Kamis, 02 September 2010

Dokter Muda (Koas): Benarkah Mereka itu Sombong Sekali?

Ada sebuah tulisan yang cukup menghebohkan dunia kedokteran, terutama pendidikan dokter. Tulisan yang dimuat di kompasiana itu berjudul Para Calon Dokter itu Sombong Sekali yang ditulis oleh Afandi Sido. Penulis blog itu menuturkan tanggapannya atas apa yang ia lihat dan rasakan terhadap dokter-dokter muda yang ada di salah satu RS di Yogyakarta. Ia merasakan dari sisi awam bahwa dokter-dokter muda menyebabkan kesenjangan sosial dan cenderung eksklusif, tidak memiliki rasa empati terhadap pasien dan orang-orang sekitar.

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk memberikan tanggapan dari sisi dokter muda mengenai tulisan dan berbagai streotipe yang beredar di masyarakat. Semoga dapat memberi cakrawala lain bagi tulisan tersebut. Dan tentu tulisan ini adalah opini dan argumentasi.

 

Menjadi dokter adalah sebuah cita-cita bagi banyak orang. Menjadi dokter juga adalah sebuah impian, harapan bagi berbagai idealisme. Baik idealisme menolong orang lain, memenuhi harapan keluarga, hingga mengangkat harkat martabat keluarga. Apapun itu dasarnya, tidak bisa dielakkan, tidak bisa diubah, dan itulah keunikan setiap individu yang ingin menjadi dokter.

 

Menjadi dokter pula bukan berarti tanpa biaya. Namun juga bukan berarti biayanya murah. Memang sebuah fakta, bahwa menjadi dokter, di Indonesia, adalah barang yang mahal. Kocek memang harus diraba lebih dalam. Hal ini membuat asumsi masyarakat bahwa FK (Fakultas Kedokteran) adalah Fakultas Kaya. Saya kira suatu hal yang masuk akal saja bahwa orang yang mampu secara ekonomi dapat masuk FK, toh dia mampu-mampu saja. Dan tentu saja dibalik itu orang yang tidak mampu, tidak boleh tidak dapat masuk FK karena terdapat banyak jalur pembiayaan pendidikan termasuk beasiswa. Yang jelas kedua-duanya, baik yang kaya atau tidak mampu, memiliki satu kesamaan yang tidak dimiliki orang lain, yaitu kemampuan akademik yang tepat untuk menjadi dokter. Itu saja. Maka saya kira masalah pundi-pundi bukan alasan untuk masuk FK.

 

Menjadi dokter harus melalui dua tahap pendidikan, yaitu praklinik dan kepaniteraan klinik. Praklinik adalah menjalani kuliah-kuliah selama 3,5 tahun-4 tahun dan setelah menyelesaikannya akan diberi gelar S.Ked (Sarjana Kedokteran). Seorang S.Ked belum dapat menjadi dokter. Sama seperti Seorang SE (Sarjana Ekonomi) belum dapat menjadi akuntan. Seorang SH (Sarjana Hukum) belum dapat menjadi advokat atau notaris. Maka seorang S.Ked harus menjalani kepaniteraan klinik atau koas (dari kata ko-asisten, artinya jelas sebagai asisten dokter, bukan dokter) atau periode dokter muda selama 1,5-2 tahun. Setelah itu, dengan kurikulum baru dan kebijakan baru harus melewati masa internship selama 1 tahun dengan STR sementara, sebelum itu menjalani UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia). Baru dapat mengajukan STR tetap dan SIP sesuai dengan UU Praktik Kedokteran. Baru dapat praktik mandiri sebagai dokter.

 

Menjadi koas. Menjadi koas adalah suatu periode pendidikan dokter yang ditekankan pada penerapan (aplikasi) teori-teori yang sebelumnya sudah didapat dari periode praklinik. Menjadi koas bukanlah menjadi dokter mandiri. Koas memiliki hak dan kewajibannya sendiri dan serupa-tak-sama dengan hak dan kewajiban dokter. Koas dan dokter punya kewajiban untuk menghormati pasien, bersikap profesional sesuai keilmuan, dan lainnya. Namun koas tidak ada hak untuk berpraktik mandiri. Semua apa yang dilakukan koas harus berada dibawah supervisi dokter pembimbingnya. Namun dibalik itu mereka pun dituntut untuk memiliki profesionalisme layaknya dokter mandiri. Jadi, saya kira ketika masyarakat awam berhadapan dengan koas, maka sudah sesuai aturan yang ada, bila mereka tidak dapat menegakkan diagnosis dan memberi terapi secara mandiri di depan pasien tanpa dikonsultasikan dengan pembimbingnya.

