Kamis, 17 Desember 2009

Aku Ingin Bermimpi Lagi


Hari ini saya menonton Sang Pemimpi. Ya, sebenarnya hari ini sama sekali tidak ada rencana menonton, hanya saja saya berpikir untuk bepergian ke Sunter Mall untuk membeli beberapa perlengkapan alat tulis. Namun ketika melewati di seberang jalan, saya tak sengaja melihat papan pariwara film yang tengah diputar di bioskop setempat. Saya melihat Sang Pemimpi diputar di 3 dari 4 teater dan seketika saya memutuskan menonton film ini. Lagipula jam di tangan masih menunjukkan jam 2 siang.

Saya belum membaca tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Saya hanya pernah menonton Laskar Pelangi dan sudah. Film jilid pertamanya tidak begitu memberi kesan di pikiran saya, namun saya tetap memberikan penilaian yang baik bagi sebuah film Indonesia.

Film Sang Pemimpi ini terus terang mengena di hati saya. Saya teringat pada beberapa keping-keping kehidupan saya. Dan saya pun terpanggil untuk kembali lagi bermimpi, dan meraihnya.

Hari-hari belakangan ini memang tidak mewarnai apa yang saya rasakan. Apa yang saya rasakan lebih cenderung datar dan bergejolak begitu hebat ketika kedataran raib. Memang ketika saya dan rekan memutuskan untuk tidak lagi sejalan, jalan ini menjadi begitu rapuh. Saya dihadapkan pada suatu keadaan transisi. Saya tak lagi ingin bermimpi pada saat itu. Untungnya hari-hari saya dengan rekan-rekan di kepaniteraan dapat sedikit memberikan warna dan canda dalam detik-detik saya. Saya pun berusaha tegar, walau masih jatuh dalam relung.

Saya mungkin sama seperti Ikal, yang tiba-tiba membenci mimpi-mimpinya. Ketika ia berpikir bahwa mimpi-mimpinya adalah mustahil dan jalan-jalan itu kian tertutup. Ketika ia merasa bahwa tujuan mimpinya mengabur dan kehilangan semangat meraihnya. Hingga pada suatu titik, ia disadarkan bahwa ia masih memiliki keluarganya yang walau jauh, sangat mencintainya dan merasa bangga akan dirinya walau ia terjatuh. Saya masih ingat narasi pada film ini yang kira-kira mengatakan, "Dialah ayahmu dengan satu-satunya safarinya yang dikenakannya pada momen terbaik pada hidupnya yakni saat mengambilkan rapormu. Bahkan di hadapan bupati pun tidak dikenakannya." Tersadar bahwa saya masih memiliki keluarga yang mendukung saya.

Dan ketika Ikal bangkit untuk bermimpi dan berusaha untuk itu, ia dan Arai mampu mewujudkan mimpi-mimpinya yang digantungkannya setinggi langit walau ia sempat jatuh. Dan ini pun mencambuki diri saya bahwa saya harus kembali bermimpi setinggi-tingginya, meraih semua semangat, mewujudkan cita-cita saya sebagai dokter, dan tetap mengingat bahwa ada orang di belakang yang tetap mencintai dan mendukung kita. Buatlah mereka bangga akan kita.

sambut hari baru di depanmu
sambung mimpi siap tuk melangkah
raih tanganku jika kau ragu
bila terjatuh ku kan menjaga

kita telah berjanji bersama
taklukan dunia ini
menghadapi segala tantangan
bersama mengejar mimpi-mimpi

GIGI - Sang Pemimpi

0 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

Posting Komentar

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: