Tampilkan postingan dengan label kemahasiswaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemahasiswaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2011

Jelang Hari-hari Terakhir di FKUAJ

Hari ini adalah hari penentuan. Saya sendiri tak henti-hentinya berucap syukur pada Tuhan. Hari ini Ujian Kompetensi Dokter Indonesia alias UKDI saya lulus. Rasa senang yang merupakan akhir dari penantian satu bulan, tepat 6 Agustus lalu saat UKDI dilaksanakan. Ini juga sebuah batu pijakan setelah saya menyelesaikan koas dan kemudian yudisium di kampus.

Entah saya merasakan sesuatu hal yang saya definisikan sebagai hal yang sedih. Terutama ketika rekan saya menginisiasi membagi-bagikan makanan kepada seluruh karyawan kampus. Ada suatu rasa yang entah bagaimana ketika mengatakan, "Bapak, ini syukuran dari kami. Kami lulus dan akan sumpah dokter. Terima kasih selama ini." Hm, saat menulis saya sadar, mungkin ini yang disebut farewell. Seperti yang salah satu teman saya, Intan, katakan, "Ini adalah sesuatu hal yang manis."

Saya langsung sadar dan diam, bahwa ini adalah perpisahan saya dengan kampus ini. 6 tahun waktu hidup saya, dihabiskan dalam lingkungan FK UNIKA Atma Jaya ini. Banyak kenangan yang saya habiskan di sini. Terbayangkan entah itu tawa dengan teman-teman, teriakan ketika saya diceburkan ke kolam saat ulang tahun, lorong-lorong kampus yang menjadi saksi kisah kasih, perpustakaan dan jendela yang menjadi inspirasi membuat lirik lirih puisi, ruang senat mahasiswa dan laboratorium komputer tempat saya berkegiatan, ruang AToMA tempat saya kabur saat bolos kuliah, kantin nan kotor namun tetap dirindu, dan banyak lagi. Saya merasa, saya tak akan lama lagi di kampus ini.

Saya merasa bahwa suatu saat saya akan rindu hal ini, menjalani masa-masa di kampus sebagai mahasiswa bercelana jeans, dan koas bersnelli. Ah, saya pun bodoh, saya tak bisa menahan air mata ketika mengenangnya.

Dan empat belas hari ke depan, sumpah dokter pun menjelang.

Saya pun ke dalam perasaan yang selalu saya tekan, "ternyata waktu berjalan begitu cepat".

Sabtu, 20 Juni 2009

Menjelang 200961

Mungkin masih teringat dulu saya adalah hanya anak SMA, anak baru gede. Anak yang baru diperkenalkan dengan lika-liku dunia dewasa. Anak yang baru membuka mata.

Saya masih ingat betul ketika kami diberikan dua buah jalan yang akan membuka jalan masa depan kami. IPA atau IPS. Dua buah jalan yang kami harus hadapi menjelang naik ke kelas XI SMA. Saya saat itu sudah mantap mengambil IPA, dibandingkan saya harus IPS. Walaupun menurut tes potensi akademik, saya bisa kemanapun. Saya akhirnya masuk IPA dengan berbagai pertimbangan. Dan dengungan masuk fakultas kedokteran pun menjadi bergaung. Saya pun masih ingat bagaimana dulu belajar untuk Ujian Masuk Perguruan Tinggi di Universitas Atma Jaya. Padahal saya sudah diterima di PMDK Universitas Tarumanagara, karena alasan keuangan yang tidak bisa dikembalikan saya melepaskannya. Keuangan menjadi penting karena biaya yang sudah disetorkan akan tidak bisa ditarik kalau diterima di SPMB. (SPMB saya gagal masuk ke Universitas Indonesia, padahal saya diterima di pilihan kedua PTN saya.)

Saya masih menyimpan file pengumuman masuk gelombang I UAJ, 2005-60-0481 diterima masuk ke FKUAJ. Semua anak CC'05 yang mengajukan ke FK, diterima. Kami, anak CC'05 berbondong-bondong, 5 orang menaiki ke Sarinah untuk naik bus ke Semanggi. Masih teringat juga salah satu rekan harus merelakan dirinya sebagai mahasiswa FK karena lemah warna. Sungguh, sebuah perjuangan yang sebenarnya tidak terlalu berat, namun berkesan.

Menyandang mahasiswa FK pun menjadi sebuah predikat yang cukup membanggakan. Belajar ilmu-ilmu yang berat. Saya ingat dulu betapa sulitnya belajar biologi molekuler. Betapa hebohnya belajar dan ujian biokimia.

Saya masih ingat, kepanitiaan pertama saya yang gagal, Charity Night 2006. Namun tidak mengendurkan kepanitiaan dan organisasi. Masuk ke dalam AToMA, Senat Mahasiswa FK-UAJ, dan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI). Betapa suatu pengalaman, karena di FK-UAJ inilah saya berkesempatan ke Malang dan Medan. Karena ada kesempatan, terjadilah.

Dan kini saya adalah mahasiswa dipersimpangan jalan. Tidak kurang dua minggu saya akan berganti nomor mahasiswa. Saya akan melepaskan kaos dan jins pre-klinik, menjadi snelli dan celana bahan mahasiswa klinik. 2005-60-076 akan segera habis masa jabatannya.

Batu loncatan ini menjadi sebuah pemikiran bagi saya. Apakah benar saya sudah mempersiapkan dengan baik 4 tahun ini untuk masuk ke klinik. Banyak wejangan dari dr. Pangkuwidjaja yang beberapa saya serap. Saya terus membangun fondasi paradigma Non Scholae sed Vitae Discimus. Saya tidak bisa belajar untuk ujian, tetapi belajar bagaimana untuk hidup saya sebagai dokter.

Terkadang rasa rendah diri menyeruak di dalam hati. Saya sudah lupa kuliah Patologi dasar, saya lupa nama obat, bahan neurologi pun saya lupa. Saya mencari cara, bagaimana saya bisa bertahan di dalam masa studi baru ini. Saya tidak ingin masuk klinik dengan "kepala kosong".

Ini pun timbul dalam masa saya selama ujian akhir semester ini... Semoga tidak menganggu ujian semester ini. Mudah-mudahan...

Selasa, 19 Mei 2009

Guide Museum Anatomi: Asyik Tenan.

Marcella ketika menjelaskan di etalase embriologi



Hari ini adalah pengalaman pertama menjadi pemandu museum anatomi di kampus untuk pelajar SMA Bunda Hati Kudus. Awalnya, terus terang, ada rasa deg-degan karena ini pengalaman pertama dan kepala masih tidak memiliki pengalaman dalam menerangi anatomi kepada anak SMA. Tentu sulit bagi saya untuk menyebutkan kata "serambi" untuk menggantikan "atrium" pada jantung. Karena pendidikan kedokteran yang ada, begitu banyak menggantikan bahasa awam dengan bahasa yang begitu eksklusif.

Adalah pagi hari, saya pergi ke kantor kelurahan Pademangan Barat dulu untuk mengurus KTP yang akan habis masa berlakunya. Saya pagi-pagi melakukan review dulu dengan Debby dan Patsy akan bahan-bahan anatomi. Bayangkan kita masih saja membingungkan mana yang pengumpil dan hasta dari radius dan ulna! Mungkin anak SMA bisa saja tertawa cekikikan, melihat ulah ini.

Alhasil 11.45, kita sudah bersiap dengan jas oranye yang gagah. Anak SMA begitu antusias, bahkan sepertinya mereka menganggap kakak-kakak mereka ini sudah sangat pintar. Apalagi dokter Poppy menyebutkan kami akan segera lulus dari PSSK (Program Studi Sarjana Kedokteran). Label mahasiswa semester delapan begitu mendewa.

Walaupun dalam pikiran kami pun kadang berkecil hati. Apakah benar kami ini sudah kompeten? Bahkan kami masih meributkan pengumpil dan hasta! Kami meributkan jumlah gigi pada dewasa dan anak-anak! Dan kami masih meributkan berap jumlah tulang belakang lumbal dan sakral! Entahlah, mungkin ini adalah kecemasan yang menutupi akal budi.

Hari ini, para pemandu lengkap! Saya, Patsy, Debby, dan koko Pri dari 2005, serta Cipi, Andreas, Marcella, Tei dari 2006. Saya mulai bertugas di sesi pertama sebagai penunggu waktu dan sesi kedua baru menjadi pemandu.

Saya memulai di etalase embrio. Saya melihat mereka begitu tertariknya dengan rasa kasihan melihat preparat embrio asli di dalam stoples formalin. Ketika saya menjelaskan proses pembuahan dari penyatuan sperma dan ovum kemudian menjadi zigot dan seterusnya hingga kelahiran. Menjelaskan apa itu kembar identik dan kembar fraternal, seperti mengorek kembali ilmu-ilmu lampau di Obs-gyn.

Kemudian lanjut di etalase: Reproduksi-Vertebra-Respirasi-Urogenital. Di stand reproduksi memakan waktu yang begitu banyak! Yup, ini adalah etalase yang paling menarik bagi mereka. Menjelaskan letak prostat, proses ejakulasi, ereksi, sirkumsisi, dan mereka tercengang kalau wanita punya tiga lubang (-.-!) di pelvis, terus bertanya apakah wanita bisa ejakulasi, apa itu orgasme, dan bahkan mereka tidak tahu libido (ketika saya menyebutkan kata saat horny, baru mereka mengangguk). My oh my. Mungkin memang begitu, bahwa menyampaikan sesuatu ke awam bahkan pelajar SMA harus dengan bahasa yang dekat dengan mereka.

Terus terang vertebra saya hanya overview saja, berapa jumlahnya, dan berbahayanya bila terjadi cedera pada vertebra cervicalis. Begitupula pada respirasi dan urogenital. Pos berikutnya adalah kardiologi-stomatolog-THT-dan SSP. Kardiologi yang cukup memakan waktu banyak, stomatologi mengenai proses karies, menunjukkan epiglotis yang menutup trakea dan esofagus. Hanya itu. SSP, terus terang cukup sulit menerangkannya... Saya saja sendiri belajar neuroanatomi, empot-empotan ^^

Stand berikutnya adalah GI Tract-Sensorik-Muskuloskeletal. GI Tract terlewati karena masih ramai.. Sensorik dan Muskoskeletal hanya sekelebat. Mereka tercengang ketika mengetahui bahwa anak FK perlu mengingat nama-nama otot yang... aduh banyak banget. Dan saya seperti orang dewa uang hapal nama otot, padahal saya cuma menyebutkan tendon calcaneus... Aduh jangan-jangan saya grandeur delusion lagi. Hahaha....

Saya mendapat juga banyak pertanyaan mengenai kehidupan anak FK. Ada yang bertanya, berapa lama? Susah nggak? Pelajaran apa saja? Ya seperti kilas balik bagi saya, ketika saya masih dalam posisi mereka dengan culun, bertanya apakah mahasiswa FK beli mayat? Apakah anak FK harus menghapal mati plek-plek. Entahlah, tapi apa yang saya dapatkan tidak demikian. Anak FK masih bisa menikmati hiburan, tidak sesibuk apa yang dicemaskan. Ilmu kedokteran bukan hapalan murni melainkan sangat diperlukan logika dan pemahaman konsep. Dan FK, seperti fakultas lain, diperlukan usaha.

Banyak sekali yang dipelajari hari ini, dan walaupun menjadi pemandu tidak dibayar, namun pengalaman yang didapatkan tak ternilaikan. Saya sangat menantikan kegiatan museum berikutnya... ^^

Kamis, 02 April 2009

Lara dan Juang

Well, sekarang sudah masuk bulan April. Bulan keempat dalam tahun 2009 ini. Saya semakin menyadari semakin cepatnya waktu berlari di depan. Dua hingga tiga bulan lagi saya akan masuk klinik!

