Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juni 2014

Ketika Dokter Berikrar Saudara Sekandung

"[…] Saya akan perlakukan  teman sejawat saya seperti saudara kandung. […]"
- Sumpah Dokter Indonesia, Kode Etik Dokter Indonesia 2012

" […] To consider dear to me, as my parents, him who taught me this art; to live in common with him and, if necessary, to share my goods with him; To look upon his children as my own brothers, to teach them this art. […]"
- Hippocratic Oath



Hingga saat ini yang saya pernah dengar mengenai sebuah profesi yang ada mengucapkan ikrar di hadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk menganggap siapapun yang sama profesinya sebagai saudara sekandung, adalah profesi dokter. Mohon dikoreksi jika ternyata ada profesi lain yang serupa.

Ya, janji di hadapan Tuhan! Sebelum para dokter mengucapkan belasan poin dalam sumpahnya, ia mengucapkan terlebih dahulu, "Demi Allah saya bersumpah" dan dibawa naungan kitab suci, di depan pemuka agama, dan di hadapan semua orang awam sebagai saksi. Hal ini bak pernikahan, bukan begitu? Ketika di kala kita berjanji untuk sehidup semati, begitu juga dalam pengangkatan sumpah dokter. Sumpah dokter, bagi saya, nyaris sebuah hal yang sakramental.

Hal ini berarti apa, sikap-sikap ini menjadi sebuah kiblat yang harus dipatuhi karena sudah menjadi janji. Siapapun diri kita, siapapun karakter dan pola perilaku kita, kita perlu diingatkan untuk terus bercermin akan ucapan sumpah kita.

Salah satu sumpah yang cukup unik adalah sumpah yang saya sebutkan dalam paragraf pertama tadi. Menjadi saudara sekandung! Bayangkan. Mungkin bukan hal yang sulit kalau kita menganggap "saudara sekandung"-nya adalah teman satu geng saat kuliah atau bahkan teman satu angkatan di Fakultas Kedokteran kita. Namun, kita harus menerapkan hal ini ke semua orang yang sama profesinya, yaitu dokter. Siapapun dia, setua apapun dia, semuda apapun dia.

Menjadi saudara sekandung, artinya rekan sejawat dokter ini perlu sama diperlakukan seperti adik dan kakak kandung. Betul, kakak dan adik kandung yang ada di rumah kita. Jika kita menyayangi saudara kita, begitulah kita diisyaratkan untuk memperlakukan sejawat kita, termasuk memperhatikan, menjaga suasana perasaan, dan lainnya.

Yang tertulis dalam Pasal 18 Kode Etik Dokter Indonesia (KODEKI) sebagai berikut: "Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan." Ya dalam etika dan filsafat disebut etika timbal balik atau aturan emas alias golden rule. Aturan emas sebenarnya beracuan pada kutipan Injil Matius 22:39 dan Matius 7:12 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ” dan “ Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."

Sulit? Ya, sulit terdengarnya, bahkan mungkin lebih mengarah ke hal yang absurd?

Dalam KODEKI pula disebutkan dalam penjelasan Pasal 18 selain mengenai aturan emas, dikatakan bahwa dokter perlu mawas diri, tidak dilecehkan, tidak diejek, tidak dipersulit, menjaga reputasi rekannya. Sama toh, kita tak ingin melecehkan saudara sekandung kita atau yang jelas kita sendiri tidak ingin dilecehkan atau dipersulit oleh orang lain bukan? Bahkan yang lebih menyinggung sifat ksatriaan, bahwa dokter memiliki rasa kerelaberkorbanan akan sejawatnya. Sungguh besar kasih sayang antarsejawat seyogyanya.

Namun memang, antarsaudara sekandung tak selalu hari adem ayem, pasti pernah diselingi oleh konflik atau pertengakaran. Ya, hal yang manusiawi. Kata salah satu guru saya, semua pasti punya salah. Tidak ada yang tidak pernah tidak salah. Kesalahan ini perlu disikapi dalam perspektif persaudarasekandungan ini. Jika kita bertengkar dengan adik kita, sebaiknya sebagai satu jalinan keluarga, perlu ada pendamaian dan perbaikan hubungan. Tidak ada hal yang dapat memutuskan "darah" sekandung. Ya termasuk bagi dokter yang mungkin baru kita kenal. Masih tetap absurdkah? Jika iya, kita perlu memasang rasa legawa, tepa selira antarsejawat, mengubah cara pandang, menyingkirkan egoisme pribadi.

Sulit melakukan? Bagaimana lagi, hal ini sudah tersumpah dan mendarah daging sebagai sebuah janji kita di akhir kehidupan nanti bersama Tuhan. Walau mungkin ada terminologi mantan istri, namun tidak ada mantan saudara kandung dalam kehidupan ini.

Ya, semoga jalinan saudara dokter di negeri ini tetap lestari, dan tak hanya membahana ketika saja ada hati yang tersakiti.

Rabu, 04 Juni 2014

Kerja Dokter (Di Rumah Sakit) Tak Sekedar Praktek



Ketika saya menulis, saat ini, saya sudah masuk ke dalam masa bulan ketiga bekerja di rumah sakit. Banyak hal yang terjadi. Sungguh. Namun hal terutama yang dapat saya petik adalah tugas seorang dokter (di rumah sakit) sungguh beragam. Banyak hal, baik klinis maupun non-klinis, yang ternyata perlu dimiliki oleh dokter untuk mampu berbuat dan bekerja.

