Tampilkan postingan dengan label koas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

Rekan Koas Sehidup Semati

Catatan ini dituliskan karena peringatan 2 tahun kami mulai bertemu. Happy anniversary Anoa, Tapir, Trenggiling, dan Babi Hutan!

Saya, Ririn, Michelle, dan Ricky
Kalau di Atma Jaya, ada namanya rekan koas sehidup semati. Artinya, selama koas ada orang-orang tertentu yang akan bersama-sama terus dalam satu siklus. Ya, orangnya "itu lagi itu lagi". Orang-orang inilah yang akan bersama Anda selama sepanjang hidup Anda di koas.

Sebenarnya, rekan sehidup semati ini bisa menjadi pedang bermata dua. Kalau ternyata ia cocok atau baik-baik saja, maka hidup Anda akan langgeng di koas. Kalau ternyata dia adalah musuh bebuyutan, mungkin selama 2 tahun bisa saja jadi gondokan.

Saya sendiri bersyukur, saya punya rekan sehidup semati yang baik-baik saja dan bahkan bisa menjadi penyejuk hati. Inilah kami, saya (Andreas Erick Haurissa) dan tiga rekan lainnya (Yohanes Ricky Permadi, Michelle Angelina, dan Cornelia Arina Pradipta).

Semua bermula di 14 September 2009


Ini adalah tanggal yang selalu saya ingat. Teringat karena ini adalah tanggal pertama saya masuk koas, dan saya masuk ke siklus Ilmu Bedah. Siklus ilmu bedah yang tentunya berat dan ditambah integrasi dengan Anestesiologi dan Radiologi. 11 minggu yang berat. Di sini pula pertemuan kami bermula.

Apalagi kami 33 orang tersesat yang masuk pertama ke koas, dibandingkan 90an teman kami lainnya yang harus mengulang OSCE. Angkatan anak ayam ini masuk duluan dan betapa cemasnya kami.

Terus terang, saya sebenarnya tidak begitu kenal dengan mereka sebelumnya. Istilahnya bukan teman main saat preklinik. Namun di siklus bedah ini dipertemukan. Di sini kami berusaha untuk bangkit dari siklus pertama kami. Berbagai masalah menghantui kami, tawa hingga tangis. Namun akhirnya kami bisa melewatinya juga. Apalagi di ujian perdana saya sebagai koas di RS Polri juga dilewatkan bersama Ricky. Ya, dua cecurut ini akhirnya bisa melewatkannya!

Karakter yang berbeda


Untungnya kami didesain dengan karakter yang berbeda. Mungkin saya cenderung lebih diam, dan diimbangi dengan kebawelan dua wanita. Dua wanita yang dengan istimewanya menyandang gelar "2 dari 6 isteri saya" saat IKM (Ohhh, really miss that moment! Di mana saya sedang dalam masa sulit dalam masalah percintaan hahaha...).

Michelle dengan karakternya yang periang, bawel, dan yang lucu adalah ketika masa "dong-dong-pret"nya muncul. Suka tiba-tiba lemot dan di sinilah keunikannya. Ririn yang juga bawel tetapi bisa sangat galau dan mellow dengan perasaannya. Begitupun dengan Ricky yang selalu optimis dan cerdas.

Kami pun terpisah


Kami pun terpisah di tengah-tengah, artinya tak sesiklus lagi. Ketika saya dan Ricky ke THT, sedangkan Michelle dan Ririn ke Ob/Gyn. Namun cerita-cerita pun tak putus di tengah jalan.

Kami ingin lulus bersama


Setelah 1,5 tahun perjalanan kami di koas, memang saya lulus yudisium dahulu. Yang lainnya masih mengurus beberapa masalah akademisnya. Pernah di satu titik, kami merasa senang bisa lulus bersama-sama setelah mereka menyelesaikan masalah akademisnya. Namun Ricky harus menunda UKDInya karean satu dan lain hal. Sangat disayangkan sebenarnya, namun ini adalah hal diluar kemampuan kami. Namun pada UKDI Agustus 2011 yang berat ini, syukurnya, saya, Ririn dan Michelle bisa lulus dari lubang jarum ini.

Dan tak kurang dari seminggu lagi kami akan diangkat sumpah sebagai seorang dokter. Tentunya, persahabatan ini tak lekang oleh waktu.


Happy anniversary Anoa, Tapir, Trenggiling, dan Babi Hutan!


NB: Tulisan di bawah ini ditambahkan 21 Sep 2011, H+1 Sumpah Dokter Periode III/2011. Ini adalah tulisan dari Michelle dari statusnya:
Andreas Erick HaurissaRie ReenYohanes Ricky Permadi : terima kasih sudah menemani saia selama 2 tahun yang penuh cerita ini....
Thanks for all your support in time of difficulities, temen2 yg selalu bs bikin gw ketawa lagi meskipun abis nangis ;) xixixi...
So happy to be wtih you guys !!! we've shared a lot of stories, a lot of laughs, a lot of tears, and a lot of love !! maap kalo gw bawel and lemot yeee.
May GOD will always bless our next journey.. keep in touch teman sehidup semati !!

Selasa, 06 September 2011

Jelang Hari-hari Terakhir di FKUAJ

Hari ini adalah hari penentuan. Saya sendiri tak henti-hentinya berucap syukur pada Tuhan. Hari ini Ujian Kompetensi Dokter Indonesia alias UKDI saya lulus. Rasa senang yang merupakan akhir dari penantian satu bulan, tepat 6 Agustus lalu saat UKDI dilaksanakan. Ini juga sebuah batu pijakan setelah saya menyelesaikan koas dan kemudian yudisium di kampus.

Entah saya merasakan sesuatu hal yang saya definisikan sebagai hal yang sedih. Terutama ketika rekan saya menginisiasi membagi-bagikan makanan kepada seluruh karyawan kampus. Ada suatu rasa yang entah bagaimana ketika mengatakan, "Bapak, ini syukuran dari kami. Kami lulus dan akan sumpah dokter. Terima kasih selama ini." Hm, saat menulis saya sadar, mungkin ini yang disebut farewell. Seperti yang salah satu teman saya, Intan, katakan, "Ini adalah sesuatu hal yang manis."

Saya langsung sadar dan diam, bahwa ini adalah perpisahan saya dengan kampus ini. 6 tahun waktu hidup saya, dihabiskan dalam lingkungan FK UNIKA Atma Jaya ini. Banyak kenangan yang saya habiskan di sini. Terbayangkan entah itu tawa dengan teman-teman, teriakan ketika saya diceburkan ke kolam saat ulang tahun, lorong-lorong kampus yang menjadi saksi kisah kasih, perpustakaan dan jendela yang menjadi inspirasi membuat lirik lirih puisi, ruang senat mahasiswa dan laboratorium komputer tempat saya berkegiatan, ruang AToMA tempat saya kabur saat bolos kuliah, kantin nan kotor namun tetap dirindu, dan banyak lagi. Saya merasa, saya tak akan lama lagi di kampus ini.

Saya merasa bahwa suatu saat saya akan rindu hal ini, menjalani masa-masa di kampus sebagai mahasiswa bercelana jeans, dan koas bersnelli. Ah, saya pun bodoh, saya tak bisa menahan air mata ketika mengenangnya.

Dan empat belas hari ke depan, sumpah dokter pun menjelang.

Saya pun ke dalam perasaan yang selalu saya tekan, "ternyata waktu berjalan begitu cepat".

Minggu, 28 Agustus 2011

Koas Saat Di "Injury Time"

Tulisan ini terinspirasi dari tweet @ferdiriva milik dr. Ferdiriva Hamzah SpM yang sering berkicau mengenai lika-liku kehidupan koas. Lika-liku? Iya, kehidupan koas adalah kehidupan dunia fana yang penuh emosi. Memang tak hanya duka namun ada pula gelak tawa.