Bulan yang dimulai dengan sedikit rasa lelah yang masih bertahan pasca menjadi panitia LKMM Senat Mahasiswa FK-UAJ lalu. Semoga dalam bulan ini bisa berjalan dengan baik. Dan rasa juang tetap mampu bertengger dalam hati saya, untuk mampu tegar menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup.

Rasa perjuangan yang ada di dalam diri terkadang dirasakan menjadi suatu ambivalensi yang ada. Bukan sebuah distraktibilitas belaka, namun itu yang saya rasakan. Saya bukanlah orang yang begitu mampu untuk tegar dalam setiap detik, walau itulah yang saya harapkan. Saya berusaha agar terus dapat termotivasi baik dalam hidup ini.

Rasa mendua ini namun akhir-akhir ini terus menghampiri dan saya berusaha untuk mencari jawabannya dan solusinya. Otak ini memang kian berkecamuk. Namun saya harus tetap mampu menunjukkan ketegaran. Memang ini adalah brengseknya suatu mekanisme defensif dalam diri saya.

Perihal yang datang dalam diri saya memang pada akhir-akhir ini sangat menguras pikiran, mungkin saja inilah yang membuat saya berusaha tidur tenang dalam malam hari. Apakah memang ini sebab musababnya, entahlah. Namun memang ini sangat menguras tenaga dan berdampak pada saya menjadi kurang memeroleh rasa semangat dalam menghadapi pagi.

Namun saya sadar. Bukan seperti inilah hidup yang ingin saya raih. Saya tidak ingin dalam masa hidyp saya hidup dalam kelaraan dan kezaliman. Saya harus mampu bangkit dan belajar kembali untuk tersenyum kepada matahari pagi dan kembali setia kepada Tuhan. Apakah aku sudah setia pada Tuhanku dan sesamaku?

Berjuang dalam hidup!

Senin, 30 Maret 2009

Aku dan AToMA



Posting asli ini bertanggal 10 Februari 2008 o9:33 pagi.

"Apa nilai Aku untuk AToMA dan AToMA untuk Aku?"


Itu adalah pertanyaan yang saya sampaikan ketika Grand Battle Calon Pengurus Baru AToMA 2008-2009. Semuanya mempertanyakan ulang apa maksud pertanyaan itu. Padahal sebenarnya jelas sekali, menurut saya. Jawablah dahulu "Apa nilai Aku untuk AToMA?", artinya apa yang akan kamu lakukan untuk organisasi ini. Kemudian "Apa nilai AToMA untuk Aku?" artinya bagi diri Anda, AToMA itu sebagai apa.


Pertanyaan yang terlalu filosofis mungkin.Sehingga orang pun terus mempertanyakan. Asyiknya filosofis. Termasuk pertanyaan: "Ada sebuah pintu di depan Anda, apakah Anda akan masuk?" Saya tidak menambahkan keterangan apapun, apakah disekitarnya ada pintu lain, apakah ada teman, dll. Saya ingin melihat apakah diri tersebut berani mengambil risiko.


Masuk ke dalam AToMA dan kepengurusannya adalah sebuah pilihan dan ketertarikan. Terlebih di dalam pengurus, Anda harus bernilai plus. Ya iya, karena ada titel pengurus. Sebagai pengurus, harus ada jiwa pemimpin dan manajer. Sebagai manajer bukanlah sekedar tuan tanah atau mandor. Di dalamnya pun ada loyalitas dan keinginan menciptakan komunitas. Komunitas tidak selamanya harus eksklusif.


AToMA. Sebenarnya apa dia? Sehingga saya sendiri sering dibuatnya pulang malam, tidur subuh, dan berputar otak. Saya pun sampai diomeli oleh bapak saya. "Organisasi terus..." (Karena beliau seringnya mendengar bahwa saya terus-terusan pulang malam karena rapat.) Oh begitu "sombong"nya saya, sehingga menjadi eksekuif muda berbaju mahasiswa...


AToMA adalah organisasi yang satu-satunya saya ikuti di FK. Tahun 2005 saya masuk karena ajakan dari Bim2 (yang dulu mengaku sebagai kakak kelas di CC, padahal saya hanya tahu namanya dan bentuknya saja dari jurnalis Kaleidoskop karena pembatalan CSC hahaha...).


AToMA saya masuk dengan alasan, meneruskan jejak di Canicomp. Padahal saya masuk Canicomp baru di tahun 2004 dan langsung sekonyong-konyong menjadi kepala divisi web. Langsunglah saya bertemu dengan orang-orang di dalamnya seperti: Agnes (bernama Anyo, yang saya kira dulu adalah pria), Bim2, James, dll.


Masuk dengan keadaan yang biasa saja. Mengikuti apprentice yang... memeras serebrum (baca:otak). Belum ada loyalitas yang tumbuh begitu subur.


Ketika ditunjuk langsung menjadi wakil di kabinetnya Albert. Ketika merasa ada pemberian tongkat estafet. Memang ada rasa: "Mau tidak mau, saya ditugaskan menjadi wakil dan saya harus menjalaninya". Akhirnya rasa loyalitas mulai tumbuh sumbur, eksponensial.


Komunitas yang terasa nyaman. Komunitas yang bebas mengeluarkan ide dan pendapat. Komunitas yang menerima dirimu apa adanya. Komunitas yang ekspresif. Komunitas yang serius dan profesional. Komunitas yang berpandang jauh. Komunitas yang belajar. Komunitas beraneka ciri.


Bahwa artinya ada perkembangan yang didapat. Tidak sekedar saya membuang detik menit saya dengan percuma. Bukan berarti menghabiskan waktu di jam 7 malam di lab adalah kesiasiaan.


Saya mendapatkan sesuatu di dalamnya. Mendapatkan sesuatu yang tidak hanya berguna bagi saya sebagai dokter, tapi sebagai profesionalis.


Akhirnya pun saya memindahkan tongkat estafet saya ke rekan lainnya. Namun tidak seperti lari estafet di atletik yang saya harus berhenti. Saya pun harus tetap berlari bersama yang lainnya dan bersama para pemegang tongkat dahulu.


Akhirnya kita pun belari bersama.

Selasa, 17 Maret 2009

Benarkah Alasan Belajar saat Kuliah adalah Segalanya?

Ini adalah sebuah refleksi sejenak bagi saya. Hal ini timbul dalam suatu kejadian ketika ada sebuah kegiatan yang telah direncanakan sudah lama, dan kemudian seketika bertabrakan dengan jadwal akademik, dan kemudian ada permintaan kegiatan itu untuk dapat mengakomodir mahasiswa yang ingin kuliah. Padahal kegiatan tersebut sudah dirancang sedemikian rupa dan akan berantakan bila diminta mengakomodir akademik.

Dan kegiatan ini tetap saja menggantung dan tetap pihak peserta tetap mengatakan: Lebih pentingnya akademik dibandingkan kegiatan yang sudah direncanakan itu.

Tentunya kegiatan ini bukanlah kegiatan main-main, fun, hura-hura atau riang gembira namun sebuah kegiatan pengembangan diri.

Saya sendiri berpendapat bahwa alasan akademik ini tidak beralasan walaupun terhadap dalih alasan kita kuliah adalah untuk belajar! Namun di balik itu kita tetap harus melihat tingkat prioritas. Dalam menentukan prioritas kita tetap harus melihat: kepentingan acara, urgensi acara.

Dalam kegiatan tersebut memiliki urgensi yang sangat tinggi, tanpa ini jalannya kegiatan lainnya tentu akan berpengaruh dan yang mendapat pengaruh adalah orang-orang yang ada di luar dirinya dan dirinya sendiri.

Kalau melihat dari kuliah, kegiatan ini adalah kegiatan untuk diri sendiri tidak langsung ke orang lain secara eksternal. Dan diri sendiri pun tak akan rugi karena banyak cara lain untuk dalam mengompensasi hal ini.

Tentunya kuliah dalam hal ini adalah salah satu bentuk atau cara belajar. Kita tidak bisa mengatakan bahwa saat kuliah adalah mutlak untuk belajar. Banyak cara belajar yang lain yang dapat menggantikan kuliah dalam kesempatan tertentu.

Contoh ekstrimnya. Ketika Anda dalam jalan kaki menuju kuliah dan Anda sudah telat, kemudian Anda melihat kecelakaan dan korban memerlukan pertolongan segera. Apakah tetap alasan kuliah adalah segalanya?

Kefleksibelan hidup pun diperlukan.

Senin, 09 Februari 2009

RPPK Hari Ini!


Waahh.... Hari ini RPPK jam 15:00 di Auditorium. Padahal menurut saya tidak begitu menegangkan tetapi kenapa saraf otonom saya berkata lain. Kepala terasa berat hari ini dan, kata Andy, ketombe saya sudah seperti wijen di atas onde-onde (Ih, geli banget... -Hau)...

Sistem saraf otonom bekerja seenaknya begitu... >.<

Minggu, 08 Februari 2009

In Memoriam: SMFK-UAJ 2008/2009

Sebenarnya, kemarin adalah tanggal terakhir saya bertugas sebagai Pengurus Senat Mahasiswa FK-UAJ 08/09. Hari ini saya sudah terhitung sebagai ex-officio, artinya saya sudah tidak bertugas lagi, dan saya masih ada tugas untuk posisi ini hingga pengurus berikutnya resmi bertugas.

7 April 2008 - 7 Februari 2009 adalah waktu yang tidak terlalu panjang. Dalam 10 bulan saya bertugas sebagai Kepala Bidang Pendidikan dan Profesi SMFK-UAJ 08/09.

Banyak kenangan-kenangan tugas yang tentunya tidak bisa saya lupakan dalam periode ini. Ini adalah kali pertama saya masuk ke dalam pengurus inti SMFK-UAJ, setelah sebelumnya menjadi Wakil Ketua AToMA (06/07), Ketua AToMA (07/08). Namun sesuai RAD/ART SMFK-UAJ, kini ketua UPMM sudah terhitung pengurus SMFK-UAJ. Cukup kaget sebenarnya ketika saya diminta untuk mengemban tugas ini. "Mengapa saya?", pikir saya. Apalagi langsung Kabid. Namun saya menyetujuinya karena bidang kependidikan dan keprofesian ini salah satu bidang yang saya minati. Tentunya, pikir saya, saya akan mendapatkan pengalaman luar biasa. Dan memang, luar biasa.

Dalam kewajiban ini pula saya bisa mengalami berbagai pengalaman baru. Bertemu dengan rekan-rekan bidang yang, terus terang, pada awalnya saya tidak dekat atau kenal. Namun bisa bertemu dengan mereka, orang-orang luar biasa dan dengan keunikan personal masing-masing.

Bidang Pendidikan dan Profesi: The Apostles

Bidpendpro ini adalah tim yang berisikan saya, Sylvie (Kadep Iptek), Riana (Kadep Litbang), dan personal lainnya: Agus, Novi, Widya, Tei, Cece, Satya, dan Ka UPMM: Andreas (Atma SEARCH) dan Pramanta (AToMA) dan tidak lupa Keisha sebagai Asekbid1 dari Kestari alias Kesekretariatan.

Masing-masing punya khas. Betapa bawelnya cewek-cewek Bidpendpro yang suka bergosip (Hehehe... I'll miss that moment. Terutama ketika Makrab, cewek-cewek ini bawel banget deh). Mendengar keluh kesah dari mereka. Kemudian, berusaha menggolkan bantuan dana untuk delegasi ke Temilnas 2008. Menggodok MedScience Expo 2008. Seminar darah yang berdarah-darah (Makan korban Satya, jatuh dari Metromini di Grogol). Mendengar stresnya AMPT yang berusaha menyesuaikan jadwal akademik. Masih ada info karir, medskill, seksi pendidikan, ACLS, dan acara lainnya.

Namun satu hal yang cukup membuat saya salut pada orang-orang di bidang ini adalah hampir dalam semua kegiatan pasti ada orang-orang tersebut. Memang mungkin ada efek negatifnya, mengecilkan kesempatan yang lain. Tetapi mereka dengan sadar memilih itu dan bisa berkembang dan belajar di sana. Orang yang mau belajar, setidaknya ini yang saya lihat pada mereka. Dan efek baiknya, di dalamnya mereka saling mengenal dan lebih kompak. Bahkan ada yang beradik-kakak di dalamnya! Hehehe...

Dan kebanyakan dari mereka memilih untuk lanjut dalam perjuangan mahasiswa dalam SMFK-UAJ 09/10. Jangan pernah menyerah dan mundur dalam mewujudkan sesuatu. Lakukan hal-hal yang luar biasa. Dan jangan lupa untuk selalu ingat, berjuanglah demi nama baik FK-UAJ.

Untuk yang tidak lanjut, tetap berusaha dan berjuang demi FK-UAJ. Mungkin seperti saya ya, yang sudah tua ini ^^. Saya mohon diri dan kembali ke ruangan labkom nan dingin di Lantai 6 Gedung Lukas. Dan saya mohon maaf kalau selama 10 bulan ini ada kesalahan dan kekhilafan dan berbuat dan berkata. =) *Terharu

Kalau menurut sms Sylvie tadi pagi: "Guys, thanks banget mau jadi anak angkat gw."

Katakan hitam pada hitam
Katakan putih pada putih

Hidup mahasiswa!

Senin, 02 Februari 2009

Akankah Saya Berhenti Berkarya

Tahun 2009 mudah-mudahan menjadi tahun terakhir masa pre-klinik saya. Di sini adalah titik saya dapat menoleh ke belakang untuk mengetahui apa yang sudah saya lakukan sebagai mahasiswa. Saya tahu bahwa saya banyak menghabiskan waktu saya dengan bekerja dan terkadang menyingkirkan waktu belajar.

Saya mencoba satu gaya baru di Semester Padat ini. Saya coba untuk mengurangi porsi ekstrakurikuler saya. Saya banyakkan dalam intrakurikuler. Ini tidak membuahkan apapun. Saya lebih merasa "tidak berguna". Mudah-mudahan ini bukan gejala awal geriartrik.

Ketika saya di kampus dan menjalankan ekstrakurikuler saya, sepertinya saya merasa kebebasan eksistensial saya hadir. Saya lebih merasa bersemangat dan merasa lebih fungsional. Saya malah berusaha mencari-cari pekerjaan itu. Apapun yang dapat saya lakukan dan saya diberikan kesempatan berkarya.

Entah memang banyak yang mengeluhkan ini. Namun, bagaimana? Saya merasa nyaman dengan pekerjaan ini. Walaupun saya kadang mengeluh namun saya senang melakukannya. Ketika itu tak ada, saya akan mencarinya.

Walau sempat ada keluh kesah lelah, namun ini memberikan kepuasan batin
INTIMA 2006

Sabtu, 31 Januari 2009

Sebuah Prestasi Karena Kesempatan

Sekarang sudah malam. Tapi teve saya masih menyala, menyiarkan siaran sinetron yang tak berguna, namun cukuplah untuk menggelegarkan sepi malam. Saya? Saya masih di depan komputer.

Hari ini saya membuat progres yang lumayan, menghidupkan kembali ffindonesiaonline. Mudah-mudahan tak lagi asfiksia. Saya jadi mendapat ide untuk menulis blog ini. Judulnya seperti yang sudah tertera.

Saya jadi teringat bahwa Jumat kemarin saya pernah berkata kepada Pat. "Semua apa yang saya raih kebanyakan adalah karena kebetulan." Kebetulan di sini yang saya maksud adalah bahwa sebenarnya saya tidak terpikir akan seperti ini dan kesempatan itu datang begitu saja. Saya tidak membuat keadaan secara sengaja pada mulanya.

Saya kembali membuka portofolio yang ada di dokumen. Beberapa hal memang secara "kebetulan"- menurut saya.
  1. Ketua Osis II saat SMP. Saya tidak terpikir bahwa akan jadi ketua osis. Walaupun saya sadar saya tidak melakukan apa yang semestinya, karena situasi saat itu tidak menjanjikan apapun. Namun jabatan ini saya kenakan.
  2. Tim Indonesia di Jambore BIMP-EAGA. Saya sekonyong-konyong ditawari menjadi satu-satunya delegasi pria dari sekolah. Apakah tidak ada orang lain? Namun pengalaman jambore di Malaysia itu, sangat-sangat membekas.
  3. Juara Web CC@G. Saya lupa bagaimana urutannya. Yang jelas diajak langsung oleh Ernest untuk ikut. Hasilnya, juara satu. Saya belajar web mulai pertengahan kelas 1 SMA. Dan satu hal yang membekas adalah: hasil saya diakui. Masalah eksistensi.
  4. Pengurus Canicomp. Tahun ke-3 saya diajak untuk menjadi pengurus divisi web canicomp. Saya sebelumnya belum tergabung di canicomp. (Apa mungkin efek lomba CC@G itu?). Dan di CC Cup 2004 saya juga menjadi penanggungjawab untuk lomba web, padahal sebelumnya saya belum pernah sama sekali menjalani hal serupa.
  5. AToMA dan Senat Mahasiswa. Saya juga tidak terpikir sama sekali untuk menjabat sesuatu di kampus. Namun ada Bimantoro yang mengajak saya bergabung di AToMA, dan pda akhirnya saya menjabat Kabid di Senat Mahasiswa. Saya sama sekali belum pernah tergabung langsung dalam Senat Mahasiswa (karena tahun sebelumnya saya berkecimpung di AToMA). Dan itu datang.
  6. Menghadiri Berbagai Kegiatan Nasional. Masuknya saya ke ISMKI juga atas dasar membantu rekan dan di dalamnya banyak hal yang saya dapat mengenai dunia nasional yang lebih luas di luar FK-UAJ. Saya pun berkesempatan ke Malang, Medan, Bandung, Yogyakarta dan lainnya. Bukan sekedar jalan-jalan, namun banyak pelajaran.
  7. Entah apa lagi...

