datang ke Puskesmas. Ada apa ini?)

Ibu: "Auk Pak Dokter a. Itulah kami punya kaluarga ayak, manyak bapage. Tumare koa pak uda ku, nang ampeatn koa ipar ku" (Iya Pak Dokter. Itulah kami keluarga besar, banyak saudara. Kemarin itu om saya, sekarang ipar saya.)

Saya: "Ooo... Lekoa." (Oooo... Begitu.)

Lalu saya bersama ia masuk bersama Om Saibu, staf Puskesmas yang sedang dinas sore. Singkat cerita kami banyak berbicara, terutama tentang "pak uda"-nya yang sakit 2 hari yang lalu. Pak uda-nya ini dirawat di Puskesmas dan kemudian dirujuk ke Pontianak untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Namun, Bapak ini sebelum dirujuk sempat membuat "heboh" Puskesmas. Sebenarnya ia sudah mau dibawa rujuk ke Pontianak pada pukul 22:00 malam setelah semua keluarga dari Pontianak bersepakat. Namun pasien tersebut berkata lain dan keras kepala tidak mau dibawa, dan saya pun berusaha membujuk Bapak itu juga sampai ia berbicara kalimat pamungkasnya dengan suara agak tinggi, "Ba'i aku diincakng ka Pontianak. Parasaatnku tak nyaman, bisa calaka kita." (Tak mau saya dibawa ke Pontianak. Perasaanku tidak enak, bisa celaka kita.") Ya ini adalah kalimat pamungkas seperti yang saya katakan, tidak ada yang berani memaksa lagi jika ada yang berkata demikian. Hingga akhirnya keadaan memburuk dan pasien meminta sendiri untuk merujuk lagi pukul 03:00 pagi.

Bagaimana perasaan saya yang dibangunkan dua kali "hanya" untuk menyetujui rujukan di tengah subuh dan mimpi indah karena pasien yang tampaknya "keras kepala"? Ya seketika mungkin rasa dongkol, tapi saya selalu merasa tak elok mengungkapkannya.

Si ibu yang saya bertemu pada awal tulisan ini berkata ternyata ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya, bisa dikatakan konflik keluarga baik vertikal dan horizontal. Mungkin sebagai suatu mekanisme defensi secara emosional dari si Bapak ini, ia berbuat demikian, berbuat menolak pendapat-pendapat keluarganya.

Ibu itu mengatakan sesuatu yang menyentuh hati, "Oh ya Pak Dokter. Bapak titip pesan, ketika saya bertemu dengan Pak Dokter. Bapak minta maaf karena sudah bera (marah) ke Pak Dokter. Dia tidak bermaksud demikian. Saya katakan padanya, Dokter tidak akan marah." Di satu sisi saya tersentuh dan menjadi teringat akan sang Bapak, dan kedua ada pesan eksplisit dari si ibu, "Dokter tidak akan marah". Ya ada suatu ekspektasi atau harapan dari pasien.

Dokter yang pemarah pun pernah saya temui sejak dari pendidikan sampai sekarang. Banyak dokter yang kadang tersulut emosi ketika beban pikiran begitu berat dan belum lagi masalah lainnya selain masalah pasien. Pekerjaan dokter memang riskan untuk mengalami tekanan mental yang luar biasa. Tapi pasien, perawat, rekan kerja pun tak ada yang mau kena omelan bukan? Manusia setengah dewa ini, memang digadang-gadang menjadi seseorang yang welas kasih dan lembut.

Ya, saya pun agak menyesali sikap dongkol saya subuh itu setelah mendengar cerita itu, karena saya sudah keburu marah dan ternyata tidak ada maksud Bapak itu dengan sengaja. Dia hanya perlu waktu untuk mengungkapkan kekecewaannha pada keluarganya itu.

Saya pun perlu terus belajar mengelola emosi. Walau demikian, pasien tetap sesama. Kalau Anda menjadi pasien, maukah Anda atau bagaimana perasaan Anda jika dokter Anda marah atau paling tidak, jutek? Tentu tidak ada yang mau. Aturan emas lagi-lagi berlaku.

Pasien pun harus mengelola emosinya juga, walaupun demikian, pendapat saya, posisi dokterlah yang harus lebih legawa untuk menahan emosinya. Jika tidak ada satu pihak yang legawa atau tepa selira, maka timbullah masalah lainnya yang tak kunjung padam. Setuju?

 

Minggu, 24 Maret 2013

PTT: Suatu Kebersyukuran

Ketika saya mengetik ini, saya berada di hari ke-7 sebelum masa bakti PTT saya berakhir sesuai dengan Surat Keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Suatu hal yang tak sangka saya bisa jalani sejauh ini. Suatu hal yang menjawab keraguan saya 358 hari yang lalu.

