Tampilkan postingan dengan label kepaniteraan umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepaniteraan umum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2009

Jas Putih?

Saya masih ingat hingar-bingar saya sebagai "mahasiswa pre-klinik yang mendambakan dirinya segera menggunakan jas putih". Sebuah rasa kebanggaan tak terkira. Saat itu masih mendambakan alias berangan-angan. Namun memang dasar kelewat percaya diri, bahkan sebelum Sarjana Kedokteran diraih, rata-rata mahasiswa pre-klinik sudah memiliki jas putihnya.

Memang terus terang, ada perubahan secara fisik yang ditimbulkan oleh jas putih. Ketika mengingat mahasiswa yang biasanya menggunakan t-shirt seadanya, jins biru yang kerap tidak dicuci. Kini harus bertransformasi menjadi mahasiswa profesi yang menggunakan celana bahan, kemeja rapi jali, dan dibalut jas putih serta papan nama kecil di atas kantung jas. Mungkin secara kepribadian masih sama nakalnya dengan saat mahasiswa pre-klinik, tapi persepsi penampilannya menjadi berubah.

Saya jadi bertanya, apa sebenarnya makna dari jas putih ini? Apakah hanya sekedar simbol menandakan "Gue Dokter", atau apa? Setelah saya mencoba merenungkan, saya mendapatkan bahwa jas dokter ini menandakan sebuah tanggungjawab yang diemban. Sebuah tanda bahwa saya memiliki sesuatu yang baru yang harus saya pegang amanahnya. Mungkin seperti pastor dengan stola dan kasulanya di depan altar misa jelas berbeda ketika ia dalam keseharian menggunakan kemeja biasa. Di misa, ia bertanggungjawab dalam memimpin misa. Begitu pula dokter, dengan jas putih ini berarti memiliki tanggung jawab.

Seperti apa yang saya temui saat kepaniteraan umum kemarin. Ketika saya membantu pengukuran tanda vital seperti tekanan darah, saya disebut dokter oleh salah satu pasien. Padahal siapa sih saya? Dokter bukan. Koas bukan. Ya apalah itu sebutan bagi mahasiswa pre-klinik yang menjalani masa transisi ke klinik. Ehm, dokter muda transisi?

Mengapa harus putih? Mengapa tidak cokelat seperti polisi, merah seperti branwir? Dalam buku Dr. Triharnoto mengatakan mungkin saja ini adalah perlambang kemurnian atau secara aktual disebutkan sebagai kejujuran dan kerendahhatian. Tentunya ini menjadi suatu tambahan tanggungjawab yang harus diemban. Menjadi seorang dokter yang "murni" jelas menjadi tantangan di tengah segala idealisme yang mendasari seseorang menjadi dokter. Apapun idealismenya bahkan idealisme yang sifatnya materiil.

Jaman telah berubah, dokter bukan lagi di jama Hippokrates di mana pasien begitu percaya sepenuhnya kepada dokter. Tapi menjadi pertanyaan yang terbalik bagi saya, mengapa dulu bisa demikian dan sekarang menjadi tidak bisa? Pertama mungkin saja pengetahuan kedokteran saat itu adalah sangat eksklusif bagi dokter, pasien tidak (atau tidak perlu?) tahu. Kini mungkin pasien lebih tahu. Itu dari sisi pasien.

Sisi dokter? Mungkin saja dokter dulu tetap pada kiblat melayani secara sepenuhnya. Kini lebih divergen, dari melayani secara penuh hingga, ya tadi, idealisme materiil.

Jas dokter tetap menjadi perlambang bahwa profesi dokter tetap adalah profesi penuh amanah, profesi yang riskan, karena nyawa manusia menjadi taruhannya.

Saya merenung lagi, sudah siapkah (baca: sepantasnyakah) saya mengenakan jas putih ini.


Kamis, 13 Agustus 2009

Saya dan Buku Kedokteran

Di Tahun Pertama

Saya masih ingat dengan jelas, ketika itu saya hanyalah seorang mahasiswa semester pertama yang baru segar-segarnya lulus dari SMA. Baru saja mengecap kegiatan ospek di universitas dan mengenyam kelas pertamanya di fakultas kedokteran.

Kemudian masuklah kakak-kakak kelas yang dengan senyumannya menawarkan menjual buku-buku kedokteran. Ya, buku. Sesuatu yang saya senangi, buku apapun itu. Namun saya agak terheran juga, banyak sekali yang menawarkan buku-buku seperti buku atlas anatomi, buku teks fisiologi, buku embriologi, bahkan ada yang menawarkan buku praktikum anatomi. Konon katanya, buku ini akan terpakai pada "masa-masa awal preklinik". Padahal, kalau dilihat dari sisi rasionalnya, saya adalah mahasiswa yang baru saja akan mengecap biologi, fisika, kimia. Sedangkan ilmu biomedik dasar seperti anatomi baru saya ambil di semester kedua.

Saya masih ingat kata-kata "a must" untuk buku-buku itu. Karena saya pecinta buku, dan konon pengalaman kakak-kakak kelas yang "sudah menggunakan" buku itu. Belilah saya buku, walau saya tidak beli semuanya. Saya masih ingat jelas, kamus kedokteran Dorland yang tebalnya ajudbilah, buku atlas Sobotta yang mahalnya bukan kepalang (1 jutaan!), kemudian buku-buku yang sekarang malah menjadi bahan senyuman saya. Ya ampun, saya tidak mengerti isinya. Pada saat itu saya juga dengan bodohnya (atau pintarnya?) membeli dua buku dengan dua versi yaitu fisiologi Lauralee Sheerwood edisi 2 bahasa Indonesia dan edisi 5 bahasa Inggris. Karena saat itu saya menyadari, istilah yang dialihbahasakan begitu asing. Hingga sampai saat ini saya rasakan, bahwa kebanyakan buku kedokteran yang dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia menjadi buku yang sulit ditelaah. Bukannya tidak mencintai bahasa negeri, namun perasaan ini sulit.

Kini?

Namun kebiasaan saya membeli buku kedokteran terus ada hingga kini. Menyadari bahwa belum (belum ya, bukan tidak) semua dibaca. Saya menyimpan paling tidak satu buku untuk satu ilmu. Walaupun belum lengkap. Saya mengoleksi buku mulai dari buku-buku kedokteran bekas yang harganya cukup miring, sampai fotokopi dari perpustakaan. Saya sadar bahwa saya tidak bisa membeli buku dermatologi 1 jutaan, tapi dengan sedikit membajak bolehlah.

Sebelum saya sudah menyebutkan kesadaran saya bahwa "belum" semua buku saya baca dengan dalih bahwa "suatu saat" akan saya baca. Hm, ya apakah akan terjadi?

Untuk Apa?

Membeli buku bukan untuk gengsi-gengsian, walaupun ada pendapat umum bahwa mahasiswa kedokteran adalah mahasiswa yang paling dekat dengan buku. Bahkan dengan jas dokter putih, tampaknya belum pol, seorang mahasiswa kedokteran jika tidak membawa buku -paling tidak sebuah buku tebal.

Selama menjalani orientasi klinik di kepaniteraan umum, ada sesuatu yang saya dapatkan. Bahwa dalam kedokteran, yang kini diarahkan ke dalam kedokteran berdasarkan bukti (KBB, atau EBM dalam bahasa Inggris), dokter dituntut untuk berbicara atas dasar, tidak bisa atas pendapat atau opini dalam rasionalisasi tindakan. Bahkan begitu pula dalam mahasiswa. Ketika menjawab sesuatu, harus ada referensinya. Maka, sepertinya buku-buku ini juga akan membantu saya dalam mencari referensi.

Sebenarnya ada juga satu impian. Bahwa suatu saat ketika koleksi ini sudah cukup mumpuni, saya bisa memiliki perpustakaan pribadi, paling tidak di dalam rumah. Tidak harus hanya buku kedokteran, namun tampaknya bidang inilah yang akan mendominasi. Kini buku yang ada berderet di dua lajur rak buku saya. Dan tampaknya saya masih harus menambah lajur ketiga.

Di perpustakaan FKUAJ ada ruangan khusus koleksi Prof. Sidharta. Kagum dengan koleksi-koleksi beliau.

Saya tampaknya tidak dapat hidup lepas dari buku-buku.

Selasa, 11 Agustus 2009

OSCE oh OSCE

OSCE - Ada apa di balik tirai...

Ah, sepertinya sudah lama sekali saya tidak memperbarui blog ini. Ya akhir-akhir ini di masa panum, saya merasakan rasa lelah dan jenuh dan berakibat menjadi malas melakukan apapun.

Hari ini saya dalam situasi yang tidak tenang, karena besok adalah pelaksanaan dari ujian OSCE. Ujian yang seharusnya objektif namun kadar subjektifnya juga tidak dapat dipungkiri. Besok konon hanya 11 stase yang diujikan dari 30an skill yang diajarkan. Fuuh...

