Sabtu, 19 Juni 2010

Pasien Gangguan Jiwa: Merangkul Mereka




Kini, saya sudah berada di minggu ke-3 di stase Ilmu Kedokteran Jiwa dan Perilaku. Sehari-hari memang saya menghabiskan waktu di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan, atau oleh masyarakat lebih populer disebut RSJ Grogol.

Ya, namanya sudah RSJ, berarti pasien yang ada adalah pasien dengan gangguan jiwa. Ini sebuah pengalaman yang menarik, pertama kalinya, hingga menegangkan. Bagaimana tidak, mungkin kalau kita bertemu dengan pasien lainnya sehari-hari, kita lebih mudah untuk membina hubungan dokter-pasien dan berkomunikasi satu sama lainnya. Tapi bagaimana dengan pasien gangguan jiwa? Akan seperti itu pulakah?

Bayangan Stigma

Di bayangan saya memang memiliki stigma, yang saya sadari sudah terlekat sejak kecil. Saya masih mengingat dulu di samping rumah saya di Sisingamangaraja, Pontianak. Adalah seorang ibu-ibu berperawakan menor, berperilaku aneh, berbicara cadel, dan bisa saja membuka baju dia bila disuruh. Pekerja tetangga saya sering mengerjai dia dan akhirnya memperolok dia, "Orang gila!". Selain itu, sering pula saya menemukan orang tanpa busana, jorok, hanya berjalan-jalan saja, tidur di trotoar, dan tak jarang mengamuk. Dan itu juga kata ayah saya, "Itu orang gila." Dan korelasi yang saya dapat adalah orang gila itu ada gangguan jiwanya. Dan saya pun berpikir sejenak,"Apakah saya akan bertemu seperti bayangan saya itu." Saya pun mula terbukakan ketika belajar Psikiatri, apa itu gangguan jiwa, apa itu rentang gangguan jiwa, dari Gangguan Mental Organik hingga berbagai gangguan semacam penggunaan zat psikoaktif, skizofrenia, manik-depresi, neurotik, dan lainnya. Ternyata sangat luas.

Namun tetap saja, jantung ini berdebar, pasien macam apa yang akan saya temui nanti.
Dan apa yang saya temukan di RSJ, memang pasien dalam rentang yang lebar. Memang ada yang berperilaku diam-diam saja, ada yang paranoid, gaduh-gelisah, namun tak sedikit yang bersahabat. Tetapi jujur saja, ketika masuk bangsal, saya masih tetap deg-degan, bagaimana kalau pasien mengamuk? Namun untungnya, itu hanya pikiran yang bodoh. Memang itu bisa saja terjadi, namun kalau bisa membina rapport yang baik, membuat pasien bisa merasa nyaman, dan itu bisa terjadi.

Dua Pengalaman

Ada pengalaman pula bahwa ada pasien yang tengah curiga gaduh-gelisah tiba-tiba menghardik saya, "Mana tangan dokter!". Terus-terang saya bingung apa saya memberi tangan saya atau tidak. Akhirnya saya berpikir mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Saya memberi tangan saya. Tapi hasilnya, tangan saya dijabat begitu erat dengan ekspresi mukanya yang galak. Saya bingung. Namun saya mencoba, "Sudah ya bu ya. Dokter mau keluar dulu.", dengan nada rendah. Untungnya, pada akhirnya ia melepaskannya.

Saya juga ada pengalaman dengan pasien yang logorrhea (banyak bicara) dan flight of ideas (ide pikirannya banyak). Dan seringkali kepala saya pusing, karena tak biasa. Mereka bercerita banyak dan berlompat-lompat, dan sulit dihentikan. Namun saya berpikir, mungkin ini karena ketidakbiasaan saya. Tentunya, saya perlu untuk biasa. Allah bisa karena biasa.

Apakah Mereka Berbeda?