Salah satu dalam waktu yang bisa disebut waktu paling membahagiakan adalah "detik-detik berakhir waktu dinas" apalagi dari dinas malam ke pagi hari yang merupakan hari libur. Setelah lebih dari 24 jam waktu didedikasikan khusus untuk pasien, saatnya menghirup napas pagi meninggalkan kaki, walaupun itu sejengkal dari pintu bangsal atau rumah sakit, rasanya mendapat anugerah terindah. Saya tak bilang bahwa bekerja semalaman sebelumnya itu suatu hal yang buruk, tetapi ini adalah saatnya kembali ke rumah dan menikmati homynya rumah atau kos. Setidaknya itu saya yang pikirkan, tak ada "mengapel kekasih" di daftar saya saat itu. Hahaha....

OK, hal ini menjadi galau bila menjelang pergantian dinas ada bunyi suara brankar, atau suara dari perawat yang menerima telepon di nurse station, "Mas Koas, ada PB". Hmmmpphh, PB ini adalah istilah yang dihindari, apalagi ketika bangsal sudah begitu hectic. PB adalah Pasien Baru.

Kalau PB ini muncul ketika saya sudah berganti dinas sih tidak apa-apa. Tapi kalau menjelang pergantian dinas alias injury time ini??? Oh Tidak. Oh Mama, Oh Papa. Jika ada PB artinya saya harus menerima pasien ini, menganamnesanya, memeriksanya, membuat perencanaan terapi, melaporkan kepada dokter jaga atau konsulen untuk menerima terapi, belum lagi kalau otak koas sudah mulai korsleting, terkena omelan. It will take about an hour! Belum lagi untuk operan dinas ke koas jaga berikutnya yang harus ikut visite pagi. Well, waktu saya untuk di tempat peraduan saya di rumah alhasil berkurang.

Dalam hati ego saya, saya tidak suka dengan terganggunya koas di saat injury time. Apalagi ketika sudah mulai berberes, handuk semalam sudah kering dan dilipat rapi jali dalam tas, kantung tidur sudah apik digulungkan. Saya hanya perlu menunggu kedatangan koas jaga berikutnya datang dan jarum panjang jam lewat dari angka 12.

Saya dulu pernah merasakan, tepatnya hampir 2 tahun lalu. Ketika saya sebagai koas bedah, berjaga di saat malam takbiran. Yup, keesokannya adalah 1 Syawal Lebaran, artinya saya gantian jaga jam 10 pagi. Saat itu saya berjaga di UGD. Ketika jam 9 tiba-tiba, saya sudah bersuka cita. 1 jam lagi saya akan berlibur 2 hari (jaga berikutnya di H+2 lebaran atau 3 Syawal). Betapa senangnya hati seorang koas. Dan... tiba2 terdengar suara bajaj, derik roda brankar berbunyi, dan yang saya takuti adalah pintu UGD terbuka. Saya berdoa dalam hati, "Ya Tuhan Yesus, jangan pasien bedah. Pasien PD, Neuro, Anak, atau apapun. Jangan pasien bedah ya Tuhan." Brankar itu masuk dan, pasien berdarah-darah. Tidaakk.... pasien trauma, artinya pasien bedah. Dan pasien itu sampai selesai perawatan di UGD sampai 2 jam kemudian. Memang setelah itu ada teman saya yang ganti jaga. Tapi saya pun tak tega meninggalkan dia, saya yang menerima pasien, saya juga akan pulang setelah saya menyelesaikannya.

Koas tidak bisa seperti karyawan kantoran yang bisa bilang, "Jam kerja saya berakhir, saya tak mau bekerja lagi." Koas tak bisa bilang "Jam dinas saya habis, dan seketika itu meninggalkan pasiennya." Tidak bisa. Ini adalah pengorbanan seorang koas.

Jumat, 10 Juni 2011

Finally!

Saya menyelesaikan studi kedokteran. Lulus.

Well, terus terang saya tidak menyangka. Entah mungkin saya sebut saja keajaiban, rahmat, atau apapun tentunya anugerah indah dari Tuhan. Saya tidak bisa terisak tangis bahagia ini. Saya hanya bisa berteriak dalam hati, "Finally!". Saya bersyukur saya melangkah lagi dalam jejak-jejak dalam hidup saya.

Sekali lagi saya merasakan waktu yang berjalan begitu cepat. Berlari dengan riuhnya. Saya baru merasakan, tampaknya saya kemarin baru masuk koas dan mengucapkan janji dokter muda, kemudian galau saat siklus pertama. Kini saya sudah menyelesaikan fase dokter muda, dan one step closer alias selangkah lagi untuk mengubah janji menjadi sumpah hipokratik. Sungguh 6 tahun yang menguras tenaga. Saya masih menepuk-nepuk pipi sendiri, apakah ini nyata?

Ok, saya tak boleh bereuforia. Tetap bekerja, menatap yang ada di depan. Seperti kata Cinta Fitri: "Jalan kita masih panjaaaanggg...." Ouch.

Seperti kata dr. Alex, dalam pesannya saat pidato sumpah dokter lampau: Saya sedang bertransformasi dari sarden menjadi tuna.

NB: Saya jadi terpikir, apakah nama blog ini perlu diganti? --'

Sabtu, 28 Mei 2011

"Sindrom (Jelang) Pasca Koas" dan Travelling?

Ok, tiba-tiba di malam ini saya kebelet ingin mengetik pikiran saya. Suatu hal yang sebenarnya terus terang saja, cukup sulit dibangkitkan. Hasrat saya untuk menulis sepertinya sudah mulai megap-megap. Yeah, saya perlu mood untuk menulisnya.

Sindrom pasca koas akut

Seperti kebanyakan yang kalian tahu, mungkin, bahwa sekarang saya menderita sindrom pasca koas. Sebuah sindrom ciptaan saya, ya bukan itu nama yang tepat. Saya belum selesai dengan koas, paling tidak untuk satu minggu ke depan, saya bisa menanggalkan kata-kata "koas" hingga judisium tiba. Jika ujung-ujung hasilnya bertajuk "her", walahualam. Maka saya putuskan pemberian adendum kata (jelang).

Sekarang saya dalam keadaan yang agak luntang-lantung. Memang dasar saya yang manusia egoistik, saat koas mengerut dahinya dan tampaknya dunia ini sungguh melelahkan buat saya. Namun setelah koas, saya malahan cemburu dengan keadaan koas yang saya anggap penuh "dinamika". Tidak tahu mengapa, mungkin ada dipengaruhi rasa pribadi yang menyalahkan diri sendiri yang masih meminta uang tanpa malu ke orang tua. Sedangkan rekan-rekan saya yang lainnya, bahkan sudah berkeluarga. How can?

Saya memang tak menganggur seratus persen. Ada juga saya bekerja bersama rekan menggarap sana sini. Jadi, bukannya saya membabi di rumah dengan kudapan-kudapan tinggi kalori. Saya sempat bermimpi juga ingin membeli PS3, ya anggaplah membangkitkan mimpi saya untuk bermain game yang tertunda selama koas. Namun setelah timbang kanan, timbang kiri, lebih banyak mudharatnya. Saldo tabungan akan terjun bebas setelahnya. Jadi, saya putuskan untuk bekerja saja.

Travelling?

Lagi-lagi soal travelling. Bukan pesta pora di dalam benak. Namun kalau saya membaca weblog Trinity dan jurnal The Naked Traveler-nya atau buku yang baru saya beli, The Journeys, air liur saya bagai air bah. Meluap-luap. Saya hidup dalam fantasi. Saya ingin menikmati Hagia Sofia di Turki, mencoba bratwurst langsung dari Jerman, indahnya atoll di Maladewa, atau sekedar menikmati ramainya Shibuya atau Ginza di Jepang atau birunya air Raja Ampat.

Entahlah hal ini mengiang-ngiang. Pikiran ini disela bahwa, "Hei-hei, kau belum selesai dari koas sepenuhnya. Judisium, judisium." Ah, memang menganggu pikiran. Namun fantasi tersebut benar-benar psikostimulansia.

Debby, hari ini seraya merayakan detik-detik terakhirnya di stase IKM, tiba-tiba mengungkapkan keinginannya untuk berjalan-jalan, backpacking, atau apalah itu. Menikmati Bali, bahkan hingga ke Filipina. Ketika berada di pusat perbelanjaan di bilangan Pluit, ia menemukan buku semacam log travelling di Filipina dengan sekian juta. Hal ini lumayan membuat saya tertarik, bukan saja karena saya tengah belajar Tagalog. Tapi that's travelling! Ok, keinginan saya.

Oh tidak. Saya sudah bermain dengan bayangan-bayangan saya. Walau pada akhirnya saya harus sadar penuh, kaki saya masih menapak label koas. Dan saya mulai berhitung.

Kamis, 21 April 2011

Detik-detik Terakhir Menjadi Sarden?

Konsulen (dr. Harie SpM dan dr. Arief SpM), saya dan rekan-rekan FKUAJ dan FKUKRIDA di Poli Mata RSUD R. Syamsudin SH, Kota Sukabumi.


Tidak menyangka bahwa tanggal ini semakin dekat. 23 April 2011. Sebuah tanggal di hari Sabtu sebagai tanda hari terakhir rutinitas sebagai koas akan berakhir. Mungkin agak angkuh disebut terakhir, namun sudah mereda.

Sebenarnya secara de facto 21 April 2011, saya menyelesaikan hari di Poli Mata bersama dr. Harie BS, SpM dan rekan-rekan lainnya. Ketika berpamitan dengan dr. Harie, ada satu rasa kelegaan yang merasuki. "Saya sudah selesai. Paling tidak saya menyelesaikan hari-hari saya di siklus terakhir ini." Seperti yang saya tulis di paragraf pertama, ini memang terlalu angkuh. Sebenarnya saya masih menyisakan ujian IKM yang seyogyanya awal tahun 2010 saya selesaikan. Karena satu dan lain hal akhirnya ditunda hingga koas ini berakhir. Saya juga masih harus ujian radiologi. "Tapi, ini hari terakhir rutinitas saya!", bela saya.

Tanggal ini 23 April 2011 ini, jujur saja, sudah mulai saya hitung-hitung. Sejak awal masuk koas tanggal 14 September 2009. Entah perasaan ingin cepat-cepat selesai, ataukah ada maksud lain. Apalagi ketika hitungan hari sudah mencapai H-100. Ada rasa keinginan yang begitu besar, "Ayo cepat-cepat selesai!" Diiringi rasa penat, satu saat saya sadar, bahwa saya takut alih-alih saya malah jadi terokupasi dengan pemikiran ini. Saya pun tak mau lagi mulai menghitung mundur. Tapi saya tetap menantikan tanggal itu.

Tanggal ini menjadi batu lompatan (milestone) yang memang tak begitu besar. Saya masih perlu berusaha untuk melewatkan hal lainnya seperti ujian, judisium, dan UKDI. Bahkan tantangan di depan mata masih besar. Dan masalah klasik saya pun masih belum dapat saya jawab dengan lantang, "Setelah Koas, Lalu Mau Apa?"

Semoga saya bisa jalani dengan mengalir, perjalanan dari sarden menuju tuna, dan akhirnya menjadi lumba-lumba (mengutip dari wejangan dr. Alex saat sumpah dokter periode yang lalu).

Tetap Semangat Erick!

Ket: Sarden adalah analogi terhadap koas, tuna adalah dokter baru, dan lumba-lumba adalah dokter yang telah mapan dan mumpuni.

Sabtu, 09 April 2011

Apakah Saya Tahu Sedikit Tentang Kehidupan Pasien Ini?

Ketika mengakses NEJM tadi pagi, saya tidak sengaja mendapatkan artikel-artikel di rubrik Perspective. Saya tertarik membaca bagaimana dokter-dokter di luar negeri memberikan refleksi dan pemahaman terhadap keprofesian dan masalah kedokteran, baik ditinjau dari sisi politik, etika, dan pendidikan.

Saya mendapat kutipan: "Osler said, "It is much more important to know what sort of a patient has a disease than what sort of a disease a patient has." We have to know even a little bit about a patient's life. Lose that knowledge, and we risk becoming more technician than clinician. (N Engl J Med 2009; 361:442-443)"

Kalau dialihbahasakan, kurang lebih demikian: "Osler mengatakan bahwa lebih penting untuk tahu hal mengenai diri pasien yang sakit itu daripada mengenai penyakit apa yang dia derita. Kita mungkin perlu tahu sedikit kehidupan pasien. Kalau kita tak tahu, kita akan lebih menjadi teknisi daripada seorang klinisi."

Mungkin bagi seseorang merasa tak penting untuk tahu nenek renta yang akan menjalani operasi katarak ini sudah punya berapa cucu. Mungkin kita kadang merasa bertanya apa makanan kesukaan seorang bapak-bapak adalah membuang waktu. Namun ini sangat berarti, apalagi bagi mereka kaum geriatri.

Kita mungkin baru akan menyadari bahwa ketika nenek itu tertawa dan bersemangat menceritakan kenakalan cucunya, akan menghibur hatinya yang tengah takut karena akan dioperasi. Kita mungkin baru merasakan ketika pasien bapak-bapak tersebut menanyakan sebaliknya dan ia membawakan makanan kesukaan kita dengan sukarela pada saat kunjungan berikutnya.

Dengan mengenal diri pasien, saya sebagai dokter kelak pun mudah-mudahan bisa menjalani keprofesian ini.


Rabu, 30 Maret 2011

Siklus Terakhir? Wew.

Suatu waktu yang berjalan begitu cepatnya, hingga-hingga saya pun merasa terkejut bahwa kini saya sudah berada di siklus terakhir di dunia perkoasan. Saya pun masih ingat 1,5 tahun lalu saya masih "anak ayam" yang menciap-ciap, yang begitu khawatirnya masuk ke siklus bedah. Koas pertama, siklus mayor pula.

Walau kini saya belum bisa bilang saya induk ayam, saya merasa masih ada di tahap remaja. Saya tengah berkembang di dalam perkembangan menjadi dokter, dan tentunya dengan segala kegalauan yang ada. Kegalauan karir, jodoh, dan keuangan. Sungguh klise, namun mau tak mau semua memasuki alam pikiran saya.

Di siklus terakhir ini, yang kebetulan minor, ini sebenarnya ingin dijadikan suatu antiklimaks. Namun sepertinya hal itu tak selamanya benar. Laiknya, menjadi klimaks untuk menghadapi UKDI dan perjalanan yang sesungguhnya. Dan pikiran saya kini harus didorong untuk mencapai klimaks dari suatu anti yang terlanjur terjadi. *Fuuh....*

Siklus terakhir ini juga menjadi momen evaluasi, sejauh mana saya sudah kompeten, sejauh mana hal yang perlu diasah lagi. Ilmu kedokteran seperti samudera, namun tidak mustahil untuk menjelajahnya senti demi senti. Dan saya pun kini berusaha menggapai senti tiap senti.




Sabtu, 22 Januari 2011

Cerita Tentang Makan-memakan Koas



Saya dan rekan-rekan (Vili, Devi, dr. Hendy, Astrid, Darwin, dan Gerry *yang mengambil gambar*) di Kantin STIKES St. Carolus di PK Sint Carolus Salemba, Jakarta. Gambar ini diambil saat Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam Sint Carolus.

Koas juga manusia. Koas juga perlu makan.

Bukannya karena saya berperut tambun terus berkoar-koar tentang makanan ya. Tetapi menurut saya, topik ini cukup menarik untuk diceritakan. Memang, makanan yang dimakan oleh koas itu tidak luar biasa. Namun, sebuah proses untuk mendapatkannya, itu yang luar biasa.

Kapan koas makan?

Ini pertanyaan pertama, yang mendasar. Kapan koas makan? Terkadang jawaban saya pada pernyataan ini membuat ibu saya mengelus dada. Saya selalu menjawab, saya akan makan ketika ada waktu. Saya seringkali tak makan pagi. Hanya menenggak susu panas buatan Mak Unah (salah satu orang di rumah tante saya), dan saya tak jarang mengatakan tak perlu susu bila pukul jam menunjukkan jam 5 pagi.

Ketika siklus mayor, saya sering harus mengeset alarm weker di pukul 04:30. Sering pula weker itu saya matikan tak sadar, dan ketika bangun sudah pukul 05:30. Astaganaga! Seringkali tak mandi (ups), tak makan, hanya bergegas ricuh, menyalakan si perak, tanpa pamit (karena orang rumah belum bangun kecuali Mak Unah), dan langsung ngacir ke rumah sakit yang menempuh 15-20 menit. Itu di rumah sakit di Pluit. Nah kalau di Kramat Jati, waktu harus diatur lebih awal lagi. Hal ini membuat ketika di rumah sakit, perut pun bernyanyi keroncong-an.

Memang, kalau di siklus minor yang datang jam 7, tidak perlu follow-up pasien, memang kesejahteraan perut di pagi hari lebih terjamin.

Tidak makan di pagi hari, sering juga dilanjutkan sampai siang menjelang sore, sehingga baru menyuapi perut dengan makanan pada sore hari.

Rekor saya makan adalah mendekati makan malam, karean harus menjaga pasien yang begitu buruk, dan rekan-rekan saya lain juga sibuk dengan pasiennya. Memang urusan pasien harus diutamakan dari urusan perut. Krukk.. krukkk...

Bagaimana cara koas makan?

Terutama kalau jaga malam, dan jam sudah mulai maghrib, inilah waktu koas mencari makan. Serunya, kalau jaganya ramai, kita akan berseragam memesan makanan. Saya sendiri jarang dan hampir tak pernah membawa makanan jaga untuk makan malam. Selain basi, tentu rasanya tidak sepenanggungan dengan rekan-rekan sejaga malam.

Mengapa saya katakan seru kalau memesan makanan? Karena masing-masing otak akan memesan seleranya masing-masing. Nah, sampai menemukan suara bulat, perlu waktu, dan menengok ke belakang makanan apa saja yang pernah dimakan di jaga malam sebelumnya. Untungnya kalau sedikit orang, dulu saya pernah memesan belasan kepala (karena ditebengi oleh koas bagian lain yang bangsalnya dekat). Hahaha... Selain ribet nelponnya karena pesanannya banyak, repot harus konfirmasi lagi (takut kalau ada yang ketinggalan), dan repot menagihnya! Pastinya uang itu akan ditalangi oleh seseorang dan menagihnya yang cukup repot. Di sinilah terlihat, siapa yang cincai-cincai (apa yang terjemahannya?) dan orang yang kikir dan teliti (bahkan ratusan pun dihitung!). Bagaimana membayar KFC yang harganya Rp 28.976 ya? Hehehe...

Apa saja yang dimakan koas?

Kami makan segala hal. Mulai dari nasi padang, nasi ayam, pesenan warung, indomie, sampai ayam goreng cepat saji. Kalau lagi di awal bulan atau uang masih "berlimpah" terkadang kami bisa sedikit royal memesan makanan. Kalau lagi bokek, indomie sudah bersyukur hehehehe....

Makan malam koas adalah suatu peristiwa yang harus disyukuri, peristiwa yang tak boleh dilewatkan. Dari sini akan mengenal kebiasaan masing-masing. Siapa yang jorok tidak cuci tangan, siapa yang makan supercepat tidak bernapas (*tunjuk tangan*), siapa yang makan berbunyi hehehe...

Ketika yang lain bersama keluarga

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah kami, para koas, harus makan malam di rumah sakit, dan sedangkan orang lain akan makan malam bersama keluarga mereka di rumah, menikmati masakan rumah. Ya, bisa menjadi suatu kerinduan, namun tetap menjadi suatu bela rasa di dalam diri, mengabdi dan melayani. Dan makan bersama rekan-rekan jaga pun tak kalah nikmat karena sudah anggap jadi keluarga sejaga malam.

Itulah kisah kami para koas, dokter muda dengan segala kisahnya mengenai makan-memakan. (Asal jangan makan teman saja ya... =p)

Selasa, 18 Januari 2011

Lagi-lagi Tentang Masa Depan Para Koas

Entah bagaimana pembicaraan para koas ini bisa bermula. Saat itu saya, dan dua rekan, I dan F tengah duduk membaca di depan kamar bersalin. Tiba-tiba muncul perbincangan tentang sesuatu yang namanya masa depan.

Mungkin rasa cemas ini pernah saya tuliskan di blog ini. Rasa cemas tentang "masa depan" muncul. Dulu ketika beranjak dari putih abu-abu menuju mahasiswa, menentukan pilihan menjadi dokter begitu membingungkan. Kemudian menjadi mahasiswa preklinik nan lugu menuju dunia koas, saya merasakannya kembali (Lihat, Jangan Ragu Lagi). Apakah itu suatu mekanisme transisi yang situasional, ataukah apa? Kini waktu terus berdetak, paling tidak untuk seratusan hari ke depan dimulai tanggal ini, saya pun selesai dari koas. Dan monster itu kembali menghantui. Saya kembali berpikir saya mau seperti apa masa depan ini? Sempat saya berpikir untuk PTT, studi lanjut. Mungkin hal-hal lain menanti seperti pernikahan, kemapanan hidup, dan lainnya.

Rekan saya F berceloteh, "Lu enak kali Hau. Lu cowok. Lu bisa menentukan sebebasnya dengan apa yang lu mau. Gw iri sama cowok." Apa yang saya tarik adalah masih banyak masalah-masalah lain di sana. Entah masalah gender, "umur", pernikahan, membentuk keluarga dan lainnya juga dirasakan oleh orang lain, terutama wanita? Tapi, begitu pula beban pun ada pada laki-laki, terutama bagaimana bisa menjadi kepala keluarga, memberikan nafkah.

Memang masalah begitu banyak. Banyak yang perlu timbang sana timbang sini. Sulit sekali membuat formulasi yang tepat. Saya sendiri memang sudah menyusun beberapa rencana setelah koas, namun lagi-lagi masih belum matang benar. Waktu sudah mulai mengejar.

Dan tak jarang pula saya bermimpi. Seperti rekan saya yang membayangkan, di suatu saat PTT di pulau yang tenang, penduduk yang ramah, dan makhluk koas ini menjelajah bumi. Saya sendiri membayangkan sungguh menyenangkan bila terjadi demikian. Namun sekali lagi ini adalah mimpi dan masih perlu pertimbangan (lagi-lagi) untuk menjadikannya kenyataan.

Masa depan ini masih dirasa buram, dan saya masih mencari di mana sang kacamata itu.
Tabik!

Mengenai "Catatan Koas"

Ini adalah tulisan selingan, intermezzo. Sembari menunggu membangun mood untuk membaca bahan kedokteran, dan ya mungkin bisa menghilangkan kepenatan.

Saya iseng-iseng membuka control panel dari Blogger ini dan menemukan ada Statistik. (Yeay!) Sungguh mati penasaran. Selama saya menulis blog ini, saya tak pernah menyentuh subpanel ini.
Dan beberapa hal membuat saya pun agak mengernyitkan dahi.

Reffering URL terbanyak ternyata dari web ICT Watch. Yup, tahun lalu, di bulan berapa -lupa-, bahwa blog ini pernah diberi penghargann Bronze Award. Ya artinya web saya termasuk yang terpilih di minggu itu. Ternyata efeknya lumayan!

Dan, yang membuat saya kaget, bahwa kata kunci terbanyak adalah "semarang"! Mungkin gara-gara Catatan Kuliner Koas Forensik yang ditulis dalam dua seri itu! =P Dan ternyata orang-orang yang menggugling (googling maksudnya) dengan kata "apa itu koas", "koas dalam kedokteran", "buku umum yang harus saya baca sebagai mahasiswa fk" bahkan "hak dan kewajiban koas" (Undang-undang kali ya!). Dan yang paling aneh "rintihan koas". Saya jadi berpikir apa saya pernah merintih di blog ini. *Ngubek-ngubek blog.

Akhirnya, posting yang paling banyak dibaca adalah..... Dokter Muda (Koas): Benarkah Mereka Sombong Sekali?, sebuah tulisan tanggapan atas artikel Afandi Sido di Kompasiana. Kemudian mengenai Semarang, Aku Datang serta Tuan R Pasien Perdana.

Saya pun berharap agar blog sederhana ini bisa membantu bagi mereka yang memerlukannya. *Seperti minta sumbangan* Hehehehe....

