Jumat, 21 Desember 2012

Hidupku Mengalir

Sepi ini buatku teringat
Bak membuka album hidupku
Menikmati masa lalu
Menyimak rintih tawa


Betapa banyakku lewati
Segala gelak ketika berkawan
Segala tetes air mata ketika dirundung mala
Segala peluh keringat letih dan cemas

Beginilah hidupku
Hidupku yang telah tergariskan
Jalanku yang telah dituntun
Tanganku yang telah dipapah

Walau kisah cinta yang pupus
Ketika hati tak lagi bergeming
Aku putuskan aku melihatnya dari nun jauh di sana
Biarkan bisikin air laut ini yang menjangkaunya

Aku mengalir
Mengalir bak sungai yang tenang
Mengalir bak alunan biola
Hidupku mengalir

Apapun itu
Siapapun itu
Bagaimanapun itu
Hidupku tetap mengalir

Menjalin, 21 Desember 2012
Poli Umum







 

Minggu, 09 Desember 2012

Membara Lagi Belajar Bahasa Korea

Memang, sayanakui, bara belajar Bahasa Korea saya amat meredup pasca liburan di Korea tahun lalu. Namun rasa itu kembali lagi setelah beberapa minggu terakhir ini saya tiba-tiba terpincut untuk menonton streaming Running Man. Pasti Anda bertanya, apakah saya benar lagi PTT, kok bisa-bisanya streaming? Yeah, beberapa minggu ini sinyal Telkomsel di Menjalin tercinta ini sudah menjadi 3G. Dan saya pun leluasa untuk berstreaming ria.

Annyong!
 

Ya, Running Man. Saya terpincut karena lelucon-lelucon yang ada di dalamnya. Amat sangat menghibur di tengah di desa ini. Bahkan dalam 2-3 minggu terakhir ini saya sudah mencapai 60 episodenya. Wow *koprol*. Dari acara Running Man inj saya terpapar lagi banyak tulisan hangeul dan ucapan-ucapan bahasa Korea yang menggelitik saya untuk kembali membuka buku bahasa Korea. Untungnya saya masih menyimpan ebook Teach Yourself Korean dalam iBook dan podcast belajar Bahasa Korea.

 

Dan guratan hangeul dalam lembaran kertas pun kembali bergulir...

 

Kamis, 06 Desember 2012

Sulitnya Merujuk Pasien

Pernahkah kita bayangkan hal ini terjadi pada kita? Ketika kita ingin mendapatkan pelayanan bedah harus menempuh jarak ratusan kilometer, memikirkan biaya-biaya, dan lainnya? Mungkin kita sendiri ketika hanya batuk pilek bisa dengan leluasanya mencari pelayanan medis sekunder yaitu dokter spesialis -walaupun ini keliru-. Tapi bagi masyarakat desa, hal ini terkadang amat sulit.

Inilah yang saya rasakan. Hari ini saya menerima pasien anak laki-laki, 1 tahun, dengan diagnosis kerja hernia inguinalis dextra reponibilis. Dari saya menerima pasin pada pukul 18:00 sore. Pada akhirnya pasien pulang ke rumah pada pukul 20:00. Banyak hal yang mewarnai. Padahal tujuannya hanya satu, bagaimana anak itu dirujuk ke rumah sakit di Pontianak untuk mendapat pelayanan dokter bedah.

Mobil Pusling yang juga dipakai sebagai ambulans
Banyak hal yang saya alami yang seringkali menjadi hambatan dalam proses merujuk. Padahal, dalam keadaan medi, terutama keadaan gawat darurat, waktu adalah nyawa.

  1. Sulitnya biaya. Masalah ini klasik dari Sabang sampai Merauke. Sistem penjaminan kesehatan di negeri ini yang carut marut. Jamkesmas memang menjadi cara namun proses klaim yang berbelit. Pasien saya yang masih bayi, masih belum ada penjaminan Jamkesmas sehingga tidak bisa mendapat pembiayaan ini. Jamkesda, untuk daerah saya, mandek di tengah jalan. Uang pribadi pun sudah bisa dihitung, berapa persen dan seberapa banyak dapat mengguncang ekonomi keluarga.
  2. Masalah jarak. Untuk daerah saya Menjalin, sebenarnya relatif dekat dengan ibukota kabupaten tetangga, Mempawah, dan bahkan ibukota propinsi. Ini memang bisa menjadi suatu keuntungan bagi daerah ini, namun bagaimana dengan daerah yang lebih pedalaman di dusun atau desa nan jauh?
  3. Masalah keluarga. Ketika mau merujuk biasanya bagi warga kecamatan saya, perlu mengumpulkan dulu keluarga besar mereka dari kakek sampai om sang pasien. Dan tak jarang juga harus menunggu dulu kedatangan mereka dari tempat yang jauh, sementara jarum jam terus berderit.
  4. Masalah kebiasaan dan kepercayaan. Saya sebagai tenaga medis, memang seringkali mendapat masalah pasien di ranah kesehatan tradisional. Biasanya mereka mencoba mencari pertolongan dari dukun baik dukun dalam arti dengan kekuatan ilmu gaib sampai dukun klinisi seperti dukun tulang atau dukun beranak.
  5. Transportasi. Hal ini tak menjadi masalah di puskesmas saya, karena sudah ada mobil puskesmas keliling yang disulap untuk membawa pasien. Supir dan tenaga medis serta paramedis siap berjaga kapanpun.
Walau demikian, keluarga pasien harus, kalau bisa, tetap dilayani dengan senyum (lebih tepat: tabah) apapun keputusan mereka. Kami, sebagai tenaga medis, menjelaskan dan memberi informasi sebaik-baiknya demi kebaikan pasien dan memang keputusan tetap di keluarga pasien.

 

Dan dalam kisah awal saya tadi, dua jam tersebut saya habiskan untuk menjelaskan dengan tabah dan sukarela kepada orang-orang yang dianggap pemberi keputusan dan menunggu kepastian keputusan dari keluarga pasien.

 

Selasa, 27 November 2012

Mohon Perhatikan Kesejahteraan Dokter Umum

Walaupun saya dokter desa, saya sendiri berusaha untuk tetap memperbaharui berita-berita di luar. Saya pun tiap malam tak pernah absen menyimak kanal PemprovDKI yang mengunggah video-video kegiatan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Ada satu hal yang cukup menyentil saya, dalam video yang membahas pengupahan supir bus sedang dan bus TransJakarta, Wagub Basuki T. Purnama mengatakan mereka digaji masing-masing 2x dan 3,5x UMP alias Upah Minimum Propinsi DKI yang berjumlah 2,2 juta sekian rupiah Menurut Wagub gaji itu layak karena mereka bekerja dengan risiko besar, tanggung jawab besar, membawa nyawa penumpang dan lainnya. Mereka pun diatur setelah beberapa rit harus beristirahat.

Saya di Simpang Nyawan, Desa Nangka, Menjalin
 

Mengenaskan bila dibandingkan dengan Dokter, terutama Dokter Umum. Mengenaskan, sungguh.

Saya, seorang dokter umum PTT yang ditempatkan di kawasan terpencil di Kalimantan Barat. Saya digaji dengan gaji pokok sekitar 1,7 juta rupiah (setelah potong PPh dan askes) dan insentif terpencil 3 jutaan dengan total gaji 5,365jt dan dipotong PPh dan biaya askes menjadi 4,85jt/bulan.

Kalau dibandingkan kategori Biasa (misalnya DKI Jakarta dan sebagian besar kota kecamatan), hanya dibayarkan gaji pokok tanpa insentif.

Cukupkah? Ini tentu tergantung medan masing-masing. Medan saya di Kalimantan tentu berbeda dengan Papua atau NTT. Biaya transportasi dan hidup pun berbeda. Konon ada yang perlu merogoh jutaan rupiah untuk sekedar ke kabupaten. Bagaimana pula jika ada dokter yang memboyong anak isterinya ke tempat tugas?

Walau demikian kami pun tak harus hilang akal. Saya sendiri pun bersyukur masih bisa praktik luar jam dinas sehingga menambah sedikit penghasilan, daripada menunggu gaji yang tak tentu ini. Ada juga yang sampai bercocok tanam dan mendapat buah tangan dari warga sekitar. Saya sendiri mendapat gaji pertama di akhir bulan kedua. Untuk mengambil gaji pun harus ke kecamatan terdekat yang memiliki Bank BRI.

Kini kami dihadapkan lagi engan situasi sebagai dokter PTT, selama triwulan IV 2012 ditunda pembayaran insentifnya. Tak terbayangkan sejawat kami yang bekerja di Papua dengan 1,7jt per bulannya. Cukupkah?

Tak hanya PTT, dokter di Jakarta yang kebanyakan bekerja banting tulang di klinik 24 jam pun demikian. Rata-rata bergaji di bawah 200rb per hari dengan 24 jam standby di klinik. Jika satu minggu bekerja 48 jam maka dokter jaga 24 jam hanya 2 hari saja bekerja? Bahkan jika ditotalkan pun hanya menyerempet sedikit atau bahkan tak sampai pada batas UMP.

Jika buruh mendemo adalah hal biasa. Bagaimana jika dokter mendemo? Pasien bisa saja terlantar dan kami bisa dicap tak manusiawi. Namun kami pun harus dapat memperjuangkan haknya agar menjadi warganegara yang setara haknya.

Buruh mendemokan upahnya adalah hal biasa. Dokter jika berdemo mungkin dianggap luar biasa. Mungkin dokter sudah dianggap mampu bak pengusaha konglomerat. Namun saya ingin membukakan mata kita bahwa kesejahteraan dokter, terutama dokter umum, perlu diperhatikan dengan serius.

Jadi, kapan?

Bagaimana pendapat Anda, sudahkah dokter sejahtera?

 

Jumat, 23 November 2012

Ya Inilah Risiko Seorang Dokter

Ada suatu hal yang ingin saya bagi. Suatu hal unik yang menyentil hati nurani saya sebagai dokter.

