Jumat, 16 Agustus 2013

Backpacking Vietnam-Kamboja (3): Ho Chi Minh City (Delta Mekong, City Tour)

Hari 3: 16 April 2013 Delta Mekong Tour

Dari beberapa blog yang saya baca, sebenarnya tur Delta Mekong ini tidak begitu direkomendasikan. Apalagi jika kalau kita sering melihat sungai-sungai. Namun, saya pikir tidak ada salahnya untuk mencoba ke sini, kapan lagi ke sungai terpanjang di Asia Tenggara ini?

Ya, Sungai Mekong juga adalah sungai ke-7 terpanjang di Asia dan ke-12 di dunia dengan panjang 4.350 km. Ia membentang dari hulunya yaitu Dataran Tinggi Tibet lalu ke Provinsi Yunnan di China, lalu ke Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan akhirnya berhilir Vietnam. Daerah delta Mekong merupakan daerah yang amat sangat subur dan sangat padat.

Seperti biasa kami dijemput oleh pemandu tur dengan perusahaan travel yang sama. Kami langsung diajak ke provinsi My Tho. Sesampainya di My Tho kita akan diajak untuk makan buah-buahan tropis (buah naga, mangga, pisang.... Ya sangat biasalah bagi orang Indonesia), lalu menikmati nyanyian lokal Vietnam (menurut pemandu turnya lagu tersebut bercerita soal kepatriotikan), lalu menyusuri sungai-sungai kecil dengan menggunakan sampan dan topi caping Vietnam alias nón lá  yang artinya topi kerucut, menikmati permen kelapa, makan siang pork chop, menyusuri sungai Mekong yang besar, kemudian mampir ke salah satu vihara tertua di sana (saya lupa namanya), lalu kembali ke HCMC.

Secara umum, tidak ada yang terlalu luar biasa bagi saya di delta Mekong (karena saya juga sudah sering melihat Kapuas di Kalimantan Barat), selain hanya untuk mencentang daftar hidup saya bahwa "Yeay saya sudah pernah menyentuh air Sungai Mekong!" --" Hehehehe.....


Sungai Mekong dari jembatan di My Tho

Lagu dari penduduk lokal

Ibu bergaya dengan nón lá-nya

Nggak mau kalah dari emak :D

Perahu unik di Mekong

Naik perahu yang lebih besar di Mekong

Temple di My Tho

Patung Buddha di My Tho

Tur kali ini pulang lebih cepat dibandingkan tur ke Cu Chi kemarin. Karena itu kami makan malam dulu di Pho Quynh (lagi-lagi Pho!) dan siap-siap ke pasar malam Benh Thanh.

Pasar Malam Benh Thanh

Ya, kami sebenarnya belum sampai untuk mengitari Benh Thanh aslinya. Karena bukanya hanya di siang hari, maka kami mencoba untuk berkeliling di pasar malam Benh Thanh yang digelar di jalan sisi barat dan timur dan Benh Thanh. Pasar malam ini dibuka pukul 18:30. Di sini bisa membeli baju, kopi, pernak-pernik Vietnam, buah-buahan, makanan. Secara umum sih setelah saya bandingkan dengan isi Benh Thanh yang sebenarnya, tidak jauh berbeda kok. Hanya saja jika berbelanja di malam hari rasanya lebih adem hehehehe..... Dan saya juga akhirnya membeli satu topi tentara Vietnam seharga 50.000 VND, kaos 70.000 VND/helai, dan satu set tempelan kulkas 50.000 VND.

Di sini kami menemukan seorang penjual kaos yang sangat fasih dalam berbicara bahasa Melayu pasar. Ya, mungkin saja karena lumayan banyak pelancong Malaysia yang berkunjung ke HCMC.

Siap untuk menjadi Viet Kong esok hari hahahaha...

Setelah puas berbelanja, maka kami kemudian kembali ke hostel lebih awal agar besok dapat berkeliling lagi. Besok kami akan mengitari kota HCMC, dan akan lebih capai, karena akan berjalan kaki.