Jumat, 14 Januari 2011

Engkau Guru dan Penyembuh Tauladan Kami

(In Memoriam dr. Lutfi Hamzah, Sp.BOnk)

Seketika aku terdiam
Aku berulang kali memastikan
Segala huruf yang tertera dalam pesan singkat itu
Sebuah kabar lelayu akan guru kami
Aku tak percaya, sungguh tak percaya

Langsung terbayang di benakku
Sebuah kenangan lama akan sosok itu
Ia, seorang guru
Ia, seorang penyembuh

Yang terbesit dengan cepat ialah wajahnya
Dengan kacamata dan janggut panjangnya
Ia, seorang guru
Ia, seorang penyembuh

Satu hal yang ku sesali ialah ia telah selamanya pergi
Tidak dapat lagi ku dengar siulannya lagi
Tiada lagi nyanyian-nyanyian kecilnya di sebuah pagi
Tak ada lagi wajah ramahnya meramaikan hari

Apa yang kudapati adalah sebuah sikap rendah hati
Masih ku ingat ketika ia menyempatkan waktunya
Dengan sabar, dengan peluhnya
Untuk memberi ilmu dan tauladan dengan lembut hati

Operasi demi operasi tak kenal lelah ia jalankan
Pasien demi pasien ia sapa dengan ramah
Bahkan pasien kanker yang tak ada lagi asa
Diberikannya semangat sehingga bertambahlah rasa

Namun dengan segalanya itu
Kini ia telah menunaikan tugasnya
Dan ditinggalkannya sang bima sakti
Selamat jalan guru, selamat jalan penyembuh

Engkau tetap hadir di sanubari

Sunter-Jakarta, 14 Januari 2011


Alm. dr. Lutfi Hamzah, Sp.BOnk bersama saya dan rekan-rekan saat menjalani kepaniteraan klinik Ilmu Bedah di Rumah Sakit Kepolisian Pusat Raden Said Soekanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Gambar diambil November 2009.

Minggu, 09 Januari 2011

Resolusi 2011

Hal ini terangkat dari rekan-rekan yang tengah gencar menuliskan Resolusi mereka di tahun 2011. Bagaimana dengan resolusi saya?


1. Menentukan Jargon Kriteria "Mau Jadi Dokter Seperti Apa?"

2. Menyelesaikan Sisa Kepaniteraan Klinik agar tak lagi jadi sarden dan lulus tepat waktu

3. Lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia

4. Menentukan Minat Bidang Studi Lanjut (PTT? Sp atau Magister?)

5. Mengembangkan Bahasa, terutama Bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman

6. Travelling setelah koas

7. Cari pengalaman dunia kerja setelah koas

8. Terus memperbaiki diri, spirituil terutama berpikir positif dan mengendalikan diri

9. Mengembangkan kemampuan menulis, minimal 1 tulisan masuk ke media cetak

10. Memperbaiki berat badan, menuju ke BMI Overweight (Bye bye- Obese 1)

11. Menjalani resolusi dengan tepat guna.

Sabtu, 08 Januari 2011

Sehari Tanpa Medis

Akhirnya saya menyelesaikan rotasi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin di RS P di Jakarta. Ini adalah sebuah kelegaan (artinya saya tinggal harus menyelesaikan 2 rotasi lagi). Rotasi Kulkel ini meninggalkan kesan yang lumayan, berada di rekan-rekan yang mengasyikkan, kasus-kasus medis yang banyak dan bejibun. Yup di RS P pasien begitu beragam, berbagai kasus kulit dan kelamin didapatkan. Cukup bersyukur sebenarnya memperoleh rotasi di sini.

Salah satu yang menjadi kerinduan, setelah menyelesaikan ujian, adalah perasaan "libur". Saya terakhir kali benar-benar merasakan hal ini saat setahun lalu. Memang sudah sangat lama bukan? Tanggal merah yang ada di kalender pun rasa-rasanya belum cukup. Saya memutuskan untuk mencoba merasakannya lagi kemarin, Sehari Tanpa Medis. Maksudnya, adalah hari-hari ketika saya bisa mengerjakan dengan leluasa segala hobi-hobi non medis, membaca buku non-fiksi hingga selesai. Pokoknya benar-benar tak ada satu ons pun perihal medis di otak dan tak ada hal pekerjaan atau masalah-masalah pelik di otak saat hari itu.

Saya pun berangan. Bayangan saya, mungkin menikmati pantai laut di Maladewa, menikmati semilir anginnya, dan tenang temaram, sambil berangan-angan ingin melakukan hal-hal lainnya. Sayangnya itu adalah hal yang terlalu mustahil, dan janganlah menjadi waham atau delusi (Doh, istilah medis lagi!). Maka dari itu saya berusaha menikmati apa yang saya punya.

Yang penting adalah refreshing dan mencoba bermimpi, menikmati hidup sehari tanpa medis. Saya pun kembali diingatkan mengenai kehidupan yang indah dan tak selamanya pelik.

Minggu, 26 Desember 2010

Setelah Koas, Belajar Bahasa!

Saya dan rekan-rekan saat studi Bahasa Jerman di Goethe Institut Internationes Jakarta, Menteng.
Kalau tidak salah ini tahun 2003-2004!

Saya tiba-tiba ingin sekali menulis tentang ini. Ya, mungkin ini adalah tulisan mengenai hal-hal yang akan segera datang (Yeay!) paling tidak kurang dari 1 tahun mendatang. Artinya? Setelah saya menyelesaikan studi di Kepaniteraan Klinik ini. Mengapa harus setelah koas? Ya, koas ini secara tidak langsung mengubur beberapa impian saya, membuat hal-hal tidak bisa saya lakukan dalam masa ini. Ya, artinya hal-hal ini sudah terkubur selama 1,5 tahun terakhir. Saya sangat tidak sabar menunggu pertengahan 2011, dan artinya saya akan "bebas". Hahaha!

Pertama, saya sangat ingin melanjutkan kembali mempelajari kembali bahasa-bahasa, terutama beberapa bahasa yang saya rasa tanggung. Ya dulu sempat mempelajari beberapa tata bahasa sederhana. Saya ingin sekali melanjutkan lagi belajar bahasa Jerman, bahasa Mandarin, belajar bahasa Tio Ciu (Masak orang Pontianak, Tio Ciunya amburadul?), bahasa Jepang, bahasa Tagalog, dan ada keinginan untuk satu dari bahasa Eropa Selatan (Italia, mungkin?) dan satu bahasa Eropa Timur (Rusia!).

Saya kembali terinspirasi dari salah satu pengguna Youtube, loki2504, yang belajar banyak sekali bahasa dan dia bisa mempraktikkan dengan lancar. Seandainya, saya bisa seperti dia! Ingin sekali bisa seperti dia.

Hingga kini yang lancar saya hanya bisa Bahasa Indonesia (Hiks) baik untuk berbicara, menulis, dan mendengar serta menulis ilmiah. Bahasa Inggris ya kalau membaca buku teks kedokteran masih bisa, tapi berantakan juga kalau disuruh presentasi ilmiah (Jadi ingat presentasi Emergency Case Report ketika di stase Bedah). Kelompok bahasa Mandarin menjadi suatu impian juga untuk dikuasai, ya karena saya keturunan Tionghoa, paling tidak saya harus bisa juga. Bahasa Jepang sedikit-sedikit tahu kana (itu dulu, sekarang lupaa... ) karena kekerapan menonton anime. Bahasa Jerman, karena dulu terlanjur bahasa belajar resmi di Goethe. Bahasa lainnya menjadi keinginan.

Saya memang berusaha mempelajari secara otodidak, mendengar melalui ipod (sekarang ipodnya diwariskan ke adik saya). Koleksi beberapa buku belajar bahasa pun ada. Namun waktu tidak ada... Yang ada pulang ke rumah setelah koas, capai, dan tidur. Atau kalau tidak mengerjakan tugas. Hemmm, impian itu masih ada, dan sempat terkubur dan terlupa. Tetapi sejak melihat video dari loki2504, mimpi itu kembali bangkit.

