Tampilkan postingan dengan label pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pikiran. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

Manusiawikah?

Dalam keheningan
Sejenak aku tenggelam di dalam benak
Menatap meratap
Mengakal mengakar

Ketika kita bekerja dengan sepenuh hati
Konon katanya kita tengah berangkuh
Ketika kita tengah tak sehati dengan pekerjaan
Konon katanya kita malas tak terperikan

Ketika kita melambai senyum
Konon katanya kita manis dalam gulita
Ketika kita memberi durja
Konon katanya kita tak akan hidup bahagia

Dunia ini tak semudah ying dan yang
Namun benarkah ini?
Manusiawikah ini?

Ketika hidup bukanlah hitam dan putih
Namun terenyahkan dalam keabu-abuan
Ketika hidup tak lagi tahu benar dan salah
Namun terombang-ambing dalam lautan tak ternisbikan

Manusiawikah?
Inikah manusia?

Pontianak, 30 Juni 2014

Jumat, 21 Februari 2014

Jangan Mau Jadi Dokter

Nyaris tiga tahun saya genap menyandang gelar profesi ini. Dokter. Tiga tahun, bukan waktu yang lama, dan bukan juga waktu yang terlalu cepat untuk mengatakan bahwa saya sudah memakan asam-garam profesi ini. Saya mungkin tengah mencicipinya.

Suatu hal yang terus-menerus disadari bahwa menjadi dokter itu tidak mudah. Ya, saya kira sama saja, menjadi guru, pastor, insinyur, akuntan pun tidak mudah. Tapi kalau diangkat sedikit dengan gaya generalisir, saya setuju bahwa profesi dokter memerlukan sedikit kerja keras lebih dibandingkan profesi kebanyakan, walau bukan dalam tahap superlatifnya.

Tak heran bahwa untuk mengenyam profesi ini perlu waktu minimal 6 tahun dalam universitas, 1 tahun dalam pantauan program magang (internship), dan kelak 2 tahun dalam program dokter keluarga atau lebih dari 3 tahun dalam program pendidikan dokter spesialis. Atau mungkin ada yang ingin mencoba 2 tahun program Pegawai Tidak Tetap (PTT). Ya, mungkin disaat kerabat kita yang belajar ekonomi mungkin tengah menapaki jejak karir untuk kedua atau ketiga kalinya, sebaya mereka yang seorang dokter baru mengucapkan salam pada dunia kerja nan nyata.

Waktu yang digunakan (bukan dikorbankan?) begitu luar biasa. Oleh karena itu, saya kerap kali mengingatkan saudara-saudara saya yang mungkin ingin menjadi dokter, "Pastikan langkahmu. Jika tidak dapat memastikan sepasti-pastinya, bangunlah sikap rela. Jangan kelak mengeluh dan menyesali langkah. Menjadi seorang dokter itu panjang."

Jika memiliki hati yang sejati menjadi seorang dokter, ambillah. Saya pribadi, saat mengawali langkah tidak seratus persen, namun di dalam perjalanan saya memerlukan ketegaran dan terus mengingatkan diri dan membangun idealisme saya sendiri menjadi seorang dokter. Ya, sebuah proses legislasi, membangun konstitusi yang teguh dan terpatri dalam diri amat diperlukan. Terdengar absurd dan muluk-muluk? Namun inilah sandaran dan pegangan yang terus dapat kita pegang. Ketika kita lelah dan terbesit untuk menyesali profesi ini, tak ada hal lain selain kita diingatkan kembali atas pegangan hidup kita yang kemudian dipaku dengan sumpah hipokratik.

Pesan saya lagi, jangan mengambil profesi ini semata-mata karena keinginan orang lain ketika kamu menolaknya mentah-mentah. Jangan mengambil profesi ini karena kamu melihat profesi ini akan mendatangkan batangan emas bagimu. Jangan pernah.

Lakukanlah jika kamu senang atau memperkirakan akan menyenangi dunia ini. Lakukanlah ini jika kamu dapat kuat dan berusaha tidak goyah. Lakukanlah.

Bekerja dengan hati dan idealisme konon akan tetap menjadi rel ke arah manusia yang baik. Tetapi, bekerja dengan berharap pamrih akan kelak membutakan mata dan menyayat hati.

Rabu, 08 Januari 2014

Kehadiranku dan Kepatutanmu

Kau yang hadir untuk dicintai
Kau yang patut untuk dikagumi
Kau yang berharga tak tertera
Kau yang nyaris tak tercela

Jika kehadiranku tak diinginkan bagimu
Jika kepatutanku jauh dari harapmu
Jika harga hatiku tak sebanding untukmu
Jika tingkah lakuku jadi cela bagimu

Biarkan hadir ini jangan menjadi milik kita
Biarkan kisah lama ini patut dijadikan debu
Biarkan masa lalu berharga menjadi karat
Biarkan segala celaan kita tersimpan erat-erat

Kehadiran kita nan dewasa
Patutlah kita temukan jalan nan baru
Biarkan orang lain yang hargai kita bak emas
Sisihkan segala caci, abukan segala cela

Pontianak, 8 Januari 2014


Kamis, 05 Desember 2013

Complicated

When I didn't have any word to say
When I dreadfully swayed
When I got no colorful vision than gray

Everyday
I just wake up for another day
Looking for an emptiness
Drooling for nothing

And
It's complicated
Being awkward chronically

Pontianak, December 5th, 2013

Rabu, 04 Desember 2013

Komunikasi Dokter yang Harus Diintrospeksi

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk mengemukakan sebuah sisi lain. Saya tak mau lagi membahas mengenai teknis atau hukum atau hal lainnya yang berkaitan kasus dokter Ayu. Tapi di dalam hati kecil, saya merasakan bahwa ada sesuatu hal yang harus juga segera untuk diperbaiki oleh kami, para dokter. Dalam acara Indonesia Lawyers Club malam ini (3/12/13) pun keluar, yaitu "komunikasi" dan "empati".

Walaupun sebenarnya "komunikasi" dan "empati" seharusnya termasuk bagian algoritma alur hubungan dokter-pasien, terutama dalam membangun rapport, namun seringkali terlupa. Terlupa ini bisa bagian dari sistem, atau juga bagian dari habituasi yang tak disadari.

Komunikasi Pudar oleh Sistem

Ya, hipotesis saya mengatakan demikian. Sistem kesehatan ini seringkali memaksa dokter untuk bekerja ekstra-cepat. Misalnya dalam poliklinik Puskesmas di Jakarta dengan jumlah pasien menembus ratusan, dokter mau tak mau melayani dengan cukup singkat. Padahal pertemuan dokter-pasien yang ideal minimal 15 menit. Dokter mencoba membangun kepercayaan dan hubungan pasien yang baik. Pasien pun merasa enggan dipegang-pegang tubuh dan bagian privasinya pada orang yang ia baru kenal, bukan? Maka, hubungan yang hangat diperlukan di sini.

Tetapi, lagi-lagi sistem, yang perlu diubah entah jumlah tenaga medis yang ditambah atau jumlah sarananya. Saya sendiri, selama bertugas di Puskesmas, memang "beruntung" bahwa jumlah pasien sekitar 10-20an per hari, di mana saya lebih leluasa untuk membangun rapport dan memeriksa pasien. Tak jarang, canda dan sedikit berbagi info lainnya, akan memberi hubungan yang baik antara saya dan masyarakat, terutama jika saya sedang tak lagi berdinas.

Komunikasi karena Habituasi

Saya masih ingat, salah satu guru saya di FK UNIKA Atma Jaya pernah berkata bahwa ia lebih menyarankan siswanya untuk menghabiskan waktu di samping tempat tidur pasien dan berinteraksi dengan pasien, daripada banyak menghabiskan berkumpul di ruangan koas. Ya, ada benarnya, bahwa kita perlu dibiasakan bergaul dengan pasien.

Memang, to err is human. Dokter adalah pekerjaan yang cukup menguras tenaga, dan seringkali kita lupa untuk berinteraksi secara humanis dengan pasien kita. Kita perlu diingatkan terus tentang ini.

Komunikasi Banyak Membantu

Komunikasi yang komunikatif memang akan banyak membantu dokter dalam praktiknya. Memberi penjelasan seefektif mungkin dalam keadaan yang ada. Mungkin dalam kondisi darurat, kita dapat menjelaskan secukupnya atau meminta petugas lain untuk membantu menjelaskan. Atau ketika pasien tak dapat kita tangani, kita menjelaskan sebaik-baiknya sehingga keluarga pasien tak merasa "dokter menolak pasien". Dengan memang pengalaman yang tak banyak ini, saya mendapatkan bahwa suasana praktik kedokteran saya dulu baik-baik saja, sedikit sekali terjadi gesekan dengan pasien, walau memang pasien meninggal.

Cerita pasien yang meninggal pasien ini membekas di ingatan saya. Saat itu malam hari, UGD Puskesmas kami mendapatkan pasien yang tak sadarkan diri. Saya perkirakan ini adalah stroke, namun saya coba jelaskan bahwa kemungkinannya bisa lain-lainnya sehingga perlu pemeriksaan dan tindakan di rumah sakit yang besar. Saat itu, beberapa orang keluarganya datang satu per satu, sehingga saya mau tak mau harus dengan sabar menjelaskan ulang. Saya coba jelaskan bahwa apa yang kami bisa seperti ini, dan keadaan pasien gawat dan bisa meninggal jika tak dibawa ke rumah sakit, walaupun tak menutup kemungkinan pasien juga bisa meninggal saat perjalanan atau di rumah sakit kelak. Setelah mereka berdiskusi, mereka hanya ingin perawatan minimal di Puskesmas saja, dan informed consent pun ditandatangani keluarga. Dengan perawatan yang sebisa kami di Puskesmas untuk pasien yang diduga stroke, akhirnya pasien meninggal menjelang subuh. Keluarga pasien pun menerima dengan lapang dada, dan yang masih membekas di kepala saya adalah ucapan keluarganya, "Terima kasih dok atas usahanya terhadap orang tua kami." Saya pun terperangah, dan jika dipikir-pikir se-"wah" apalah usaha yang bisa kami lakukan di tempat terpencil ini, namun dihargai oleh pasien.

Hubungan yang komunikatif memang tampak sederhana. Ini menunjukkan lagi bahwa hubungan dokter-pasien tak hanya sekedar prestasi-kontraprestasi, tetapi kembali lagi ke hubungan yang manusiawi.

"Cure sometimes, treat often, comfort always." - Hippocrates

Kamis, 31 Oktober 2013

Memaknai Kematian ala Ahok

"Mati adalah Keuntungan" - Basuki T. Purnama (Ahok)

Kematian mungkin menjadi hal yang tabu untuk dikisahkan. Kematian mungkin adalah hal yang sedemikian buruk ketika semua orang ingin menghindarinya. Dan apalagi bila disandingkan dengan keprofesian sebagai dokter, ada yang mengatakan dokter berusaha "melawan" kematian.

Ketika kita berpikir, mengapa kematian itu harus sedemikian ditakutkan? Apakah ia memberikan luka duka yang sedemikian dalamnya? Apakah ia membuat seseorang tak lagi hidup? Apakah ia membuat seseorang tak bisa lagi merasakan hasrat keduniawian?

Dalam agama yang saya percayai, Katolik, bahwa "hidup" di dunia ini adalah hal yang bersifat sementara. Di mana kita mengerjakan dan berkarya, hingga ajal menjemput dan masuk ke dalam kehidupan kekal. Jadi jika menurut Katolik, "hidup" dan kehidupan kekal adalah hal yang setara dan tidak ada yang patut untuk ditakutkan.

Begitu pula yang selalu diutarakan Ahok dalam setiap kesempatannya. Ia selalu mengatakan bahwa ketika ia kelak mati dalam tugas bernegara, tidak ada yang perlu ia maupun keluarga sesalkan. Ketika ia telah hidup, mengerjakan segala tugas dan kewajibannya sesuai dengan aturan negara dan agama, untuk apa kita takut untuk mati? Jika suatu saat Ahok mati, ia ingin dikebumikan di Belitung dan ia mita dituliskan kalimat di atas pusaranya, "Mati adalah Keuntungan."

