Kamis, 21 Maret 2013

Terlanjur

Tiada pernah ku bersangka

Tiada pernah ku berkhayal
Ketika perasaan anomali ini
Setiap jengkal kala aku rasakan

Ketika batas waktu telah berkelana
Ketika dunia telah berputar
Tetapi aku yakin akan sebuah yang tak berubah
Tak berubah rasaku padamu

Rintih tawa silih berganti
Ketika kejadian itu berlalu
Aku mencoba kerap menyangkal
Namun kusadari tak mampu

Aku sudah terlanjur sayang
Aku sudah terlanjur melawan
Aku ingin tidak terus dipertanyakan
Aku sudah terlanjur sayang

*Desa Galang, Bus Menjalin ke Pontianak. 15 Maret 2013, pk 13:45.
*Terinspirasi lirik Nathan Hartono - Terlanjur Sayang.

 

Senin, 11 Maret 2013

Penerbangan Anda Dihentikan: Tidaaaaakkkkk

Pagi yang seharusnya cerah ini tiba-tiba seketika mendung. Ya, saya menerima e-mail ini:


Dear Valued Guest,

First and foremost, we would like to take this opportunity to thank you for choosing AirAsia Indonesia.

We deeply regret to inform you that your flight QZ 8234 from Jakarta (CGK) to Ho Chi Minh City (SGN) has been cancelled effective 15th April 2013.



Ya, seketika yang terlintas di pikiran saya adalah cercaan: "WTF!".

Saya berusaha merencanakan matang-matang perjalanan backpacking dengan ibu saya ke Vietnam dan Kamboja pasca purna-PTT. Saya sudah menghitung semua, hostel, jadwal perjalanan alias itinerary-nya.

Kini tiba-tiba "hancur berantakan". Saya langsung menelepon Call Center Air Asia.

Saya: "Penerbangannya di-cancel ya?"
Petugas: "Oh ya. Tapi manajemen kami masih mengonfirmasi. Bapak telepon lagi saja lusa (karena besok libur Nyepi-ed)."
Saya: (Well... Damn...)

Gimana rasanya kalau kita harus menunggu 2 hari mengetahui ini benar atau tidak. Tapi saya ragu karena e-mail jelas-jelas ada di tangan saya! Apa saya yang terlalu gesit responsif ya? Kok bisa-bisanya saya dapat jawaban begitu?

Saya pun melewati hari dengan tak tenang. Sampai malam ini, saya penasaran dan saya menelepon lagi mencari kepastian.

Saya: "Saya penumpang QZ 8234 yang katanya dicancel?"
Petugas: "Benar sekali Bapak."
Saya: "Jadi?"
Petugas: "Jadi apa?"
Saya: (Mulai senewen) "Ya gimana nasib tiket saya?"
Petugas: "Jadi pertama bisa dimajukan tanggal penerbangannya. Kedua, dengan credit shell. Ketiga dengan refund ke rekening."
Saya: "Dimundur tanggal 14 bisa?"
Petugas: "Rute Jakarta-Ho Chi Minh tidak setiap hari Bapak. Jadi 13 yang terdekat." (Damn! 6 hari di Ho Chi Minh, serius lu?)
Saya: "Yang kedua?"
Petugas: "Itu jadi kredit di web Air Asia dan berlaku 180 hari selebihnya hangus. (Apa uang saya mau dihanguskan? - Mulai snewen). Yang ketiga direfund 30 hari kerja ke rekening Bapak. Itu juga dihitung dari transfer staf ke Bank, bukan tanggal melapor."
Saya: (Gila aja, kalau duit gw 30 hari plus plus... Kalau stafnya malas gimana, bisa bertahun-tahun.)

Saya pun akhirnya memilih opsi 2 dengan mempertimbangkan mungkin saya memilih reroute sendiri CGK-KUL-SGN dalam 2 tiket terpisah. Saya harus berputar-putar di KL LCCT kelak.

Saya amat menyayangkan dari ketiga opsi yang ada tak ada yang dirasakan membantu penumpang sama sekali. Paling nyaman adalah membantu reroute seperti di atas, karena Air Asia memiliki jaringan dan frekuensi tinggi antara CGK-KUL dan KUL-SGN. Saya terpaksa jadi mengulang dari awal. Sungguh terlalu!

Memang, saya sungguh mau tak mau menggunakan Air Asia karena memang paling murah pada rute CGK-SGN bahkan dibanding Lion Air, apalagi Vietnam Airlines. Hingga berkali-kali lipat.

