Jumat, 16 Agustus 2013

Backpacking Vietnam-Kamboja (2): Ho Chi Minh City (Cao Dai, Cu Chi Tunnel)

Hari 1: 14 April 2013

Jakarta-Kuala Lumpur
Terus terang saya tidak bisa tidur pada malam itu. Ada satu rasa kegirangan, deg-degan untuk memulai perjalanan ini. Saya ke negara yang tidak biasa! Vietnam dan Kamboja, dua negara yang membuat orang bertanya-tanya, "Ngapain lu ke sana?".

Akhirnya subuh pun tiba, saya dan ibu sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Terminal 3 Soekarno-Hatta. Pesawat kami pukul 06:25 dan kemudian tiba di bandara LCCT Kuala Lumpur pukul 09:25. Dan mulailah kegelisahan terjadi. LCCT KL ramaiinnnyaaa bukan main. Kami harus sabar menunggu sampai pesawat 14:55 membawa kami terbang ke Ho Chi Minh City (HCMC). 

Ya, transit lama di LCCT KL ini memang membuat mati gaya apalagi internet gratis dari bandara dibatasi hanya satu jam, dan akhirnya kami pun memilih untuk berlama-lama duduk di McDonald hehehe. Dan kelegaan terjadi ketika kami boarding menuju HCMC

Ho Chi Minh
Sesuai jadwal, saya tiba di Tan Son Nhat International Airport di HCMC. Bandara ini merupakan pintu masuk utama di Vietnam, yang kedua baru bandara di Hanoi. Sekilas, bandara ini mirip dengan Bandara Sultan Badaruddin II di Palembang. 

Sampai di Vietnam!


Nah, setelah mengambil bagasi dan melewati pos bea cukai, saya kemudian menukarkan dollar saya ke VND. Saya menukarkan USD kira-kira senilai Rp 1.500.000,00 dan saya mendapatkan 3.000.000 VND. Ya, nilai VND 2 kali lebih kecil dari Rupiah kita.

500.000 Cuy! Awas warna uang ini sangat mirip dengan 10.000 VND

Kemudian karena waktu masih sore, saya menggunakan bus umum Nomor 152 (mirip bus DAMRI Bandara) untuk ke area Benh Thanh Market di Pham Ngu Lao. Bus ini ada di sebalah kanan di tepi jalan setelah keluar dari pintu bandara. Tarif busnya 5.000 VND per orang dan ditambah 5.000 VND jika membawa barang. Jika sudah malam bus ini sudah berhenti operasi, namun bisa menggunakan taksi My Linh atau Vinasun harganya 170.000 VND/trip (namun taksinya pakai Innova loh!).

Di sini saya sempat salah kaprah pada pengemudi busnya. Saya membayar biaya bus 15.000 VND dengan pecahan 50.000 VND. Namun saya mendapatkan 7 uang koin emas, yang saya hitung 3.500 VND. Setelah sempat berdebat tidak jelas, karena supirnya pun tidak bisa bahasa Inggris. Akhirnya salah satu penumpang menunjukkan bahwa koin itu adalah 5.000 VND! Alamak, saya kira 500 VND, soalnya uang koinnya mirip sekali dengan Rp 500,00 hehehehe... Maaf ya Pak Supir

Setelah kira-kira 30 menit perjalanan, saya tiba di terminal bus di seberang Benh Thanh Market. Saya pun menyusuri Jalan Pham Ngu Lao, pusat turis atau backpacker di HCMC. Ya mirip-mirip Jalan Jaksa di Jakarta dan Khaosan Road di Bangkok. 

Untuk mencari hostel yang saya pesan di Ngoc Thao ternyata tidak mudah. Saya bingung membaca gang-gang yang ada. Akhirnya dengan bertanya-tanya dengan bahasa Vietnam tanpa nada saya dalam menyebut nama hostel dan diiringi bahasa Tarzan, akhirnya saya dan ibu saya menemukan hostel tersebut. Impresi pertama saya, OMG! Kenapa di dalam gang-gang tidak jelas begini. Dan setelah menemukan dan masuk ke dalam ternyata hostelnya lumayan apik.

Saya pun langsung disambut. "Are you Andreas from Indonesia?" Dan itu adalah Mrs. Ngoc. Ngoc Thao Guesthouse adalah guesthouse usaha keluarga Ngoc. Mrs Ngoc dan adiknya (cantikloh adiknya!) ternyata sangat fasih berbahasa Inggris. Setibanya di sana, kami diberitahu banyak hal seperti daerah wisata, tempat makan, tips trik, bagaimana menawar harga. Di sana pun kita bisa memesan tur untuk Delta Mekong 1 day (7 USD/pax) dan Cu Chi Tunnel+Cao Dai Temple (10 USD/pax), dan tiket bus Mekong Ekspress utuk HCMC-PP (13 USD) dan PP-Siem Reap.

Di HCMC, saya berencana untuk menghabiskan 4 hari/5 malam. Awalnya saya berencana 3 hari/4 malam (1 hari Delta Mekong, 1 hari Cu Chi Tunnel+Cao Dai Temple, 1 hari City Tour), namun karena perubahan jadwal tiket Jakarta-HCMC saya terpaksa meng-ekstend satu hari keberangkatan, namun artinya 1 hari lagi untuk menjelajah HCMC.

