Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Musik Popular Meningkatkan Risiko Depresi: Ugh, Is That Me?

Teenagers who are avid popular music listeners have a significantly increased risk for major depressive disorder (MDD). (Arch Pediatr Adolesc Med. 2011;165:360-365).

Saya cukup tertarik membaca pernyataan di atas ketika berselancar di Medscape. Ternyata oh ternyata. Menurut jurnal tersebut remaja yang sering mendengar musik popular 8,3 kali lebih tinggi dapat mengalami gangguan depresi mayor. Hal ini disebabkan musik popular banyak yang mengusung tema kesedihan dan ratapan.

Saya kemudian berpikir, apakah saya masuk dalam salah satunya? Ok, saya sudah dewasa, dewasa awal, di usia 23 menjelang 24 ini. Toh, tulisnya remaja. Lalu saya berpikir lagi dan mengecek lagu-lagu di playlist pada Blackberry.

Josh Groban - Broken Vow
Samsons - Kenangan Terindah
Samsons - Luluh
BCL - Mengapa Harus Terjadi
Afgan - Bawalah Cintaku
Dewa - Risalah Cinta
Keris Patih - Tetap Mengerti
Dewi Lestari - Malaikat Juga Tahu
Ronnie Liang - Ngiti
Richie Ren - Zhu Guang

Bah! Dan lagu-lagu pula itu yang saya dendangkan saat mandi pagi. Saya jadi takut mengalami depresi mayor juga. Apa saya perlu menggantinya dengan lagu yang sedikit ceria ya? Hmmm..... Yang pasti saya tak mau kena depresi... Tidaaakk.... T_T

Jumat, 02 Juli 2010

Pasien Psikiatri: Sebuah Topi Biru

Hari ini hari terakhir di Psikiatri. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, 5 minggu. Hari-hari yang berbeda dengan apa yang saya jalani selama beberapa stase belakangan ini. Ada satu hal yang saya peroleh di sini. Saya harus mampu mendengar. Jelas, kepekaan harus diasah dan dipertajam di sini. Mungkin dulu saya mendengarkan pasien yang mengeluh demam lima hari tak urung sembuh. Namun kini mungkin saya mendengarkan kisah serupa, pasien marah-marah dan mengamuk, misalnya. Yang membuat berbeda adalah akar kisah-kisah yang ada. Mungkin bila dulu akar masalahnya adalah karena lingkungannya sedang banyak nyamuk demam berdarah. Nah yang ini, karena sejak dulu ia memang pendiam dan sulit mengungkapkan perasaannya.

Di dalam psikiatri, yang saya rasakan, diperlukan sensor-sensor rasa yang peka. Ketika ia mutisme, tidak mau bercerita. Atau mungkin ia sedang euforia, sehingga meluap-luap berbicara. Dan tentunya keduanya memiliki artinya masing-masing. Dan di sinilah bergantung bagaimana kita mampu berkomunikasi dan observasi. Dan tentunya hal ini tak sekedar menggunakan logika dan rasional saja, tetapi perasaan.

Itulah uniknya psikiatri sejauh yang saya peroleh. Kita pun perlu merajut ulang bagaimana perjalanan hati mereka sehingga pada akhirnya mereka mengalami gangguan jiwa. Memahami mereka sebagai individu dan bagaimana kita, mungkin, bisa menjadi pihak yang bisa "membela" mereka ketika mereka dihantui dan ditikam oleh stigma masyarakat.

Mengarungi Hidup

Gangguan jiwa memiliki perjalanan yang pelik dan rumit, serta personal. Di sinilah kehidupan seorang pasien dirajut. Bagaimana pasien bisa akhirnya terjatuh dan mengarungi hidup mereka. Hidup rumit bagi mereka dan jelas tak serumit apa yang selama ini kita keluhkan. Mereka merasakan lebih dari kita.

Adalah Tn. F, pasien yang kebetulan menjadi tanggung jawab saya untuk menyusun laporan kasus. Ok, pada awalnya mungkin sebuah "neraka" bagi saya. Bagaimana tidak! Ia mutisme (tidak mau berbicara), miskin isi pikiran, tertawa menyeringai, suasana perasaan sulit dirabarasakan, kurang kooperatif. Ya, sebuah kasus yang tentunya sulit. Dasar memang otak saya, keluarlah isi pikiran egoistik: "Bagaimana laporan saya ini?", "Apa yang mau saya tulis kalau dia ngomong saja tidak mau?". "Haduh! Cilaka ini.". Otak saya yang egois itu berceramah panjang. Tapi ada satu hal yang akhirnya meredam semua, "Memang nanti kalau praktik bisa memilih pasien sesuka jidatmu?". Hati nurani pun menang. Saya mulai mendekati dia.