Persiapan, bisa dibilang cukup bagi saya. Belajar di manekin setiap hari dan ada juga sesi belajar dengan rekan-rekan lainnya. Namun sekarang yang perlu diperkuat adalah hati. Hati yang mampu percaya bahwa saya tidak perlu mengkhawatirkan ujian ini.

Tapi tetap saja, saya terdiagnosa palpitasi dan kecemasan et causa OSCE...

Rabu, 22 Juli 2009

Hari Keduabelas Panum: Empati

Hari keduabelas kepaniteraan umum. Tidak terasa, sudah hari keduabelas. Apa artinya? Tinggallah sekitar sepuluhan hari lagi kepaniteraan umum ini berlangsung. Dan ujian OSCE semakin mendekat.

Hari ini berlangsung biasa saja hingga siang hari dengan kelas Pemeriksaan Mata dan Alloanamnesa Anak. Namun yang menarik perhatian saya adalah kelas Wawancara Psikiatri, yang dipandu oleh dr. Rusdi Maslim, SpKJ.

Sebuah kelas yang membuka mata saya, melihat sesuatu yang lebih dari yang sudah ada. Awalnya hanya dalam bentuk tanya jawab, meninjau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Banyak hal-hal yang sebenarnya mulai terbentuk kemarin dan kini bagi saya kembali memulai mencari bentuk. Anamnesa. Suatu hal yang sederhana. Suatu yang memulai deretan pemeriksaan, diagnosis, dan terapi. Sebagai pemula dari sebuah hubungan relasi dokter dan pasien.

Mungkin suatu hal yang sudah dihapalkan di luar kepala bak Indonesia Raya: Memberi salam, menyapa pasien, menanyakan identitas. Untuk apa? Agar pasien dapat merasa nyaman dalam proses terapinya. Kemudian apa lagi agar pasien dapat merasa nyaman? Hubungan yang ramah dan penuh empati. Bagaimana dengan empati itu?

Sebuah perspektif, bahwa kita bekerja melayani pasien. Dokter bukan bekerja demi kepuasan dirinya. Dalam anamnesa, dokter bukanlah interogator. Namun lebih kepada pemfasilitator. Pasien bukanlah alat yang kita amati senti demi senti dan mencari di mana penyakit bersarang. Namun kita memperlakukan pasien seperti diri kita. Apakah kita mau diperlakukan demikian pula?

Empati. Suatu rasa di mana seseorang bisa memahami perasaan orang lain, berkacamata dalam perspektif orang lain. Suatu definisi yang mudah dihapalkan, namun suatu hal yang cukup sukar dipraktikkan. Membangun rasa empati adalah sebuah tantangan bagi saya. Mengingat saya sendiri masih cukup lemah dalam hal seperti ini. Membangun rasa empati memang perlu dilakukan secara kontinu, bukan hanya sekedar dalam skills lab, namun pada setiap tempat dengan juga peningkatan kesadaran akan empati tersebut.

Apalagi dalam psikiatri, yang dimana wawancaranya sangat berfungsi untuk terapi, maka rasa empati ini harus lebih dikembangkan sehingga pasien merasa nyaman dan merasa terbantu dengan kehadiran kita.

Selasa, 21 Juli 2009

Hari Kesembilan-Keduabelas Panum: Out of The Box, Harry Potter, Deterioration

Sudah lama tidak memperbarui blog ini lagi! Bukannya tidak ada hal yang bisa dituliskan, tetapi rasanya rasa badan ini malas untuk mengetikannya.

Panum kembali berjalan dengan kuliah (oh kuliah...). Banyak bahan hingga hari kesebelas. Pengendalian infeksi nosokomial, RJP neonatus, EKG, pemeriksaan anak, anamnesa interna, PF umum, PF thorax, anamnesa KV dan respirasi, cara menulis resep. Banyak tenan.

Di Luar Kotak

Namun saya mendapat sesuatu yang unik, sebenarnya, dari kuliah pengendalian infeksi nosokomial. Bukan masalah dengan infeksi nosokomialnya, tetapi saya cukup tertarik dengan cara berpikir dari dosen yang menyampaikannya, dr. Agus Sugiharto. Cara berpikirnya unik, out of the box. Cara pikir yang terus terang saja, tidak begitu dengan gampangnya diterima oleh orang lain secara umum. Pikiran-pikiran yang dianggap "psikotik". Ya, mengapa demikian? Mungkin saja, sebuah hipotesa, adalah orang lain tidak berpikir seperti itu!