Backpacking Vietnam-Kamboja (2): Ho Chi Minh City (Cao Dai, Cu Chi Tunnel)

Hari 1: 14 April 2013

Jakarta-Kuala Lumpur
Terus terang saya tidak bisa tidur pada malam itu. Ada satu rasa kegirangan, deg-degan untuk memulai perjalanan ini. Saya ke negara yang tidak biasa! Vietnam dan Kamboja, dua negara yang membuat orang bertanya-tanya, "Ngapain lu ke sana?".

Akhirnya subuh pun tiba, saya dan ibu sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Terminal 3 Soekarno-Hatta. Pesawat kami pukul 06:25 dan kemudian tiba di bandara LCCT Kuala Lumpur pukul 09:25. Dan mulailah kegelisahan terjadi. LCCT KL ramaiinnnyaaa bukan main. Kami harus sabar menunggu sampai pesawat 14:55 membawa kami terbang ke Ho Chi Minh City (HCMC). 

Ya, transit lama di LCCT KL ini memang membuat mati gaya apalagi internet gratis dari bandara dibatasi hanya satu jam, dan akhirnya kami pun memilih untuk berlama-lama duduk di McDonald hehehe. Dan kelegaan terjadi ketika kami boarding menuju HCMC

Ho Chi Minh
Sesuai jadwal, saya tiba di Tan Son Nhat International Airport di HCMC. Bandara ini merupakan pintu masuk utama di Vietnam, yang kedua baru bandara di Hanoi. Sekilas, bandara ini mirip dengan Bandara Sultan Badaruddin II di Palembang. 

Sampai di Vietnam!


Nah, setelah mengambil bagasi dan melewati pos bea cukai, saya kemudian menukarkan dollar saya ke VND. Saya menukarkan USD kira-kira senilai Rp 1.500.000,00 dan saya mendapatkan 3.000.000 VND. Ya, nilai VND 2 kali lebih kecil dari Rupiah kita.

500.000 Cuy! Awas warna uang ini sangat mirip dengan 10.000 VND

Kemudian karena waktu masih sore, saya menggunakan bus umum Nomor 152 (mirip bus DAMRI Bandara) untuk ke area Benh Thanh Market di Pham Ngu Lao. Bus ini ada di sebalah kanan di tepi jalan setelah keluar dari pintu bandara. Tarif busnya 5.000 VND per orang dan ditambah 5.000 VND jika membawa barang. Jika sudah malam bus ini sudah berhenti operasi, namun bisa menggunakan taksi My Linh atau Vinasun harganya 170.000 VND/trip (namun taksinya pakai Innova loh!).

Di sini saya sempat salah kaprah pada pengemudi busnya. Saya membayar biaya bus 15.000 VND dengan pecahan 50.000 VND. Namun saya mendapatkan 7 uang koin emas, yang saya hitung 3.500 VND. Setelah sempat berdebat tidak jelas, karena supirnya pun tidak bisa bahasa Inggris. Akhirnya salah satu penumpang menunjukkan bahwa koin itu adalah 5.000 VND! Alamak, saya kira 500 VND, soalnya uang koinnya mirip sekali dengan Rp 500,00 hehehehe... Maaf ya Pak Supir

Setelah kira-kira 30 menit perjalanan, saya tiba di terminal bus di seberang Benh Thanh Market. Saya pun menyusuri Jalan Pham Ngu Lao, pusat turis atau backpacker di HCMC. Ya mirip-mirip Jalan Jaksa di Jakarta dan Khaosan Road di Bangkok. 

Untuk mencari hostel yang saya pesan di Ngoc Thao ternyata tidak mudah. Saya bingung membaca gang-gang yang ada. Akhirnya dengan bertanya-tanya dengan bahasa Vietnam tanpa nada saya dalam menyebut nama hostel dan diiringi bahasa Tarzan, akhirnya saya dan ibu saya menemukan hostel tersebut. Impresi pertama saya, OMG! Kenapa di dalam gang-gang tidak jelas begini. Dan setelah menemukan dan masuk ke dalam ternyata hostelnya lumayan apik.