Dan... oh Tuhan ternyata ia lumpuh, dengan otot tungkai bawahnya yang mengecil. Ketika saya memperkenalkan diri, ternyata ia menyambut jabatan tangan itu. Saya pun mulai berbicara dan ketika saya mulai dengan pembicaraan formal sesuai dengan isi status laporan (Riwayat gangguan sekarang, riwayat gangguan sebelumnya, dsb), semuanya kacau. Ia tidak tahu apa-apa. Ya, saya sadar bahwa saya salah langkah. Akhirnya saya berbicara biasa saja, tentang makanan kesukaannya, apa cita-citanya, siapa artis favoritnya, memberinya kertas dan membiarkan ia menggambar. Memang masih kesulitan, dan ternyata pembicaraannya lebih baik daripada sebelumnya, walaupun status laporan saya masih kosong.

Mulai Tersenyum

Dan pada akhirnya pembicaraan itu mulai lunak, walau tidak selancar pasien lainnya. Menilai perilaku, tindak-tanduk dari observasi ternyata mulai memberi tanda untuk saya tuliskan. Mungkin pembicaraan saya tidak berstandar wawancara psikiatri sama sekali. Mungkin bila saya OSCE wawancara, saya sudah pasti akan her skillslab itu. Masa bodohlah pikir saya, yang penting bina rapportnya sudah mulai ada. Apa yang membuat saya senang adalah pada akhirnya dia bisa tersenyum simpul (bukan menyeringai tentunya) dengan membuat lelucon bodoh. Saya bilang saya malam-malam melihat dia sedang berbicara. Namun tiba-tiba ia seperti tertarik: "Memang dokter tahu saya berbicara apa?" (Satu-satunya kalimat terpanjang dia). Walaupun sepertinya tidak ada lucunya, namun mungkin bagi dia sesuatu yang menarik. Padahal itu lelucon lagi-lagi, untuk mengisi kolom "Halusinasi" di status.

Harapan Sebuah Topi

Lama kelamaan dia pun mulai berkata, "Saya mau topi." Ketika saya bertanya untuk apa, "Untuk gaul." Ternyata untuk gaul. Ah, menurut saya suatu hal yang biasa-biasa saja. Ternyata hal itu bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata setelah saya mewawancara ibunya. Ternyata ia adalah anak tertutup, sulit menyatakan perasaannya pada orang lain, dan seringkali putus asa karena harapannya sering tak tergapai. Dan inilah yang menjadikannya, skizofrenia hebefrenik, selain masa kecil dan remaja yang juga kurang baik. Ini membuat saya sedikit terpanggil. Mungkin saya selama ini masih tidak bersyukur dengan apa yang saya miliki, dengan kemampuan yang dimiliki orang tuaku. Saya padahal semestinya bersyukur dengan apa yang saya miliki dan saya masih bisa mewujudkan apa yang saya inginkan. Saya pun berkata kepadanya, "Dokter janji ya nanti dokter carikan topi yang dokter sudah tidak pakai lagi." Saya ingin paling tidak ia sesekali bisa menikmati apa yang ia ingini.

Saya pun kembali ke F,setelah laporan kasus selesai saya sampaikan. Pada akhirnya saya bertemu dengannya seraya memberikan topi biru berlogo sepak bola nasional Prancis kepadanya. Saat bertemu dengannya saya menemukannya sedang duduk sendiri, dengan baju yang dilepaskan dan diletakkan begitu saja di kepalanya. Saya pun menghampirinya, "F, kok begitu, bajunya dipakai atuh." dan saya mengenakan topi kepadanya. "Ayo, bilang apa?", kata saya. "Terima kasih dok" dan ia pun tersenyum. "Jangan hilang ya F topinya. Tetap semangat ya F, biar cepat pulih!" Dalam pikir saya, entah apakah kalimat terakhir itu dapat ia cerna atau tidak. Namun yang membuat saya senang adalah bisa membuat ia senang, itu saja.

Keesokan harinya, rekan saya mengabarkan kabar yang membuat saya sedikit terharu. F ternyata masih mengenakan topi itu, walaupun miring! Sedikit lega sih, saya kira barang itu akan entah bagaimana nasibnya. Terima kasih ya F, telah memberikan pengalaman ini di stase psikiatri.

Terima kasih bagian psikiatri, dan selamat datang stase anak untuk 11 minggu ke depan!

Senin, 21 Desember 2009

Tes Kepribadian

Tes kepribadian? Sebenarnya saya adalah orang yang seringkali mempertanyakan akan kepribadian saya ini. Entah saya yang tidak sesuai dengan lingkungan atau saya yang tidak menyadarinya, saya seringkali bergumam dalam hati, siapakah saya ini? Saya masih sulit tersadarkan, siapa saya.