Begitu beraninya Ahok mengumbar soal kematian? Salah satu hal logis yang ia katakan adalah saat kita hidup inilah kita bisa mengungkapkan apa yag kita pikirkan tentang kematian. Adakah orang yang telah mati dapat mengirimkan pesan-pesan terakhir kepada orang yang hidup? Masuk akal. Jadi, hendaklah berbicara soalnya tidak dianggap tabu. Kematian adalah hal yang alamiah dan akan terjadi kepada segala makhluk di bumi ini, bukan?

Apakah kita perlu takut untuk mati muda, seandainya garis hidup kita demikian? Ahok menjawab dengan perumpamaan yang cerdas. Ia mengatakan lihat saja Bruce Lee dan Marilyn Monroe, ia mati dengan kenangan postur muda yang begitu baik. Orang akan mengenang kita sesuai dengan apa yang kita telah kerjakan, bukan karena panjangnya usia kita.

Pemaknaan kematian ala Ahok ini membuat saya berpikir kembali, bahwa kematian adalah yang biasa di dunia ini. Tinggal bagaimana kita dapat berbuat dan berkarya di dunia ini sebelum kita menghadapi pengadilan terakhir setelah roh ini tak terkandung lagi dalam badan.


Addendum: 
(Bagian ini boleh dilewatkan bagi pembaca yang tidak tertarik tafsiran Alkitab).

Ternyata kutipan "mati adalah keuntungan" ternyata adalah kutipan Alkitabiah (Thanks to Chieka!) Ini diambil dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (Phillipians 1:21). Dikatakan, "For to me life is Christ, and death is gain." yang terjemahannya, "bagiku (aku di sini berarti Paulus) Kristus adalah hidup dan kematian adalah keuntungan."

Karena saya bukan ahli tafsir Alkitab, saya ambil tafsiran dari Little Rock Catholic Study Bible. Filipi 1:19-25 secara keseluruhan adalah jawaban debat Paulus atas makna kemartiran (pengorbanan) terhadap karya misinya. Ia mengatakan bahwa Kristus berada di segala pusat dirinya, baik dalam hidup dalam nama Kristus, dan kematian berarti menyatu dengan Kristus.

Senin, 28 Oktober 2013

Ahok: Harapan di Balik Chauvinisme dan Primordialisme

Basuki T. Purnama alias Ahok (Sumber gambar: Tempo)


Saya ingin membuat pengakuan bahwa saya sudah tersihir oleh kedua pemimpin Jakarta, Jokowi-Ahok. Ya, memang dari sejak Pilkada, saya lebih memilih ke arah mereka dibandingkan abang alumni SMA saya, Fauzi Bowo. Kemudian kian hari saya mengikuti perjalanan mereka waktu demi waktu, entah dengan menonton rekaman rapat mereka di kanal Youtube PemprovDKI, mengikuti berita dengan label "Gebrakan Jokowi-Basuki", dan lainnya. Entah kenapa ada rasa harapan yang timbul yang begitu besar dari dalam diri saya. Ya ini dipertegas oleh Ahok dalam setiap kesempatannya, "Yang memilih kami adalah orang yang memiliki harapan."

Saya memilih Jokowi-Ahok bukan karena "efek Kelapa Gading" alias kesamaan suku. Saya sudah tak mau lagi mendekatkan diri dengan hal-hal berbau chauvinistik atau primordialistik. Omong kosong dengan kedua hal itu. Ya, saya memang berdarah keturunan Cina, namun KTP saya jelas tertulis WNI, bukan WNC. 

Saya percaya bahwa Jakarta dan negeri ini akan berubah. Berubah dengan seiiring timbulnya budaya malu dan meninggalkan hal-hal yang inkonstitusional yang memang sudah terlanjur mendarah daging di segala urat nadi negeri ini. Jokowi-Ahok akan menegakkan konstitusi negara bukan sekedar ayat suci atau tradisi segala hal berbau agamais ataupun etnis. Kita harus kembali kepada segala yang telah menjadi tiang pancang fondasi negeri ini yang dibangun oleh bapak bangsa kita.

Ahok pun sudah secara tegas menunjukkan ke-Indonesia-annya, bukan ke-Tionghoa-annya. Inilah yang saya dapatkan setelah menonton beberapa videonya seperti pada pertemuan Koko-Cici Jakarta dan beberapa perhimpunan Tionghoa. Tidak ada perilakunya pun yang menganakemaskan etnis Tionghoa, namun apa yang ia lakukan adalah menyamakan hak yang setara bagi tiap-tiap warga negara dengan sewajarnya.

Dalam beberapa tulisan di blog ini pernah saya sampaikan bahwa saya begitu mengidolakan Jokowi-Ahok, terutama memang Ahok. Sekali lagi bukan karena dia Tionghoa, tetapi dia tegas dan menggebrak serta membuat sesuatu terang-benderang, bukan hanya sekedar menyampaikan rasa prihatin.

Saya sangat senang dengan jawaban-jawaban dan tindakan Ahok yang "membela" Lurah Susan Jasmine, walaupun pernyataannya bertolak dengan pernyataan Gamawan Fauzi. Saya sangat senang dengan bahwa ia dengan posisinya sebagai birokrat tetap menempatkan ayat konstitusi dan ayat suci dalam porsinya masing-masing. Saya sangat senang bahwa ia tidak gentar dengan orang-orang yang melawan peraturan bahkan anarkis. Ia pun tak segan melawan orang seetnisnya pun dari kalangan konglomerat sampai melarat yang tak sesuai dengan apa yang seharusnya dipatuhi. Saya pun senang bahwa ia tak mengambil jalan belakang bahkan untuk stafnya sendiri yang tidak lolos administrasi dalam mengikuti tes CPNS. Ia menegakkan konstitusi.

Memang saya dulu pernah agak kecewa dengan Ahok yang pada awal-awalnya begitu galak dengan profesi dokter. Namun setelah saya pikir-pikir, memang ada benarnya juga, bahwa profesi ini dan segala institusi pendidikan serta kerjanya pun masih banyak harus dibersihkan, agar siapapun memperoleh hak dan kewajibannya secara adil dan proporsional.

Saya tetap berharap dan ingin terus berkontribusi, menghapuskan chauvinisme dan primordialisme. Tidak ada tempat bagi keduanya di Indonesia.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Tunjukkan Padaku Seorang Wanita yang...

Malam ini
Aku berdoa pada Tuhanku

Tuhan jangan tunjukkan padaku
Seorang wanita yang berparas indah
Seorang bidadari yang turun dari khayangan
Seorang peri tak bercela
Seorang manusia yang sempurna

Tetapi berikanlah pasangan bagiku
Yang mengerti di kala aku kecewa
Yang menegurkan di kala kesedihanku
Yang bersamaku di kala aku membisu
Yang bergandengan tangan di kala aku dibutakan
Yang memberikan tawa di tengah kesungutanku
Menjadi obat penawar segala kesakitanku
Dan aku pun demikian juga bagimu

Aku menutup doa
Agar Tuhan selalu memelihara hatiku
Hatimu
Hati kita

Pontianak, 26 Oktober 2013


Jumat, 18 Oktober 2013

Di Tanjung Bajau

Di Tanjung Bajau
Aku enyahkan risau
Coba hilangkan ingat akan engkau

Membunuh semua rasa kecewa
Yakinkan diri segarkan jiwa
Jauhkan duka dekatkan tawa

Tuhan bantu diriku
Bukakan telinga mataku
Cairkan hati yang beku

Aku pandangi lagi pantai
Harap engkau di sejauh cakrawala laut ramai
Hidup baru 'kan lagi aku semai

Tanjung Bajau, Kalimantan Barat
14 Oktober 2013



Rabu, 14 Agustus 2013

Tak Terpikirkankah

Tak terpikirkankah pada dirimu

Segala untai sapa
Segala hasil kriya
Segala lukisan buana
Segala kata tanya

Segala rajutan mimpi
Segala kekhawatiran hati
Segala peluhnya matahari
Segala kerisauan diri


Jangan kau bertanya

Mengapa malamku gundah adanya
Mengapa pagiku terasa berat membukanya
Mengapa siangku terusik teraniaya

Siapakah engkau bagiku
Siapakah penenun rintihku
Siapakah penyimpul senyumku



Aku akhirnya terpenjara pada sanubari

Terajam indah tak terpatri
Tercabik ria tak terperi
Terantai bebas tak terberi



Jangan kau tanya apa maksudku

Sesuatu yang telah kau ukir di dalam hatiku
Sesuatu yang telah ku reka di dalam hatimu



Mungkinkah kau membiarkan aku begini

Tersungkur dan tak berarti



Tertidurlah dalam mimpimu, kapan-kapan kita bersua lagi


-Jakarta, 14 Agustus 2013, 23:05 WIB


Selasa, 23 Juli 2013

Melawan Garis

Terperangkap
Tersembunyikan
Terrantaikan

Sungguh erat
Hinggaku menarik dengan segenap ruhku
Sungguh erat

Aku terlahir dalam garisku
Aku berjalan dalam catatan terpatri
Aku bermimpi yang bukan peluhku

Aku ingin menangkis dengan tanganku
Aku ingin menyeret dengan kakiku
Aku ingin berontak dengan otakku

Namun
Tanganku termutilasi
Kakiku terpaku
Otakku tersihir

Sungguh berat
Hingga ragaku layaknya bukan empunyaku
Sungguh berat

Bergundah
Berkilah
Berserapah

Jakarta, 23 Juli 2013


Kamis, 11 April 2013

Menikmati Hasil Keringat Sendiri

Saya baru hampir genap satu setengah tahun ketika resmi sebagai dokter. Ya, banyak pekerjaan yang saya alami, mulai dari editor kedokteran, dokter umum untuk bakti sosial, sampai dokter umum di Puskesmas. Di sinilah menempa saya untuk bekerja dan saya pun menghasilkan uang dengan keringat saya sendiri.

Memang ini bukan kali pertama saya. Saya masih ingat dulu saya pernah mendapatkan honorarium ketika menulis walkthrough untuk game Final Fantasy VIII dan dimuat di Final Fantasy World dari HotGame Gramedia. Saat itu seingat saya, saya masih siswa SMP (tahun 2000 atau 2001) dan sekitar satu atau dua ratus ribu rupiah jumlah honor saya. Kalau dipikir-pikir, cukup besar juga ya untuk saat itu.

Ada enaknya sebenarnya dalam mendapatkan uang untuk diri sendiri. Pertama adalah sebuah kebanggaan hidup mandiri. Paling tidak saya tidak perlu meminta kepada orang tua untuk membeli barang sehar-hari. Kedua, saya jadi mengerti susahnya mengumpulkan rupiah demi rupiah. Bukannya saya mata duitan, tetapi toh setiap orang perlu uang untuk hidup, bukan demikian?

Saya pun merasa bangga dengan berbagai barang-barang yang saya beli dengan keringat saya sendiri seperti iPad dan PlayStation 3. Ya, inilah hasil keringat sendiri! Namun saya juga tidak boleh lupa menabung, paling tidak untuk keluarga kecil saya kelak. Semoga cukup ya :)


Senin, 11 Maret 2013

Kisah Saya, Tenaga Medis di Indonesia

Mungkin judul di atas terlalu bernada sedikit angkuh. Tapi hal ini yang sekelebat saya teriakkan di dalam hati saya. Apa salah saya sebagai tenaga medis di negeri ini?

Di negeri ini, dokterlah sebagai tameng, dan katanya akan dipecat karena dianggap "menolak" pasien karena ruangan penuh. Menjadi salah kami kah ketika ruangan penuh sesak pasien? Saya sendiri seumur hidup saya menjadi dokter di tempat saya belajar dan sampai di tempat saya bekerja sekarang, saya tidak pernah melihat instansi saya bahkan sejawat saya menolak pasien. Menolak pasien di sini berarti kami tak mau merawat pasien dan membiarkan pasien. Tidak pernah! Saya tetap melaksanakan seoptimal dan semaksimal yang kami bisa. Walaupun pada akhirnya pasien tak mau dirujuk, kami juga memberikan pelayanan semaksimal kami yang kami mampu.

Di negeri ini, dokterlah yang sering diketuk pintunya atau berdering teleponnya dengan keadaan apapun. Mau sedang makan, sedang tidur, sedang bermain dengan anak. Kami tidak bisa bilang: "Oh ini waktunya saya di rumah, maaf jangan ganggu saya." Dokter bekerja 24/7, lembur yang tak terkira. Bahkan ketika keluarga tidur, anda tidur nyenyak, kami masih bekerja.