Dokter PTT Pusat Kabupaten Landak, TMT 2012

Pada saat pendaftaran lamaran kerja sebagai dokter PTT dan bersaing dengan ribuan dokter pelamar lainnya, tujuan saya hanya dua. Satu untuk memparipurnakan Surat Masa Bakti, dan kedua, tampaknya belum afdol menjadi dokter di Indonesia, kalau tidak menjalani PTT. Ya, sebagai dokter yang ditempatkan ke daerah terpencil adalah pengalaman tersendiri, yang bahkan tak pernah akan dialami oleh dokter di Singapura sekalipun!

Awal Mula PTT

Puskesmas Menjalin

Saya dulu melamar sebagai dokter umum di Kabupaten Landak dan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang menjadi provinsi kampung halamanku. Keduanya saya mencentang dengan kriteria terpencil. Terus terang, saya harap-harap cemas. Karena tidak semua pelamar yang jumlahnya ribuan ini bisa diterima, dan saya bersyukur ketika nama saya tercantum di website biro kepegawaian Kemenkes untuk bertugas di Kabupaten Landak selama 1 tahun.

Kabupaten Landak ini memang memiliki hubungan batin dengan saya, karena keluarga ayah saya kebanyakan lahir di Kecamatan Ngabang, yang kini menjadi ibukota kabupaten. Saya masih tidak tahu sama sekali di mana saya akan ditempatkan, sampai beberapa jam saya tiba di Ngabang untuk mendapat surat tugas dari dinas kesehatan kabupaten. Saya awalnya ditempatkan di Kecamatan Mandor yang sering saya lewati kalau menuju Ngabang, namun saya diminta bertukar untuk ditempatkan di Kecamatan Menjalin, suatu tempat yang tidak pernah saya tahu sebelumnya, yang suasananya lebih terpencil walau satu kriterianya sama. Karena saya dokter laki-laki, saya mencoba menjawab tantangan. Walaupun demikian, petualangan nan indah ini dimulai dari Menjalin.

Kesan Pertama Menjalin

Menjalin? Nama yang unik. Terus terang, selama hidup saya di Kalimantan Barat sampai saya SMP kelas 3, saya belum pernah mendengarnya. Dan saya tibalah di kecamatan ini bersama petugas yang mengantarkan saya, setelah mengantar rekan saya dari Mandor. Saya melewati jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu kendaraan di sore hari dan mati lampu pula. Jalan ini kelak saya sadari adalah jalur Sembora, salah satu jalan pintas dari Mandor menuju Menjalin melalui Toho.

Saya tiba si kecamatan nan gelap gulita (saat itu sedang mati lampu!), sinyal handphone yang datang dan pergi sesuka hatinya. Saya melihat rumah dinas yang akan saya tempati dalam terang senter dan lilin. Saya masih ingat, saya disambut oleh Bu Nia (perawat yang tinggal di kompleks Puskesmas) dan Kak Agnes (Bidan yang sementara menempati rumah dinas dokter, karena dokter sebelumnya perempuan). Karena saat itu saya masih belum bisa menempati rumah karena belum dibersihkan, saya menginap sementara di rumah Pak Thomas Apon, Kepala Puskesmas saat itu.

Saya saat itu termenung, apakah ini tempat saya? Tahankah saya? Apalagi lampu saat itu belum menyala sampai pukul 22:00. Sinyal handphone pun tampak hilir mudik saat saya mau mengabarkan kedua orangtua di Pontianak. Saya tak mungkin menangis, inilah tantangan, pikirku.

Keesokan harinya, Rabu, satu hari sebelum Kamis Putih. Saya diantar Pak Mega (Nama lain Pak Thomas, karena di sini lebih sering memanggil nama Bapak/Ibu dengan nama anak pertamanya), menuju Puskesmas yang kemarin tampak temaram. Dan kejutannya, tidak seburuk yang saya sangka. Saya pertama kali bertemu Bu Yones (Mak Dela), Bidan Morni (Mak Ryan), dan staf lainnya. Masih sedikit kagok-kagok, karena pada dasarnya saya pribadi yang perlu waktu untuk beradaptasi. Dan saya pun kesulitan berkomunikasi dengan pasien-pasien yang tua yang tak bisa berbahasa Indonesia.

Saya pun kemudian meminta ijin untuk mempersiapkan barang-barang untuk rumah dinas dan sekaligus merayakan Paskah sebelum memulai tugas di minggu berikutnya. Dan saat itu saya mulai mempelajari dan mencari tahu mengenai kecamatan saya. Dari peta baru saya sadari bahwa Menjalin adalah sebelah utara dari Kecamatan Toho, Kabupaten Pontianak yang terkenal dengan gua Maria-nya. Saya baru sadari juga bahwa kecamatan ini justru lebih dekat dengan Pontianak, dibandingkan Ngabang! Kecamatan ini dapat terjangkau dengan bus dalam provinsi dalam 2,5-3 jam dari Pontianak.