Kadang-kadang ini saya rasakan juga. Dan terus terang ini yang saya rasakan pada belakangan ini. Walaupun akhir-akhir ini saya tidak terlalu terpapar lagi dengan kondisi ini. Di AToMA, saya ditempa untuk berpikir "di luar kotak". Berpikiran sebagaimana orang lain tidak berpikir sama. Mengambil jalur alternatif. Dari situlah lahir beberapa pemikiran, bersama rekan-rekan AToMA lainnya, membangun program yang unik seperti INTIMA, STROMA. Sebuah hal yang dianggap gila, tidak berotak, mustahil oleh orang lain. Tetapi? Hasilnya adalah keduanya acara yang mustajab. Acara yang menorehkan sejarah pada FKUAJ, terutama kemahasiswaan. Bukan saya tinggi hati, namun terjadi demikian. Namun apakah kedua ini hanya menjadi sekedar sejarah?

Berpikir unik, tidak salah. Menjadi berbeda, bukanlah masalah. Justru berpikir berbeda adalah sebuah langkah pembuka pintu inovasi.

Harry Potter... Hm Ya.

Sabtu, saya, Patsy, dan Ellen bersiap berangkat ke Puri Indah untuk menonton sekuel Harry Potter, The Half Blood Prince. Ya, saya sudah mendengar beberapa komentar dari rekan via status Facebook tentang film yang tertunda ini. Jelek, katanya.

Saya sendiri memberi bintang... 3 dari 5. Tidak bagus sekali, tidak buruk. Ya, agak mengecewakan, memang iya. Harry Potter seperti kehilangan nilai serunya. Agak datar. Ya, agak datar.

Deterioration

Selasa, adalah hari skills lab pertama. Seharian belajar anamnesa. Secara umum memang sama. Sama. Tetapi, dibutuhkan sebuah latihan yang cukup masif untuk membiasakan diri dalam menanyakan poin-poin yang perlu diperhatikan. Tidak hanya sekedar memberi salam, memperkenalkan diri, menanyakan identitas pasien, keluhan-keluhan, dan menutup. Tetapi, masih ada empati, dan hal-hal yang tidak bisa sekedar dihapalkan. dr. Bertha SpA mengatakan, anamnesa adalah 90% dari diagnosa. Tetapi yang menjadi hantu utama adalah "kepala padam tiba-tiba". Otak berhenti tiba-tiba dan tidak ada sinyal-sinyal untuk menggerakkan otot bibir untuk memberi pertanyaan dan komentar kepada pasien. Ergh. Memang tidak mudah.

Terus terang, hari-hari di panum memang sedikit sumpek. Bukannya tidak ada ruang untuk bernapas, tetapi mulai sedikit memberi sesak. Hari-hari terasa ramai dan hectic. Fuuuhh, sepertinya lebih nikmat ya, kalau berbaring di teras rumah yang tenang, dalam kesendirian, menikmati matahari yang terbit, dari pinggir batas air laut, dan rona jingga mentari pun mulai merebak.

Kamis, 16 Juli 2009

Kompilasi Panum Keenam-Kedelapan: Dedikasi Seorang Dokter

Ya memenuhi janji kemarin yang mengantuk dan menunda untuk bercerita...

Hari Keenam...

Hari keenam panum pada 13 Juli 2009, masih dengan kuliah dari dosen-dosen. Saya mendapat kuliah manajemen luka oleh dr. Iwan Irawan Karman, SpB. Kemudian pemeriksaan anorektal dari dr. Petrus Wirantono, SpB, pemeriksaan mata oleh Prof DR. dr. Harry Mailangkay, SpM(K). Kuliah sterilisasi dan sarung tangan oleh dr. Alex Kusanto masih ditunda.

Hari ini dilewati dengan rasa cemas menjelang esok hari yang merupakan hari jaga malam pertama. Mulai bersiap-siap dengan baju, peralatan higiene, dan lainnya. Apakah besoknya akan lancar?, demikian tanya saya. Bagaimana ya?

Hari Ketujuh, The D-day

14 Juli 2009, hari jaga malam pertama saya. Dimulai dengan kuliah dari interna, pemeriksaan abdomen oleh dr. Swa Kurniati W, DTMH. Kemudian anamnesa ob-gyn dan pemeriksaan leopold oleh dr. Edihan, SpOG dan dr. Arman Djajakusli SpOG. Kuliah hari ini diawali dan tetap adanya cemas. Entah mungkin pikiran saya yang berlebihan. Selepas kuliah, tim orientasi bangsal untuk jaga malam sudah berkumpul, saya, Frusya, Virgi, Christie, dan Indah.

Jam 14an saya sudah mengambil absen dan kami segera bersiap di kelas akuarium kampus. Siap untuk ke bangsal Melati, bangsal dimana pasien interna dan neurologi berada. Kami datang dan mulai melapor ke dokter jaga bangsal, koas, perawat, dan asisten dosen yang ada. Kami diajak berkeliling bangsal untuk mengetahui ruangan yang ada oleh salah satu koas. Dan mulai jam 15:30 kami mulai bingung dan seperti jadi kuman yang datang tak diundang dan tidak jelas. Luntang-lantung. Bingung mau mengerjakan apa.

Untungnya datang koas yang mengajak kami untuk membantu pemeriksaan tanda-tanda vital pasien. Semua pasien yang ada di Melati harus diperiksa tanda-tanda vital pada jam 16:00, 23:00, dan 04:00 subuh. Tanda vital ini meliputi tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, dan suhu tubuh. Dalam pikrian saya berkecamuk. Saya bisa saja mengukurnya, tapi ada rasa yang tidak meyakinkan dalam diri saya. Apakah nantinya hasil ukur saya valid atau tidak. Setelah ditunjukkan salah satu koas caranya -yang saya pun seharusnya sudah mahfum-, saya dipersilahkan mengerjakannya. Awalnya saya masih tidak percaya. Sedikit grogi. Alat yang ada pada saya berantakan dan tampak tidak profesional, menurut saya. Tapi untungnya keluarga pasien tidak melihat atau tidak berkomentar hal ini. Untungnya pada pasien berikutnya saya berusaha meningkatkan percaya diri saya. Saya jadi teringat apa kata dr. Arman, selain percaya diri harus juga paksa diri. Berani dalam membuat tindakan.

Kami melihat beberapa tindakan medik seperti pemasangan infus, pemasukan obat intravena, dan lainnya. Selain itu juga pada malam itu terdapat 7 pasien baru, bahkan hingga pukul 02:00 pagi. Koas yang ada harus tetap bersemangat dalam melayani pasien, walau mungkin badan lelah. Dedikasi yang besar.

Selain itu pada bangsal interna juga setiap pasien harus dilakukan pengerjaan lab oleh koas. Aduh ilmu patologi klinik saya harus ditarik lagi. Harus baca lagi buku Gandasoebrata....

Menjadi koas memang tidak ringan. Yang saya dapat adalah bahwa menjadi koas juga harus berdedikasi yang tinggi. Memegang amanah yang tinggi. Melayani pasien dengan sepenuh hati. Mungkin pikiran mengkerut di malam hari tetapi sungging senyuman tetap harus ada.

Selain itu juga harus mampu untuk membangun relasi yang baik dengan pasien. Membangun relasi dengan orang yang asing bagi kita, sangat sulit. Namun dengan profesi dokter, membangun relasi yang baik dengan siapapun dia.

Saya juga mendapat sesuatu yang sederhana namun berharga bagi saya. Saya harus membangunkan pasien untuk mengukur tanda vital pada 23:00 wib. Saya membangunkan dengan pelan. Tidak tega sebenarnya, membangunkan pasien yang tengah istirahat. Namun mereka tetap tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya. Pekerjaan kita dihargai, begitu dalam rasanya.

Saya mulai tidur pada 02:45 hingga terbangun pada 05:00.

Hari Kedelapan

Hari dimulai dengan rasa kantuk. Untungnya makan pagi sudah dibawa oleh Patsy. Jadi kepala tidak lagi dipusingkan dengan masalah makan pagi. Dimulai dengan kuliah pemeriksaan ginekologi oleh dr. Ari Polim, SpOG, kuliah radiologi oleh dr. Yanto Budiman, SpR, MKes. Dilanjutkan dengan dua kuliah ob-gyn yaitu partus normal dan partogram oleh dr. Yuma Sukadarma, SpOG dan dr. Gahrani, SpOG.

Kulih ini memacu saya lagi untuk membuka lagi buku-buku kuliah ob-gyn. PR semakin banyak, tetapi ini adalah kewajiban sebagai mahasiswa juga. Bahkan seorang dokter adalah pembelajar sepanjang masa. Yang harus dipupuk semenjak mahasiswa.

Malamnya, masih mengerjakan beberapa tugas buku angkatan dan pesanan video dari teman. Alhasil dengan rasa kantuk, saya terlelap pada pukul 20:00 dengan buku EKG di tangan... Ngantuknya >.<

Hari Keenam-Kedelapan Panum: Ngantukkkk....

Sebenarnya banyak cerita yang bisa dituliskan mengenai Panum dari hari Keenam sampai Kedelapan. Tapi tampaknya tubuh ini tidak kuat dan mengantuk. Selepas jaga malam dari hari ketujuh panum dan badan ini masih ngantuk. Jadi, updatenya kalau tubuh sudah kuat. Huaammm.....

Minggu, 12 Juli 2009

Hari Kelima Panum: "Hura-Hura" Terakhir?

Hari sabtu kemarin adalah hari kelima kepaniteraan umum. Hari panum yang paling lowong, hanya ada kuliah anamnesa traktus urinarius dari dr. Santoso Sumorahardjo, SpPD. Ini cukup banyak membantu menyegarkan ilmu yang sebenarnya sudah didapat ketika semester 6 di kuliah Ilmu Penyakit Dalam sub Urologi.

Siangnya bersama Ellen, adik saya, pergi ke Taman Anggrek. Sudah direncanakan memang, untuk membeli MacBook yang sudah dipesan. Lumayan harganya sudah turun mengingat produk baru baru saja diluncurkan. Dan dapat diskon pembayaran tunai. Lumayanlah, semoga macbook ini bisa menemani saya dikala kepaniteraan klinik kelak.

Sorenya saya, Patsy, dan Ellen menuju Puri Mall untuk rehat sejenak menonton Inkheart. Film yang lumayan menghibur dan bagus. Ah, apa daya kalau saya juga silvertounge dan membaca buku Harisson keras-keras? Hahaha.... Sepertinya mengasikkan.

Bagaimana bila saya memabca buku Harisson keras-keras? Atau buku Forensik UI?

Mengingat jadwal minggu depan yang superpadat. Sudah dimulai juga jaga malam pada hari Selasa depan di bangsal Melati untuk Ilmu Penyakit Dalam. Hati ini tetap tidak tenang, antara penasaran dan cemas. Apalagi ini adalah kali pertama masuk ke bangsal. Walau hanya sebagai peserta orientasi, tetap entah kenapa hati ini tetap saja bergetar.

Melihat jadwal padat juga tampaknya "hura-hura" juga semestinya dikurangi. Walau memang penat selepas UAS kemarin belum hilang total. Namun keadaan memaksa kita harus tetap dapat beradaptasi. Tetap semangat!

Jumat, 10 Juli 2009

Hari Ketiga dan Keempat Panum: Lulus SKed!

Hari ketiga dan keempat kepaniteraan umum sudah saya lalui. Banyak kejutan-kejutan yang Tuhan berikan.

Hari ketiga, dimulai dengan kuliah Anamnesa dan Pemeriksaan Neurologi oleh dr. Dewi SpS. Kemudian kuliah Pemeriksaan Abdomen Anak oleh dr. Irene, SpA, dan Pemeriksaan Mammae oleh dr. Bonifacius Lukmanto, SpB.

Kuliah pemeriksaan neurologi banyak sekali memutar otak dan memacu otak untuk mengingat lagi bahan neurologi yang saya sudah selesaikan di semester 6, alias satu tahun lalu. Saya berusaha mengingat apa itu Tes Kernig, Burdzinski 1 dan 2, tes kaku kuduk untuk rangsangan selaput meningeal. Berbagai uji saraf kranialis juga. Memang cukup membantu, karena sebelumnya saya sudah mencoba mengulang bahan dari checklist yang ada. Saya berusaha untuk membangkitkan semangat lagi dan membuka buku buku neurologi. Begitu pula pada kuliah-kuliah berikutnya.

Ada rasa yang muncul lagi saat panum ini saya lakukan. Saya harus mengulang dan mengulang bahan-bahan yang sudah lalu. Bahan-bahan yang dapat saja sudah terlupa. Ada juga hasrat untuk mengulang lagi bahan farmakologi, patologi klinik. Bahan penting yang terlupa beriringan dengan waktu.

Hari keempat, hari ini. Dimulai dengan kuliah mengenai Mortalitas dan ICD dari dr. Sarimawar Djaja, MKes. Memang harus kita sadari bahwa data epidemiologi yang ada di Indonesia masih sangat buruk dibandingkan dengan negara maju. Namun hal ini tentu harus diperbaiki. Caranya? Mulailah dari diri kita sebagai dokter untuk mau membuat catatan yang baik akan epidemiologi. Kuliah lainnya, Pemeriksaan thorax anak oleh dr. Elvira, SpA juga memacu otak untuk membuka lagi materi pemeriksan fisik.