Malamnya, saya makan Pho Quynh di simpang Pham Ngu Lao dan Do Quang Dau. Harga satu porsi Pho, 50.000 VND. Setelah itu kami pulang dan beristirat untuk memulai tur ke Cu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple.

Pho! 



Hari 2: 15 April 2013 - Cu Chi Tunnel + Cao Dai Temple

Seperti yang saya sebutkan, bahwa sebelumnya saya sudah memesan tur lokal untuk 1 hari ke Cu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple. Memang untuk menuju ke Cu Chi ini sebaiknya menggunakan tur, karena harganya pun tidak mahal-mahal amat dan transportasi ke Cu Chi agak ribet kalau dilakukan sendiri.

Pagi sebelum berangkat, saya dan ibu menyusuri gang hostel untuk mencari makan, dan akhirnya kami menemukan warung Pho tak jauh dari hostel. Pho dengan harga 23.000 VND semangkuk ini akhirnya menjadi langganan sarapan kami selama di HCMC.

Jam 8 pagi, kami dijemput oleh pemandu tur di depan hostel untuk berangkat ke Cao Dai dahulu sebelum ke Cu Chi. Cao Dai ini adalah salah satu agama baru di Vietnam yang memiliki filosofi gabungan antara Tri Dharma (Buddha, Taoism, Konghucu), Kristiani, dan Muslim. Mengenai Cao Dai atau Caodaisme dapat disimak di artikel wikipedianya.

Yang akan dikunjungi adalah "Holy See" atau semacam Vatikan-nya Caodaisme. Kita masuk ke dalam  tempat ibadahnya yang amat mirip gereja namun dengan warna-warni terang khas vihara. Di dalamnya kita bisa menemukan patung-patung dewa dalam Tri Dharma dan termasuk patung Yesus Kristus. Kemudian kita dapat melihat ibadah siangnya dengan cara berdoa yang mirip dengan umat Muslim.

Ibu saya di "katedral" Caodaism
Jesus and Friends

Penganut Caodaism saat kebaktian siang

Setelah itu kita diantar ke restoran untuk makan siang (bayar sendiri makannya) dan kemudian ke yang saya tunggu-tunggu Cu Chi Tunnel!

Cu Chi Tunnel adalah salah satu lokasi pembuatan gorong-gorong dari pasukan Vietnam Utara (Viet Kong) dalam melawan Vietnam Selatan dalam Perang Vietnam (1955-1975). Gorong-gorong ini digunakan sebagai tempat tinggal, tempat rapat, tempat masak, dan semua dilakukan di bawah tanah. Konon, jaringan gorong-gorong ini sampai ke kota Saigon alias HCMC. Cerita Perang Vietnam ini memang mendominasi suasana tur selama di HCMC dan akan lebih mendalam lagi ketika City Tour kelak.

Sesampainya di Cu Chi, kita diminta mengumpulkan 90.000 VND per orang untuk tiket masuk, karena memang biaya tur belum termasuk tiket masuk Cu Chi.

Sebelum masuk ke Cu Chi, kita diberi briefing pengantar dari pemandu tur untuk menjelaskan apa itu Cu Chi. Setelah itu, kita diperlihatkan pintu masuk gorong-gorong yang dikamuflasekan. Saya ingin masuk, tapi perut ini tidak mendukung hehehehe, soalnya pintunya sangat kecil dan sangat pas untuk tubuh satu orang kurus.

Kalau saya yang masuk, pasti nyangkut hehehe.
Lalu kita diajak berkeliling melihat diorama contoh kehidupan tentara saat itu, melihat jebakan-jebakan yang dipasang untuk mengatasi musuh, bekas tank, dan kalau kamu mau bisa mencoba menembakkan senjata AK-47 dengan biaya tambahan tentunya.

Di diorama tentara Viet Kong

Bersama Paman Ho, yang juga memberi ide dalam strategi perang di Cu Chi Tunnel
Merasakan menjadi tentara Viet Kong. Namun katanya, gorong-gorong ini sudah diperbesar untuk memfasilitasi turis yang ingin mencoba

Setelah itu, tur satu hari ini selesai! Sorenya kami menikmati suasana sore HCMC yang ramai. Motornya sangat menggila di sini! Kami mencoba makan malam di salah satu rumah makan di sini, dan memang kami tetap harus mengakui makanan tanah air lebih maknyus :)

Vietnamese Summer Roll



Kami kembali ke hostel, memulihkan stamina untuk menyusuri Sungai Mekong pada esok hari.


3 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

  1. Bener Ko,

    Saat aq mao pegi ke dua negara tersebut banyak juga yang menanyakan "Ngapain lu ke sana?".

    Bahkan sampai emak aq terkejut dengan keadaan ho chi minh, lebih maju dibanding pulau yang kami tinggal.

    Kalo aq si, karena uda tertarik pegi kesana, jadi uda dapat contekan suasana disana dari teman - teman yang eksis di blog..

    BalasHapus
  2. saya follow ya mas... smg bisa jd teman dan bermamfaat.

    BalasHapus
  3. Terima kasih, silakan add akun media sosial saya :)

    BalasHapus

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: