Minggu, 31 Januari 2010

FF XIII PS3, Impian Pasca-Koas

Sembari iseng-iseng berselancar info game Final Fantasy di Final Fantasy Crystalesia, saya menemukan sebuah trailer Final Fantasy XIII International yang sudah disulihsuarakan menjadi bahasa Inggris dari bahasa Jepang. Dan trailer ini sangat berhasil membuat jari-jari saya gregetan untuk memainkan Final Fantasy XIII.

Sebenarnya, ini hanya bagai punduk merindukan bulan. PlayStation 3 saja belum punya! Hahaha... Tapi ini menjadi salah satu daftar list saya, Sesuatu-Yang-Akan-Dilakukan-Setelah-Selesai-Koas. Selain kerja, belajar bahasa, dan bermain game! Dan siapa tahu bisa beli PS3 dan FF XIII dengan uang hasil keringat sendiri. Harapannya begitu.

Tapi pengen juga, siapa tahu (lagi-lagi), harga PS3 sudah turun dan sudah ada cakram game blu-ray bajakan. Hahaha.... Kan bisa berhemat (untuk beli teve HD).

FF XIII, tunggu saya di 2011...

New Koas-blog Design: Yeay.

Gila, tidak terasa sudah jam 5 pagi. Padahal seingat saya, saya mulai mengutak-utik blog dari jam 1 tadi. Artinya saya sudah berkutat 4 jam di depan blog. Hal ini sebenarnya mengingatkan saya pada masa lampau, ketika mengedit kode-kode web berjam-jam dan semalam suntuk untuk web saya yang sudah almarhum, FFIO.

Yup, saya ingin membuat sesuatu hal yang baru pada blog, agar nuansa koasnya setidaknya dapat tersajikan. Memang blog ini bukan hanya bercerita tentang koas melulu saja, tetapi beberapa kejadian yang dialami, dan, ya, beberapa tulisan a la melankolis. Hehehe...

Saya sendiri belum dapat mengukur, apakah blog ini dibaca banyak orang? Tetapi, bukan itu poinnya. Setidaknya saya dapat mencurahkan sementara isi kepala ini, dan ini semakin lama akan menjadi sepenggal kisah tentang sebuah kehidupan.

Ya, sebuah kehidupan.
Dan, terakhir. Yeay, desain baru!

Kamis, 28 Januari 2010

Kebahagiaan Terbesar Saya Sebagai Koas

Sumber Gambar: http://img2.photographersdirect.com/


Walaupun saya dalam keadaan yang risau saat ini
Namun adalah sesuatu menjadi kebahagiaan terbesar

Syahdan Ibu R
Yang berkeluh akan sakit kepalanya
Ketika saya menjelaskan diagnosanya
Kemudian ia bersedih
Ia adalah ibu dari seorang tanpa ayah
Ayahnya pergi entah ke mana
Ia sedih bahwa dirinya sakit
Bagaimana ia bisa menghidupi anaknya?

Ibu jangan risau
Saya akan berusaha membantu

Dan beberapa hari ia datang lagi
Ia diperiksa
Ternyata keadaannya membaik
Ia senang dan riang
Ia pun menelepon anaknya bahwa
"Dirinya sudah membaik"
Dia berterima kasih

Saya pun takjub
Bahwa Tuhan melalui saya
Memberikan pertolonganNya
Saya bersyukur pun dapat berguna
Bagi sesiapa yang memerlukannya

Selasa, 26 Januari 2010

Tuan R, Pasien Perdana

Sepertinya ini cerita yang sudah lama, yang seharusnya terjadi ketika saya di siklus bedah. Namun saya lupa menuliskannya. Better than nothing kan?

Bagi koas, menunggu mendapat tanggung jawab akan seorang pasien adalah sesuatu yang campur-aduk. Antara ingin sekali karena dapat mengaplikasikan ilmu, namun agak "menghindar diri" karena bisa ditanya-tanya oleh konsulen (artinya harus belajar ekstra) dan keriuhan follow-up pasien setiap pagi akan menyertai hingga pasien itu pulang. Tapi apa yang saya rasakan, campur-aduk. Bagaimana tidak, saya baru menginjakkan kaki di dunia perkoasan. Artinya, saya akan mendapatkan pasien pertama saya selama seumur hidup saya dan karir saya di kedokteran.