Menjadi pengurus langsung senat mahasiswa pun tanpa persiapan. Kesempatan itu datang.


Seperti kata di film Yes Man. Ketika kita mengambil sebuah kesempatan, kesempatan lain akan datang bagai domino.

Sabtu, 24 Januari 2009

Kegiatan Kemahasiswaan: Sebuah Kerinduan

Memang saya sendiri tidak memiliki impian apapun untuk aktif dalam kegiatan organisasi ketika masuk ke dalam kampus. Organisasi siswa memang pernah saya jalani dulu yakni menjadi Ketua Osis II di SLTP Suster, masuk menjadi anggota jurnalistik di Canipress, kemudian di Canisius Science Club menjadi tutor. Tanpa tak disangka saya diminta menjadi Kepala Divisi Web, di Canicomp. Padahal saya dulu belum pernah di Canicomp dan ujug-ujug diminta di sana.

Saya dan rekan-rekan Temu Kolese.
Semua berasal dari Kanisius, Gonzaga, Loyola, Mikael, PIKA, De Britto, Mertoyudan.


Di Canicomp sendiri memang saya mendapatkan banyak hal yang terus terang belum pernah saya geluti sebelumnya! Menjadi ketua lomba web di Canisius College Cup 2004, kemudian ke Temu Kolese 2004 di dalam kontingen CC.

Ketika menjadi mahasiswa, saya sendiri berpikir untuk pensiun, ya kalau tidak sebatas anggota sajalah. Namun saya berkenalan dengan salah satu kakak kelas di CC dulu (namun kenalnya baru saat di kuliah), dan masuklah ke AToMA. Setelah berjalan dalam program magang Apprentice, saya menjadi Wakil Ketua, kemudian Ketua, dan pada tahun ketiga saya di FK-UAJ, diminta menjadi Kepala Bidang Pendidikan dan Profesi di Senat Mahasiswa. Ya sebenarnya tidak jauh beda juga, karena AToMA berkoordinasi dengan Bidang ini juga.

Saya dan rekan-rekan INTIMA 2006, AToMA. Banyak hal "real life" yang dipelajari di sini.

Kemudian saya juga bergabung dalam Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) yang diamanahkan menjadi Kadep Teknologi Informasi Wilayah II 08/09 (hidup saya tampaknya tidak jauh-jauh dengan hal ini). Awalnya cukup bingung, namun saya sangat bersyukur memiliki pengalaman bertemu dengan rekan-rekan sejawat seluruh Indonesia di sana. Kapan lagi bisa berelasi dengan mahasiswa FK seluruh Indonesia? Pengalaman yang tidak terlupakan. Apalagi kita bisa belajar dengan membandingkan diri kita dengan orang lain. Akhirnya kemajuan bisa ditegakkan.

Pengurus Senat Mahasiswa 2008/2009. Terima kasih untuk suka dukanya.

Saya sendiri juga bersyukur sebagai Kabidpendpro selama ini. Banyak pengalaman unik yang belum tentu saya bisa dapatkan. Paling tidak, mata semakin luas. Melihat dunia di luar sana yang tidak bisa kita lihat bila hanya terkungkung dalam kampus nan kecil.

Saat Temu Ilmiah Nasional BAPIN-ISMKI 2008, BEM-PEMA FK USU, Medan, Sumatera Utara.


Tetapi saya sudah masuk dalam grafik yang desenden. Saat regenerasi. Saya sudah memberikan amanah-amanah yang ada untuk diteruskan. Namun saya sendiri, kini, terasa cukup sepi, ya mungkin waktu kosong saya semakin lapang. Tapi rasa rindu untuk bekerja masih menyelimuti. Ingin mencari-cari lagi.

Saya sendiri tahu, bahwa tahun ini adalah tahun terakhir pre-klinik saya dan saya akan masuk ke fase klinik dalam pembelajaran saya. Saya kini mencari hal yang tepat yang bisa saya kerjakan lagi...

Selasa, 25 November 2008

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya

Hari ini adalah hari yang, ya..., cukup biasa walaupun apa yang dilakukan adalah banyak di luar rencana dan situasi dan kondisi menanggapinya demikian. Memang, ketika kita sudah membuat rencana apapun serapi apapun, akan menjadi lain ketika strata lebih superior mengatakan yang berbeda.


Hari ini rencananya ingin membuat manual SPAS. Dan akhirnya tertunda dengan disposisi atas tugas sebagai asisten dosen dalam mengawas ujian. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini. Bahkan situasi pun tidak, karena ia bukanlah pihak yang dapat dipersalahkan. Walaupun demikian, kita dapat mengambil hikmah yang ada. Misalnya membuat relasi dengan dosen, misalnya. Walaupun hati agak kesal juga ketika melihat ada rekan yang ternyata hanya lenggang-lenggok non-ekspresi dan hanya bertanya: Ada apa? Ada ujian? Oh...


Okay...


Tapi tidakkah kau berpikir bahwa misalkan Aku datang pagi dan siapa tahu aku bisa menjaga ujian. Sebenarnya saya sendiri sudah mengetahui bahwa hari itu ada ujian, namun benar dikonfirmasi saat membantu Pram dalam mempersiapkan ruangan ujian. Memang pasca Pram ada PBL, saya bisa saja untuk keluar dan meninggalkan ruangan. Tetapi, apakah ada untungnya? Mungkin masalah akan semakin bermetastase dari masalah kecil, misalnya tidak adanya kabel LAN, atau tidak tahunya fungsi refresh pada piranti penjelajah. Yang ada mahasiswa yang ujian pun dirugikan. Benar, tidak ada untungnya pada akhirnya pun saya melangkah...