Suatu saat, saya mengabari ibunda saya, seorang ibu rumah tangga. Saya mengatakan maaf baru membala pesan singkatnya karena saya baru saja dipanggil ke rumah warga. Ya, mungkin karena insting ibu-ibu, ia menanyakan setiap detail.

Saya mengatakan bahwa saya melakukan resusitasi jantung paru pada pasien yang diduga terkena serangan jantung dan stroke. Ketika saya di sana, saya merasa masih bisa meraba sedikit nadi pasien tersebut dan akhirnya saya melakukan resusitasi itu hingga saya melihat bahwa pasien telah tak dapat diselamatkan lagi dan saya nyatakan pasien meninggal.

Ibu bertanya lagi detail bagaimana saya melakukan resusitasi tersebut. Saya mengatakan menekan-nekan dan memberi bantuan nafas kepada pasien. Ia bertanya apakah mulut ke mulut, saya mengatakan kebetulan saya membawa masker udara dari pelatihan ACLS dahulu. Saya tak membuat bantuan mulut ke mulut langsung.

Hingga suatu saat yang membuat saya gerah, bahwa kata ibunda, janganlah terlalu 'idealistis' menjadi seorang dokter, tak perlu katanya memberi bantuan nafas, "cukup pompa-pompa saja". Memang maksudnya baik, bahwa saya takut tertular penyakit dari "nafas" itu. Di kala dokter mempertahankan idealismenya dan menghindari malpraktik, nurani saya teriris perih.

Saya mencoba memberikan beberapa argumen pada ibunda:

  1. Apa yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, selalu memperhatikan kewaspadaan universal, bahwa mengondisikan atau memperhatikan sekitarnya agar dirinya tetap terhindar dari hal yang seharusnya dapat dihindari.
  2. Terkena penyakit memang risiko dokter dan tenaga kesehatan, namun seperti poin 1 bahwa kewaspadaan universal tetap dilakukan. Bagi saya, jika, umpamanya, suatu ketika saya dihadiahkan penyakit yang tertular karena kontak saya dengan pasien, saya tidak akan mempersalahkan siapa-siapa atau menyesalinya. Ya, memang itulah risiko saya sebagai dokter. Orang yang mencari dokter, adalah orang-orang yang memang sakit. Dan inilah klien dokter. Begitu pula bahwa profesi lain memiliki risiko-risikonya sendiri.
  3. Melakukan hal yang melemahkan pasien dengan mencoba melindungi diri secara berlebihan adalah hal yang sungguh keliru. Misalnya ada pasien yang perlu resusitasi, memberi nafas buatan, tetapi dalam diri Anda percaya sekali bahwa saya malah akan mendapat hawa nafasnya dan akan merugikan saya. Padahal sesuai ilmu yang sudah diamini, dengan hembusan nafas Anda, suatu rencana Pencipta bisa saja terjadi. Saya mengingat kembali ketika membantu bayi P, dimana saya dengan refleks memberi nafas mulut ke mulut. Dan suatu kebanggaan diri bagi saya ketika bayi P ini datang ke poli saya dan mengobati batuk pileknya. Saya sempat tercetus bahwa jika saja bayi biru itu tak saya beri nafas, apa mungkin dia kini bisa tumbuh baik. Bagi saya, sudah sangat cukup jika diri saya ini mampu berguna bagi mereka yang memerlukan saya, khususnya saya sebagai dokter.
  4. Coba kita memposisikan diri kita sebagai keluarga pasien. Bagaimana perasaan kita bila asa saudara kita yang sekarat yang memerlukan pertolongan kegawatdaruratan tapi dokternya memberi dengan setengah hati? Apakah hati kita tak sakit dibuatnya?
  5. Saya mengatakan bahwa saya adalah dokter desa, dokter dengan segala keterbatasannya. Ketika saya dalam keadaan tak membawa ambu bag, apakah saya boleh meniadakan bantuan nafas karena saya takut atau jijik dengan bantuan mulut ke mulut? Kalau saya memiliki fasilitas yang lengkap, maka tentu tidak demikian. Namun saya juga tak boleh menggerutu di balik ini, apapun itu saya tetap harus mencoba apa yang saya bisa untuk kebaikan pasien. Saya mempercayai satu hal, bahwa memang dalam keterbatasan mungkin tak sebaik yang lengkap, namun apapun itu seberkas cahaya tetap ada. Cahaya itu tetap ada dan dokter di dalam berkat Yang Kuasa, memberikan hal yang terbaik yang dapat diberikan.
Saya memang dokter yang idealis. Idealisme saya dan Anda mungkin berbeda. Mari kita kejar idealis dan harapan kita masing-masing. Dan inilah jalan hidup kita. Saya pun mengerti kecemasan dan kekhawatiran orang tua saya. Saya mencoba menjelaskan dunia profesi saya, yang mungkin asing bagi mereka.

 

*Dituliskan di Menjalin.

 

Sabtu, 17 November 2012

Hujan

Guntur gelegar

Petir bersambut

Gemuruh bersahut

Deru deras besar

 

Karenanya telingaku pekak

Namun aku tahu tak boleh berlunak

Walau hujan tak sedamai pohon rindang

Yakinku esok surya tak berhenti terundang

 

Pontianak, 18 November 2012

 

Jumat, 16 November 2012

Ibu

 

Kini aku hanya terduduk

Diiringi lantunan musik radio

Menarikan jemariku merangkai kata

Sembari menatapmu yang tengah terlelap

 

Aku memandangnya, seorang ibuku

Tertidur dengan oksigen di hidungnya

Dengan aneka untaian kabel di atas sanubarinya

Wajahnya memang tak seperti dulu tak berias

Tiada hapusan pensi di alis matanya

Atau jejak gulungan rambut helai rambutnya

 

Namun aku tetap bersyukur pada Tuhanku

Mimiknya kian hari kian bersinar

Dan relung senyum telah mampu tersimpul pada bibirnya

Walau itu adalah senyum getir palsu menahan sakitnya

 

Sebulan aku bersamanya

Menghabiskan waktu yang tak sedikit

Meninggalkan segala keseharianku

Aku belajar bagaimana bersamanya

Memang kusadari bahwa mungkin aku tak banyak mengingatnya di setiap peluhku

 

Aku mengingat ibuku dengan satu paradoks

Ia tampak begitu tegar menghadapi semuanya

Bahkan mungkin akulah yang cukup tersungkur dalam

Namun ia tetap berusaha untuk menikmati dunia dengan perkasa

 

Aku terbangun dalam lamunanku

Aku menunggu hari-hari esok, masa-masa kepulihannya

Ya Tuhan, biarkan yang terbaik terjadi

Namun aku masih ingin ia menikmati hari tuanya bersama cucunya kelak

 

Ibuku, segeralah pulih

 

Di samping ibuku, 26 Oktober 2012

Cardiothoracic Intensive Care Unit, NUH

 

Selasa, 23 Oktober 2012

Jika Aku Boleh Menunggu

Aku pun kini menilik lagi

Membesuk hatiku yang membeku

Entah apa yang jadi sebab

Hatiku kian terusik dan meronta


 

Lara asaku mengumpar

Mimpi melayang tak tentu mengarah

Berhasrat ingin mengurai

Bagai mencari jarum di atas jerami

 

Mimpi laluku berangsur kembali mengukir

Daun yang mengompos kembali bertunas

Ada apa ini oh Gusti

Ada apa ini

 

Jika aku boleh menunggu

Akan kusiapkan semua rasa riangku

 

Jika aku boleh menunggu

Akan kulapangkan sanubariku

 

Jika aku boleh menunggu

Ku tetapkan memohon pada Tuanku

 

Namun jika kau tak berkenan

Biarkan aku kembali

Agar aku tak lagi habiskan seribu tahunku

Untuk menangisi diriku

 

Di atas banyu, 21 Oktober 2012

 

Sabtu, 01 September 2012

Baby Paskalis, You Have Grown Up!

Sepenggal kisah ini pernah dituturkan di Renungan PTT Bulan Kedua
Menjalin, 31 Juni 2012

Masih segar diingatan saya. Saya meresusitasi bayi dengan segala kengerian adrenalin saya. Ketika mendapatkan persalinan dengan bayi yang tidak sehat. Tidak menangis. Biru. Badannya penuh mekonium. Dipikiran saya sudah melayang-layang, "Matilah. Aspirasi mekonium. Bayi jelek (istilah umum oleh tenaga kesehatan terhadap keadaan kesehatan yang buruk)."

Ketika bayi itu lahir, bayi itu langsung dibawa bidan ke hadapan saya. Jika bisa ada pintu Doraemon, mungkin rasanya saya mau kabur. Namun Tuhan memberikan bayi ini di hadapan saya...

Bayi ini tak menangis dihadapan saya. Membiru. Dan sungguh mengerikan -lagi saya tekankan-, mengerikan, jika saya harus mengingat bagaimana detak jantung saya berpacu. Jika ada cermin, mungkin wajah saya pucat.

Bidan tersebut dan perawat asisten, mulai membersihkan badannya, mengelap. Dan saya pun harus mengingat lagi algoritma resusitasi neonatus. Mungkin memang di dalamnya saya melupakan sedikit standar. Ketika saya menilai detak jantung yang lemah dan kebiruan, saya mulai mencari-cari kantung ambu untuk membantu pernapasan. Namun tak ada lagi waktu mencarinya. Semua harus diselesaikan dalam hitungan detik.

Ibunya berteriak, "Dokter selamatkan anak saya..." Saya ingin menjawab, "Ibu saya bukan Tuhan." Namun, saya hanya berpasrah, "Fiat voluntas tua. Thy will be done."

Saya diberi kassa oleh bidan, dan saya lakukan resusitasi bayi mulut ke mulut. Saya mungkin tak berpikir lagi, badan bayi itu kotor karena mekoniumnya. Saya hanya berpikir bahwa saya harus coba untuk membantunya.

Beberapa siklus tak ada hasil. Namun kami terus mencoba memberi rangsangan sentuhan padanya, dan yang akhirnya kami tunggu. Bayi itu menangis.

