Kamis, 07 Agustus 2014

Masalah Kesehatan di Indonesia



Saya sebagai seorang dokter, dalam masa pasca penetapan presiden terpilih, tentu salah satu hal yang dinanti-nantikan adalah penyusunan kabinetnya yang salah satunya akan menjalankan segala kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan. Terlepas dari siapa oknum Menkes yang akan dipilih, saya hanya berharap bahwa siapapun yang menduduki jabatan tersebut harusnya yang kompeten dan benar-benar mengerti soal dan peliknya masalah kesehatan di Indonesia.

Beberapa hal mayor yang menurut saya terus menghantui masalah kesehatan di Indonesia adalah:

Akses Kesehatan Bagi Siapa Saja
Jika hal ini diterapkan, maka alhasil tak ada lagi dogma "Orang (miskin) dilarang sakit." Siapapun penduduk di negeri ini harus mendapatkan akses kesehatan yang baik dan juga pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Akses kesehatan yang terbuka siapapun tak sama dengan "pelayanan kesehatan gratis". Jika pelayanan kesehatan gratis, tetapi untuk mencari tenaga kesehatan saja harus mendaki gunung, tentu tidak elok.

Akses kesehatan menyeluruh adalah pemerataan fasilitas kesehatan di manapun di pelosok Indonesia. Misalnya, puskesmas sebagai pelayanan strata primer harus memiliki peralatan yang standar di semua Indonesia. Jika puskesmas harus memiliki EKG, laksanakanlah. Jika puskesmas berfungsi sebagai PONED atau Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar, fungsikanlah. Yang terjadi selama ini adalah pelayanan setengah-setengah dan pengadaan hal yang justru tidak perlu.

Pelaksanaan BPJS pun harus kerap dievaluasi, walaupun sebenarnya rohnya sudah baik. Perlu adanya kebijakan untuk menghasilkan pelayanan yang baik, tidak overcharged dan tidak under-treatment. Semua harus bekerja sesuai dengan standar ilmiah, misalnya dengan clinical pathway yang menstandarkan asuhan dan perawatan pasien. Memang, perlu waktu untuk terus mengevaluasi, tetapi pemerintah pun harus bertelinga juga untuk menyempurnakannya.

Kesejahteraan Tenaga Kesehatan
Maksudnya, bukan tenaga kesehatan harus menjadi kaya. Namun pokok pikirannya adalah tenaga kesehatan dibayar sesuai kinerjanya, risiko pekerjaannya, dan kemampuannya. Tenaga kesehatan baik dokter sub spesialis sampai dokter di desa, baik ners sampai bidan desa, memiliki kehidupan yang layak. Sekali lagi, bukan untuk kaya, tetapi hidup layak. Kata salah satu dosen saya, "Jika mau kaya, jangan jadi dokter, tetapi jadi pengusaha."

Pelayanan Preventif Diutamakan
Perlu perubahan paradigma dari mengobati pesakit menjadi pencegahan sakit. Sudah terbukti di ilmu kesehatan komunitas dan kesehatan masyarakat bahwa tindakan prevensi lebih murah biayanya dari tindakan pengobatan. Paradigma ini memerlukan keberanian untuk mengintervensi hal-hal perusak kesehatan yang selama ini dibiarkan begitu saja, seperti tembakau.

Pemerataan Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia harus dikembangkan seoptimal mungkin. Siapapun yang memiliki bakat dan kemampuan harus dibina, bukan untuk melihat saingan, sisi SARA, ekonomi, dan lainnya. Sumber daya manusia harus dibina untuk bekerja sebagai tim, sebagai tenaga kesehatan yang berpadu dan berintegrasi, dan berfokus pada pasien, bukan berpusat pada keakuan atau "ini bidang saya". Tenaga kesehatan pun harus luwes untuk berubah dan beradaptasi dengan segala perubahan dalam dunia kesehatan.

Pengutamaan Penelitian
Penelitian harus kembali diangkat, sehingga Indonesia memiliki kemampuan untuk mengembangkan ilmu sendiri. Dengan adanya banyak rangsangan untuk menumbuhkan minat penelitian maka ilmu akan menjadi semakin pesat sehingga riset-riset itu sendiri akan memberi timbal balik terhadap kualitas pelayanan kesehatan.

Senin, 14 Juli 2014

Ketika Pertama Kali Masuk Sekolah...

Hari ini ternyata adalah hari pertama anak-anak masuk sekolah. Ya, banyak dari teman-teman perawat yang sengaja cuti atau memindahkan jadwalnya ke sore atau malam, demi dapat mengantar putra-putrinya untuk hari sekolah pertamanya. Sungguh manis, bukan?

Ya, saya masih ingat tatkala saya masuk sekolah pertama kali dahulu. Saya dahulu sempat akan dimasukkan ke TK Gembala Baik, sekelas dengan abang sepupu saya yang 1 tahun lebih tua dari saya. Ya, hasilnya saya bak cacing panas, tidak pandai untuk diam. Akhirnya suster kepala sekolah pun tak mengijinkan saya melanjutkan sekolah di hari percobaan itu.

Kemudian saya masuk satu tahun berikutnya ke TK Kristen Immanuel. Saya sempat menjalani dua tingkat TK di sini, yaitu kelas A dan kelas C. Saya tidak tahu persis mengapa saya tidak ke kelas B, atau untuk apa ke kelas B tersebut.

Ketika saya pertama kali masuk SD, saya masuk ke SD Suster. Suatu lingkungan yang benar-benar baru bagi saya. Saya masih ingat saya sempat meraung atau kecewa kepada orang tua karena saya tidak dimasukkan ke SD Immanuel seperti kebanyakan rekan-rekan TK saya. Mungkin karena orang tua saya mau mulai memasukkan saya ke institusi pendidikan Katolik, sesuai dengan agama saya sejak kecil.

Saya ingat persis, hari pertama saya di SD, teringat saya hampir kacau. Saya mencari orang tua saya, namun tidak ada. Mungkin karena sejak hari pertama masuk TK saya tidak ditunggui oleh orang tua lagi. Mungkin beda dengan orang tua sekarang, karena mereka harus memfoto hari pertama sekolah anak mereka dan mengunggahnya ke media sosial.

Saya memang tidak terlalu luwes untuk beradaptasi, saya tidak kenal kiri-kanan saya, walau akhirnya waktu yang menjawab (halah). Saya pun kelabakan untuk mengikuti pelajaran gaya SD, yang sudah mulai tertata rapi dengan jadwal pelajaran, buku catatan, buku PS, buku PR, dengan segala lembar kerja siswa (LKS). Seingat saya, tidak ada lagi perosotan, tidak ada lagi ayunan. Tetapi saya mulai mendapat uang jajan saya sejumlah tiga lembar merah bergambar perahu Pinisi. Saya ingat dengan sejumlah uang itu saya masih bisa membeli permen seharga Rp 25,-, dan tentunya kudapan Chiki yang akhirnya membuat saya diomeli ibu karena sakit tenggorokan.

Saya ingat bahwa masa-masa TK saya berjaya, menjadi pemimpin upacara TK, juara kelas, ikut lomba menggambar (saya masih ingat favorit saya adalah menggambar ulang doraemon). Hingga pada SD, prestasi itu tak terulang di kelas 1. Dulu seingat saya di caturwulan 1 kelas 1 SD, saya juara 8. Hingga di caturwulan 3 baru dapat ke-3 besar.

Untuk SMP saya tak terlalu masalah, karena saya masih di lingkungan yang sama, saya hanya pindah gedung dengan meloncat pagar saja, ke SLTP Suster.

Nah, untuk SMA, cukup membuat sakit kepala. Saya di SMA Kanisius, yang saya sendiri pun agak kurang percaya saya dinilai cukup mampu masuk ke sekolah utama di ibukota ini. Bayangkan saya hanyalah "seorang paman datang dari desa". Saya harus "bersaing" dengan kawan-kawan saya yang baru, yang dunianya jelas berbeda dengan teman-tema saya di Pontianak. Saya harus bisa mengikuti pelajaran yang seringkali diberi pengayaan yang lebih dari buku teks. Saya harus bisa menguasai pemrograman Pascal, padahal dulu saya hanya belajar mengetik dengan mesin tik, Wordstar bahkan Microsoft Office Windows 2000. Saya harus bisa mewawancarai artis ibu kota di majalah sekolah (saya pernah mewawancarai Moammar Emka loh!), padahal saya dulu cuma editor mading sekolah yang spesialnya hanya DUDU (Dari, Untuk, Dengan Ucapan). Akhirnya memang saya tepar di semester 1 kelas 1 SMA. Walaupun demikian saya harus mengejar ketertinggalan saya, walau itu takikardi dan dekompansasi.

Saya pun merasa bersyukur akhirnya saya bisa seperti ini. Ya, waktu berjalan begitu besar dan saya ingin menapak lebih jauh lagi. Saya ingin sekolah lagi. :')

Senin, 30 Juni 2014

Manusiawikah?

Dalam keheningan
Sejenak aku tenggelam di dalam benak
Menatap meratap
Mengakal mengakar

Ketika kita bekerja dengan sepenuh hati
Konon katanya kita tengah berangkuh
Ketika kita tengah tak sehati dengan pekerjaan
Konon katanya kita malas tak terperikan

Ketika kita melambai senyum
Konon katanya kita manis dalam gulita
Ketika kita memberi durja
Konon katanya kita tak akan hidup bahagia

Dunia ini tak semudah ying dan yang
Namun benarkah ini?
Manusiawikah ini?

Ketika hidup bukanlah hitam dan putih
Namun terenyahkan dalam keabu-abuan
Ketika hidup tak lagi tahu benar dan salah
Namun terombang-ambing dalam lautan tak ternisbikan

Manusiawikah?
Inikah manusia?

Pontianak, 30 Juni 2014

Selasa, 17 Juni 2014

Ketika Dokter Berikrar Saudara Sekandung

"[…] Saya akan perlakukan  teman sejawat saya seperti saudara kandung. […]"
- Sumpah Dokter Indonesia, Kode Etik Dokter Indonesia 2012

" […] To consider dear to me, as my parents, him who taught me this art; to live in common with him and, if necessary, to share my goods with him; To look upon his children as my own brothers, to teach them this art. […]"
- Hippocratic Oath



Hingga saat ini yang saya pernah dengar mengenai sebuah profesi yang ada mengucapkan ikrar di hadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk menganggap siapapun yang sama profesinya sebagai saudara sekandung, adalah profesi dokter. Mohon dikoreksi jika ternyata ada profesi lain yang serupa.

Ya, janji di hadapan Tuhan! Sebelum para dokter mengucapkan belasan poin dalam sumpahnya, ia mengucapkan terlebih dahulu, "Demi Allah saya bersumpah" dan dibawa naungan kitab suci, di depan pemuka agama, dan di hadapan semua orang awam sebagai saksi. Hal ini bak pernikahan, bukan begitu? Ketika di kala kita berjanji untuk sehidup semati, begitu juga dalam pengangkatan sumpah dokter. Sumpah dokter, bagi saya, nyaris sebuah hal yang sakramental.

Hal ini berarti apa, sikap-sikap ini menjadi sebuah kiblat yang harus dipatuhi karena sudah menjadi janji. Siapapun diri kita, siapapun karakter dan pola perilaku kita, kita perlu diingatkan untuk terus bercermin akan ucapan sumpah kita.

Salah satu sumpah yang cukup unik adalah sumpah yang saya sebutkan dalam paragraf pertama tadi. Menjadi saudara sekandung! Bayangkan. Mungkin bukan hal yang sulit kalau kita menganggap "saudara sekandung"-nya adalah teman satu geng saat kuliah atau bahkan teman satu angkatan di Fakultas Kedokteran kita. Namun, kita harus menerapkan hal ini ke semua orang yang sama profesinya, yaitu dokter. Siapapun dia, setua apapun dia, semuda apapun dia.

Menjadi saudara sekandung, artinya rekan sejawat dokter ini perlu sama diperlakukan seperti adik dan kakak kandung. Betul, kakak dan adik kandung yang ada di rumah kita. Jika kita menyayangi saudara kita, begitulah kita diisyaratkan untuk memperlakukan sejawat kita, termasuk memperhatikan, menjaga suasana perasaan, dan lainnya.

Yang tertulis dalam Pasal 18 Kode Etik Dokter Indonesia (KODEKI) sebagai berikut: "Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan." Ya dalam etika dan filsafat disebut etika timbal balik atau aturan emas alias golden rule. Aturan emas sebenarnya beracuan pada kutipan Injil Matius 22:39 dan Matius 7:12 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ” dan “ Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."

Sulit? Ya, sulit terdengarnya, bahkan mungkin lebih mengarah ke hal yang absurd?

Dalam KODEKI pula disebutkan dalam penjelasan Pasal 18 selain mengenai aturan emas, dikatakan bahwa dokter perlu mawas diri, tidak dilecehkan, tidak diejek, tidak dipersulit, menjaga reputasi rekannya. Sama toh, kita tak ingin melecehkan saudara sekandung kita atau yang jelas kita sendiri tidak ingin dilecehkan atau dipersulit oleh orang lain bukan? Bahkan yang lebih menyinggung sifat ksatriaan, bahwa dokter memiliki rasa kerelaberkorbanan akan sejawatnya. Sungguh besar kasih sayang antarsejawat seyogyanya.

Namun memang, antarsaudara sekandung tak selalu hari adem ayem, pasti pernah diselingi oleh konflik atau pertengakaran. Ya, hal yang manusiawi. Kata salah satu guru saya, semua pasti punya salah. Tidak ada yang tidak pernah tidak salah. Kesalahan ini perlu disikapi dalam perspektif persaudarasekandungan ini. Jika kita bertengkar dengan adik kita, sebaiknya sebagai satu jalinan keluarga, perlu ada pendamaian dan perbaikan hubungan. Tidak ada hal yang dapat memutuskan "darah" sekandung. Ya termasuk bagi dokter yang mungkin baru kita kenal. Masih tetap absurdkah? Jika iya, kita perlu memasang rasa legawa, tepa selira antarsejawat, mengubah cara pandang, menyingkirkan egoisme pribadi.

Sulit melakukan? Bagaimana lagi, hal ini sudah tersumpah dan mendarah daging sebagai sebuah janji kita di akhir kehidupan nanti bersama Tuhan. Walau mungkin ada terminologi mantan istri, namun tidak ada mantan saudara kandung dalam kehidupan ini.

Ya, semoga jalinan saudara dokter di negeri ini tetap lestari, dan tak hanya membahana ketika saja ada hati yang tersakiti.

Rabu, 04 Juni 2014

Kerja Dokter (Di Rumah Sakit) Tak Sekedar Praktek



Ketika saya menulis, saat ini, saya sudah masuk ke dalam masa bulan ketiga bekerja di rumah sakit. Banyak hal yang terjadi. Sungguh. Namun hal terutama yang dapat saya petik adalah tugas seorang dokter (di rumah sakit) sungguh beragam. Banyak hal, baik klinis maupun non-klinis, yang ternyata perlu dimiliki oleh dokter untuk mampu berbuat dan bekerja.

Semakin saya sadari bahwa, sebagai klinisi hanyalah satu dari semesta yang disebut "pekerjaan seorang dokter". Dokter tak hanya anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan terapi. Tetapi saya pun belajar, bahwa dokter harus memikirkan bagaimana lantai kamar mandi di ruang perawatan tidak menjatuhkan pasien saya, bagaimana tukang parkir di rumah sakit mengerti tujuh langkah mencuci tangan versi WHO, bagaimana petugas di linen dapat terhindari dari infeksi atau iritasi zat pencuci. Suatu hal yang dulu saya tidak banyak terpikirkan, baik selama pendidikan maupun pekerjaan saya yang terdahulu. Sungguh, ujian di kepaniteraan tak ada yang menanyakan hal itu, namun hal-hal inilah yang ternyata banyak ditemukan sehari-hari di dalam rumah sakit.

Ya, mungkin semua di atas karena saya terlibat di dalam Komite K3 rumah sakit dan salah satu kelompok kerja di Komite Akreditasi. Namun saya masih merasa tercengang bahwa dunia dokter itu tak sekecil ruang praktek. Praktik klinis dengan segala clinical pathway-nya hanyalah sejumput dari rimba kedokteran. Dengan jas putih ini, kita tak hanya berpikir melulu soal pasien. Ya, tapi sebenarnya hal-hal ini semua berujung pada hal yang disebut patient centered care dan patient safety. Dua buah paradigma lagi yang saya baru dalami selama di rumah sakit dengan segala langkah dan sasaran keselamatan pasiennya.

Walau memang hal-hal tersebut baru (mungkin saja saya yang terlambat atau tenggelam dalam ketidaktahuan), ini membuat saya semakin tertantang untuk kerap membuka diri dan terus belajar dan belajar hingga akhir hayat. Bukankah demikian garis kehidupan dan idealisme seorang dokter?

Rabu, 12 Maret 2014

Belajar Bahasa Asing dengan Cepat?

Banyak yang mengatakan bahwa belajar bahasa asing baru itu sulit. Belajar bahasa asing itu akan meledakkan kepala kita. Benarkah?

Bagi saya, saya menganggap belajar bahasa baru adalah pengalaman yang amat menyenangkan. Saya seperti masuk ke dalam dunia "antah-berantah" yang baru dan menjalin relasi di dalamnya. Walau saya sulit menyatakan apa sebenarnya sumber kesenangan itu, saya menemukan sebuah video yang menarik yang juga menyatakan bahwa belajar bahasa baru itu tak sesulit yang diduga.

Video ini merupakan video dari TEDx talk di Universitas Lingnan yang dibawakan oleh Chris Londsale. Ia mengatakan bahwa postulat yang mengatakan bahwa untuk belajar bahasa asing diperlukan talenta adalah hal yang keliru. Menurutnya ada lima hal yang menjadi prinsip untuk memudahkan kita belajar bahasa asing:

Belajar Bahasa yang Relevan dengan Anda
Maksudnya di sini adalah belajarlah bahasa yang memang ada kaitannya dengan diri kita, entah tujuan atau kebutuhan kita, minat kita, atau memang di dalam dunia kita saat ini. Kita tentu akan menganggap sesuatu menjadi lebih kurang serius jika hal itu bukan yang kita inginkan, bukan? Seperti hal yang saya alami bahwa saya dulu memulai belajar hangeul ketika akan berpergian ke Korea Selatan, dan kemudian minat itu stagnan hingga saya diracuni hal-hal yang berbau Korea oleh adik saya (baca: kecanduan Running Man). Hingga saya pun berada dalam lingkungan yang memfasilitasi saya dalam belajar bahasa tersebut. Dan hal ini juga yang akhirnya menjadi sebab, pembelajaran bahasa Tagalog saya jalan di tempat.

Gunakan Bahasa yang Sedang Dipelajari Bahkan pada Hari Pertama Anda Belajar
Mungkin kita masih takut atau malu-malu untuk menggunakan bahasa kita yang kacau. Mungkin kita hanya bisa mengucapkan salam atau kata-kata dasar. Namun kita harus percaya bahwa ketidakmampuan kita pada hari pertama ini akan mulai menyemangati kita untuk terus belajar menutupi kekurangan.

Walaupun Hanya Mengerti Maksud Suatu Kalimat, Berarti Kita Mulai Menguasainya
Ya, kita mungkin hanya mengerti sepatah duapatah kata, mungkin kita buta dengan tata bahasa yang baku, namun kita sudah punya bayangan bahwa kita paham apa maksud suatu kalimat dalam bahasa asing tersebut. Sadarkah kita bahwa kita sebenarnya telah mencetak prestasi dalam penguasaan bahasa? Kunci dari komunikasi adalah pengertian atau pemahaman (komprehensi) walau mungkin dengan standar di luar kebakuan yang masih dapat ditoleransi.

Melatih Sisi Fisiologis Tubuh Kita
Yang menjadi penyebab suatu bahasa asing menjadi sulit adalah karena diri kita menganggap kata dalam bahasa asing tersebut menjadi bunyi tanpa arti yang pada akhirnya ditolak oleh otak kita. Untuk itu kita perlu menerima bunyi asing tersebut dan kita terima ke dalam otak kita, sehingga kita mengetahui dan mengenali bunyi tersebut. Ya, mulut manusia memang akan dapat membuat ribuan bunyi dan nada yang dapat saja menjadi sebuah bunyi dengan arti.

Begitu juga dengan kemampuan berbicara, bahwa kita memiliki kuasa atas diri kita sendiri untuk mengontrol puluhan otot wajah yang akan menghasilkan suatu bahasa.

Psikologis
Jika kita senang, rileks, memiliki rasa ingin tahu akan memudahkan kita untuk belajar bahasa asing. Jika kita terlalu berkutat, kita akan kehilangan hasrat untuk menerima bahasa asing ke dalam diri kita.

Dalam video ini pun dipaparkan 7 aksi dan contoh program belajar yang akan memudahkan kita.




Minggu, 09 Maret 2014

Doraemon, Kenangan Masa Kecil

Mungkin saya sudah tidak ingat lagi kapan terakhir saya menonton film Doraemon di televisi. Pastinya sudah lewan hitungan satu dasawarsa. Jika diingat kembali pada masa kecil, menonton Doraemon dan rentetan kartun di hari minggu adalah hal yang teramat menyenangkan.



Saya adalah penggemar manga dan anime Doraemon. Walau sudah lama tak menonton, namun ada satu bagian dalam diri saya yang mungkin tersembunyi yang rindu menikmati anime atau manga ini.

Saya masih ingat, Doraemon saya dulu yang pertama adalah manga Doraemon Nomor 13 -seingat saya bergambar Doraemon dan UFO atau alien kecil-, lalu saya mengoleksinya sampai nomor 30an (dan tentunya Doraemon seri Petualangan!), kalau tidak salah. Namun koleksi saya ini berceceran entah kemana, dan akhirnya sisa-sisanya saya sumbangkan ke panti asuhan. Sebenarnya, ada keinginan untuk kembali mengoleksinya kembali secara lengkap. Toh, sekarang komik Doraemon masih kerap dicetak ulang oleh Elex Media. Tapi berpikir manfaat dan mudaratnya, kalau dihitung dengan harga komik per eksemplar sekarang, lumayan menguras gaji juga.

Walau tak berkomik, saya kemarin iseng berselancar di Youtube dan menemukan kanal DoraemonEngsub yang rutin mengunggah anime Doraemon. Wah, keren sekali! Tentunya menonton anime ini kembali mengingatkan masa kecil saya dahulu.

Doraemon ini telah banyak memberi saya imajinasi semenjak kecil dan kalau sekarang dikenang saya merasakan betapa lugunya masa kecil dulu. Saya dulu percaya bahwa Nobita bisa lari dari Jakarta sampai ke Surabaya (kalau tidak salah ini saduran yang seharusnya dari Tokyo ke Osaka?-CMIIW). Saya dulu membayangkan senangnya memiliki baling-baling bambu dan pintu ke mana saja. Saya pun membayangkan apa rasanya dorayaki atau bahkan mochi momotaro.

Ah, kalau kerap membayangkan lagi bahwa Nobita masih saja duduk di kelas 4 SD bersama Shizuka, Suneo, dan Jaian. Saya sekarang nyaris 30 tahun! Saya masih tak menyangka…

Namun ada yang saya syukurkan bahwa dulu saya masih mengidolakan Doraemon… dan anak-anak kini justru malah cabe-cabean (terong-terongan?) atau fans berat dari Coboy Junior. Zaman sudah berubah?

Sabtu, 01 Maret 2014

Brand New Day, Brand New Job

1 Maret 2014


Well, saya akan memasuki dunia kerja baru lagi setelah bekerja sebagai dokter PTT dan editor medis. Semoga dalam pekerjaan yang baru di rumah sakit ini dapat berjalan dengan baik. Dan Tuhan dan Bunda Maria selalu membimbing langkahku. Amen!


Rabu, 26 Februari 2014

Resensi Lightning Returns: Final Fantasy XIII

Beberapa hari belakangan ini saya kekeuh untuk segera menyelesaikan game ini. Ya, game ini saya baru beli minggu lalu ketika di Jakarta dan segera dimainkan ketika pulang ke kampung halaman. Ya, mau tak mau, PS3 saya di Pontianak :P. Lagipula beberapa hari ke depan saya akan resmi bekerja di rumah sakit. Entah apakah ritme kerja ini tetap dapat menyempatkan saya untuk menyalakan PS3 saya (dan TV HD yang baru demi PS3).



Ya, Lightning Returns: Final Fantasy XIII (LR). Saya memang cukup lama mengenal seri ini, mendarah daging. Saya memainkan hampir semua seri utamanya (kecuali game-game spin-off-nya dan seri online yaitu FF XI dan XIV).

Grafik

Sejauh ini saya puas-puas saja dengan grafik seri kisah Lightning dari awal hingga ketiga ini. Saya sendiri memang tidak banyak memainkan game PS3, maka tanpa membandingkan game lain, saya puas-puas saja. Namun memang art design LR ini lebih detail bila dibandingkan dengan seri sebelumnya. Saya paling suka melihat detail dalam pakaian kebesarannya Vanille :P.

Cerita

Jujur saja, seri FF XIII ini -sebenarnya- memiliki cerita yang cukup kompleks, mulai dari masalah mitologi dewa-dewanya, dunia Mortal World dan Unseen World, kemudian ditambah masalah paradoks waktu di FFXIII-2, dan kemudian detik-detik terakhir dunia di LR. Hal ini baru saya ngeh ketika kembali menyimak kompendium kisah ini di FF Wikia. Namun dari game-nya sendiri, atau dari dialog game, sangat sedikit. Kita harus rajin menyimak di Datalog, Fragmen-fragmen, dan menyimak cerita-cerita lain yang diluncurkan setelah itu seperti FFXIII: Episode Zero, FFXIII: Episode i, dan berbagai tambahan yang hanya ada di Ultimania.

Apalagi di LR, dialog-dialognya amat melodrama. Pacu ceritanya sangat datar. Memang dari berbagai sumber, karakter Lightning di seri ini memang dibuat agak kurang-emosional -mungkin karena tuntutan cerita-. Saya akui bahwa saya sendiri agak lemot memahami cerita LR dan apalagi dikompilasi dengan seluruh 2 seri sebelumnya.

Gameplay

Konon kita perlu punya manajemen waktu yang baik dalam memainkan game ini. Dalam game ini, Lightning berpacu dengan waktu 24 jam yang berputar dan diberi maksimal 13 hari. Setiap pukul 6 pagi, Lightning akan dipanggil lagi untuk menghentikan kegiatannya.

Secara umum, kalau bermain gamenya sekedar memenuhi main quest dan kebanyakan sidequest, waktunya cukup-cukup saja. Namun kalau terobsesi melengkapi semua quest, cukup menantang juga. Tapi konsep ini bagi saya agak menyebalkan, kurang bebas bergerak karena dibatasi hari. Namun quest ini tetap harus dilakukan karena sumber utama untuk menaikkan status Lightning.

Konsep battle di LR cukup menarik karena kita mengostumisasi berbagai ability yang kita punya dengan kostum, seperti yang terjadi pada trio YuRiPa di FF X-2. Namun sulitnya, kita tak jarang mengubah sana-sini hanya untuk satu monster saja, belum lagi kalau melawan boss. Namun hal ini diselamatkan dengan fitur aneh juga yaitu fitur escape alias kabur dari battle agar kita bisa kembali membongkar pasang strategi perang. Namun escape ini bukan tak ada penalti (untuk normal mode dan hard mode).

Musik

Sampai sekarang saya tidak mengerti, kenapa hanya OST FF VII sampai X yang selalu dapat saya kenal hingga saat ini. Namun seri FF XIII ini saya sulit mengenalinya. Walau bagi saya kedengarannya kurang catchy, namun memang OST dari LR ini banyak variasi aliran musiknya. Satu-satunya OST yang saya suka dari LR adalah OST Noel dan Yuel. :D

Kesimpulan

Saya dapat mengatakan bahwa LR ini adalah game yang baik. Namun bukan game yang luar biasa kalau dibandingkan seri Final Fantasy klasik lampau. Tampaknya Square Enix mengusahakan suatu perubahan ciri khas FF yang saya agak dikecewakan di 3 seri FF XIII. Walau demikian, saya masih berharap banyak di FF XV kelak.

Nilai Akhir 3,5 / 5 (not bad!)

Selasa, 25 Februari 2014

Yuk Bloggers, Ikuti Lomba #BlogCantik





Ikutan yuk LOMBA BLOG "Wanita Indonesia Cantik dan Sehat"! Mari bagikan kisah seru, resep sehat, ritual, atau tips kecantikan wanita Indonesia ala kamu. Lomba Blog ini berhadiah JUTAAN rupiah. Ayo, tunggu apa lagi, segera kirim tulisanmu!

SYARAT dan KETENTUAN
  1. Isi form pendaftaran : tanyadok.com/lombablogcantik/
  2. WAJIB Follow @tanyadok dan LIKE Facebook "TanyaDokterAnda.com.
  3.  Tulisan harus dalam bahasa Indonesia.
  4. Tema tulisan : Wanita Indonesia Cantik dan Sehat (bisa berupa kisah seru, resep sehat, ritual, atau tips kecantikan).Tulisan HARUS MENYERTAKAN KUTIPAN DARI KUMPULAN ARTIKEL TanyaDok.com, misalnya seputar wanita http://tanyadok.com/tag/wanita/ . Penggunaan kutipan ini wajib dicantumkan sumber referensinya yang ditulis di akhir postingan dengan memasukan hyperlink ke URL / tautan artikel tersebut di TanyaDok.com.
  5. WAJIB memasang badge peserta yang sesuai dan tempatkan pada sidebar Blog yang didaftarkan
  6. Keywords yang dapat digunakan adalah “wanita cantik”, “sehat” dan “tanya dokter”

PERIODE LOMBA
  • Mulai Pendaftaran : 11 Februari 2014
  • Periode lomba blog: 11 Februari – 10 Maret 2014
  •  Batas terakhir karya tulisan diunggah: 10 Maret 2014 pukul 08.00 WIB
  • Penjurian: 11-12 Maret 2014
  • Pengumuman Pemenang: 13 Maret 2014


KETENTUAN PENJURIAN
Penilaian postingan blog terbaik akan dilakukan oleh tim TanyaDok berdasarkan:
1. ISI Penulisan
·       Kesesuaian tema
·       Kelengkapan penulisan
·       Akurasi informasi kesehatan
·       Minimal pencantuman keyword
·       Gaya dan penyajian penulisan
·       Penyajian informasi
2. Keaktifan peserta mempromosikan artikelnya di FB dan Twitter #BlogCantik
3. Keputusan juri adalah final dan tidak dapat diganggu gugat.
4. Lomba ini tidak berlaku untuk karyawan/ keluarga TanyaDok, sponsor, agensi dan pihak yang turut terlibat dalam penyelenggaraan kompetisi ini.
5. Apabila terdapat pajak hadiah maka ditanggung oleh Pemenang.
6. Promo ini tidak dipungut biaya. Hati-hati penipuan!