Saya sendiri belajar berbesar hati. Toh ini suka dukanya backpacking bukan? Kita harus berpikir, tiada rotan akarpun jadi. Penerbangan ditundakan, cari sampai jadi.

Sungguh letihnya... Dan kini saya menunggu masuknya angka kredit shell saya di web Air Asia.

 

Kisah Saya, Tenaga Medis di Indonesia

Mungkin judul di atas terlalu bernada sedikit angkuh. Tapi hal ini yang sekelebat saya teriakkan di dalam hati saya. Apa salah saya sebagai tenaga medis di negeri ini?

Di negeri ini, dokterlah sebagai tameng, dan katanya akan dipecat karena dianggap "menolak" pasien karena ruangan penuh. Menjadi salah kami kah ketika ruangan penuh sesak pasien? Saya sendiri seumur hidup saya menjadi dokter di tempat saya belajar dan sampai di tempat saya bekerja sekarang, saya tidak pernah melihat instansi saya bahkan sejawat saya menolak pasien. Menolak pasien di sini berarti kami tak mau merawat pasien dan membiarkan pasien. Tidak pernah! Saya tetap melaksanakan seoptimal dan semaksimal yang kami bisa. Walaupun pada akhirnya pasien tak mau dirujuk, kami juga memberikan pelayanan semaksimal kami yang kami mampu.

Di negeri ini, dokterlah yang sering diketuk pintunya atau berdering teleponnya dengan keadaan apapun. Mau sedang makan, sedang tidur, sedang bermain dengan anak. Kami tidak bisa bilang: "Oh ini waktunya saya di rumah, maaf jangan ganggu saya." Dokter bekerja 24/7, lembur yang tak terkira. Bahkan ketika keluarga tidur, anda tidur nyenyak, kami masih bekerja.

Di negeri ini, dokter memeriksa laboratorium sudah disangka ingin mengambil untung dan komisi. Duh! Parahal pemeriksaan penunjang adalah salah satu bagian dari penegakkan diagnosis. Tentunya kami pun sudah memikirkan apa-apa saja yang perlu diperiksa. Namun ketika pasien kita berobat ke rumah sakit di luar negeri dan diperiksa A sampai Z, pasien diam tanpa kata protes. Sedangkan ketika kami mau memeriksa darah rutin saja untuk pasien demam, sudah disangka ingin mengutip tilang lalu masuk ke kocek sendiri dan dianggap lebih jahat dari Polantas oleh salah satu anggota dewan.

Di negeri ini, ketika bayi prematur sekian ratus gram meninggal, ini salah dokter! Dokter harus dituntut sampai ke liang kubur. Tapi ketika pasien diabetes berobat ke klinik-klinik alternatif, menggelotorkan jutaan rupiah untuk "herbal-herbal", dan akhirnya meninggal karena ketidakstabilnya glukosa darahnya. Seringkah terdengar klinik alternatif itu dituntut?

Di negeri ini, dokter (terutama dokter umum) dianggap merampok uang pasien. Tapi tak pernahkah terpikirkan betapa dokter umum membanting tulang kerja di klinik 24 jam? Tak pernahkah terpikir kami dokter umum di daerah terpencil di seluruh Indonesia ini pernah 3 bulan bergaji kurang dari sepertiga hak kami? Sedangkan kami tetap harus bertahan hidup di pedalaman negeri ini?

Di negeri ini, terutama daerah terpencil, kami sudah terbiasa dihutangi pasien. Tapi kami tak pernah menaruh dendam dengan mereka. Walaupun mereka lagi, kami tetap layani. Kami hanya berpegang pada kemanusiaan.

Di negeri ini, kami menjadi makanan jurnalis. Sedikit berita kami menjadi bombastis. Dan entah langsung talkshow atau berita apapun menjadi primadona di layar kaca. Dan kami dicecar. Kami dianggap malpraktik, kami dianggap jahat, dianggap tak berhati. Pernahkah kalian berpikir sebaliknya, apakah yang dilakukan media massa ini berhati atau mencari sensasi? Ke mana aturan emas pergi?

Ya itu keluh kesah. Tapi kami tak pantas berkeluh kesah dalam kerja dan karya kami. Itu semua kebanyakan kami simpan dan tetap lanjut berkarya. Walaupun hati ini pun terasa teriris pedih.

 

Rabu, 06 Maret 2013

Pertanyaan "Sepele" Kepada Pasien

Suatu hal yang masih saya ingat dan tidak lupa saya lakukan saat melakukan anamnesis atau visite adalah sedikit berbasa-basi dengan pasien. Mungkin ini bukan basa-basi biasa.


Perihal saya dapat dari salah satu guru saya saat di Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya. Ya, tiga atau empat tahun yang lampau. Saat itu saya tengah ronde pagi (keliling memeriksa dan melaporkan keadaan pasien) bersama dr. Iwan Irawan, SpB. Kami di Atma Jaya sudah bak residen (peserta didik dokter spesialis). Semua harus detail kami perhatikan. Suatu saat itu, saya sudah hapal luar kepala apa yang perlu saya laporkan dari keluhan pasien, hasil pemeriksaan, diagnosis, dan rencana tatalaksana yang diusulkan untuk disetujui (SOAP, kami menyebutnya). Di satu titik saya tiba-tiba ditembak oleh konsulen, "Di mana Bapak ini tinggal?" Saya pun mulai buyar. "Ia berapa bersaudara?" Nah lo, pikir saya dalam hati. "Ini perlu kamu tahu, supaya memungkinkan tidak dia konsultasi lanjut, yang mengantarnya, dan lainnya... Lalu kemudian kemarin dia bisa tidur atau tidak?"

Mungkin saat itu saya berpikir, hal itu sepele. "Untuk apa sih saya perlu tahu hal itu? Apa mungkin kelak saya perlu tahu zodiaknya apa?" Tapi pada akhirnya keluh kesah ini menjadi makna pada kemudian hari.

Ya, tampak sepele. Tapi itu memiliki banyak makna.

Pertama, seperti yang ditekankan alm Prof Sidharta dalam bukunya dan alm dr. AJ Gozali SpPD waktu dulu mengajar. Anamnesa atau wawancara pasien itu penting. Konon 70-80% diagnosis akan tegak. Jadi, kita harus banyak bertanya pada pasien. Tapi apa hubungannya kelak dengan pertanyaan "sepele" itu? Ya, kita bisa akan banyak tahu soal kebiasaan atau sedentary lifestyle yang bisa memicu gangguan kesehatannya.

Kemudian kita bisa memperkirakan bagaimana tatalaksana lanjut pasien. Seperti saya di Menjalin, banyak desa-desa sangat terpencil. Maka kira-kira kita dapat tahu bagaimana mengedukasi atau berpesan pada pasien, walau memang realisasinya pun dipertanyakan. Namun kita telah melakukan hal yang seharusnya.

Kedua, ini bisa membangun relasi dengan pasien. Salah satu kawan saya, Ricky, mengatakan demikian, "Itu menambah kepercayaan pasien terhadap kita dan pasien serta keluarganya jadi merasa diperhatikan banget."

Ya, banyak keluarga yang senang ditanya dimana, bagaimana dirinya. Apalagi pasien lansia yang ditanya berapa cucu dan cicitnya. Mereka senang sekali, walau mereka tengah terbaring lemah.

Saya pun sering juga visite sambil sedikit bergurau agar suasana menjadi lebih cair antara dokter dan pasien. Dan pertanyaan-pertanyaan sepele itu pun membuat suatu cerita yang bisa diperbincangkan antara pasien dan dokter. Apalagi di desa, bisa terkuak gosip-gosip desa (loh?). Hehehe...

Memang walau demikian saya menyadari tidak semua hal kepada pasien ini saya terapkan kepada keluarga atau rekan saya diluar relasi pasien. Tapi entah kenapa saya lebih selesa jika melakukannya bersama pasien. Entahlah... (Jadi curcol? :p)

 

Sabtu, 02 Maret 2013

Kehadiranmu

Hanya satu harapku kini

Harapku akan kehadiranmu

Hadirmu untuk bantu menyekaku
Seka peluh dan air mata pikiranku

Pikiranku yang melayang jauh
Jauh terbang tak berarah

Kemana arah jalanku kini
Walau kini aku bak benang kusut

Kekusutan ini memerlukan tanganmu
Tanganmu yang mengurai lembut

Mengurai dan meredam segala kebingunganku
Meredam segala amarah dan pelikku

Walau hidup ini tak mungkin tak pelik dan kusam
Namun kusam ini patutlah tercerah akan harapku

Hanya satu harapku kini
Harapku akan kehadiranmu

Dalam perjalanan ke Menjalin,
26 Februari 2013