 

Menjadi koas memang posisinya seperti serba tanggung. Mereka menganamnesa pasien, memeriksa pasien, kemudian baru dilaporkan ke pembimbing, dan diricek ulang pembimbing, baru dapat ditegakkan diagnosis oleh pembimbing. Memang tampak ribet, dan tidak seperti ke dokter biasa yang bisa dilewati proses oleh dokter muda langsung ke dokter praktiknya. Hal ini tidak jarang memberi kesan bagi pasien, apakah saya jadi bahan percobaan? Tentunya di sini perlu ada kesepahaman antara dua pihak. Koas perlu bersikap profesional dan memberi rasa nyaman sehingga pasien tidak dirugikan. Dan sebaliknya pasien perlu paham bahwa dirinya bukanlah kelinci percobaan, tetapi dirinya terlibat sebagai guru bagi koas sehingga koas pun bisa mengembangkan dirinya untuk menjadi dokter yang baik kelak. Apakah masyarakat mau punya dokter yang selama hidupnya hanya melakukan tindakan dengan boneka saja?

 

Apakah pasien harus takut bila diperiksa koas? Ini kembali lagi kesepahaman. Koas harus bersikap profesional, rasional, dan sesuai dengan janji hipokratiknya untuk "First do no harm -- Yang terutama, jangan mencelakakan orang". Kemudian ia menerapkan apa yang ia pelajari sesuai dengan standar ilmu yang ada. Di dalam proses dunia fana ini, mungkin terjadi kesalahan. Misalnya koas yang menginfus pasien menyebabkan bengkak di tempat penusukan dan akhirnya penusukan infus diberikan ke pembimbing. Ingat bahwa semata-mata, koas tidak ada niat mencelakakan pasien, ia berusaha yang terbaik bagi pasien. Kesalahan yang ada bukan disengaja. Tindakan-tindakan ini memerlukan pengalaman yang tak hanya sekali. Seperti anak yang belajar berjalan, apakah ia dapat tanpa tejatuh atau tertatih dahulu?

 

Menjadi koas, seperti yang disebutkan, perlu mengedepankan rasa profesionalisme layaknya dokter praktik. Harus mampu menempatkan diri dan sikap yang sesuai. Jelas dokter muda tidak boleh terlihat asyik bermain game di depan pasien. Dokter muda tidak boleh diam saja ketika pasien memerlukan pertolongan. Dokter muda tidak boleh terlihat cengengesan di depan pasien. Ya, ini layaknya seorang dokter.

 

Selama hampir 1 tahun saya menjadi koas, saya merasakan banyak pengalaman menjadi dokter muda. Baik dari yang diacuhkan pasien karena saya seorang dokter muda, namun tidak sedikit saya mendapat pengalaman berharga bersama pasien. Banyak pasien yang juga senang terhadap dokter muda, karena mereka dapat mencurahkan isi hatinya lebih banyak, karena mereka dapat bertanya lebih banyak. Karena dengan dokter mudalah yang lebih sering berinteraksi dengan mereka daripada dokter konsulen dan perawat. Karena dokter mudalah yang sering menjawab bel panggilan mereka ketika infus mereka macet. Karena dokter mudalah yang seharian membantu memberi napas bantuan melalui kantung ambu ketika pasien tidak mampu membayar ICU. Dokter mudalah yang menghitung detail air minum dan air kencing pasien yang gagal jantung. Dan tentunya ini berakhir dengan ucapan: "Terima kasih dokter" kepada dokter muda itu.

 

Apa kesimpulannya? Antara pasien dan koas perlu ada kesepahaman, perlu ada rasa menghargai dan menghormati satu sama lain. Eksistensi keduanya saling diperlukan. Pasien tidak perlu lagi merasa dirinya kelinci percobaan. Koas tidak perlu merasa pasien adalah duri dalam daging. Tetapi keduanya saling merasa membutuhkan sehingga menghasilkan hubungan yang mutualisme satu sama lainnya.

 

 

30 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

  1. Wah, artikel argumentatif yang bagus bung hau..

    Di mana-mana sudut pandang yang berbeda itu selalu ada. Bukan untuk saling meniadakan namun saling melengkapi.

    Semangat!!

