Minggu, 19 Agustus 2012

Tujuh Belasan di Menjalin


Tujuh belas Agustusan kali ini terasa berbeda. Pertama, karena tempatnya di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, tempat saya bekerja. Kedua, karena untuk pertama kalinya sejak mungkin tujuh tahun lalu saya terakhir upacara bendera saat di Kanisius dulu. Ketiga, saya pertama kalinya upacara dengan duduk santai di tribun undangan. Hehehe....

Sebelumnya saya sudah diwanti-wanti oleh Kepala Puskesmas, dr. Didi bahwa upacara 17an harus diikuti, apalagi beliaulah ketua panitia 17an di Kecamatan Menjalin. Saya pun sudah bersiap-siap dengan batik puskesmas (soalnya tidak ada baju  dinas :P) dan saya sempat mencari-cari celana kain hitam. Ternyata oh ternyata tertinggal di Pontianak. Pada akhirnyalah, saya berupacara dengan blue jeans. :D  

Sambil membawa mobil ambulans untuk siaga kalau ada yang perlu dirujuk ke Puskesmas, saya pergi ke lapangan Seboro, lapangan rumah adat dan lapangan bola di Kecamatan Menjalin. Saya pikir saya akan berdiri di belakang barisan PNS. Ternyata saya disuruh untuk duduk di tribun undangan, dan tidak tanggung-tanggung, di tribun terdepan. Satu baris dengan Pak Camat, Kapolsek, Komandan Kodim, dan para isterinya. Saya sudah kepalang kagok, dan yang membuat saya senang adalah pandangan saya ke depan, dimana terlihat barisan siswa dan PNS yang bejejer di depan. Ya ampun, selama ini saya yang berdiri di depan, ternyata bisa juga duduk manis di tribun dan tidak kena terik matahari.    

View lapangan

Saya (berbaju merah), bersama Pak Camat (Pak Theotimus), Pak Kapolsek, Kepala Desa, Kepala Puskesmas dan Staf Polsek Menjalin

Kalau mengenang upacara ini, saya memang tidak asing soal upacara. Saya sejak TK di Immanuel, saya menjadi komandan upacara. Ketika di SD Suster, "kasta" menurun dulu dari pembaca doa, dan pernah juga menjadi pembaca susunan acara upacara. Di SMP Suster saya menjadi tim rekorder pengiring mengheningkan cipta dan di kelas III menjadi komandan upacara. Saya masih ingat, tim kelas kami IIIA SMP dulu kelas kami menjadi kelas terbaik dalam lomba upacara dan saya menjadi komandan upacara terbaik. Senangnya!  

Upacara memang selayaknya diikuti untuk mempertinggi kecintaan terhadap negeri ini. Tapi jangan contohi saya yang sudah tujuh tahun tidak upacara bendera hehehehe.... 

Jumat, 10 Agustus 2012

Selamat Jalan, Pit!

Saya masih tidak percaya. Sungguh tak percaya. Hidup ini begitu banyak dengan lika-liku ceritanya.

Saya tengah di Jalan Lintas Kalimantan, tengah dalam tugas beberapa hari di kabupaten tetangga. Di tengah sinyal yang hilang timbul, saya mendapat kabar lelayu dari status-status rekan di FKUAJ.

Sahabat saya, rekan saya di Atma Jaya, Peter Wijaya telah berpulang pada hari ini pukul 14.55, setelah berjibaku dengan hidupnya.

Pada pagi hari ini memang saya ada mendapat kabar bahwa ia kemarin malam mengalami kecelakaan bermotor di Yogyakarta, dan kemudian mengalami perdarahan di kepalanya serta patah tulang, hingga ia tak sadar. Saya baru dapat kabar itu pada pagi hari.

Kabar begitu cepat, kemudian pada pukul 15an setelah saya mendapat sinyal, dan kabar lelayu itu muncul. Seketika saya terdiam tak percaya. Dan segala sangkalan berkecamuk. Mengapa dia Tuhan?

