Sabtu, 16 Februari 2013

Sentuhan Humanis Dokter yang Kian Terkikis

Dokter terlalu percaya dengan teknologi. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sangat penting terabaikan dokter. (Menjadi Pasien Cerdas - dr. JB Suharjo B Cahyono, SpPD, hal 103)

Ketika saya membaca dua kalimat di atas, saya merasa terpukul. Terpukul untuk kembali membuka hati saya, dan merenungkan satu setengah tahun rekam jejak saya sebagai dokter. Apakah saya demikian?

Dalam beberapa paragraf sebelum kalimat tersebut, penulis buku tersebut menceritakan suatu bias dalam praktik kedokteran modern. Para dokter lebih tertarik pada teknologi dibandingkan diri pasien. Hubungan relasi pasien dan dokter kian menjauh. Beberapa dokter bahkan dokter spesialis dapat mengalami degradasi dalam keterampilan klinis karena sudah terlanjur adiksi dengan teknologi.

Saya mencoba membuka hati saya. Bagaimana dengan selama ini saya berpraktik di desa Menjalin ini. Saya akui bahwa saya pernah seperti kalimat itu. Misalnya pasien dengan menggigil dan demam sekian hari, saya rujukkan ke bagian laboratorium puskesmas untuk pemeriksaan darah tebal untuk mencari parait malaria. Atau kalau saya di kota, mungkin saya sudah mengambil lembar permintaan pemeriksaan dan mencentang hematologi lengkap, serologi dengue, dan serologi typhoid.

Ini tampak seperti suatu "otomatisasi" atas suatu "adiksi". Saya masih ingat kata-kata almarhum dr. AJ Gozali, SpPD bahwa 80 sampai 85 persen dari diagnosis sudah ada di anamnesis. Sisanya adalah pemeriksaan fisik dan sebagian kecil pemeriksaan penunjang.

Ya, sebagian besar petunjuk diagnosis ada di cerita dan keluh kesah pasien. Namun sudahkah saya menghabiskan waktu saya yang lebih untuk mendengarnya? Sudahkah saya memberi sentuhan manusiawi kepada pasien, bukan semata-mata menusukkan jarum lancet untuk pemeriksaan darah? Saya lagi-lagi teringat kata-kata guru saya dr.Jimmy Barus SpS, "Habiskan lebih banyak waktu di samping pasien." Ya, inilah sirat maknanya.

Sebuah kata-kata sindiran dari Dr Mimi Guarneri di "The Heart Speaks", "Beberapa Dokter modern memiliki mental montir dengan menganggap tugas mereka adalah menemukan masalah secepat mungkin dan segera memperbaikinya, dan bukannya membangun hubungan jangka panjang."

Jangan sampai kita membuat sentuhan manusiawi akhirnya terkikis habis oleh teknologi. Jangan sampai pada akhirnya kita hanya menangisi sebuah ironi. Saya pun bersimpulan untuk kian giat mendengarkan keluh kesah pasien dan memberikan sentuhan humanis kita. Kalau kita menjadi pasien, bukankah demikian pula yang kita inginkan. Aturan emas terjadi.

 

Saya Fans Jokowi-Ahok

Ya, saya adalah termasuk orang yang dulu hingar bingar dengan Pemilukada DKI Jakarta 2012. Walaupun saya bertugas di Menjalin, Kalimantan Barat, saya masih bisa mengikuti berita tentang cagub dan cawagub pilihan saya melalui internet.


Ya, saya adalah fans Jokowi-Ahok. Pertama saya melihat mereka memiliki prestasi yang luar biasa di jabatan terdahulu mereka. Kedua, saya ingin penyegaran. Dan ternyata semua tak hanya omong kosong belaka.

Setelah pelantikan mereka, saya termasuk rajin menyambangi video-video unggahan PemprovDKI. Di sini saya mendapat sesuatu yang luar biasa. Suatu keberanian yang sudah lama terkubur, suatu idealisme cita-cita yang dulu tampak mustahil kini bangkit kembali.

Saya merasakan aura Sukarno. Dulu konon pidato dan perkataan Sukarno amat ditunggu dan didamba rakyat. Kini semua terbaharui dalam diri Jokowi-Ahok.

Setiap menonton video ini saya merasakan mendapat sesuatu baru yang seharusnya terjadi pada pemerintahan tata kota. Dan dalam video ini pula saya menyegarkan inspirasi bahwa kita bekerja untuk melayani. Ahok mengingatkan bahwa sekaya-kayanya orang tidak ada batasan puas, kecuali kalau pikiran sudah diatur dengan label "melayani".

Dengan Jokowi-Ahok kita diingatkan juga untuk memanusiakan manusia dengan segala kemampuan kita dan lobi-lobi kita. Semua pasti ada jalan keluarnya untuk mengatasi masalah tanpa menginjak-injak harkat dan martabat manusia.

Dengan kecerdasan Jokowi dan Ahok kita diingatkan lagi dengan segala sesuatu yang seharusnya terjadi dan yang tertulis dalam keilmuan dan teks akademik. Tidak ada lagi main mata, menilap uang, dan menjilat sana-sini. Semua adalah hal yang seharusnya terjadi.