Mungkin Anda bertanya mengapa susah-susah belajar bahasa? Saya juga sulit menjawabnya. Bagi saya sangat menarik belajar bahasa, dan itu sangat membuka wawasan yang ada di luar ilmu berbahasa lokal. Dan ternyata saya baru menyadari bahwa ini juga berhubungan dengan salah satu impian saya lainnya (setelah koas, tentunya) yaitu menjelajah, berpergian, keliling dunia. Semoga mimpi itu tetap ada!

Jumat, 03 Desember 2010

Kisah dengan Pasien-pasien Neurologi

Saya dan rekan-rekan koas neurologi

Blog ini sudah tampak berdebu, penuh tikus dan laba-laba. Sudah lama sekali -sangat lama-, saya tidak tulis menulis di tempat ini. Sebenarnya saya sangat merindukan untuk menulis. Tapi, ya, kegiatan koas begitu banyak memakan waktu. Dan bulan kemarin saya menghabiskan kepaniteraan di RSUD S di Kota Sukabumi. Celakanya, saya tidak memiliki akses internet kecuali si Blackberry yang semakin lama semakin rewel minta di-reboot ulang terus.

Yang saya ingin bagikan kali ini, lagi-lagi tentang pasien. Ya, saya tidak punya cerita tentang apapun lagi yang berkesan di bulan kemarin. Yup, sudah saya pikirkan dan bongkar-bongkar lagi. Mungkin Anda bosan dengan cerita tentang pasien melulu. Namun, ini cukup berbeda dari cerita dua anak retardasi mental dan pasien dengan penyakit jiwa yang sudah lalu saya kisahkan. Mari saya mulai.

Saya menghabiskan waktu sebulan di bagian neurologi di RSUD Syamsudin, ya sebelumnya di seminggu di RS A di Jakarta. Ada satu hal yang menarik saya ketika salah satu konsulen berkata: "Saya lebih suka Anda berada dengan pasien, menghabiskan waktu dengan pasien, ataupun sebisanya sering dengan pasien." Ya, mungkin kata-kata ini tidak biasa bagi para koas. Ada beberapa yang menganggap pasien adalah guru. Beberapa pihak juga merasakan pasien adalah beban, terutama bagi yang jaga malam karena harus mengisi laporan. Kalau saya? Saya memilih jalan tengah saja, pasien jangan terlalu banyak tapi saya senang bersama dengan pasien. =)

Saya senang bersama dengan pasien-pasien neurologi. Ya, tentunya bukannya saya senang dengan penyakit mereka. Tetapi karakteristik mereka yang berbeda dengan pasien bagian lainnya. Pasien neurologi, terutama pasien stroke adalah pasien yang secara sekonyong-konyong harus menerima kenyataan mereka stroke, badan lumpuh, atau berbicara pelo. Mereka adalah orang-orang yang menyesali diri akan kesehatan mereka, kebiasaan mereka. Mereka adalah pasien yang sepenuhnya bergantung pada orang lain. Selain karena dimakan usia, mereka kehilangan kemampuan untuk hal-hal dasar seperti berjalan, mandi, makan, dan bahkan berbicara. Dan dibalik itu semua, mereka masih memiliki jiwa yang sadar dan bergejolak dahsyat.

Tn L

Adalah pasien Tn L yang terbaring lemah di unit stroke. Pasien ini sebenarnya bukan pasien yang secara langsung saya terima. Ia sudah menjalani beberapa hari perawatan di sana sebelum saya memulai kepaniteraan. Pasien ini terkenal banyak maunya, sering memanggil perawat, sering meminta untuk diukur tekanan darahnya. Ketika membagi follow-up pasien, saya mendapat pasien ini. Ya, untuk permulaan saya tentunya mendatangi pasien untuk mengetahui riwayat penyakitnya. Dia banyak bercerita, banyak berkisah. Sampai suatu ketika saya menyimpulkan pasien ini memiliki kepribadian yang cemas. Ia takut stroke iskemik itu terjadi pada dirinya. Dia takut semuanya. Bahkan makanan rumah sakit ia takuti bergaram dan bisa memperburuk kesehatannya. Saya berusaha untuk memberitahunya berbagai hal yang tak perlu ia takuti. Setelahnya saya berpamitan dan pulang ke asrama koas di sana.

Keesokan harinya saya mendapati kabar bahwa ternyata saya dicari-cari oleh keluarga pasien itu. Mau ketemu "dr. Andrian" katanya. Ternyata dia lagi-lagi cemas pada malam itu. Memang kepribadiannya begitu rentan. Dan hari-hari berikutnya saya terus menerus dicari. Saya agak sedikit jengkel sebenarnya, hahahaha... Karena saya tidak jaga kok dicari-cari. Namun saya cukup senang, karena mungkin itu adalah tanda penghargaan. Dan ketika ia pulang pun saya sudah tak berdinas di unit stroke, saya masih dapat bertemu isterinya dan berpamitan.

Ny T

Ny T, seorang ibu separuh baya dengan stroke iskemik. Mulutnya pelo, badannya lemas separuh. Apa yang saya dapati berbeda dengan kasus Tn L. Walaupun ia terkena stroke, ia masih berusaha untuk semangat, bahkan ia menjawab pertanyaan dengan lantang. Ia pun sering tertawa, bahkan kadang-kadang menjadikan dirinya bahan humor di seantero bangsal kelas 3.

Keesokan harinya, saya mem-follow-up Ny T. Saya menemukan bahwa tangan dan kakinya yang lemas mulai pulih, mulai kuat. Saya pun mengatakan, "Wah ibu, Alhamdullilah. Ini sudah perbaikan. Sudah bisa main panco ya bu." Ny T terkejut dan senang sekali. "Benar dok?" Saya hanya bisa tersenyum dan anak yang menunggunya pun tersenyum senang. Saya pun menjawabnya, "Ini karena pikiran ibu yang tetap semangat." Saya pun meninggalkannya, dan ia pun menggerak-gerakkan tangannya yang dulu lemas itu. Dan hingga beberapa hari ke depan, ia tetap senang dan gembira sampai pada akhirnya pulang untuk perawatan di rumah.

Mungkin ini kebiasaan yang terkadang dikeluhkan oleh teman-teman saya. Bahwa kalau saya anamnesa terlalu lama. Terkadang saya keluar anamnesa malah menjadi mengobrol, tanpa membicarakan penyakitnya. =P Namun bagian ini yang saya suka, bergaul dengan pasien.

Tidak ada salahnya bukan kalau kita tahu berapa cucunya dan apa makanan kesukaannya?

Kamis, 02 September 2010

Dokter Muda (Koas): Benarkah Mereka itu Sombong Sekali?

Ada sebuah tulisan yang cukup menghebohkan dunia kedokteran, terutama pendidikan dokter. Tulisan yang dimuat di kompasiana itu berjudul Para Calon Dokter itu Sombong Sekali yang ditulis oleh Afandi Sido. Penulis blog itu menuturkan tanggapannya atas apa yang ia lihat dan rasakan terhadap dokter-dokter muda yang ada di salah satu RS di Yogyakarta. Ia merasakan dari sisi awam bahwa dokter-dokter muda menyebabkan kesenjangan sosial dan cenderung eksklusif, tidak memiliki rasa empati terhadap pasien dan orang-orang sekitar.

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk memberikan tanggapan dari sisi dokter muda mengenai tulisan dan berbagai streotipe yang beredar di masyarakat. Semoga dapat memberi cakrawala lain bagi tulisan tersebut. Dan tentu tulisan ini adalah opini dan argumentasi.

 

Menjadi dokter adalah sebuah cita-cita bagi banyak orang. Menjadi dokter juga adalah sebuah impian, harapan bagi berbagai idealisme. Baik idealisme menolong orang lain, memenuhi harapan keluarga, hingga mengangkat harkat martabat keluarga. Apapun itu dasarnya, tidak bisa dielakkan, tidak bisa diubah, dan itulah keunikan setiap individu yang ingin menjadi dokter.