Saya dan Peter memang sempat banyak berinteraksi, terutama sejak kami dalam satu stase di Kebidanan. Kemudian dia sempat bergabung dalam Tim Editorial TanyaDokterAnda.com. Yup, kami sempat wara-wiri bersama selama 2-3 bulan itu, bersama-sama meliput acara, rapat dan lainnya. Ia pun banyak bercerita tentang rencana hidupnya, ambisi hidupnya, yang disebut cita-cita. Ia sangat mendambakan menjadi seorang geriatri. Ia amat bersemangat dalam berusaha mewujudkannya.

Sebagai seorang sahabat, ia begitu baik, tidak pernah marah atau mengambek. Selalu senyum dalam segala keadaan. Orang yang mungkin awalnya kesal pun pada akhirnya tak jadi berangkara. Yang saya kenang juga humorisnya yang begitu tinggi dan lugunya yang membuatnya apa adanya. Terutama pula rasa ingin tahunya, tentang segala hal yang memperluas wawasannya.

Terakhir saya bertemu dengannya ketika saya dan rekan-rekan mengikuti pelatihan Hiperkes di Yogyakarta pada Maret lalu. Memang pada Mei atau Juni lalu, ia sempat ke Kalimantan Barat dalam rangka bakti sosial dari RS Bethesda, Yogyakarta. Tapi kami tak sempat bertemu.

Waktu begitu cepat Pit. Terlalu cepat lu kembali ke surga. Gua masih ga percaya bahwa lu sudah nggak di sini. Terlalu muda untuk lu meninggalkan kami. Tapi dengan semua apa yang sudah lu jalani, kami percaya lu, dokter yang baik, akan tetap bahagia di sisi Bapa di Surga.

Selamat jalan Peter. Sampai jumpa sahabat.

Saya bersama Peter saat kami bersenda gurau saat koas kebidanan di RS Atma Jaya. Foto diambil 31 Januari 2011, menjelang jaga malam.

*Sebuah tulisan di Tayan.

Selasa, 17 Juli 2012

Punya Blackberry, Benci Tapi Terpaksa

Ketika jaman-jaman tahun 2009,  ketiksa saya masih koas, saya memang tidak tertarik pada Blackberry. Mungkin yang saya lihat nilai plusnya, blackberry memiliki mobile internet yang lebih mahir dari ponsel lainnya, sehingga bisa menjadi alat pencari jawaban instan terhadap pertanyaan konsulen. BBM? Tidak tertarik.

BB termutilasi milik rekan saya, Ronald. Termutilasi dalam perjalanannya ke Yogya.


Well, saya memang fansnya Steve Jobs, jadi yang bisa membuat liur saya menetes adalah iPhone tentunya. Ya, saya tidak tertarik dengan Blackberry.

Saya melewatkan beberapa 2 siklus mayor dan 5 siklus minor dengan lancar jaya tanpa BB. Namun pada suatu ketika saya pun geram, ketika jarkom alias jaringan komunikasi via SMS sudah semakin meredup dan terkubur. Semua tersampaikan lewat BBM. Termasuk info, dosen datang, tugas-tugas, dan lainnya. Semua lewat BBM. Akhirnya mau tak mau pun saya menggunakan BBM, jika tidak saya masuk dalam jaman tanpa komunikasi.

Saya pun dibelikan BB Gemini 8520. Ini pun atas rekues adik saya yang gencar menginginkan BB. Saya pun mengangguk saja ketika ditanya apakah saya ingin dibelikan. Dan segala keluhan pun dimulai. Dari awal saya menilai, teknologi BB memang tidak sebanding harganya. Harganya terlalu mahal. Masih lebih baik ponsel Ericsson atau Nokia dengan harga yang sama, atau lebih layak iPhone dengan harga yang lebih mahal dengan fitur yang ditawarkan. Ya, saya menggunakan BB karena BBM. Setelah saya kerja sebagai editor, BB memang menjadi alat yang membantu yaitu sebagai media intenet bergerak dan media sosial (Namun ketika saya membeli iPad, bye-bye internet BB).

