Minggu, 31 Mei 2009

Ibu dan Facebook, sindiran dari Serafina

Sindiran kepada komunikasi via Facebook. Ini adalah puisi Serafina Ophelia terhadap ibunya yang konon tidak dapat lepas dari Facebook. Sebuah renungan bagi kita terhadap apa yang kita lakukan...



Ibu
Facebook
Hubungannya erat sekali.

Setiap hari, sehabis mandi
selesai makan
Sehabis apapun…

Dalam hatiku,
aku berpikir
mau kemanakah gerangan ia.

Notebook.

Tapi apa yang selalu ia lihat di notebook
Facebook.

Setiap hari, tawanya menggema

Sampai kapankah hubungan erat antara Ibu dan Facebook
Mungkin sampai akhir hayatnya.

Notebooknya akan dibawanya… ke…surga

Konsili Valencia (1229): Orang Katolik dilarang membaca Alkitab?


Pertanyaan ini saya ajukan di katolisitas.org. Tulisan di bawah adalah hasil dari Ibu Ingrid. Saya memasukkan hasil ini untuk membantu menginformasikan dan meluruskan informasi yang keliru. Hak cipta tetap pada katolisitas.org

Saya sendiri akhir-akhir ini sering membaca mengenai sejarah Kristen baik Katolik dan Protestan. Saya menemukan beberapa hal yang sebenarnya sangat menyesatkan dan informasi yang keliru. Bagaikan Dan Brown yang menyebutkan Yesus menikah dengan Maria Magdalena, maka beberapa informasi keliru atas Gereja Katolik. Saya mendapatkan tulisan yang berasal dari Pdt. Budi Asali M.Div dari Golgota Ministry dalam tulisannya "Pembahasan Mengenai Roma Katolik", dan di dalamnya banyak sekali kutipan dari Boettner dari bukunya Roman Catholicsm yang membantah akan ajaran Katolik.



Saya mendapatkan kutipan:
Adanya Keputusan Konsili Valencia pada tahun 1229, yang berbunyi sebagai berikut:
“We prohibit also the permitting of the laity to have the books of the Old and New Testament, unless any one should wish, from a feeling of devotion, to have a psalter or breviary for divine service, or the hours of the blessed Mary. But we strictly forbid them to have the above-mentioned books in the vulgar tongue”

Kami melarang juga pemberian ijin kepada orang awam untuk memiliki buku-buku Perjanjian Lama dan Baru, kecuali seseorang ingin, dari suatu perasaan untuk berbakti, untuk mempu-nyai kitab Mazmur atau buku doa Roma Katolik untuk kebaktian / pelayanan ilahi, atau saat-saat Maria yang terpuji. Tetapi kami dengan keras melarang mereka untuk memiliki buku-buku tersebut di atas dalam bahasa kasar

Sebuah hal asing bagi saya, karena saya tidak pernah tahu adanya Konsili Valencia ini dan kata-katanya memang sungguh sangat kontradiktif, dan menyesatkan karena disimpulkan dari Pendeta tersebut adalah: orang awam Katolik sebenarnya tidak boleh memiliki Alkitab. Benarkah??? Sungguh menyesatkan.

Dan inilah jawaban dari Ibu Ingrid:

Shalom Andreas,
Sebenarnya, data yang anda kutip mungkin itu yang tercacat menurut seorang Teolog Kristen Protestan yang bernama Loraine Boettner (sekitar thn 1928), yang mengatakan, “Alkitab dilarang untuk orang awam, yang dimasukkan dalam buku Indeks Buku-buku Terlarang oleh Konsili Valencia thn 1229″ (”Bible forbidden to laymen, placed on the Index of Forbidden Books by the Council of Valencia . . . [A.D.] 1229.“)


Namun sebenarnya Boettner mengutip sumber yang keliru. Sebab, indeks Buku-buku Terlarang itu baru dikeluarkan tahun 1559, sehingga Konsili yang diadakan jauh sebelumnya, tidak mungkin memasukkan daftar buku-buku tersebut.


Hal kedua yang cukup penting adalah, kelihatannya sangat tidak mungkin diadakan Konsili Gereja Katolik di Valencia, Spanyol pada tahun itu. Seandainya ada, semestinya terjadi sebelum tahun 1229, sebab pada tahun itu, orang-orang Islam menguasai kota itu. Sangat sukar dibayangkan, jika orang-orang Muslim pada saat itu, yang menentang orang-orang Kristen di Spanyol, dapat memberikan izin bagi para Uskup Katolik untuk mengadakan Konsili di salah satu kota mereka. Pasukan Kristen baru dapat membebaskan Valencia setelah 9 tahun kemudian. Maka, besar kemungkinan, Konsili Valencia sebenarnya tidak pernah ada.


Tetapi ada juga kemungkinan lain, yaitu yang dimaksud adalah Konsili di Toulouse, Perancis yang diadakan pada tahun 1229, sebab Konsili tersebut membahas tentang Kitab Suci. Konsili tersebut diadakan sebagai reaksi terhadap heresi Albigensian/ Catharist, yang percaya pada dua Tuhan (Tuhan yang Baik dan yang Jahat) dan bahwa perkawinan adalah jahat/ buruk, sebab melibatkan tubuh/ matter, karena tubuh dianggap buruk. Heresi ini menyimpulkan bahwa perzinahan bukan dosa, dan bahkan menganjurkan bunuh diri di antara anggota-anggotanya. Untuk menyebarluaskan paham ini, maka para Albigensian menyebarluaskan terjemahan Alkitab yang tidak akurat dalam bahasa setempat (menyerupai terjemahan Alkitab dari Saksi Yehova sekarang ini). Seandainya terjemahan itu akurat, tentu Gereja Katolik tidak berkeberatan. Sebab terjemahan dalam bahasa lokal memang sudah ada sejak lama. Tetapi apa yang dikeluarkan dari Albigensian ini adalah Alkitab yang sudah ’salah terjemahan’. Maka para Uskup di Toulouse melarang para awam untuk membacanya, sebab isinya keliru. Ini adalah langkah untuk melindungi umat, sama seperti para pendeta Protestan sekarang ini juga yang melarang jemaatnya membaca Injil Saksi Yehova.


Selanjutnya, mari kita lihat sikap resmi yang dikatakan oleh Gereja Katolik. Demikian menurut Paus Klemens XI melalui Bull Unigenitus 1713, yang memuat 101 proposisi menanggapi ajaran sesat Quesnel. Silakan membaca di link ini tentang keseluruhan Bull tersebut -silakan klik Berikut ini kutipan sebagian saja:


79. Adalah berguna, dan perlu senantiasa, di segala tempat, dan untuk semua orang, untuk mempelajari dan mengetahui semangat, kekudusan, dan misteri dari Kitab Suci.
80. Pembacaan Kitab Suci adalah untuk semua orang.
81. Adanya ketidak-jelasan yang agung dalam Sabda Tuhan tidak menjadi alasan bagi orang awam untuk tidak membacanya.
82. Hari Tuhan harus dikuduskan oleh umat Kristen dengan membaca karya-karya orang kudus, dan terutama Kitab Suci. Adalah berbahaya jika seorang Kristen tidak melakukan hal ini.
83. Adalah suatu ilusi untuk meyakinkan diri bahwa pengetahuan tentang misteri dalam agama tidak perlu dijelaskan kepada para wanita dengan pembacaan Kitab Suci. Bukan dari keluguan wanita, namun dari kesombongan pengetahuan para pria, maka terjadi penyalahgunaan Alkitab dan bermacam heresi/ ajaran sesat telah ditimbulkan.
84. Untuk mengambil dari tangan umat Kristen, Perjanjian Baru, atau untuk menjadikannya tertutup dengan mengambilnya dari mereka sarana untuk memahaminya, adalah [seperti] menutup mulut Kristus.
85. Melarang orang-orang Kristen untuk membaca Alkitab, terutama Injil, adalah seperti melarang menggunakan terang pada anak-anak Terang, dan menyebabkan mereka seolah-olah menanggung ‘ekskomunikasi’.


Jadi dari jawaban di atas, menurut saya jelaslah sudah duduk masalahnya. Gereja Katolik tidak melarang umatnya membaca Alkitab, hanya memang pada suatu periode tertentu sekitar tahun 1229, memang terjadi kondisi khusus sehubungan dengan adanya penyelewengan teks Kitab Suci yang dilakukan oleh sebuah sekte sesat (Albigensian) pada saat itu. Maka larangan untuk membaca Alkitab pada saat itu merupakan tindakan gembala untuk menyelamatkan kawanan dombanya.
Mari kita melihat segala sesuatunya dengan kacamata yang objektif, melihat fakta sejarah, namun juga dengan kepercayaan penuh kepada apa yang diputuskan oleh para pemimpin Gereja. Jangan lupa, bahwa Roh Kudus yang telah diutus oleh Yesus untuk melindungi Gereja-Nya adalah Roh Kudus yang sama yang menuntun para pemimpin Gereja yang adalah penerus para Rasul.


Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Catatan: Sebagian dari jawaban diterjemahkan dari Catholic Answers. Selengkapnya silakan membaca di sini.

Semoga ini dapat memberi informasi yang benar...

Selasa, 19 Mei 2009

Guide Museum Anatomi: Asyik Tenan.

Marcella ketika menjelaskan di etalase embriologi



Hari ini adalah pengalaman pertama menjadi pemandu museum anatomi di kampus untuk pelajar SMA Bunda Hati Kudus. Awalnya, terus terang, ada rasa deg-degan karena ini pengalaman pertama dan kepala masih tidak memiliki pengalaman dalam menerangi anatomi kepada anak SMA. Tentu sulit bagi saya untuk menyebutkan kata "serambi" untuk menggantikan "atrium" pada jantung. Karena pendidikan kedokteran yang ada, begitu banyak menggantikan bahasa awam dengan bahasa yang begitu eksklusif.

Adalah pagi hari, saya pergi ke kantor kelurahan Pademangan Barat dulu untuk mengurus KTP yang akan habis masa berlakunya. Saya pagi-pagi melakukan review dulu dengan Debby dan Patsy akan bahan-bahan anatomi. Bayangkan kita masih saja membingungkan mana yang pengumpil dan hasta dari radius dan ulna! Mungkin anak SMA bisa saja tertawa cekikikan, melihat ulah ini.

Alhasil 11.45, kita sudah bersiap dengan jas oranye yang gagah. Anak SMA begitu antusias, bahkan sepertinya mereka menganggap kakak-kakak mereka ini sudah sangat pintar. Apalagi dokter Poppy menyebutkan kami akan segera lulus dari PSSK (Program Studi Sarjana Kedokteran). Label mahasiswa semester delapan begitu mendewa.

Walaupun dalam pikiran kami pun kadang berkecil hati. Apakah benar kami ini sudah kompeten? Bahkan kami masih meributkan pengumpil dan hasta! Kami meributkan jumlah gigi pada dewasa dan anak-anak! Dan kami masih meributkan berap jumlah tulang belakang lumbal dan sakral! Entahlah, mungkin ini adalah kecemasan yang menutupi akal budi.

Hari ini, para pemandu lengkap! Saya, Patsy, Debby, dan koko Pri dari 2005, serta Cipi, Andreas, Marcella, Tei dari 2006. Saya mulai bertugas di sesi pertama sebagai penunggu waktu dan sesi kedua baru menjadi pemandu.

Saya memulai di etalase embrio. Saya melihat mereka begitu tertariknya dengan rasa kasihan melihat preparat embrio asli di dalam stoples formalin. Ketika saya menjelaskan proses pembuahan dari penyatuan sperma dan ovum kemudian menjadi zigot dan seterusnya hingga kelahiran. Menjelaskan apa itu kembar identik dan kembar fraternal, seperti mengorek kembali ilmu-ilmu lampau di Obs-gyn.

Kemudian lanjut di etalase: Reproduksi-Vertebra-Respirasi-Urogenital. Di stand reproduksi memakan waktu yang begitu banyak! Yup, ini adalah etalase yang paling menarik bagi mereka. Menjelaskan letak prostat, proses ejakulasi, ereksi, sirkumsisi, dan mereka tercengang kalau wanita punya tiga lubang (-.-!) di pelvis, terus bertanya apakah wanita bisa ejakulasi, apa itu orgasme, dan bahkan mereka tidak tahu libido (ketika saya menyebutkan kata saat horny, baru mereka mengangguk). My oh my. Mungkin memang begitu, bahwa menyampaikan sesuatu ke awam bahkan pelajar SMA harus dengan bahasa yang dekat dengan mereka.