Memang, pada saat itu tepat dalam masa pengurusan pendaftaran semester pendek. Namun, untungnya ada rekan lain yang boleh membantu mengurusinya hingga tuntas. Sedikit tugas dapat terkurangi. Hm, saya bisa membantu dosen di stase berikutnya.


Pada akhirnya saya lanjut dengan rapat badan organisasi yang ada. Ada hal yang pada akhirnya saya boleh terima. Bagaikan kiasan lama yang mengatakan: janganlah kamu menilai buku jika hanya melalui sampulnya. Artinya hendaknya tidak mudahlah kamu menghakimi seseorang dari sedikit sisi hidupnya. Ketika kita menilik kembali mengenai pribadi yang berbudi, bahwa seseorang menggunakan akal budinya sekalipun dalam setiap ia melangkah jalan. Ketika orang berpikir matang dalam apa yang ia putuskan, apalagi ia kembali berpikir dan berpikir dalam memutuskan sesuatu yang kritis.


Memang terus terang, apa yang kita lihat sebagai pihak kedua terhadap orang lain akan menjadi proses individual kita dalam menilai orang. Pikiran kita yang ada terlalu subjektif dalam menghakimi. Inilah kita, inilah subjek. Ketika kita harus berpikir orang kedua atau ketiga dalam posisi sebagai objek, di sinilah kita berpikir dari sudut pandangnya, yaitu objektif. Dengan algoritma yang ada kita berpikir.


Tetapi dengan sudut pandang ketiga semua akan menjadi bias bila disesuaikan dengan apa yang kita pikir secara subjektif. Yang mengetahui apa yang menjadi alasan seseorang bertindak adalah seseorang itu. Dalam pikiran kita sebagai pihak yang melihat, kita hanyalah meraba atau dalam bahasa modernisnya sebagai membaca pikiran. Tetapi apa yang kita lakukan tidaklah selalu benar, kita dalam sebuah permainan teka teki di teve.


Kita kadang kala terlalu miris untuk mendengar bagaimana seseorang berpikir. Dan pada akhirnya apa yang kita tangkap menjadi berbeda dan tak seide dengan pikiran orang tersebut. Kita pun membuat penilaian sepihak, menyebar dan menyiarkannya. Dan orang lain pun hanya sependapat dengan pikiran kita tadi. Pikiran asli pada orang tersebut pun sirna dan tertiup angin. Sekiranya memang, don't judge a book by the cover.


Rabu, 17 September 2008

Semester 7... dan Dunia pun Terbalik

Sebuah kemalasan bagi saya untuk mencari lagi tulisan-tulisan lama di dalam blog. Sebuah kerinduan juga untuk menggerakkan jari-jari, merangkai kata. Sebenarnya sudah ada niat untuk menulis, tetapi tampaknya hanya menjadi onggokkan di tengah keramaian jalan.


Untuk menuliskan perihal semester 7 sebenarnya menimbulkan kecemasan bagi saya, apakah masih layak untuk dituliskan, padahal dia sudah berjalan sekian lama.


Semester 7 adalah sebuah langkah yang berbeda dari sebelumnya. Keberanian mengambil 2 mata kuliah di depan yang cukup menguras tenaga, walaupun sebenarnya sudah tergembleng dengan semester palsu pada semester 6. 16 SKS terasa 24 SKS... Haha, tapi perasaan akhirnya hanyalah sebuah rasa.


Diawali dengan kegundahan sebenarnya. Mempertanyakan segala kemampuan dalam diri. Menengadah ke langit menanti jawaban. Hingga kata mampu pun tertera, sesulit menera neraca..


Semester ini terus-terang, saya lebih sering menjelajah dunia. Menginjak tanah Sumatera menjadi sebuah hal yang membahagiakan di tengah derap degup menanti Temu Ilmiah Nasional di FK USU. Dan alhamdullilah, UAJ berhasil meraih peringkat 3 di lomba proposal penelitian. Bertemu dengan rekan se-Indonesia menjadi euforia tersendiri. Sebuah hal yang jarang akan ditemui. Layaknya Munas ISMKI yang lampau.


Kehidupan kampus dengan manis getirnya menjadi warna sendiri di dalam hati. Pada akhirnya semua berpadu dan menjadi kubangan pengalaman yang memperkaya diri. =)


Saya sendiri merasa cukup bahagia dalam tetes peluh yang ada. Menjalani hidup, menapaki langkah, menatapi dunia, merasakan kesepoian. Dan angin pun membawaku, terbang.


*Catatan:
Saya sendiri setelah menulis, dibaca ulang, dan merasa komposisi tulisan ini aneh dan sepertinya tidak cukup bermakna. Hahaha.... Tapi originalitas tetap menjadi yang terutama.

Jumat, 09 Mei 2008

Bikin Film: Orgasmus Maksimus

Tidak dapat diduga sebelumnya, apa yang sudah saya lakukan pada minggu ini. Ya, minggu yang sekiranya cukup membebani budi pikiran. Bagaimana tidak, minggu penuh makna ini dilalui, ya, memang sedikit mengenyampingkan sisi akademik saya (mohon untuk tidak untuk diteladani soal hal ini). Namun, saya bersyukur mendapati pengalaman yang tidak ternilai.


Masa saya memang banyak terambil untuk proyek pembuatan multimedia dari rekan-rekan MEDISAR FKUAJ dalam rangka persiapan mereka menuju gaweannya, Medical First Response (MFR). Multimedia yang digarap ini bertemakan resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resucitation (CPR). Saya ditugaskan menjadi seorang editor video. Ya, cukuplah dengan pengalaman beberapa mengedit video sejak dari SMA (Terima kasih Pak Arwanto, seorang guru Bahasa Indonesia yang pasti menugaskan pembuatan video amatir).