Semakin saya sadari bahwa, sebagai klinisi hanyalah satu dari semesta yang disebut "pekerjaan seorang dokter". Dokter tak hanya anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan terapi. Tetapi saya pun belajar, bahwa dokter harus memikirkan bagaimana lantai kamar mandi di ruang perawatan tidak menjatuhkan pasien saya, bagaimana tukang parkir di rumah sakit mengerti tujuh langkah mencuci tangan versi WHO, bagaimana petugas di linen dapat terhindari dari infeksi atau iritasi zat pencuci. Suatu hal yang dulu saya tidak banyak terpikirkan, baik selama pendidikan maupun pekerjaan saya yang terdahulu. Sungguh, ujian di kepaniteraan tak ada yang menanyakan hal itu, namun hal-hal inilah yang ternyata banyak ditemukan sehari-hari di dalam rumah sakit.

Ya, mungkin semua di atas karena saya terlibat di dalam Komite K3 rumah sakit dan salah satu kelompok kerja di Komite Akreditasi. Namun saya masih merasa tercengang bahwa dunia dokter itu tak sekecil ruang praktek. Praktik klinis dengan segala clinical pathway-nya hanyalah sejumput dari rimba kedokteran. Dengan jas putih ini, kita tak hanya berpikir melulu soal pasien. Ya, tapi sebenarnya hal-hal ini semua berujung pada hal yang disebut patient centered care dan patient safety. Dua buah paradigma lagi yang saya baru dalami selama di rumah sakit dengan segala langkah dan sasaran keselamatan pasiennya.

Walau memang hal-hal tersebut baru (mungkin saja saya yang terlambat atau tenggelam dalam ketidaktahuan), ini membuat saya semakin tertantang untuk kerap membuka diri dan terus belajar dan belajar hingga akhir hayat. Bukankah demikian garis kehidupan dan idealisme seorang dokter?

Jumat, 21 Februari 2014

Jangan Mau Jadi Dokter

Nyaris tiga tahun saya genap menyandang gelar profesi ini. Dokter. Tiga tahun, bukan waktu yang lama, dan bukan juga waktu yang terlalu cepat untuk mengatakan bahwa saya sudah memakan asam-garam profesi ini. Saya mungkin tengah mencicipinya.

Suatu hal yang terus-menerus disadari bahwa menjadi dokter itu tidak mudah. Ya, saya kira sama saja, menjadi guru, pastor, insinyur, akuntan pun tidak mudah. Tapi kalau diangkat sedikit dengan gaya generalisir, saya setuju bahwa profesi dokter memerlukan sedikit kerja keras lebih dibandingkan profesi kebanyakan, walau bukan dalam tahap superlatifnya.

Tak heran bahwa untuk mengenyam profesi ini perlu waktu minimal 6 tahun dalam universitas, 1 tahun dalam pantauan program magang (internship), dan kelak 2 tahun dalam program dokter keluarga atau lebih dari 3 tahun dalam program pendidikan dokter spesialis. Atau mungkin ada yang ingin mencoba 2 tahun program Pegawai Tidak Tetap (PTT). Ya, mungkin disaat kerabat kita yang belajar ekonomi mungkin tengah menapaki jejak karir untuk kedua atau ketiga kalinya, sebaya mereka yang seorang dokter baru mengucapkan salam pada dunia kerja nan nyata.

Waktu yang digunakan (bukan dikorbankan?) begitu luar biasa. Oleh karena itu, saya kerap kali mengingatkan saudara-saudara saya yang mungkin ingin menjadi dokter, "Pastikan langkahmu. Jika tidak dapat memastikan sepasti-pastinya, bangunlah sikap rela. Jangan kelak mengeluh dan menyesali langkah. Menjadi seorang dokter itu panjang."

Jika memiliki hati yang sejati menjadi seorang dokter, ambillah. Saya pribadi, saat mengawali langkah tidak seratus persen, namun di dalam perjalanan saya memerlukan ketegaran dan terus mengingatkan diri dan membangun idealisme saya sendiri menjadi seorang dokter. Ya, sebuah proses legislasi, membangun konstitusi yang teguh dan terpatri dalam diri amat diperlukan. Terdengar absurd dan muluk-muluk? Namun inilah sandaran dan pegangan yang terus dapat kita pegang. Ketika kita lelah dan terbesit untuk menyesali profesi ini, tak ada hal lain selain kita diingatkan kembali atas pegangan hidup kita yang kemudian dipaku dengan sumpah hipokratik.

Pesan saya lagi, jangan mengambil profesi ini semata-mata karena keinginan orang lain ketika kamu menolaknya mentah-mentah. Jangan mengambil profesi ini karena kamu melihat profesi ini akan mendatangkan batangan emas bagimu. Jangan pernah.

Lakukanlah jika kamu senang atau memperkirakan akan menyenangi dunia ini. Lakukanlah ini jika kamu dapat kuat dan berusaha tidak goyah. Lakukanlah.

Bekerja dengan hati dan idealisme konon akan tetap menjadi rel ke arah manusia yang baik. Tetapi, bekerja dengan berharap pamrih akan kelak membutakan mata dan menyayat hati.

Sabtu, 02 November 2013

"Tidak Boleh Mengganti Obat Tanpa Seizin Dokter?"

(Entah kenapa, dua hari belakangan ini, saya menjadi rajin menulis. Huff, thanks to endorphine? Ide-ide tiba-tiba berseliweran dan sepertinya amat sayang kalau dilewatkan begitu saja.)

Ketika pagi ini saya berselancar di ranah dunia maya ini, saya tiba-tiba mendapatkan tulisan yang menyatakan bahwa dokter mengambil banyak untung karena memaksa pasien untuk membeli obat-obat yang dituliskannya. Katanya, tertulis dalam kertas resep, "Tidak boleh mengganti obat tanpa seizin dokter." Benarkah demikian? Ini beberapa hal yang ingin saya luruskan.

1. "Mengganti Obat" Ada Aturannya

Di sini saya sengaja memasukkan kata "mengganti obat" dalam tanda kutip, karena tidak bisa diartikan secara harafiah. Nah apa yang dimaksud mengganti obat?

Jika yang dimaksud "mengganti obat" adalah mengganti obat yang satu dengan obat yang lain dengan insiatif sendiri dan tidak sesuai resep, itu tidak boleh! Menurut Kepmenkes 1026/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apoteker menyerahkan obat kepada pasien dengan kesesuaian yang tertera dalam resep. (Bab III Poin 1.2.4). Mengganti obat dengan sediaan zat yang berbeda, misalnya amoksisilin menjadi ciprofloxacin, tentu hal yang berbahaya.

Jika yang dimaksud "mengganti obat" karena apoteker merasa ragu terhadap apa yang dituliskan di resep, maka ia harus berkonsultasi dahulu dengan dokter penulis resep. (Bab III Poin 1.1.3). Ya, apoteker boleh ragu karena ia adalah sosok mitra dokter yang profesional terhadap pengetahuan kefarmasian, efek samping obat, alergi, interaksi, kesesuaian, dan lainnya.

Jika yang dimaksud "mengganti obat" adalag mengganti obat paten ke generik, itu boleh! Justru mengganti generik ke paten yang dilarang! Hal ini jelas dalam Kepmenkes  922/Menkes/PER/X/1993 yang diperbaharui dengan 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Apakah mengganti obat paten ke generik merugikan pasien? Tidak, karena keduanya telah melalui proses cara pembuatan obat yang baik (CPOB).

(2)Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang ditulis didalam resep dengan obat paten.
(3)Dalam hal pasien tidak mampu menbus obat yang tertulis dalam resep, Apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat.
Bahkan dalam poin 3 dituliskan juga apotek sebenarnya tidak bisa menyerahkan obat "setengah resep" dan lainnya, karena dosis amat penting. Jelas, jika pasien tidak mampu menebus obat, ia perlu berkonsultasi pada dokter untuk memilih obat yang lebih tepat.

2. Mengapa Ada Tulisan "Tidak Boleh Mengganti Obat Tanpa Seizin Dokter"?

Di sini terus terang saya pun tidak tahu, mengapa bisa terjadi. Hal ini tak jarang kita lihat di kertas resep (walau saya yakin tidak semua dokter melakukan hal ini). Sepengatahuan saya di ilmu farmasi yang saya pelajari saat kuliah, dalam standar kertas resep dokter, jelas tertulis bahwa yang boleh ada tertera dalam resep dokter adalah:
  • Inscriptio: Nama dokter, SIP, alamat/nomor telepon, tanggal penulisan resep.
  • Invocatio: Permintaan dokter, ditulis dengan "R/" yang berarti resipe, berikanlah.
  • Prescriptio: Nama obat, jumlah, bentuk sediaan.
  • Signatura: Tata cara pemberian, dosis, waktu
  • Subscriptio: Tanda tangan atau paraf dokter.
  • Pro: Kepada siapa resep ini ditujukan berisi nama dan usia, dan alamat (untuk resep obat golongan narkotika)
Sederhana, tidak ada tempat untuk menuliskan label "Tidak Boleh Mengganti Obat Tanpa Seizin Dokter". Mungkin, saya tak mau su'udzon atau berburuk sangka, maksudnya agar sesuai aturan yang saya sebutkan di nomor 1 di atas. Tapi ini tidak sesuai dengan aturan kertas resep yang berlaku. Tulisan ini berisiko menimbulkan persepsi yang berbeda oleh masyarakat yang tidak memahami dunia kefarmasian.

Mengapa bisa ada? Iya, sekali lagi, saya tidak tahu. 

Jumat, 01 November 2013

Dokter, "Buruh", dan Kesejahteraan


Akhir-akhir ini marak diberitakan mengenai demo buruh di berbagai tempat di negeri ini. Yang paling disorot tentu buruh di DKI Jakarta. Mereka menginginkan Upah Minimum Provinsi alias UMP 2014 sebesar Rp 3.700.000,-. Tuntutan mereka begitu meningkat dari UMP 2013 sebesar Rp 2.200.000,-. Saya tak mau membahas soal Dewan Pengupahan, Kebutuhan Hidup Layak (KHL), atau UMP. Saya ingin mengingatkan saja bahwa ada dokter umum yang digaji Rp 1.200.000,- di negeri ini. Ya, dokter umum.

Dokter = “Buruh”

Bagi para sejawat dokter, jangan tersinggung dulu kalau disebut dokter adalah “buruh”. Terminologi ini sengaja saya ketikkan dalam tanda petik, karena istilah ini saya kutip langsung dari Undang Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Siapapun di negeri ini yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan adalah “pekerja/buruh” (Pasal 1, ketentuan umum poin 3). Ya, saya kira jangan pernah menyangkal bahwa dokter pun adalah kaum pekerja.

Di sini saya bukan bermaksud untuk merendahkan profesi saya. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa dokter, sebagai pekerja, memiliki apa yang disebut HAK-nya, salah satunya jelas tertulis di definisi di atas (baca: imbalan/upah). Dan tentunya hak-hak lainnya seperti jaminan keselamatan kerja dan lainnya yang berujung pada kesejahteraan. Dan fungsi upah ini jelas agar memperoleh kehidupan yang layak (Pasal 89 ayat 2). Dan pada pasal 90, “pengusaha” dilarang membayat upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana yang dimaksud oleh pasal 89.

Apakah dokter dibayar oleh “pengusaha”? Iya! “Pengusaha” ini dapat berupa badan sarana penyedia layanan kesehatan seperti rumah sakit, klinik, dan lainnya, dan termasuk bagi yang dibawah naungan pemerintah (pegawai negeri, pegawai tidak tetap).

Apa Dokter Belum Sejahtera?

Ya, saya tahu, kebanyakan stigma “dokter itu kaya” sudah melekat pada profesi ini. Maaf saja, itu sudah tak lagi relevan. Bahkan banyak dokter, terutama dokter umum, yang kini berjuang keras bagaimana bisa menghidupi keluarganya.

Jika kita melihat klinik-klinik di kota besar seperti Jakarta, atau pesan singkat yang sering masuk ke ponsel dokter umum: “Uang Duduk 250 ribu / 24 Jam. Jasa per pasien Rp. 15.000 (dihitung setelah pasien ke 15).

Iklan di atas malah mungkin lebih tinggi dari rata-rata klinik di Jakarta. Kalau dilihat, uang Rp 250.000,- cukup besar bukan? Tapi lihatlah waktu kerjanya, 24 jam. Padahal UU Ketenagakerjaan mensyaratkan jam kerja ideal adalah 40 jam seminggu (Pasal 77 ayat 1). Memang jika dokter tersebut tahan banting dan terus menerus praktik, maka penghasilannya besar. Tetapi ini cara yang kurang baik bukan?

Seberapa Seharusnya Penghasilan Dokter?

Ikatan Dokter Indonesia sudah memberikan rekomendasinya pada Panduan Kompensasi Dokter dan Jasa Medik pada November 2008 (5 tahun lalu!). Pada halaman 6 dituliskan, formula kompensasi setahun bagi dokter umum yang ideal adalah: 10-14 x pendapatan perkapita. Jika kita ambil pendapatan perkapita Indonesia pada tahun 2012 adalah 3.797 USD, artinya pendapatan dokter di Indonesia idealnya adalah 37.970-53.158 USD. Jika memakai kurs 2012 sekitar Rp 330.000.000,- sampai Rp 462.500.000,-, atau Rp 27.500.000,- sampai 38.500.000,- per bulan. Angka yang fantastis! Dan dituliskan juga, “Kompensasi ini adalah kompensasi dari kerja utama dengan waktu kerja 40 jam/minggu, 220 hari kerja efektif setahun.” Belum lagi faktor pengali indeks geografi praktik (IGP), yang dapat 1,5x pada daerah terpencil.

Kondisi kini, penghasilan dokter umum internsip adalah Rp 1.200.000,- per bulan, dokter PTT di daerah terpencil (Rp 4.800.000,- sampai Rp 7.500.000,-). Bahkan IDI sendiri menyebutkan kesenjangan penghasilan dokter umum dan spesialis adalah 8-244 kali. Luar biasa? Lain cerita lagi jika dibandingkan dengan penghasilan sarjana-sarjana lainnya.

Sebagai perbandingan di luar negeri (hanya sebagai gambaran), pendapatan dokter keluarga di Amerika Serikat per tahunnya rata-rata 173.000 USD (Medscape, Physician Compensation Report 2013). Di Malaysia, tahun ini, pendapatan dokter umum berkisar 7.000 - 12.000 RM per bulan, artinya 26.880-46.080 USD per tahun. Di Singapura, pendapatan dokter umum berkisar 3.500-6.000 SGD per bulan, atau 33.600 USD - 57.600 USD per tahun. Tak hanya dokter, gaji paramedis seperti perawat pun cukup tinggi.

Dokter bukannya perlu dibayar mahal, tetapi dibayar dengan pantas dan layak sesuai dengan kompetensi yang ia punyai. Menakertrans, Muhaimin Iskandar, berkata, “Upah itu harus berdasarkan kompetensi, Misalnya gaji sarjana Rp 3,7 juta itu rendah jika kompetensinya tinggi,”

Dokter Internsip yang Merana

Ini kisah lain lagi.

Dokter internsip mungkin Anda baru dengar. Program ini baru berjalan 1-2 tahun belakangan ini. Program ini menurut Permenkes 299/MENKES/PER/II/2010 adalah proses pemantapan mutu profesi dokter yang harus diikuti oleh dokter yang baru lulus Program Studi Pendidikan Dokter, selama 1 tahun. Pasal 11 dinyatakan, biaya hidup dan transportasi selama mengikuti program Internsip Ikatan Dinas ditanggung oleh Pemerintah. Ditanggung. Ya, ditanggung Rp 1.200.000,- yang mungkin lebih rendah dari kebanyakan UMP provinsi di negeri ini.

Dokter internsip ini sudah bertindak selayaknya dokter, bekerja seperti dokter, namun berbeda hanya ada pendamping. Mereka sudah terhitung profesional. Anda sudah mulai prihatin?

Kenapa Kok Perhitungan Sekali?! Dokter itu Mengabdi!

Ya, jika buruh mendapat penghasilan tak layak disebut perbudakan, sedangkan jika dokter berpenghasilan tak layak disebut pengabdian. Saya rasa buang jauh-jauh pendapat ini sekarang. Dokter pun juga manusia, yang perlu menghidupi keluarganya, yang perlu menyekolahkan anaknya, menghidupi pasangannya, dan lainnya. Dokter perlu hidup layak.
Jika ditanya soal mengabdi. Ya, dokter memang harus mengutamakan kepentingan pasien. Kami tidak pernah bertanya sebelum menolong, “Bapak/Ibu punya duit tidak?”. Saya pribadi saat PTT juga tidak pernah memaksa menagih atas jasa tindakan medis ketika pasien tak mampu membayar. Namun dokter pun perlu dijamin dengan sebuah sistem kesehatan yang juga mengatur tenaga kesehatan yang baik, yang bisa menjamin kesejahteraan kami. Sistem ini diperlukan tanpa membebani masyarakat. Dokter tidak boleh dianggap sebagai “lintah” masyarakat yang menyedot segala harta mereka. Dokter perlu keadilan sosial, bukan bantuan sosial.

Dokter Bersuara

Dokter (baca: dokter umum) di negeri ini harus dapat meniru seperti buruh di DKI. Yaitu, bersuara! Menyatakan hal-hal apa saja yang perlu disampaikan. Tentu, sebagai profesi yang luhur, cara yang digunakan pun perlu santun dan dilakukan tanpa merugikan pihak siapapun.

*Dipublikasikan juga di Kompasiana

Jumat, 18 Oktober 2013

Tenaga Kesehatan pun Punya Perasaan: Sopanlah dengan Dokter Anda

Suatu saat rekan online saya, dr. Andreas Kurniawan, memoskan suatu gambar yang menarik. Gambar tersebut ia dapat dari sebuah blog The Travel Art. Dari gambar tersebut mengatakan demikian, "Tenaga Kesehatan pun Punya Perasaan: Bersikap sopanlah dengan dokter Anda." Dari gambar tersebut tampak dokter berkulit hitam yang tengah dimarahi oleh pasiennya. Ya, ternyata inilah sebuah gambaran dari masyarakat di Malawi yang diambil pertengahan tahun 2008 silam.

  13820789611245704766 

Gambar tersebut diambil oleh seorang Barat yang tengah berkunjung ke Livingstonia, Malawi, negara di Afrika. Ia merasa heran karena di dunia Barat, dokter begitu dihormati. Namun di Afrika, entah mungkin karakter penduduk, dokter sering dibentak atau diomeli. Ya tentunya, di sini kita menyampingkan dahulu delik dugaan malapraktik atau kekeliruan.

Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, paling tidak selama saya menjalani pendidikan dan program PTT di daerah terpencil di Kalimantan Barat, untungnya saya tidak menemukan hal ini. Walau saya pun tidak jarang juga mendengar jeritan hati sejawat yang diperlakukan tidak baik oleh masyarakat di daerah lain. Kita tidak bisa menutup mata dengan ini. Jika demikian, apakah dokter harus dihormati? Saya jawab tegas, "Iya!". Namun tentunya dihormati bukan berarti sama dengan kami gila hormat. Namun kami pun menghormati pasien kami. Ya, sesuai aturan emas, "Lakukanlah kepada orang lain seperti apa Anda sendiri ingin diperlakukan." Sebenarnya hal ini tak berlaku di dalam relasi dokter-pasien saja, namun kepada semua orang, siapapun itu.

Masalah Pasien di Pedesaan?

Saya sudah menjalaninya selama 1 tahun di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Sekali lai apakah mungkin saya yang untung, bahwa relasi saya dengan masyarakat tidak ada masalah. Masyarakat justru mudah sekali mengenal "Pak Dokter", dan menyapa serta membantu saya ketika bertemu di pasar kecamatan. Tak jarang pula buah tangan pun diberi. Ya, pikir saya, selama kita mampu membawa diri dan menegakkan aturan emas, semua akan lancar-lancar saja.

Masalah di Pasien Perkotaan
Justru, saya melihat ada tunas masalah di daerah perkotaan. Dari sisi dokter, mungkin dokter tersebut terlalu tergesa-gesa, memiliki jam praktik yang ketat, sehingga kurang memiliki waktu untuk mendengar pasien dan memberi informasi. Dari sisi pasien juga, tidak sedikit pasien yang mulai mengarah ke swadiagnosis atau self-diagnosis karena mudahnya mendapat informasi medis, atau bahkan ekstrimnya malah tidak tahu sama sekali. Apalagi kalau ditambah bumbu sifat "sok tahu". Hal inilah yang sering kali menjadi bibit konflik di atas meja praktik sampai ke meja hijau.

Solusinya?

Saya kira, kembali ke aturan emas tadi dan kembali ke "kodrat"-nya masing-masing antara dokter dan pasien. Dokter dan pasien harus tahu betul apa-apa saja yang menjadi hak dan kewajiban mereka, sehingga relasi dokter-pasien pun sarat keharmonisan. Sebenarnya hal ini sudah sering kita dengar di masyarakat kok.

Pernah dengar, "Anda sopan, kami segan?"

Selasa, 05 Juni 2012

Pasien Indonesia yang Lari

Ada sebuah kesedihan dari diri saya melihat pasien Indonesia yang banyak "melarikan diri" ke negeri sebelah, sebut saja Malaysia atau Singapura. Saya pun bertanya-tanya dalam diri, apa yang menyebabkan hal demikian? Apa yang salah dengan sistem kesehatan negeri Indonesia?

Saya pun mencoba membela, mencari argumen penenang. Mungkin saja karena mereka memiliki uang lebih sehingga boleh boleh saja mencari pelayanan bintang enam. Namun saya melihat ini tidak lagi menjadi alasan. Kini tidak lagi golongan kelas kakap yang kabur ke luar. Bahkan golongan menengah pun mencari pelayanan kesehatan di luar negeri. Kini negara jiran tersebut menyediakan pelayanan pariwisata kesehatan dengan berbagai kelas, kita bisa memilih mau dengan koper atau ransel. Jika kelompok menengah pun sudah mencari pelayanan kesehatan ke luar negeri, apa kabar pelayanan kesehatan kita?

Sungguh sedih melihat pelayanan kesehatan Malaysia dijejali dengan masyarakat Indonesia. Padahal secara keilmuan, tidak ada yang berbeda secara standar medis. Namun apakah memang sumber daya kita sudah memadai? Apakah ibukota kekurangan dokter spesialis? Tidak juga.




Mereka mencari pelayanan medis di luar negeri dengan berbagai tujuan dari memang memiliki gangguan penyakit dari yang sampai sekedar medical check up. Medical check up-nya pun sebenarnya tergolong biasa saja, mulai dari cek darah lengkap, pemeriksaan laboratorium lainnya, bahkan sampai EKG yang sebenarnya bisa dilakukan di praktik dokter biasa dengan alat yang memadai. Memang, ada beberapa alat yang kurang misalnya MS-CT atau MRI.

Melihat pasien berpaspor hijau di pelayanan kesehatan Malaysia membuat saya mengelus dada. Bahkan ada sekelompok ibu-ibu muda yang hanya sekedar Pap Smear di Malaysia, yang dengan mata membelalak ketika dikatakan hasil hanya dapat diambil satu minggu kemudian. Saya pun hanya bisa tersenyum simpul, masyarakat kita belum teredukasi dengn baik soal kesehatan, dan bahkan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan hingga indikasi pemeriksaan pun menjadi terabaikan, karena tanpa nasihat medis.

Saya pun gatal melihat fenomena ini. Saya hanya mencuri dengar. Katanya dokter di sini lulusan dari luar negeri, memang di akhir nama mereka bertebaran gelar dari Australia, Amerika, dan Inggris Raya. Selain itu bagi masyarakat Tionghoa Indonesia, lebih nyaman bagi mereka untuk mendapat penjelaan soal penyakit mereka dengan bahasa Mandarin. Kemudian memang alat lebih memadai. Selain itu mungkin saja ada faktor gengsi? Namun saya pun tak langsung setuju, dalam urusan kesehatan tak mungkin lagi kita memperhatikan gengsi bukan?

Untuk di atas, memang faktor pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran di Indonesia harus berbenah. Kita perlu membuka akses pendidikan kesehatan yang seluas-luasnya, bagi siapapun, dengan minat apapun, paling tidak untuk warga negara Indonesia sendiri. Dan bagi dokter Indonesia lulusan luar negeri juga harus dibuka akses yang memudahkan mereka untuk mengabdi di Indonesia. Orang lama berkata kejarlah ilmu sampai ke negeri China, ini berarti jika kita mencari ilmu seluas-luasnya, maka sesuatu akan berkembang dan menjadi lebih baik.

Sebenarnya pelayanan kesehatan luar negeri pun tak luput dari kekurangan. Namun memang hal ini kadang kala tak tampak bagi awam atau pasien. Misalnya yang terjadi pada saudara saya, yang menunjukkan dengan bangga adanya obat buatan Jerman yang katanya digunakan untuk masalah prostatnya. Saya melihat isinya berisi tamsulosin. Saya pun bertanya berapa lama ia harus mengonsumsi obat ini. Dokternya tidak mengatakan apa-apa, dan hanya memberi obat yang katanya bagus ini.  Saya pun hanya terdiam, tamsulosin hanya 10 buah tidak akan memberi efek yang bermakna, apalagi masalah prostat yang mana sebaiknya dilakukan pembedahan seperti TURP dahulu sebelum menggunakan tamsulosin yang berfungsi memperlambat pembesaran prostat dikemudian hari. Jadi obat ini, selain tak signifikan hanya membuang uang.