Menjalin adalah tempat yang cukup ideal buat saya. Terlalu ramai tidak, terlalu kecil tidak. Dengan jumlah 8 desa, penduduk 20.000-an, Kecamatan Menjalin adalah kecamatan terkecil kedua di Landak setelah Kecamatan Meranti. Di Menjalin pula menyimpan nilai tradisi Dayak Kanayatn yang kental dan pusat syiar agama Katolik. Nyaris 95 persen, menurut perkiraan saya, penduduk di sini beragama Kristen dengan denominasi mayoritasnya Katolik. Jadi, saya pun tak perlu bersusah payah mencari gereja untuk misa.

Belajar Bahasa

Di sini pula saya banyak belajar tentang bahasa setempat. Pada dasarnya, saya memang suka mempelajari bahasa. Dengan logat saya yang pas-pasan, tak jarang saya dianggap sebagai orang lokal. Walaupun demikian saya bersyukur, perbendaharaan bahasa saya pun semakin kaya. PTT ini membuat saya cukup dapat melakukan anamnesa dengan bahasa Dayak Kanayatn atau Ba'ahe ini, hingga saya dapat berkomunikasi dengan kawan-kawan dengan Ba'ahe. Sungguh, mempelajari kearifan lokal adalah suatu kebanggaan buat saya.

Penduduk

Hampir sebagian penduduk Menjalin bersuku Dayak Kanayatn, dengan sebagian kecil adalah Tionghoa, Melayu, dan Jawa. Di Menjalin ini mereka duduk berdampingan. Dan suatu ketakutan saya sebelum PTT adalah apakah saya dapat diterima masyarakat kelak? Saya sungguh bersyukur saya tak menemui masalah berarti ketika berelasi dengan penduduk dan staf Puskesmas. Di Puskesmas Menjalin ini, saya sendiri tak pernah konflik. Oleh staf Puskesmas, kami saling menghormati pekerjaan kami masing-masing. Saya bisa melakukan tugas medis saya sesuai dengan apa yang seharusnya. Tidak pernah saya merasa diperlakukan dengan tak hormat. Walaupun saya nakal, karena praktik tanpa jas snelli di Puskesmas, atau praktik dengan celana pendek di rumah dinas, saya tetap dapat dikenali sebagai "Pak Dokter".

Poli Umum dan Rawat Inap

Apa saja pekerjaan saya di Puskesmas? Yang jelas saya tidak memegang program khusus. Saya memegang tugas medis umum, poliklinik umum di rawat jalan, dan tugas medis di rawat inap. Terkadang saya pun ikut puskesmas keliling dan posyandu di desa-desa. Saya juga kasang-kadang mendapat tugas kunjungam ke rumah, karena masyarakat di sini masih terbiasa untuk didatangi oleh petugas.

Kursi Praktik saya di Poliklinik
Saya bersama Perawat Poli, Kak Nia dan Mak Dela

Ketika tengah tahun saya berjalan, Puskesmas Menjalin mendapat pergantian Kepala Puskesmas. Dr. Didy dari Puskesmas Karangan diangkat menjadi kepala puskesmas kami. Saya untungnya masih tetap diperkenankan menyelesaikan tugas saya di Menjalin sesuai dengan SK. Saya diminta untuk membenahi rawat inap oleh Dr. Didy. Hampir semua Puskesmas di Landak adalah Puskesmas perawatan kecuali di Ngabang, Sidas, Semata.

Memang, sebelumnya rawat inap Puskesmas tidak berjalan sebagaimana mestinya. Saat itu belum ada jadwal jaga yang bergantian, tidak ada pengelolaan alkes dan barang rawat inap, sehingga pasien masih do-re-mi dalam hitungan bulan. Jadi setiap ada tindakan malam, saya harus bersenter dulu untuk mencari barang, jika ada gawat darurat hanya dikerjakan oleh saya dan Bu Nia sebagai penghuni setia di kompleks Puskesmas.