Saya pun bersyukur sekali, bahwa bayi tersebut selamat. Sungguh tak bernilai melihat sang bayi menangis dan sang ibu tersenyum bersyukur. Akhirnya saya pun meminta untuk merujuk bayi itu segera ke rumah sakit di kabupaten tetangga (karena ibukota kabupaten setempat lebih jauh). Dan saya pun mengikuti dan membantu merujuknya sampai ke RSUD Kabupaten Pontianak.

____

Setelah beberapa lama saya hanya mendengar kabarnya, bahwa ia dirujuk lagi ke RS Antonius Pontianak di ibukota propinsi. Menurut kabar ia cukup lama dirawat di ruangan perinatologi.

Kurang dari 2 bulan kemudian sang ibu datang ke poliklinik Puskesmas. Ia membawa sang bayi itu. Katanya, "Namanya Paskalis, Dok. Kata dokter ia memang ada sedikit gangguan. Namun Puji Tuhan sehat." Bayi tersebut dapat menyusu dan tumbuh dengan baik.

_____

Menjalin, 1 September 2012

Sampai tadi ia dibawa berobat ke praktik pribadi saya, ia terkena batuk pilek kemarin. Melihatnya saya sangat senang. Terheran dan rasa tak percaya timbul dalam diri saya. Inilah bayi yang sempat membuat jantung saya berdetak hebat. Bayi ini pula yang mendapat "ciuman" pertama saya.

Dan kemudian saya pun mengambil fotonya, untuk menjadi suatu kenangan di hari mendatang.

You have grown up!

Bayi Paskalis, 3 bulan 1 hari, ketika datang berobat di praktik pribadi.

Senin, 27 Agustus 2012

Semilir Angin Manyalitn


Kala pagi, mentari hendak beranjak
Aku menikmati angin
Angin nan semilir
Melewati segala muka kulitku
Beri kesejukan damai tak berbalas

Angin nan semilir
Angin bersumber dari tenangnya Samabue
Gagah kokoh tak bergeming

Angin nan semilir
Padi hijau menguning bergayung sambut
Berbuah berbulir tak berangkuh

Tanpa deru riuh rintihan kota
Ku nikmati semilir angin Manyalitn
Melepas lelah tak berbeban

Menjalin, 24 Agustus 2012

Pemandangan Desa Lamoanak, Menjalin

Senin, 20 Agustus 2012

Memimpikan Sushi

Ya, saya tidak tahu apa yang terjadi pagi ini. Entah mimpi jenis apa yang terjadi.
Saya terbangun dengan perasaan yang tidak seperti biasa.
Saya tersadar, dengan mulut yang begitu kering dan pahit, layaknya orang yang kelaparan.

Saya beranjak duduk dan tiba-tiba terlintas.
Ya ampun, saya baru bermimpi.
Mimpi yang cukup aneh, bermimpi bersantapkan sushi.
Menikmati nikmat pedasnya wasabi bercampur soyu.
Renyahnya kulit salmon.
Gurihnya unagi.
Serunya menggerogoti edamame.

Memang sudah hampir enam bulan saya tidak menyantap sushi.
Saya masih ingat, ketika di Jakarta, di depan meja sushi inilah saya tak jarang menghabiskan waktu.
Ketika masa galau tiba, ketika menyantap sushi, kegalauan terasa sirna.
Di depan meja sushi pula segala kisah kasih bertaut.
Di depan meja sushi all-you-can-eat juga banyak canda dan tawa bersama kawan di Jakarta.

Saya merindukan Sushi.
Saya merindukan Jakarta.



Untuk semua kawan makan sushi saya.
Ellen, Stevani, Teteh Ester, Handy, Julius, Rifky, Andy, Nicky, Eric, Debby, Patsy, Bim2, Ninu.

Minggu, 19 Agustus 2012

Tujuh Belasan di Menjalin


Tujuh belas Agustusan kali ini terasa berbeda. Pertama, karena tempatnya di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, tempat saya bekerja. Kedua, karena untuk pertama kalinya sejak mungkin tujuh tahun lalu saya terakhir upacara bendera saat di Kanisius dulu. Ketiga, saya pertama kalinya upacara dengan duduk santai di tribun undangan. Hehehe....

Sebelumnya saya sudah diwanti-wanti oleh Kepala Puskesmas, dr. Didi bahwa upacara 17an harus diikuti, apalagi beliaulah ketua panitia 17an di Kecamatan Menjalin. Saya pun sudah bersiap-siap dengan batik puskesmas (soalnya tidak ada baju  dinas :P) dan saya sempat mencari-cari celana kain hitam. Ternyata oh ternyata tertinggal di Pontianak. Pada akhirnyalah, saya berupacara dengan blue jeans. :D  

Sambil membawa mobil ambulans untuk siaga kalau ada yang perlu dirujuk ke Puskesmas, saya pergi ke lapangan Seboro, lapangan rumah adat dan lapangan bola di Kecamatan Menjalin. Saya pikir saya akan berdiri di belakang barisan PNS. Ternyata saya disuruh untuk duduk di tribun undangan, dan tidak tanggung-tanggung, di tribun terdepan. Satu baris dengan Pak Camat, Kapolsek, Komandan Kodim, dan para isterinya. Saya sudah kepalang kagok, dan yang membuat saya senang adalah pandangan saya ke depan, dimana terlihat barisan siswa dan PNS yang bejejer di depan. Ya ampun, selama ini saya yang berdiri di depan, ternyata bisa juga duduk manis di tribun dan tidak kena terik matahari.    

View lapangan

Saya (berbaju merah), bersama Pak Camat (Pak Theotimus), Pak Kapolsek, Kepala Desa, Kepala Puskesmas dan Staf Polsek Menjalin

Kalau mengenang upacara ini, saya memang tidak asing soal upacara. Saya sejak TK di Immanuel, saya menjadi komandan upacara. Ketika di SD Suster, "kasta" menurun dulu dari pembaca doa, dan pernah juga menjadi pembaca susunan acara upacara. Di SMP Suster saya menjadi tim rekorder pengiring mengheningkan cipta dan di kelas III menjadi komandan upacara. Saya masih ingat, tim kelas kami IIIA SMP dulu kelas kami menjadi kelas terbaik dalam lomba upacara dan saya menjadi komandan upacara terbaik. Senangnya!  

Upacara memang selayaknya diikuti untuk mempertinggi kecintaan terhadap negeri ini. Tapi jangan contohi saya yang sudah tujuh tahun tidak upacara bendera hehehehe.... 

Jumat, 10 Agustus 2012

Selamat Jalan, Pit!

Saya masih tidak percaya. Sungguh tak percaya. Hidup ini begitu banyak dengan lika-liku ceritanya.

Saya tengah di Jalan Lintas Kalimantan, tengah dalam tugas beberapa hari di kabupaten tetangga. Di tengah sinyal yang hilang timbul, saya mendapat kabar lelayu dari status-status rekan di FKUAJ.

Sahabat saya, rekan saya di Atma Jaya, Peter Wijaya telah berpulang pada hari ini pukul 14.55, setelah berjibaku dengan hidupnya.

Pada pagi hari ini memang saya ada mendapat kabar bahwa ia kemarin malam mengalami kecelakaan bermotor di Yogyakarta, dan kemudian mengalami perdarahan di kepalanya serta patah tulang, hingga ia tak sadar. Saya baru dapat kabar itu pada pagi hari.

Kabar begitu cepat, kemudian pada pukul 15an setelah saya mendapat sinyal, dan kabar lelayu itu muncul. Seketika saya terdiam tak percaya. Dan segala sangkalan berkecamuk. Mengapa dia Tuhan?

Saya dan Peter memang sempat banyak berinteraksi, terutama sejak kami dalam satu stase di Kebidanan. Kemudian dia sempat bergabung dalam Tim Editorial TanyaDokterAnda.com. Yup, kami sempat wara-wiri bersama selama 2-3 bulan itu, bersama-sama meliput acara, rapat dan lainnya. Ia pun banyak bercerita tentang rencana hidupnya, ambisi hidupnya, yang disebut cita-cita. Ia sangat mendambakan menjadi seorang geriatri. Ia amat bersemangat dalam berusaha mewujudkannya.

Sebagai seorang sahabat, ia begitu baik, tidak pernah marah atau mengambek. Selalu senyum dalam segala keadaan. Orang yang mungkin awalnya kesal pun pada akhirnya tak jadi berangkara. Yang saya kenang juga humorisnya yang begitu tinggi dan lugunya yang membuatnya apa adanya. Terutama pula rasa ingin tahunya, tentang segala hal yang memperluas wawasannya.

Terakhir saya bertemu dengannya ketika saya dan rekan-rekan mengikuti pelatihan Hiperkes di Yogyakarta pada Maret lalu. Memang pada Mei atau Juni lalu, ia sempat ke Kalimantan Barat dalam rangka bakti sosial dari RS Bethesda, Yogyakarta. Tapi kami tak sempat bertemu.

Waktu begitu cepat Pit. Terlalu cepat lu kembali ke surga. Gua masih ga percaya bahwa lu sudah nggak di sini. Terlalu muda untuk lu meninggalkan kami. Tapi dengan semua apa yang sudah lu jalani, kami percaya lu, dokter yang baik, akan tetap bahagia di sisi Bapa di Surga.

Selamat jalan Peter. Sampai jumpa sahabat.

Saya bersama Peter saat kami bersenda gurau saat koas kebidanan di RS Atma Jaya. Foto diambil 31 Januari 2011, menjelang jaga malam.

*Sebuah tulisan di Tayan.

Selasa, 17 Juli 2012

Punya Blackberry, Benci Tapi Terpaksa

Ketika jaman-jaman tahun 2009,  ketiksa saya masih koas, saya memang tidak tertarik pada Blackberry. Mungkin yang saya lihat nilai plusnya, blackberry memiliki mobile internet yang lebih mahir dari ponsel lainnya, sehingga bisa menjadi alat pencari jawaban instan terhadap pertanyaan konsulen. BBM? Tidak tertarik.

BB termutilasi milik rekan saya, Ronald. Termutilasi dalam perjalanannya ke Yogya.


Well, saya memang fansnya Steve Jobs, jadi yang bisa membuat liur saya menetes adalah iPhone tentunya. Ya, saya tidak tertarik dengan Blackberry.

Saya melewatkan beberapa 2 siklus mayor dan 5 siklus minor dengan lancar jaya tanpa BB. Namun pada suatu ketika saya pun geram, ketika jarkom alias jaringan komunikasi via SMS sudah semakin meredup dan terkubur. Semua tersampaikan lewat BBM. Termasuk info, dosen datang, tugas-tugas, dan lainnya. Semua lewat BBM. Akhirnya mau tak mau pun saya menggunakan BBM, jika tidak saya masuk dalam jaman tanpa komunikasi.

Saya pun dibelikan BB Gemini 8520. Ini pun atas rekues adik saya yang gencar menginginkan BB. Saya pun mengangguk saja ketika ditanya apakah saya ingin dibelikan. Dan segala keluhan pun dimulai. Dari awal saya menilai, teknologi BB memang tidak sebanding harganya. Harganya terlalu mahal. Masih lebih baik ponsel Ericsson atau Nokia dengan harga yang sama, atau lebih layak iPhone dengan harga yang lebih mahal dengan fitur yang ditawarkan. Ya, saya menggunakan BB karena BBM. Setelah saya kerja sebagai editor, BB memang menjadi alat yang membantu yaitu sebagai media intenet bergerak dan media sosial (Namun ketika saya membeli iPad, bye-bye internet BB).

BB memang dahsyat di Indonesia. Semua memiliki BB. Bahkan ketika saya di Menjalin, banyak juga petugas Puskesmas yang menggunakan BB. BB sudah merasuki pedalaman bahkan di Kalimantan. Kecintaan masyarakat kita dengan texting memang melambungkan nama BB.

Kini BB saya timbul banyak masalah, entah mungkin karena usianya yang sudah uzur? Baterai sudah saya ganti empat, bukan, lima kali. Slot charger-nya sekarang bermasalah. Dan karena di Menjalin tidak ada blackberry shop, jadi perbaikan ini harus menunggu kepulangan saya ke Pontianak.

Memang apa yang saya rasakan, tanpa BB lebih damai. Tidak banyak spam-spam, test contact, dan entah hal remeh temeh yang harus saya periksa ketika bunyi atau indikator BB menyala. Memang ada hal yang penting juga, namun semuanya bisa dipindahkan melalui SMS di nomor saya dengan HP Nokia X1 yang sangat sederhana.

Namun saya masih berpikir apakah BB ini harus diperbaiki dan dilanjutkan dengan segala kekurangannya, atau membeli BB baru (saya memang agak melirik Armstrong dengan segala keekonomisannya), atau saya tidak membeli BB lagi? Saya mau iPhone.

Selasa, 10 Juli 2012

Balada Air PTT

Suatu hari itu saya ingin mandi pagi. Ketika sampai di WC rumah dinas, saya melihat bak tinggal sepertiga. Saatnya mengisi air, pikir saya. Saya pun mencolok mesin pompa air yang ada. Namun air tak ada setetes pun yang keluar. #kemudianhening.

Saya tak menyangka bahwa suatu saat saya akan merasakan yang namanya kekurangan air. Ya, saya masih ingat dulu sekali, mungkin 11-12 tahun lalu ketika saya belum beranjak ke Jakarta dan masih menetap di Pontianak. Saat itu aliran PDAM mati, dan ayah saya pun mau tak mau beli air jerigenan. Saya masih ingat, saya mandi dengan berdiri di atas waskom. Ya, air bekas bilasan mandi ini akan digunakan lagi untuk membilas BAB atau BAK di kloset. Efisiensi, katanya ayah.

Dan saat ini, di Bumi Samabue, Menjalin. Saya pun merasakannya lagi. Saya seperti buaya di game Where's My Water? yang "nangis" karena tidak ada air. Tentunya saya tak menangis secara harafiah. Namun otak saya pun berteriak, saya mau mandi dan cuci dengan apa nanti?

Di Bumi Samabue, musim hujan sepertinya sudah mulai berlalu dan frekuensi hujan mulai berkurang. Jika kemarau tiba, konon kata Perawat, adalah masalah bagi rumah dinas dokter. Ya, rumah dinas dokter hanya memiliki sumur dangkal, bukan sumur air tanah yang dalam. Jadi, sumur ini mau tak mau bergantung dengan air hujan yang turun.

Nampung air!


Air ini memang saya gunakan untuk MCK (mandi, cuci, kakus). Untuk air minum, saya berlangganan air galonan dari perawat yang membuka usaha air galonan (konon, airnya dari mata air gunung di Anjongan). Ketika air tak ada, saya harus berpikir keras mana yang harus diprioritaskan. Saya mungkin saja tak mandi, kalau menurut saya badan tidak bau-bau amat. :D Kalau masalah kakus sepertinya tidak bisa ditawar karena menahan BAB adalah derita terberat di dunia. Hehehehe XD. Untuk cuci memang menggunakan air yang cukup banyak apalagi kalau cucian baju sangat banyak. Biasalah, saya menumpuk baju, sampai tampak persediaan baju bersih sudah tak cukup baru akan dicuci.

Air hujan adalah rejeki bagi saya, dokter PTT di Menjalin. Saatnya saya menampung air hujan yang menetes dari atap dan berharap-harap sumur saya nan dangkal itu terisi sebanyak-banyaknya. Saya pun mengamati setiap tetes air yang jatuh dari atap rumah. Mungkin, saya berkilah dalam hati, ini pengalaman bagi saya juga untuk dapat menghargai setiap tetes air yang ada.

Saya memang memikirkan apakah saya sebaiknya membuat penampungan hujan, tapi setelah menghitung cost-nya, saya tinggal 8 bulan lagi. Ya, saya memutuskan untuk menikmati "derita" ini. Toh, kalau hidup saya mulus-mulus saja di PTT ini, nanti tidak ada kisah yang bisa saya bagikan di blog ini dan untuk anak cucu saya kelak.

Dituliskan di Rumah Dinas Dokter Puskesmas Menjalin. Selasa, 10 Juli 2012. 15:30 WIB.
Di saat sore dengan hujan yang hanya rintik-rintik saja X(

Rabu, 04 Juli 2012

Renungan PTT Bulan Ke-3: Biaya Jasa Konsultasi Dokter yang Terlupakan

Siapa yang di dunia ini tidak mau tidak dihargai? Tentu semua orang mau untuk dihargai selayaknya dan sewajarnya. Menghargai adalah suatu keinginan dari semua manusia. Penghargaan adalah suatu keinginan tertinggi, bahkan suatu bentuk aktualisasi diri, yang menjadi puncak dari kebutuhan manusia menurut Teori Maslow.



Saya sebagai dokter pun ingin dihargai selayaknya kami dihargai. Saya menghargai Anda, Anda pun menghargai saya. Suatu hal yang sudah tercantum erat dalam aturan emas.

Tulisan ini berawal dan tercetus dari pengalaman tadi siang bahwa ada pasien yang menghitung-hitung harga obat satu per satu karena menurutnya biaya berobatnya mahal. Ia tidak menghitung sesuatu yang disebut biaya konsultasi atau biaya jasa dokter. Pelayanan medis bukanlah pelayanan farmasi semata. Memang, jika dibalik, pelayanan farmasi adalah salah satu bagian pelayanan medis.

Dokter di desa-desa seperti saya ini memang tidak memiliki apotik, sehingga saya perlu menyediakan obat yang saya anggap perlu untuk pasien saya. Tak jarang saya juga harus mencari kesana kemari di kota untuk obat yang tidak ada pada distributor. Saya pun mencari obat yang kami anggap optimal bagi pasien, karena saya pun harus memikirkan bagaimana kantong pasien di desa. Kalau saya memilih bersikap tak mau tahu, tentu obat bermerek yang nilainya hingga ratusan ribu rupiah mungkin bisa saja saya bebankan. Namun semuanya diperhitungkan sedemikian rupa hingga semua pun baik bagi pasien dan juga tentu baik bagi saya.

Memang dalam renungan saya sebelumnya, bahwa saya memiliki pikiran apakah biaya yang saya bebankan menambah sekali derita pasien. Namun di satu sisi, saya pun harus memikirkan isi dapur dan masa depan saya. (Anak istrinya saya mau makan apa nanti?) Saya pun mendapat ilham generalisasi bahwa semua hal di dunia ini perlu sedikit surplus bagi siapapun yang menjalani usahanya. Kalau tidak dia mau makan apa? Tentu dalam penentuan surplus tidaknya ini harus mempertimbangkan banyak hal, jangan sampai keterlaluan. Lagi-lagi sewajarnya. Sesuai dengan teori analisis transaksional Thomas Harris: I'm OK, you're OK.

Sembari menulis ini saya mengingat kembali kata-kata dari guru saya, dr. Djoko T. Basuki Sp.OG, bahwa, "Kamu harus PTT, untuk mendewasakan diri kamu sebagai dokter." Ya, saya setuju. Setidaknya inilah yang berkecamuk dan berbaur dalam pikiran saya, segala idealisme saya dipadukan dengan apa yang terjadi dalam masyarakat, membentuk sesuatu hal yang disebut realitas kehidupan seorang dokter.

Selamat datang dalam rimba raya kedokteran.

Sabtu, 23 Juni 2012

Belajar Abjad Sirilik: Done!

"Старославянская азбука (староболгарская азбука): то же, что кирилли́ческий (или кири́лловский) алфави́т: одна из двух (наряду с глаголицей) древних азбук для старославянского языка;" - Potongan artikel di Wikipedia
Apa artinya? Bagaimana cara membacanya? Saya penasaran.