Saya pun langsung disambut. "Are you Andreas from Indonesia?" Dan itu adalah Mrs. Ngoc. Ngoc Thao Guesthouse adalah guesthouse usaha keluarga Ngoc. Mrs Ngoc dan adiknya (cantikloh adiknya!) ternyata sangat fasih berbahasa Inggris. Setibanya di sana, kami diberitahu banyak hal seperti daerah wisata, tempat makan, tips trik, bagaimana menawar harga. Di sana pun kita bisa memesan tur untuk Delta Mekong 1 day (7 USD/pax) dan Cu Chi Tunnel+Cao Dai Temple (10 USD/pax), dan tiket bus Mekong Ekspress utuk HCMC-PP (13 USD) dan PP-Siem Reap.

Di HCMC, saya berencana untuk menghabiskan 4 hari/5 malam. Awalnya saya berencana 3 hari/4 malam (1 hari Delta Mekong, 1 hari Cu Chi Tunnel+Cao Dai Temple, 1 hari City Tour), namun karena perubahan jadwal tiket Jakarta-HCMC saya terpaksa meng-ekstend satu hari keberangkatan, namun artinya 1 hari lagi untuk menjelajah HCMC.

Malamnya, saya makan Pho Quynh di simpang Pham Ngu Lao dan Do Quang Dau. Harga satu porsi Pho, 50.000 VND. Setelah itu kami pulang dan beristirat untuk memulai tur ke Cu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple.

Pho! 



Hari 2: 15 April 2013 - Cu Chi Tunnel + Cao Dai Temple

Seperti yang saya sebutkan, bahwa sebelumnya saya sudah memesan tur lokal untuk 1 hari ke Cu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple. Memang untuk menuju ke Cu Chi ini sebaiknya menggunakan tur, karena harganya pun tidak mahal-mahal amat dan transportasi ke Cu Chi agak ribet kalau dilakukan sendiri.

Pagi sebelum berangkat, saya dan ibu menyusuri gang hostel untuk mencari makan, dan akhirnya kami menemukan warung Pho tak jauh dari hostel. Pho dengan harga 23.000 VND semangkuk ini akhirnya menjadi langganan sarapan kami selama di HCMC.

Jam 8 pagi, kami dijemput oleh pemandu tur di depan hostel untuk berangkat ke Cao Dai dahulu sebelum ke Cu Chi. Cao Dai ini adalah salah satu agama baru di Vietnam yang memiliki filosofi gabungan antara Tri Dharma (Buddha, Taoism, Konghucu), Kristiani, dan Muslim. Mengenai Cao Dai atau Caodaisme dapat disimak di artikel wikipedianya.

Yang akan dikunjungi adalah "Holy See" atau semacam Vatikan-nya Caodaisme. Kita masuk ke dalam  tempat ibadahnya yang amat mirip gereja namun dengan warna-warni terang khas vihara. Di dalamnya kita bisa menemukan patung-patung dewa dalam Tri Dharma dan termasuk patung Yesus Kristus. Kemudian kita dapat melihat ibadah siangnya dengan cara berdoa yang mirip dengan umat Muslim.

Ibu saya di "katedral" Caodaism
Jesus and Friends

Penganut Caodaism saat kebaktian siang

Setelah itu kita diantar ke restoran untuk makan siang (bayar sendiri makannya) dan kemudian ke yang saya tunggu-tunggu Cu Chi Tunnel!

Cu Chi Tunnel adalah salah satu lokasi pembuatan gorong-gorong dari pasukan Vietnam Utara (Viet Kong) dalam melawan Vietnam Selatan dalam Perang Vietnam (1955-1975). Gorong-gorong ini digunakan sebagai tempat tinggal, tempat rapat, tempat masak, dan semua dilakukan di bawah tanah. Konon, jaringan gorong-gorong ini sampai ke kota Saigon alias HCMC. Cerita Perang Vietnam ini memang mendominasi suasana tur selama di HCMC dan akan lebih mendalam lagi ketika City Tour kelak.

