Tampilkan postingan dengan label PTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Terima Kasih Menjalin

Hari Senin, 1 April 2013 adalah salah satu hari terbaikku. Hari terbaik di dalam perjalanan saya sebagai dokter. Hari itu adalah hari perpisahan antara saya dengan staf Puskesmas Menjalin yang telah menemani saya selama 1 tahun ini.

 

Label terbaik ini bukannya karena saya suka perpisahan. Secara pribadi yang lebih cenderung menyukai zona nyaman, saya tidak suka dengan perpisahan. Namun suatu hal yang tak dapat terpungkiri adalah hidup harus jalan terus. Jalan ke depan.

 

Saya meninggalkan Menjalin, yang terutama adalah habisnya masa SK saya untuk diangkat sebagai dokter PTT di Kabupaten Landak. Kemudian saya pun memiliki rencana untuk bekerja di rumah sakit dan ingin melanjutkan studi lagi. Walaupun sebenarnya masih ada kesempatan bagi saya untuk mengabdi di Landak selama dua tahun ke depan. Namun jika adapun saya tak akan mengambilnya, karena saya tidak mungkin di Menjalin lagi. Saya sudah terlanjur jatih cinta dengan Menjalin.

 

Mungkin Anda terheran-heran ada apa dengan Menjalin? Ya saya sudah terlanjur cocok dengan Bumi Samabue ini. Terlanjur cocok dengan orang-orang di dalamnya. Saya sudah kepalang tanggung. Sikap masyarakatnya, kondisi kehidupannya sudah sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

Ya, staf-stafnya amat ramah, dalam arti yang sesungguhnya. Saya bersyukur, karena saya pun mendengar ada kawan-kawan saya lain di tempat lainnya bahkan seringkali tak harmonis. Saya suka lingkungan kerja yang tetap humoris, paling tidak untuk menyegarkan pekerjaan dokter yang sungguh menaikkan tensi. Staf-staf seperti Om Saibu, Pak Didy, Bang Uut, Kak Osik, Kak Hatenah Kak Rika, pendatang baru Bang Ason yang bisa membuat rahang Anda pegal. Dan saya suka staf yang suka "wisata kuliner" seperti Trio Macan, Kak Agnes, Kak Ola, Bang Agus, Kak Wila sang pecinta kuning. Kemudian Kak Banyu yang suka membagi kuenya, Kak Sri yang menjual kuenya. Kak Nia dan Mak Dela yang juga tak jarang berbagi. Trio Macan juga menjadi kawan merujak dan gorengan serta apam pinang.

 

Selain itu mereka pun menghormati satu sama lain dan tak segan belajar satu sama lain, dan bahkan saya pun tak canggung untuk belajar dari mereka juga. Kak Dewi dan Kak Emi yang banyak pengalaman. Atau sebaliknya saya pun sering berbagi dan mengajarkan yang saya bisa ke Dekri dan Bang Ryan, serta Bang Agus dan perawat magang lainnya.

 

Saya pun sering dibawa jalan-jalan, paling tidak karena saya tidak pandai naik motor. Diajak ke Rees oleh Bang Agus dan Kak Fina, ke Lamoanak bersama Bang Eko, keliling Menjalin, Mempawah, dan Serukam dengan Mas Pur. Saya juga ke Tikalong dengan keluarga Pak Uwi, dan perjalanan terakhir tak terlupakan berjam-jam berdiri dengan Kak Ester di bus Yosua.

 

Saya juga masih ingat dengan pasien-pasien saya, Pak Sakiman dari Lamoanak, Pak Alex yang sering meminta saya tensi ketika ia menumpang lewat di Puskesmas, Nenek Nulia, Pak Itop, Ibu Raani, We' Indra. Saya akan merindukan ketika bercengkerama dengan mereka di poliklinik atau di zaal rawat inap. Saya juga merindukan bercengkerama dengan perawat di ruang jaga.

 

Suatu hal yang membahagiakan juga bahwa saya dapat diterima oleh masyarakat tanpa kekurangan suatu apapun. Dan saya amat senang dapat menyumbang sedikit untuk tanah Menjalin, walau tak seberapa. Seperti gajah meninggalkan gadingnya, saya bersyukur dan bahagia dapat meninggalkan nama yang cukup baik sampai saya memparipurnakan tugas.

 

Kini saya harus terus melangkah ke depan, walau kabut masih di depan mata.

 

Terima kasih Menjalin.

 

"Ame lupa ana bamain agi ka Manyalitn boh", kata Bang Ryan.

"Auk!", jawab saya.

 

Di dalam GA503, perjalanan kembali ke Jakarta.

Minggu, 24 Maret 2013

PTT: Suatu Kebersyukuran

Ketika saya mengetik ini, saya berada di hari ke-7 sebelum masa bakti PTT saya berakhir sesuai dengan Surat Keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Suatu hal yang tak sangka saya bisa jalani sejauh ini. Suatu hal yang menjawab keraguan saya 358 hari yang lalu.

Dokter PTT Pusat Kabupaten Landak, TMT 2012

Pada saat pendaftaran lamaran kerja sebagai dokter PTT dan bersaing dengan ribuan dokter pelamar lainnya, tujuan saya hanya dua. Satu untuk memparipurnakan Surat Masa Bakti, dan kedua, tampaknya belum afdol menjadi dokter di Indonesia, kalau tidak menjalani PTT. Ya, sebagai dokter yang ditempatkan ke daerah terpencil adalah pengalaman tersendiri, yang bahkan tak pernah akan dialami oleh dokter di Singapura sekalipun!

Awal Mula PTT

Puskesmas Menjalin

Saya dulu melamar sebagai dokter umum di Kabupaten Landak dan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang menjadi provinsi kampung halamanku. Keduanya saya mencentang dengan kriteria terpencil. Terus terang, saya harap-harap cemas. Karena tidak semua pelamar yang jumlahnya ribuan ini bisa diterima, dan saya bersyukur ketika nama saya tercantum di website biro kepegawaian Kemenkes untuk bertugas di Kabupaten Landak selama 1 tahun.

Kabupaten Landak ini memang memiliki hubungan batin dengan saya, karena keluarga ayah saya kebanyakan lahir di Kecamatan Ngabang, yang kini menjadi ibukota kabupaten. Saya masih tidak tahu sama sekali di mana saya akan ditempatkan, sampai beberapa jam saya tiba di Ngabang untuk mendapat surat tugas dari dinas kesehatan kabupaten. Saya awalnya ditempatkan di Kecamatan Mandor yang sering saya lewati kalau menuju Ngabang, namun saya diminta bertukar untuk ditempatkan di Kecamatan Menjalin, suatu tempat yang tidak pernah saya tahu sebelumnya, yang suasananya lebih terpencil walau satu kriterianya sama. Karena saya dokter laki-laki, saya mencoba menjawab tantangan. Walaupun demikian, petualangan nan indah ini dimulai dari Menjalin.

Kesan Pertama Menjalin

Menjalin? Nama yang unik. Terus terang, selama hidup saya di Kalimantan Barat sampai saya SMP kelas 3, saya belum pernah mendengarnya. Dan saya tibalah di kecamatan ini bersama petugas yang mengantarkan saya, setelah mengantar rekan saya dari Mandor. Saya melewati jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu kendaraan di sore hari dan mati lampu pula. Jalan ini kelak saya sadari adalah jalur Sembora, salah satu jalan pintas dari Mandor menuju Menjalin melalui Toho.

Saya tiba si kecamatan nan gelap gulita (saat itu sedang mati lampu!), sinyal handphone yang datang dan pergi sesuka hatinya. Saya melihat rumah dinas yang akan saya tempati dalam terang senter dan lilin. Saya masih ingat, saya disambut oleh Bu Nia (perawat yang tinggal di kompleks Puskesmas) dan Kak Agnes (Bidan yang sementara menempati rumah dinas dokter, karena dokter sebelumnya perempuan). Karena saat itu saya masih belum bisa menempati rumah karena belum dibersihkan, saya menginap sementara di rumah Pak Thomas Apon, Kepala Puskesmas saat itu.

Saya saat itu termenung, apakah ini tempat saya? Tahankah saya? Apalagi lampu saat itu belum menyala sampai pukul 22:00. Sinyal handphone pun tampak hilir mudik saat saya mau mengabarkan kedua orangtua di Pontianak. Saya tak mungkin menangis, inilah tantangan, pikirku.

Keesokan harinya, Rabu, satu hari sebelum Kamis Putih. Saya diantar Pak Mega (Nama lain Pak Thomas, karena di sini lebih sering memanggil nama Bapak/Ibu dengan nama anak pertamanya), menuju Puskesmas yang kemarin tampak temaram. Dan kejutannya, tidak seburuk yang saya sangka. Saya pertama kali bertemu Bu Yones (Mak Dela), Bidan Morni (Mak Ryan), dan staf lainnya. Masih sedikit kagok-kagok, karena pada dasarnya saya pribadi yang perlu waktu untuk beradaptasi. Dan saya pun kesulitan berkomunikasi dengan pasien-pasien yang tua yang tak bisa berbahasa Indonesia.