Tidak sengaja sambil ngaskus (buka situs komunitas Kaskus) dan tertera Hot Thread (topik forum yang tengah digemari) tes kepribadian dan iseng-iseng mencoba mengisi pertanyaan yang disediakan. Dan ternyata hasilnya adalah: ISTJ! Introvert, Sensing, Thinking, Judging. Mengutip dari terjemahan di Kaskus:

Introvert (I)

Introvert adalah kecenderungan untuk berfokus pada dunia di dalam diri. Orang2x introvert cenderung tenang, damai dan hati-hati dan tidak tertarik pada interaksi sosial. Mereka menyukai aktivitas yang bisa mereka lakukan sendiri atau dengan salah satu teman dekat yang lain, kegiatan seperti membaca, menulis, berpikir, dan menciptakan. Orang2x introvert merasa kegiatan pertemuan sosial melelahkan.

Ciri2x Orang Introvert

* Mendapat energi dari waktu menyendiri
* Menjaga privasi
* Tenang
* Bertindak dengan sengaja
* Sadar diri
* Lebih sedikit teman-teman
* Lebih menyukai kelompok kecil
* Independen
* Cenderung kurang bersosialisasi
* Suka kesendirian
* Berpikir sebelum berbicara

Sensing (S)

Sensing adalah bagaimana orang memproses data. Orang2x Sensing berfokus pada masa kini, orang2x yang mementingkan situasi "di sini dan sekarang", faktual, dan memproses informasi melalui panca indra. Mereka melihat hal-hal sebagaimana adanya, mereka adalah pemikir konkret.

Ciri2x Orang Sensing

* Konkret
* Realistis
* Hidup di masa kini
* Sadar sekelilingnya
* Memperhatikan detil
* Praktis
* Mengutamakan indra
* Faktual

Thinking (T)

Thinking adalah bagaimana orang membuat keputusan. Orang2x Thinking berpikir obyektif dan membuat keputusan berdasarkan fakta. Mereka dipimpin oleh otak, bukan hati mereka. Orang2x Thinking menilai situasi dan orang lain berdasarkan logika.

Ciri2x Orang Thinking

* Logis
* Obyektif
* Memutuskan dengan kepala
* Menginginkan kebenaran
* Rasional
* Tidak personal
* Kritis
* Tebal muka
* Tegas terhadap orang lain
* Didorong oleh pikiran

Judging (J)

Judging adalah kecenderungan penampilan luar. Judging tidak berarti "menghakimi". Orang2x Judging menyukai keteraturan, organisasi dan berpikir secara berurutan. Mereka lebih suka hal2x terencana dan mantap. Orang2x Judging mencari kesimpulan.

Ciri2x Orang Judging

* Bisa memutuskan
* Terkendali
* Bagus dalam menyelesaikan sesuatu
* Teratur
* Terstruktur
* Terjadwal
* Cepat dalam menangani tugas
* Bertanggung jawab
* Menyukai kesimpulan
* Membuat rencana

ISTJs are responsible, loyal and hard working. They have an acute sense of right and wrong and work hard at preserving established norms and traditions. Because of their deep sense of duty they are dedicated to everything they do and are very dependable. ISTJs care deeply for those closest to them.

Real ISTJ People


ISTJ Career Matches

ISTJs are often happy with the following jobs which tend to match well with the Examiner/Protector personality.

  • Accountant
  • Administrator
  • Auditor
  • Computer Programmer
  • Computer Specialist
  • Dentist
  • Detective
  • Doctor
  • Electrician
  • Executive
  • Financial Officer
  • Judge
  • Lawyer/Attorney
  • Librarian
  • Manager
  • Marketer
  • Math Teacher
  • Mechanical Engineer
  • Military Leader
  • Police
  • Scientist
  • Steelworker
  • Systems Analyst
  • Technical Specialist
  • Technician

Ternyata doktor cocok! Hehehe....

Dan apa yang saya rasa memang hampir benar semuanya. Hm, hal ini pun memperbaiki kemampuan saya dalam menilai diri saya.

Minggu, 13 Desember 2009

Fenomena Alay

Fenomena Alay. Ya setidaknya hal ini kian menjadi buah bibir di kalangan penghuni dunia maya alias internet. Kehadiran mereka menjadi tanda tanya dari beberapa orang dan bagi saya. Ada hal apa yang membuat fenomena ini kemudian muncul dan semakin banyak terjadi.

Apa itu alay?
Banyak yang memberikan kepanjangan dari alay. Dan bagi saya ada satu yang mendekati dengan memberikan etimologi dari kata itu:
Alay pada dasarnya memiliki arti Anak LAYangan. Mungkin kata alay itu ada karena ada segerombolan anak kampung yang gayanya gitu deh, terus rambutnya merah, kaya orang keseringan main layangan. Kalo orang keseringan main layangan kan rambutnya merah kena matahari, ya merahnya merah kaya gitu.