Akhir minggu ini merupakan waktu yang sangat saya tunggu. Saya akan melewatkan bersama dua buku pesanan saya yang sudah tiba sejak satu minggu lalu. Ya, saya memesan buku secara online yaitu tentang travelling ke Filipina dan buku Russian for Tourism.


Yang saya buka yang pertama adalah buku bahasa Rusia tersebut. Saya sangat penasaran bagaimana dengan bahasa ini. Saya sangat ingin tahu sekali apa yang ada di balik tulisan-tulisan sirilik (Cyrillic alphabet) yang digunakan di bahasa-bahasa Slavik ini. Tulisannya tampak keren dan eksotik, dan tentu sangat menarik mempelajari hal yang tidak banyak dipelajari orang bukan?

Saya selalu penasaran dengan apa yang ditulis dan makna dari sebuah bahasa. Saya mengiyakan dengan apa yang disebut oleh loki2504 di youtube ini. Memahami sesuatu yang baru, memahami suatu yang unik, memahami suatu yang ada di luar sana, menjadi sebuah tantangan dan rasa ingin tahu tersendiri. Sangat menarik.

Tulisan Sirilik

Awalnya memang agak sulit, karena ternyata dari 33 alfabet sirilik, hanya 6 yang sama pengucapannya dengan bahasa Indonesia! Yaitu A, K, O, M, E, T. Sedangkan dua puluh tujuh lainnya sangat-sangat berbeda jauh, walau ada yang tulisannya mirip dengan Latin. Misalnya C yang dibaca /es/, P /er/, B /ve/, Y /u/. Namun ada huruf-huruf unik lainnya seperti Ш, Щ, dan si cantik Ж.

Banyak huruf-huruf vokal rusia yang tampak seperti huruf mati dalam bahasa Indonesia misalnya: Россия, yang ternyata adalah /russiya/. Ternyata tak begitu sulit dan sederhana.

Saya menemukan bahan belajar yang baik, walau awalnya sedikit membosankan. Namun dijelaskan dengan gamblang dan pelan yaitu Russian World Lesson. Pelajaran pertamanya di klik di sini. Saya baru samapai pelajaran ke delapan. Sangat menarik.

My Baby in the weekend


Saya pun mencoba-coba menuliskan nama saya dan impresi pertama saya: cool! Tulisan sirilik ini sangat keren.

Nama saya dalam abjad sirilik. Semoga benar translasi siriliknya :)


Abjad Sirilik dalam Bahasa Rusia
Hal yang unik juga dalam abjad sirilik adalah mempelajari tulisan kursifnya atau tulisan rangkainya. Sangat berbeda dengan apa yang dipelajari di bahasa latin. Seperti huruf T sirilik kursif yang mirip M dari tulisan rangkai yang saya pelajari di SD.

Saya pun jadi terbakar juga mempelajari skrip-skrip bahasa tertentu, mungkin seperti tulisan bahasan Brahmik seperti Devanagari, Thai, atau skrip lainnya seperti Arabia.

Well, Xорошо! /horosho/ (Baiklah!)

Senin, 18 Juni 2012

Pasca Pusling Amawakng: Hargailah Pasien

Hari ini sungguh luar biasa. Saya mendapatkan sesuatu yang berbeda hari ini. Saya tidak hanya menjaga kandang di poliklinik umum, tapi melakukan puskesmas keliling. Hari ini saya diajak Bang Agustinus, seorang perawat di Puskesmas Menjalin bersama Kak Fina, bidan di polindes Re'es. Ya, hari ini saya pergi ke desa Re'es, tepatnya dusun Amawakng.

Desa Re'es adalah salah satu desa di Menjalin yang berada di sebelah barat yang lebih cepat dijangkau kalau melalui jalan dari Gunseng, Toho, dibandingkan harus melalui simpang Raba di Menjalin.

Desa Re'es yang dilingkar di sebelah kiri. Yang dilingkar di tengah adalah Dusun Sungai Bandung, temapat Puskesmas Menjalin.



Saya sudah diberi wanti-wanti bahwa perjalanan mungkin tidak akan seluwes biasa bahkan menuju Baweng, Lamoanak di arah timur. Namun hal ini terus terang malah membuat saya kian penasaran.

Setelah saya bersiap-siap obat dan lainnya. Rasa penasaran saya semakin memuncak. Tiba Bang Agus datang untuk mengambil vaksin dan menjemput saya di Puskesmas. Perjalanan memang lurus-lurus saja dan lancar sampai di suatu simpang di Gunseng.

Kami masuk melalui jalan tanah. Untung saja hari itu kering dan tidak hujan kemarin. Kalau tidak mungkin jalan menjadi becek dan bisa dibayangkan kalau dilalui motor. Pastinya ajubileh. Perjalanan ini melalui medan yang beragam, dari jalan setapak, jalan dimana motor harus meniti kayu, melewati jembatan gantung, melalui jalan kecil yang mana kiri kanan hutan, melalui jalan lebar kebun sawit, jalan tanah dengan tanjakan yang aduhai, dan jalan becek dimana saya harus turun. Sungguh bermacam-macam. Dan baru akhirnya kami tiba di Re'es dan kemudian ke arah Amawakng untuk posyandu dan puskesmas keliling di rumah ibu dusun Amawakng. Saya sangat senang bahwa warga cukup antusias, dokter masuk ke dusun. Saya juga senang berinteraksi dengan mereka.

Tiba di Polindes Re'es. Lanjut lagi ke dusun...

Dan hal ini membuat saya berefleksi sejenak. Jikalau saya sendiri merasa kesulitan melalui jalan ini, bagaimana dengan warga sekitar di sini. Bagaimana dengan warga yang lebih pedalaman lagi? Saya sendiri juga sering mendapat pasien dari Re'es. Bagaimana tidak membayangkan perjuangan mereka ke  Puskesmas Menjalin di tepi jalan raya. Tentu mereka memiliki ekspektasi besar terhadap masalah mereka. Namun kadang-kadang sebagai dokter, kita juga terlena dengan rasa mood dan suasana hati, dan kadang pasien juga "menjadi korban". Mungkin suasana hati tak senang, pasien kita ketuskan. Namun dengan perjalanan ini saya sadar, bahwa dengan keadaan sakit mereka, mereka harus lagi berjalan pulang pergi melalui jalan yang tak hanya bisa dilewati tanpa rasa legowo dan kekuatan ekstra.

Jembatan gantung
Dan kadang kita pun harus berputar otak bagaimana menangani pasien dari pedalaman secara optimal. Kita tidak akan pernah mudah mengatakan, "kontrol lagi ya nanti". Seberapa besar effort yang harus mereka lakukan. Mereka ke Puskesmas bukan dengan kendaraan jalan tol, tetapi dengan motor dengan jalan yang rusak, dan tak jarang juga dengan kaki mereka sendiri.

Memang di satu sisi, terbatas ini terbatas itu. Tetapi dengan keterbatasan kita tidak boleh melalaikan harkat martabat manusia dan juga pelayanan yang optimal.

*Dituliskan di siang hari nan panas. Bokong dan punggung masih terasa sakit setelah berbonceng motor dengan Bang Agus. Namun hati senang. :)

Sabtu, 16 Juni 2012

Udah Pane Bahasa Diri', Pak Dokter?

Kisah ini dimulai malam kemarin, ketika saya menjelang terlelap setelah bermain dengan iPad, saya mendengar tiba-tiba pintu rumah diketuk-ketuk. Ternyata ada orang ramai di luar rumah, tak pelak saya pun terkejut. Ada pun kata pertama yang terlontar di mulut saya, "Sae nang sakit? Ada urakng jantu'?". (Siapa yang sakit? Ada orang jatuh?) Laki-laki di depan pun menjawab, "Inak pak. Ada bayi kami nanak mao nangis satalah melahirkan barusan.". "Au pak. Tama' pak." (Ya pak, silakan masuk.)

Meja Praktik di Puskesmas :)


Dan tiba-tiba orang di sebelahnya bercetus, "Orang dayak-kah Pak Dokter? Kenapa bisa bahasa kami?". "Inak. Saya orang sobat (Istilah tionghoa dalam Dayak Kanayatn)." "Wah, udah pane bahasa diri' ya Pak Dokter?" (Sudah pandai bahasa kita ya Pak Dokter?) "Saya sudah 2 bulan di sini, sudah belajar sedikit-sedikit." Saya pun tersenyum simpul.

Saya pun menjadi tersadar akan suatu kelebihan yang saya miliki, belajar bahasa. Memang saya pun senang untuk belajar bahasa. Mungkin suatu hal yang paradoksal juga dengan saya yang cenderung introvert, hahaha. Namun saya semakin yakin ini bisa menjadi suatu plus bagi saya.

Penduduk yang kaget dengan saya yang berbahasa Dayak ini, bukan satu kali ini saja. Banyak yang bingung kalau saya berbahasa lokal. Hipotesa saya, rata-rata dokter PTT di Menjalin berasal dari luar Kalimantan Barat. Namun sebenarnya tidak juga, saya baru mengenal bahasa Dayak Kanayatn ini ketika saya bertugas di Menjalin.

Sebenarnya saya pun memiliki bingkai pikiran bahwa saya harus dapat mengenal bahasa lokal. Hal ini saya coba terapkan semenjak koas dulu. Seperti saat saya menjalani koas di Sukabumi, saya pun belajar sedikit bahasa Sunda. Dulu tujuan utamanya adalah memahami anamnesis pasien-dokter konsulen yang sering berbahasa Sunda. Dan lama-lama saya juga memahami bahwa dengan berbahasa lokal, kita lebih luwes dengan pasien.

Semakin luwes, inilah yang saya rasakan juga dengan pasien di Menjalin. Rata-rata mereka senang kalau mendengar kita berbahasa lokal, lebih akrab. Walaupun demikian biasanya saya hanya sebagai pembuka saja menggunakan bahasa lokal, karena saya sudah mulai pusing kepala kalau sudah menggunakan kosakata yang tidak saya ketahui. Hehehe, Pak Dokternya masih balajar uga'.

