Tampilkan postingan dengan label katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katolik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Januari 2014

Adakah Pasangan yang Tepat Itu?

Catatan: Tulisan ini mengandung unsur agama Katolik yang saya coba tafsirkan sebaik mungkin sesuai pengetahuan agama Katolik yang saya ketahui.




Tulisan ini saya tuliskan setelah saya pulang dari misa pagi dan saya memutar salah satu audio renungan dari PriaKatolik.com. Ya, saya tahu, saya adalah orang yang masih tidak religius dan kadang masih menggerutu untuk pergi ke misa pagi. Ya, saya merasa masih dangkal dalam perihal iman dan saya merasa haus untuk mencari penyegaran iman bagi roh saya yang, jujur saja, sangat kering dan gersang.

Saya dulu pernah mencoba untuk mencoba rutin mengikuti renungan dan membaca Alkitab, bahkan mencoba membaca renungan Kristen non-Katolik. Walau demikian, saya secara pribadi lebih menyukai kalender liturgi Katolik yang telah disusun rapi dan berkronologis sehingga "nyambung" dengan misa mingguan. Ya, saya masih memerlukan cambukan yang kuat untuk rajin menjalani hal ini.

Nah, dalam salah satu renungan PriaKatolik.com itu, saya menemukan judul yang menarik: Apakah Aku Sudah Menikahi Wanita Yang Salah?. Ya, saya memang belum menikah, tapi judul ini membuat hati saya sungguh penasaran. Pikiran ini, terus terang, pernah saya alami dulu dalam menjalani dua kisah saat berpacaran. Saya beradu argumentasi dengan pikiran saya, dengan rasionalitas saya, "Benarkah dia untuk saya?", "Benarkah ini wanita yang akan kunikahi kelak?". Suatu pemikiran yang mungkin bisa dianggap terlalu dini untuk dipikirkan. Namun saat itu otak rasional saya berkata, "Perkawinan bukanlah hal yang memalukan untuk direncanakan." dan bersamaan dengan ini, segala keragu-raguan dan kecemasan atas kegagalan dahulu agak memberatkan langkah saya.

Namun saya sadar bahwa pemikiran semacam hal ini memang seringkali mengganggu bagi saya. Otak rasional saya berkelahi dengan otak emosional saya, yang akhirnya menghasilkan hal yang absurd.

Akhirnya saya mencoba memutar renungan itu. Ada bagian yang sempat saya garisbawahi. Dalam perkawinan ada pandangan yang ekstrem yang keliru, yakni pandangan sempit: "Hanya satu orang jodoh, yakni soulmate yang memang sudah dipilih Tuhan. Jika menikah, maka akan cocok dan bahagia selamanya", dan pandangan luas: "Asalkan dia perempuan, hobby sama, seiman, dan saya cintai maka dia adalah pasangan saya." Kedua pendapat ini tetap akan memunculkan keragu-raguan.

Ada hal yang patut kita sadari bahwa ada titik ekuilibrium, bahwa tidak ada pasangan yang "benar-benar tepat atau cocok" di dunia ini, walau saya sebagai Katolik, saya percaya bahwa perkawinan adalah suatu rahmat Tuhan dan diinginkan oleh Tuhan. Ya, hal resiprokalnya, bahwa kita semua akan menikahi pasangan yang "salah". Artinya, tidak ada orang di muka bumi ini pun yang akan menjadi pasangan yang seratus persen cocok dengan kita. Mungkin kita akan banyak menemukan karakter atau sikap lainnya selama berpacaran atau saat menikah sekalipun. Namun ketika konflik itu muncul, timbullah suatu kerendahan hati kita untuk tetap mencintai orang yang kita pilih tersebut.

I, … . , take you, … ., to be my wife/husband. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love you and honor you all the days of my life. 
Saya, ..…, memilih engkau, ....., menjadi isteri/suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.
나…..는 당신을 내 아내(남편으)로 맞아들여, 즐거울 때나 괴로울 때나, 성하거나 병들거나, 일생 당신을 사랑하고 존경하며 신의를 지키기로 약속합니다.
Perkawinan adalah janji. Janji yang dihadapan Tuhan dan orang terdekat kita bahwa kita setia bertindak melayani pasangan kita dalam keadaan apapun dan saling mengasihi dan menghormati. Perkawinan bukanlah suatu janji bahwa selalu berbahagia, sehingga pada suatu kerundungan kita malahan berpikir, "Benarkah ia pasangan tepat bagi saya?".

Semoga hal ini bisa mereformasi apa yang ada dalam diri saya dan terus tetap mampu bersyukur.

Amin.


Sabtu, 09 Juni 2012

Soegija, Film "Bisu" Penuh Pesan

Film "Soegija" ini merupakan salah satu film yang sangat saya tunggu. Mungkin ini timbul salah satunya karena saya sebagai penganut Katolik. Film-film Indonesia yang mengangkat Katolik sangat sedikit, dan mungkin saya sendiri tak pernah melihatnya kecuali FTV yang ramai jelang Natal. Terakhir saya menonton film Katolik, kalau tak salah "Lourdes". Jadi ini menjadi suatu euforia bagi saya.

Saya pun sebenarnya suka dengan sejarah. Suatu kisah yang menciptakan masa kini dan masa mendatang. Saya sangat suka mendengar kisah lampau. Apalagi tentang kehidupan seseorang yang mahsyur tentang apa yang ia perbuat dan pemikirannya. Suatu film biopik tentu menjadi suatu pilihan bagi saya.

Saya pun membela-bela untuk dapat mengajak ayah saya untuk ikut nonton, paling tidak saya tidak dilihat miris oleh penonton sebelah karena saya menonton sendirian. Saya membela-bela datang dari Menjalin untuk segera menonton ini (saya ingat sekali bahwa film karya Garin ini akan premiere 7 Juni kemarin). Saya membela-bela datang dulu ke mal pada siang hari untuk membeli tiket, dan alamak saya mendapati film untuk malam ini sudah setengah penuh. Saya pun bergegas ke Gramedia untuk membeli bahan bacaan yang dapat menjadi modal saya mencerna film ini, karena konon dari review yang ada, film ini cukup dalam dan harus memutar otak. Saya pun akhirnya mendapatkan buku Kilasan Kisah Soegijapranata oleh G. Budi Subanar SJ. Dari buku lain Romo Banar mengenai Mgr. Albertus Soegijapranata SJ juga akar dari Soegija ini.



Dari Sisi Film

Kesan yang saya dapatkan bahwa memang film ini ternyata cukup datar. Terlalu datar bahkan. Sedikit sekali suara tembakan atau dentuman bom (karena film dilatarkan masa perang sekitar 1 Agustus 1940 sejak pengangkatan Romo Soegija menjadi uskup di Vikariat Apostolik Semarang hingga Pengakuan Kedaulatan Indonesia oleh Belanda 27 Desember 1949). Sedikit sekali teriakan dan riuh rendah orang, padahal ratusan lebih figuran hadir. Mungkin ini suasana yang ingin dibawa oleh Garin, ingin mengambarkan susana dan citra Romo Kanjeng yang diam dan diplomatis.

Alur cerita pun memaksa saya untuk mengingat kembali pelajaran-pelajaran sejarah yang selama SD hingga SMA saya pelajari. Saya perlu merunut lagi tentang penjajahan Belanda, pendudukan Jepang di Indonesia dengan slogan "Jepang Saudara Asia" dan "Asia Rayanya" (Gerakan 3A, kalau tak salah?), kemudian pernyataan kemerdekaan pasca berakhirnya Perang Dunia II, pendudukan Belanda dan sekutu kembali di Indonesia (saya jadi gatal membuka lagi mengenai Marshall Plan, Republik Indonesia Serikat, Tan Malaka, Jenderal Soedirman, Perjanjian Linggarjati, Roem-Royen, hingga Konferensi Meja Bundar). Ingin sekali hasrat diri untuk membaca kembali sejarah di seputaran kemerdekaan Indonesia.

Dan film ini memperhatikan setiap detail, baik figuran, properti film, pemakaian lokasi, benar-benar katanya seperti suasana saat itu (maklum saya anak 80an hehehe), yang mengingatkan saya kembali ke film biopik Gie. Figurannya pun tak main-main, jika orang bule tetaplah bule. Bukan Indonesia yang dibule-bulekan. Saya pun tak heran kalau konon ini adalah film termahal Garin dengan nilai 12 M.

Dan yang membuat saya juga tak kalah takjub adalah sisi penggunaan bahasa. Semua begitu detail, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, Latin, Jepang, bahasa Belanda, dan lainnya. Semua ditempatkan dengan apik dan layaknya saya melihat situasi asli, bukan film. Begitupula dengan music score yang digunakan, begitu bagusnya (Saya tak ragu kalau hasil garapan Djaduk Feriyanto).

Dari Sisi Pesan


Memang film datar dan cenderung "bisu" tanpa suasana yang hingar bingar. Tidak ada lautan emosi yang diaduk-aduk. Namun semua ini digarap dengan memberikan banyak pesan. Pesan yang menjadi buah pikir Soegija (karena banyak pesan ini berasal dari catatan harian Romo Soegija). Dan ternyata apa yang ingin disampaikan masih valid hingga saat ini. Walaupun di dalamnya ada beberapa pesan yang diselipkan Garin sebagai tambahan seperti pesan "Tionghoa yang selalu tertindas".

Banyak pesan yang ingin disampaikan, namun yang menjadi terutama bagi saya adalah ingin memperkenalkan Agama Katolik itu sendiri. Ini bukanlah katolisasi, namun hanya ingin menunjukkan saja bahwa inilah Katolik. Katolik yang selama ini tidak dikenal, atau sering dihubung-hubungkan dengan kebarat-baratan atau perang atau lainnya. Sama seperti dulu bahwa Katolik sering dianggap sama dengan orang penjajah. Namun degan kehadiran Romo Soegija, ia membawa pesan bahwa seorang Katolik Indonesia tetap harus 100% republik, mendukung sepenuh hati dan berjuang demi negara.

Pesan Soegija bahwa "Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal usul, dan ragamnya. Berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya" atau "Politikus itu harus punya mental politik. Tanpa itu, politikus jadi benalu buat negara" tentu masih sahih kalau kita kobarkan saat ini, menilik dengan apa yang terjadi saat ini.

Tentu Soegija bukan semata-mata menjadi permenungan bagi orang Katolik saja, namun juga sebuah kontemplasi universal untuk seluruh republik tanpa memandang sesiapa ia.

Selasa, 15 Mei 2012

Rosario Perkenalan Dokter

Selasa, 15 Mei 2012, 19:00 WIB

Malam ini adalah malam rosario di tempat rumah dinas saya. Suatu momen juga yang menjadi milestone saya bersama warga setempat terutama Lingkungan Dusun Sei Bandung, Menjalin.




Pada awalnya memang saya tak terpikirkan untuk terlibat aktif dalam doa rosario yang dijalankan bergiliran pada setiap warga. Kegiatan ini memang dilakukan dalam rangka Bulan Bunda Maria pada Mei dan Oktober.

Pada hari minggu lalu, kebetulan rumah Bu Nia, perawat yang ada diseberang saya -masih dalam kompleks Puskesmas- menjadi tuan rumahnya. Kemudian Bapak pemimpin doa, Pak Willy, menanyakan bagaimana bila di rumah Pak Dokter? Memang sebelumnya rumah saya belum terdaftar karena daftar ini sudah dibuat dua bulan sebelumnya. Lagipula, dokter PTT sebelumnya adalah seorang non-Katolik. Saya pun mengiyakan.

Ternyata pada hari ini, doa rosario begitu ramai, banyak ibu-ibu dan anak-anak hadir -bapak-bapaknya hanya bertiga saja-. Dan memang banyak didoakan bagi saya dan warga dalam ujud-ujud doa. Saya pun menjadi merinding, apalagi ketika Pak Willy mempersilahkan saya memperkenalkan diri sebagai warga baru Dusun Sei Bandung. Wah, saya senang sekali. Sayapun sempat berkata, "Panggil Saya Pak Andreas, jangan melulu Pak Dokter." Dan ini mengundang tawa dan senyum, memang nama asli saya seakan tenggelam dan panggilan Pak Dokter.

Saya pun senang bisa berbaur dengan warga setempat mengingat saya yang sedikit kaku, namun saya sebagai dokter harus tetap dapat mencair dengan warga.

Terima kasih warga lingkungan Dusun Sei Bandung, Menjalin. :)

Jumat, 27 April 2012

Seberat Apapun Itu, Iman Terutama

Suatu pagi saya memperoleh kabar bahwa dua rekan saya yang suami-isteri sudah melahirkan bayinya. Begitu senang, saya mendengarnya, dan spontan saya menelepon suaminya, dan mengatakan "Congrats, akhirnya lu jadi Bapak!" "Terima kasih Hau. Doakan yang terbaik untuk dia ya." "Tentunya!" "Yup. Anak kami anencephali. Doakan ya." Dan seketika saya terdiam... "Anencephali?" "Ya, kita udah tahu dari lama..." "Hmm. Yup. We're pray for the best."

Anencephali, suatu keadaan di mana janin mengalami otak yang tidak berkembang, kemungkinan langsung meninggal saat lahir pun sangat besar. Adapun kalau hidup, hanya bertahan beberapa saat saja. Namun yang membuat saya tergolek diam, bahwa mereka sudah tahu dari lama...

Saya tidak mengetahui hal ini saat hari persalinan tiba. Namun saya seringkali bertemu dengan mereka berdua sebelum persalinan. Dan apa yang saya dapatkan, mereka terlihat sangat kuat, seperti tidak terjadi apa-apa. Dan mereka mampu mempertahankan sampai sang janin menjadi bayi yang lahir!

Saya yakin bahwa tidak ada orang tua yang mau anaknya anencephali, suatu kondisi medis yang tidak baik. Saya membayangkan betapa guncangan hebat menerpa dengan diagnosis ini. Betapa rintihnya merenungi mengapa ini bisa terjadi. Namun pada pasangan ini saya melihat, mereka bisa move on dari keadaan ini.

Saya masih ingat, saya sering mengatakan, "Saya tidak sabar menjadi om, melihat kemenakannya." Dan sang ibu tersenyum. Saya masih ingat juga bahwa saya sering mencandai ibunya dan membandingkan perut siapa yang lebih besar. Apa yang saya dapatkan adalah seorang ibu yang optimis dan tenang. Sangat tenang.

Saya tahu bahwa pasangan ini memiliki suatu iman. Dalam iman Katolik, setiap hidup harus dihormati, apapun itu, termasuk bayi anencephali sekalipun. Namun saya tahu bahwa apa yang mereka alami adalah sesuatu yang besar, suatu kepercayaan yang sungguh luar biasa pada Tuhan. Bahwa Tuhan memberikan ketenangan, kepercayaan yang luar biasa pada mereka.



Bahkan ketika saya membaca detik-detik mereka di blog rekan saya, hal ini sangat mengharukan dan menggetarkan. Bagaimana sang bayi dapat bertahan hebat dalam 4 hari, dibaptis, memberikan suatu pengalaman dan peran ibu-ayah pada rekan saya tersebut dan akhirnya sang bayi kecil berpulang. Sungguh luar biasa.

Life is a mystery, everyone must stand alone. I really want to know what’s God’s plan right away, but I know it for sure all I have to do was get down on my knees and pray. - dikutip dari blog Whittulipe, dr. Lia Ariefano

Sabtu, 12 Desember 2009

Here I Am Lord: Lagu yang Membesarkan Hati Dokter

Mungkin kita sering memiliki rasa penat dan bosan dengan apa yang dilakukan, baik sebagai mahasiswa kedokteran dan dokter. Mungkin rasa lelah ini terkadang membutakan pikiran kita. Kita bisa kembali memiliki pencerahan, yaitu dengan kembali padaNya. Lagu ini bagi saya memiliki arti yang dalam, bahwa hidup kita, terutama sebagai seorang praktisi kedokteran, kembali kepada sesama. Dan untuk itulah hidup kita.




I, the Lord of sea and sky
I have heard my people cry
All who dwell in dark and sin
My hand will save.

I who made the stars and night
I will make the darkness bright
Who will bear my light to them
Whom shall I send?

Here I am Lord
Is it I Lord?
I have heard you calling in the night
I will go Lord
If you lead me
I will hold your people in my heart.

I the Lord of snow and rain
I have borne my people's pain
I have wept for love of them
They turn away.

I will break their hearts of stone
Fill their hearts with love alone
I will speak my word to them
Whom shall I send?

Here I am Lord
Is it I Lord?
I have heard you calling in the night
I will go Lord
If you lead me
I will hold your people in my heart.


I will hold your people in my heart...

*Here I Am, Lord merupakan sebuah himne yang dicipta oleh Dan Schutte pada 1981 setelah Konsili Vatikan II dari Gereja Katolik. Kata-katanya diambil dari Yesaya 6:8 dan 1 Samuel 3.

Minggu, 06 September 2009

This is my desire

Every breath that I take, Every moment I'm awake, Lord have Your way in me


Saya baru saja pulang dari misa di Gereja St. Lukas, Sunter. Hari ini dimulai dengan agak bermalasan, sulit bangun pagi untuk hadir misa jam 6:30. Dan alhasil baru terbangun dari lelap pukul 07:30an, siap-siap untuk ke misa pukul 08:30.

Misa ini saya membawa harapan agar mendapatkan pencerahan dalam menghadapi cemas dan ragu. Memang ketika saya bertekad untuk tidak lagi ragu dalam tulisan sebelumnya. Tapi saya tahu betul, saya masih merasakannya.

Hari ini, dalm misa pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional 2009, dibuka dengan kisah Yakub dalam usahanya untuk diberkati. Kemudian dalam bacaan kedua, surat Rasul Yakobus menyatakan dalam menjalani hidup kita jangan saling membedakan siapapun itu. Dalam bacaan Injil dituliskan pula Yesus datang untuk menyembuhkan orang yang tuli dan gagap hingga ia sembuh.

Kemudian dalam persembahan dinyanyikan pula lagu This is My Desire yang konon terkenal dari Hillsong (saya sendiri baru tahu hehehe...) dan liriknya saya sangat menyukainya.

This is my desire, to honor You
Lord with all my heart I worship You
All I have within me
I give You praise
All that I adore is in You

Lord I give You my heart
I give You my soul
I live for You alone
Every breath that I take
Every moment I'm awake
Lord have Your way in me

This is My Desire - Hillsong


Entah ini kebetulan atau bukan, saya merasakan ketiga bacaan dan lagu ini cukup mengena pada saya. Saya berpendapat demikian pesanNya yang saya coba rangkai dalam kontemplasi saya:

Jangan ragu lagi anakKu. Dalam keraguan ini, hendaklah kamu berusaha seperti Yakub, menjadi yang terberkati. Dalam langkahmu menjadi koas yang baik, berusahalah dan berserah dan bersyukur kepadaKu dan niscaya keraguan akan terkikis. Di dalam jalanmu, nak. Tetaplah ingat untuk melayani sesamamu dan bekerja dengan sejawatmu dengan tanpa membeda-bedakan. Dengan pelayanan yang tulus dan benar, maka kemudian orang yang sakit akan disembuhkan melalui tanganmu dan dengan pendampingan tanganKu.


Terima kasih, Tuhan.

Sabtu, 27 Juni 2009

Menjadi Pemeluk Agama Apapun Itu

Beragama? Adalah sebuah fenomena bagi manusia dalam beragama. Menurut Clifford Geertz, agama adalah pendekatan yang terorganisir pada kerohanian manusia, yang merupakan satu perangkat atas kisah-kisah, simbol, kepercayaan, dan berbagai praktik-praktiknya. Seringkali dikaitkan pada suatu hal supernatural dan transenden, yang dirasakan oleh para pengikutnya di dalam hidup mereka dan merujuk pada suatu kekuatan yang lebih besar, Tuhan atau dewa-dewa, atau suatu kepercayaan yang sangat terutama.

Menjadi beragama adalah hak dari seorang manusia dengan apapun yang ia percaya. Yang terpenting dari beragama pula, bila ditinjau dari sisi psikiatri, adalah ketidakadaan hendaya dan penderitaan. Misalnya mungkin saja praktik Pantekosta mirip dengan trance bila ditinjau dari sisi psikopatologi. Tapi hal ini tidak menimbulkan hendaya pada penganutnya.

Menjadi beragama pun menjadi sebuah pilihan. Ada orang yang memilih tidak untuk beragama atau tidak mempercayai suatu "ultimate thrust". Ya itu adalah pilihan bagi mereka.

Agama, seyogyanya adalah menjadikan manusia menjadi tinggi dan hidup kerohaniannya sehingga mampu mempengaruhi kehidupan jasmaninya. Bukanlah agama menjadi senjata bermata dua, yang dapat saja melukai orang lain dan dirinya sendiri. Apalagi praktik menjatuhkan agama lain dan memberitakan kepada orang lain bahwa agama ini tidak baik. Agama diciptakan untuk apa? Agama tidak dapat dipertentangkan karena pada dasarnya adalah percaya. Kepercayaan adalah suatu hasil olahan secara metafisika (menjawab alasan mendasar dari apa yang dilakukan) dalam diri masing-masing orang. Agama adalah hasil berfilsafat dari jiwa-jiwa manusia.

Biarkan agama menjadi hal yang pribadi pada diri manusia.

Minggu, 31 Mei 2009

Konsili Valencia (1229): Orang Katolik dilarang membaca Alkitab?


Pertanyaan ini saya ajukan di katolisitas.org. Tulisan di bawah adalah hasil dari Ibu Ingrid. Saya memasukkan hasil ini untuk membantu menginformasikan dan meluruskan informasi yang keliru. Hak cipta tetap pada katolisitas.org

Saya sendiri akhir-akhir ini sering membaca mengenai sejarah Kristen baik Katolik dan Protestan. Saya menemukan beberapa hal yang sebenarnya sangat menyesatkan dan informasi yang keliru. Bagaikan Dan Brown yang menyebutkan Yesus menikah dengan Maria Magdalena, maka beberapa informasi keliru atas Gereja Katolik. Saya mendapatkan tulisan yang berasal dari Pdt. Budi Asali M.Div dari Golgota Ministry dalam tulisannya "Pembahasan Mengenai Roma Katolik", dan di dalamnya banyak sekali kutipan dari Boettner dari bukunya Roman Catholicsm yang membantah akan ajaran Katolik.



Saya mendapatkan kutipan:
Adanya Keputusan Konsili Valencia pada tahun 1229, yang berbunyi sebagai berikut:
“We prohibit also the permitting of the laity to have the books of the Old and New Testament, unless any one should wish, from a feeling of devotion, to have a psalter or breviary for divine service, or the hours of the blessed Mary. But we strictly forbid them to have the above-mentioned books in the vulgar tongue”

Kami melarang juga pemberian ijin kepada orang awam untuk memiliki buku-buku Perjanjian Lama dan Baru, kecuali seseorang ingin, dari suatu perasaan untuk berbakti, untuk mempu-nyai kitab Mazmur atau buku doa Roma Katolik untuk kebaktian / pelayanan ilahi, atau saat-saat Maria yang terpuji. Tetapi kami dengan keras melarang mereka untuk memiliki buku-buku tersebut di atas dalam bahasa kasar

Sebuah hal asing bagi saya, karena saya tidak pernah tahu adanya Konsili Valencia ini dan kata-katanya memang sungguh sangat kontradiktif, dan menyesatkan karena disimpulkan dari Pendeta tersebut adalah: orang awam Katolik sebenarnya tidak boleh memiliki Alkitab. Benarkah??? Sungguh menyesatkan.

Dan inilah jawaban dari Ibu Ingrid:

Shalom Andreas,
Sebenarnya, data yang anda kutip mungkin itu yang tercacat menurut seorang Teolog Kristen Protestan yang bernama Loraine Boettner (sekitar thn 1928), yang mengatakan, “Alkitab dilarang untuk orang awam, yang dimasukkan dalam buku Indeks Buku-buku Terlarang oleh Konsili Valencia thn 1229″ (”Bible forbidden to laymen, placed on the Index of Forbidden Books by the Council of Valencia . . . [A.D.] 1229.“)


Namun sebenarnya Boettner mengutip sumber yang keliru. Sebab, indeks Buku-buku Terlarang itu baru dikeluarkan tahun 1559, sehingga Konsili yang diadakan jauh sebelumnya, tidak mungkin memasukkan daftar buku-buku tersebut.


Hal kedua yang cukup penting adalah, kelihatannya sangat tidak mungkin diadakan Konsili Gereja Katolik di Valencia, Spanyol pada tahun itu. Seandainya ada, semestinya terjadi sebelum tahun 1229, sebab pada tahun itu, orang-orang Islam menguasai kota itu. Sangat sukar dibayangkan, jika orang-orang Muslim pada saat itu, yang menentang orang-orang Kristen di Spanyol, dapat memberikan izin bagi para Uskup Katolik untuk mengadakan Konsili di salah satu kota mereka. Pasukan Kristen baru dapat membebaskan Valencia setelah 9 tahun kemudian. Maka, besar kemungkinan, Konsili Valencia sebenarnya tidak pernah ada.


Tetapi ada juga kemungkinan lain, yaitu yang dimaksud adalah Konsili di Toulouse, Perancis yang diadakan pada tahun 1229, sebab Konsili tersebut membahas tentang Kitab Suci. Konsili tersebut diadakan sebagai reaksi terhadap heresi Albigensian/ Catharist, yang percaya pada dua Tuhan (Tuhan yang Baik dan yang Jahat) dan bahwa perkawinan adalah jahat/ buruk, sebab melibatkan tubuh/ matter, karena tubuh dianggap buruk. Heresi ini menyimpulkan bahwa perzinahan bukan dosa, dan bahkan menganjurkan bunuh diri di antara anggota-anggotanya. Untuk menyebarluaskan paham ini, maka para Albigensian menyebarluaskan terjemahan Alkitab yang tidak akurat dalam bahasa setempat (menyerupai terjemahan Alkitab dari Saksi Yehova sekarang ini). Seandainya terjemahan itu akurat, tentu Gereja Katolik tidak berkeberatan. Sebab terjemahan dalam bahasa lokal memang sudah ada sejak lama. Tetapi apa yang dikeluarkan dari Albigensian ini adalah Alkitab yang sudah ’salah terjemahan’. Maka para Uskup di Toulouse melarang para awam untuk membacanya, sebab isinya keliru. Ini adalah langkah untuk melindungi umat, sama seperti para pendeta Protestan sekarang ini juga yang melarang jemaatnya membaca Injil Saksi Yehova.


Selanjutnya, mari kita lihat sikap resmi yang dikatakan oleh Gereja Katolik. Demikian menurut Paus Klemens XI melalui Bull Unigenitus 1713, yang memuat 101 proposisi menanggapi ajaran sesat Quesnel. Silakan membaca di link ini tentang keseluruhan Bull tersebut -silakan klik Berikut ini kutipan sebagian saja:


79. Adalah berguna, dan perlu senantiasa, di segala tempat, dan untuk semua orang, untuk mempelajari dan mengetahui semangat, kekudusan, dan misteri dari Kitab Suci.
80. Pembacaan Kitab Suci adalah untuk semua orang.
81. Adanya ketidak-jelasan yang agung dalam Sabda Tuhan tidak menjadi alasan bagi orang awam untuk tidak membacanya.
82. Hari Tuhan harus dikuduskan oleh umat Kristen dengan membaca karya-karya orang kudus, dan terutama Kitab Suci. Adalah berbahaya jika seorang Kristen tidak melakukan hal ini.
83. Adalah suatu ilusi untuk meyakinkan diri bahwa pengetahuan tentang misteri dalam agama tidak perlu dijelaskan kepada para wanita dengan pembacaan Kitab Suci. Bukan dari keluguan wanita, namun dari kesombongan pengetahuan para pria, maka terjadi penyalahgunaan Alkitab dan bermacam heresi/ ajaran sesat telah ditimbulkan.
84. Untuk mengambil dari tangan umat Kristen, Perjanjian Baru, atau untuk menjadikannya tertutup dengan mengambilnya dari mereka sarana untuk memahaminya, adalah [seperti] menutup mulut Kristus.
85. Melarang orang-orang Kristen untuk membaca Alkitab, terutama Injil, adalah seperti melarang menggunakan terang pada anak-anak Terang, dan menyebabkan mereka seolah-olah menanggung ‘ekskomunikasi’.


Jadi dari jawaban di atas, menurut saya jelaslah sudah duduk masalahnya. Gereja Katolik tidak melarang umatnya membaca Alkitab, hanya memang pada suatu periode tertentu sekitar tahun 1229, memang terjadi kondisi khusus sehubungan dengan adanya penyelewengan teks Kitab Suci yang dilakukan oleh sebuah sekte sesat (Albigensian) pada saat itu. Maka larangan untuk membaca Alkitab pada saat itu merupakan tindakan gembala untuk menyelamatkan kawanan dombanya.
Mari kita melihat segala sesuatunya dengan kacamata yang objektif, melihat fakta sejarah, namun juga dengan kepercayaan penuh kepada apa yang diputuskan oleh para pemimpin Gereja. Jangan lupa, bahwa Roh Kudus yang telah diutus oleh Yesus untuk melindungi Gereja-Nya adalah Roh Kudus yang sama yang menuntun para pemimpin Gereja yang adalah penerus para Rasul.


Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Catatan: Sebagian dari jawaban diterjemahkan dari Catholic Answers. Selengkapnya silakan membaca di sini.

Semoga ini dapat memberi informasi yang benar...

Selasa, 21 April 2009

Mengasihi Musuh?


Artikel ini bukan hasil asli tulisan saya. Namun saya kutip dari salah satu milis. Judul asli artikel ini adalah MENGASIHI MUSUH: URGENSI ATAU FANTASI? yang ditulis oleh Sdr. Eka Darmaputera. Saya ingin membagikan tulisan ini agar senantiasa mampu menjadi inspirasi yang mendalam bagi kebangunan rohani kita.

Referensi Alkitab Matius Bab 5 ayat 44 (Mat5:44)


εγω δε λεγω υμιν αγαπατε τους εχθρους υμων ευλογειτε τους καταρωμενους υμας καλως ποιειτε τους μισουντας υμας και προσευχεσθε υπερ των επηρεαζοντων υμας και διωκοντων υμας (Yunani)



But I say unto you, Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you, and pray for them which despitefully use you, and persecute you; (KJV)


Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.




"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Dari semua titah Yesus, tak ayal lagi, inilah perintah yang paling sulit dipraktikkan. Namanya saja musuh, lha kok mesti dikasihi. Aneh bin ajaib, bukan?

Banyak orang dengan serius, tulus dan jujur mengatakan, "Saya akui, perintah tersebut memang luhur dan mulia. Tapi bagaimana melaksanakannya?" Bagaimana mungkin mengasihi orang yang dengan sadar, sengaja, serta terencana, bermaksud mencelakakan kita?

Atau orang lalu bersikap seperti Nietzsche. Filsuf Jerman ini mengatakan, bahwa perintah "mengasihi musuh" adalah salah satu bukti nyata, betapa etika Kristen--seperti yang ingin ditekankannya--adalah etikanya orang yang berkepribadian lembek bagai bubur dan yang punya nyali melempem seperti kerupuk. Bukan etikanya orang yang tegar, tegap, dan perkasa. Etikanya para pecundang, bukan filsafat hidupnya para pemenang.

Orang-orang itu, kata Nietzsche, bila jujur, sebenarnya juga ingin membalas musuh-musuhnya. Siapa yang tidak?! Tapi sayang sekali, mereka tak punya keberanian. Hatinya kecil. Maka jadilah pengecut-pengecut itu, melalui perintah ini, menghibur diri sambil mencari pembenaran.

Walaupun alasannya berwarna-warni, suara terbanyak akan menyimpulkan, bahwa Yesus adalah pemimpi. Idealis yang tak peduli pada yang praktis. Sebab itu, begitu nasihat mereka, boleh saja ajaran-Nya Anda amini dan simpan baik-baik di dalam hati. Tapi Anda tak perlu repot-repot mencoba melaksanakannya. Karena ini hanya akan membuat Anda frustrasi.

Itu kata orang banyak. Namun saya mau berkata lain. Saya ingin mengatakan bahwa, teristimewa untuk dunia kita masa kini, perintah Yesus yang satu itu secara khusus justru menantang kita dengan urgensi dan relevansi baru. Kekerasan demi kekerasan nan tak kunjung henti di segenap belahan bumi, seharusnya mengingatkan kita betapa jalan kebencian yang kita lalui selama ini, akhirnya hanya punya satu ujung saja. Yakni kebinasaan dan kehancuran total
bagi semua.

Karenanya bila, seperti Nietzsche, kita mau menyelamatkan masa depan peradaban manusia, maka harus kita sadari, bahwa perintah "mengasihi musuh" adalah sebuah keharusan yang tak dapat tidak. Bukan sekadar fantasi indah seorang idealis atau etikanya para pecundang. Bahwa kasih, termasuk di sini mengasihi musuh, adalah satu-satunya kunci solusi bagi masalah-masalah besar yang membelit seluruh umat manusia dewasa ini. Dan bahwa Yesus bukanlah seorang idealis tanpa nilai praktis, melainkan justru seorang realis yang amat sangat praktis.

Ini tidak berarti bahwa Yesus menafikan kesulitan-kesulitan serius yang inheren terkandung di dalam perintah tersebut. O, jangan Anda samakan Yesus dengan pendeta-pendeta atau penginjil-penginjil yang dari belakang mimbar menggambarkan betapa perjalanan iman itu seolah-olah tanpa pergumulan, bahwa kehidupan itu tanpa beban, dan bahwa kekudusan itu begitu gampang. Tidak!

Yesus mengenal betul keterbatasan manusiawi serta dilema-dilemanya. Ia sendiri mengalaminya. Namun demikian, tanpa meremehkan kenyataan itu, Yesus benar-benar sangat serius dengan titah-Nya itu, kata demi kata. Dan Ia mau agar kita juga sama seriusnya dengan apa yang diperintahkan-Nya itu. Tugas kita, saudara, bukanlah melakukan studi kelayakan apakah perintah itu bisa dilaksanakan atau tidak. Tugas kita cuma ini memahami perintah itu dengan benar, lalu membulatkan tekad melaksanakannya. Titik.

* * *

Tapi, dalam praktik, bagaimana sih caranya mengasihi musuh? Apa sih yang mesti dan dapat kita lakukan?

Untuk mampu melaksanakan perintah ini, Anda pertama-tama perlu mengembangkan terus kemampuan dan terutama kemauan Anda dalam hal mengampuni. Orang tak mungkin mengasihi tanpa mau mengampuni. Dan selanjutnya yang mesti Anda sadari adalah, pengampunan selalu berarti mengampuni orang yang bersalah, khususnya orang yang telah melukai dan menyakiti Anda. Orang baik-baik tidak memerlukan pengampunan Anda. Begitu pula orang yang senantiasa menyenangkan hati Anda.

Astaga, mengampuni begitu saja orang yang telah melukai dan menyakiti kita?! Ini mungkin mengagetkan. Tapi memang tak ada pilihan lain. Pengampunan selalu merupakan bagian dari kewajiban si korban, bukan si pelaku. Yang berkewajiban mengampuni adalah pihak yang telah menjadi korban ketidakadilan, korban penindasan, korban penghisapan, korban kebencian, korban pengkhianatan, dan sebagainya.

Sedangkan para pelaku kejahatan berada di kutub yang satu lagi, yaitu dalam posisi perlu diampuni. Bukan mengampuni. Ini jelas dalam perumpamaan "Si Anak Hilang." Ketika si anak durhaka itu akhirnya tiba juga pada akal sehatnya, lalu dengan langkah tak pasti mengatasi rasa malu dan rasa takut ia menyusuri jalan kembali untuk mencari pengampunan, apa yang terjadi? Adalah orang yang paling ia salahi dan sakiti--sang Ayah!--merupakan satu-satunya orang yang dapat menyiramkan air sejuk pengampunan. Tak ada yang lain.

Pengampunan tidak berarti melupakan, apalagi mengabaikan, kejahatan yang pernah dilakukan. Samasekali tidak! Kejahatan tidak boleh dilupakan, dan memang tidak bisa. Pengampunan sejati justru hanya bisa hadir dan lahir dari tengah rasa pedih yang masih amat terasa. Tapi meskipun begitu, di tengah kepedihan dan sakit hati itu, yang bersangkutan dengan sadar dan sengaja, tidak membiarkan kepedihan itu memadamkan api kasihnya, serta meruntuhkan jembatan penghubung antarkeduanya.

Kepedihannya yang sangat juga tidak ia biarkan membunuh pengharapan dan peluang, bahwa pada satu saat--entah kapan--mereka akan dapat menjalin lagi sebuah awal baru dalam kebersamaan mereka. Jadi bukan "to forget and to forgive" atau "lupakan dan ampuni," tetapi justru "to remember and to forgive" atau "mengingat dan mengampuni"! Aku tidak melupakan kesakitan serta kepedihanku akibat perbuatanmu, itu tak mungkin, tapi aku dengan tulus bersedia mengampunimu. Aku tidak dapat membenarkan kejahatanmu, ini juga mustahil,
tetapi justru karena itu aku mengampunimu.

* * *

Bagaimana ini bisa terjadi? Tentu saja karena adanya kemauan yang kuat serta tekad yang bulat. Mengampuni seungguhnya bukanlah soal mampu atau tidak mampu, tetapi soal mau atau tidak mau. Kemauan yang kuat untuk mengampuni ini, pada gilirannya, akan amat terbantu bila ada kesadaran yang penuh, bahwa pada setiap orang selalu terdapat kejahatan maupun kebaikan.

Maksud saya, tak ada orang sepenuhnya baik dan seluruhnya jahat. Sejahat-jahatnya si musuh, ia pasti menyimpan kebaikan. Dan sebaik-baiknya diri kita, pasti ada kekurangan dan kesalahan di dalamnya. Setiap orang karenanya membutuhkan baik penerimaaan maupun pengampunan. Kita ataupun siapa saja. Implikasinya, bila Anda membutuhkan pengampunan dari orang lain, apakah Anda punya alasan yang sah bagi keengganan Anda mengampuni orang lain?

Mengampuni maupun mengasihi bukanlah soal getar rasa atau gejolak emosi. Bukan soal suka atau tidak suka. Tapi, sekali lagi, soal mau atau tidak mau. Sebab itu beruntunglah kita, karena Tuhan tidak memerintahkan kita untuk menyukai musuh kita.

Walaupun Tuhan sendiri, kita tahu, Ia tidak akan bisa memaksa siapa pun untuk menyukai orang yang tidak ia sukai. Tapi orang memang tidak harus terlebih dahulu menyukai seseorang, baru dapat menerima dan mengampuninya.

Ada satu lagi. Di atas saya katakan, bahwa tak seorang pun dapat memaksa Anda untuk mengampuni. Pengampunan itu mesti tulus, tanpa terpaksa. Namun demikian, Anda dapat "memaksa" diri Anda sendiri untuk mengampuni. Maksud saya, kemauan itu harus Anda kendalikan, bukan sebaliknya mengendalikan Anda.

Terlebih-lebih bila kita ingat, betapa negeri ini sudah tak punya banyak pilihan lagi, kecuali "rekonsiliasi sekarang" atau "hancur berkeping-keping kemudian." Secara individual kita tentu tak akan mampu mendamaikan seluruh negeri. Namun kita dapat mulai dengan mengusir kebencian, memadamkan dendam, dan menghadirkan damai di hati kita masing-masing. Ini arti dan dampaknya pasti besar sekali.

Sabtu, 14 Maret 2009

Mempertanyakan Kekatolikan?

PERHATIAN!
Tulisan ini memuat ajaran nilai agama. Bila Anda merasa tidak bisa menerima dan ingin meniadakan serta memperolok ajaran agama karena berbeda dengan ajaran agama Anda yang Anda yakini, Anda tidak perlu membaca tulisan ini. Tulisan ini adalah hasil kognitif dan afek pribadi saya terhadap agama yang saya anut. Mohon maaf bila ada sedikit miskonsepsi kecil dengan ajaran yang ada dengan tulisan saya ini. Anda bisa memberikan komentar kepada saya untuk koreksi.


Akhir-akhir ini entah mengapa saya tiba-tiba banyak dipaparkan mengenai hal-hal keagamaan, terutama agama yang saya anut, Katolik. Banyak sekali hal-hal yang ada, dan sebenarnya berpucuk dalam satu inti: Mengapa Katolik? atau Why Catholic?

Memang dalam usia saya yang hampir 22 tahun, iman saya memang belum setegar beringin. Namun hati terasa gatal untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu.

Masa Awal

Saya memang dibaptis sejak bayi dan menyandang nama salah satu rasul, Andreas. Konon saya dibabptis di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Jakarta. Kemudian saya masuk di TKK Kristen Immanuel yang dipayungi oleh Gereja Kristen Jemaat Kalimantan Barat. Saya sempat mengalami kebingungan karena apa yang diajari oleh ibu saya berbeda. Doa Bapa Kami berbeda! Saya hanya bisa mengikuti.

Saat saya pindah ke SD Suster, saya sempat menolak karena teman-teman saya tentunya melanjutkan ke SD Immanuel. Namun orang tua memasukkan saya ke SD Suster. Di sinilah saya mengalami pelajaran Katolik secara resmi dan menhadiri kelas Bina Iman setiap Jumat pulang sekolah. Ketika kelas 4 atau 5 SD saya mengikuti kelas Komuni Pertama. Saya sangat senang, pada akhirnya saya bisa menerima komuni dengan ibu saya.Saat kelas 6 SD, saya menjadi putera altar atau misdinar di Putera Puteri Altar Santo Kristoforus, Paroki Katedral St. Yosef, Pontianak.

Pelajaran agama terus saya dapat saat SLTP. Saat SLTP saya lumayan sering ditugaskan pelayanan di misa-misa khusus, misalnya misa natal, misa tahun ajaran baru. Seringnya memang menjadi lektor -pembaca sabda-. Saya dulu merasa takut karena harus berbicara di depan publik dan sedikit-sedikit menghilang. Saat itu pula saya menerima Sakramen Penguatan, dan dengan nama penguatan: Valentinus.

Jadilah, Valentinus Andreas Erick Haurissa.

Masa SMA

Masa SMA ini membukakan mata saya akan perihal pelajaran agama. Karena di sini diajarkan lebih generalis dan menyentuh masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan bagaimana hubungannya dengan Gereja. Menyentuh ensiklik-ensiklik gereja, semacam Rerum Novarum dan Quaddragesimmo Anno. Di sini pula saya belajar akan sejarah-sejarah Gereja dan pergolakannya di Reformasi Gereja yang menghasilkan Kalvinisme dan Lutheran.

Katolik dan keluarga: masalah tradisi?

Katolik adalah sebuah agama yang banyak diterima oleh keluarga saya. Rata-rata keluarga dengan strata saya (sepupuan) sebagian besar menganut Katolik. Keluarga saya, terutama jika dibandingkan keluarga ayah, adalah keluarga Katolik pertama.

Pada awalnya, tidak mudah bagi saya menjadi seorang Katolik, paling tidak itu yang saya rasakan. Saya pun menerima tertawaan semacam: Katolik yang dipeyorasikan menjadi (Katok Terbalik - maaf, pakaian dalam yang dibalik). Semacam bahan tertawaan seperti itu. Karena dulu selain saya, semua sepupu menganut tradisi Tionghoa. Dan pada akhirnya mereka pun sebagian besar adalah Katolik.

Kekatolikan menjadi begitu besar di dalam keluarga saya, terutama keluarga ayah. Padahal dulu saya pun tahu, ada sepupu saya yang dimana ibunya tak setuju ia mengikuti sekolah minggu.

Tapi entah mengapa Katolik menjadi diterima. Saya berusaha mencari jawabannya. Dan saya paling tidak menemukan satu, bahwa Katolik sendiri terbuka dengan kultur budaya. Selama nilai-nilai itu dapat disinkronkan. Misalnya nilai Katolik dapat masuk ke dalam budaya Tionghoa. Katolik tidak melarang imlek dan tata caranya, tidak melarang cheng beng, dan fleksibel. Perlu dicatat bahwa ini diterima selama memang sesuai. Misalnya memegang hio tidak dilarang, karena di dalam Katolik pun mengenal dupa dan wirug, selama hio digunakan sebagai tanda penghormatan tidak apa-apa, bukan sebagai penyembahan berhala.

Katolik menerima tradisi selama esensinya tidak bertolak belakangan dengan agama

Pada akhirnya nilai-nilai tradisi, tidak perlu ditanggalkan dan masih bisa diterima.

Kekatolikan, ada yang salah: Benarkah?

Katolik berasal dari bahasa Yunani: καθολικός (katholikos) berarti universal.

Banyak nilai-nilai Katolik yang salah dipersepsikan dan dianggap sebagai suatu kesalahan. Karena persepsi yang salah itulah menjadi penilaian yang buruk akan Katolik dan tak jarang hal ini menjadi senjata. Di sini saya membahas sejauh pemahaman saya selama ini:

a. Mana Kristiani yang Asli?

Masing-masing Kristiani menganggap merekalah yang benar. Namun kalau kita ulur tali sejarah, bahwa Katolik adalah yang pertama. Penyebutan Katolik sendiri muncul pada akhir abad pertama setelah jemaat perdana. Kristen ortodoks (abad ke-11) sendiri berawal dari Katolik namun mengalami perkembangan sendiri karena pengaruh yang berbeda di Eropa Timur. Begitu juga ritus-ritus lain yang berkembang karena pengaruh geografis yang berbeda, sebut saja ritus Malabar yang dibawa Rasul Thomas. Namun ritus-ritus ini kemudian bergabung dalam Katolik.

Hingga pada abad ke-16 muncul reformasi gereja yang berawal dari Gereja Katolik. Memang, pada saat itu terjadi kesalahgunaan jabatan oleh para pengurus gereja yang menimbulkan reformasi ini. Dan gereja Katolik sendiri sadar akan kesalahan itu dan membenahi diri dan para sarjana gereja melakukan pembaruan dan tetap dalam Gereja Katolik. Tidak ada perubahan nilai-nilai secara religi. Yang dilakukan adalah pembaruan sumber daya, tidak ada masalah pada ajaran dasarnya.

Gereja Katolik sendiri membuka dirinya dan mengembangkan nilai-nilai sosialnya mulai dari Konsili Vatikan, kemudian ajaran sosial gereja. Tentunya pengembangan ini merupakan salah satu pengembangan dari nilai-nilai dasar Katolik.

Dari sini, saya menyimpulkan bahwa, bila mau didasari secara historis, maka Gereja Katoliklah jawabannya.

b. Benarkah Sola Scriptura?

Dalam Surat ke-2 Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (2 Tes: 2:15) memang disebutkan:

Oleh sebab itu, Saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah terus kepada ajaran-ajaran yang sudah kami berikan kepadamu, baik secara lisan maupun secara tertulis.

Yohanes pun menuliskan (Yoh 21:25)

Masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Yesus. Andaikata semuanya itu ditulis satu per satu, saya rasa tak ada cukup tempat di seluruh bumi untuk memuat semua buku yang akan ditulis itu.

Dalam buku Etika Dasar, Frans Magniz-Suseno juga menyebutkan bahwa perlu adanya pertimbangan-pertimbangan etika dalam menafsirkan sebuah ajaran agama.

Dan Petrus menuliskan (2 Pet 3:16)

Dalam semua suratnya, Paulus selalu menulis tentang hal itu. Memang ada beberapa hal yang sukar dipahami dalam surat-suratnya itu. Dan bagian itu diputarbalikkan oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan yang tidak teguh imannya. Hal itu tidak mengherankan, karena bagian-bagian lain dari Alkitab diperlakukan begitu juga oleh mereka. Apa yang mereka lakukan itu hanya mengakibatkan kehancuran mereka sendiri.