Saya pun kemudian meminta ijin untuk mempersiapkan barang-barang untuk rumah dinas dan sekaligus merayakan Paskah sebelum memulai tugas di minggu berikutnya. Dan saat itu saya mulai mempelajari dan mencari tahu mengenai kecamatan saya. Dari peta baru saya sadari bahwa Menjalin adalah sebelah utara dari Kecamatan Toho, Kabupaten Pontianak yang terkenal dengan gua Maria-nya. Saya baru sadari juga bahwa kecamatan ini justru lebih dekat dengan Pontianak, dibandingkan Ngabang! Kecamatan ini dapat terjangkau dengan bus dalam provinsi dalam 2,5-3 jam dari Pontianak.

Menjalin adalah tempat yang cukup ideal buat saya. Terlalu ramai tidak, terlalu kecil tidak. Dengan jumlah 8 desa, penduduk 20.000-an, Kecamatan Menjalin adalah kecamatan terkecil kedua di Landak setelah Kecamatan Meranti. Di Menjalin pula menyimpan nilai tradisi Dayak Kanayatn yang kental dan pusat syiar agama Katolik. Nyaris 95 persen, menurut perkiraan saya, penduduk di sini beragama Kristen dengan denominasi mayoritasnya Katolik. Jadi, saya pun tak perlu bersusah payah mencari gereja untuk misa.

Belajar Bahasa

Di sini pula saya banyak belajar tentang bahasa setempat. Pada dasarnya, saya memang suka mempelajari bahasa. Dengan logat saya yang pas-pasan, tak jarang saya dianggap sebagai orang lokal. Walaupun demikian saya bersyukur, perbendaharaan bahasa saya pun semakin kaya. PTT ini membuat saya cukup dapat melakukan anamnesa dengan bahasa Dayak Kanayatn atau Ba'ahe ini, hingga saya dapat berkomunikasi dengan kawan-kawan dengan Ba'ahe. Sungguh, mempelajari kearifan lokal adalah suatu kebanggaan buat saya.

Penduduk

Hampir sebagian penduduk Menjalin bersuku Dayak Kanayatn, dengan sebagian kecil adalah Tionghoa, Melayu, dan Jawa. Di Menjalin ini mereka duduk berdampingan. Dan suatu ketakutan saya sebelum PTT adalah apakah saya dapat diterima masyarakat kelak? Saya sungguh bersyukur saya tak menemui masalah berarti ketika berelasi dengan penduduk dan staf Puskesmas. Di Puskesmas Menjalin ini, saya sendiri tak pernah konflik. Oleh staf Puskesmas, kami saling menghormati pekerjaan kami masing-masing. Saya bisa melakukan tugas medis saya sesuai dengan apa yang seharusnya. Tidak pernah saya merasa diperlakukan dengan tak hormat. Walaupun saya nakal, karena praktik tanpa jas snelli di Puskesmas, atau praktik dengan celana pendek di rumah dinas, saya tetap dapat dikenali sebagai "Pak Dokter".

Poli Umum dan Rawat Inap

Apa saja pekerjaan saya di Puskesmas? Yang jelas saya tidak memegang program khusus. Saya memegang tugas medis umum, poliklinik umum di rawat jalan, dan tugas medis di rawat inap. Terkadang saya pun ikut puskesmas keliling dan posyandu di desa-desa. Saya juga kasang-kadang mendapat tugas kunjungam ke rumah, karena masyarakat di sini masih terbiasa untuk didatangi oleh petugas.

Kursi Praktik saya di Poliklinik
Saya bersama Perawat Poli, Kak Nia dan Mak Dela

Ketika tengah tahun saya berjalan, Puskesmas Menjalin mendapat pergantian Kepala Puskesmas. Dr. Didy dari Puskesmas Karangan diangkat menjadi kepala puskesmas kami. Saya untungnya masih tetap diperkenankan menyelesaikan tugas saya di Menjalin sesuai dengan SK. Saya diminta untuk membenahi rawat inap oleh Dr. Didy. Hampir semua Puskesmas di Landak adalah Puskesmas perawatan kecuali di Ngabang, Sidas, Semata.

Memang, sebelumnya rawat inap Puskesmas tidak berjalan sebagaimana mestinya. Saat itu belum ada jadwal jaga yang bergantian, tidak ada pengelolaan alkes dan barang rawat inap, sehingga pasien masih do-re-mi dalam hitungan bulan. Jadi setiap ada tindakan malam, saya harus bersenter dulu untuk mencari barang, jika ada gawat darurat hanya dikerjakan oleh saya dan Bu Nia sebagai penghuni setia di kompleks Puskesmas.

Rawat Inap yang Dihidupkan
Pengaturan yang diharapkan optimal walau sederhana

Akhirnya saya pun memulai untuk merapikan jadwal dinas, merapikan alat-alat kesehatan, dispensing obat, dispensing alkes tambahan yang tidak diberi dinas tetapi diperlukan, mengelola ambulans, sampai mengelola keuangan rawat inap. Saya bersyukur dulu saya memahami sedikit soal manajemen ini dari apa yang saya lihat selama pendidikan di almamater saya, FK Atma Jaya. Saya menerapkan apa yang saya lihat. Dan perlahan-lahan, rawat inap ini hidup. Beberapa prosedur disesuaikan dengan rumah sakit, seperti cara kewaspadaan universal, pencatatan rekam medis (saya masih ingat dulu pasien pertama rawat inap saya, saya tuliskan di lembaran HVS!), pengaturan obat dan alkes, dan lainnya. Dan saya senang sekali, masyarakat mulai dapat menikmati hasil dari penghidupan kembali rawat inap ini yang siap sedia 24 jam. Apalagi pasien dari kecamatan tetangga, Kecamatan Toho, juga kian banyak, karena tidak adanya puskesmas perawatan dan belum adanya dokter yang tinggal di daerah setempat. Saya sungguh berharap, kelak rawat inap ini terus dapat berkembang dan maju sepeninggal saya.

Jalan-jalan ke desa
Plang Praktik Pribadi di Rumah Dinas

Keluarga

Ya, saya memiliki keluarga baru di Menjalin. Mulai dari staf-staf Puskesmas, dari yang tua sampai perawat magang yang lebih muda dari saya, kemudian keluarga Mak Uwi yang membuka warung di depan Puskesmas, pasien-pasien yang sering saya temui di Puskesmas maupun praktik pribadi. Sungguh banyak hal yang dibagi, bersenda gurau, selama 12 bulan ini. Hari-hari saya di Menjalin menjadi tak terasa dan dilewati dengan rasa senang. Suka dukanya begitu berkesan. Walaupun sebagai dokter umum di negeri ini banyak hal yang memusingkan kepala, namun saya merasa diperlakukan dengan baik sebagai dokter dan terutama sebagai diri saya sendiri di Menjalin ini.

Saya bersama Trio Macan (Eka, Nia, Ado), dan si kecil Cia

Suatu saat saya akan merindukan comblangan Pak Didy, tawa renyah Kak Osik dan Kak Hatenah, candaan sesama Sobat (baca: orang Tionghoa) dengan Kak Banyu, langganan kue Kak Sri, candaan dari Bang Martinus, panggilan "yukng" dari Bang Ryan, teriakan khas "Dokter Hauuu, ada pasien nih" dari Kak Dewi, dinas penuh tawa dari Trio Macan (Kak Nia, Kak Ado, Kak Eka), bercanda dengan Kak Emi, Kak Ola, Kak Rika, Kak Wila dan Kak Agnes, pertolongan tanpa pamrih saat padam lampu dari Bang Erick, perjalanan jauh merujuk pasien sampai berkantuk ria dengan Mas Pur, kiriman pasien aneh dari Takong dan teman jajan sore bersama Bang Agustinus serta Deckri, senandung melodi lagu lama dan teman misa dari Kak Nia (Karunia), petuah tak ternilai dari Mak Dela, suara khas Pak Mega, melihat nomor angkanya Om Saibu dan Bang Eko, "diskusi" dan petuah tiada ujung dengan Bang Ason, kalemnya Om Basri, mencicipi makanan Bu De Iin yang menjadi makanan sehari-hari selama PTT, langganan talok manok kampokng (telur ayam kampung) dari Bu Betty dari Sompak, es teh hangat dan indomie Mak Uwi, bermain dengan Cia dan Vino, anjingnya. Semua terangkai dalam memori saya selama di Menjalin. Ya, walapun mereka ada yang lebih muda dari saya, terutama yang perempuan saya kerap memanggil "Kak", kebiasaan saya sejak koas di Atma Jaya, tampaknya lebih nyaman untuk disapa.