Dan kita siap untuk Jakarta Baru.

 

Jumat, 08 Februari 2013

Denganmu

Denganmu

Inginnya aku dapat nikmati jernihnya lautan Maladewa
Inginnya aku berkeliling Angkor Wat
Inginnya kita duduk menatap lampu Eiffel
Inginnya kita bersama menikmati hangatnya tteobokki di jalanan Seoul

Denganmu
Inginnya kau berteriak di pundakku kita nikmati roller coaster Disneyland
Inginnya aku membantu kamu mendaki Wat Arun
Inginnya kau membasuh peluhku di teriknya savana Afrika
Inginnya kau tertidur dalam pelukkanku sepanjang subway Tokyo

Denganmu
Aku ingin seirama kita menjelajah
Menjelajah dunia yang menjadi mimpiku
Dan juga bagian mimpimu
Yang kita sebut sebagai mimpi kita

Menjalin, 26 Januari 2013
Sambil membuka buku Lonely Planet...

 

Rabu, 16 Januari 2013

Resensi Buku: Kangen Indonesia - Indonesia Di Mata Orang Jepang

Walaupun saya berada di desa yang terpencil di Kalimantan, hasrat saya masih terlalu tinggi untuk membuka internet. Suatu mukjizat bahwa kecamatan saya telah dilalui sinyal 3G dalam dua bulan terakhir, walau masih suka hilang timbul. Kalau demikian yang tak bisa dilakukan tentunya adalah mengunduh alias download! :)


Lihat bukunya, jangan tangannya :P

Ketika saya membuka website toko buku online, saya tertarik pada suatu judul "Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang" karangan Hisanori Kato. Saya pun mengeklik beli (tentunya lebih mudah dan pasti daripada saya harus ke Gramedia di ibukota propinsi). Yang membuat saya tertarik adalah, saya adalah orang yang selalu penasaran dengan apa komentar orang lain tentang Indonesia, negeri saya ini. Ya, saya sebenarnya orang yang amat gerah kalau warga Indonesia sendiri memaki dan mencela negaranya sendiri lantas memuja-puji negara orang lain. Apakah rumput tetangga selalu lebih hijau? Saya selalu membela, "Tidak juga." Yang kedua, buku ini terbitan Penerbit Buku Kompas, salah satu harian nasional favorit saya.

Menjadi sebuah hal yang miris, kalau ketika ternyata ada orang lain, bahkan warga negara lain, yang menjadi jatuh cinta pada negeri ini. Walau, memang cinta tak bisa dipaksakan. Inilah kisah perjalanan Hisanori Sato, seorang Jepang, yang seringkali berkunjung ke Indonesia dalam 20 tahun terakhir perjalanannya.

Ia cinta Indonesia dengn hal sederhana. Hal yang mungkin kerap kali membuat kita jengkel, membuat orang Indonesia malah sebaliknya ingin Indonesia seperti Jepang atau Dunia Barat. Namun Kato membantu menyadarkan bahwa setiap bangsa memiliki karakter khasnya masing-masing, itulah bangsa itu.

Kato bercerita bagaimana ia bisa menikmati segala sesuatunya di Indonesia, mencoba berpikir positif seperti kebanyakan orang Jawa, memahami segala jumputan nasi padang dibandingkan renyahnya makanan cepat saji ala Barat atau makanan ala convenience store. Ia menikmati setiap segi manis-pahitnya Indonesia, dan diformulasikannya dalam sebuah kenangan indah dan kerinduannya pada bangsa ini.

Membuat Indonesia seperti rumah keduanya tentu bukanlah hal yang mudah bagi Kato. Apalagi saya mengenal teman-teman saya sendiri, yang notabene asli Jakarta, malah ingin angkat kaki dari ibukota ini.

Macet, banjir... Tapi apakah kita pernah melihat keramahan kita dengan abang penjual nasi goreng, atau manisnya penumpang Kopaja di sebelah kita yang spontan menawarkan segelas air mineral di kala adzan maghrib bergema saat Ramadhan? Ya, tulisan ini, bagi saya, mengajak kita bagaimana kita kembali bisa menyeruput teh hangat kita dengan santai walau dunia tampaknya ini begitu pelik.

Kamis, 10 Januari 2013

Ngahe Diri' Nian

Ketika alapm baganti siang
Siang baganti malapm
Lekoa uga' diri' jaku
Limpahe rasanya nang barubah

Ketika diri' diapm
Bapikir ka dalapm hati

Ngahe diri' nian ada ka' dian
Ngahe diri' nian masih basengat
Ngahe diri' nian masih bajalatn
Ahe nang diinginkatn Jubata jaku

Nanak ada lagi uang manyak
Nanak ada lagi makanan nang repo
Nanak ada lagi nang bera-bera
Kade sengat nian telah diambil Jubata sabesap mata

Auklah kade memang lekoa
Untuk ahe hidup untuk babaro
Bukeknya kita' arus hidup barage
Berbuat edo', bacuramin ka Saruga

Aku matakatn pada diriku
Hidup tak lebih dari sejentik jari Tuhan
Milekah aku dipanggilatnkanNya
Kita samua arus basiap-siap

Manyalitn, 10 Januari 2013