BB memang dahsyat di Indonesia. Semua memiliki BB. Bahkan ketika saya di Menjalin, banyak juga petugas Puskesmas yang menggunakan BB. BB sudah merasuki pedalaman bahkan di Kalimantan. Kecintaan masyarakat kita dengan texting memang melambungkan nama BB.

Kini BB saya timbul banyak masalah, entah mungkin karena usianya yang sudah uzur? Baterai sudah saya ganti empat, bukan, lima kali. Slot charger-nya sekarang bermasalah. Dan karena di Menjalin tidak ada blackberry shop, jadi perbaikan ini harus menunggu kepulangan saya ke Pontianak.

Memang apa yang saya rasakan, tanpa BB lebih damai. Tidak banyak spam-spam, test contact, dan entah hal remeh temeh yang harus saya periksa ketika bunyi atau indikator BB menyala. Memang ada hal yang penting juga, namun semuanya bisa dipindahkan melalui SMS di nomor saya dengan HP Nokia X1 yang sangat sederhana.

Namun saya masih berpikir apakah BB ini harus diperbaiki dan dilanjutkan dengan segala kekurangannya, atau membeli BB baru (saya memang agak melirik Armstrong dengan segala keekonomisannya), atau saya tidak membeli BB lagi? Saya mau iPhone.

Selasa, 10 Juli 2012

Balada Air PTT

Suatu hari itu saya ingin mandi pagi. Ketika sampai di WC rumah dinas, saya melihat bak tinggal sepertiga. Saatnya mengisi air, pikir saya. Saya pun mencolok mesin pompa air yang ada. Namun air tak ada setetes pun yang keluar. #kemudianhening.

Saya tak menyangka bahwa suatu saat saya akan merasakan yang namanya kekurangan air. Ya, saya masih ingat dulu sekali, mungkin 11-12 tahun lalu ketika saya belum beranjak ke Jakarta dan masih menetap di Pontianak. Saat itu aliran PDAM mati, dan ayah saya pun mau tak mau beli air jerigenan. Saya masih ingat, saya mandi dengan berdiri di atas waskom. Ya, air bekas bilasan mandi ini akan digunakan lagi untuk membilas BAB atau BAK di kloset. Efisiensi, katanya ayah.

Dan saat ini, di Bumi Samabue, Menjalin. Saya pun merasakannya lagi. Saya seperti buaya di game Where's My Water? yang "nangis" karena tidak ada air. Tentunya saya tak menangis secara harafiah. Namun otak saya pun berteriak, saya mau mandi dan cuci dengan apa nanti?

Di Bumi Samabue, musim hujan sepertinya sudah mulai berlalu dan frekuensi hujan mulai berkurang. Jika kemarau tiba, konon kata Perawat, adalah masalah bagi rumah dinas dokter. Ya, rumah dinas dokter hanya memiliki sumur dangkal, bukan sumur air tanah yang dalam. Jadi, sumur ini mau tak mau bergantung dengan air hujan yang turun.

Nampung air!


Air ini memang saya gunakan untuk MCK (mandi, cuci, kakus). Untuk air minum, saya berlangganan air galonan dari perawat yang membuka usaha air galonan (konon, airnya dari mata air gunung di Anjongan). Ketika air tak ada, saya harus berpikir keras mana yang harus diprioritaskan. Saya mungkin saja tak mandi, kalau menurut saya badan tidak bau-bau amat. :D Kalau masalah kakus sepertinya tidak bisa ditawar karena menahan BAB adalah derita terberat di dunia. Hehehehe XD. Untuk cuci memang menggunakan air yang cukup banyak apalagi kalau cucian baju sangat banyak. Biasalah, saya menumpuk baju, sampai tampak persediaan baju bersih sudah tak cukup baru akan dicuci.

Air hujan adalah rejeki bagi saya, dokter PTT di Menjalin. Saatnya saya menampung air hujan yang menetes dari atap dan berharap-harap sumur saya nan dangkal itu terisi sebanyak-banyaknya. Saya pun mengamati setiap tetes air yang jatuh dari atap rumah. Mungkin, saya berkilah dalam hati, ini pengalaman bagi saya juga untuk dapat menghargai setiap tetes air yang ada.