Sumber: M-ridha.com dalam Penelusuran tentang Alay
Kemudian terdapat berbagai sumber yang mungkin memelesetkannya menjadi sebuah bahasa cakapan "Alah Lebay...!" (Bagi yang mungkin ketinggalan berita, lebay artinya berlebihan), Anak Layu, atau Anak keLayapan (Sumber: detik.com dalam Geliat 'Alay' Makin Terasa di Dunia Maya). Dengan etimologi istilah yang beragam, yang jelas Alay merupakan istilah ke sekelompok orang remaja yang memiliki peminatan yang berbeda seperti nyentrik, gaul, fashionable dan sebagainya.

Memang lagi-lagi bagi saya ini kembali relatif. Keabnormalan dan kenormalan menjadi pertanyaan.

Epidemiologi
Memang kalau saya amati dari situs jejaring sosial seperti Facebook maupun lainnya. Kalangan alay paling banyak pada masa-masa remaja antara 14-25 tahun. Hipotesa saya, mereka dalam fase perkembangan kejiwaan yang sedang labil, mencari jati diri, ingin keluar dari lingkungan keluarga dan lebih ingin dianggap oleh teman-teman sebayanya, sehingga mereka mencoba-coba hal-hal yang tengah naik daun atau trendy. Dan memang, gaya-gaya alay ini sedang naik-naiknya, terlihat berbeda dengan orang lain kebanyakan.

Perilaku Alay
Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, mereka memiliki cara berpakaian sendiri dan konon corak pakaiannya lebih condong ke warna tabrak lari. Seperti yang tertulis dalam forum detik:

sok pengen 'gaul' mau ngikutin tren yang sekarang tapi terlalu LEBAY (cth: nge-mix baju ga kira kira ; baju ijo,celana kotak kotak,sepatu merah,kacamata biru!)

Sumber: Forum detik.com
Dan mungkin beberapa contoh di kalangan perforuman Kaskus.us dan Kafegaul.com sudah terkenal dengan istilah hottalotta, seorang pria yang tampaknya memiliki minat serius pada fashion, namun banyak tidak disetujui oleh orang kebanyakan (Lihat: Blog Hottalotta).

Kemudian mereka dikenal atas tata bahasa tulisan mereka yang kerap kali membuat cephalgia (sakit kepala), vertigo (pusing tujuh keliling), dan mengerutkan dahi.

- iya : ia
- kamu: kamuh,kammo,kamoh,kamuwh,kamyu,qamu,etc
- aku : akyu,aq,akko,akkoh,aquwh,etc
- maaf: mu'uph,muphs,maav,etc
- sorry: cowyie,cory,tory(?),etc
- add : ett,etths,aad,edd,etc
- for : vo,fur(zz),pols,etc
- lagi : agi,agy
- makan: mums,mu'umhs,etc
- lucu : lutchuw,uchul,luthu,etc
- siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva,etc
- apa : uppu,apva,aps,etc
- narsis: narciezt,narciest,etc
- tulisannya gede kecil dan pake angka (idihh)

Sumber: Forum detik.com
Ya seperti ini, apakah Anda mengerti maksud saya?

“W 9Hy D! HuMZzZ. . . ? ? ?"

Apa artinya? Artinya... "Gua lagi di rumah." Mungkin Bapak JS Badudu akan sedih (tak hanya Ibu Pertiwi). Gua yang hanya ditulis W. Lagi dengan gi yang ditulis dengan angka dan huruf besar dimana-mana. Dan lain-lainnya.

Bahasa ini juga mempengaruhi cara mereka menuliskan nama seperti... Kalau nama saya mungkin menjadi "H4o K0o0LZ QR3N CH43m". (Hau Cool Keren Caem,-red) Hehehe....

Dan hal ini juga membangkitkan seseorang dalam membuat web generator teks Bahasa Alay. Cek aja di Alay Text Generator.

Ciri-ciri Lain?
Lagi-lagi saya kutip ciri-ciri lengkap Alay menurut tulisan seorang TS (thread starter) di Forum detik. Mungkin Anda adalah salah satunya?

1. selalu ngerasa paling tau tentang musik.

2. tongkrongannya di pinggir pinggir jalan (yang cewek godain cowok,yang cowok godain cewe yang lagi lewat)

3. kalo di mall selalu bawa handshet buat dengerin lagu lewat handphone(suka pamer ga jelas & sok asik gitu deh).

4. sok EMO tapi ditanya sejarahnya emo ga tau.

5. sok pengen 'gaul' mau ngikutin tren yang sekarang tapi terlalu LEBAY (cth: nge-mix baju ga kira kira ; baju ijo,celana kotak kotak,sepatu merah,kacamata biru!)

6. dimana mana SELALU ada acara yg namanya 'putu putu narziz' (entah itu di sekolah,WC,mobil,kamar,stasiun ,angkot,dll).

7. fotonya ga nahan smua! (dengan gaya di imut imutin,dideketin lampu biar 'terang bgt',foto deket bgt dari wajah *biar jeleknya ga keliatan*,foto dari atas *biar kelihatan keren kali ya*,dll..pokoknya yang bisa bikin ENEG semua orang)

8. buat cewek tiap hari kerjaannya ngomongin ttg cowooooooooo mulu! (cth: eh tau ga si A tadi gini loh sama gue hahaha lucu bgt ya? *ga lucu!)(yah pokoknya sok pamer gitu deh*berasa cantik)

9. buat cowok..tiap hari kerjaannya cari musuh(ribut) mulu sama temen temen cowoknya yg lain *biar dianggep keren gituw*

10. di friendster.. bagi yang cewek di ff nya majang cowok cowok ganteng semua *meski ga kenal,biar dianggep cantik & gaull* kalo yg cowok ya majang ffnya cewek semua*walau ga kenal* biar dikata cowok ganteng.

11. T U L I S A N
- iya : ia
- kamu: kamuh,kammo,kamoh,kamuwh,kamyu,qamu,etc
- aku : akyu,aq,akko,akkoh,aquwh,etc
- maaf: mu'uph,muphs,maav,etc
- sorry: cowyie,cory,tory(?),etc
- add : ett,etths,aad,edd,etc
- for : vo,fur(zz),pols,etc
- lagi : agi,agy
- makan: mums,mu'umhs,etc
- lucu : lutchuw,uchul,luthu,etc
- siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva,etc
- apa : uppu,apva,aps,etc
- narsis: narciezt,narciest,etc
- tulisannya gede kecil dan pake angka (idihh)
&&& masih bnyak lagi!

12. suka ngirim bulbo ga jelas di fs :"akko onlenndh dcnniih" ato "ayokk perang cummendh cmma saiia" etc (paling parah lagi kalo ngirim bulbo dengan judul "********" tapi isinya kosong!) ih ******* bner deh tu orang orang alay.

13. menganggap dirinya eksis di friendster (kalo comments banyak itu berarti anak gaul jadi lomba banyak-banyakan comment) *please deh ga bgt! emang kenapa coba kalo commentnya banyak?dapet rekor muri ya? ga penting bgt deh..

14. kalo ada org yg cuman view profil kita , kita bilang gini : "hey cuman view nih?" ato "heey jgn cuman view doang,add dong! (kalo emang segitu pentingnya orang nge-ADD buat kita..kenapa kita ga nge-ADD dia waktu kita mau ngasih testi?)

15. friendster dipenuhi glitter-glitter norak yang pastinya bisa ngerusak retina mata zz

16. nama friendster mengagung -agungkan diri sendiri,seperti : pRinceSs cuTez,sHa luccU,tIkka cAntieqq,etc. (pede bgt sih?)

17. kata /singkatan selalu diakhiri huruf z/s (cth : nama adalah talitra,dbuat jadi : talz. nama adalah niken,dibuat jadi qens..dsb!)

18. foto di friendster bisa nyampe 300 lebih padahal cuman foto DIRINYA SENDIRI

19. diam diam mengidolakan : kangen band,st12,radja,ato bahkan GARNET BAND

20. suka menghina orang lain yang ga sama kaya dia.
*Mungkin Anda memiliki kesulitan untuk mencerna tulisan ini, karena budaya maya di Indonesia sudah berkembang begitu masifnya dan membentuk sebuah identitas yang khas. Saya sarankan Anda untuk menyelami lebih dalam kehidupan dunia maya Indonesia, salah satunya bisa saja Anda aktif di komunitas maya seperti Kaskus. PERTAMAAXXX.... Gan! Hehehe...

Sabtu, 25 April 2009

Skizofrenia, Bagaimana Kita Harus Bersikap?

Pertama-tama kamu hanya merasakan ada gejala yang tidak beres dari badanmu, namun kelak kamu tersadar akan ada yang tak beres akan sebuah dunia dan lingkungan hidupmu. Dari menit ke menit, kamu adalah pusat dari sebuah konspirasi rahasia dari kekuatan dahsyat dunia. Kamu dikuntit, diawasi oleh agen-agen rahasia yang kamu tak tahu mengapa mereka berbuat demikian. Kamu merasa dirimu harus bisa melawan agen-agen itu dan memiliki misi khusus. Namun yang mana? Kamu diawasi satelit dan otakmu dipindai (scanning) orang. Ada pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin membuatmu gila. Program-program televisi tiba-tiba membicarakan dirimu! Kamu berusaha memberontak. Kamu tak makan apa-apa namun merasa kuat. Setelah menenggak obat narkotika, kamu percaya dunia ada di kepala kamu dan keberlangsungan dunia ada di kepala kamu yang berkecamuk. Kamu tahu kamu tak mampu lagi berpikir jernih. Ada ilmuwan yang terus memantau kamu. Kamu merasa dirimu tak tahan dengan apa yang ada. Ini adalah mimpi buruk. Ini memang aneh, tapi ini adalah episode psikotik yang benar saya alami.