Terus terang vertebra saya hanya overview saja, berapa jumlahnya, dan berbahayanya bila terjadi cedera pada vertebra cervicalis. Begitupula pada respirasi dan urogenital. Pos berikutnya adalah kardiologi-stomatolog-THT-dan SSP. Kardiologi yang cukup memakan waktu banyak, stomatologi mengenai proses karies, menunjukkan epiglotis yang menutup trakea dan esofagus. Hanya itu. SSP, terus terang cukup sulit menerangkannya... Saya saja sendiri belajar neuroanatomi, empot-empotan ^^

Stand berikutnya adalah GI Tract-Sensorik-Muskuloskeletal. GI Tract terlewati karena masih ramai.. Sensorik dan Muskoskeletal hanya sekelebat. Mereka tercengang ketika mengetahui bahwa anak FK perlu mengingat nama-nama otot yang... aduh banyak banget. Dan saya seperti orang dewa uang hapal nama otot, padahal saya cuma menyebutkan tendon calcaneus... Aduh jangan-jangan saya grandeur delusion lagi. Hahaha....

Saya mendapat juga banyak pertanyaan mengenai kehidupan anak FK. Ada yang bertanya, berapa lama? Susah nggak? Pelajaran apa saja? Ya seperti kilas balik bagi saya, ketika saya masih dalam posisi mereka dengan culun, bertanya apakah mahasiswa FK beli mayat? Apakah anak FK harus menghapal mati plek-plek. Entahlah, tapi apa yang saya dapatkan tidak demikian. Anak FK masih bisa menikmati hiburan, tidak sesibuk apa yang dicemaskan. Ilmu kedokteran bukan hapalan murni melainkan sangat diperlukan logika dan pemahaman konsep. Dan FK, seperti fakultas lain, diperlukan usaha.

Banyak sekali yang dipelajari hari ini, dan walaupun menjadi pemandu tidak dibayar, namun pengalaman yang didapatkan tak ternilaikan. Saya sangat menantikan kegiatan museum berikutnya... ^^

Selasa, 05 Mei 2009

Penatalaksanaan Influensa A H1N1 (Bag 1 - Untuk Anak-Anak)

Walaupun hingga saat ini, tidak terdapat data yang mencukupi untuk menetapkan siapa saja yang rentan terhadap influensa A H1N1 (flu babi), namun kita dapat merujuk kepada siapa saja yang rentan terhadap flu musiman. Hal ini sudah dilontarkan oleh CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit). Menurut CDC, beberapa pihak yang diduga rentan terkena influensa A H1N1 adalah: kanak-kanak, wanita hamil, wanita yang baru melahirkan, dan orang dengan infeksi HIV.


#1 Kanak-Kanak


Dalam situs mereka, CDC melaporkan bahwa hingga kini masih sangat sedikit influensa A H1N1 yang menyerang kanak-kanak. Namun, seperti yang kita sudah ketahui, flu musiman dan pandemi yang lalu sangat rentan pada kanak-kanak terutama balita dan yang sedang mengidap penyakit berat.


Menurut Tim Uyeki, ahli influensa CDC, kebanyakan kasus influensa A H1N1 di Amerika Serikat dilaporkan menyerang anak di bawah 18 tahun. Dan ini akan menjadi keadaan yang tidak baik bagi populasi kanak-kanak.

