Ahok: Kalau Dokter Tidak Mau Tolong Orang Miskin, Kami Kejar Anda!
"Bagi saya yang penting nyawanya kita tolong. Saya bilang sederhana saja, rumah sakit tidak perlu bayar, kan bisa hidup karena APBD. Kelas III saja anda urus. Di kelas I dan kelas II silahkan cari untung.
Kalau kelas III Anda masih peras uang rakyat, saya sudah kerjasama sama orang Pajak. Dokter paling takut sama orang Pajak. Kalau kami ditagih terlalu mahal dan rumah sakit tidak bisa buktikan, kami akan kejar Anda, kerjasama PPATK. Jadi tahu persis transaksi Anda. Saya akan tagih pajak Anda. Saya hanya minta Anda bayar. Saya tahu mobil, listrik, rumah yang Anda bayar. Kalau nggak mau kerjasama dengan kami menolong orang miskin, kami akan kejar Anda!," tegas Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat berbicara tentang Kartu Jakarta Sehat di depan para dokter di RSUP Husada, Jl Raya Mangga Besar. (detik)
Saya dikirimkan sebuah pesan dari sejawat saya sesama Dokter PTT, ia mengirimkan satu tautan dari Facebook yang berisikan foto dan berita dari akun Partai Gerindra seperti yang tersebut di atas. Saya sebagai Dokter dan fans Jokowi-Ahok merasa perlu untuk berkomentar.
Di sana dituliskan bahwa Pak Ahok berkata: "Kalau kelas III Anda masih peras uang rakyat, saya sudah kerjasama orang Pajak. Dokter paling takut sama orang Pajak..dst...Kalau nggak mau kerjasama dengan kami menolong orang miskin, kami akan kejar Anda."
Dokter dan Pajak
Saya rasa keliru untuk mengatakan bahwa Dokter paling takut sama orang Pajak. Di sini diberi kesan secara implisit bahwa "Dokter menggelapkan pajak." Menurut saya penggunaan kata "Dokter" keliru. Apakah IDI atau profesi ini ada menganjurkan untuk menggelapkan pajak? Tidak ada. Apakah dalam fakultas kedokteran ada dikatakan demikian? Tidak ada. Apakah "Dokter" (baca: Profesi Dokter) yang melakukan ini? Bukan! Jadi, bukanlah "Dokter" di sini. Yang bermain di sini adalah oknum-oknum yang ada. Tidak bijak menggunakan frase pars pro toto, sebagian untuk seluruhnya.
Jadi saya tidak rela, profesi saya disebut penggelap pajak. Jika ada yang berlaku demikian, kejar mereka. Jangan kejar profesi dokter.
Dokter dan Orang Miskin
Jelas sejelas-jelasnya, bahwa dokter tidak boleh memandang sosioekonomi dalam menolong. Kami bukan pedagang yang tak ada uang tak ada barang. Dalam lafal Sumpah Dokter Indonesia jelas: "Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan."
Tetapi perlu diketahui, Dokter bukan dewa. Dokter akan bekerja keras sekuat tenaga demi pasien, sesuai dengan sarana dan fasilitas yang ada. Saya di desa, juga mengobati semua orang dengan prasarana dan sarana semampu kami. Jika ada yang sanggup membayar jasa, ya saya mendapatnya. Menerima imbalan atas jasa yang layak sesuai dengan jasa adalah hak bagi setiap pemberi jasa, termasuk Dokter. Tetapi pertolongan dokter terutama didasarkan pada perikemanusiaan. Di sinilah poinnya.
Namun, Saya dan tenaga kesehatan di desa saya (termasuk bidan) sendiri juga seringkali tidak dibayar oleh pasien, terutama pasien kecelakaan atau pasien mabuk setelah semalam suntuk menjahit luka. Apakah saya atau kami ini menuntut ke polisi karena saya tak dibayar? Secara hati nurani saya, tidak. Saya merasa tidak patut. Saya telah menjalankan kewajiban saya walau hak saya tertinggal. Tetapi ketika keadaan berbalik, kami dianggap tidak pro orang miskin, tentu saya pun kecewa.
Dan juga dokter juga wajib merujuk pasien bila diluar kemampuannya. Misalnya pada kasus yang tak bisa ditangani, bukannya ini dokter menolak pasien. Namun celaka tiga belas, jika pasien tersebut kebetulan miskin dan menjadi makanan media massa. Dokter menjadi sasaran empuk. Kata "merujuk" berpeyorasi menjadi "menolak". Sungguh suatu hal yang keliru.
Tetap Harus Netral
Tak ditampik, dokter saat ini mudah terjerumus dan dijerumuskan. Media massa dengan mudahnya membumbung tinggikan berita tentang dokter. Lihat saja kasus Dera, yang akhirnya ke KJS, dan akhirnya merembet ke pengejaran Dokter atas penggelapan pajak. Ya, sekali lagi profesi ini empuk untuk disasari.
Namun, kita pun perlu memandang dengan kedua belah mata. Sisi baik dari suatu profesi. Tidak semua dokter demikian. Katakan yang baik pada yang oknum yang baik. Katakan yang buruk pada oknum yang buruk. Tapi jangan buruk muka cermin dibelah, jangan salahkan sisi sang profesi yang tidak tahu-menahu.










Seorang dokter umum yang meminati Ilmu Penyakit Dalam dan Kardiologi, Kanisian, poliglot (kini sedang memperdalam Bahasa Korea), pecinta jalan-jalan, pecinta sejarah.