Di negeri ini, dokter memeriksa laboratorium sudah disangka ingin mengambil untung dan komisi. Duh! Parahal pemeriksaan penunjang adalah salah satu bagian dari penegakkan diagnosis. Tentunya kami pun sudah memikirkan apa-apa saja yang perlu diperiksa. Namun ketika pasien kita berobat ke rumah sakit di luar negeri dan diperiksa A sampai Z, pasien diam tanpa kata protes. Sedangkan ketika kami mau memeriksa darah rutin saja untuk pasien demam, sudah disangka ingin mengutip tilang lalu masuk ke kocek sendiri dan dianggap lebih jahat dari Polantas oleh salah satu anggota dewan.

Di negeri ini, ketika bayi prematur sekian ratus gram meninggal, ini salah dokter! Dokter harus dituntut sampai ke liang kubur. Tapi ketika pasien diabetes berobat ke klinik-klinik alternatif, menggelotorkan jutaan rupiah untuk "herbal-herbal", dan akhirnya meninggal karena ketidakstabilnya glukosa darahnya. Seringkah terdengar klinik alternatif itu dituntut?

Di negeri ini, dokter (terutama dokter umum) dianggap merampok uang pasien. Tapi tak pernahkah terpikirkan betapa dokter umum membanting tulang kerja di klinik 24 jam? Tak pernahkah terpikir kami dokter umum di daerah terpencil di seluruh Indonesia ini pernah 3 bulan bergaji kurang dari sepertiga hak kami? Sedangkan kami tetap harus bertahan hidup di pedalaman negeri ini?

Di negeri ini, terutama daerah terpencil, kami sudah terbiasa dihutangi pasien. Tapi kami tak pernah menaruh dendam dengan mereka. Walaupun mereka lagi, kami tetap layani. Kami hanya berpegang pada kemanusiaan.

Di negeri ini, kami menjadi makanan jurnalis. Sedikit berita kami menjadi bombastis. Dan entah langsung talkshow atau berita apapun menjadi primadona di layar kaca. Dan kami dicecar. Kami dianggap malpraktik, kami dianggap jahat, dianggap tak berhati. Pernahkah kalian berpikir sebaliknya, apakah yang dilakukan media massa ini berhati atau mencari sensasi? Ke mana aturan emas pergi?

Ya itu keluh kesah. Tapi kami tak pantas berkeluh kesah dalam kerja dan karya kami. Itu semua kebanyakan kami simpan dan tetap lanjut berkarya. Walaupun hati ini pun terasa teriris pedih.

 

Kamis, 21 Februari 2013

Hibah NICU ke Puskesmas? Pleaseee Jangan Bercanda Wanda Hamidah

Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali isu kesehatan di negeri ini. Setelah kemarin masalah Dera, kini saya membuka website portal berita muncul berita Upik. Kedua-duanya lagi-lagi masih menyoal NICU, Neonatal Intensive Care Unit, atau Unit Perawatan Intensif Neonatus. Thanks to internet, saya di pedalaman Kalimantan ini masih bisa menyimak hal yang hangat di negeri ini.

Salah satu hal yang unik-menggelitik, ketika saya membaca komen salah satu teman si jejaring sosial Facebook, bahwa ada anggota dewan yang meminta Puskesmas untuk diberi fasilitas NICU. Saya pun heran setengah mati dan mencari link tersebut. Dengan memasukkan kata kunci "NICU Puskesmas" langsung muncullah tautan dan nama yang sudah sering muncul beberapa minggu belakangan ini, Wanda Hamidah, anggota DPRD DKI Jakarta.

Gambar: Kompas.com

Berikut isi berita lengkapnya, bersumber dari Kompas.com.

Wanda Minta Pemprov Hibahkan NICU ke Puskesmas

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Komisi E, Wanda Hamidah, mengharapkan Pemprov DKI dapat memberi hibah ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) kepada 44 puskesmas yang ada di Ibu Kota. Langkah ini diharapkan dapat mengantisipasi terulangnya insiden serupa kematian bayi Dera Nur Anggraini.

"Aturannya saat ini juga masih ditelaah, hibah ke swasta untuk masyarakat. Semuanya bisa dilaksanakan asal tepat sasaran," kata Wanda, di Gedung DPRD Jakarta, Selasa (19/2/2013). Wanda menjelaskan harga sebuah ruang NICU sekitar Rp 2 miliar. Bila ada hibah untuk 44 puskesmas, maka butuh dana Rp 88 miliar. Menurut dia angka tersebut tidaklah besar bila dibandingkan dengan APBD DKI Jakarta yang mencapai Rp 49,9 triliun.

"Saya kira mudah ya bagi Pemprov untuk menanggulangi permasalahan ruang NICU tersebut," kata Wanda yang juga menjadi Ketua Advokasi Komnas Perlindungan Anak. Ia juga mengharapkan Pemprov DKI segera menambah ruang rawat inap kelas III di setiap RS, khususnya RSUD kepemilikan Pemprov.

Penambahan ruang dan fasilitas pendukung lainnya, lanjut Wanda, juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas layanan, jumlah tenaga medis, ataupun dokter spesialis. "Jumlah bednya juga harus ditambah, misalnya saja dari 400 menjadi 700 bed. Dokter spesialis juga harus ditambah karena tak jarang ada dokter spesialis jantung, yang idealnya dalam sehari menangani 8 pasien, tapi saat ini menangani 30 pasien," katanya.

Wanda pun mengimbau RSUD segera merujuk ke rumah sakit swasta yang memiliki peralatan lebih lengkap bila peralatan yang dimiliki diperkirakan tak bisa memberikan layanan optimal untuk pasien. "Berkaca dari kasus Dera, RSUD jangan ragu memberikan rujukan kalau memang tidak bisa melayani maksimal. Masalah nyawa tidak boleh dipermainkan," ujar Wanda.

Tanggapan saya: Wanda Hamidah kelihatannya amat reaktif dan cenderung konten kata-katanya korsleting. Kenapa saya katakan demikian, karena ia sungguh tidak memahami sistem kesehatan nasional kita. Mungkin terdengar sangat wah dan membesarkan harapan warga Jakarta. Bagaimana tidak, bakal banyak NICU di radius terdekat dari rumah karena tersebar di sebagian Puskesmas.