Sesampainya di Cu Chi, kita diminta mengumpulkan 90.000 VND per orang untuk tiket masuk, karena memang biaya tur belum termasuk tiket masuk Cu Chi.

Sebelum masuk ke Cu Chi, kita diberi briefing pengantar dari pemandu tur untuk menjelaskan apa itu Cu Chi. Setelah itu, kita diperlihatkan pintu masuk gorong-gorong yang dikamuflasekan. Saya ingin masuk, tapi perut ini tidak mendukung hehehehe, soalnya pintunya sangat kecil dan sangat pas untuk tubuh satu orang kurus.

Kalau saya yang masuk, pasti nyangkut hehehe.
Lalu kita diajak berkeliling melihat diorama contoh kehidupan tentara saat itu, melihat jebakan-jebakan yang dipasang untuk mengatasi musuh, bekas tank, dan kalau kamu mau bisa mencoba menembakkan senjata AK-47 dengan biaya tambahan tentunya.

Di diorama tentara Viet Kong

Bersama Paman Ho, yang juga memberi ide dalam strategi perang di Cu Chi Tunnel
Merasakan menjadi tentara Viet Kong. Namun katanya, gorong-gorong ini sudah diperbesar untuk memfasilitasi turis yang ingin mencoba

Setelah itu, tur satu hari ini selesai! Sorenya kami menikmati suasana sore HCMC yang ramai. Motornya sangat menggila di sini! Kami mencoba makan malam di salah satu rumah makan di sini, dan memang kami tetap harus mengakui makanan tanah air lebih maknyus :)

Vietnamese Summer Roll



Kami kembali ke hostel, memulihkan stamina untuk menyusuri Sungai Mekong pada esok hari.


Backpacking Vietnam-Kamboja (1): Persiapan

Well, saya akhirnya menyempatkan diri untuk menyelesaikan laporan perjalanan meransel bersama ibu saya ke Vietnam dan Kamboja pada April lalu (Sudah lama ya hehehe...)

Mengapa Vietnam-Kamboja?
Utamanya adalah karena saya ingin sesuatu yang baru. Sesuatu yang anti-mainstream. Lalu negara yang dapat saya masuki dengan tanpa mengurus visa karena waktu mempersiapkan perjalanan ini sejak awal tahun 2013, saya masih berada di Menjalin, Kalimantan Barat. Dan... kalau bisa saya ingin menjelajah banyak negara. Awalnya saya ingin membolang ke Vietnam-Kamboja-Laos, tapi Laos terpaksa saya coret karena mengingat kesehatan ibu yang juga harus dijaga.

Persiapan?
Untungnya, di Pontianak ada Gramedia dan ada online bookstore. Saya membeli beberapa buku referensi backpacking Vietnam dan Kamboja ("Kamu ngapain beli banyak benar."-kata ibu saya). Dan.. saya juga ada buku Lonely Planet Southeast Asia on a shoestring. Ya, saya ingin mendapatkan data-data sebanyak-banyaknya, beberapa blog, milis Backpackerdunia, dan Mbak Eka Priyanti yang tidak segan menjawab berbagai pertanyaan dari e-mail saya.

Ya, mengurus backpacking memang tidak mudah. Tidak seperti tur yang tinggal lenggang kaki. Saya harus memutar otak menyusun itinerary, tempat makan, budget, transportasi. Namun seru banget!

Itinerary Kasar
Rute yang saya rencanakan: Jakarta-transit Kuala Lumpur-Ho Chi Minh City (HCMC)-Phnom Penh (PP)-Siem Reap-Kuala Lumpur-Jakarta. Rute ini memang rute klasik sebagai highlight dari Vietnam (khususnya Vietnam Selatan) dan Kamboja.