Pada akhirnya saya mendapat jawaban bahwa mereka toh sama saja dengan pasien lain, kita dapat berkomunikas, berinteraksi dengan mereka, dan pastinya dengan cara berbeda. Cara yang berbeda ini juga bukanlah hal yang luar biasa, anggaplah pasien dengan gangguan saraf dengan pasien patah tulang, juga cara komunikasinya berbeda. Begitu pula dengan pasien gangguan jiwa.
Kita harus kembali disadarkan bahwa mereka tetaplah pasien, tetaplah sesama. Mereka bukan alien, atau orang yang perlu disingkirkan. Mereka memang kini termarjinalisasi oleh lingkungan sosial, namun kita yang sadar jangan ikut menyingkirkan atau bahkan memperburuk keadaan. Justru, kita perlu merangkul mereka.

Senin, 24 Mei 2010

Harus Ke Jerman, Suatu Saat

Sepertinya ini sekitar tahun 2003-2004.
Saya bersama rekan-rekan di Goethe Institut Internationes Jakarta.



Jerman? Ya, nama suatu negara yang tujuh tahun lalu muncul dalam benak saya dan ayah saya. Suatu negara yang harapannya saya melanjutkan studi. Tetapi, dengan pertimbangan bahwa keilmuan yang saya harapkan akan lebih baik dipelajari di dalam negeri, akhirnya saya memutuskan untuk kelak saya berkunjung untuk kursus atau seminar kedokteran saja di sana.

Saking saya mempersiapkannya, sejak kelas 2 SMA, saya sudah memulai kursus di Goethe Institue Internationes Jakarta di bilangan Menteng, dekat sekali dengan Kanisius, almamater saya. Tinggal jalan kaki saja. Dua tahun saya menghabiskan waktu di sana, walaupun pada akhirnya saya tidak mengambil ujian Zertifikat Deutsch (ZD), masih agak menyesal sih. Tapi walaupun demikian, saya tidak menyesal bahwa telah mempelajari bahasa Jerman ini. Ya, secara garis besar, banyak membantu dalam mempelajari kedokteran, paling tidak dari bahasanya. Paling tidak dari pelafalannya, seperti roentgen (demikian penulisan yang benar, dan dilafalkan: /ruensyen/). Dan syukurnya, saya masih bisa mengingat sedikit-sedikit tentang bahasa ini.

Saya juga mempelajari budaya, walau itu terbayang dalam benak fantasi saya. Bagaimana bisa menikmati Bradwurst yang lezat, minum Bier, budaya dan suasana Eropa yang kental. Aduh, sepertinya pengalaman yang bakal menarik. Saya masih menyimpan bertandang di Jerman menjadi hal yang akan saya lakukan. Kalau pun saya tidak bisa belajar di sana, saya paling tidak harus bisa berkunjung. =) Mudah-mudahan kelak Tuhan mengizinkannya ya.

Ngomong-ngomong soal Jerman, saya jadi teringat rekan SMA saya yang bernama Frans. Ada kisah menarik. Dulu saya yang mengajaknya untuk belajar bahasa Jerman, bahkan seingat saya, saya 1 tahun lebih dulu darinya. Namun, hasilnya sungguh luar biasa! Dia yang akhirnya ke Jerman, melanjutkan studinya di sana. Hehehe, mungkin dulu tidak terbayang, namun dengan usaha keras, hal itu bukanlah mustahil. Mudah-mudahan saya bisa menyusul ke sana ya, Frans!

Kamis, 20 Mei 2010

Catatan Kuliner Koas Forensik (2-tamat)

Ternyata oh ternyata! Saya masih memiliki hutang untuk menulis lanjutan Catatan Kuliner Koas Forensik. Yup, memang di minggu kedua hingga keempat di Semarang, saya tak mampu lagi makan segencar di minggu pertama. Mengapa? Soalnya mulai kismin (baca: miskin, uang yang ada jauh berkurang). Tapi beberapa catatan ini, mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi Anda, terutama koas yang akan bertandang ke Semarang. Mari mas!