(Demi kerahasiaan, nama, waktu, tempat saya kaburkan)

Tn R

Saya mendapatkan kabar dari salah satu rekan di pagi yang sepi. "Hau, Ini ada pasien kamu. Pasien dengan vulnus (luka) akibat KLL -Kecelakaan Lalu Lintas-red-." Mendapatkan berita di pagi hari seperti ini berarti saya harus segera meluncur ke RS X yang berjarak 20 menit dari rumah. Saya pun tanpa mandi, karena diprediksi pasti akan telat. Saya tiba di RS pada pukul 06:00 pagi.

Saya tiba di bangsal Y, RS X. Dengan agak tertatih karena mengingat waktu saya hanya sekitar 30 menit untuk follow-up pasien sebelum ronde pagi bersama konsulen. Saya segera mengenakan jas putih, membaca laporan jaga malam rekan sejawat yang sebelumnya menerima pasien tersebut. Saya pun ke ruangan 202 kasur 6, dan berucap, "Selamat Pagi, saya Dokter Muda Andreas, saya dokter muda yang akan membantu penanganan Bapak di RS ini."

Namanya Tn R. 22 tahun. Datang di RS pada dini hari karena kecelakaan lalu lintas. Ia yang tengah menaiki motor, tertabrak oleh mobil van ekspedisi. Ia pun mengalami vulnus laceratum genu dextra (luka robek pada lutut kanan), vulnus excoriatum cruris dextra et sinistra (luka lecet pada tungkai bawah kanan dan kiri), dan fraktur os naviculare pedis dextra (patah tulang navikularis kaki kanan). Setelah membuat anamnesa, pemeriksaan fisik, membuat status generalis dan status lokalis. Dan ternyata Tn R dijadwalkan operasi hari ini.

Menjadi tanggung jawab si penanggung jawab pasien, maka saya akan mengasistensi operasi debridement (pembersihan) luka Tn R. Maka saya yang akan melakukan pemeriksaan pra-bedah bersama koas anestesiologi. Saya pun meminta ijin konsulen untuk melakukan pemeriksaan pra-bedah. Memeriksanya ya seperti biasa, sudah ada formulirnya. Berapa ASA-nya (indeks angka untuk menggambarkan keadaan umum pasien), berapa Mallampati-nya (tingkat visual dari rongga faring untuk memprediksi kesulitan dalam melakukan intubasi), dan lainnya.

Tapi setelah itu menjadi tantangan bagi saya, bagaimana menjelaskan prosedur bedah pada pasien dan keluarga. Sebuah hal yang tidak mudah, jelas tak mudah. Mereka bertanya bagaimana cara melakukan pembiusannya, karena saya mengatakan akan dilakukan bius setengah badan, alias anestesi regional dengan anestesi spinal. Memang mungkin mudah bagi saya mengatakan, "Nanti akan disuntikkan obat bius dari punggung." Tapi ini berhasil membuat keluarga mengerutkan dahi. Saya harus dapat menjelaskan bahwa ini prosedur aman dibalik efek samping minimalnya.

Saya pun ditanya mengenai prognosis pasien. Saya katakan Tn R akan baik-baik saja. Dan ibunya berkata, "Bukannya kenapa-kenapa dok, kami sudah kehilangan adiknya. Dia pun karena kecelakaan." Saya baru mengerti, bahwa mereka takut sesuatu yang fatal terjadi pada Tn R yang merupakan salah satu tulang punggung keluarga selain sang ayah untuk ibu dan ketiga adiknya. "Tenang bu, akan baik-baik saja." "Terima kasih, dok." Dan saya pun menuju ke ruangan operasi, dan berharap semua akan baik-baik saja.

Saya sudah bersiap di instalasi kamar bedah. Saya sudah siap dengan pakaian OK yang merupakan kedua kalinya saya kenakan setelah orientasi kamar OK. Saya pun sangat cemas, inilah saya pertama kali berada di proses pembedahan. Saya menjadi asisten operasi.

Saya menyambut pasien di ruangan persiapan setelah dilakukan "serah terima" antara perawat bangsal dan perawat kamar operasi. Saya pun menyambut, "Pak R, bagaimana keadaan Anda?" Kami pun mendorong brankar ke kamar bedah nomor 3.

Persiapan anestesi dimulai, saya pun meminta ijin konsulen untuk menjadi asisten, bersiap mencuci tangan sambil mengingat langkah-langkahnya saat orientasi. Dan saya pun mengenakan gaun operasi dan sarung tangan steril. Saya pun bersiap dalam posisi steril dan menunggu konsulen, yang akan menjadi operator, datang ke ruang operasi. Saya sedikit bergumam, "Tuhan, terima kasih hingga kini baik-baik saja."

Konsulen datang dengan tangan sterilnya dan operasi dimulai. Saya menempatkan diri di depan operator. Takikardia pun dimulai. Operator mulai menyayat dengan bladenya dan darah dari pembuluh darah kulit mulai merembes. Operasi pun berlangsung. Operasinya pun bagi saya tidak begitu lancar, karena beberapa kali hasil guntingan akan simpul jahit operator ada yang terlalu panjang dan ada yang terlalu pendek. Saya pun ditegur oleh konsulen. Terus terang ini membuat saya semakin takikardia.

2 jam lebih saya berdiri dan operasi selesai. Pasien didorong ke ruangan pemulihan. Setelah tanda vitalnya sudah membaik dan dinilai dengan nilai Aldrete sudah memungkinkan, maka pasien dipulangkan ke bangsal rawat. Sebenarnya inilah momen yang membahagiakan, bahwa pasien Tn R sadar dan diterima oleh keluarganya yang menyambut saat di ruang tunggu kamar operasi. "Terima kasih dok", ucap keluarganya. Namun saya sendiri merasa bahwa tidak sepantasnya ucapan itu bagi saya, yang pantas menerimanya adalah konsulen. "Sama-sama pak"

Ketika sampai di bangsal saya pun membereskan beberapa hal, operan pasien dengan sejawat yang bertugas jaga malam saat itu. Kemudian beres-beres dan pulang. Namun di tengah saya berjalan, saya terhenti. Ternyata ayah Tn R. "Maaf dok, kalau mengganggu bolehkah saya bertanya sebentar?" "Oh ya pak, ada apa?"

Bapak ini menanyakan apakah boleh menggunakan obat tiongkok untuk mempercepat penyembuhan anaknya itu. Dan mengobrol terus hingga menemukan bahwa ternyata kami adalah "saudara jauh". Artinya, kami semarga. Dan dia menceritakan bahwa diapun sulit keuangannya, menceritakan bagaimana pihak penabrak tidak mau bertanggung jawab dan sebagainya. Dan tidak terasa 30 menit habis kami bercengkerama.

Hari-hari berikutnya pun saya memfollow-up pasien, dan melihat pasien dapat kian sembuh setiap harinya. Apalagi kami sempat bercanda ketika ia bingung melihat saya ditanya konsulen tentang keadaannya. Ya beginilah kami, dokter muda, belajar.

Hari terakhir, bahwa pasien sudah diijinkan pulang. Ada rasa syukur, rasa lega, bahwa pasien akhirnya selesai menjalani perawatan di bangsal dan tinggal perawatan jalan saja. Pagi-pagi saya memberikan keterangan mengenai perawatan jalan, berapa hari jahitan akan dilepas, dan kontrol luka.

Tn R direncanakan pulang pada siang hari setelah menyelesaikan administrasi. Tetapi hal tetap saya agak sayangkan adalah saya tidak sempat berpamitan langsung dengan mereka ketika mereka keluar dari bangsal. Dan saya juga belum sempat menemui langsung saat perawatan jalan di poliklinik karena kebetulan tidak sesuai dengan jadwal tugas. Tapi senang mendengar bahwa Tn R baik-baik saja.

Senin, 25 Januari 2010

Pelik


Untuk masa depan,
Yang jelas telah terjadi kepelikan
Yang jelas telah memenggal otak
Yang jelas telah menukik psike

Teman,
Mari berharap yang terbaik
Mari berharap pertolongan
Mari berharap akan inayat

Yakinkan,
Pelik ini akan musnah
Otak ini takkan lelah
Psike ini pun bersorak-sorai

Sunter, 25 Januari 2010 di tengah lebatnya debit hujan
Untuk rekan sejawat

Sabtu, 23 Januari 2010

Magfirah




Kini aku terdampar pada satu hampar pasir dan desir bahar
Ketika kupandang ujungnya tak kentara
Begitupun cakrawala tak bersempadan
Sepi semilir sepoi senja silih menyeka diriku

Aku hanya bersama sebatang kalam dan secarik kertas
Aku pun bergagas mencari cita
Apa yang hendak kutorehkan kini
Dan aku terkenang masamu

Dan terkesan kembali berbagai masa jigrah
Masih teringat pula bila silang selisih
Bahkan semata haru biru
Semua takkan teralpa dalam angan-anganku

Syahdan kita terserak
Awal dan akhir pikir kita tak lagi seukur
Asa ini tak lagi mampu bertembung
Dan tersadar telah jauh terpaut

Terbangunkan dan terjagakan
Kita bertindak atas nama ihsanat
Bahwa bersarak menjadi penyelesaian yang berarti
Dan tak lagi urai duka menjadi rintihan

Kita pun berjabat tangan
Melambaikan tangan
Dan terbelah
Rampuh

Aku memandang secarik kertas tadi
Batang kalam tidak tertuai
Aku masih harus bermufaham dengan diriku
Untuk mengawali sebuah keperdanaan

Namun kertas ini tak boleh lagi hampa
Aku menulis dan akhirnya melipat kertasku
Menghela nafas dan terbangun dari pasir
Aku berjalan menuju ke ujung laut

Dan pasir pun kembali sepi
Hanya berada dengan bekas jejak langkahku
Tinggallah secarik kata itu,
"Pastikan Kau Akan Baik-baik Saja, Teman!"
Surya pun tenggelam

Sunter - Jakarta, 23 Januari 2010

Kamis, 21 Januari 2010

Ketika Menjadi Dokter "Sungguhan"

Sudah dua kali dalam empat hari menjalani Praktek Kerja Lapangan di Puskesmas Kelurahan Kamal Muara, saya menjadi dokter "sungguhan". Sebagian frasa ini perlu saya miringkan dan diberi tanda petik. Artinya, saya setengah dilepas untuk menjalani transaksi antara dokter dan pasien.

Sebelumnya tentunya dengan ijin dari dokter Kepala Puskesmas, saya berperan menjadi dokter dalam Balai Pengobatan Umum. Tentunya didampingi oleh dokter Kapuskes tapi beliau pun hanya memeriksa terapi yang saya berikan dalam resep.

Terus terang, saya merasa deg-degan, merasa diri masih tidak cukup handal. Memang seharusnya saya sudah memiliki kompetensi yang dipelajari di pendidikan Sarjana Kedokteran. Tapi detak jantung dan saraf otonom ini bergerak nirsadar. Banyak hal yang sempat membuat saya ciut hati. Pertama, yang saya hadapi pasien, bisakah saya membantu mereka? Kedua, saya masih hitungannya koas bau kencur, yang baru menyelesaikan satu stase. Ketiga, saya masih kurang percaya apa benar saya mampu, karena status saya masih koas, kumpulan orang serba salah. Keempat, jantung saya kian ingin lepas.

Saya terus kalut dalam pikiran. Mampukah? Bisakah? Berkompetenkah? Yang saya hadapi ini pasien loh. Bukan mesin yang rusak pun dapat beli lagi.

Tapi dalam satu pikiran yang mencerahkan saya, kalau saya terus begini kapan saya akan percaya bahwa saya dokter? Ini adalah kesempatan, membangkitkan aura kepercayaan diri. Inilah saatnya untuk berdikari.

Saya pun beranjak ke ruangan poli umum di lantai dua Puskesmas. Jantung saya masih berdetak hebat. Saya melontarkan senyum pada pasien yang sudah menunggu. Saya membuka pintu dan berderitlah. Sekelompok kertas rekam medis sudah tertata. Saya sendiri di ruangan, tidak ada tempat bertanya, tidak ada waktu lagi untuk membuka buku teks. Walau saya sudah menghapal jenis obat yang tersedia di farmasi, saya takut itu lenyap.

Dan saya panggil nama pasien dengan nomor terkecil dan datanglah seorang ibu yang menggendong anaknya yang berusia 2 tahun. Saya menyapanya dan satu hal yang ada di kepala saya ini hanya: "Apa Diagnosisnya? Apa Terapinya?" Dan bulir peluh mulai bergulir.

Saya melakukan anamnese dan keluhannya adalah batuk pilek. Di kepala saya langsung berdenting: "1302, ISPA". Tapi masalah tak hanya sampai disitu kawan. Mulai menulis resep, Oh Tuhan apa obat yang saya hapal tadi. Puyer Panas (PP) 1? PP 2? Berapa batasan umurnya? Saya sambil mengingat. Ah yang mana, Tuhan? Kalau ISPA maka diberikan kotrimoksazol, 2 kali berapa sendok teh? 1 sendok? 1,5 sendok? 2 sendok? Apakah perlu vitamin?

Saya pun menuliskan resep pertama itu dan saya melontarkan senyum ke ibu dan memintanya mengambil obat di farmasi.

Dan begitu pasien-pasien berikutnya datang. Dengan kasus yang berlainan seperti gatal-gatal, luka, darah tinggi, dan lainnya. Sambil mengingat hal-hal yang saya sudah pelajari.

Ketika pasien habis dan saya turun ke bawah, resep saya ternyata beberapa ada yang direvisi. Ada yang salah dosis jumlah sendok teh. Ada yang kelebihan dengan CTM, padahal puyer sudah terdapat CTM. Ketika itu pasien pun kembali datang, saya kembali ke atas ke ruang poli umum. Saya menemukan kesalahan saya dan memperbaikinya dan, resep saya pun semakin sedikit yang direvisi oleh dokter.

Ya, saya menemukan bahwa kedokteran adalah sebuah seni, bukan saja mengenai hal apa yang bisa hapal di luar kepala, tetapi bagaimana menjadikan hal ini menjadi hal yang lekat pada diri.

Dan hari ini pun saya kembali menjadi dokter di poli umum dan saya mulai menikmatinya dan jantung pun dapat berdetak seperti sediakala. Dan satu hal, saya pun masih harus terus belajar.

Minggu, 17 Januari 2010

Puskesmas Bagi Orang Elite?

Lagi-lagi saya sudah lama tidak membarui isi blog ini. Bukannya tidak ada kisah yang patut ditulis, atau tidak ada waktu, tetapi belum ada moodnya.

Ya, Jakarta sedang dingin dan sejuk, hingga hujan urung untuk berhenti sejak kemarin. Harap-harap cemas, jangan sampai besok banjir di Puskesmas Kamal Muara.

Oh iya, saya belum berkisah tentang ini. Mulai minggu lalu, saya dan seorang rekan ditugaskan di Puskesmas Kelurahan Kamal Muara. Nah, sebelum meluncur ke Kelurahan, saya dan rekan-rekan dokter muda lain yang disebar di Kecamatan Penjaringan mengikuti penataran dulu di Kecamatan. Sesuatu yang menarik saya adalah sebuah hal yang disampaikan oleh bidan di sana. Ia bertukas bahwa program Puskesmas jatuh karena tidak dapat menggapai orang "elite". Ia mengambil contoh di Kelurahan Pluit, hanya bisa menggapai 4 RW yang merupakan daerah kampung nelayan Muara Angke, dan tidak bisa menggapai orang-orang menengah ke atas, sebut saja orang di Muara Karang. Atau kontrasnya di Kelurahan Kapuk Muara terbagi atas perumahan padat penduduk di Kapuk Raya dengan perumahan luks di Pantai Indah Kapuk.

Saya kemudian berpikir. Mengapa justru tidak dapat menggapai orang elite? Padahal tidak semua program Puskesmas adalah program model Raskin atau Gakin yang ditujukan bagi orang miskin. Program Puskesmas sendiri bukankah justru banyak dan beragam dan tujuannya adalah untuk kesehatan masyarakat. Dan orang elite pun termaktub di dalam "masyarakat".

Kita lihat saja sendiri beberapa program Puskesmas seperti Program Gizi (GAKY -Gangguan Akibat Kekurangan Yodium-, KVA -Kekurangan Vitamin A-, KEP -Kurang Energi Protein-, Anemia). Memang diempat inilah yang besar, namun di dalamnya, seperti yang disebutkan Petugas Gizi di Puskesmas Kecamatan Penjaringan bahwa ada masalah lain lagi yaitu kelebihan nutrisi. Sesuai dengan perubahan pola penyakit di masyarakat, bahwa pola penyakit kian menuju ke penyakit degeneratif terutama sindroma metabolik, seperti CVD -Cardiovascular Disease-, diabetes mellitus. Dan ini perlu untuk disadarkan ke masyarakat elite.