Hari yang melelahkan, menyelingi kehidupan sebagai pengurus senat dan penasihat AToMA, bahkan ahrus membagi tugas sebagai mahasiswa, anak dari orang tua, dan berbagai jenis strata yang tertera. Hari Senin mengambil gambar dari sore hingga mentari pun terbenam. Pada hari Selasa, bersyukur ketika ada dokter yang membantu. Rabu, di mana kita bekerja hingga Kamis jam 2 pagi. Pengambilan gambar dari pukul 5 hingga 2 pagi di poli spesialis Rumah Sakit Atma Jaya yang kian menyepi tiap detikan waktu, sungguh menggugah. Belum lagi disembur dengan pengalaman cakram padat yang digunakan mengalami kesalahan fatal. Entah kenapa keesokan harinya, hal ini dapat teratasi, ternyata sang berkas pun tak jadi lenyap.


Suatu keharuan di antara kegembiraan, mungkin seperti itulah yang tergoreskan dalam benak. Hah, kini, sang video pun sudah di tangan dan siap untuk diedit dalam proses penyelesaian. Semoga, dapat memberi hasil yang terbaik.


Pengalaman ini mengingatkan saya pada jerih payah orang-orang dalam rumah produksi film. Video 18 menit dan amatir saja begitu memeras keringat dari pori. Apalaagi sebuah film profesional yang lebih menuntut kemaksimalan dalam senarai aspek. Dan kita pun percaya, kerja keras tidak akan sia-sia belaka. Dan orgasmus maksimus pun hadir dalam pikiran dan menghilangkan dahaga jiwa.

Senin, 27 November 2006

Menjadi Dokter, Tulisan Seperti Ini??

Saya ingin menuangkan unek-unek di tengah sepinya malam >.<


Saya baru selesai merapikan tugas IMD! Giling.... dari jam 19:00 tadi. Tiga jam hanya untuk mengedit dan meringkas. Sebenarnya banyak yang saya mau komentarkan di sini...


Saya sempat down saat mengedit salah kerjaan rekan saya... saya tidak tahu apakah saya yang salah atau bagaimana. Mengenai tata bahasa, terutama penggunaan tanda baca. Tanda baca dipasangkan dimanapun bisa dipasangkan dan malahan dipasangkan secara ireguler dan untungnya tidak ireversibel. Tanda koma yang seharusnya bersatu dengan kata sbeelumnya menjad kacau balau. Hm, saya agak risih juga... kerjaan dua kali. Tapi kembali dengen mekanisme defensi (patologiskah?), "memang tugas saya sebagai editor". Sebenarnya kalau dikerjakan lebih teliti akan meringankan editor toh? tapi saya berpikir lagi, bagaimana kalau dibalas "editor, masa makan gaji buta?" Dooong....


Kemudian maslah plagiatisme... Saya merasa gimana ya... ketika sudah senang akhirnya bahan terkumpul semua. Kemudian salah satu rekan memberi sumbernya. Apa yang mau dikata, sumber tersebut adalah hasil kerjaan orang lain dari angkatan lama. Lalu saya sempat tak percaya dan bertanya lagi "yakin file itu?", "iya", "salin mentah2?", "terserah loe deh". Dooooooonggggg!!!!! (Sorry yang ini terpaksa harus dituliskan atau dideingungkan sehingga Anda harus menutupkan pinna telinga ke arah anterior). Terserah gw? Hey wake up!!! Saya editor di sini, bukan penulis. Dan melihat plagiatisme, saya memang nggak tahan. Saya pun harus turun tangan untuk memodifikasi tulisan yang mudah-mudahan tidak terlihat plagiat. Suatu hal yang saya perkirakan adalah file tersebut dapat jatuh ke anak lain dan akan menjadi tidak lucu kalau ternyata hasilnya sama. Saya menggelengkan kepala....


Saya sedikit merenungkan kata-kata dr. Sintak mengenai kebiasaan orang Indonesia untuk menulis. Menulis itu... sebegitu sampahnya kanh hingga kita pun harus meniru karya orang lain? Di mana rasa respek terhadap hak cipta? Dimana respek hak intelektual? Inikah kaum intelektual? samakah kaum inteletual dengan kriminil? Hey... hey...


Mungkin berangkat dari saya yang dianugerahi sedikit nafsu untuk menulis (thanks, Jesus). Bukan menyombongkan diri (walau mungkin ada unsur atau tendensi ke arah itu), menulis adalah hal yang menyenangkan. Menulis puisi, prosa, dan bagi saya puncaknya adalah ketika tulisan menghasilkan uang. hampir satu juta (belum mencapai) ketika tulisan fitur saya mengenai Final Fantasy ditampilkan pada satu majalah game Indonesia. Setelah itu saya terus menulis hingga ke volumenya yang ke-4. Sebuah tulisan berangkat dari hobi.


Lupakan tulisan itu, kembali ke jalur intelektual. Tulisan ilmiah... Tugas kuliah adalah tulisan ilmiah. Saya rasa semua setuju. Pengalaman saya memang sangat minor dalam hal ini kecuali saat di kelas 1 SMA bersama rekan saya menulis karya ilmiah "Fermentasi Berbagai Macam Sari Buah Menggunakan Kultur Murni Saccharomyces cereviseae" Apakah benar penulisan binominal nomenclaturnya?


Saya sendiri berharap, suatu saat saya bukanlah menjadi dokter yang hanya bisa menulis resep obat saja....


*Perhatian, bagi yang merasa sosoknya terilustrasikan di blog ini, ini adalah fakta yang terjadi di benak saya selama tiga jam. Jika merasa marah, salahkan benak saya yang semi otonom dan jangan salahkan diri saya. Mempersiapkan truncus sympaticus?