Tapi Wanda tidak tahu bahwa esensi Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan primer. Saya tegaskan lagi, primer. Sedangkan NICU dari artinya saja, sudah bukan lagi keadaan kesehatan primer. Ini sudah level rujukan sekunder yang perlu penanganan intensif.

Puskesmas adalah pusat dari program-program yang sebenarnya lebih ditekankan ke arah promotif dan preventif, dan kemudian ke kuratif dan preventif tingkat dasar misalnya imunisasi, pemberantasan malaria, masalah gizi, membantu memfasilitasi Posyandu, UKS, Kespro, higiene dan sanitasi, koordinasi masalah kesehatan di lintas sektoral, kaderisasi masyarakat, surveilans, dan lainnya. Bidang Yankes atau poliklinik rawat jalan hanyalah satu dari puluhan program Puskesmas. Lalu, Pada beberapa Puskesmas kemudian dibuat sebagai Puskesmas Rawat Inap untuk memberi tindakan yang memerlukan opname, tetapi lagi-lagi adalah tingkat primer, karena rujukan rumah sakit masih dirasa agak/terlalu jauh atau sedikit jumlah tempat tidurnya. Jadi tentu tidak nyambung kalau dipasangkan fasilitas perawatan intensif di Puskesmas.

Menurut saya, justru yang diperlukan oleh DKI Jakarta adalah sentral komunikasi antar rumah sakit serta akses transportasi atau ambulasi pasien. Semua data menjadi terhubung sehingga mampu berbagi informasi tentang kemampuan dan ketersediaan layanan rumah sakit. Hal ini untuk membantu pasien mendapatkan akses layanan yang cepat dan akurat.

Demikian juga kalau berbicara soal jumlah dokter spesialis. Jangan hanya bercuap-cuap ayo naikkan, ayo perbanyak. Tetapi, risetlah dulu, tinjau dulu, apa yang terjadi dengan sistem pendidikan dokter spesialis yang ada. Jangan ajak kami bercanda dulu, Bu Wanda.

 

Sabtu, 16 Februari 2013

Sentuhan Humanis Dokter yang Kian Terkikis

Dokter terlalu percaya dengan teknologi. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sangat penting terabaikan dokter. (Menjadi Pasien Cerdas - dr. JB Suharjo B Cahyono, SpPD, hal 103)

Ketika saya membaca dua kalimat di atas, saya merasa terpukul. Terpukul untuk kembali membuka hati saya, dan merenungkan satu setengah tahun rekam jejak saya sebagai dokter. Apakah saya demikian?

Dalam beberapa paragraf sebelum kalimat tersebut, penulis buku tersebut menceritakan suatu bias dalam praktik kedokteran modern. Para dokter lebih tertarik pada teknologi dibandingkan diri pasien. Hubungan relasi pasien dan dokter kian menjauh. Beberapa dokter bahkan dokter spesialis dapat mengalami degradasi dalam keterampilan klinis karena sudah terlanjur adiksi dengan teknologi.

Saya mencoba membuka hati saya. Bagaimana dengan selama ini saya berpraktik di desa Menjalin ini. Saya akui bahwa saya pernah seperti kalimat itu. Misalnya pasien dengan menggigil dan demam sekian hari, saya rujukkan ke bagian laboratorium puskesmas untuk pemeriksaan darah tebal untuk mencari parait malaria. Atau kalau saya di kota, mungkin saya sudah mengambil lembar permintaan pemeriksaan dan mencentang hematologi lengkap, serologi dengue, dan serologi typhoid.

Ini tampak seperti suatu "otomatisasi" atas suatu "adiksi". Saya masih ingat kata-kata almarhum dr. AJ Gozali, SpPD bahwa 80 sampai 85 persen dari diagnosis sudah ada di anamnesis. Sisanya adalah pemeriksaan fisik dan sebagian kecil pemeriksaan penunjang.

Ya, sebagian besar petunjuk diagnosis ada di cerita dan keluh kesah pasien. Namun sudahkah saya menghabiskan waktu saya yang lebih untuk mendengarnya? Sudahkah saya memberi sentuhan manusiawi kepada pasien, bukan semata-mata menusukkan jarum lancet untuk pemeriksaan darah? Saya lagi-lagi teringat kata-kata guru saya dr.Jimmy Barus SpS, "Habiskan lebih banyak waktu di samping pasien." Ya, inilah sirat maknanya.

Sebuah kata-kata sindiran dari Dr Mimi Guarneri di "The Heart Speaks", "Beberapa Dokter modern memiliki mental montir dengan menganggap tugas mereka adalah menemukan masalah secepat mungkin dan segera memperbaikinya, dan bukannya membangun hubungan jangka panjang."

Jangan sampai kita membuat sentuhan manusiawi akhirnya terkikis habis oleh teknologi. Jangan sampai pada akhirnya kita hanya menangisi sebuah ironi. Saya pun bersimpulan untuk kian giat mendengarkan keluh kesah pasien dan memberikan sentuhan humanis kita. Kalau kita menjadi pasien, bukankah demikian pula yang kita inginkan. Aturan emas terjadi.

 

Saya Fans Jokowi-Ahok

Ya, saya adalah termasuk orang yang dulu hingar bingar dengan Pemilukada DKI Jakarta 2012. Walaupun saya bertugas di Menjalin, Kalimantan Barat, saya masih bisa mengikuti berita tentang cagub dan cawagub pilihan saya melalui internet.


Ya, saya adalah fans Jokowi-Ahok. Pertama saya melihat mereka memiliki prestasi yang luar biasa di jabatan terdahulu mereka. Kedua, saya ingin penyegaran. Dan ternyata semua tak hanya omong kosong belaka.

Setelah pelantikan mereka, saya termasuk rajin menyambangi video-video unggahan PemprovDKI. Di sini saya mendapat sesuatu yang luar biasa. Suatu keberanian yang sudah lama terkubur, suatu idealisme cita-cita yang dulu tampak mustahil kini bangkit kembali.

Saya merasakan aura Sukarno. Dulu konon pidato dan perkataan Sukarno amat ditunggu dan didamba rakyat. Kini semua terbaharui dalam diri Jokowi-Ahok.