  • Semawis. Semacam festival jajanan di Pecinan Semarang. Hanya buka di Malam Sabtu hingga Malam Senin (Jumat Malam hingga Minggu Malam). Makanannya beragam, dari nasi campur, siomay, hingga mie cool. Mie cool? Ya, itu semacam es sirop dengan jelly berbentuk mie, jadi memakannya pun harus menggunakan sumpit.
  • Dim Sum All You Can Eat di Restoran Mutiara. Lokasinya di Setiabudi, di sebelum Pom Bensin Gombel. Yang asik, pandangan restorannya bisa melihat hamparan kota Semarang yang lebih rendah. Restoran ini berada di atas bukit. Dim Sumnya overall lumayan, hakau-nya lezat. (Saya pecinta hakau). Namun sayang, somai-nya masih kurang enak. Harganya hanya dimsum (tak termasuk bubur) adalah 45.000++ dengan 10 porsi/orang dan order hingga 18:00 WIB.
  • Roti Swiss. Langganan saya yang ada di Jalan Gajahmada. Favoritnya: Kue spons durian. Hmmm...
  • Nasi Ayam Bu Wido. Ada di jalan ke arah Karanganyar Loyola, di sebelah Roti Swiss. Rasanya lumayan (menurut saya lebih enak Nasi Ayam Bu Nyoto di Mataram), Harga 5000.
  • Soto Neon. Saya lupa nama daerahnya, tetapi dekat Loyola. Yang enak ya, nasi sotonya. Dan favorit saya yang kedua adalah tahu gimbalnya (mirip ketoprak (?))! Yummy! Basonya biasa saja menurut saya. Harga soto sekitar 6000, tahu gimbal 9000.
  • Pondok Makan 78. Ini ada di depan Kariadi, sederetan dengan Mie Lampung dan Rumah Ijo. Rasanya lumayan, kalau merasa bosan dengan Mie Lampung atau Rumah Ijo. Entah mengapa, saya cukup senang dengan Nasio Goreng Kornetnya! Tapi kelemahan dari rumah makan ini, masaknya lammaaa....
  • Nasi Goreng Ayam atau Nasi Gongso Bu Pawon, masih di Jalan Kariadi, di dekat toko galon air Biru. Rasanya enak! Beneran. Ayamnya juga banyak. Dan mungkin resep enaknya adalah, ibunya masak porsi per porsi, tidak rombongan. Tapi jeleknya, ya jadinya lama. Harga per porsi nasi goreng ayamnya 7000.
  • Warung Pecel Bu Sumo. Ada di depan kantor Golkar Jateng. Warungnya sih sederhana tapi ramai, tampaknya warung ini memiliki legenda sendiri. Rasanya lumayan, apalagi bila dihidangkan dengan bakwan hangat. Hmmm... Harga pecel sekitar 5000-10000 tergantung dari ragam isi-nya. Bisa ditampah empal, dan lainnya.
  • The Hills. Ada di dekat perumahan Bukit Sari daerah Gombel, tepatnya di Jalan Bukit Bisma. Lingkungannya sih luar biasa, melihat kota Semarang dari atas, dan restoran yang asik untuk berpacaran (sayang sekali saya tidak bisa menikmatinya hahahaha). Namun, makanannya sendiri mahal dan tidak worthed, apalagi untuk kantong mahasiswa. Begitupula dengan cita rasanya, terlalu biasa. Jadi menurut saya, hanya lingkungan dan suasananya saja yang bisa dinikmati.
  • Kampung Laut. Lokasinya di Puri Anjasmoro, Semarang Utara. Lingkungannya bagus, mengingatkan saya pada Bandar Djakarta di Ancol atau Sei Kakap di Pontianak. Tapi harganya mahal dan rasanya tidak begitu luar biasa. Bahkan D'Cost di Jakarta, masih sebanding!
  • Pujasera Manggala. Ya semacam foodcourt di perempatan jalan. Suasananya lumayan untuk berkumpul, diiringi musik hidup. Yang menarik adalah restoran Hiu Segara, ada berbagai macam menu hiu. Favorit saya: Hiu Goreng Tepung!
Mungkin demikian apa yang bisa saya dokumentasikan. Dan... kalau ada yang punya catatan lain, monggo dikomentarin! Matur nuwun!