    BalasHapus
  2. bro hau, saya juga salah seorang mahasiswa fakultas kedokteran tapi masih senior anda hehe.. saya juga sangat tertarik dengan topik seperti ini, karena tiba2 saya pingin ngetik keyword 'dokter sombong' di bos google..
    aku kurang tau anda kuliah di universitas negeri atau swasta, tp berdasarkan pengalaman saya yang kuliah di univ.negeri, ampun bro hau.. senioritas sangat terasa dan rasanya para profesor, dokter, dan senior itu sombong banget.. emang ga semua tapi sebagian besar bro..entah memang tabiatnya atau memang terjadi di seluruh fk karena aku belum membandingkan dengan teman2 di univ lain..
    ttg kemampuan akademik sepertinya tidak begitu berpengaruh di tempat saya berkuliah, karena sebagian besar yang diterima adalah anak2 dokter yang entah memang pintar ato gimana lah.. karena ada juga yang jujur mereka masuk dengan jalur koneksi..
    dengan perkembangan kedokteran sekarang dimana sudah ada topik profesionalisme, empati dkk. moga2 sifat dokter yang diharamkan oleh pasien dapat diminimalisasi lah.. ngmg2 thx bgt buat topiknya bro hau :)

    BalasHapus
  3. Gak sombong kok, malah selalu nurut klw disuruh ama resident.

    nice posted, please add my link into ur blogroll N follow me
    http://djendral-berbagi.blogspot.com/2010/01/kehamilan-dua-janin-atau-lebih.html

    BalasHapus
  4. @Kevin dan Djendral: Trims atas tanggapannya.

    @Kevin: Kebetulan saya di FKS di Jakarta. Agaknya pendidikan ini paradoks ya: kita diminta untuk rendah hati, namun masih ada pula yang tinggi hati. Ya, mungkin dikembalikan lagi setelah pendidikan ini, ingin menjadi dokter yang seperti apa ya. =P

    BalasHapus
  5. Setuju sama bung Hau :)
    saya seorang anak SMA yang bercita-cita menjadi dokter. jadi bisa belajar dari artikel ini, bahwa semuanya butuh kesepahaman, dan butuh HATI yang tulus...
    nice post bung!!!!

    BalasHapus
  6. Terima kasih dan saya juga berharap cita2 Anda tercapai ya :)

    BalasHapus
  7. uda ngadain survey? brp persen dokter muda yg seperti itu? harusnya sebelum menulis artikel diadakan survey dulu.. ini masak baru 1 rumah sakit, 10 Dokter muda, udah men judge SEMUA dokter muda se-indonesia kayak gini?

    Ane sbagai DM melihat teman2 saya memang ada yang seperti itu.. tp hanyalah 5-10% dimana itu anak2 orang kaya, yang hanya kejar profesi nya saja untuk semata-mata kedudukan tinggi.. Itu pun menurut saya terserah mereka. yang penting adalah diri kita masing2 untuk dapat membantu. Dokter muda klo di RS saya lebih RENDAH kedudukanya dari cleaning service bos ^_^ . Perawat itu lebih tinggi dari kita, ilmu praktek nya masih banyak. Pastilah kita hormati.

    Jadi intinya.. jangan judge orang sebelum ada survey dan bukti otentik, sebelum anda merusak pandangan orang mengenai Dokter Muda... Kalo memang semua orang Judge DM, dan DM ga bisa belajar secara maksimal, ga bakal ada Dokter Tua yang jago2 kayak skrg. sip

    BalasHapus
  8. Saya adalah seorang tukang fotocopy dekat RS. Pelanggan saya banyak koas2 spt itu. Mereka memang rata-rata sombong, notabene mereka "ANAK" orang kaya, terutama yang berplat B (banyak image kurang sopan santun). Mereka biasanya emoh lepas sepatu/sendal, meskipun hujan becek lumpur, yg lepas biasanya anak2 AKper/Akbid dan dari daerah2. Mereka Kalau nyuruh seenak udelnya, maunya cepet2, gak peduli org repot. Macam orang stress dan buru2. Padahal setelah itu mereka cuma mau BBM-an & FB an. Sibuk ngrumpi n ngobrol sana-sini. Mau tau tradisi yg sudah2?? Mereka rata-rata kalau dateng selalu ketinggalan barang, entah itu flashdisk, payung, makalah, kunci kos2an, dll. (Semoga kelak tidak ketinggalan gunting di perut).

    Apakah semua seperti itu? tidak juga, ada mbak2 dan mas2 yg alim, tenang, kalem, meskipun gonta-ganti mobil, mereka juga tetep santun. Bahkan kami iseng-iseng menilai2...nha yg ini calon dokter yg siiip.