Memang tiada gading yang tak retak. Segala sesuatunya pelyanan kesehatan kita harus dibenahi. Kita harus dapat menjaring lagi mereka yang lari. Tentu segala sesuatu jika diberikan kepada dalam negeri akan lebih baik. Mudah, murah, dan efisien bagi pasien dan dokter.

Kapan gong pembenahan akan didengungkan?

Jumat, 01 Juni 2012

Renungan PTT Bulan Kedua: Nurani dan Bongkahan Berlian

Jika saya tersadar saya berada di hari pertama pada bulan baru, dan di sinilah saya memiliki waktu untuk merenung. Di sinilah 2 bulan lalu saya resmi menjalankan tugas sebagai pegawai tidak tetap Kementerian Kesehatan sebagai dokter.

Setelah dua bulan ini dengan segala keunikannya, dengan segala dinamikanya, dengan bergejolak antara kekuasaan dan nurani. Berbagai hal saya alami, walau mungkin tidak se-wah pengalaman bila di Papua atau NTT. Namun saya mendapatkan sesuatu.

Saya pun senang ketika masyarakat mulai mengenal saya. Ketika saya berada di depan rumah atau menunggu bus, masyarakat mulai menyapa "Pak Dokter". Saya pun senang dan mendapatkan pengalaman ketika pasien-pasien yang saya rawat mendapatkan perbaikan kesehatan. Walau saya sadari bahwa kebiasaan saya merawat pasien sudah lama sekali sejak terakhir di koas.

Saya kadang-kadang pun harus berpacu dengan adrenalin. Hal ini saya dapatkan kemarin ketika melakukan resusitasi bayi baru lahir (neonatus) dengan kondisi yang buruk. Satu menit tanpa nafas membuat saya terus terang panik dan memberikan kompresi dada serta pernapasan mulut ke mulut. Dulu saat koas saya mungkin masih tenang karena ada teman satu koas, atau paling tidak dokter jaga. Namun kini semua ada di pundak saya. Untungnyalah ada suara tangisan bayi lemah ketika diresusitasi. Puji Tuhan, Kau berikan nafas kehidupanMu melalui aku.

Di sini saya teringat pada kutipan di Kitab Sirakh 38:12

Tetapi berikanlah tempat kepada tabib juga, sebab ia pun diciptakan Tuhan, janganlah tabib jauh daripadamu sebab kau butuhkan pula.  
Then let the doctor take over -- the Lord created him too -- do not let him leave you, for you need him.
Saya merasa bahwa menjadi dokter ini suatu hal yang berbeda. Suatu hal yang menyangkut manusia, kesehatan manusia, kegembiraan manusia, kesedihan, kedukaan, kehidupan, kesakitan. Saya senang bahwa saya bisa membantu meringankan sedikit beban mereka.

Suatu hal yang saya sadari pula dalam profesi ini. Saya kadang merasa dan berpikir, pantaskah aku menarik dana dari mereka? Saya tahu bahwa jasa adalah sesuatu yang dapat dihargai dan dapat dinominalkan. Saya pun perlu uang untuk kehidupan saya. Namun memang menarik uang dari orang yang kesakitan, menjadi suatu buah pikir bagi saya.

Saya bersama Bu Nia dan Bu Yones, di Poli Umum Puskesmas Menjalin

Apa yang dilakukan dokter ini bukanlah seperti seseorang untuk membeli Tas LV atau Gucci, yang dengan riang gembira membeli tas. Pekerjaan seorang dokter -walaupun sebuah pelayanan jasa- bagi saya bukanlah semata-mata serupa dengan seorang montir karena apa yang dikerjakannya adalah benda mati. Namun di sinilah saya merasa, inilah seorang dokter. Kekhasan. Ada mungkin sesuatu hal yang agak tinggi hati menyatakan bahwa dokter adalah profesi terpilih.

Saya sudah merasakannya, bahwa menjadi dokter di desa ini sudah mendapat nominal yang memadai untuk hidup. Mungkin selain pengeluaran yang tak setinggi di kota, "daya beli" terhadap jasa (dan obat) tetap lebih tinggi dari kota. Walau demikian kadang-kadang saya masih terpikir dalam benak saya, berapa pasien harus membayar jasa saya. Mampukah mereka? Ataukah jangan sampai saya malahan menambah beban bagi mereka. Namun entahlah, mungkin ini hanya suatu bisikan saja, bisikan yang mungkin juga terlalu berlebihan. Tetapi saya yakin bahwa ini dapat menjadi pemandu bagi saya untuk tetap waspada dan memperhatikan hati pasien, beban pasien, dan jangan sampai menjadi seorang dokter yang kehilangan hati nuraninya karena terus mencari bongkahan berlian.

Saya teringat pada kutipan dari Pak Mega (Pak Tomas Apon), Kepala Puskesmas Kecamatan Menjalin, "Mungkin ada sesuatu yang kita ingin secara manusiawi, namun semua kembali ke nurani. Bekerja yang penting adalah dengan bahagia, dan uang bukanlah segalanya."