Memoar Ilmu Forensik dan Medikolegal: Kultur Jawa

Hari ini adalah hari pengumuman ujian OSCA (Objective Structured Clinical Assesment) untuk kompetensi Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di FK UNDIP Semarang. Dan, puji Tuhan, saya mendapat penilaian A untuk itu. Pada akhirnya, saya pun bisa menghela napas lega. Secara de jure, 4 minggu pembelajaran Forensik ini sudah selesai, dengan menunggu waktu beberapa rekan yang akan remedial pada akhir minggu ini. Dan tak lama lagi pula, saya akan kembali ke kota Jakarta untuk melanjutkan kepaniteraan Psikiatri dua minggu lagi.

Memang di Forensik ini saya mempelajari dan mempraktekkan seperti pembuatan Visum et Repertum yang sebelumnya belum pernah saya buat di masa preklinik, teknik otopsi, masalah-masalah medikolegal seperti informed consent, dan berbagai hukum yang ada. Saya mencoba menelaah benar, karena bila nanti PTT di daerah terpencil yang tidak ada ahli forensiknya, mudah-mudahan saya bisa memahaminya.

4 minggu di Kota Semarang ini memberi banyak kesan, selain kesan jalan-jalan tentunya. Paling menarik adalah ketika saya bisa berinteraksi dengan orang-orang dalam kultur lain. Mungkin di Jakarta, perbedaan kultur sudah hampir sedikit, bahasanya pun demikian. Tetapi mungkin berbeda dengan di Semarang, yang budaya Jawanya sangat terasa. Bahkan lidah ini pun ikut-ikutan medok. Hahahaha... Mungkin lafal saya agak runyam, namun ketika mengucapkan "pinten", "piro", "ndi", "opo", "mbak", "mas", "piye", "toh yo", bisa dimengerti oleh orang lokal. Sekalian belajar bagaimana bisa beradaptasi. Itupun terjadi ketika berinteraksi dengan para supir angkot. Ya, sebagian besar dari kami tidak membawa mobil, angkutan tersayang kami adalah angkot. Bahkan ke Mal Paragon atau katedral, semua dengan angkot. Kadang kala taksi pun menjadi pilihan.

Semarang ini mampu memberi kesan yang baik bagi saya. Dan, suatu kali saya pun perlu bertandang lagi ke sini.

Kamis, 13 Mei 2010

Nadir

Hai sang kelam
Kini aku terbaring
Menatap langit-langit
Yang tanpa noda, tanpa cercah
Dan aku pun ingin seperti itu

Aku melirik kepadaku yang tiada berada
Ketika ku hening sejenak
Seberkas apa yang kupunya
Gegap gempita harta?
Keelokkan paras?
Seuntungnya itukah diriku?
Sekuat Pangrango-kah?

Sesirna itukah aku
Aku nan lara
Bahkan angin pun tertawa pilu
Aku nan terkulai

Aku kembali melirik kepadaku yang tiada berada
Yang mengais sedikit kesempurnaan
Bahkan rintih menjadi tak berarti
Aku mengasah asa dalam puruk

Oh asa, demikiankah aku?
Demikian sulitkah?
Tak bisakah sejuk semilir hadir?
Tak dapatkah hingga titik nadir?

Aku kembali kepada langit-langit
Aku pun merindukannya
Dan tetaplah hati ini takkan lelayu

Semarang, 13 Mei 2010