 

Menjadi dokter pula bukan berarti tanpa biaya. Namun juga bukan berarti biayanya murah. Memang sebuah fakta, bahwa menjadi dokter, di Indonesia, adalah barang yang mahal. Kocek memang harus diraba lebih dalam. Hal ini membuat asumsi masyarakat bahwa FK (Fakultas Kedokteran) adalah Fakultas Kaya. Saya kira suatu hal yang masuk akal saja bahwa orang yang mampu secara ekonomi dapat masuk FK, toh dia mampu-mampu saja. Dan tentu saja dibalik itu orang yang tidak mampu, tidak boleh tidak dapat masuk FK karena terdapat banyak jalur pembiayaan pendidikan termasuk beasiswa. Yang jelas kedua-duanya, baik yang kaya atau tidak mampu, memiliki satu kesamaan yang tidak dimiliki orang lain, yaitu kemampuan akademik yang tepat untuk menjadi dokter. Itu saja. Maka saya kira masalah pundi-pundi bukan alasan untuk masuk FK.

 

Menjadi dokter harus melalui dua tahap pendidikan, yaitu praklinik dan kepaniteraan klinik. Praklinik adalah menjalani kuliah-kuliah selama 3,5 tahun-4 tahun dan setelah menyelesaikannya akan diberi gelar S.Ked (Sarjana Kedokteran). Seorang S.Ked belum dapat menjadi dokter. Sama seperti Seorang SE (Sarjana Ekonomi) belum dapat menjadi akuntan. Seorang SH (Sarjana Hukum) belum dapat menjadi advokat atau notaris. Maka seorang S.Ked harus menjalani kepaniteraan klinik atau koas (dari kata ko-asisten, artinya jelas sebagai asisten dokter, bukan dokter) atau periode dokter muda selama 1,5-2 tahun. Setelah itu, dengan kurikulum baru dan kebijakan baru harus melewati masa internship selama 1 tahun dengan STR sementara, sebelum itu menjalani UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia). Baru dapat mengajukan STR tetap dan SIP sesuai dengan UU Praktik Kedokteran. Baru dapat praktik mandiri sebagai dokter.

 

Menjadi koas. Menjadi koas adalah suatu periode pendidikan dokter yang ditekankan pada penerapan (aplikasi) teori-teori yang sebelumnya sudah didapat dari periode praklinik. Menjadi koas bukanlah menjadi dokter mandiri. Koas memiliki hak dan kewajibannya sendiri dan serupa-tak-sama dengan hak dan kewajiban dokter. Koas dan dokter punya kewajiban untuk menghormati pasien, bersikap profesional sesuai keilmuan, dan lainnya. Namun koas tidak ada hak untuk berpraktik mandiri. Semua apa yang dilakukan koas harus berada dibawah supervisi dokter pembimbingnya. Namun dibalik itu mereka pun dituntut untuk memiliki profesionalisme layaknya dokter mandiri. Jadi, saya kira ketika masyarakat awam berhadapan dengan koas, maka sudah sesuai aturan yang ada, bila mereka tidak dapat menegakkan diagnosis dan memberi terapi secara mandiri di depan pasien tanpa dikonsultasikan dengan pembimbingnya.

 

Menjadi koas memang posisinya seperti serba tanggung. Mereka menganamnesa pasien, memeriksa pasien, kemudian baru dilaporkan ke pembimbing, dan diricek ulang pembimbing, baru dapat ditegakkan diagnosis oleh pembimbing. Memang tampak ribet, dan tidak seperti ke dokter biasa yang bisa dilewati proses oleh dokter muda langsung ke dokter praktiknya. Hal ini tidak jarang memberi kesan bagi pasien, apakah saya jadi bahan percobaan? Tentunya di sini perlu ada kesepahaman antara dua pihak. Koas perlu bersikap profesional dan memberi rasa nyaman sehingga pasien tidak dirugikan. Dan sebaliknya pasien perlu paham bahwa dirinya bukanlah kelinci percobaan, tetapi dirinya terlibat sebagai guru bagi koas sehingga koas pun bisa mengembangkan dirinya untuk menjadi dokter yang baik kelak. Apakah masyarakat mau punya dokter yang selama hidupnya hanya melakukan tindakan dengan boneka saja?

 

Apakah pasien harus takut bila diperiksa koas? Ini kembali lagi kesepahaman. Koas harus bersikap profesional, rasional, dan sesuai dengan janji hipokratiknya untuk "First do no harm -- Yang terutama, jangan mencelakakan orang". Kemudian ia menerapkan apa yang ia pelajari sesuai dengan standar ilmu yang ada. Di dalam proses dunia fana ini, mungkin terjadi kesalahan. Misalnya koas yang menginfus pasien menyebabkan bengkak di tempat penusukan dan akhirnya penusukan infus diberikan ke pembimbing. Ingat bahwa semata-mata, koas tidak ada niat mencelakakan pasien, ia berusaha yang terbaik bagi pasien. Kesalahan yang ada bukan disengaja. Tindakan-tindakan ini memerlukan pengalaman yang tak hanya sekali. Seperti anak yang belajar berjalan, apakah ia dapat tanpa tejatuh atau tertatih dahulu?

 

Menjadi koas, seperti yang disebutkan, perlu mengedepankan rasa profesionalisme layaknya dokter praktik. Harus mampu menempatkan diri dan sikap yang sesuai. Jelas dokter muda tidak boleh terlihat asyik bermain game di depan pasien. Dokter muda tidak boleh diam saja ketika pasien memerlukan pertolongan. Dokter muda tidak boleh terlihat cengengesan di depan pasien. Ya, ini layaknya seorang dokter.

 

Selama hampir 1 tahun saya menjadi koas, saya merasakan banyak pengalaman menjadi dokter muda. Baik dari yang diacuhkan pasien karena saya seorang dokter muda, namun tidak sedikit saya mendapat pengalaman berharga bersama pasien. Banyak pasien yang juga senang terhadap dokter muda, karena mereka dapat mencurahkan isi hatinya lebih banyak, karena mereka dapat bertanya lebih banyak. Karena dengan dokter mudalah yang lebih sering berinteraksi dengan mereka daripada dokter konsulen dan perawat. Karena dokter mudalah yang sering menjawab bel panggilan mereka ketika infus mereka macet. Karena dokter mudalah yang seharian membantu memberi napas bantuan melalui kantung ambu ketika pasien tidak mampu membayar ICU. Dokter mudalah yang menghitung detail air minum dan air kencing pasien yang gagal jantung. Dan tentunya ini berakhir dengan ucapan: "Terima kasih dokter" kepada dokter muda itu.

 

Apa kesimpulannya? Antara pasien dan koas perlu ada kesepahaman, perlu ada rasa menghargai dan menghormati satu sama lain. Eksistensi keduanya saling diperlukan. Pasien tidak perlu lagi merasa dirinya kelinci percobaan. Koas tidak perlu merasa pasien adalah duri dalam daging. Tetapi keduanya saling merasa membutuhkan sehingga menghasilkan hubungan yang mutualisme satu sama lainnya.

 

 

Kamis, 20 Mei 2010

Catatan Kuliner Koas Forensik (2-tamat)

Ternyata oh ternyata! Saya masih memiliki hutang untuk menulis lanjutan Catatan Kuliner Koas Forensik. Yup, memang di minggu kedua hingga keempat di Semarang, saya tak mampu lagi makan segencar di minggu pertama. Mengapa? Soalnya mulai kismin (baca: miskin, uang yang ada jauh berkurang). Tapi beberapa catatan ini, mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi Anda, terutama koas yang akan bertandang ke Semarang. Mari mas!