Dan kadang bahasa lokal ini juga menjadi satu-satunya jalan mewawancarai pasien, terutama pasien yang sudah lansia yang seringkali tidak fasih berbahasa Indonesia. Walaupun sebenarnya di Menjalin ini, tersebar juga bahasa Melayu, namun sepengamatan saya pada lansia-lansia yang bersuku Dayak juga tidak begitu fasih bahasa Melayu.

Jadi, sebenarnya ini sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Saya jadi belajar kearifan lokal, saya pun bisa meluweskan relasi dokter-pasien ini.

Pak Dokternyu udah pane sabebet bahasa diri'. Tapi masih nanak pane incakng bamotor koa. =D
(Pak Dokternya sudah pandai sedikit bahasa kita, tapi masih tidak pandai bawa motor :D) 

Rabu, 13 Juni 2012

Saat Pasien Menghadap Bapa

Hari ini adalah hari yang cukup mengena di hati saya dan mungkin hari di mana seluruh dokter pun di dunia pun pernah mengingatnya. Hari di mana seorang dokter kehilangan seorang pasiennya untuk selamanya.

Ya, hari ini pasien yang saya rawat menghadap Bapa. Kami berusaha dalam keterbatasan, memang Puskesmas di daerah tidak selengkap rumah sakit, dan kami pun masih harus bergelut dengan pertimbangan sosioekonomi dan lainnya. Apa yang saya lakukan memang tak serta merta buku teks yang begitu lugasnya menyatakan pasien ini harus dirujuk dan lainnya.



Dengan pasien ini, memang nurani saya berasa berbeda dengan pasien sebelumnya. Saya merasakan sesuatu insting yang tak nyaman. Hati saya berkata lain. Pasien ini tak biasa. Badannya begitu terkulai, kurus tak berdaya. Berbicara pun payah. Saya melihat kakinya yang bengkak. Di pikiran saya sudah bermain-main, "Gagal ginjal kah? Gangguan imunologis? Malnutrisi berat? Gangguan jantung?".

Saya pun meminta untuk segera memasang jalur infus untuk keperluan nanti. Saya pun meminta keluarga untuk segera merujuk ke rumah sakit, namun keluarga meminta untuk esok pagi saja. Saya hanya bisa menjawab bahwa, kami berusaha sebaik yang kami bisa di sini, tetapi memang lebih baik dirujuk. Namun semua kembali ke pertimbangan keluarga.

Dan tak lama 2-3 jam kemudian, saya dipanggil. Salah satu keluarga itu datang dan berkata, "Dok, tampaknya dia sudah tidak ada." Seketika adrenalin saya pecah ke ubun-ubun. Saya langsung menyergap tas kecil saya dan memanggil bantuan perawat. Ketika saya tiba di bangsal, memang sudah tidak berdaya, tidak ada denyut nadi, pupil sudah sangat melebar. Saya mencoba resusitasi dan hasilnya tetap nihil. Dan inilah saya pertama kali menyatakan, "Bapak sudah tidak ada." Dan seketika hening.

Perasaan berkecamuk dalam benak saya, ketika saya berjalan ke rumah dinas. Saya bertanya-tanya mengapa, apa yang sebabkan ia meninggal? Dan seketika saya merasakan nurani saya. Saya mungkin sangat senang, bahwa pasien saya sembuh, membaik. Bagaimana bila pasien meninggal? Tak pelak saya mencoba mengoreksi diri dan mencoba menyerahkan pada Tuhan.

Namun saya mencoba berpikir lagi, dokter tetap harus profesional. Konon, empati yang harus ditunjukkan, bukan simpati, apalagi apatis. Namun perasaan ini tetap melayang-layang dengan beribu perkataan.

Saya pun sempat melakukan kilas balik, ketika dulu koas. Saya seperti sudah "biasa saja" dengan kematian pasien, kecuali resusitasi jantung paru saya yang pertama saat stase Penyakit Dalam. Namun perasaan ini kembali lagi mencuat.

Saya mencoba lagi untuk membela diri, inilah hidup manusia dengan dinamikanya, ada senang dan susah, ada hidup dan kelahiran. Dan inilah pekerjaan dokter dan petugas kesehatan yang mana manusia adalah "objek" ilmunya, dan seketika mereka menceburkan diri juga dalam dinamika manusia tersebut.

13 Juni 2012, 00:31 WIB
Setelah sehabis menemani Mas Pur mengantar jenazah pasien tersebut di Silung, Menjalin.

Selasa, 12 Juni 2012

Resensi Buku: Untaian Garnet dalam Hidupku


Judul Buku: Untaian Garnet dalam Hidupku
Penulis: Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tebal: 215 halaman

Sebenarnya saya sebagai peresensi sudah lama ingin membaca buku ini. Selain karena saya adalah sejawat almarhumah Menteri Kesehatan Ibu Endang sebagai petugas medis, saya penasaran dengan apa yang menjadi buah-buah pikirnya.

Kisah-kisah yang disampaikan dalam buku ini memang tak melulu soal dunia kesehatan atau kedokteran yang menjadi profesi selama hidupnya. Ia banyak menyampaikan soal keluarganya, suaminya, dan anak-anak yang dikasihinya. 

Semua kisah dalam buku ini disusun dengan alur yang tak kronologis. Alurnya bagai potongan puzzle, dan mungkin melompat-lompat. Mungkin saja, ini adalah ide penyunting untuk memacu kita merangkai sendiri kisahnya. Atau duga-dugaan saya, mungkin inilah memang urutan tulisan yang dibuat oleh Bu Endang, dan penyunting tetap mempertahankan orisinalitas kronologisnya.

Saya sebenarnya cukup takjub dengan apa yang disampaikan oleh Bu Endang dalam tulisannya. Ia menulis dengan lugu, apa adanya sesuai dengan apa yang ia rasakan. Mungkin ini akan bermain dalam pikiran kita, mengimajinasikan ketika ia menangis semasa hidupnya, bagaimana ia kaget bukan kepalang ketika diminta menjadi menteri, ketegasannya walaupun ia dalam hidupnya banyak tidak disukai oleh rekan sejawatnya. Semua ia curahkan tanpa malu dalam buku ini.

Memang, biografi ini dapat menjadi media belajar kita dalam merefleksikan jalan hidup kita, bagaimana naik turunnya dinamika perjalanan kita. Dan bahkan kita diberikan sedikit buah pikirnya di kala menjelang kepergiannya.

Buku ini baik bagi kita, baik bagi seorang ibu, layak dibaca bagi sesiapapun juga yang mau mengenal dan mendalami untaian hidup seorang Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit.

Tulisan ini juga diterbitkan di tanyadokter.com

Minggu, 10 Juni 2012

Menerbitkan Buku: Satu Impian yang Tercapai

Saya masih ingat dulu ketika berbicara dengan rekan saya, Bimo, bahwa saya memiliki impian untuk bisa menerbitkan buku dimana saya yang menulisnya. Saya kira itu sudah sangat lama, dan pada awal tahun ini impian itu bersambut. Ada rekan penerbit ternama yang mau menerbitkan tulisan-tulisan kami yang dituliskan di web tanyadokteranda.com (kini tanyadok.com). Oh Yesus, ini salah satu mimpi saya.

Saya kira, tidak ada suatu kesenangan yang lebih luar biasa bagi seorang penulis selain tulisannya diterbitkan bagi khalayak luas, apalagi tulisan itu terbit ke dalam media yang lebih abadi yaitu sebuah buku.

Memang ini bukanlah kali pertama tulisan saya dimuat di media masa. Saya ingat pada masa tahun 2000an awal, saya gemar sekali menuliskan surat pembaca ke dalam majalah game (Digigame dan HotGame), saya dulu masih kerap menggunakan nama samaran seperti v01d3m0rt (alay karena waktu itu lagi panasnya soal novel Harry Potter pertama) dan Zidane Tribal (tokoh dari Final Fantasy IX). Saya amat senang tak kepalang, ketika tulisan yang saya kirimkan melalui faksimili kantor itu dimuat! Sungguh sangat senang. Padahal itu baru saja surat pembaca toh.

Salah satu lompatan juga bagi saya adalah dimuatnya tulisan walkthrough (panduan game) Final Fantasy VIII dalam majalah by product HotGame yaitu edisi khusus Final Fantasy. Saya masih ingat saya mengirimkan tulisan melalui disket floppy 3.5" dan saya mendapatkan honorarium (sekitar 100.000 atau 200.000 rupiah) melalui wesel pos. Saat itu sepertinya tahun 2001-2002, saat saya SMP.

Saat saya SMA, saya pun aktif membangun web komunitas Final Fantasy Indonesia Online yang kini sudah terkubur. Saya bisa dibilang saat itu salah satu pentolan fans Final Fantasy di Indonesia. Saya aktif menulis di majalah Final Fantasy World, menulis kisah karakter dan artikel fitur mengenai Final Fantasy.

Setelah itu saya tersadar bahwa hidup saya semakin spesifik ketika saya masuk ke dalam Fakultas Kedokteran. Maka banyak tulisan-tulisan saya mengenai dunia kesehatan. Beberapa tulisan saya pun dimuat dalam beberapa media (Intisari Extra "Sehat" Februari 2012, Majalah Arue Juni 2012 dari Keluarga Ordo Dominikan Pontianak), dan beberapa tulisan ilmiah di Cermin Dunia Kedokteran.

Saya pun bergabung dengan rekan-rekan di TanyaDokterAnda.com dan bekerja sebagai editorial, sehingga saya cukup produktif menulis. Dan akhirnya tulisan-tulisan ini dapat dimuat dan dipublikasikan massal ke seluruh Indonesia melalui buku 58 QA Diet, Makanan, dan Suplemen. Saya tak percaya bahwa ada sepotong halaman foto dan diri saya di dalam rak Gramedia, walau pada kover semua tergabung dalam Tim DokterAnda. Siapa yang menyangka.

