Tampilkan postingan dengan label busway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label busway. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Bus Transjakarta Harus Malu dengan Singapura

Semua orang yang pernah berkunjung ke Singapura, pasti terkesima dengan yang namanya sarana Mass Rapid Transit alias MRT. Di Singapura, MRT dikelola penuh di bawah nauangan Land Transport Authority yang juga menyinergikan moda transportasi darat lainnya selain berbasis rel, yaitu bus. Saya selalu mencoba membandingkan pelayanan MRT Singapura ini dengan Bus Transjakarta yang dikelola oleh BLU Transjakarta di bawah Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta. Memang, perbandingan ini bukan perbandingan yang selaras atau apple to apple, namun konsep desain Bus Transjakarta sejalan dengan MRT yaitu konsep Bus Rapid Transit (BRT) yang tetap mengedapankan konsep masal dan cepat dengan infrastruktur khas.

(Sumber: Jaktv)


Salah satu yang dibanggakan dari MRT Singapura adalah diberikannya informasi yang detail. Informasi ini adalah hal-hal yang diterima oleh pengguna moda transportasi sehingga mereka cukup nyaman dan mudah dalam menggunakan transportasi ini. Berikut beberapa hal yang bisa sampaikan:

Informasi Lokasi Halte

Di Singapura, semua pihak menginformasikan bagaimana mereka terhubung dengan MRT. Lihat saja iklan-iklan apartemen di Singapura, mereka menggambarkan seberapa dekat bangunan yang ditawarkan dengan MRT. Begitu juga dengan rumah sakit (misalnya National University Hospital melalui stasiun Kent Ridge), pusat perbelanjaan (misalnya Orchard Road, Sommerset), tempat wisata, dan lainnya.

Kita di Jakarta, amat jarang mendapatkan informasi "Bagaimana Saya Menuju Ke Sana?" atau "How to get there?" atau "How to go there?". Kita amat jarang diinformasikan bagaimana saya bisa ke Taman Impian Jaya Ancol melalui bus Transjakarta? Atau bagaimana pusat perbelanjaan Mangga Dua juga mudah dicapai dengan bus Transjakarta? Tidak ada informasi yang gencar. Jika orang tahu dengan bus Transjakarta ia bisa mudah menjangkau lokasi tujuannya, pasti ini hal yang amat menarik.

Informasi Jalur/Koridor

Informasi jalur Transjakarta kacau-balau. Hingga kini tidak ada peta standard bagi Transjakarta! Kalau kita sering melihat peta MRT Singapura, pasti hanya terbayang satu peta dengan gaya yang standard juga. Kalau kita perhatikan peta di koridor 12, koridor 9, di dalam bus koridor 1, semua tidak ada yang sama. Bahkan saya pernah lihat peta yang dimampatkan sampai tidak karuan bentuknya di dalam bus koridor 9.

Padahal, informasi jalur koridor ini penting. Mungkin tidak penting bagi mereka yang sudah biasa, namun ini adalah informasi emas bagi turis atau pendatang yang baru pertama kali mengenal bus Transjakarta.

Bahkan informasi jalur dan halte juga turut kacau balau, terutama informasi koridor 12. Di beberapa peta, ada halte yang disebut Pluit Autoplaza namun di lain pihak ditulis Pluit Landmark, lalu juga halte Danau Agung dengan Danau Sunter Barat, halte Gunung Sahari-Mangga Dua menjadi Mangga Dua-Gunung Sahari. Bahkan halte Pluit sering tidak dituliskan dalam bus koridor 12. Mungkin sepele, tapi amat membingungkan dan fatal! Kemudian juga halte Jembatan Merah yang keberadaannya seperti anak tiri, sering tidak ada dalam peta di dalam bus, namun ada di peta besar. Belum lagi kalau melihat petunjuk rute di bus Zhong Tong baru di koridor I. Alamak jang!


Desain rute bus di bus koridor 11 (Sumber: Okezone)


Peta macam apa ini? Desain rute bus di bus koridor 1. Jika dibandingkan koridor lainnya semua tidak konsisten.
Ke mana halte Pangeran Jayakarta? Kok ada halte Angkasa dan Landas Pacu Barat?
(Peta Koridor Busway di Halte Pluit)


Masalah warna-warni koridor juga tidak diperhatikan sama sekali. Jika di Singapura, kalau melihat warna merah kita sudah tahu North-East Line, warna kuning adalah Circle Line. Bus Transjakarta sejatinya memiliki warna khas seperti merah untuk koridor 1. Namun kini sekarang tampaknya tidak ada standarnya lagi. Padahal informasi warna ini perlu sekali untuk memudahkan penumpang, terutama di halte transit bila perlu menukar bus.

Papan informasi yang jelas di MRT Singapura. (Sumber: Singaporeshots.com)
Peta standar MRT Singapura. Stasiun dan warna jalur sangat jelas.


Informasi dalam Halte

Saya seringkali membantu orang yang baru pertama kali menaiki bus Transjakarta dan tidak tahu arah serta lokasi dalam halte. Seperti di halte Bendungan Hilir, di mana jalur untuk transit ke halte Semanggi, kemudian di halte Pluit di mana tempat menunggu koridor 12.

Memang, sudah ada tulisan di dalamnya. Namun tulisan tersebut seringkali teramat kecil dan tidak kentara. Siapa yang menyangka ada tulisan print-an kertas yang menulis "Antrian Menunggu Koridor 12, Priok dan Kota". Tidak terlihat! Jika kita membandingkan dengan MRT Singapura, semua informasi terpampang jelas dengan desain yang pakem di semua koridor.