Saya memang memikirkan apakah saya sebaiknya membuat penampungan hujan, tapi setelah menghitung cost-nya, saya tinggal 8 bulan lagi. Ya, saya memutuskan untuk menikmati "derita" ini. Toh, kalau hidup saya mulus-mulus saja di PTT ini, nanti tidak ada kisah yang bisa saya bagikan di blog ini dan untuk anak cucu saya kelak.

Dituliskan di Rumah Dinas Dokter Puskesmas Menjalin. Selasa, 10 Juli 2012. 15:30 WIB.
Di saat sore dengan hujan yang hanya rintik-rintik saja X(

Rabu, 04 Juli 2012

Renungan PTT Bulan Ke-3: Biaya Jasa Konsultasi Dokter yang Terlupakan

Siapa yang di dunia ini tidak mau tidak dihargai? Tentu semua orang mau untuk dihargai selayaknya dan sewajarnya. Menghargai adalah suatu keinginan dari semua manusia. Penghargaan adalah suatu keinginan tertinggi, bahkan suatu bentuk aktualisasi diri, yang menjadi puncak dari kebutuhan manusia menurut Teori Maslow.



Saya sebagai dokter pun ingin dihargai selayaknya kami dihargai. Saya menghargai Anda, Anda pun menghargai saya. Suatu hal yang sudah tercantum erat dalam aturan emas.

Tulisan ini berawal dan tercetus dari pengalaman tadi siang bahwa ada pasien yang menghitung-hitung harga obat satu per satu karena menurutnya biaya berobatnya mahal. Ia tidak menghitung sesuatu yang disebut biaya konsultasi atau biaya jasa dokter. Pelayanan medis bukanlah pelayanan farmasi semata. Memang, jika dibalik, pelayanan farmasi adalah salah satu bagian pelayanan medis.

Dokter di desa-desa seperti saya ini memang tidak memiliki apotik, sehingga saya perlu menyediakan obat yang saya anggap perlu untuk pasien saya. Tak jarang saya juga harus mencari kesana kemari di kota untuk obat yang tidak ada pada distributor. Saya pun mencari obat yang kami anggap optimal bagi pasien, karena saya pun harus memikirkan bagaimana kantong pasien di desa. Kalau saya memilih bersikap tak mau tahu, tentu obat bermerek yang nilainya hingga ratusan ribu rupiah mungkin bisa saja saya bebankan. Namun semuanya diperhitungkan sedemikian rupa hingga semua pun baik bagi pasien dan juga tentu baik bagi saya.

Memang dalam renungan saya sebelumnya, bahwa saya memiliki pikiran apakah biaya yang saya bebankan menambah sekali derita pasien. Namun di satu sisi, saya pun harus memikirkan isi dapur dan masa depan saya. (Anak istrinya saya mau makan apa nanti?) Saya pun mendapat ilham generalisasi bahwa semua hal di dunia ini perlu sedikit surplus bagi siapapun yang menjalani usahanya. Kalau tidak dia mau makan apa? Tentu dalam penentuan surplus tidaknya ini harus mempertimbangkan banyak hal, jangan sampai keterlaluan. Lagi-lagi sewajarnya. Sesuai dengan teori analisis transaksional Thomas Harris: I'm OK, you're OK.

Sembari menulis ini saya mengingat kembali kata-kata dari guru saya, dr. Djoko T. Basuki Sp.OG, bahwa, "Kamu harus PTT, untuk mendewasakan diri kamu sebagai dokter." Ya, saya setuju. Setidaknya inilah yang berkecamuk dan berbaur dalam pikiran saya, segala idealisme saya dipadukan dengan apa yang terjadi dalam masyarakat, membentuk sesuatu hal yang disebut realitas kehidupan seorang dokter.

Selamat datang dalam rimba raya kedokteran.