Setiap menonton video ini saya merasakan mendapat sesuatu baru yang seharusnya terjadi pada pemerintahan tata kota. Dan dalam video ini pula saya menyegarkan inspirasi bahwa kita bekerja untuk melayani. Ahok mengingatkan bahwa sekaya-kayanya orang tidak ada batasan puas, kecuali kalau pikiran sudah diatur dengan label "melayani".

Dengan Jokowi-Ahok kita diingatkan juga untuk memanusiakan manusia dengan segala kemampuan kita dan lobi-lobi kita. Semua pasti ada jalan keluarnya untuk mengatasi masalah tanpa menginjak-injak harkat dan martabat manusia.

Dengan kecerdasan Jokowi dan Ahok kita diingatkan lagi dengan segala sesuatu yang seharusnya terjadi dan yang tertulis dalam keilmuan dan teks akademik. Tidak ada lagi main mata, menilap uang, dan menjilat sana-sini. Semua adalah hal yang seharusnya terjadi.

Dan kita siap untuk Jakarta Baru.

 

Rabu, 16 Januari 2013

Resensi Buku: Kangen Indonesia - Indonesia Di Mata Orang Jepang

Walaupun saya berada di desa yang terpencil di Kalimantan, hasrat saya masih terlalu tinggi untuk membuka internet. Suatu mukjizat bahwa kecamatan saya telah dilalui sinyal 3G dalam dua bulan terakhir, walau masih suka hilang timbul. Kalau demikian yang tak bisa dilakukan tentunya adalah mengunduh alias download! :)


Lihat bukunya, jangan tangannya :P

Ketika saya membuka website toko buku online, saya tertarik pada suatu judul "Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang" karangan Hisanori Kato. Saya pun mengeklik beli (tentunya lebih mudah dan pasti daripada saya harus ke Gramedia di ibukota propinsi). Yang membuat saya tertarik adalah, saya adalah orang yang selalu penasaran dengan apa komentar orang lain tentang Indonesia, negeri saya ini. Ya, saya sebenarnya orang yang amat gerah kalau warga Indonesia sendiri memaki dan mencela negaranya sendiri lantas memuja-puji negara orang lain. Apakah rumput tetangga selalu lebih hijau? Saya selalu membela, "Tidak juga." Yang kedua, buku ini terbitan Penerbit Buku Kompas, salah satu harian nasional favorit saya.

Menjadi sebuah hal yang miris, kalau ketika ternyata ada orang lain, bahkan warga negara lain, yang menjadi jatuh cinta pada negeri ini. Walau, memang cinta tak bisa dipaksakan. Inilah kisah perjalanan Hisanori Sato, seorang Jepang, yang seringkali berkunjung ke Indonesia dalam 20 tahun terakhir perjalanannya.

Ia cinta Indonesia dengn hal sederhana. Hal yang mungkin kerap kali membuat kita jengkel, membuat orang Indonesia malah sebaliknya ingin Indonesia seperti Jepang atau Dunia Barat. Namun Kato membantu menyadarkan bahwa setiap bangsa memiliki karakter khasnya masing-masing, itulah bangsa itu.

Kato bercerita bagaimana ia bisa menikmati segala sesuatunya di Indonesia, mencoba berpikir positif seperti kebanyakan orang Jawa, memahami segala jumputan nasi padang dibandingkan renyahnya makanan cepat saji ala Barat atau makanan ala convenience store. Ia menikmati setiap segi manis-pahitnya Indonesia, dan diformulasikannya dalam sebuah kenangan indah dan kerinduannya pada bangsa ini.

Membuat Indonesia seperti rumah keduanya tentu bukanlah hal yang mudah bagi Kato. Apalagi saya mengenal teman-teman saya sendiri, yang notabene asli Jakarta, malah ingin angkat kaki dari ibukota ini.

Macet, banjir... Tapi apakah kita pernah melihat keramahan kita dengan abang penjual nasi goreng, atau manisnya penumpang Kopaja di sebelah kita yang spontan menawarkan segelas air mineral di kala adzan maghrib bergema saat Ramadhan? Ya, tulisan ini, bagi saya, mengajak kita bagaimana kita kembali bisa menyeruput teh hangat kita dengan santai walau dunia tampaknya ini begitu pelik.

Kamis, 10 Januari 2013

Ngahe Diri' Nian

Ketika alapm baganti siang
Siang baganti malapm
Lekoa uga' diri' jaku
Limpahe rasanya nang barubah

Ketika diri' diapm
Bapikir ka dalapm hati

Ngahe diri' nian ada ka' dian
Ngahe diri' nian masih basengat
Ngahe diri' nian masih bajalatn
Ahe nang diinginkatn Jubata jaku

Nanak ada lagi uang manyak
Nanak ada lagi makanan nang repo
Nanak ada lagi nang bera-bera
Kade sengat nian telah diambil Jubata sabesap mata

Auklah kade memang lekoa
Untuk ahe hidup untuk babaro
Bukeknya kita' arus hidup barage
Berbuat edo', bacuramin ka Saruga

Aku matakatn pada diriku
Hidup tak lebih dari sejentik jari Tuhan
Milekah aku dipanggilatnkanNya
Kita samua arus basiap-siap

Manyalitn, 10 Januari 2013


 

Rabu, 09 Januari 2013

Galau Jakarta dari Desa

Saya yakin inilah penyakit yang banyak diderita oleh para dokter-dokter PTT. Malarindu dan galaukoma (lebih dari galausopor!). Sungguh.

Bagaimana hidup sendiri, terutama untuk yang belum menikah, nan jauh ratusan kilometer dari keluarga, awalnya pasti merongrong hati. Namun seiiring perjalanan waktu, perasaan sudah mulai biasa saja, maka bisa saja dilalui.

Namun (lagi-lagi namun) hal itu bisa rekurensi lagi ke pikiran superfisial kita ketika masa galau. Ya, masa-masa galau tidak jarang timbul di desa, di kala mau tak mau terpikirkan. Sebut saja, masa kalau mati lampu. Apalagi kalau hanya dokter, rumah dinas yang gelap ditemani lampu emergency yang kian meredup. Sungguh galau bukan!

Kedua, memandangi lautan bintang di langit sambil duduk di teras rumah dinas...