Kuliah Keperawatan dari Ns. Melissa Wahyu, SKep juga membuka wawasan apa itu keperawatan dan bagaimana seharusnya hubungan mitra antara kedokteran dan keperawatan. Dan bagaimana juga seorang dokter muda harus bersikap. Saya rasa yang perlu adalah kearifan antara keduanya dan hubungan yang profesional. Sebenarnya ini berkaitan juga dengan diskusi Etika Kedokteran bersama dr. T. Sintak Gunawan, MA yang mengangkat kasus e-mail keluhan pasien akan RS G di kota M. Memang terjadi perdebatan dan diskusi, mengapa RS melakukan begini, mengapa pasien begitu. Yang menjadi kesimpulan dari diskusi adalah seorang dokter harus menjadi orang yang tulus, rendah hati, profesional dan berdedikasi tinggi. Dengan seperti ini, apapun yang terjadi pada pasien bahkan meninggal, kerabatnya akan tetap menghormati dan berterima kasih kepada dokter karena ketekunan dan keseriusannya.

Saya terus berpikir sepanjang pulang di dalam taksi. Saya harus mampu untuk menjadi dokter idaman itu. Saya masih ingat kisah dr. Saito di Say Hello to Black Jack, hingga akhir hayatnya pasien berterima kasih pada dokter karena ketekunannya kepada pasien.

Dan sore hari, sesampai di rumah. Ada pesan SMS di telepon seluler saya. Katanya, nilai semester ini sudah ada di internet. Saya mulai panik, walau tidak keringat dingin atau takikardi. Membuka nilai...

Ilmu Kedokteran Forensik C
Kedaruratan Medik A-
Ilmu Bedah II B
Radiologi A
Anestesiologi A-
Ilmu Kedokteran Jiwa B


Terlepas ada nilai C, hehehe.... Saya sangat bersyukur pada Tuhan Yesus. Akhirnya perjuangan 4 tahun di kuliah SKed, lulus! Dan siap mengarungi 200961!

Saya Lulus!!!!
*Masih terharu

*Buat Patsy yang juga lulus semua, tetap semangat UK IKMnya ^^

Selasa, 07 Juli 2009

Hari Kedua Panum: "Siang, Saya Dokter Muda Andreas"

Hari kedua panum, ketika Salmonella typhii masih mengerogoti tapi sudah dalam rentang yang lebih rendah. Hari ini masuk lebih siang karena kelas kuliah Anamnesa Anak oleh dr. Elvira SpA dipindahkan ke minggu depan. dr. Wita SpS yang seharusnya memberikan kuliah Anamnesa Saraf juga berhalangan dan diganti pada Kamis depan. Alhasil hari ini kami belajar lagi mengenai Anamnesa Psikiatri (dr. Dharmady Agus SpKJ) dan Anamnesa Bedah (oleh dr. Sutanto Gandakusuma, SpB).

Pada anamnesa piskiatri, tidak ada yang begitu masalah pada penjelasan dari dr. Dharmady Agus SpKJ, karena bahan psikiatri masih teringat jelas di kepala pasca ujian psikiatri minggu lalu. Beberapa pertanyaan masih bisa saya jawab seperti trias depresi, trias gangguan cemas. Memang sulit dalam psikiatri, kita harus pandai-pandai bak detektif ulung dalam mengorek-korek gangguan jiwa dalam wawancara dengan pasien. Pada akhir saya diminta untuk bermain peran sebagai dokter dan pasien (diperankan oleh Nancy). Saya merasa saya agak kagok atau tidak luwes dalam wawancara. Kaku sekali.

Ehm, selamat siang. Perkenalkan saya dokter muda Andreas. Siapa nama ibu?
Nama saya Nancy.
Berapa usia ibu?
30 tahun
Apa yang bisa saya bantu ibu?
Saya merasa kaku pada tengkuk saya, dok.
Sejak kapan ibu merasakannya?
Sejak beberapa bulan lalu dok. Saya merasa sangat cemas pada anak-anak saya, keluarga saya.
Apa yang membuat ibu cemas?
Saya merasa keadaan Indonesia sekarang tidak aman, banyak PHK, pengangguran, krisis global....
Kapan ibu merasakannya pertama kali cemas dan bagaimana?
Sejak saat saya melahirkan anak saya dok 1 tahun lalu. Saya takut akan keadaan Indonesia saat ini.
.... *bingung* (kehabisan pikiran) Lalu?
Maksud dokter?
Maksud saya, teruskan saja bu (Aneh deh sayanya >.<)
Ya itu dok, keadaan sekarang tidak menentu.
(Ini gangguan cemas... -.-, tanya apa lagi ya.... agoraphobia?) Ibu kalau berada di luar rumah, apakah merasakan kecemasan?
Iya dok, saya merasa tidak aman.
Apakah ibu merasa perlu ditemani?
Iya saya perlu ditemani suami saya, dok.
Kalau suami bekerja, apakah ibu tidak berpergian?
Saya tidak bisa tanpa suami saya dok.
(Makin kehabisan isi pikir >.<) Bagaimana dengan anak ibu? Apakah pertumbuhannya baik?
Baik-baik saja dok.