Pengalaman Baru

Banyak hal baru yang saya dapatkan selama di Menjalin ini seperti mau tak mau menjemput pasien sendiri di tengah desa yang gelap, sendiri mengendarai ambulans yang kesulitan melewati jalan tanah yang becek, masuk ke desa sangat terpencil di Desa Re'es melewati jalan tikus, menikmati kebudayaan Dayak Kanayatn seperti dijamu saat Naik Dango, makan baconcok (semeja sekelompok) saat perkawinan staf, makan pulut, tumpi, lemang, dan bontokng. Saya pun dikenal sebagai dokter yang tak pandai bermotor, memang sungguh saya tak bisa menaiki motor. Dokter yang selalu membawa ambulans saat gereja, itulah saya.

Terus teramg saya sendiri hanya dua minggu sekali turun ke kota untuk menabung dan bertemu orang tua. Selebihnya saya sisakan hari-hari saya di Menjalin.

 

Dan kini saya memang tinggal menghitung hari di Menjalin, dan tetap saya berharap bahwa ini juga kelak ditutup dengan manis. Jarum jam pun terus berdetak.

 

Rabu, 20 Februari 2013

Hormati Surat Keterangan Sakit

Hari ini saya punya pengalaman yang cukup unik di Puskesmas, ketika seorang pria dewasa muda dan dengan penampakan sehat datang ke poliklinik Puskesmas dan berkata, "Dok saya ingin meminta surat keterangan sakit." "Siapa yang sakit?",tanya saya. "Saya." Saya langsung sedikit ragu dengan insting saya.

Dengan beberapa pembicaraan dia mengatakan bahwa dia demam kemarin dan ingin meminta surat keterangan sakit untuk ijin ke kantornya dengan alasan gaji bisa dipotong dan absensi terhitung alpa. Namun saya periksa saat ini baik-baik saja.

Terus terang, saya menolak. Pertama, saya tidak memeriksa dia saat sakit karena saya yang akan menandatanganinya. Kedua, saat ini sudah tidak sakit dan ia meminta surat dengan tanggal ke belakang, bukan tanggal hari ini.

Saya pun meminta maaf. Dia pun kemudian berkilah bahwa dulu-dulu toh bisa. Saya pun mengatakan, yang menandatangani adalah saya sekarang ini. Saya yang bertanggung jawab atas surat ini kelak.

Sampai suatu ketika tercetus katanya, "Dok saya minta capnya saja dan tak perlu tulis nama dokter." Saya dan Bu Yones, perawat di poliklinik pun emosi seketika. Saya mengatakan, saya tidak bisa dan tak mau ambil risiko karena semua ini kelak mambawa-bawa nama institusi Puskesmas kami yang tertera di kop. "Kok sekarang dipersulit sih." Saya menjawab, "Saya tak mempersulit Anda. Jika Anda periksa saat sakit pun surat bisa keluar kok." Walaupun dalam diri saya pun masih menyimpan ragu apa benar ia sakit.

Surat keterangan sakit sering dipandang sebelah mata walau nilai kepentingannya tinggi. Hal inilah yang sering disalahgunakan. Surat ini seringkali menjadi kartu sakti, dan alasan sakit menjadi alasan untuk membolos kerja, sampai menghindari diri dari pengadilan. Sungguh ia berkekuatan hukum! Makanya, saya tak pernah mau main-main soal surat ini. Apalagi surat ini sering diperjualbelikan di forum-forum di internet.

Sampai pasien itu berkata, "Di tempat lain kok bisa. Di sini tidak bisa?" Saya hanya menjawab, "Jika anda merasa di tempat lain bisa mengeluarkannya, silakan ke sana. Jangan ke kami. Ini aturan kami di sini."

 

Sungguh menyedihkan kalau melihat masyarakat masih memandang surat ini sebelah mata, dan mengira setiap diminta bisa langsung diberikan atau diperjualbelikan... Jika Anda merasa sakit dan merasa perlu keadaan ini dinilai oleh profesional medis atau tenaga kesehatan untuk dibuatkan surat keterangan, maka periksakan dengan segera. Jangan menunggu berlama-lama.

 

Rabu, 09 Januari 2013

Galau Jakarta dari Desa

Saya yakin inilah penyakit yang banyak diderita oleh para dokter-dokter PTT. Malarindu dan galaukoma (lebih dari galausopor!). Sungguh.

Bagaimana hidup sendiri, terutama untuk yang belum menikah, nan jauh ratusan kilometer dari keluarga, awalnya pasti merongrong hati. Namun seiiring perjalanan waktu, perasaan sudah mulai biasa saja, maka bisa saja dilalui.

Namun (lagi-lagi namun) hal itu bisa rekurensi lagi ke pikiran superfisial kita ketika masa galau. Ya, masa-masa galau tidak jarang timbul di desa, di kala mau tak mau terpikirkan. Sebut saja, masa kalau mati lampu. Apalagi kalau hanya dokter, rumah dinas yang gelap ditemani lampu emergency yang kian meredup. Sungguh galau bukan!

Kedua, memandangi lautan bintang di langit sambil duduk di teras rumah dinas...

Ketiga, memandangi halaman rumah dinas sambil mencium bau rumput basah setelah hujan datang...

Keempat, pikiran kosong saat 30 menit menunggu rendaman pakaian kotor yang tengah direndam di waskom. Aaarghh...!

Sungguh banyak waktu galau dokter PTT. Di tengah galau, pasti banyak yang terekskresi keluar dari pikiran. Entah bagaimana nyak-babe di rumah, bagaimana adik saya bisa menyelesaikan skripsi saya... Dan tak pelak, sungguh, saya rindu Jakarta. Saya rindu untuk berpetualang dengan busway, menjelajah Kota Tua, berburu buku baru dan bekas, menikmati kesendirian di Sushi Tei dan Sushi Groove *loh*. Saya rindu "polusi" Jakarta, di kala semua tampaknya enggan ke Jakarta.

Kini waktuku di Menjalin sudah berderik-derik. Kurang dari 100 hari. Aku mencium bau Jakarta, aku mencium bau petualangan... Namun, bisakah kelak. Aku pun kembali menikmati lautan bintang dan berharap ada bintang yang jatuh.

Menjalin, 9 Januari 2013.

 

 

Minggu, 06 Januari 2013

Dokter Suntik Saya Dong!

"Dokter, saya mau disuntik vitamin."

"Tidak disuntik saja dok?"

"Pak Dokter, saya mau basuntik."

Kata-kata ini entah mungkin ribuan kali telah saya dengar selama saya bertugas di Menjalin 10 bulan ini. Semua orang minta disuntik, kecuali anak-anak tentunya. Apalagi kalau pasien Anda berusia 50 tahun ke atas. Hanya sedikit saja yang takut disuntik. Masyarakat di sana mempercayai bahwa suntikan adalah keris sakti mandraguna yang bisa mengenyahkan semua penyakit. Bahkan suntik dirasakan lebih manjur dari tablet obat apapun. Apapun sakitnya, minumnya, eh, obatnya disuntik!

 

Saya termasuk yang memegang teguh apa yang saya percayai selama di bangku kuliah. Saya "anti" terhadap pemberian suntikan yang tak perlu. Pertama, yang menjadi pegangan saya, suntikan mempertinggi risiko terjadinya renjatan atau syok. Kedua, saya tak ingin memberi obat yang sia-sia berdasarkan evidence based medicine. Yang kedua ini misalnya, demam typhoid yang obatnya antibiotika, tapi saya berikan suntikan kobalamin yang merah jingga merona, tentu menjadi kekeliruan terbesar abad ini. Ketiga, untuk pasien rawat jalan, obat suntikan secara farmakologis memiliki pengaruh lebih cepat habis masa kerjanya dibandingkan kalau terapi oral secara berkesinambungan.

Sayang beribu sayang, dalam kedokteran dikenal juga namanya pengobatan yang dipengaruhi oleh sugestif. Secara psikis bisa merangsang proses tertentu dalam tubuh dan memberi efek kesembuhan. Misalnya ada nenek-nenek yang merasa pegal-pegal, lalu disuntik anggaplah plasebo, maka bisa saja nenek ini merasakan efek kesembuhannya dibandingkan tidak diberi sama sekali.

Saya berpikir, apakah hal ini bisa dikurangi? Memang sambil mengikuti waktu, bisa, karena meningat masyarakat generasi baru (baca:anak dari pasien yang menyenangi suntikan) biasanya lebih menyukai terapi oral dibandingkan suntikan. Tapi sampai kapan? Edukasi ini pun bukan edukasi yang mudah, mengingat masih banyak tenaga kesehatan dan acara-acara tertentu seperti baksos yang masih menganggap suntikan sebagai sang primadona. Dan memang di desa faktanya, dengan memberi suntikan biasanya orang lebih rela membayar lebih dibandingkan setumpuk blister tablet obat.

Terkadang saya pun menghadapi dilema. Misalnya ada pasien yang datang dari jauh lalu meminta disuntik. Antara idealisme menolak dan proyeksi "Ya sudahlah, kasihan datang dari jauh." menjadi saling berkecamuk. Saya pun sendiri pernah "diomeli" pasien karena tidak disuntik. Ya, memang mengubah suatu kebiasaan perlu waktu. Apalagi kalau masyarakatnya begitu banyak.

Jadi, saya pun berusaha untuk menjelaskan bahwa pengaruh suntikan seperti ini-ini-ini sesuai dengan kedokteran berbasis bukti. Dam akhirnya masyarakat pun mungkin mengenal saya, "Kalau ke dokter nggak akan disuntik." Duh!

 

Kamis, 06 Desember 2012

Sulitnya Merujuk Pasien

Pernahkah kita bayangkan hal ini terjadi pada kita? Ketika kita ingin mendapatkan pelayanan bedah harus menempuh jarak ratusan kilometer, memikirkan biaya-biaya, dan lainnya? Mungkin kita sendiri ketika hanya batuk pilek bisa dengan leluasanya mencari pelayanan medis sekunder yaitu dokter spesialis -walaupun ini keliru-. Tapi bagi masyarakat desa, hal ini terkadang amat sulit.

Inilah yang saya rasakan. Hari ini saya menerima pasien anak laki-laki, 1 tahun, dengan diagnosis kerja hernia inguinalis dextra reponibilis. Dari saya menerima pasin pada pukul 18:00 sore. Pada akhirnya pasien pulang ke rumah pada pukul 20:00. Banyak hal yang mewarnai. Padahal tujuannya hanya satu, bagaimana anak itu dirujuk ke rumah sakit di Pontianak untuk mendapat pelayanan dokter bedah.

Mobil Pusling yang juga dipakai sebagai ambulans
Banyak hal yang saya alami yang seringkali menjadi hambatan dalam proses merujuk. Padahal, dalam keadaan medi, terutama keadaan gawat darurat, waktu adalah nyawa.

  1. Sulitnya biaya. Masalah ini klasik dari Sabang sampai Merauke. Sistem penjaminan kesehatan di negeri ini yang carut marut. Jamkesmas memang menjadi cara namun proses klaim yang berbelit. Pasien saya yang masih bayi, masih belum ada penjaminan Jamkesmas sehingga tidak bisa mendapat pembiayaan ini. Jamkesda, untuk daerah saya, mandek di tengah jalan. Uang pribadi pun sudah bisa dihitung, berapa persen dan seberapa banyak dapat mengguncang ekonomi keluarga.
  2. Masalah jarak. Untuk daerah saya Menjalin, sebenarnya relatif dekat dengan ibukota kabupaten tetangga, Mempawah, dan bahkan ibukota propinsi. Ini memang bisa menjadi suatu keuntungan bagi daerah ini, namun bagaimana dengan daerah yang lebih pedalaman di dusun atau desa nan jauh?
  3. Masalah keluarga. Ketika mau merujuk biasanya bagi warga kecamatan saya, perlu mengumpulkan dulu keluarga besar mereka dari kakek sampai om sang pasien. Dan tak jarang juga harus menunggu dulu kedatangan mereka dari tempat yang jauh, sementara jarum jam terus berderit.
  4. Masalah kebiasaan dan kepercayaan. Saya sebagai tenaga medis, memang seringkali mendapat masalah pasien di ranah kesehatan tradisional. Biasanya mereka mencoba mencari pertolongan dari dukun baik dukun dalam arti dengan kekuatan ilmu gaib sampai dukun klinisi seperti dukun tulang atau dukun beranak.
  5. Transportasi. Hal ini tak menjadi masalah di puskesmas saya, karena sudah ada mobil puskesmas keliling yang disulap untuk membawa pasien. Supir dan tenaga medis serta paramedis siap berjaga kapanpun.
Walau demikian, keluarga pasien harus, kalau bisa, tetap dilayani dengan senyum (lebih tepat: tabah) apapun keputusan mereka. Kami, sebagai tenaga medis, menjelaskan dan memberi informasi sebaik-baiknya demi kebaikan pasien dan memang keputusan tetap di keluarga pasien.

 

Dan dalam kisah awal saya tadi, dua jam tersebut saya habiskan untuk menjelaskan dengan tabah dan sukarela kepada orang-orang yang dianggap pemberi keputusan dan menunggu kepastian keputusan dari keluarga pasien.

 

Selasa, 27 November 2012

Mohon Perhatikan Kesejahteraan Dokter Umum

Walaupun saya dokter desa, saya sendiri berusaha untuk tetap memperbaharui berita-berita di luar. Saya pun tiap malam tak pernah absen menyimak kanal PemprovDKI yang mengunggah video-video kegiatan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Ada satu hal yang cukup menyentil saya, dalam video yang membahas pengupahan supir bus sedang dan bus TransJakarta, Wagub Basuki T. Purnama mengatakan mereka digaji masing-masing 2x dan 3,5x UMP alias Upah Minimum Propinsi DKI yang berjumlah 2,2 juta sekian rupiah Menurut Wagub gaji itu layak karena mereka bekerja dengan risiko besar, tanggung jawab besar, membawa nyawa penumpang dan lainnya. Mereka pun diatur setelah beberapa rit harus beristirahat.

Saya di Simpang Nyawan, Desa Nangka, Menjalin
 

Mengenaskan bila dibandingkan dengan Dokter, terutama Dokter Umum. Mengenaskan, sungguh.

Saya, seorang dokter umum PTT yang ditempatkan di kawasan terpencil di Kalimantan Barat. Saya digaji dengan gaji pokok sekitar 1,7 juta rupiah (setelah potong PPh dan askes) dan insentif terpencil 3 jutaan dengan total gaji 5,365jt dan dipotong PPh dan biaya askes menjadi 4,85jt/bulan.

Kalau dibandingkan kategori Biasa (misalnya DKI Jakarta dan sebagian besar kota kecamatan), hanya dibayarkan gaji pokok tanpa insentif.

Cukupkah? Ini tentu tergantung medan masing-masing. Medan saya di Kalimantan tentu berbeda dengan Papua atau NTT. Biaya transportasi dan hidup pun berbeda. Konon ada yang perlu merogoh jutaan rupiah untuk sekedar ke kabupaten. Bagaimana pula jika ada dokter yang memboyong anak isterinya ke tempat tugas?

Walau demikian kami pun tak harus hilang akal. Saya sendiri pun bersyukur masih bisa praktik luar jam dinas sehingga menambah sedikit penghasilan, daripada menunggu gaji yang tak tentu ini. Ada juga yang sampai bercocok tanam dan mendapat buah tangan dari warga sekitar. Saya sendiri mendapat gaji pertama di akhir bulan kedua. Untuk mengambil gaji pun harus ke kecamatan terdekat yang memiliki Bank BRI.

Kini kami dihadapkan lagi engan situasi sebagai dokter PTT, selama triwulan IV 2012 ditunda pembayaran insentifnya. Tak terbayangkan sejawat kami yang bekerja di Papua dengan 1,7jt per bulannya. Cukupkah?

Tak hanya PTT, dokter di Jakarta yang kebanyakan bekerja banting tulang di klinik 24 jam pun demikian. Rata-rata bergaji di bawah 200rb per hari dengan 24 jam standby di klinik. Jika satu minggu bekerja 48 jam maka dokter jaga 24 jam hanya 2 hari saja bekerja? Bahkan jika ditotalkan pun hanya menyerempet sedikit atau bahkan tak sampai pada batas UMP.

Jika buruh mendemo adalah hal biasa. Bagaimana jika dokter mendemo? Pasien bisa saja terlantar dan kami bisa dicap tak manusiawi. Namun kami pun harus dapat memperjuangkan haknya agar menjadi warganegara yang setara haknya.

Buruh mendemokan upahnya adalah hal biasa. Dokter jika berdemo mungkin dianggap luar biasa. Mungkin dokter sudah dianggap mampu bak pengusaha konglomerat. Namun saya ingin membukakan mata kita bahwa kesejahteraan dokter, terutama dokter umum, perlu diperhatikan dengan serius.

Jadi, kapan?

Bagaimana pendapat Anda, sudahkah dokter sejahtera?

 

Jumat, 23 November 2012

Ya Inilah Risiko Seorang Dokter

Ada suatu hal yang ingin saya bagi. Suatu hal unik yang menyentil hati nurani saya sebagai dokter.

Suatu saat, saya mengabari ibunda saya, seorang ibu rumah tangga. Saya mengatakan maaf baru membala pesan singkatnya karena saya baru saja dipanggil ke rumah warga. Ya, mungkin karena insting ibu-ibu, ia menanyakan setiap detail.

Saya mengatakan bahwa saya melakukan resusitasi jantung paru pada pasien yang diduga terkena serangan jantung dan stroke. Ketika saya di sana, saya merasa masih bisa meraba sedikit nadi pasien tersebut dan akhirnya saya melakukan resusitasi itu hingga saya melihat bahwa pasien telah tak dapat diselamatkan lagi dan saya nyatakan pasien meninggal.

Ibu bertanya lagi detail bagaimana saya melakukan resusitasi tersebut. Saya mengatakan menekan-nekan dan memberi bantuan nafas kepada pasien. Ia bertanya apakah mulut ke mulut, saya mengatakan kebetulan saya membawa masker udara dari pelatihan ACLS dahulu. Saya tak membuat bantuan mulut ke mulut langsung.

Hingga suatu saat yang membuat saya gerah, bahwa kata ibunda, janganlah terlalu 'idealistis' menjadi seorang dokter, tak perlu katanya memberi bantuan nafas, "cukup pompa-pompa saja". Memang maksudnya baik, bahwa saya takut tertular penyakit dari "nafas" itu. Di kala dokter mempertahankan idealismenya dan menghindari malpraktik, nurani saya teriris perih.

Saya mencoba memberikan beberapa argumen pada ibunda:

  1. Apa yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, selalu memperhatikan kewaspadaan universal, bahwa mengondisikan atau memperhatikan sekitarnya agar dirinya tetap terhindar dari hal yang seharusnya dapat dihindari.
  2. Terkena penyakit memang risiko dokter dan tenaga kesehatan, namun seperti poin 1 bahwa kewaspadaan universal tetap dilakukan. Bagi saya, jika, umpamanya, suatu ketika saya dihadiahkan penyakit yang tertular karena kontak saya dengan pasien, saya tidak akan mempersalahkan siapa-siapa atau menyesalinya. Ya, memang itulah risiko saya sebagai dokter. Orang yang mencari dokter, adalah orang-orang yang memang sakit. Dan inilah klien dokter. Begitu pula bahwa profesi lain memiliki risiko-risikonya sendiri.
  3. Melakukan hal yang melemahkan pasien dengan mencoba melindungi diri secara berlebihan adalah hal yang sungguh keliru. Misalnya ada pasien yang perlu resusitasi, memberi nafas buatan, tetapi dalam diri Anda percaya sekali bahwa saya malah akan mendapat hawa nafasnya dan akan merugikan saya. Padahal sesuai ilmu yang sudah diamini, dengan hembusan nafas Anda, suatu rencana Pencipta bisa saja terjadi. Saya mengingat kembali ketika membantu bayi P, dimana saya dengan refleks memberi nafas mulut ke mulut. Dan suatu kebanggaan diri bagi saya ketika bayi P ini datang ke poli saya dan mengobati batuk pileknya. Saya sempat tercetus bahwa jika saja bayi biru itu tak saya beri nafas, apa mungkin dia kini bisa tumbuh baik. Bagi saya, sudah sangat cukup jika diri saya ini mampu berguna bagi mereka yang memerlukan saya, khususnya saya sebagai dokter.
  4. Coba kita memposisikan diri kita sebagai keluarga pasien. Bagaimana perasaan kita bila asa saudara kita yang sekarat yang memerlukan pertolongan kegawatdaruratan tapi dokternya memberi dengan setengah hati? Apakah hati kita tak sakit dibuatnya?
  5. Saya mengatakan bahwa saya adalah dokter desa, dokter dengan segala keterbatasannya. Ketika saya dalam keadaan tak membawa ambu bag, apakah saya boleh meniadakan bantuan nafas karena saya takut atau jijik dengan bantuan mulut ke mulut? Kalau saya memiliki fasilitas yang lengkap, maka tentu tidak demikian. Namun saya juga tak boleh menggerutu di balik ini, apapun itu saya tetap harus mencoba apa yang saya bisa untuk kebaikan pasien. Saya mempercayai satu hal, bahwa memang dalam keterbatasan mungkin tak sebaik yang lengkap, namun apapun itu seberkas cahaya tetap ada. Cahaya itu tetap ada dan dokter di dalam berkat Yang Kuasa, memberikan hal yang terbaik yang dapat diberikan.
Saya memang dokter yang idealis. Idealisme saya dan Anda mungkin berbeda. Mari kita kejar idealis dan harapan kita masing-masing. Dan inilah jalan hidup kita. Saya pun mengerti kecemasan dan kekhawatiran orang tua saya. Saya mencoba menjelaskan dunia profesi saya, yang mungkin asing bagi mereka.

 

*Dituliskan di Menjalin.

 

Sabtu, 01 September 2012

Baby Paskalis, You Have Grown Up!

Sepenggal kisah ini pernah dituturkan di Renungan PTT Bulan Kedua
Menjalin, 31 Juni 2012

Masih segar diingatan saya. Saya meresusitasi bayi dengan segala kengerian adrenalin saya. Ketika mendapatkan persalinan dengan bayi yang tidak sehat. Tidak menangis. Biru. Badannya penuh mekonium. Dipikiran saya sudah melayang-layang, "Matilah. Aspirasi mekonium. Bayi jelek (istilah umum oleh tenaga kesehatan terhadap keadaan kesehatan yang buruk)."

Ketika bayi itu lahir, bayi itu langsung dibawa bidan ke hadapan saya. Jika bisa ada pintu Doraemon, mungkin rasanya saya mau kabur. Namun Tuhan memberikan bayi ini di hadapan saya...

Bayi ini tak menangis dihadapan saya. Membiru. Dan sungguh mengerikan -lagi saya tekankan-, mengerikan, jika saya harus mengingat bagaimana detak jantung saya berpacu. Jika ada cermin, mungkin wajah saya pucat.

Bidan tersebut dan perawat asisten, mulai membersihkan badannya, mengelap. Dan saya pun harus mengingat lagi algoritma resusitasi neonatus. Mungkin memang di dalamnya saya melupakan sedikit standar. Ketika saya menilai detak jantung yang lemah dan kebiruan, saya mulai mencari-cari kantung ambu untuk membantu pernapasan. Namun tak ada lagi waktu mencarinya. Semua harus diselesaikan dalam hitungan detik.

Ibunya berteriak, "Dokter selamatkan anak saya..." Saya ingin menjawab, "Ibu saya bukan Tuhan." Namun, saya hanya berpasrah, "Fiat voluntas tua. Thy will be done."

Saya diberi kassa oleh bidan, dan saya lakukan resusitasi bayi mulut ke mulut. Saya mungkin tak berpikir lagi, badan bayi itu kotor karena mekoniumnya. Saya hanya berpikir bahwa saya harus coba untuk membantunya.

Beberapa siklus tak ada hasil. Namun kami terus mencoba memberi rangsangan sentuhan padanya, dan yang akhirnya kami tunggu. Bayi itu menangis.

Saya pun bersyukur sekali, bahwa bayi tersebut selamat. Sungguh tak bernilai melihat sang bayi menangis dan sang ibu tersenyum bersyukur. Akhirnya saya pun meminta untuk merujuk bayi itu segera ke rumah sakit di kabupaten tetangga (karena ibukota kabupaten setempat lebih jauh). Dan saya pun mengikuti dan membantu merujuknya sampai ke RSUD Kabupaten Pontianak.

____

Setelah beberapa lama saya hanya mendengar kabarnya, bahwa ia dirujuk lagi ke RS Antonius Pontianak di ibukota propinsi. Menurut kabar ia cukup lama dirawat di ruangan perinatologi.

Kurang dari 2 bulan kemudian sang ibu datang ke poliklinik Puskesmas. Ia membawa sang bayi itu. Katanya, "Namanya Paskalis, Dok. Kata dokter ia memang ada sedikit gangguan. Namun Puji Tuhan sehat." Bayi tersebut dapat menyusu dan tumbuh dengan baik.

_____

Menjalin, 1 September 2012

Sampai tadi ia dibawa berobat ke praktik pribadi saya, ia terkena batuk pilek kemarin. Melihatnya saya sangat senang. Terheran dan rasa tak percaya timbul dalam diri saya. Inilah bayi yang sempat membuat jantung saya berdetak hebat. Bayi ini pula yang mendapat "ciuman" pertama saya.

Dan kemudian saya pun mengambil fotonya, untuk menjadi suatu kenangan di hari mendatang.

You have grown up!

Bayi Paskalis, 3 bulan 1 hari, ketika datang berobat di praktik pribadi.

Senin, 27 Agustus 2012

Semilir Angin Manyalitn


Kala pagi, mentari hendak beranjak
Aku menikmati angin
Angin nan semilir
Melewati segala muka kulitku
Beri kesejukan damai tak berbalas

Angin nan semilir
Angin bersumber dari tenangnya Samabue
Gagah kokoh tak bergeming

Angin nan semilir
Padi hijau menguning bergayung sambut
Berbuah berbulir tak berangkuh

Tanpa deru riuh rintihan kota
Ku nikmati semilir angin Manyalitn
Melepas lelah tak berbeban

Menjalin, 24 Agustus 2012

Pemandangan Desa Lamoanak, Menjalin

Minggu, 19 Agustus 2012

Tujuh Belasan di Menjalin


Tujuh belas Agustusan kali ini terasa berbeda. Pertama, karena tempatnya di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, tempat saya bekerja. Kedua, karena untuk pertama kalinya sejak mungkin tujuh tahun lalu saya terakhir upacara bendera saat di Kanisius dulu. Ketiga, saya pertama kalinya upacara dengan duduk santai di tribun undangan. Hehehe....