Ketiga, memandangi halaman rumah dinas sambil mencium bau rumput basah setelah hujan datang...

Keempat, pikiran kosong saat 30 menit menunggu rendaman pakaian kotor yang tengah direndam di waskom. Aaarghh...!

Sungguh banyak waktu galau dokter PTT. Di tengah galau, pasti banyak yang terekskresi keluar dari pikiran. Entah bagaimana nyak-babe di rumah, bagaimana adik saya bisa menyelesaikan skripsi saya... Dan tak pelak, sungguh, saya rindu Jakarta. Saya rindu untuk berpetualang dengan busway, menjelajah Kota Tua, berburu buku baru dan bekas, menikmati kesendirian di Sushi Tei dan Sushi Groove *loh*. Saya rindu "polusi" Jakarta, di kala semua tampaknya enggan ke Jakarta.

Kini waktuku di Menjalin sudah berderik-derik. Kurang dari 100 hari. Aku mencium bau Jakarta, aku mencium bau petualangan... Namun, bisakah kelak. Aku pun kembali menikmati lautan bintang dan berharap ada bintang yang jatuh.

Menjalin, 9 Januari 2013.

 

 

Jumat, 23 November 2012

Ya Inilah Risiko Seorang Dokter

Ada suatu hal yang ingin saya bagi. Suatu hal unik yang menyentil hati nurani saya sebagai dokter.

Suatu saat, saya mengabari ibunda saya, seorang ibu rumah tangga. Saya mengatakan maaf baru membala pesan singkatnya karena saya baru saja dipanggil ke rumah warga. Ya, mungkin karena insting ibu-ibu, ia menanyakan setiap detail.

Saya mengatakan bahwa saya melakukan resusitasi jantung paru pada pasien yang diduga terkena serangan jantung dan stroke. Ketika saya di sana, saya merasa masih bisa meraba sedikit nadi pasien tersebut dan akhirnya saya melakukan resusitasi itu hingga saya melihat bahwa pasien telah tak dapat diselamatkan lagi dan saya nyatakan pasien meninggal.

Ibu bertanya lagi detail bagaimana saya melakukan resusitasi tersebut. Saya mengatakan menekan-nekan dan memberi bantuan nafas kepada pasien. Ia bertanya apakah mulut ke mulut, saya mengatakan kebetulan saya membawa masker udara dari pelatihan ACLS dahulu. Saya tak membuat bantuan mulut ke mulut langsung.

Hingga suatu saat yang membuat saya gerah, bahwa kata ibunda, janganlah terlalu 'idealistis' menjadi seorang dokter, tak perlu katanya memberi bantuan nafas, "cukup pompa-pompa saja". Memang maksudnya baik, bahwa saya takut tertular penyakit dari "nafas" itu. Di kala dokter mempertahankan idealismenya dan menghindari malpraktik, nurani saya teriris perih.

Saya mencoba memberikan beberapa argumen pada ibunda:

  1. Apa yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, selalu memperhatikan kewaspadaan universal, bahwa mengondisikan atau memperhatikan sekitarnya agar dirinya tetap terhindar dari hal yang seharusnya dapat dihindari.
  2. Terkena penyakit memang risiko dokter dan tenaga kesehatan, namun seperti poin 1 bahwa kewaspadaan universal tetap dilakukan. Bagi saya, jika, umpamanya, suatu ketika saya dihadiahkan penyakit yang tertular karena kontak saya dengan pasien, saya tidak akan mempersalahkan siapa-siapa atau menyesalinya. Ya, memang itulah risiko saya sebagai dokter. Orang yang mencari dokter, adalah orang-orang yang memang sakit. Dan inilah klien dokter. Begitu pula bahwa profesi lain memiliki risiko-risikonya sendiri.
  3. Melakukan hal yang melemahkan pasien dengan mencoba melindungi diri secara berlebihan adalah hal yang sungguh keliru. Misalnya ada pasien yang perlu resusitasi, memberi nafas buatan, tetapi dalam diri Anda percaya sekali bahwa saya malah akan mendapat hawa nafasnya dan akan merugikan saya. Padahal sesuai ilmu yang sudah diamini, dengan hembusan nafas Anda, suatu rencana Pencipta bisa saja terjadi. Saya mengingat kembali ketika membantu bayi P, dimana saya dengan refleks memberi nafas mulut ke mulut. Dan suatu kebanggaan diri bagi saya ketika bayi P ini datang ke poli saya dan mengobati batuk pileknya. Saya sempat tercetus bahwa jika saja bayi biru itu tak saya beri nafas, apa mungkin dia kini bisa tumbuh baik. Bagi saya, sudah sangat cukup jika diri saya ini mampu berguna bagi mereka yang memerlukan saya, khususnya saya sebagai dokter.
  4. Coba kita memposisikan diri kita sebagai keluarga pasien. Bagaimana perasaan kita bila asa saudara kita yang sekarat yang memerlukan pertolongan kegawatdaruratan tapi dokternya memberi dengan setengah hati? Apakah hati kita tak sakit dibuatnya?
  5. Saya mengatakan bahwa saya adalah dokter desa, dokter dengan segala keterbatasannya. Ketika saya dalam keadaan tak membawa ambu bag, apakah saya boleh meniadakan bantuan nafas karena saya takut atau jijik dengan bantuan mulut ke mulut? Kalau saya memiliki fasilitas yang lengkap, maka tentu tidak demikian. Namun saya juga tak boleh menggerutu di balik ini, apapun itu saya tetap harus mencoba apa yang saya bisa untuk kebaikan pasien. Saya mempercayai satu hal, bahwa memang dalam keterbatasan mungkin tak sebaik yang lengkap, namun apapun itu seberkas cahaya tetap ada. Cahaya itu tetap ada dan dokter di dalam berkat Yang Kuasa, memberikan hal yang terbaik yang dapat diberikan.
Saya memang dokter yang idealis. Idealisme saya dan Anda mungkin berbeda. Mari kita kejar idealis dan harapan kita masing-masing. Dan inilah jalan hidup kita. Saya pun mengerti kecemasan dan kekhawatiran orang tua saya. Saya mencoba menjelaskan dunia profesi saya, yang mungkin asing bagi mereka.

 

*Dituliskan di Menjalin.