Oleh karena itu bahwa apa yang tertulis di Alkitab memang menjadi pedoman bagi kita. Namun dalam memahami Alkitab diperlukan juga hal-hal lain yang dipertimbangkan dan tidak serta-merta langsung diartikan.

Kita perlu memahami bahwa Alkitab sendiri ditulis oleh masyarakat masa lalu yang tentunya dengan serta Roh Kudus. Banyak hal yang mempengaruhi sudut pandang dari tulisan, seperti Injil yang dituliskan dalam empat sudut pandang. Kisah penciptaan di Kejadian yang memiliki dua versi yang sebenarnya merujuk ke keadaan masa saat itu dituliskan, dan terpengaruh oleh budaya dan cerita rakyat masa itu.

Gereja Katolik pun mengajarkan bahwa hal-hal dalam Kitab Suci memiliki makna yang perlu diresapi dan bergantung pada konteks dan tidak bisa diterjemahkan secara redaksional.

c. Katolik yang Penuh Tradisi

Perayaan Ekaristi, sebuah tradisi Katolik

Memang Katolik adalah agama yang banyak tradisi karena agama ini adalah agama yang berawal dari 2000 tahun lalu. Saya rasa kita pun bisa memperkirakan seperti apa 2000 tahun lalu. Tentu piala yang ada, bukan gelas glosi.

Tradisi ini ada karena tetap dipertahankan hingga saat ini. Tentunya ada tradisi yang mengalami perubahan karena perkembangan jaman dan pengubahan ini tidak mengubah esensi nilai-nilai Katolik tentunya.

Tradisi yang ada sebenarnya adalah perlambangan atas sikap kita. Misalnya ketika ada bendera dinaikkan, mengapa kita harus mengangkat tangan dan menghormat sedemikian rupa. Mengapa ketika kita bertemu dengan rekan kita perlu untuk berjabat tangan atau melambai tangan.

Begitulah analoginya, mengapa saat masuk misa membuat tanda salib. Ini sebagai tanda bahwa kita membersihkan diri kita untuk siap bermisa. Mengapa harus berlutut saat mengaku dosa, kaena ini sebagai tanda pertobatan dengan Tuhan. Seperti ketika seorang pria melamar dan berlutut sambil membawa kotak perhiasan. Mengapa ia berlutut? Karena ia ingin menunjukkan bahwa wanita tersebut adalah sesuatu yang berharga dan ia rela untuk merendahkan hatinya.

Perilaku dan simbol yang ada adalah perlambang diri kita.

d. Benarkah menyembah patung?

Patung Yesus Kristus

Analogi ini saya mengambil analogi yang diberikan guru agama saat SLTP. Ketika Anda menghormati bendera apakah artinya Anda menyembah? Ketika seseorang meninggal dan ada fotonya, kemudian kita menangisi di depan foto, apakah kita artinya menangisi foto?

Tentunya barang-barang ini hanyalah media yang membantu kita dalam mengenang atau memusatkan perhatian kita. Misalnya ada seseorang yang kita kasihi sudah lama meninggal. Kemudian kita melihat fotonya. Ada rasa terbesit tersebut perihal orang itu bukan? Begitu pula dengan patung Yesus dalam salib misalnya, kita tidak menyembah patung yang terbuat dari tanah liat itu atau logam, namun karakter Yesus itu sendiri.

e. Santo Santa?

St. Petrus Kanisius, seorang santo yang saya kagumi

Santo dan santa ini adalah sebagai mengenang jasa mereka dan dapat menjadi tauladan bagi kita. Santo dan santa (termasuk beata) adalah orang yang kudus. Kudus di sini artinya mereka telah menjalani sesuatu yang luar biasa dalam hidup mereka (merujuk pada "Etika" karangan Prof. Bertens).

Dengan adanya sosok ini kita dapat memiliki patokan, oh saya hidup dalam Katolik seperti ini yang telah dicontohkan.

Kita berdoa bukan kepada santo-santa tetapi melalui perantaraan mereka. Karena Katolik percaya adanya kehidupan kekal setelah kematian dan para santo santa ini memiliki tempat yang dekat dengan Tuhan. Karena kedekatan itulah kita bisa minta perantaraan mereka. Kita percaya bahwa mereka akan menyampaikannya ke Tuhan.

Lalu timbul pertanyaan mengapa kita harus pakai perantara? Tuhan seperti ayah kita. Santo santa seperti kakak kita. Terkadang kita lebih bisa mengutarakannya kepada kakak daripada langsung kepada ayah. Dan tidak ada salahnya juga memang kita langsung kepada ayah. Dan disinilah manusia sebagai umat dapat memilih, pada akhirnya semua pun akan kepada Tuhan.

Dalam Wahyu pun dituliskan bahwa orang kudus berperan: (Why 5:8)

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
Selain orang kudus, dalam Gereja manapun (Katolik dan bukan Katolik) pun percaya akan doa yang diperantarai oleh manusia. Ketika kita minta didoakan orang lain. Walaupun tingkatan berbeda, namun analoginya serupa.

f. Perihal Bunda Maria

Bunda Maria, Katolik tidak menyembah Bunda Maria


Sama seperti santo santa. Kita tidak berdoa kepada Bunda Maria, kita tidak menyembah Bunda Maria. Kita menghormati Bunda Maria sebagai orang terdekat Tuhan dan sebagai sosok wanita yang menjadi ibu bagi kita. Kita dapat menjadikannya perantara kepada Tuhan.

Dalam doa Salam Maria yang dianut oleh Katolik, sama sekali tidak menyebutkan bahwa adanya penyembahan Bunda Maria. Begitu pula makna doa Rosario.

Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu;
terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati
Amin.
Kita meminta Bunda Maria untuk mendoakan kita (meminta perantaraanya). Tidak ada penyembahan bukan di sini?

Katolik bagi Saya

Bagian ini adalah bagian terakhir. Kekatolikan bagi saya bukanlah hanya sekedar tradisi. Atau sekedar otomatis karena saya dibaptis bayi. Namun menjadi sesuatu yang bermakna mendalam bagi saya dan menjadi salah satu bagian hidup. Saya merasakan sesuatu dalam Katolik, baik itu kuasa Tuhan, dan berkah yang ada.

Saya bersyukur saya menjadi seorang Katolik.

Jumat, 28 November 2008

Tuhan, Mengapa Kau Meninggalkan Aku?

One night a man had a dream.


He dreamed he was walking along the beach with the Lord. Across the sky flashed scenes from his life. For each scene he noticed two sets of footprints in the sand; one belonged to him, and the other to the Lord.


When the last scene of his life flashed before him, he looked back at the footprints in the sand. he noticed that many times along the path of his life there was only one set of footprints. He also noticed that it happened at the very lowest and saddest times in his life.


This really bothered him and he questioned the Lord about it. "Lord, you said that once I decided to follow you, you'd walk with me all the way. But I have noticed that at the worst times in my life, there is only one set of footprints. How could you leave me when I needed you the most?"


The Lord replied " My precious, precious child, I love you and would never leave you. During your times of suffering and when you see only one set of footprints, it was then that I carried you."