(Mungkin dr. Dharmady sudah melihat saya makin ngaco maka ia menyebutkan saya langsung ke simpulan. ^^)

Baik ibu. Saya melihat ibu memiliki kecemasan pada anak, kedaaan yang ada. Maka saya simpulkan ibu mengalami gangguan cemas. Saya akan memberi ibu obat agar kecemasan ibu bisa mereda. Saya sarankan ibu dapat mengerjakan kesenangan ibu agar ibu tidak seringkali terpikir akan hal-hal yang bisa mencemaskan ibu. Saya akan membuatkan janji pertemuan untuk kontrol satu bulan lagi. Terima kasih ibu, selamat siang.
Saya mengalami beberapa kesalahan seperti identitas yang masih sangat kurang lengkap. Dan kata dr. Dharmady, pasien terlalu "royal" memberikan clue yang sangat lengkap dalam menentukan diagnosis gangguan cemas, dan lengkapnya ibu ini mengalami gangguan cemas menyeluruh.

Saya berpikir, bahwa saya masih harus banyak belajar komunikasi agar menjadi lebih luwes. Mudah-mudahan dan tetap belajar untuk lebih baik menjadi seorang dokter muda.

Senin, 06 Juli 2009

Hari Pertama Panum: Apa Visi Misi Saya?

Hari ini adalah hari pertama kepaniteraan umum di FK-UAJ. Dimulai dengan pengenalan Panum dan Peraturan Dasar Kepaniteraan Klinik oleh dr. Bertha Soegiarto, SpA, kemudian Kiat Menjalani Pendidikan Klinik dan Peraturan Dokter Muda RSAJ dari Komite Pendidikan RSAJ, dr. Wita, SpS, dan ditutup dengan Menjadi Dokter di Indonesia oleh dr. Handrawan Nadesul.

Banyak hal yang didapatkan hari ini. Walaupun sebagian adalah peraturan teknis. Namun yang menjadi pertanyaaan dan renungan bagi saya adalah pertanyaan dari dr. Wita, SpS: Definisikan visi dan misi kamu menjadi dokter. Sesuai dengan ilmu manajemen, visi dan misi adalah pedoman dasar bagi langkah-langkah suatu organisasi, dalam hal ini diri sendiri. Saya memang belum mengetikkan secara formal apa yang menjadi visi dan misi, idealisme saya. Saya masih menyusunnya, agar tetap realistis walau idealis. Agar tidak muluk-muluk juga.

Saya juga mendapat kesempatan untuk bertatap langsung dengan dr. Handrawan. Saya kagum atas tulisan-tulisannya. Tulisannya sangat disenangi oleh awam dan banyak sekali dibaca. Ini tentu harus ditiru, karena artinya dr. Handrawan mampu membangun komunikasi dengan masyarakat awam. Dan dengan sosoknya yang juga sastrawan dan penulis. Saya pun ingin sekali, pada suatu saat hasil tulisan saya bisa diterbitkan dan bermanfaat bagi publik.

Kamis, 25 Juni 2009

Ketika Panum Menjelang




Hari ini sudah mulai hingar bingar menjelang perjalanan 200961 (mahasiswa FKUAJ yang akan menjalani Program Studi Pendidikan Dokter -PSPD- di tahun 2009/2010). Sudah memesan baju jaga malam di Komite Medik RSAJ (ukuran saya L -wew-). Kemudian jadwal kepaniteraan umum (program orientasi untuk menjalani rotasi stase klinik) sudah tersedia.

Saya tidak henti-hentinya melihat jadwal di tangan. Semacam anak kecil yang terkagum-kagum akan gambar hasil coretannya. Begitu pula saya yang terkagum-kagum, akhirnya saya akan masuk koas. Sebenarnya perasaan ini begitu awal untuk diungkapkan selekas ini. Toh, saya menyelesaikan UAS saja belum. Berharap demi berharap, agar UAS ini dapat terlewati dengan baik dan tidak ada meninggalkan nilai tidak lulus pada transkrip akhir.

Rasa absurd ini memang kelak dapat menjadi buah simalakama, apabila saya di sudah berada di hiruk pikuk. Ujian akhir anestesiologi dan psikiatri masih menunggu. Dan jangan sampai buah itu termakan. Amit-amit....