HADIAH LOMBA
Juara I uang tunai Rp.1,000,000
Juara II uang tunai Rp. 500,000
Juara favorit dari social media mendapatkan pulsa senilai Rp. 100,000 untuk 5 orang serta berbagai hadiah menarik produk / jasa kecantikan lainnya.



Jika ada pertanyaan FOLLOW dan mention @tanyadok atau hubungi kami via email lombablog@tanyadok.com

Baca ketentuan lomba selengkapnya di slide berikut : http://www.slideshare.net/tanyadok

Jumat, 21 Februari 2014

Jangan Mau Jadi Dokter

Nyaris tiga tahun saya genap menyandang gelar profesi ini. Dokter. Tiga tahun, bukan waktu yang lama, dan bukan juga waktu yang terlalu cepat untuk mengatakan bahwa saya sudah memakan asam-garam profesi ini. Saya mungkin tengah mencicipinya.

Suatu hal yang terus-menerus disadari bahwa menjadi dokter itu tidak mudah. Ya, saya kira sama saja, menjadi guru, pastor, insinyur, akuntan pun tidak mudah. Tapi kalau diangkat sedikit dengan gaya generalisir, saya setuju bahwa profesi dokter memerlukan sedikit kerja keras lebih dibandingkan profesi kebanyakan, walau bukan dalam tahap superlatifnya.

Tak heran bahwa untuk mengenyam profesi ini perlu waktu minimal 6 tahun dalam universitas, 1 tahun dalam pantauan program magang (internship), dan kelak 2 tahun dalam program dokter keluarga atau lebih dari 3 tahun dalam program pendidikan dokter spesialis. Atau mungkin ada yang ingin mencoba 2 tahun program Pegawai Tidak Tetap (PTT). Ya, mungkin disaat kerabat kita yang belajar ekonomi mungkin tengah menapaki jejak karir untuk kedua atau ketiga kalinya, sebaya mereka yang seorang dokter baru mengucapkan salam pada dunia kerja nan nyata.

Waktu yang digunakan (bukan dikorbankan?) begitu luar biasa. Oleh karena itu, saya kerap kali mengingatkan saudara-saudara saya yang mungkin ingin menjadi dokter, "Pastikan langkahmu. Jika tidak dapat memastikan sepasti-pastinya, bangunlah sikap rela. Jangan kelak mengeluh dan menyesali langkah. Menjadi seorang dokter itu panjang."

Jika memiliki hati yang sejati menjadi seorang dokter, ambillah. Saya pribadi, saat mengawali langkah tidak seratus persen, namun di dalam perjalanan saya memerlukan ketegaran dan terus mengingatkan diri dan membangun idealisme saya sendiri menjadi seorang dokter. Ya, sebuah proses legislasi, membangun konstitusi yang teguh dan terpatri dalam diri amat diperlukan. Terdengar absurd dan muluk-muluk? Namun inilah sandaran dan pegangan yang terus dapat kita pegang. Ketika kita lelah dan terbesit untuk menyesali profesi ini, tak ada hal lain selain kita diingatkan kembali atas pegangan hidup kita yang kemudian dipaku dengan sumpah hipokratik.

Pesan saya lagi, jangan mengambil profesi ini semata-mata karena keinginan orang lain ketika kamu menolaknya mentah-mentah. Jangan mengambil profesi ini karena kamu melihat profesi ini akan mendatangkan batangan emas bagimu. Jangan pernah.

Lakukanlah jika kamu senang atau memperkirakan akan menyenangi dunia ini. Lakukanlah ini jika kamu dapat kuat dan berusaha tidak goyah. Lakukanlah.

Bekerja dengan hati dan idealisme konon akan tetap menjadi rel ke arah manusia yang baik. Tetapi, bekerja dengan berharap pamrih akan kelak membutakan mata dan menyayat hati.

Rabu, 15 Januari 2014

Ketika Pentil Dicabut

Kertas "tilang" XD


Waktu itu saya tengah mengajak saudara saya yang datang dari Ngabang untuk makan mie kepiting sekaligus silahturahmi dengan keluarga di Jalan Tanjungpura, Pontianak. Karena saya melihat parkir yang penuh di depan penjual mie tersebut, dan saya sungkan parkir di depan toko orang -karena pikir saya dapat mengganggu bisnis mereka-, akhirnya saya memarkirkan mobil di dekat pot di pinggir jalan.

Sekitar setengah jam kemudian, saya kembali ke mobil dan mulai menyalakan mobil, saya menemukan ada sebuah kertas putih nan mungil yang diselipkan di antara wiper. Ah, paling brosur properti? Tapi kenapa kecil? Ketika saya mengambilnya, ternyata itu kertas peringatan dari Dishub setempat, dan tertulis:

Saat ini kendaraan Anda parkir pada badan jalan / di atas trotoar, maka saudara dapat dikenai sanksi: pengempesan seluruh atau sebagian ban, denda… […]
Belum saya sempat menyelesaikan membaca seluruh tulisan, paman saya mengatakan, "Erick, ban belakangmu kempis." Oh tidakk…

Saya merasa seperti "karma", karena selama ini di Jakarta saya kerap "menyumpahi" orang-orang yang parkir di badan jalan, dan mengatakan "rasain lu" ketika melihat ibu-ibu glamor mencak-mencak di teve saat memarkirkan mobilnya saat menjemput anaknya pulang dari sekolah. Dan kini jadinya, "rasain gue"!

Saya sendiri kaget bahwa tragedi cabut pentil ini pun berlaku di Pontianak. Kalau saya ingin mencari pembelaan, saya baru beberapa bulan terakhir intens mengikuti situasi Pontianak. Setahun lalu, walaupun saya berada di Kalimantan Barat, saya cukup sunyi senyap di Menjalin. Kalau saya melihat penanggalan di kertas "tilang" itu, November 2013, berarti cukup baru. Namun, saya memang akui bahwa saya telah salah parkir dengan setengah badan mobil melanggar marka badan jalan.

Apakah saya kapok? Ya, mau tak mau saya pribadi akan lebih berhati-hati memarkirkan kendaraan di Pontianak. Mengembalikan keadaan ban sediakala bukan hal yang mudah. Jika di Jalan Tanjungpura, di siang hari, dan kejadian yang saya alami saat itu, untungnya di seberang ada toko ban. Jika terjadi di malam hari atau tidak ada toko ban atau bengkel terdekat, apa kata dunia? Mana lagi mau mencari dongkrak, melepas ban, mengisi angin, mencari pentil, dan lainnya.

Untungnya, (masih bisa bersyukur), saya belum didenda ratusan ribu (kalau Ahok jadi walikota Pontianak, mungkin menjadi lima ratus ribu), atau diderek entah ke negeri mana.

Ya, intinya ini adalah pengalaman unik, sesuatu yang saya kira hanya terjadi di Jakarta Baru. Eh, di Pontianak ternyata ada juga. Baguslah, mudah-mudahan jadi Pontianak Baru juga di mana ketegasan hukum ditegakkan tanpa tedeng aling-aling.

Minggu, 12 Januari 2014

Adakah Pasangan yang Tepat Itu?

Catatan: Tulisan ini mengandung unsur agama Katolik yang saya coba tafsirkan sebaik mungkin sesuai pengetahuan agama Katolik yang saya ketahui.




Tulisan ini saya tuliskan setelah saya pulang dari misa pagi dan saya memutar salah satu audio renungan dari PriaKatolik.com. Ya, saya tahu, saya adalah orang yang masih tidak religius dan kadang masih menggerutu untuk pergi ke misa pagi. Ya, saya merasa masih dangkal dalam perihal iman dan saya merasa haus untuk mencari penyegaran iman bagi roh saya yang, jujur saja, sangat kering dan gersang.

Saya dulu pernah mencoba untuk mencoba rutin mengikuti renungan dan membaca Alkitab, bahkan mencoba membaca renungan Kristen non-Katolik. Walau demikian, saya secara pribadi lebih menyukai kalender liturgi Katolik yang telah disusun rapi dan berkronologis sehingga "nyambung" dengan misa mingguan. Ya, saya masih memerlukan cambukan yang kuat untuk rajin menjalani hal ini.

Nah, dalam salah satu renungan PriaKatolik.com itu, saya menemukan judul yang menarik: Apakah Aku Sudah Menikahi Wanita Yang Salah?. Ya, saya memang belum menikah, tapi judul ini membuat hati saya sungguh penasaran. Pikiran ini, terus terang, pernah saya alami dulu dalam menjalani dua kisah saat berpacaran. Saya beradu argumentasi dengan pikiran saya, dengan rasionalitas saya, "Benarkah dia untuk saya?", "Benarkah ini wanita yang akan kunikahi kelak?". Suatu pemikiran yang mungkin bisa dianggap terlalu dini untuk dipikirkan. Namun saat itu otak rasional saya berkata, "Perkawinan bukanlah hal yang memalukan untuk direncanakan." dan bersamaan dengan ini, segala keragu-raguan dan kecemasan atas kegagalan dahulu agak memberatkan langkah saya.

Namun saya sadar bahwa pemikiran semacam hal ini memang seringkali mengganggu bagi saya. Otak rasional saya berkelahi dengan otak emosional saya, yang akhirnya menghasilkan hal yang absurd.

Akhirnya saya mencoba memutar renungan itu. Ada bagian yang sempat saya garisbawahi. Dalam perkawinan ada pandangan yang ekstrem yang keliru, yakni pandangan sempit: "Hanya satu orang jodoh, yakni soulmate yang memang sudah dipilih Tuhan. Jika menikah, maka akan cocok dan bahagia selamanya", dan pandangan luas: "Asalkan dia perempuan, hobby sama, seiman, dan saya cintai maka dia adalah pasangan saya." Kedua pendapat ini tetap akan memunculkan keragu-raguan.

Ada hal yang patut kita sadari bahwa ada titik ekuilibrium, bahwa tidak ada pasangan yang "benar-benar tepat atau cocok" di dunia ini, walau saya sebagai Katolik, saya percaya bahwa perkawinan adalah suatu rahmat Tuhan dan diinginkan oleh Tuhan. Ya, hal resiprokalnya, bahwa kita semua akan menikahi pasangan yang "salah". Artinya, tidak ada orang di muka bumi ini pun yang akan menjadi pasangan yang seratus persen cocok dengan kita. Mungkin kita akan banyak menemukan karakter atau sikap lainnya selama berpacaran atau saat menikah sekalipun. Namun ketika konflik itu muncul, timbullah suatu kerendahan hati kita untuk tetap mencintai orang yang kita pilih tersebut.

I, … . , take you, … ., to be my wife/husband. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love you and honor you all the days of my life. 
Saya, ..…, memilih engkau, ....., menjadi isteri/suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.
나…..는 당신을 내 아내(남편으)로 맞아들여, 즐거울 때나 괴로울 때나, 성하거나 병들거나, 일생 당신을 사랑하고 존경하며 신의를 지키기로 약속합니다.
Perkawinan adalah janji. Janji yang dihadapan Tuhan dan orang terdekat kita bahwa kita setia bertindak melayani pasangan kita dalam keadaan apapun dan saling mengasihi dan menghormati. Perkawinan bukanlah suatu janji bahwa selalu berbahagia, sehingga pada suatu kerundungan kita malahan berpikir, "Benarkah ia pasangan tepat bagi saya?".

Semoga hal ini bisa mereformasi apa yang ada dalam diri saya dan terus tetap mampu bersyukur.

Amin.


Kamis, 09 Januari 2014

Video MLR Januari 2014



Berikut adalah video MLR saya untuk bulan ini. Ya, memang saya masih kurang giat untuk mengirimkan video MLR setiap bulan hehehe…

Apa itu MLR? MLR atau Monthly Language Report (Laporan Bahasa Bulanan) adalah salah satu grup dalam Facebook yang didirikan oleh Seon Hyoen-U (Hyunwoo Sun), salah satu tokoh penggiat pembelajar bahasa yang cukup terkenal di dunia maya dan Korea. Dalam grup ini, setiap orang diminta untuk merekam video dalam bahasa asing yang dipelajarinya. Apa saja yang dipercakapkan di dalam video? Apa saja, apa saja yang mau dikatakan dan lebih baik menggunakan frasa-frasa yang semakin lama semakin meningkat.

Apakah kamu tertarik bergabung? Klik saja di sini.


Rabu, 08 Januari 2014

Kehadiranku dan Kepatutanmu

Kau yang hadir untuk dicintai
Kau yang patut untuk dikagumi
Kau yang berharga tak tertera
Kau yang nyaris tak tercela

Jika kehadiranku tak diinginkan bagimu
Jika kepatutanku jauh dari harapmu
Jika harga hatiku tak sebanding untukmu
Jika tingkah lakuku jadi cela bagimu

Biarkan hadir ini jangan menjadi milik kita
Biarkan kisah lama ini patut dijadikan debu
Biarkan masa lalu berharga menjadi karat
Biarkan segala celaan kita tersimpan erat-erat

Kehadiran kita nan dewasa
Patutlah kita temukan jalan nan baru
Biarkan orang lain yang hargai kita bak emas
Sisihkan segala caci, abukan segala cela

Pontianak, 8 Januari 2014


Lalu Lintas Kota Pontianak yang Bikin *Facepalm*

Setelah 10 tahun melanglang di Jakarta, akhirnya saya berpikir untuk kembali ke kampung halaman di Pontianak. Ya sudah 1 tahun saya kembali, namun saya bertugas di daerah terpencil di Kabupaten Landak,  yang jauhnya 3 jam dari Pontianak. Kemudian saya kembali sejenak 6 bulan di Jakarta, dan kembali (lagi) ke Pontianak.

Suasana di perempatan Tanjung Pura-Imam Bonjol, Pontianak. Walaupun lampu lalu lintas berwarna merah, banyak motor yang berbeloka arah dan bahkan terlalu ke depan ke wilayah perempatan yang seharusnya terdapat yellow-box


Selama 1 bulan terakhir ini saya berkendara dan menyetir di Pontianak. Ya, saya merasakan suasana yang cukup berbeda dengan pengalaman saya menyetir selama 5 tahun terakhir di Jakarta. Pendapat saya, pengalaman menyetir di Pontianak lebih buruk bila di Jakarta. Ya, lebih buruk.

Walaupun Jakarta mungkin terkenal dengan macetnya, namun menurut saya sebagian besar pengguna jalannya masih mengerti, terutama pengendara mobil pribadi dan tidak termasuk bajaj, mikrolet maupun bus sedang (baca: Metro Mini dan Kopaja). Pengendara motor walau ganas, namun saya masih bisa "menebak" apa maksud mereka.

Jika di Jakarta, ada bajaj yang arahnya hanya tukang bajaj dan Tuhan yang tahu, di Pontianak ini saya menemukan motor dan bahkan mobil. Misalnya beberapa yang saya alami:

  1. Jika berpindah marka jalan (masih untung kalau marka jalannya ada), tidak ada lampu sein yang mengisyaratkan arah perpindahan tempat. Apakah sebagian besar motor mau ke arah kiri atau ke kanan, tidak ada yang tahu. Untungnya tidak ada bajaj di Pontianak, mungkin bisa lebih maknyus.
  2. Jika ingin berbelok arah ke kiri atau kanan (padahal arah masuknya hanya satu jalur), masih banyak yang berbelok dari jalur ke dua, sehingga mengagetkan kendaraan di lajur pertama.
  3. Ketika berbelok, motor seringkali tidak berhenti dahulu melihat kendaraan dari arah yang lurus dan mengambil radius putaran yang sangat besar.
  4. Motor seringkali berjalan zig-zag dan membuat nyaris-terserempet.
  5. Ketika kita akan berbelok dan teramat pelan, masih ada motor yang berani dengan kecepatan tinggi mendahului dari arah kiri.
Mungkin karena saya memang belum cukup berpengalaman menyetir di kota ini, namun picuan adrenalin dan takikardi menghiasi pengalaman saya selama sebulan terakhir ini. Ya, sesama pengguna jalan memang harus saling menghormati, tidak boleh semau-gue.





Selasa, 07 Januari 2014

Merek dari Korea yang Sangat Meng-Korea

Hana Bank. Sumber: Myhana.co.id

Ide tulisan ini tiba-tiba timbul ketika saya tengah mengulang kembali untuk mengingat kosakata bahasa Korea yang sedang saya pelajari. Tiba-tiba saya menemukan kata yang menginspirasi saya, 현대, yang kalau diterjemahkan ke abjad latin yang disempurnakan (revised romanisation) menjadi hyeon-dae. Kata ini tidak asing bukan di telinga kita, apalagi penggemar otomotif. Ya, kata yang berarti "modern" atau "mutakhir" ini menjadi merek Hyundai.

Semakin naik daunnya budaya Korea di Indonesia, membuat kita semakin dekat dengan berbagai merek yang berasal dari Korea, misalnya Hyundai, Kia, Samsung, Daewoo, Hana Bank, LG, Lotte. Hampir sebagian besar nama yang merupakan chaebol (재벌, jae-beol dalam abjad latin yang disempurnakan) alias konglomerat bisnis ini menggunakan istilah bahasa Korea, kecuali Lotte, LG.

Walaupun dalam Korea Selatan sendiri, penggunaan bahasa Korea yang ke-Inggris-Inggris-an alias Konglish (콩글리시) juga semakin marak, namun penggunaan bahasa Korea yang mendunia ini patut dipuji. Memang, perusahaan chaebol ini adalah perusahaan lama, sehingga mungkin tampak agak "ketinggalan zaman".

Coba kita lihat beberapa arti merek tersebut:

  1. Hyundai (현대, hyeon-dae), berarti modern, mutakhir
  2. Kia (기아, gi-a), berasal dari hanja 起亞 yang berarti kebangkitan dari Asia
  3. Samsung (삼성, sam-seong), berarti tiga bintang. (Jadi ingat merek Mitshubishi dalam bahasa Jepang yang berarti tiga berlian, atau malah teringat merek Bintang Toedjoeh?)
  4. Daewoo (대우, dae-u), dae berarti besar atau agung, sedangkan woo diambil dari nama pendirinya Kim Woo Jung
  5. Hana (하나, ha-na), berarti satu atau kesatuan
Saya sendiri ingin sekali merek Indonesia dapat digunakan dengan bangga dan akhirnya mendunia. Beberapa perusahaan nasional yang telah dikenal cakap pun mulai dikenal seperti Pertamina (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara), Garuda Indonesia, Bank Mandiri. Dan beberapa merek Indonesia juga mulai dikenal di negara tetangga seperti Nabati, Kopiko, Indomie, dan lainnya.

Ya, pengaruh bahasa asing memang tidak bisa ditampik, namun adanya usaha untuk semakin meng-Indonesia-kan nama tentu adalah usaha yang bijak dan patut dihargai.