    BalasHapus
  9. bener banget bung
    mampir ke blog ane donk
    www.dokterdesa.com

    BalasHapus
  10. apa anda yakin koas memasang infus???itu kan tugas perwat??benerin infus macet dilapangan jg perawat yang melakukan,,,masa si koas yg nglakuin,saya ragu

    BalasHapus
  11. @Estymooo: Saya tidak tahu di tempat lainnya. Di almamater saya dulu, kami diajarkan untuk memperhatikan pasien secara komprehensif. Memasang infus termasuk kompetensi seorang dokter dan ada ujian praktiknya.

    BalasHapus
  12. @estymooo: gw uda puluhan kali kok masang infus..btw gw bru kelar koass. Anda koass apa bukan?saya ragu anda koass!!

    BalasHapus
  13. @Ephenk: terima kasih atas commentnya. Ditunggu comment2 di tulisan lain hehehe. Btw, udah kelar koas lagi nunggu UKDI?

    BalasHapus
  14. Hai Saudara Haurissa,
    wah terimakasih tulisannya memberi saya masukan positif mengenai koas. Anak perempuan saya yang akan menjalani koas mulai bulan April 2013 ini nanti. Saya pingin tahu banyak apa saja yang akan dikerjakan oleh koas, dan tulisan Anda memberi masukan itu. Saya pikir Saudara akan menjadi dokter yang baik, sukses ya. God bless.

    BalasHapus
  15. Terima kasih pak atas apresiasinya. Senang sekali kalau tulisan ini bermanfaat. Kini saya ditugaskan menjadi dokter di pedalaman Kalimantan Barat. Ya, memang suka dukanya menjadi dokter di Indonesia ini sangat menarik hehehehe.

    Salam untuk putrinya dan tetap semangat menjalani apa yang ada untuk menjadi seorang dokter. :)

    BalasHapus
  16. Topik bahasan yang cukup menarik yang ditulis oleh dr.Haurissa.
    Kebetulan saya surfing dan menemukan kalimat menarik "Dokter muda: benarkah mereka itu sombong sekali?"
    Ini topik yang menarik untuk dihasah secara kontinua dan ditelaah agar kedua pihak, ko-ass maupun masyarakat lebih mengerti.
    kalau menurut saya, wayak seseoranglah yang berpengaruh untuk menentukan image ko-ass.
    Akan tetapi oknum ko-ass yang kurang baik attitudenya akan menjadi tergeneralisasi, dimana hal ini merugikan kawan-kawan ko-ass yang tidak demikian.
    yang perlu diperhatikan adalah yang membentuk watak adalah berasal dari keluarga, jadi keluarga yang anaknya menjalani pendidikan kedokteran disarankan mendidik agara calon dokter tersebut meiliki attitude yang baik.
    Di kampus, dimana adanya sistem senioritas juga membantu agar sang ko-ass dapat dibentuk untuk memiliki attitude yang baik.
    Kawan setingkat juga memiliki kewajiban yang demikian.
    Di lain sisi, masyarakay awam harus menghargai ko-ass yang sudah menempuh pendidikan yang dama dan bersusah payah agar lulus, karena lulusnya bukan sekedar lulus saja, tetapi memiliki tanggung jawab yang besar terhadap nyawa manusia. Jika pasien diperiksa akan tetapi tidak informatif dan ikhlas untuk diperiksa, maka diagnosa yang didapat oleh ko-ass akan bias juga.
    Ko-ass walau tidak meiliki tanggung jawab secara hukum, tetap harus mempunyai tanggung jawab secara moral dalam melaksanakan kewajibannya.
    Mari kita tingkatkan kwalitas dan integritas dokter di Indonesia.

    BalasHapus
  17. Pengalaman saya ketika adik saya dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan , semua dokter muda yang ada di sana sangat baik dan perhatian kepada pasien ,:)
    Nice post dr. haurissa , semoga anda menjadi dokter yang the best

    BalasHapus
  18. Assallamualaikum,,, pengalaman dan penilaian saya sebagai keluarga pasien hari ini tentang dokter2 muda ternyata cukup membuat saya tersenyum,,, setiap jam 6 pagi Anak saya diperiksa oleh anak2 koas,,dan setiap itu pula banyak penilaian beragam,, saya nilai mereka kebanyakan "sombong" karena gugup sehingga ada terkesan "sombong" .. Memang sih banyak juga anak2 Orkay yang benar2 sombong :) ... Apalagi jika ada family mereka yg sudah "jadi orang" ,,, yah kita kembalikan ke individu masing2 ,, dokter perawat dan bidan ataupun tenaga kesehatan lainnya hanya berperan sebagai "PENGANALISA" suatu penyakit ataupun masalah kesehatan, sembuh atau tidak sembuh tergantung kepada Tuhan, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a,,, maju terus dunia kedokteran indonesia, tingkatkan profesionalisme kerja !!! Jadilah tenaga kesehatan yg selalu disayang masyarakat :)