Dengan buku pertamaku :)


Ini pun menjadi satu batu loncatan dan tercontrengnya salah satu impian dari hidup saya. Saya pun ingin sekali membuat buku lainnya dan mungkin saja dengan nama saya terpampang pada kovernya.

Tulisan yang diterbitkan bagi seorang penulis adalah suatu orgasme aktualisasi dari dalam dirinya. Ide-idenya tersebar ke penjuru masyarakat, dan tentunya akan lebih baik bila idenya tersebut berfaedah bagi mereka yang menikmati setiap guratan tulisannya.

Tulisan di Majalah Arue, Juni 2012

Yeay! Mom, I'm in the book!

Sabtu, 09 Juni 2012

Soegija, Film "Bisu" Penuh Pesan

Film "Soegija" ini merupakan salah satu film yang sangat saya tunggu. Mungkin ini timbul salah satunya karena saya sebagai penganut Katolik. Film-film Indonesia yang mengangkat Katolik sangat sedikit, dan mungkin saya sendiri tak pernah melihatnya kecuali FTV yang ramai jelang Natal. Terakhir saya menonton film Katolik, kalau tak salah "Lourdes". Jadi ini menjadi suatu euforia bagi saya.

Saya pun sebenarnya suka dengan sejarah. Suatu kisah yang menciptakan masa kini dan masa mendatang. Saya sangat suka mendengar kisah lampau. Apalagi tentang kehidupan seseorang yang mahsyur tentang apa yang ia perbuat dan pemikirannya. Suatu film biopik tentu menjadi suatu pilihan bagi saya.

Saya pun membela-bela untuk dapat mengajak ayah saya untuk ikut nonton, paling tidak saya tidak dilihat miris oleh penonton sebelah karena saya menonton sendirian. Saya membela-bela datang dari Menjalin untuk segera menonton ini (saya ingat sekali bahwa film karya Garin ini akan premiere 7 Juni kemarin). Saya membela-bela datang dulu ke mal pada siang hari untuk membeli tiket, dan alamak saya mendapati film untuk malam ini sudah setengah penuh. Saya pun bergegas ke Gramedia untuk membeli bahan bacaan yang dapat menjadi modal saya mencerna film ini, karena konon dari review yang ada, film ini cukup dalam dan harus memutar otak. Saya pun akhirnya mendapatkan buku Kilasan Kisah Soegijapranata oleh G. Budi Subanar SJ. Dari buku lain Romo Banar mengenai Mgr. Albertus Soegijapranata SJ juga akar dari Soegija ini.



Dari Sisi Film

Kesan yang saya dapatkan bahwa memang film ini ternyata cukup datar. Terlalu datar bahkan. Sedikit sekali suara tembakan atau dentuman bom (karena film dilatarkan masa perang sekitar 1 Agustus 1940 sejak pengangkatan Romo Soegija menjadi uskup di Vikariat Apostolik Semarang hingga Pengakuan Kedaulatan Indonesia oleh Belanda 27 Desember 1949). Sedikit sekali teriakan dan riuh rendah orang, padahal ratusan lebih figuran hadir. Mungkin ini suasana yang ingin dibawa oleh Garin, ingin mengambarkan susana dan citra Romo Kanjeng yang diam dan diplomatis.

Alur cerita pun memaksa saya untuk mengingat kembali pelajaran-pelajaran sejarah yang selama SD hingga SMA saya pelajari. Saya perlu merunut lagi tentang penjajahan Belanda, pendudukan Jepang di Indonesia dengan slogan "Jepang Saudara Asia" dan "Asia Rayanya" (Gerakan 3A, kalau tak salah?), kemudian pernyataan kemerdekaan pasca berakhirnya Perang Dunia II, pendudukan Belanda dan sekutu kembali di Indonesia (saya jadi gatal membuka lagi mengenai Marshall Plan, Republik Indonesia Serikat, Tan Malaka, Jenderal Soedirman, Perjanjian Linggarjati, Roem-Royen, hingga Konferensi Meja Bundar). Ingin sekali hasrat diri untuk membaca kembali sejarah di seputaran kemerdekaan Indonesia.

Dan film ini memperhatikan setiap detail, baik figuran, properti film, pemakaian lokasi, benar-benar katanya seperti suasana saat itu (maklum saya anak 80an hehehe), yang mengingatkan saya kembali ke film biopik Gie. Figurannya pun tak main-main, jika orang bule tetaplah bule. Bukan Indonesia yang dibule-bulekan. Saya pun tak heran kalau konon ini adalah film termahal Garin dengan nilai 12 M.

Dan yang membuat saya juga tak kalah takjub adalah sisi penggunaan bahasa. Semua begitu detail, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, Latin, Jepang, bahasa Belanda, dan lainnya. Semua ditempatkan dengan apik dan layaknya saya melihat situasi asli, bukan film. Begitupula dengan music score yang digunakan, begitu bagusnya (Saya tak ragu kalau hasil garapan Djaduk Feriyanto).

Dari Sisi Pesan


Memang film datar dan cenderung "bisu" tanpa suasana yang hingar bingar. Tidak ada lautan emosi yang diaduk-aduk. Namun semua ini digarap dengan memberikan banyak pesan. Pesan yang menjadi buah pikir Soegija (karena banyak pesan ini berasal dari catatan harian Romo Soegija). Dan ternyata apa yang ingin disampaikan masih valid hingga saat ini. Walaupun di dalamnya ada beberapa pesan yang diselipkan Garin sebagai tambahan seperti pesan "Tionghoa yang selalu tertindas".

Banyak pesan yang ingin disampaikan, namun yang menjadi terutama bagi saya adalah ingin memperkenalkan Agama Katolik itu sendiri. Ini bukanlah katolisasi, namun hanya ingin menunjukkan saja bahwa inilah Katolik. Katolik yang selama ini tidak dikenal, atau sering dihubung-hubungkan dengan kebarat-baratan atau perang atau lainnya. Sama seperti dulu bahwa Katolik sering dianggap sama dengan orang penjajah. Namun degan kehadiran Romo Soegija, ia membawa pesan bahwa seorang Katolik Indonesia tetap harus 100% republik, mendukung sepenuh hati dan berjuang demi negara.

Pesan Soegija bahwa "Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal usul, dan ragamnya. Berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya" atau "Politikus itu harus punya mental politik. Tanpa itu, politikus jadi benalu buat negara" tentu masih sahih kalau kita kobarkan saat ini, menilik dengan apa yang terjadi saat ini.

Tentu Soegija bukan semata-mata menjadi permenungan bagi orang Katolik saja, namun juga sebuah kontemplasi universal untuk seluruh republik tanpa memandang sesiapa ia.

Selasa, 05 Juni 2012

Pasien Indonesia yang Lari

Ada sebuah kesedihan dari diri saya melihat pasien Indonesia yang banyak "melarikan diri" ke negeri sebelah, sebut saja Malaysia atau Singapura. Saya pun bertanya-tanya dalam diri, apa yang menyebabkan hal demikian? Apa yang salah dengan sistem kesehatan negeri Indonesia?

Saya pun mencoba membela, mencari argumen penenang. Mungkin saja karena mereka memiliki uang lebih sehingga boleh boleh saja mencari pelayanan bintang enam. Namun saya melihat ini tidak lagi menjadi alasan. Kini tidak lagi golongan kelas kakap yang kabur ke luar. Bahkan golongan menengah pun mencari pelayanan kesehatan di luar negeri. Kini negara jiran tersebut menyediakan pelayanan pariwisata kesehatan dengan berbagai kelas, kita bisa memilih mau dengan koper atau ransel. Jika kelompok menengah pun sudah mencari pelayanan kesehatan ke luar negeri, apa kabar pelayanan kesehatan kita?

Sungguh sedih melihat pelayanan kesehatan Malaysia dijejali dengan masyarakat Indonesia. Padahal secara keilmuan, tidak ada yang berbeda secara standar medis. Namun apakah memang sumber daya kita sudah memadai? Apakah ibukota kekurangan dokter spesialis? Tidak juga.




Mereka mencari pelayanan medis di luar negeri dengan berbagai tujuan dari memang memiliki gangguan penyakit dari yang sampai sekedar medical check up. Medical check up-nya pun sebenarnya tergolong biasa saja, mulai dari cek darah lengkap, pemeriksaan laboratorium lainnya, bahkan sampai EKG yang sebenarnya bisa dilakukan di praktik dokter biasa dengan alat yang memadai. Memang, ada beberapa alat yang kurang misalnya MS-CT atau MRI.

Melihat pasien berpaspor hijau di pelayanan kesehatan Malaysia membuat saya mengelus dada. Bahkan ada sekelompok ibu-ibu muda yang hanya sekedar Pap Smear di Malaysia, yang dengan mata membelalak ketika dikatakan hasil hanya dapat diambil satu minggu kemudian. Saya pun hanya bisa tersenyum simpul, masyarakat kita belum teredukasi dengn baik soal kesehatan, dan bahkan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan hingga indikasi pemeriksaan pun menjadi terabaikan, karena tanpa nasihat medis.

Saya pun gatal melihat fenomena ini. Saya hanya mencuri dengar. Katanya dokter di sini lulusan dari luar negeri, memang di akhir nama mereka bertebaran gelar dari Australia, Amerika, dan Inggris Raya. Selain itu bagi masyarakat Tionghoa Indonesia, lebih nyaman bagi mereka untuk mendapat penjelaan soal penyakit mereka dengan bahasa Mandarin. Kemudian memang alat lebih memadai. Selain itu mungkin saja ada faktor gengsi? Namun saya pun tak langsung setuju, dalam urusan kesehatan tak mungkin lagi kita memperhatikan gengsi bukan?

Untuk di atas, memang faktor pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran di Indonesia harus berbenah. Kita perlu membuka akses pendidikan kesehatan yang seluas-luasnya, bagi siapapun, dengan minat apapun, paling tidak untuk warga negara Indonesia sendiri. Dan bagi dokter Indonesia lulusan luar negeri juga harus dibuka akses yang memudahkan mereka untuk mengabdi di Indonesia. Orang lama berkata kejarlah ilmu sampai ke negeri China, ini berarti jika kita mencari ilmu seluas-luasnya, maka sesuatu akan berkembang dan menjadi lebih baik.