Rabu, 05 Oktober 2011

Dokter pun Juga Manusia, Cemas Bila Dibedah


Cemas. Yup, ini yang saya rasakan menjelang operasi esok hari. Besok pukul 4 sore, saya akan menjalani bedah untuk ekstraksi atau pengeluaran gigi bungsu saya yang tumbuh miring tidak pada tempatnya. Apapun itu yang saya rasakan adalah cemas. Saya tahu saya adalah seorang dokter. Seorang dokter! Namun kini saya berposisi sebagai seorang pasien. Pasien yang cemas menghadapi operasi.

Mengingat pasienku dulu


Saya masih ingat betul, 2 tahun lalu, ketika saya menjalani pendidikan profesi. Tepat waktu itu saya menjalani siklus ilmu bedah. Saya masih ingat Tuan R yang mengalami fraktur pada tulang di kakinya (os calcaneus kalau saya tak salah).

Karena saat itu siklus masih bersifat integrasi dengan anestesi, saya juga melakukan pemeriksaan pra-bedah (pre-op). Saat itu ibu dan ayahnya cemas bukan main, mereka khawatir dengan bedah ini. Mengingat mereka sempat kehilangan anaknya yang tak bisa tertolong karena meninggal akibat kecelakaan. Cemaslah mereka. Saat itu, saya adalah dokter muda yang menangani kasus itu. Saya hanya bisa menepuk bahu sang ayah, "Tenang pak, kami mencoba melakukan yang terbaik. Berdoa untuk dia dan kami ya." Saat itu saya mungkin hanya berkata sesuai dengan apa yang diajarkan dalam buku teks medis, bahwa sebagai dokter kita harus mendukung pasien, atau meningkatkan semangatnya. Saya kira hanya dengan begitu, selesai tugas saya, dan pasien menjadi tenang. Kini saya sadar bahwa apa yang saya lakukan mungkin hanyalah sebuah untaian kata dalam checklist buku teks.

Pecundang?

Saya sempat berpikir lagi dalam hati dan kembali merenungkan kebodohan saya. Hati saya berujar, "Hei kamu bodoh. Kamu adalah dokter. Kamulah yang selama ini mengatakan kepada pasien untuk tak perlu untuk cemas. Kamu yang selalu mengatakan semua akan baik-baik saja. Namun apa yang kamu rasakan kini?" Saya tampak menjadi pecundang.

Saya kembali berujar dalam diri bahwa esok adalah operasi kecil, operasi minor pada gigi. Saya mencoba menenangkan hati, tak perlu cemas. Jangan saya terus melebih-lebihkan. Namun saya pun harus jujur pada hati saya dan membiarkan di kepala saya menari-nari, "Bagaimana ya besok? Apakah akan terasa sakit? Ya Tuhan, semoga baik-baik saja."

Menjadi dokter, saya harus sedikit mematikan rasa. Saya harus tampak tenang dan tegar menghadapi apa yang disebut kesakitan. I should become an angel. Namun semua ini semakin saya sadari bahwa saya dokter, namun saya juga manusia. Saya juga seorang pasien.

Dan saya kini hanya berdoa dan Tuhan akan mengatakan, "Semua akan baik-baik saja."




Jumat, 24 Juni 2011

Memilih Jadi Dokter

Catatan: Ini adalah permenungan yang dituliskan oleh dr. Aditya Putra, yang kemarin dibacakan oleh dr. Alex Kusanto dalam pidatonya saat Sumpah Dokter FKUAJ Periode II/2011. Semoga bisa menjadi permenungan yang baik bagi para dokter.

Rekan sejawat yang terhormat.. 

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda. Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah. Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan. 

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga. 

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya. 

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan. 

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat. 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi. 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria. 

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma. 

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita. 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “Jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.” 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?” 

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya” 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam. 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan. 

Jumat, 10 Juni 2011

Finally!

Saya menyelesaikan studi kedokteran. Lulus.

Well, terus terang saya tidak menyangka. Entah mungkin saya sebut saja keajaiban, rahmat, atau apapun tentunya anugerah indah dari Tuhan. Saya tidak bisa terisak tangis bahagia ini. Saya hanya bisa berteriak dalam hati, "Finally!". Saya bersyukur saya melangkah lagi dalam jejak-jejak dalam hidup saya.

Sekali lagi saya merasakan waktu yang berjalan begitu cepat. Berlari dengan riuhnya. Saya baru merasakan, tampaknya saya kemarin baru masuk koas dan mengucapkan janji dokter muda, kemudian galau saat siklus pertama. Kini saya sudah menyelesaikan fase dokter muda, dan one step closer alias selangkah lagi untuk mengubah janji menjadi sumpah hipokratik. Sungguh 6 tahun yang menguras tenaga. Saya masih menepuk-nepuk pipi sendiri, apakah ini nyata?

Ok, saya tak boleh bereuforia. Tetap bekerja, menatap yang ada di depan. Seperti kata Cinta Fitri: "Jalan kita masih panjaaaanggg...." Ouch.

Seperti kata dr. Alex, dalam pesannya saat pidato sumpah dokter lampau: Saya sedang bertransformasi dari sarden menjadi tuna.

NB: Saya jadi terpikir, apakah nama blog ini perlu diganti? --'