dituliskan oleh B. Bodenstein
Inilah skizofrenia. sebuah sindrom (kumpulan gejala) dengan penyebab yang banyak tidak diketahui dan perjalanan penyakit yang rumit, serta dapat juga dipengaruhi oleh genetika, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai adanya penyimpangan dasar dari pikiran dan persepsi , afek pun menjadi datar dan tumpul. Kesadaran dapat saja jernih dan intelektual tetap terpelihara. (PPDGJ III, Rusdi Maslim, 2003) - Bila Anda merasa sulit memahami istilah, saya menyediakan glosarium di akhir tulisan ini.

1 dari 100 manusia menderita skizofrenia dan kebanyakan diderita oleh usia dewasa muda antara 25 tahun walau tidak tertutup orang dewasa. Penyebabnya masih tidak diketahui dan diperkirakan adalah faktor biologis, infeksi virus seperti retrovirus, atau genetika (ada penelitian yang menyebutkan anak dari orang tua yang skizofrenia juga memiliki kemungkinan yang besar). Apakah ada pengaruh neurotransmiter di susunan saraf? Semua masih diraba-raba.

Dalam kebudayaan atau kultur Indonesia kita sebut sebagai orang gila. Ini adalah sebuah stigma (cap buruk) bagi penderita skizofrenia. Ia diolok-olok dan dijauhi dengan cap itu. Ia tidak dapat diterima di masyarakat dan disingkirkan karena cap itu pula. Padahal, kita tidak pernah membuat stigma bagi pasien diabetes atau sakit jantung. Mengapa? Setidaknya ini menjadi refleksi pada kita.

Masyarakat banyak yang menjauhi pasien skizofrenia, karena dia dianggap tidak mampu lagi menjalankan fungsi sosial. Ia dianggap sebagai ancaman karena tindakan-tindakannya dianggap di luar batas. Seperti dalam gambaran tadi, ia merasa dirinya diawasi oleh agen rahasia. Sebuah hal yang bagi masyarakat biasa adalah hal yang diluar logika, mengada-ada, dan sinting. Namun ia memang benar merasakan hal itu! Ia merasakan waham! Sehingga menjadi sebuah jembatan ketidaksepahaman antara masyarakat dan penderita. Padahal, justru penderita ini memerlukan bantuan dari orang-orang di sekitarnya untuk menolongnya untuk mendukungnya dan memberikan dia jalan untuk pengobatan. Memang, suatu ketidakberuntungan, karena adanya pendapat masyarakat, skizofrenia tidak dapat diobati karena adalah sebuah kutukan.

Obat-obat anti-psikotik yang dapat membantu melepaskan dari psikotik sudah ada. Terapi lainnya seperti ECT (terapi dengan listrik) dibuktikan mampu membantu menurunkan gejala. Semakin cepat pasien itu tidak larut dalam penyakitnya, penyembuhan baginya semakin terbuka lebar. Namun apabila dia semakin dilecehkan, dianiaya, disingkirkan, maka ia akan semakin parah. Dan jelas ini tidak baik bagi penderita.

Maka bantulah mereka yang menderita, jangan malah kita mencemooh yang justru akan memperberat penderitaan mereka.

Video ini mungkin dapat membantu Anda dalam memahami mereka:




Glosarium:
  1. Pikiran: alur pikir yang dirangsang dengan adanya sebuah masalah dan menggunakan cara-cara logis dalam membuat kesimpulan atau penyelesaian.
  2. Persepsi: keadaan dimana adanya rangsangan atau impuls dan ditangkap oleh indera serta diolah atau diserap menjadi sisi psikologis dan kesadaran. Misalnya adanya halusinasi.
  3. Afek: suatu keadaan emosi dalam jangka yang pendek.
  4. Afek datar: afek yang monoton dan tanpa ekspresi.
  5. Afek tumpul: penurunan afek yang berat, intensitas ekspresi sangat berkurang.
  6. Kesadaran: kemampuan manusia dalam membuat pembatasan dan penghubungan terhadap keadaan lingkungan di luar. Dengan kesadaran yang baik ia diharapkan mampu membuat penilaian dan pemahaman akan suatu keadaan.
  7. Intelektual: kemampuan untuk mengingat, menggerakkan, menyatukan akan hal-hal yang ia pelajari.
  8. Waham atau delusi: kepercayaan palsu yang tidak sesuai dengan kenyataan, namun kepercayaan ini memang pasien rasakan dan berpengaruh pada tindakan-tindakannya. Ia tidak mampu mengontrol dirinya untuk menjadi sesuai realita yang ada.

Minggu, 25 Januari 2009

Menjadi Unik Tidaklah Salah

Karena unik, disebutnyalah manusia.