Sebenarnya pelayanan kesehatan luar negeri pun tak luput dari kekurangan. Namun memang hal ini kadang kala tak tampak bagi awam atau pasien. Misalnya yang terjadi pada saudara saya, yang menunjukkan dengan bangga adanya obat buatan Jerman yang katanya digunakan untuk masalah prostatnya. Saya melihat isinya berisi tamsulosin. Saya pun bertanya berapa lama ia harus mengonsumsi obat ini. Dokternya tidak mengatakan apa-apa, dan hanya memberi obat yang katanya bagus ini.  Saya pun hanya terdiam, tamsulosin hanya 10 buah tidak akan memberi efek yang bermakna, apalagi masalah prostat yang mana sebaiknya dilakukan pembedahan seperti TURP dahulu sebelum menggunakan tamsulosin yang berfungsi memperlambat pembesaran prostat dikemudian hari. Jadi obat ini, selain tak signifikan hanya membuang uang.

Memang tiada gading yang tak retak. Segala sesuatunya pelyanan kesehatan kita harus dibenahi. Kita harus dapat menjaring lagi mereka yang lari. Tentu segala sesuatu jika diberikan kepada dalam negeri akan lebih baik. Mudah, murah, dan efisien bagi pasien dan dokter.

Kapan gong pembenahan akan didengungkan?

Sabtu, 02 Juni 2012

Kemanapun Harus Ke Museum

Saya tiba-tiba mendapat inspirasi menulis ini ketika tak sengaja mengobrol dengan dr. Tena Djuartina, dosen saya di Atma Jaya yang mengepalai Museum Anatomi Atma Jaya. Ya, museum kebanggaan Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya ini dinominasikan bersama 63 museum dalam acara Museum Award.

Museum. Saya merasakan euforia yang luar biasa ketika mendengar kata ini. Saya sangat senang mengunjungi tempat ini. Museum ini seakan-akan melegakan dahaga kering saya. Kemanapun saya pergi saya menyempatkan ke museum, apalagi tempat-tempat itu yang mungkin saya pikir saya mungkin hanya satu kali menjejakkan kaki di sana. Alangkah sayangnya kalau saya melewatkan untuk bertandang ke museum.

Saya masih ingat dulu ketika saya kecil pergi ke Kota Kuching di Sarawak, Malaysia Timur. Saya bersemangat penuh dalam menyusun daftar tempat mana-mana yang mau saya kunjungi. Saya memberikan daftar kepada ayah saya, dan di sana terdaftar beberapa museum seperti Museum Nasional Sarawak, Museum Cina Sarawak. Saya hanyalah anak kecil dengan segala mimpinya yang melihat museum dengan mata berbinar.

Saya tidak bisa melewatkan sejengkal pun ruangan yang ada di museum. Dengan melihat diorama-diorama, fantasi saya begitu berjalan. Ketika melihat barang-barang pameran, saya terbang ke dalam alam masa lalu. Mungkin karena itulah euforianya. Saya juga menikmati perkembangan budaya masyarakat dari museum yang dipamerkan.

Banyak museum-museum yang menggetarkan hati saya seperti Museum Makau yang berada di sebelah dari reruntuhan Gereja Saint Paul, Makau. Kemudian juga museum Ripley's Believe It or Not di Genting Malaysia (saya masih ingat dulu sempat ada di Jakarta, Puri atau Pondok Indah ya?), Museum Affandi di Jogjakarta. Sayang memang museum di Indonesia masih dipandang seperempat mata, lebih miris dari sebelah mata. 

Saya di depan pintu Museum Kedua, Museum Affandi, Yogyakarta


Saya sebenarnya masih punya impian untuk menjelajah museum di Jakarta. Saya dulu sempat memproposalkan perjalanan ini dengan rekan-rekan kampus namun belum terselesaikan. Museum Monas, Museum Nasional, Museum Jakarta di Kota, Museum Mandiri, Museum Bank Indonesia, dan lainnya. Sayang memang dalam 10 tahun waktu saya di Jakarta, saya tidak sempat mencicipinya. Ada hasrat ketika saya ke Jakarta mungkin berjalan-jalan seorang diri disana juga tak kalah menyenangkan? 

Saya juga punya pengalaman ketika hati merasa sangat gondok dengan ibu-ibu dalam rombongan tur saya ketika perjalanan wisata ke Korea Selatan. Saya sulit untuk menikmati wisata sejarahnya karena mereka yang tidak mau berlama-lama di sana, mereka lebih memilih berbelanja di Myong-do. Saya hanyalah minoritas dari ibu-ibu tersebut. Sedih rasanya mendengar, "Untuk apa ke museum? Tidak ada apa-apanya." Akhirnya di Gyeongbokgung hanya sebentar saja dan kunjungan ke National Folk Museum of Korea (Gungnip Minsok Bangmulgwan, 국립민속박물관) dibatalkan dengan jaya. Dan saat itu saya berjanji untuk kembali ke Korea dengan perjalanan ala ransel, di mana saya bisa menikmatinya hingga saya puas.

Di tengah pembicaraan, dr. Tena berkata, "Iya saya juga kemana pergi ke suatu tempat pasti saya mampir ke museum. Rada-rada gila juga aku. :)"

Saya pun mengiyakan. Penikmat museum memang "gila". Hehehehe....

Jumat, 01 Juni 2012

Renungan PTT Bulan Kedua: Nurani dan Bongkahan Berlian

Jika saya tersadar saya berada di hari pertama pada bulan baru, dan di sinilah saya memiliki waktu untuk merenung. Di sinilah 2 bulan lalu saya resmi menjalankan tugas sebagai pegawai tidak tetap Kementerian Kesehatan sebagai dokter.

Setelah dua bulan ini dengan segala keunikannya, dengan segala dinamikanya, dengan bergejolak antara kekuasaan dan nurani. Berbagai hal saya alami, walau mungkin tidak se-wah pengalaman bila di Papua atau NTT. Namun saya mendapatkan sesuatu.

Saya pun senang ketika masyarakat mulai mengenal saya. Ketika saya berada di depan rumah atau menunggu bus, masyarakat mulai menyapa "Pak Dokter". Saya pun senang dan mendapatkan pengalaman ketika pasien-pasien yang saya rawat mendapatkan perbaikan kesehatan. Walau saya sadari bahwa kebiasaan saya merawat pasien sudah lama sekali sejak terakhir di koas.

Saya kadang-kadang pun harus berpacu dengan adrenalin. Hal ini saya dapatkan kemarin ketika melakukan resusitasi bayi baru lahir (neonatus) dengan kondisi yang buruk. Satu menit tanpa nafas membuat saya terus terang panik dan memberikan kompresi dada serta pernapasan mulut ke mulut. Dulu saat koas saya mungkin masih tenang karena ada teman satu koas, atau paling tidak dokter jaga. Namun kini semua ada di pundak saya. Untungnyalah ada suara tangisan bayi lemah ketika diresusitasi. Puji Tuhan, Kau berikan nafas kehidupanMu melalui aku.

Di sini saya teringat pada kutipan di Kitab Sirakh 38:12

Tetapi berikanlah tempat kepada tabib juga, sebab ia pun diciptakan Tuhan, janganlah tabib jauh daripadamu sebab kau butuhkan pula.  
Then let the doctor take over -- the Lord created him too -- do not let him leave you, for you need him.
Saya merasa bahwa menjadi dokter ini suatu hal yang berbeda. Suatu hal yang menyangkut manusia, kesehatan manusia, kegembiraan manusia, kesedihan, kedukaan, kehidupan, kesakitan. Saya senang bahwa saya bisa membantu meringankan sedikit beban mereka.

Suatu hal yang saya sadari pula dalam profesi ini. Saya kadang merasa dan berpikir, pantaskah aku menarik dana dari mereka? Saya tahu bahwa jasa adalah sesuatu yang dapat dihargai dan dapat dinominalkan. Saya pun perlu uang untuk kehidupan saya. Namun memang menarik uang dari orang yang kesakitan, menjadi suatu buah pikir bagi saya.

Saya bersama Bu Nia dan Bu Yones, di Poli Umum Puskesmas Menjalin

Apa yang dilakukan dokter ini bukanlah seperti seseorang untuk membeli Tas LV atau Gucci, yang dengan riang gembira membeli tas. Pekerjaan seorang dokter -walaupun sebuah pelayanan jasa- bagi saya bukanlah semata-mata serupa dengan seorang montir karena apa yang dikerjakannya adalah benda mati. Namun di sinilah saya merasa, inilah seorang dokter. Kekhasan. Ada mungkin sesuatu hal yang agak tinggi hati menyatakan bahwa dokter adalah profesi terpilih.

Saya sudah merasakannya, bahwa menjadi dokter di desa ini sudah mendapat nominal yang memadai untuk hidup. Mungkin selain pengeluaran yang tak setinggi di kota, "daya beli" terhadap jasa (dan obat) tetap lebih tinggi dari kota. Walau demikian kadang-kadang saya masih terpikir dalam benak saya, berapa pasien harus membayar jasa saya. Mampukah mereka? Ataukah jangan sampai saya malahan menambah beban bagi mereka. Namun entahlah, mungkin ini hanya suatu bisikan saja, bisikan yang mungkin juga terlalu berlebihan. Tetapi saya yakin bahwa ini dapat menjadi pemandu bagi saya untuk tetap waspada dan memperhatikan hati pasien, beban pasien, dan jangan sampai menjadi seorang dokter yang kehilangan hati nuraninya karena terus mencari bongkahan berlian.

Saya teringat pada kutipan dari Pak Mega (Pak Tomas Apon), Kepala Puskesmas Kecamatan Menjalin, "Mungkin ada sesuatu yang kita ingin secara manusiawi, namun semua kembali ke nurani. Bekerja yang penting adalah dengan bahagia, dan uang bukanlah segalanya."