Tatalaksana yang direkomendasikan untuk anak-anak di atas 1 tahun adalah:


  • Bagi yang sudah dipastikan atau diduga terinfeksi influensa A H1N1, direkomendasikan untuk diterapi dengan obat antivirus, oseltamivir atau zanamivir. Terapi antivirus ini harus segera diberikan segera saat awal mula gejala. (Untuk kasus dapat kunjungi www.cdc.gov/h1n1flu/casedef_swineflu.htm)
  • Lamanya terapi direkomendasikan selama 5 hari, namun dapat saja berubah tergantung pada keampuhan antivirus, efek samping. Dosis yang diberikan sama dengan dosis antivirus untuk flu musiman. Untuk dosis dapat ditelusuri di http://www.cdc.gov/h1n1flu/childrentreatment.htm
  • Untuk anak-anak di atas 1 tahun, yang diduga terinfeksi, terutama yang juga memiliki penyakit berat, pengobatan antivirus secara empirik direkomendasikan.

Bagaimana pada kanak-kanak yang berusia di bawah 1 tahun? Hingga kini, oseltamivir tidak diijinkan untuk digunakan pada anak-anak di bawah 1 tahun untuk praktik biasa. Namun, karena pada bayi memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi terhadap influensa, CDC melaporkan bahwa bayi yang teinfeksi influensa A H1N1 mendapatkan hasil yang baik dengan pengobatan oseltamivir. EUA atau otoritas penggunaan darurat oleh FDA (BPOM Amerika Serikat) telah mengijinkan penggunaan oseltamivir untuk anak-anak di bawah 1 tahun.


Dosis yang diijinkan untuk bayi adalah:
  • di bawah 3 bulan = oseltamivir 12 2x sehari
  • 3-5 bulan = oseltamivir 20 mg 2x sehari
  • 6-11 bulan = oseltamivir 25 mg 2x sehari


Untuk penurun panas, CDC menyarankan:

  • jangan meresepkan aspirin atau obat lain yang mengandung aspirin untuk kasus yang dipastikan dan diduga untuk influensa A H1N1 pada anak-anak di bawah 18 tahun untuk mencegah sindroma Reye.
  • Untuk menggantikannya, maka dapat digunakan asetaminofen atau obat antiradang bukan steroid (NSAID).

Untuk pengobatan pencegahan atau kemoprofilaksis dapat diterapkan pada:
  • Anak-anak dengan kontak terhadap kasus H1N1 yang dipastikan, dimungkinkan, atau diduga.
  • Anak sekolah yang memiliki risiko tinggi dan mengalami kontak muka ke muka pada orang dengan kasus H1N1 yang dipastikan, dimungkinkan, atau diduga.
  • Anak-anak yang baru saja dari Meksiko dan memiliki risiko tinggi terhadap komplikasi influensa.
  • Anak-anak dengan kondisi medis yang kronis.

Terapi kemoprofilaksis yang disarankan CDC adalah:
  • Anak-anak di atas 1 tahun, terapi dengan oseltamivir atau zanamivir
  • Anak-anak 3-11 bulan, oseltamivir dapat digunakan atas dasar EUA dengan dosis 20 mg 1x sehari untuk usia 3-5 bulan; 25 mg 1x sehari untuk usia 6-11 bulan
  • Anak-anak di bawah 3 bulan, kemoprofilaksis tidak disarankan, namun dapat diberikan bila kasus kritis.

Kemoprofilaksis diberikan pada periode waktu yang memungkinkan terkena infeksi dan dilanjutkan hingga 10 hari setelah kasus infeksi terakhir ditemukan.


Bagaimana dengan anak-anak dengan keadaan khusus? Seperti pada flu musiman, kanak-kanak tertentu ada yang memiliki risiko lebih tinggi. Pada penelitian terbaru, disebutkan hampir separuh anak-anak yang meninggal karena influensa, banyak juga dipengaruhi oleh kondisi medis lainnya. Kondisi ini termasuk penurunan immun tubuh, penyakit ginjal kronis, penyakit ajntung, HIV dan AIDS, diabetes, asma atau masalah pada paru-paru, penyakit sel sabit, dan kondisi neurologis kronis, cerebral palsy, dan gangguan kejang.


Kelompok yang rentan lainnya adalah anak dengan gizi buruk atau gangguan konsumsi cairan karena muntah dan diare panjang, dan juga anak-anak dengan gangguan metabolisme lainnya. Anak-anak ini harus dipantau apakah ada gejala-gejala influensa.


Referensi
Treatment of H1N1 Influenza A (Swine Flu) in High-Risk Populations: Guidance for Clinicians