Program lainnya seperti P2P pun perlu. Saya sendiri pernah mengetahui bahwa ada rekan yang termasuk golongan elite pun pernah menderita TBC karena faktor penularan dari pengasuhnya yang menderita TBC. Hal ini jelas menjadi masalah di masyarakat. Program penemuan kasus TBC pun perlu menjangkau orang elite. Dan orang elite tersebut pun harusnya perlu kesadaran untuk mau dijangkau.

Program lainnya, seperti PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) atau program dari P2P lainnya, program KIA (KB, imunisasi), program UKS, program lansia. Semua ini menurut saya, bukanlah program untuk orang miskin, tetapi untuk masyarakat.

Sebenarnya pun, Puskesmas sangat strategis untuk menjadi dasar dari penyusunan sistem rujuk kesehatan. Karena Puskesmas, misalnya Puskesmas Kelurahan memiliki struktur jangkauan atau wilayah kerja yang dapat menurun hingga ke RW dan RT. Puskesmas menjadi pusat pelayanan primer (Bukankah Puskesmas pun tersedia Balai Pengobatan Umum?). Dengan menjadi pelayanan primer ia dapat merujuk ke pelayanan sekunder bila diperlukan. Dan sistem rujukan pun akan lebih tertata. Tetapi memang, sistem manajemen kesehatan tidak sesederhana ini, masih ada faktor lain yang perlu berbenah seperti sistem penjaminan kesehatan dan lain-lainnya.

Menurut saya, yang terpenting adalah pengembangan peran serta masyarakat dalam menanggulangi masalah kesehatan. Peran serta yang perlu ada di masyarakat elite. Bagaimana mereka dapat berpartisipasi aktif mengembangkan kesehatan paling tidak pada wilayah RW mereka sendiri. Mereka perlu diajak dan disadarkan bahwa program Puskesmas adalah terutama untuk pencegahan dan pengobatan awal terhadap masalah kesehatan. Setiap wilayah pasti memiliki masalah kesehatan sendiri.

Dan seharusnya dalam analogi saya, dengan masyarakat elite yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi seharusnya memiliki kesadaran yang lebih baik pada masalah kesehatan yang ada. Dan dengan kesadaran itu seharusnya mereka lebih tanggap dan mau ambil andil dalam program. Ya, inilah seharusnya... Tetapi realitanya? Akhirnya semua pihak yang terlibat perlu berbenah.

Selasa, 05 Januari 2010

Ketika Memilih Jalan Menjadi Dokter

Tulisan ini adalah salah satu forward dari dosen di FK-UAJ yang didapati dari milis lain. Saya kira sangat baik untuk merenungi jalan kita menuju dunia dan profesi dokter.

Jika kita ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah
kemasi barang-barang kita.
Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik kita menjadi
businessman bergelimang rupiah daripada kita harus mengorbankan pasien
dan keluarga kita sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika kita ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial
tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke
Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah firaun di sana. Daripada kita
di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar
kita hanya agar kita terkesan paling berharga.

Jika kita ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau
menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik kita mencari agency
selebritis yang akan mengorbitkan kita sehingga menjadi artis pujaan
para wanita. Daripada kita bersembunyi di balik topeng klimis dan jas
putih necis, sementara kita alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW
keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih
kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat
melihat kita lewat.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada
masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk.
Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika
anaknya demam tinggi.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan
lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja
kehilangan anaknya karena malaria.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika
kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana
dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat
kita terpaku mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang
tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk
membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu
dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk
bahunya dan berkata, jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu
pembayarannya.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika
dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan
leukemia dan berbisik lembut di telinganya, dik, mau diceritain
dongeng nggak sama oom dokter?

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika
sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target
penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap
berkata, maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani
saya.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah
malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah
kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita
beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya
malam.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk
meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia
yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.

Yah, memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat
di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada.

NB: Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga
mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi
lainnya.

Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan
sejawat semua untuk meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang
dokter. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Silakan menjadi
kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan
kita. Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan
duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat
idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat
dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun
harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang
mencemooh
dan merendahkan. Saya yakin, Tuhan tidak akan pernah salah menilai
setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba- Nya. Tidak akan pernah."