Rabu, 09 September 2009

Akhirnya, Dokter Muda

9 September 2009,
sebuah tanggal yang tentunya akan dapat diingat dengan baik. Sebuah tanggal dengan deret kongruen di dalamnya. Dalam tanggal ini pula, saya dan kawan-kawan sejawat mengambil janji Dokter Muda. Sebuah awal kami, sebuah batu lompatan, melanjutkan apa yang telah kami alami selama empat tahun di studi pre-klinik. Walau ragu, cemas, kebahagiaan, kepuasan, kian beraduk dalam pikiran, kami tetap berharap Sang Khalik selalu menyertai langkah kami kemana pun kami melangkah!

Proficiat untuk rekan-rekan!

Minggu, 06 September 2009

This is my desire

Every breath that I take, Every moment I'm awake, Lord have Your way in me


Saya baru saja pulang dari misa di Gereja St. Lukas, Sunter. Hari ini dimulai dengan agak bermalasan, sulit bangun pagi untuk hadir misa jam 6:30. Dan alhasil baru terbangun dari lelap pukul 07:30an, siap-siap untuk ke misa pukul 08:30.

Misa ini saya membawa harapan agar mendapatkan pencerahan dalam menghadapi cemas dan ragu. Memang ketika saya bertekad untuk tidak lagi ragu dalam tulisan sebelumnya. Tapi saya tahu betul, saya masih merasakannya.

Hari ini, dalm misa pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional 2009, dibuka dengan kisah Yakub dalam usahanya untuk diberkati. Kemudian dalam bacaan kedua, surat Rasul Yakobus menyatakan dalam menjalani hidup kita jangan saling membedakan siapapun itu. Dalam bacaan Injil dituliskan pula Yesus datang untuk menyembuhkan orang yang tuli dan gagap hingga ia sembuh.

Kemudian dalam persembahan dinyanyikan pula lagu This is My Desire yang konon terkenal dari Hillsong (saya sendiri baru tahu hehehe...) dan liriknya saya sangat menyukainya.

This is my desire, to honor You
Lord with all my heart I worship You
All I have within me
I give You praise
All that I adore is in You

Lord I give You my heart
I give You my soul
I live for You alone
Every breath that I take
Every moment I'm awake
Lord have Your way in me

This is My Desire - Hillsong


Entah ini kebetulan atau bukan, saya merasakan ketiga bacaan dan lagu ini cukup mengena pada saya. Saya berpendapat demikian pesanNya yang saya coba rangkai dalam kontemplasi saya:

Jangan ragu lagi anakKu. Dalam keraguan ini, hendaklah kamu berusaha seperti Yakub, menjadi yang terberkati. Dalam langkahmu menjadi koas yang baik, berusahalah dan berserah dan bersyukur kepadaKu dan niscaya keraguan akan terkikis. Di dalam jalanmu, nak. Tetaplah ingat untuk melayani sesamamu dan bekerja dengan sejawatmu dengan tanpa membeda-bedakan. Dengan pelayanan yang tulus dan benar, maka kemudian orang yang sakit akan disembuhkan melalui tanganmu dan dengan pendampingan tanganKu.


Terima kasih, Tuhan.

Kamis, 03 September 2009

Jangan Ragu Lagi

Certain things seem to be taboo topics among medical students. Or at least things that medical students are not expected to say or feel. One of those things is doubt. Doubt about wanting to keep going. Doubt about how you're feeling. Doubt about yourself. And doubt about your motivations.

Dikutip dari tulisan Semper Jeff di blog The Differential, Med Student Taboo: Admitting Doubt


Sebuah rasa ketidakpercayaan yang bercampur antara kebingungan, kebahagiaan, kecemasan, keraguan, bahwa saya dinyatakan lulus ujian OSCE pada minggu lalu Rasa bingung dan ragu karena saya sempat menyatakan dalam hati kecil, ya sudahlah mungkin tidak lulus. Kebahagiaan karena saya bisa menelpon ayah, ibu, dan adik di jauh sana bahwa saya akan tak lama lagi masuk klinik, sebuah milestone (pijak loncatan) pada studi saya. Cemas bahwa saya pikir apakah saya benar-layak-pantas untuk mengemban amanah ini?

Seperti saya yang utarakan pada tulisan lalu mengenai kontemplasi terhadap profesi kedokteran melalui jas putihnya. Saya sempat menanyakan apakah diri saya layak untuk mengenakan jubah ini? Ketika saya dalam fase transformasi. Tapi apakah benar saya tengah dalam proses ini?

Pertanyaan ini kembali mencuat, ketika saya mengetahui siklus pertama saya. Saya tahu apapun dimanapun siklus saya, saya harus memberikan yang terbaik yang bisa diberikan. Ilmu bedah, siklus yang diamanahkan bagi saya menjadi buah pikir bagi saya. Saya yang baru saja lulus OSCE ini akan menjalani siklus mayor yang akan berjalan 11 minggu. Saya akan masuk ke dalam fase baru dalam studi. Fase baru yang merupakan tantangan bagi saya.

Saya tahu pikiran ini berkecamuk dan saya mencari di mana titik jalannya. Saya menjadi teringat kembali, apapun itu dimanapun itu lakukan dengan terbaik, sebuah hal yang sebenarnya sudah dialami di AToMA. Hampir terlupa di pikiran saya. Mudah-mudahan saya bisa menjalani siklus-siklus yang ada di koas hingga lulus di sumpah dokter kelak.

Saya menjadi berpikir ketika membaca komentar dari salah satu teman sejawat di komentar blog The Differential dalam artikel Med Student Taboo: Admitting Doubt dari Semper Jeff. Mungkin saja ada stres, frustasi dalam studi kita. Namun harus kita sadari hal ini akan membentuk kita menjadi dokter yang hebat. Mungkin pekerjaan kita tampak tidak sempurna, tapi lihatlah ini menjadi pelyang kita untuk meningkatkan kemampuan. Tetap pandangi dunia dengan teguh dan ke depan bahwa apa yang kita bekerja akan bermanfaat bagi kita dan dunia.

Sebuah renungan yang baik. Semoga kita akan tetap bekerja dengan baik dimanapun dan kapanpun.

None of us really realized the toll Medical School would take on our lives. The stress and frustrations are all a part of what it is to become a great doctor. It seems like the work is never done and there is always room for improvement. And, yes, we hold our heads up high and make the whole world believe we are meant for this life. That is because it makes the time go by easier and it helps us believe we are truly called for this career. Being optimistic and enduring all the hardships that comes with medical school doesn't have to mean denial. It just means we do whatever we need to to make it feel like we are where we belong and to feel like it all means something. We have to feel like we are making a difference, like we are going somewhere... Without that, we give in to defeat, emotionally, spiritually, mentally...

Diambil dari pendapat raeleighcr, Medical Student, Pediatrics, Oncology, 06:10PM Feb 17, 2009 dari Blog The Differential, Medscape.