Rawat Inap yang Dihidupkan
Pengaturan yang diharapkan optimal walau sederhana

Akhirnya saya pun memulai untuk merapikan jadwal dinas, merapikan alat-alat kesehatan, dispensing obat, dispensing alkes tambahan yang tidak diberi dinas tetapi diperlukan, mengelola ambulans, sampai mengelola keuangan rawat inap. Saya bersyukur dulu saya memahami sedikit soal manajemen ini dari apa yang saya lihat selama pendidikan di almamater saya, FK Atma Jaya. Saya menerapkan apa yang saya lihat. Dan perlahan-lahan, rawat inap ini hidup. Beberapa prosedur disesuaikan dengan rumah sakit, seperti cara kewaspadaan universal, pencatatan rekam medis (saya masih ingat dulu pasien pertama rawat inap saya, saya tuliskan di lembaran HVS!), pengaturan obat dan alkes, dan lainnya. Dan saya senang sekali, masyarakat mulai dapat menikmati hasil dari penghidupan kembali rawat inap ini yang siap sedia 24 jam. Apalagi pasien dari kecamatan tetangga, Kecamatan Toho, juga kian banyak, karena tidak adanya puskesmas perawatan dan belum adanya dokter yang tinggal di daerah setempat. Saya sungguh berharap, kelak rawat inap ini terus dapat berkembang dan maju sepeninggal saya.

Jalan-jalan ke desa
Plang Praktik Pribadi di Rumah Dinas

Keluarga

Ya, saya memiliki keluarga baru di Menjalin. Mulai dari staf-staf Puskesmas, dari yang tua sampai perawat magang yang lebih muda dari saya, kemudian keluarga Mak Uwi yang membuka warung di depan Puskesmas, pasien-pasien yang sering saya temui di Puskesmas maupun praktik pribadi. Sungguh banyak hal yang dibagi, bersenda gurau, selama 12 bulan ini. Hari-hari saya di Menjalin menjadi tak terasa dan dilewati dengan rasa senang. Suka dukanya begitu berkesan. Walaupun sebagai dokter umum di negeri ini banyak hal yang memusingkan kepala, namun saya merasa diperlakukan dengan baik sebagai dokter dan terutama sebagai diri saya sendiri di Menjalin ini.

Saya bersama Trio Macan (Eka, Nia, Ado), dan si kecil Cia

Suatu saat saya akan merindukan comblangan Pak Didy, tawa renyah Kak Osik dan Kak Hatenah, candaan sesama Sobat (baca: orang Tionghoa) dengan Kak Banyu, langganan kue Kak Sri, candaan dari Bang Martinus, panggilan "yukng" dari Bang Ryan, teriakan khas "Dokter Hauuu, ada pasien nih" dari Kak Dewi, dinas penuh tawa dari Trio Macan (Kak Nia, Kak Ado, Kak Eka), bercanda dengan Kak Emi, Kak Ola, Kak Rika, Kak Wila dan Kak Agnes, pertolongan tanpa pamrih saat padam lampu dari Bang Erick, perjalanan jauh merujuk pasien sampai berkantuk ria dengan Mas Pur, kiriman pasien aneh dari Takong dan teman jajan sore bersama Bang Agustinus serta Deckri, senandung melodi lagu lama dan teman misa dari Kak Nia (Karunia), petuah tak ternilai dari Mak Dela, suara khas Pak Mega, melihat nomor angkanya Om Saibu dan Bang Eko, "diskusi" dan petuah tiada ujung dengan Bang Ason, kalemnya Om Basri, mencicipi makanan Bu De Iin yang menjadi makanan sehari-hari selama PTT, langganan talok manok kampokng (telur ayam kampung) dari Bu Betty dari Sompak, es teh hangat dan indomie Mak Uwi, bermain dengan Cia dan Vino, anjingnya. Semua terangkai dalam memori saya selama di Menjalin. Ya, walapun mereka ada yang lebih muda dari saya, terutama yang perempuan saya kerap memanggil "Kak", kebiasaan saya sejak koas di Atma Jaya, tampaknya lebih nyaman untuk disapa.

Pengalaman Baru

Banyak hal baru yang saya dapatkan selama di Menjalin ini seperti mau tak mau menjemput pasien sendiri di tengah desa yang gelap, sendiri mengendarai ambulans yang kesulitan melewati jalan tanah yang becek, masuk ke desa sangat terpencil di Desa Re'es melewati jalan tikus, menikmati kebudayaan Dayak Kanayatn seperti dijamu saat Naik Dango, makan baconcok (semeja sekelompok) saat perkawinan staf, makan pulut, tumpi, lemang, dan bontokng. Saya pun dikenal sebagai dokter yang tak pandai bermotor, memang sungguh saya tak bisa menaiki motor. Dokter yang selalu membawa ambulans saat gereja, itulah saya.

Terus teramg saya sendiri hanya dua minggu sekali turun ke kota untuk menabung dan bertemu orang tua. Selebihnya saya sisakan hari-hari saya di Menjalin.

 

Dan kini saya memang tinggal menghitung hari di Menjalin, dan tetap saya berharap bahwa ini juga kelak ditutup dengan manis. Jarum jam pun terus berdetak.