Inilah apa yang kita sebut dengan hidup seorang manusia.
Ia berdiri dengan kakinya sendiri.
Ia bernapas dengan paru-parunya.
Ia berdetak dengan jantungnya.
Ia berpikir dengan girus-girus otaknya.

Ia takkan pernah dapat untuk memerintahkan tangannya untuk bergerak dengan jaras saraf orang lain. Ia takkan pernah dapat untuk tertawa menggunakan otot wajah orang lain.

Inilah manusia dengan kepribadian uniknya. Ia memang memiliki fisiologi yang sama. Asetilkolin (sebuah jenis neurotransmitter) yang ada sama dengan apa yang ada dengan orang lain. Begitu pula dengan asam lambung yang mencerna makanan bagi sel-selnya. Namun yang membedakan dirinya adalah masing-masing memiliki akal budi yang berbeda.

Terkadang kita berpikir, mengapa kita sulit untuk dapat menerima seseroang dalam hidup kita. Kita di sini cenderung egois dengan memberikan sawar (penahan) elektif dan protektif. Sawar ini dibentuk sedemikian rupa agar segala kerugian tidak masuk ke dalam diri kita. Anggaplah seseorang itu adalah perompak zolim, kita akan lari karena kita tak ingin dirompak olehnya.

Namun apabila sebenarnya orang tersebut tidaklah seburuk apa yang kita persepsikan. Kita adalah manusia unik yang memiliki persepsi yang berbeda pula, walau sedemikian mili adanya. Ketika kita bermasyarakat kita akan bertemu dengan berbagai kepribadian yang ada. Masing-masing ialah unik. Namun kita sendiri sering kali merasa sulit melakukan aklimatisasi dengan keadaan yang ada.

Begitu pula misalnya dengan orang yang berkeluarga atau memiliki perjanjian khusus dalam membina hubungan yang lebih mendalam. Masing-masing walau dengan aklimatisasinya yang ada, tetap harus ada sisi yang menerima keunikan itu adanya. Masing-masing tidak akan pernah dapat sepikiran, karena kita tidak satu otak dan satu batang tubuh.

Maka menjadi pribadi yang unik tidaklah salah, karena itulah kita disebut sebagai manusia. Terimalah ini adanya, kawan.

Sabtu, 24 Januari 2009

Men are from Mars, Women are from Venus


Buku ini adalah sekian dari buku-buku psikologi yang saya punya. Ya saya sedikit banyak menyukai psikologi, dengan berbagai wawasannya mengenai bagaimana membaca perilaku manusia dan bagaimana sebaiknya menyikapinya.

Buku ini baru saya beli di Gramedia Emporium Pluit Mall, Rabu (21/1) ini. Sekalian membeli biografi Barack Obama, saya jadi penasaran dengan inspirasi orang ini.

Buku John Gray PhD ini ingin mencoba memberi pemahaman bagi para pria agar dapat mengerti wanita, dan wanita mengerti pria. Karena terus terang, perbedaan ini seringkali membuat percekcokan di antara sebuah hubungan, baik hubungan pacaran, kerja, dan bahkan hubungan sehari-hari!

Contohnya, ketika seorang pria ingin sekali menyendiri ketika ia mendapati sebuah masalah, -itu pula yang terjadi pada saya-. Namun apa yang terjadi pada wanita? Terkadang ia terus-terus bertanya, "Apa sih yang terjadi? Bilang dong ke saya!" atau "Kok malah melarikan diri sih!" Sebenarnya bukan melarikan diri, tapi pria ingin mengatakan: "Tolong kasih saya waktu untuk berpikir. Jangan ganggu saya!"

Terkadang memang sulit untuk mengartikan dari dua bahasa manusia ini. Masing-masing memiliki dictionariumnya. Dan entah kenapa saya menemukan langsung dua buah masalah yang berkaitan dengan hal ini pada waktu-waktu belakangan ini. Lagi-lagi masalah komunikasi.

Wanita sering kali menggunakan idiomnya atau metafora atau eufemismenya. Sedangkan pria adalah orang yang bersikap dan berkata dengan lebih mengutamakan rasionalitas! Maka itulah saya sendiri pun sering kali tidak mengerti kata-kata wanita yang saya pikir, di luar rasionalitas.

Maka saya berusaha membagi buku ini dengan Pat. Moga-moga bisa menjadi jembatan yang baik.

Jumat, 08 Desember 2006

Jangan Akhiri Hidupmu

Kematiannya masih belum jelas benar, kecelakaan, atau bunuh diri. Namun yang jelas, mahasiswa Universitas T ini baru saja putus cinta...
(Sumber:detik.com)


Akhir Hidup

Kematian? Suatu hal yang selalu ingin saya cari apa esensinya. Suatu hal yang di mana orang akhiri perjuangan hidup, ketika orang menghembuskan nafasnya terakhir, mengakhiri dunia fana katanya.