Sebelumnya saya sudah diwanti-wanti oleh Kepala Puskesmas, dr. Didi bahwa upacara 17an harus diikuti, apalagi beliaulah ketua panitia 17an di Kecamatan Menjalin. Saya pun sudah bersiap-siap dengan batik puskesmas (soalnya tidak ada baju  dinas :P) dan saya sempat mencari-cari celana kain hitam. Ternyata oh ternyata tertinggal di Pontianak. Pada akhirnyalah, saya berupacara dengan blue jeans. :D  

Sambil membawa mobil ambulans untuk siaga kalau ada yang perlu dirujuk ke Puskesmas, saya pergi ke lapangan Seboro, lapangan rumah adat dan lapangan bola di Kecamatan Menjalin. Saya pikir saya akan berdiri di belakang barisan PNS. Ternyata saya disuruh untuk duduk di tribun undangan, dan tidak tanggung-tanggung, di tribun terdepan. Satu baris dengan Pak Camat, Kapolsek, Komandan Kodim, dan para isterinya. Saya sudah kepalang kagok, dan yang membuat saya senang adalah pandangan saya ke depan, dimana terlihat barisan siswa dan PNS yang bejejer di depan. Ya ampun, selama ini saya yang berdiri di depan, ternyata bisa juga duduk manis di tribun dan tidak kena terik matahari.    

View lapangan

Saya (berbaju merah), bersama Pak Camat (Pak Theotimus), Pak Kapolsek, Kepala Desa, Kepala Puskesmas dan Staf Polsek Menjalin

Kalau mengenang upacara ini, saya memang tidak asing soal upacara. Saya sejak TK di Immanuel, saya menjadi komandan upacara. Ketika di SD Suster, "kasta" menurun dulu dari pembaca doa, dan pernah juga menjadi pembaca susunan acara upacara. Di SMP Suster saya menjadi tim rekorder pengiring mengheningkan cipta dan di kelas III menjadi komandan upacara. Saya masih ingat, tim kelas kami IIIA SMP dulu kelas kami menjadi kelas terbaik dalam lomba upacara dan saya menjadi komandan upacara terbaik. Senangnya!  

Upacara memang selayaknya diikuti untuk mempertinggi kecintaan terhadap negeri ini. Tapi jangan contohi saya yang sudah tujuh tahun tidak upacara bendera hehehehe.... 

Selasa, 10 Juli 2012

Balada Air PTT

Suatu hari itu saya ingin mandi pagi. Ketika sampai di WC rumah dinas, saya melihat bak tinggal sepertiga. Saatnya mengisi air, pikir saya. Saya pun mencolok mesin pompa air yang ada. Namun air tak ada setetes pun yang keluar. #kemudianhening.

Saya tak menyangka bahwa suatu saat saya akan merasakan yang namanya kekurangan air. Ya, saya masih ingat dulu sekali, mungkin 11-12 tahun lalu ketika saya belum beranjak ke Jakarta dan masih menetap di Pontianak. Saat itu aliran PDAM mati, dan ayah saya pun mau tak mau beli air jerigenan. Saya masih ingat, saya mandi dengan berdiri di atas waskom. Ya, air bekas bilasan mandi ini akan digunakan lagi untuk membilas BAB atau BAK di kloset. Efisiensi, katanya ayah.

Dan saat ini, di Bumi Samabue, Menjalin. Saya pun merasakannya lagi. Saya seperti buaya di game Where's My Water? yang "nangis" karena tidak ada air. Tentunya saya tak menangis secara harafiah. Namun otak saya pun berteriak, saya mau mandi dan cuci dengan apa nanti?

Di Bumi Samabue, musim hujan sepertinya sudah mulai berlalu dan frekuensi hujan mulai berkurang. Jika kemarau tiba, konon kata Perawat, adalah masalah bagi rumah dinas dokter. Ya, rumah dinas dokter hanya memiliki sumur dangkal, bukan sumur air tanah yang dalam. Jadi, sumur ini mau tak mau bergantung dengan air hujan yang turun.

Nampung air!


Air ini memang saya gunakan untuk MCK (mandi, cuci, kakus). Untuk air minum, saya berlangganan air galonan dari perawat yang membuka usaha air galonan (konon, airnya dari mata air gunung di Anjongan). Ketika air tak ada, saya harus berpikir keras mana yang harus diprioritaskan. Saya mungkin saja tak mandi, kalau menurut saya badan tidak bau-bau amat. :D Kalau masalah kakus sepertinya tidak bisa ditawar karena menahan BAB adalah derita terberat di dunia. Hehehehe XD. Untuk cuci memang menggunakan air yang cukup banyak apalagi kalau cucian baju sangat banyak. Biasalah, saya menumpuk baju, sampai tampak persediaan baju bersih sudah tak cukup baru akan dicuci.

Air hujan adalah rejeki bagi saya, dokter PTT di Menjalin. Saatnya saya menampung air hujan yang menetes dari atap dan berharap-harap sumur saya nan dangkal itu terisi sebanyak-banyaknya. Saya pun mengamati setiap tetes air yang jatuh dari atap rumah. Mungkin, saya berkilah dalam hati, ini pengalaman bagi saya juga untuk dapat menghargai setiap tetes air yang ada.

Saya memang memikirkan apakah saya sebaiknya membuat penampungan hujan, tapi setelah menghitung cost-nya, saya tinggal 8 bulan lagi. Ya, saya memutuskan untuk menikmati "derita" ini. Toh, kalau hidup saya mulus-mulus saja di PTT ini, nanti tidak ada kisah yang bisa saya bagikan di blog ini dan untuk anak cucu saya kelak.

Dituliskan di Rumah Dinas Dokter Puskesmas Menjalin. Selasa, 10 Juli 2012. 15:30 WIB.
Di saat sore dengan hujan yang hanya rintik-rintik saja X(

Rabu, 04 Juli 2012

Renungan PTT Bulan Ke-3: Biaya Jasa Konsultasi Dokter yang Terlupakan

Siapa yang di dunia ini tidak mau tidak dihargai? Tentu semua orang mau untuk dihargai selayaknya dan sewajarnya. Menghargai adalah suatu keinginan dari semua manusia. Penghargaan adalah suatu keinginan tertinggi, bahkan suatu bentuk aktualisasi diri, yang menjadi puncak dari kebutuhan manusia menurut Teori Maslow.



Saya sebagai dokter pun ingin dihargai selayaknya kami dihargai. Saya menghargai Anda, Anda pun menghargai saya. Suatu hal yang sudah tercantum erat dalam aturan emas.

Tulisan ini berawal dan tercetus dari pengalaman tadi siang bahwa ada pasien yang menghitung-hitung harga obat satu per satu karena menurutnya biaya berobatnya mahal. Ia tidak menghitung sesuatu yang disebut biaya konsultasi atau biaya jasa dokter. Pelayanan medis bukanlah pelayanan farmasi semata. Memang, jika dibalik, pelayanan farmasi adalah salah satu bagian pelayanan medis.

Dokter di desa-desa seperti saya ini memang tidak memiliki apotik, sehingga saya perlu menyediakan obat yang saya anggap perlu untuk pasien saya. Tak jarang saya juga harus mencari kesana kemari di kota untuk obat yang tidak ada pada distributor. Saya pun mencari obat yang kami anggap optimal bagi pasien, karena saya pun harus memikirkan bagaimana kantong pasien di desa. Kalau saya memilih bersikap tak mau tahu, tentu obat bermerek yang nilainya hingga ratusan ribu rupiah mungkin bisa saja saya bebankan. Namun semuanya diperhitungkan sedemikian rupa hingga semua pun baik bagi pasien dan juga tentu baik bagi saya.

Memang dalam renungan saya sebelumnya, bahwa saya memiliki pikiran apakah biaya yang saya bebankan menambah sekali derita pasien. Namun di satu sisi, saya pun harus memikirkan isi dapur dan masa depan saya. (Anak istrinya saya mau makan apa nanti?) Saya pun mendapat ilham generalisasi bahwa semua hal di dunia ini perlu sedikit surplus bagi siapapun yang menjalani usahanya. Kalau tidak dia mau makan apa? Tentu dalam penentuan surplus tidaknya ini harus mempertimbangkan banyak hal, jangan sampai keterlaluan. Lagi-lagi sewajarnya. Sesuai dengan teori analisis transaksional Thomas Harris: I'm OK, you're OK.

Sembari menulis ini saya mengingat kembali kata-kata dari guru saya, dr. Djoko T. Basuki Sp.OG, bahwa, "Kamu harus PTT, untuk mendewasakan diri kamu sebagai dokter." Ya, saya setuju. Setidaknya inilah yang berkecamuk dan berbaur dalam pikiran saya, segala idealisme saya dipadukan dengan apa yang terjadi dalam masyarakat, membentuk sesuatu hal yang disebut realitas kehidupan seorang dokter.

Selamat datang dalam rimba raya kedokteran.

Senin, 18 Juni 2012

Pasca Pusling Amawakng: Hargailah Pasien

Hari ini sungguh luar biasa. Saya mendapatkan sesuatu yang berbeda hari ini. Saya tidak hanya menjaga kandang di poliklinik umum, tapi melakukan puskesmas keliling. Hari ini saya diajak Bang Agustinus, seorang perawat di Puskesmas Menjalin bersama Kak Fina, bidan di polindes Re'es. Ya, hari ini saya pergi ke desa Re'es, tepatnya dusun Amawakng.

Desa Re'es adalah salah satu desa di Menjalin yang berada di sebelah barat yang lebih cepat dijangkau kalau melalui jalan dari Gunseng, Toho, dibandingkan harus melalui simpang Raba di Menjalin.

Desa Re'es yang dilingkar di sebelah kiri. Yang dilingkar di tengah adalah Dusun Sungai Bandung, temapat Puskesmas Menjalin.



Saya sudah diberi wanti-wanti bahwa perjalanan mungkin tidak akan seluwes biasa bahkan menuju Baweng, Lamoanak di arah timur. Namun hal ini terus terang malah membuat saya kian penasaran.

Setelah saya bersiap-siap obat dan lainnya. Rasa penasaran saya semakin memuncak. Tiba Bang Agus datang untuk mengambil vaksin dan menjemput saya di Puskesmas. Perjalanan memang lurus-lurus saja dan lancar sampai di suatu simpang di Gunseng.

Kami masuk melalui jalan tanah. Untung saja hari itu kering dan tidak hujan kemarin. Kalau tidak mungkin jalan menjadi becek dan bisa dibayangkan kalau dilalui motor. Pastinya ajubileh. Perjalanan ini melalui medan yang beragam, dari jalan setapak, jalan dimana motor harus meniti kayu, melewati jembatan gantung, melalui jalan kecil yang mana kiri kanan hutan, melalui jalan lebar kebun sawit, jalan tanah dengan tanjakan yang aduhai, dan jalan becek dimana saya harus turun. Sungguh bermacam-macam. Dan baru akhirnya kami tiba di Re'es dan kemudian ke arah Amawakng untuk posyandu dan puskesmas keliling di rumah ibu dusun Amawakng. Saya sangat senang bahwa warga cukup antusias, dokter masuk ke dusun. Saya juga senang berinteraksi dengan mereka.

Tiba di Polindes Re'es. Lanjut lagi ke dusun...

Dan hal ini membuat saya berefleksi sejenak. Jikalau saya sendiri merasa kesulitan melalui jalan ini, bagaimana dengan warga sekitar di sini. Bagaimana dengan warga yang lebih pedalaman lagi? Saya sendiri juga sering mendapat pasien dari Re'es. Bagaimana tidak membayangkan perjuangan mereka ke  Puskesmas Menjalin di tepi jalan raya. Tentu mereka memiliki ekspektasi besar terhadap masalah mereka. Namun kadang-kadang sebagai dokter, kita juga terlena dengan rasa mood dan suasana hati, dan kadang pasien juga "menjadi korban". Mungkin suasana hati tak senang, pasien kita ketuskan. Namun dengan perjalanan ini saya sadar, bahwa dengan keadaan sakit mereka, mereka harus lagi berjalan pulang pergi melalui jalan yang tak hanya bisa dilewati tanpa rasa legowo dan kekuatan ekstra.

Jembatan gantung
Dan kadang kita pun harus berputar otak bagaimana menangani pasien dari pedalaman secara optimal. Kita tidak akan pernah mudah mengatakan, "kontrol lagi ya nanti". Seberapa besar effort yang harus mereka lakukan. Mereka ke Puskesmas bukan dengan kendaraan jalan tol, tetapi dengan motor dengan jalan yang rusak, dan tak jarang juga dengan kaki mereka sendiri.

Memang di satu sisi, terbatas ini terbatas itu. Tetapi dengan keterbatasan kita tidak boleh melalaikan harkat martabat manusia dan juga pelayanan yang optimal.

*Dituliskan di siang hari nan panas. Bokong dan punggung masih terasa sakit setelah berbonceng motor dengan Bang Agus. Namun hati senang. :)

Sabtu, 16 Juni 2012

Udah Pane Bahasa Diri', Pak Dokter?

Kisah ini dimulai malam kemarin, ketika saya menjelang terlelap setelah bermain dengan iPad, saya mendengar tiba-tiba pintu rumah diketuk-ketuk. Ternyata ada orang ramai di luar rumah, tak pelak saya pun terkejut. Ada pun kata pertama yang terlontar di mulut saya, "Sae nang sakit? Ada urakng jantu'?". (Siapa yang sakit? Ada orang jatuh?) Laki-laki di depan pun menjawab, "Inak pak. Ada bayi kami nanak mao nangis satalah melahirkan barusan.". "Au pak. Tama' pak." (Ya pak, silakan masuk.)

Meja Praktik di Puskesmas :)


Dan tiba-tiba orang di sebelahnya bercetus, "Orang dayak-kah Pak Dokter? Kenapa bisa bahasa kami?". "Inak. Saya orang sobat (Istilah tionghoa dalam Dayak Kanayatn)." "Wah, udah pane bahasa diri' ya Pak Dokter?" (Sudah pandai bahasa kita ya Pak Dokter?) "Saya sudah 2 bulan di sini, sudah belajar sedikit-sedikit." Saya pun tersenyum simpul.

Saya pun menjadi tersadar akan suatu kelebihan yang saya miliki, belajar bahasa. Memang saya pun senang untuk belajar bahasa. Mungkin suatu hal yang paradoksal juga dengan saya yang cenderung introvert, hahaha. Namun saya semakin yakin ini bisa menjadi suatu plus bagi saya.

Penduduk yang kaget dengan saya yang berbahasa Dayak ini, bukan satu kali ini saja. Banyak yang bingung kalau saya berbahasa lokal. Hipotesa saya, rata-rata dokter PTT di Menjalin berasal dari luar Kalimantan Barat. Namun sebenarnya tidak juga, saya baru mengenal bahasa Dayak Kanayatn ini ketika saya bertugas di Menjalin.

Sebenarnya saya pun memiliki bingkai pikiran bahwa saya harus dapat mengenal bahasa lokal. Hal ini saya coba terapkan semenjak koas dulu. Seperti saat saya menjalani koas di Sukabumi, saya pun belajar sedikit bahasa Sunda. Dulu tujuan utamanya adalah memahami anamnesis pasien-dokter konsulen yang sering berbahasa Sunda. Dan lama-lama saya juga memahami bahwa dengan berbahasa lokal, kita lebih luwes dengan pasien.

Semakin luwes, inilah yang saya rasakan juga dengan pasien di Menjalin. Rata-rata mereka senang kalau mendengar kita berbahasa lokal, lebih akrab. Walaupun demikian biasanya saya hanya sebagai pembuka saja menggunakan bahasa lokal, karena saya sudah mulai pusing kepala kalau sudah menggunakan kosakata yang tidak saya ketahui. Hehehe, Pak Dokternya masih balajar uga'.

Dan kadang bahasa lokal ini juga menjadi satu-satunya jalan mewawancarai pasien, terutama pasien yang sudah lansia yang seringkali tidak fasih berbahasa Indonesia. Walaupun sebenarnya di Menjalin ini, tersebar juga bahasa Melayu, namun sepengamatan saya pada lansia-lansia yang bersuku Dayak juga tidak begitu fasih bahasa Melayu.

Jadi, sebenarnya ini sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Saya jadi belajar kearifan lokal, saya pun bisa meluweskan relasi dokter-pasien ini.

Pak Dokternyu udah pane sabebet bahasa diri'. Tapi masih nanak pane incakng bamotor koa. =D
(Pak Dokternya sudah pandai sedikit bahasa kita, tapi masih tidak pandai bawa motor :D) 

Rabu, 13 Juni 2012

Saat Pasien Menghadap Bapa

Hari ini adalah hari yang cukup mengena di hati saya dan mungkin hari di mana seluruh dokter pun di dunia pun pernah mengingatnya. Hari di mana seorang dokter kehilangan seorang pasiennya untuk selamanya.

Ya, hari ini pasien yang saya rawat menghadap Bapa. Kami berusaha dalam keterbatasan, memang Puskesmas di daerah tidak selengkap rumah sakit, dan kami pun masih harus bergelut dengan pertimbangan sosioekonomi dan lainnya. Apa yang saya lakukan memang tak serta merta buku teks yang begitu lugasnya menyatakan pasien ini harus dirujuk dan lainnya.



Dengan pasien ini, memang nurani saya berasa berbeda dengan pasien sebelumnya. Saya merasakan sesuatu insting yang tak nyaman. Hati saya berkata lain. Pasien ini tak biasa. Badannya begitu terkulai, kurus tak berdaya. Berbicara pun payah. Saya melihat kakinya yang bengkak. Di pikiran saya sudah bermain-main, "Gagal ginjal kah? Gangguan imunologis? Malnutrisi berat? Gangguan jantung?".

Saya pun meminta untuk segera memasang jalur infus untuk keperluan nanti. Saya pun meminta keluarga untuk segera merujuk ke rumah sakit, namun keluarga meminta untuk esok pagi saja. Saya hanya bisa menjawab bahwa, kami berusaha sebaik yang kami bisa di sini, tetapi memang lebih baik dirujuk. Namun semua kembali ke pertimbangan keluarga.

Dan tak lama 2-3 jam kemudian, saya dipanggil. Salah satu keluarga itu datang dan berkata, "Dok, tampaknya dia sudah tidak ada." Seketika adrenalin saya pecah ke ubun-ubun. Saya langsung menyergap tas kecil saya dan memanggil bantuan perawat. Ketika saya tiba di bangsal, memang sudah tidak berdaya, tidak ada denyut nadi, pupil sudah sangat melebar. Saya mencoba resusitasi dan hasilnya tetap nihil. Dan inilah saya pertama kali menyatakan, "Bapak sudah tidak ada." Dan seketika hening.

Perasaan berkecamuk dalam benak saya, ketika saya berjalan ke rumah dinas. Saya bertanya-tanya mengapa, apa yang sebabkan ia meninggal? Dan seketika saya merasakan nurani saya. Saya mungkin sangat senang, bahwa pasien saya sembuh, membaik. Bagaimana bila pasien meninggal? Tak pelak saya mencoba mengoreksi diri dan mencoba menyerahkan pada Tuhan.

Namun saya mencoba berpikir lagi, dokter tetap harus profesional. Konon, empati yang harus ditunjukkan, bukan simpati, apalagi apatis. Namun perasaan ini tetap melayang-layang dengan beribu perkataan.

Saya pun sempat melakukan kilas balik, ketika dulu koas. Saya seperti sudah "biasa saja" dengan kematian pasien, kecuali resusitasi jantung paru saya yang pertama saat stase Penyakit Dalam. Namun perasaan ini kembali lagi mencuat.

Saya mencoba lagi untuk membela diri, inilah hidup manusia dengan dinamikanya, ada senang dan susah, ada hidup dan kelahiran. Dan inilah pekerjaan dokter dan petugas kesehatan yang mana manusia adalah "objek" ilmunya, dan seketika mereka menceburkan diri juga dalam dinamika manusia tersebut.

13 Juni 2012, 00:31 WIB
Setelah sehabis menemani Mas Pur mengantar jenazah pasien tersebut di Silung, Menjalin.

Jumat, 01 Juni 2012

Renungan PTT Bulan Kedua: Nurani dan Bongkahan Berlian

Jika saya tersadar saya berada di hari pertama pada bulan baru, dan di sinilah saya memiliki waktu untuk merenung. Di sinilah 2 bulan lalu saya resmi menjalankan tugas sebagai pegawai tidak tetap Kementerian Kesehatan sebagai dokter.

Setelah dua bulan ini dengan segala keunikannya, dengan segala dinamikanya, dengan bergejolak antara kekuasaan dan nurani. Berbagai hal saya alami, walau mungkin tidak se-wah pengalaman bila di Papua atau NTT. Namun saya mendapatkan sesuatu.

Saya pun senang ketika masyarakat mulai mengenal saya. Ketika saya berada di depan rumah atau menunggu bus, masyarakat mulai menyapa "Pak Dokter". Saya pun senang dan mendapatkan pengalaman ketika pasien-pasien yang saya rawat mendapatkan perbaikan kesehatan. Walau saya sadari bahwa kebiasaan saya merawat pasien sudah lama sekali sejak terakhir di koas.

Saya kadang-kadang pun harus berpacu dengan adrenalin. Hal ini saya dapatkan kemarin ketika melakukan resusitasi bayi baru lahir (neonatus) dengan kondisi yang buruk. Satu menit tanpa nafas membuat saya terus terang panik dan memberikan kompresi dada serta pernapasan mulut ke mulut. Dulu saat koas saya mungkin masih tenang karena ada teman satu koas, atau paling tidak dokter jaga. Namun kini semua ada di pundak saya. Untungnyalah ada suara tangisan bayi lemah ketika diresusitasi. Puji Tuhan, Kau berikan nafas kehidupanMu melalui aku.

Di sini saya teringat pada kutipan di Kitab Sirakh 38:12

Tetapi berikanlah tempat kepada tabib juga, sebab ia pun diciptakan Tuhan, janganlah tabib jauh daripadamu sebab kau butuhkan pula.  
Then let the doctor take over -- the Lord created him too -- do not let him leave you, for you need him.
Saya merasa bahwa menjadi dokter ini suatu hal yang berbeda. Suatu hal yang menyangkut manusia, kesehatan manusia, kegembiraan manusia, kesedihan, kedukaan, kehidupan, kesakitan. Saya senang bahwa saya bisa membantu meringankan sedikit beban mereka.

Suatu hal yang saya sadari pula dalam profesi ini. Saya kadang merasa dan berpikir, pantaskah aku menarik dana dari mereka? Saya tahu bahwa jasa adalah sesuatu yang dapat dihargai dan dapat dinominalkan. Saya pun perlu uang untuk kehidupan saya. Namun memang menarik uang dari orang yang kesakitan, menjadi suatu buah pikir bagi saya.

Saya bersama Bu Nia dan Bu Yones, di Poli Umum Puskesmas Menjalin

Apa yang dilakukan dokter ini bukanlah seperti seseorang untuk membeli Tas LV atau Gucci, yang dengan riang gembira membeli tas. Pekerjaan seorang dokter -walaupun sebuah pelayanan jasa- bagi saya bukanlah semata-mata serupa dengan seorang montir karena apa yang dikerjakannya adalah benda mati. Namun di sinilah saya merasa, inilah seorang dokter. Kekhasan. Ada mungkin sesuatu hal yang agak tinggi hati menyatakan bahwa dokter adalah profesi terpilih.

Saya sudah merasakannya, bahwa menjadi dokter di desa ini sudah mendapat nominal yang memadai untuk hidup. Mungkin selain pengeluaran yang tak setinggi di kota, "daya beli" terhadap jasa (dan obat) tetap lebih tinggi dari kota. Walau demikian kadang-kadang saya masih terpikir dalam benak saya, berapa pasien harus membayar jasa saya. Mampukah mereka? Ataukah jangan sampai saya malahan menambah beban bagi mereka. Namun entahlah, mungkin ini hanya suatu bisikan saja, bisikan yang mungkin juga terlalu berlebihan. Tetapi saya yakin bahwa ini dapat menjadi pemandu bagi saya untuk tetap waspada dan memperhatikan hati pasien, beban pasien, dan jangan sampai menjadi seorang dokter yang kehilangan hati nuraninya karena terus mencari bongkahan berlian.

Saya teringat pada kutipan dari Pak Mega (Pak Tomas Apon), Kepala Puskesmas Kecamatan Menjalin, "Mungkin ada sesuatu yang kita ingin secara manusiawi, namun semua kembali ke nurani. Bekerja yang penting adalah dengan bahagia, dan uang bukanlah segalanya."

Rabu, 23 Mei 2012

Repo, Mae Kitak?

Dalapm diri aku bakata
Marasa sabebet udara dalam idukng
Udara nang atakng
Basengat nang dalapm

Ka' maraga aku baampus
Marasa diri nang tuha
Nanak ada lagi kamuda
Nanak ada lagi nang de' e

Kade aku bermimpi
Tentang ari-ariku nang repo
Ari dan ati Bacuramin ka masa nang lalu
Kade ariku nang aya'
Udahka ati uga'?

Ahe samua nang enek
Enek dan sabebet sabebet

Au', aku harus manarima samua
Baik kah jahat
Nian nang damanyu dunia
Lekoa lah idup Aku tarus balajar

Arukng idup
Nang aku nanak tahu sangahe lama agik
Aku pun hanya panjatnan doa ka Tuhan
Mancari mae ari nang repo

Menjalin, 23 Mei 2012



*teks dalam bahasa Dayak Kanayatn. Jika pembaca menemukan kesalahan tata bahasa, mohon disampaikan. Penulis pun juga tahap belajar bahasa ini.