Informasi dalam Bus

Di dalam bus lebih kacau lagi. Yang sangat jelas adalah tidak seragamnya dan tidak jelas volume informasi atau suara dalam menyampaikan pesan atau halte yang akan tiba. Masih mending tidak seragam, malah seringkali informasi suara ini tidak dinyalakan atau mungkin rusak? Akhirnya informasi suara ini digantikan suara petugas di dalamnya yang terasa malah seperti bus metro mini.

Selain suara, petunjuk rute di dalam bus seperti yang saya sampaikan sebelumnya, juga tidak informatif dan menyesatkan.

Kesimpulannya, pengelolaan informasi dalam Bus Transjakarta harus banyak dibenahi. Mereka harus berkaca dengan yang lebih baik. Berkacalah dengan yang terdekat, MRT Singapura. Tinggal dicontoh saja, tidak susah kan?

Selasa, 27 Agustus 2013

Berhenti Lu Masuk Jalur Busway, Emang Ini Jalan Nenek Lu!

Serobot jalur Busway itu melanggar peraturan loh? *Pura-pura tidak tahu?* (Foto: Detik.com)

Suatu saat di siang hari, saya berjanji dengan kawan saya untuk bertemu di halte Bus Transjakarta "Gunung Sahari Mangga Dua". Ternyata oh ternyata, sebelum kawan saya ini tiba di halte ini, ada busway yang tiba-tiba mogok beberapa meter di depannya. Ada hal yang menarik, ternyata ada banyak rentetan kendaraan pribadi yang mengekori bus ini. Akibatnya mereka terjebak! Kendaraan pribadi ini tidak bisa melindasi pemisah jalan karena separatornya cukup tinggi. Akhirnya, bak di film komedi, satu-satu kendaraan pribadi ini mundur dari halte sampai di perempatan Jalan Mangga Dua Raya-Gunung Sahari. Mau cepat jadi terhambat kan?

Saya sudah nyaris 2 bulan terakhir ini menjadi pelanggan bus Transjakarta, baik menuju kantor di daerah Bendungan Hilir, mengunjungi adik di Pluit, bahkan untuk berjalan menuju Plaza Senayan dan Pasar Pramuka. Semuanya terhubung dengan bus Transjakarta. Saya sudah sangat jarang menggunakan si Perak, Avanza saya. Saya karena selain lebih irit, saya tak perlu pusing memikirkan macet. Jika saya bermacet ria di bus Transjakarta, saya tinggal membuka buku yang saya bawa. Kalau saya yang menyetir sendiri, mana bisa?

Pengemudi Inkonstitusional

Karena seringnya menggunakan bus Transjakarta, saya -dan pengguna bus lainnya- paling jengkel kalau bermacet ria karena banyak kendaraan pribadi yang masuk. Ini seringkali saya temui di koridor IX di Pluit-Pinang Ranti apalagi di kawasan Grogol-Tomang-Slipi-Pejompongan. Menurut kami, ini adalah kemacetan yang inkonstitusional.

Mengapa inkonstitusional? Karena bus Transjakarta sudah di-Pergub-kan memiliki jalanan yang khas dan eksklusif untuk jalurnya sendiri. Ini sudah diatur. Jadi siapapun yang masuk ke daam jalur ini kecuali bus Transjakarta atau bus lain yang dibolehkan, adalah melanggar peraturan. Tapi sayang seribu sayang, Polisi pun yang sebenarnya memiliki wewenang menegakkan peraturan, seringkali menyuruh kendaraan pribadi untuk masuk ke dalam jalur Transjakarta. Alasan Polisi-nya amat klasik, "untuk mengurai kemacetan". Justru, menurut saya, biarkan bus Transjakarta dengan segala eksklusivitasnya ini melenggang dan kendaraan di jalan lainnya mengertak gigi dan menggigit jari mereka. Inilah yang akan dipandang menarik dan seksi agar orang mau menggunakan bus Transjakarta. Intinya, mau bebas macet, naiklah bus Transjakarta. Demikian, seharusnya.

Jika polisi tak mampu, apalagi Dishub yang tidak memiliki kuasa menilang, maka masyarakat yang harus bertindak. Saya sangat senang bahwa sudah mulai ada aksi publik yang mulai membara setelah kasus Anak Jenderal dan Ibu-Ibu Keriting yang terhembus karena terjepret kamera. Maka muncullah website masukbusway.com yang menjepret para pengemudi pelanggar peraturan ini. Moga-moga saja bahwa aksi ini dapat dipandang juga oleh pihak-pihak yang memiliki kuasa, terutama Pemprov DKI.

Para Pelanggar Harusnya Malu

Para pelanggar harusnya malu. Malu karena mereka merampok hak pengguna Transjakarta. Malu karena mereka dengan sadar membuat kejahatan. Memang penduduk kita masih tidak sadar dengan ke-malu-an mereka.

Lihat saja warga Singapura. Mereka memiliki jalur bus yang sama dengan bus Transjakarta tetapi tanpa separator! Tapi tidak ada yang berani melanggarnya. Apakah berarti ke-malu-an kita benar-benar hilang? Kita malah melenggang tanpa rasa bersalah sedikitpun mengorupsi hak orang lain.

Apalagi jika para pelanggar ini kemudian mengklakson karena ia terhambat bus Transjakarta yang tengah menarik-turunkan penumpang di halte. Suatu hal yang teramat lucu. Sudah melanggar, kok ngeyel? Tak pantaskah kami sebagai penumpang Transjakarta turut naik pitam?

Tolonglah hai para penyerobot jalur Transjakarta alias Busway, bertobatlah.

Jika saya boleh menggunakan gaya Ahok, "Behenti lu masuk jalur Busway, emang ini jalan nenek lu!"