Transportasi
Untuk transportasi, demi menekan anggaran, saya akhirnya memilih maskapai berbiaya rendah (LCC), Air Asia untuk rute Jakarta-Ho Chi Minh City (HCMC), dan Siem-Reap-Kuala Lumpur. Untuk dari Kuala Lumpur-Jakarta saya memilih Lion Air karena ingin menghabiskan 2 hari lagi di Kuala Lumpur.

Nah, sebenarnya untuk keberangkatan Jakarta-HCMC saya sudah memesan penerbanagan langsung. Namun apa lacur, penerbangan langsung Jakarta-HCMC ditutup di satu hari setelah tanggal keberangkatan. Pada akhirnya saya harus memesan Jakarta-Kuala Lumpur-HCMC dengan tambahan lagi.

Jadi ini rincian transportasi saya:
- Jakarta-Kuala Lumpur: QZ 8190,14 April 2013, 06:25 Local Time-09:25 Local Time (Rp 496.000,-/pax belum inc Airport Tax Jakarta)
- Kuala Lumpur-HCMC: AK 1452, 14 April 2013, 14:55 Local Time-15:50 Local Time (RM 157/pax, inc. Airport Tax LCCT Kuala Lumpur) 
- HCMC-Phnom Penh, Phnom Penh-Siem Reap dengan bus lokal. Dapat dibeli langsung di HCMC.
- Siem Reap-Kuala Lumpur: AK 1483, 23 April 2013, 8:35 Local Time-11:35 Local Time (78,7 USD/pax inc. Airport Tax Siem Reap)

Pemesanan tiket Air Asia semua dilakukan di website. Harga tiket pergi dengan bagasi 15 kg berdua dan pulang 20 kg berdua, tanpa makan di pesawat.

Akomodasi

Untuk penginapan saya menginap di guest house atau hostel berbiaya rendah. Sejujurnya saya lebih suka menggunakan guesthouse, karena saya otomatis pun hanya menggunakan kasur dan kamar mandi saja selama menginap. Dan yang penting juga saya mencari hostel yang petugasnya dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris hehehe... Hampir semua (kecuali Golden Mango Inn, saya memesan di Hostelworld.com.)
- HCMC: Ngoc Thao Guesthouse di Jalan Pham Ngu Lao.  Bersih, rapi, dan Mrs Ngoc sangat membantu kita. Ada kamar dorm dan private. Saya sangat menyarankan tempat ini. Saya memilih kamar double private, harganya Rp 92.000/orang/malam.
- Phnom Penh: Velkommen Guesthouse (berbeda dengan Velkommen Guesthouse). Letaknya dekat sekali dengan Sisowath Quay. Bersih, rapi itu pasti. Harganya Rp 87.000/orang/malam
- Siem Reap: Golden Mango Inn. Saya memesan langsung di webnya. Penginapan ini bukan sekesar guest house namun sudah mirip hotel. Murah, bersih, dan ramah banget! Memang kekurangannya adalah letaknya agak jauh dari pusat kota Siem Reap. Namun, mereka menyediakan tuk-tuk gratis dari hotel ke pusat kota (tapi pulangnya bayar sendiri loh). Harga untuk kamar doublenya 25 USD/kamar/malam.

*Semua penginapan memberi fasilitas handuk. Sabun tidak diberikan di HCMC dan PP, namun kalau kamu tidak mau membawanya, bisa dibeli di minimart terdekat.

Barang yang dibawa
Barang yang dibawa masih tergolong standar. Jangan lupa untuk membawa payung, poncho, dan masker mulut.

Uang
Siapkan saja USD termasuk pecahan kecil seperti USD 1. Untuk penukaran VND (Vietnam Dong) bisa dilakukan setelah tiba di HCMC. Ya, rate-nya jauh lebih bagus di sana dibandingkan kalau menukar di Jakarta. Untuk di Kamboja, USD sangat banyak dipakai selain mata uang negaranya, Riel. Jadi tidak perlu khawatir :) Ohya, kalau mau transit di KL, bisa disiapkan MYR (Malaysian Ringgit).

Blackberry Internet Service (BIS)
Katanya bukan orang Indonesia namanya kalau tidak membawa BB kemana-mana? Saya menggunakan XL yang memiliki gratis BIS 3 hari di Vietnam dan Kamboja. Namun jangan khawatir, di tiap hostel biasanya sudah terdapat fasilitas wi-fi, jadi masih tetap mengakses BB via wi-fi tanpa roaming.

Peta
Memang, biasanya akan disediakan peta dari hostel. Namun tidak ada salahnya kita membawa cetakan Google Map terutama untuk tempat-tempat yang mau dikunjungi dengan berjalan kaki. Aplikasi Citymaps2Go di iOS juga sangat membantu loh.

Dan ambil paspormu, kita berangkaaaattt!


Rabu, 14 Agustus 2013

Tak Terpikirkankah

Tak terpikirkankah pada dirimu

Segala untai sapa
Segala hasil kriya
Segala lukisan buana
Segala kata tanya

Segala rajutan mimpi
Segala kekhawatiran hati
Segala peluhnya matahari
Segala kerisauan diri


Jangan kau bertanya

Mengapa malamku gundah adanya
Mengapa pagiku terasa berat membukanya
Mengapa siangku terusik teraniaya

Siapakah engkau bagiku
Siapakah penenun rintihku
Siapakah penyimpul senyumku



Aku akhirnya terpenjara pada sanubari

Terajam indah tak terpatri
Tercabik ria tak terperi
Terantai bebas tak terberi



Jangan kau tanya apa maksudku

Sesuatu yang telah kau ukir di dalam hatiku
Sesuatu yang telah ku reka di dalam hatimu



Mungkinkah kau membiarkan aku begini

Tersungkur dan tak berarti



Tertidurlah dalam mimpimu, kapan-kapan kita bersua lagi


-Jakarta, 14 Agustus 2013, 23:05 WIB


Selasa, 13 Agustus 2013

Bahasa Indonesia Termudah di Dunia... Apa Benar?


Kita sering mendengar bahwa bahasa Indonesia seringkali dianggap sebagai bahasa yang paling mudah di dunia. Benarkah demikian?

Mungkin ada benarnya. Pemerintah Amerika Serikat dengan klasifikasi Foreign Service Institute (FSI), mengelompokkan bahasa Indonesia bersama dengan bahasa Melayu (Malaysia), dan bahasa Swahili ke dalam kategori III. Kategori III berarti bahasa ini tidak mirip bahasa Inggris baik dari sisi kebudayaan maupun linguistik dan memerlukan waktu 900 jam pelajaran atau dalam 36 minggu. Kategori III ini jauh lebih mudah dibandingkan bahasa Asia lainnya seperti bahasa dengan tulisan kanji (Mandarin, Jepang, Korea sebelum penerapan hangeul oleh Raja Agung Saejong), atau bahasa Arabis, yang kesemuanya dikelompokkan dalam kategori V yang memerlukan 2.200 jam pelajaran atau 88 minggu (setahun lebih!). Atau mungkin bahasa Indonesia masih lebih mudah dibandingkan bahasa tetangga yang masih bertulisan Latin, yakni Tagalog atau Filipino (yang masih memiliki "tenses") atau bahasa aborigin dari Taiwan. Lebih lanjut mengenai FSI bisa disimak di tautan ini.

Bahasa Indonesia itu mudah mungkin ada benarnya, oleh karena itu bahasa ini menjadi bahasa persatuan Nusantara. Bahasa yang menyatukan ratusan bahasa berbagai etnis di Indonesia. Karena fungsinya untuk menyatukan, maka bahasa Indonesia harus mudah dan masuk ke dalam semua logika linguistik berbagai etnis. Inilah hal yang selalu saya banggakan, karena seperti Singapura dan Malaysia saja mereka harus tetap "berjuang" mempertahankan kedudukan bahasa nasional mereka. Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang amat kuat dalam negeri ini baik secara konstitusional maupun realitas.

Bahasa Indonesia memang bukan bahasa tonal, bahasa tanpa pembeda waktu ("tenses"), dan bahasa tanpa gender, bahasa tanpa penentuan kasus (cases seperti nominatif, akusatif, datif, dan genetif seperti pada bahasa Jermanis). Ya, walau mungkin saja bisa bias karena saya penutur asli, namun bahasa Indonesia memang relatif lebih mudah dibandingkan bahasa lainnya.
Sumber: rdipress.files.wordpress.com

Ada yang mengatakan, "bahasa Indonesia adalah bahasa tanpa tata bahasa alias "grammar". Salah besar! Menurut saya, tidak ada bahasa yang tidak memiliki tata bahasa. Bahasa adalah suatu keteraturan logis. Kalau tidak akan terjadi chaos dalam sebuah bahasa.

Nah, ini adalah salah satu sisi sulit dalam bahasa kita. Pernah mendengar afiksasi atau imbuhan? Bahasa Indonesia memiliki afiksasi yang kuantitasnya amat masif. Afiksasi ini memang khas bahasa Indonesia (dan Melayu). Afiksasi yang berbeda memiliki arti yang sangat jauh juga. Saya coba mengambil contoh "lari": berlari, melarikan, dilarikan, pelari, pelarian. Lalu ada juga pengulangan: lari-lari. Dan perlu diperhatikan juga bahwa tidak ada "melari", "dilari", "melarii", atau "dilarii". Belum lagi afiksasi "memper-", "diper-", "ter-", "se-", "ke-" yang digabungkan "-an" atau "-i". Kemudian, arti "melarikan" dan "pelarian" pun tidak ada lagi artinya dengan "bergerak cepat dengan satu tapak kaki menyentuh tanah".

Afiksasi ini sungguh membuat pusing kepala. Bahkan saya yakin, penutur asli masih sering "keblinger" soal ini. Belum lagi proses nasalisasi afiksasi, misalnya pada "meN-" seperti "me-", "men-", "meny-", "mem-", "meng-". Bahkan banyak yang menjadi salah kaprah berjemaah seperti "menyintai", "mengkonfirmasi", "mempublikasikan", dan yang paling heboh, "memperkosa". Apakah kita sadar atas kekeliruan kita?

Namun, penutur bahasa Indonesia memang memiliki toleransi yang amat tinggi. Kalau ada yang mengatakan, "Orang baju kuning pergi sekolah", hal ini mungkin relatif masih dapat diterima. Padahal kalau ingin berbicara dengan tata bahasa baku, "Orang yang berbaju kuning itu sedang pergi ke sekolah". Apa yang bisa kita simpulkan? Tata bahasa yang "chaos" masih bisa diterima dalam bahasa sehari-hari (colloquial) atau "Melayu pasar". Namun untuk berbicara dalam bahasa formal atau bahasa baku, perlu kerja keras yang tak mudah. Jadi, apakah tata bahasa Indonesia gampang? Tidak juga.

Namun (lagi-lagi namun), bahasa Indonesia sehari-hari tidak begitu mudah loh. Apalagi kalau mengikuti dialek Jakarta yang sering menjadi tauladan bahasa "Indonesia" sehari-hari (misalnya bahasa Korea standard termasuk bahasa gaulnya akan merujuk pada dialek Seoul). "Apaan sih?", "Apaan tuh?", "Apaan lu?", "Apaan nih?", "Kok apaan?", "Loh, apaan?", atau gabungan ultimanya "Loh, kok apaan sih? Nih, lu!" akan membuat orang menderita tension headache. Belum lagi imbuhan khas "nge-", "-in", "-an", "ke-an", dan berbagai prokem. Ya, bahasa dialek Jakarta ada kursus dan ilmunya tersendiri. Ciyus, miapah.

Jadi, bahasa Indonesia memang relatif mudah, tapi jangan dipandang sebelah mata. Dan... Ayo berusaha untuk berbahasa yang baik dan benar. Lalu, apakah Anda juga sudah bisa menjawab, "Bahasa Indonesia Termudah di Dunia... Apa Benar?"

*Tulisan dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68