  • Semawis. Semacam festival jajanan di Pecinan Semarang. Hanya buka di Malam Sabtu hingga Malam Senin (Jumat Malam hingga Minggu Malam). Makanannya beragam, dari nasi campur, siomay, hingga mie cool. Mie cool? Ya, itu semacam es sirop dengan jelly berbentuk mie, jadi memakannya pun harus menggunakan sumpit.
  • Dim Sum All You Can Eat di Restoran Mutiara. Lokasinya di Setiabudi, di sebelum Pom Bensin Gombel. Yang asik, pandangan restorannya bisa melihat hamparan kota Semarang yang lebih rendah. Restoran ini berada di atas bukit. Dim Sumnya overall lumayan, hakau-nya lezat. (Saya pecinta hakau). Namun sayang, somai-nya masih kurang enak. Harganya hanya dimsum (tak termasuk bubur) adalah 45.000++ dengan 10 porsi/orang dan order hingga 18:00 WIB.
  • Roti Swiss. Langganan saya yang ada di Jalan Gajahmada. Favoritnya: Kue spons durian. Hmmm...
  • Nasi Ayam Bu Wido. Ada di jalan ke arah Karanganyar Loyola, di sebelah Roti Swiss. Rasanya lumayan (menurut saya lebih enak Nasi Ayam Bu Nyoto di Mataram), Harga 5000.
  • Soto Neon. Saya lupa nama daerahnya, tetapi dekat Loyola. Yang enak ya, nasi sotonya. Dan favorit saya yang kedua adalah tahu gimbalnya (mirip ketoprak (?))! Yummy! Basonya biasa saja menurut saya. Harga soto sekitar 6000, tahu gimbal 9000.
  • Pondok Makan 78. Ini ada di depan Kariadi, sederetan dengan Mie Lampung dan Rumah Ijo. Rasanya lumayan, kalau merasa bosan dengan Mie Lampung atau Rumah Ijo. Entah mengapa, saya cukup senang dengan Nasio Goreng Kornetnya! Tapi kelemahan dari rumah makan ini, masaknya lammaaa....
  • Nasi Goreng Ayam atau Nasi Gongso Bu Pawon, masih di Jalan Kariadi, di dekat toko galon air Biru. Rasanya enak! Beneran. Ayamnya juga banyak. Dan mungkin resep enaknya adalah, ibunya masak porsi per porsi, tidak rombongan. Tapi jeleknya, ya jadinya lama. Harga per porsi nasi goreng ayamnya 7000.
  • Warung Pecel Bu Sumo. Ada di depan kantor Golkar Jateng. Warungnya sih sederhana tapi ramai, tampaknya warung ini memiliki legenda sendiri. Rasanya lumayan, apalagi bila dihidangkan dengan bakwan hangat. Hmmm... Harga pecel sekitar 5000-10000 tergantung dari ragam isi-nya. Bisa ditampah empal, dan lainnya.
  • The Hills. Ada di dekat perumahan Bukit Sari daerah Gombel, tepatnya di Jalan Bukit Bisma. Lingkungannya sih luar biasa, melihat kota Semarang dari atas, dan restoran yang asik untuk berpacaran (sayang sekali saya tidak bisa menikmatinya hahahaha). Namun, makanannya sendiri mahal dan tidak worthed, apalagi untuk kantong mahasiswa. Begitupula dengan cita rasanya, terlalu biasa. Jadi menurut saya, hanya lingkungan dan suasananya saja yang bisa dinikmati.
  • Kampung Laut. Lokasinya di Puri Anjasmoro, Semarang Utara. Lingkungannya bagus, mengingatkan saya pada Bandar Djakarta di Ancol atau Sei Kakap di Pontianak. Tapi harganya mahal dan rasanya tidak begitu luar biasa. Bahkan D'Cost di Jakarta, masih sebanding!
  • Pujasera Manggala. Ya semacam foodcourt di perempatan jalan. Suasananya lumayan untuk berkumpul, diiringi musik hidup. Yang menarik adalah restoran Hiu Segara, ada berbagai macam menu hiu. Favorit saya: Hiu Goreng Tepung!
Mungkin demikian apa yang bisa saya dokumentasikan. Dan... kalau ada yang punya catatan lain, monggo dikomentarin! Matur nuwun!

Memoar Ilmu Forensik dan Medikolegal: Kultur Jawa

Hari ini adalah hari pengumuman ujian OSCA (Objective Structured Clinical Assesment) untuk kompetensi Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di FK UNDIP Semarang. Dan, puji Tuhan, saya mendapat penilaian A untuk itu. Pada akhirnya, saya pun bisa menghela napas lega. Secara de jure, 4 minggu pembelajaran Forensik ini sudah selesai, dengan menunggu waktu beberapa rekan yang akan remedial pada akhir minggu ini. Dan tak lama lagi pula, saya akan kembali ke kota Jakarta untuk melanjutkan kepaniteraan Psikiatri dua minggu lagi.

Memang di Forensik ini saya mempelajari dan mempraktekkan seperti pembuatan Visum et Repertum yang sebelumnya belum pernah saya buat di masa preklinik, teknik otopsi, masalah-masalah medikolegal seperti informed consent, dan berbagai hukum yang ada. Saya mencoba menelaah benar, karena bila nanti PTT di daerah terpencil yang tidak ada ahli forensiknya, mudah-mudahan saya bisa memahaminya.

4 minggu di Kota Semarang ini memberi banyak kesan, selain kesan jalan-jalan tentunya. Paling menarik adalah ketika saya bisa berinteraksi dengan orang-orang dalam kultur lain. Mungkin di Jakarta, perbedaan kultur sudah hampir sedikit, bahasanya pun demikian. Tetapi mungkin berbeda dengan di Semarang, yang budaya Jawanya sangat terasa. Bahkan lidah ini pun ikut-ikutan medok. Hahahaha... Mungkin lafal saya agak runyam, namun ketika mengucapkan "pinten", "piro", "ndi", "opo", "mbak", "mas", "piye", "toh yo", bisa dimengerti oleh orang lokal. Sekalian belajar bagaimana bisa beradaptasi. Itupun terjadi ketika berinteraksi dengan para supir angkot. Ya, sebagian besar dari kami tidak membawa mobil, angkutan tersayang kami adalah angkot. Bahkan ke Mal Paragon atau katedral, semua dengan angkot. Kadang kala taksi pun menjadi pilihan.

Semarang ini mampu memberi kesan yang baik bagi saya. Dan, suatu kali saya pun perlu bertandang lagi ke sini.

Selasa, 20 April 2010

Bahasa itu Penting!

Saya menyukai bahasa. Mempelajari bahasa adalah mempelajari budaya suatu bangsa. Dan saya tidak pernah menyesal mempelajari bahasa.

Tentunya saya harus bisa menggunakan bahasa Indonesia, karena ini adalah bahasa resmi di negara saya. Saya harus bisa dalam tahap yang "gape", yaitu bahasa bisa digunakan dalam bahasa cakapan hingga bahasa ilmiah. Bahasa Inggris tidak terlalu baik, saya masih menggunakan secara pasif untuk akademik. Bahasa Mandarin pernah saya pelajari sejak kelas 4 SD hingga SMP dan masih bisa saya gunakan sedikit untuk cakapan sehari-hari. Bahasa Jerman pernah dipelajari juga tapi sayangnya tak selesai dalam kelas Zertifikat Deutsch-nya. Bahasa lain saya pelajari secara otodidak.

Saya menyadari bahwa bahasa adalah sesuatu yang teramat penting. Apalagi saya akan bekerja sebagai profesi yang memerlukan komunikasi dan berhadapan langsung antarpersona.

Saya baru mendapatkan tadi seorang pasien asli RRC yang baru saja pulang dari Pontianak dan mengalami demam 1 minggu. Ia saat itu membawa penerjemah, dan pada akhirnya penerjemah itu hilang, saya diminta untuk memberitahunya untuk menampung urine dan fases di botol bukal. Apa daya saya mencoba menggunakan bahasa yang saya tahu: "Xien shen, ru guo ni yao da bian he xiao bian, ni na zai zhe li. Ru guo hao le, ni ge yi gao xu wo men yung zhe ge (sambil nunjuk bel)." Bahasa yang aneh, gado-gado, nggak jelas. Tapi dia bisa mengerti juga.

Dulu juga terdapat pasien rekan yang berasal dari Pontianak, saya mengajaknya berbicara Tio Ciu, bahasa ibu di Pontianak. Memang, seketika suasana langsung berubah. Suasana kian akrab, seakan kami adalah keluarga yang sudah lama tak berjumpa.

Memang bahasa itu penting, itu kata bapak saya. Saya pun mengangkat jempol kepadanya. Ia menunjukkan kemampuannya bergaul dengan orang lain mulai dari bahasa dan komunikasi. Hal ini juga membuat saya berpikir untuk perlu mengembangkan bahasa ketika saya sudah menyelesaikan pendidikan kepaniteraan klinik ini. Mudah-mudahan bisa! =)