Kematian banyak ditakuti, seperti yang terjadi berbagai adegan dalam Say Hello to Black Jack dan Grey's Anatomy. Kematian begitu riskannya, ketika kita berpikir "Aku kanker, umurku tinggal sedikit. Namun bagaimana ku katakan pada anak dan keluargaku?" Setidaknya itu yang saya tangkap, bahwa kematian menimbulkan suatu keresahan baik dalam dirinya sendiri dan orang lain jelas akan menjadi beban.


Hal Paradoksal

Suatu paradoks besar jika ingin disebut demikian, ketika kita melihat orang dengan sadar ingin mati. Ho, kematian begitu menjadi primadona. Dengan taksadar orang yang sakit terminal akan iri padaku, "Lebih baik kauberikan nyawamu padanku saja. Daripada toh sia-sia?". Kalau transplantasi nyawa bisa dilakukan di dunia ini.


Sebuah hal yang paradoks ini memang begitu riuhnya. Setiap hari pasti kita sering melihat sinetron yang bertajuk bunuh diri, bom pun ada bom bunuh diri, bahkan ucapan sumpah serapah pun tak pelak dari frasa ini.


"Eh, mama mati aja. Dari pada melihat kalian bertengkar seperti ini!!"


Kalimat ini pernah saya dengar. Begitu kata diucap, semua diam. Diam sejuta bahasa.


Di sini saya tidak akan membahas maasalah ilmiah dari bunuh diri, karena saya belum mengambil Ilmu Kedokteran Jiwa. Namun saya tertarik melihat sisi filosofisnya saja.


Filosofis Mati

Mati berarti tidak hidup. Tak hidup berarti mati. Suatu yang kehilangan dayanya, kehilangan kekuatan, kehilangan gerakan, hilang semua. Kekakuan, suasana dingin, beku, tiak ada ceria. Inilah gambaran yang sering kita dengar dari mati. Lalu utnuk mencerahkan maka muncullah semangat bahwa Mati adalah Jalan menuju Kehidupan Mendatang. Kehidupan mendatang apa siapa yang tahu?


Mengapa orang mau mati? Jelas bahwa ada orang-yang-akan-mati yang tidak mau mati. Banyak orang takut mati. Ada juga yang ingin mati. Dunia memang miris. Saya berpendapat bahwa orang yang memutuskan ingin mati adalah adalah mereka yang tidak menemukan alasan untuk hidup. Sebuah hal yang rasional bila memiliki alasan. Tetapi segampang itukah alasan itu lenyap dari hidup?


Banyak alasan yang digunakan manusia dalam menyemanagti kematian seperti kesulitan ekonomi, bunuh drii karena absurd, bunuh diri ekstensial, bahkana da yang heroik. Yang belakang ini menurut saya tidak masuk akal. Heroik di kartun atau anime manapun tidak ada yang mau bunuh diri dengan sengaja.


Bunuh diri eksistensial. Bunuh diri agar orang mengetahui tentang dirinya. Ini alasan yang menurut saya juga tidak masuk akal. Ketika pihak itu mati, orang kenal. Lalu? Hanya kenal sebatas nama. Bunuh diri karena patah hati seperti kasus dari detik.com itu, dengan bunuh diri apakah hal akan kembali? Suatu mekanisme defensi yang kemudian dipakai adalah, "keadaan tidak dapat berubah lagi" "semua telah ditetapkan begitu", "dia satu-satunya milikku". Pertanyaannya apakah benar telah diamati seperti itu? Semua pernyataan itu dilakukan dalam ruangan khas fotografi, ruangan gelap.


That's a life!

Ketika hidup diakhiri dengan alasan yang tidak logis alangkah buruknya. Hidup layaknya kertas yang bisa dituliskan baik dan buruk. Hidup yang menempatkan kita dari atas dan bawah. Kita tidak dapat ego agar semua sesuai dengan kehendak kita dan kepuasan kita semata.


Kadang-kadang memang ada yang tidak dapat menerima hal yang terjadi. Saya ingin meminjam dari perilaku Hindu Bali, pasrah (ignorance) atau acuh tak acuh. Masalah itu tidak akan beserta kita lagi dan bukan bagian dari diri kita lagi. Yang ada hanyalah mata baru untuk menatap bukan meratap.


Ketika kita telah gelap mata melihat sesuatu yang buruk, bukalah dunia begitu baiknya. Kita di dunia bukan bekerja untuk satu hal saja, ada ribuan hal yang dapat kita lakukan dan jelas mengembangkan diri kita. Kita harus lentur dalam menghadapi masalah yang ada di dalam hidup kita. Jangan mengedepankan secara supra anterior rasa ego.


Life a Life

So, jangan akhiri hidupmu. Mengakhiri hidup yang begitu indah?