    BalasHapus
  19. Terima kasih pak Iman atas komentarnya :)

    BalasHapus
  20. Nice posting dr. Hau :)
    saya seorang mahasiswa kedokteran dan kalau lancar tahun 2014 ini sudah memasuki dunia koas :)
    Mungkin nanti bakal nemuin sejawat koas2 yang sedikit "sombong"
    Yang pasti yang saya tau di dunia kedokteran attitude itu sangat ditekankan. jika ada koas yang attitudenya kurang baik, yah kembali ke pribadinya masing2. Beda2 org, beda watak dan perilakunya.

    Thanks dokter. Semoga sukses ke depannya yaa :)

    BalasHapus
  21. Yang penting bagaimana pribadi kita untuk melakukan yang terbaik... Menjadi apapun kita...

    http://benviemedicshop.com/

    BalasHapus
  22. Nice share Dr hau,saya juga pernah dapet cerita bahwa biasanya yg koas itu ada yg sombong banget,terkdang mereka menganggap remeh terhadap perawat.yaah ini juga pengalaman dri mantan saya dulu.dan sekarang pacar saya juga koas,ternyata yg koasnya aja bilang ada beberapa yg sombong so kaya. ayolah semoga kedepannya gak sombong dengan perannya sebagai apa. saya yakin yg menjadikan mreka sombong iu karena dokternya itu . semangat !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya :) Tetap semangat juga :)

      Hapus
  23. Semangat pagi dr Haurissa, masih di Kalbar ya atau sdh pindah tugas mudahan tetap semangat sebagai pejuang kesehatan masyarakat. Tahun 90an saya juga punya saudara yg pernah dirawat di RS dan ditangani koass dan jadi pergunjingan dikalangan keluarga wah jadi kelinci percobaan dan saya bilang iklas saja kan ada seniornya juga yg akan menindak lanjuti dan tidak mungkin mereka akan mencelakai pasien, dan alhamdulillah sembuh dengan baik sampai sekarang. Tahun ini putri saya mulai menjalani koas dari sebuah FK PTN tepatnya pertengahan Maret 2014 ini dan dengan kelakar kalau paman sakit di RS pasti kamu ya yg akan meawat katanya kepada putri saya, tulisan yg bagus dan memetik tulisan Anda akan saya jadikan pesan kepada putri saya. Salam dan tetap semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya :) Saya kini sudah bekerja di salah satu rumah sakit umum di Pontianak. Salam untuk putri Anda dan tetap jangan patah semangat untuk mencapai cita-cita :)

      Hapus
  24. Saya bukan seorang dokter ataupun mahasiswa kedokteran, tapi saya selalu respect terhadap mereka yang berjas putih. Saya selalu memiliki persepsi bahwa mereka adalah sosok keren nan jenius. Sayangnya, persepsi saya tersebut banyak dikecewakan oleh sebagian oknum dokter yang kurang bertanggungjawab. Tapi, over all, saya bisa memahami hal tersebut. Besar harapan saya, kita semua bisa mewujudkan kehidupan yang bersinergi, tidak ada pengkotak-kotakan hanya karena saya dokter dan Anda bukan.
    Oke, semangat dokter-dokter Indonesia. Tetap berbudi luhur dan profesional dalam bekerja. Kita sama-sama lelah, namun kita bisa melakukan yang terbaik untuk kemajuan negeri.
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Ayo kita sama2 semangat bekerja dalam profesi masing-masing :)

      Hapus
  25. Semoga lebih banyak lagi dokter yg mengedepankan kemanusiaan, dibandingkan materi. Meskipun kita tahu sekolah dokter mahal. Saat ini ada oknum dokter yang lebih mementingkan materi

    BalasHapus
  26. koas atau dokter muda yg sudah buka praktek (berdasarkan pengalaman), ada kesan mengejar target, contoh: banyak memberikan jenis obat, Saya tahu, karena punya teman apoteker, dan temen saya bilang, obat ini itu ga perlu.... Dan memang, koas emang rada sombong atau gimana gitu....(kesannya, SAYA DOKTER TAUUUU,,,begitu). hehehe. tapi sebisa mungkin, saya sangat menghindari utk berinterkasi dgn DOKTER....(maksud saya, jaga kesehatan agar tidak sakit)...hehehe

    BalasHapus

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: