Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2009

Sindroma Mahasiswa Kedokteran

Saya masih ingat ketika itu saya merasa ada yang aneh pada diri saya. Saya merasa hidup saya tidak terlalu menyenangkan. Saya kehilangan waktu untuk hobi saya bermain game. Saya merasa tidak bertenaga dan kerap mengantuk saat kuliah. Saya kembali memutar otak, apakah saya depresi? Cocok sekali dengan trias depresi: anhedonia, anergia, mood hipotim. Dan ini terjadi ketika saya sedang kuliah Gangguan Perasaan saat kelas Psikiatri.

Saya jadi teringat dulu saya sempat mengalihbahasakan artikel Medical Student Syndrome menjadi Sindroma Mahasiswa Kedokteran di sebuah artikel Wikipedia ketika saya masih aktif sebagai wikipediawan. Sindroma ini memang tidak tercatat dalam lema di PPDGJ III atau bahkan DSM IV. Sebenarnya, sindorma ini adalah sinonim dari sebuah hipokondriasis, sebuah gangguan jiwa dengan adanya keawasan yang berlebihan terhadap kesehatan dirinya. Bedanya, pada sindroma ini sifatnya lebih khusus ke mahasiswa kedokteran.

Mungkin ini dirasakan oleh seseorang, bahwa semakin seorang mahasiswa kedokteran belajar berbagai penyakit dalam berbagai sub ilmu, bahwa ia semakin mahfum bahwa diri manusia yang hanya satu-satunya ini dapat diserang oleh beribu-ribu penyakit mulai dari kongenital, otoimun, degeneratif, neoplasmik, traumatik, metabolik, infektif, dan lainnya. Dan penyakit ini pun beragam muka dari yang self-limiting hingga mengancam nyawa.

Dengan ini dapat saja timbul ancaman bahwa salah satu penyakit ini bisa saja timbul. Ya, bisa saja. Dari satu gejala dan tanda dapat mendiferensiasikan berbagai diagnosa banding dari yang berawalan A hingga Z. Anggaplah sakit perut kanan bawah, bisa saja menimbulkan appendicitis, demam typhoid, salphingitis, ureterolithiasis, invaginasi atau volvulus, dan lainnya. Atau bahkan tidak ada apa-apa sampai tidak tahu mengapa, idiopatik.

Inilah yang sistem pemikiran yang terus menerus diajarkan kepada mahasiswa kedokteran. Pemikiran induktif menuju ke sebuah diagnosa. Mungkin saja pikiran ini dibawanya hingga ke kehidupan sehari-harinya. Hingga apa yang terjadi pada dirinya bisa saja terdapat sesuatu yang perlu diperhatikan.

Entah mungkin apa hal ini yang terjadi pada saya. Berbeda denga riset yang dilakukan di India, bahwa sindroma ini lebih sering teridap oleh mahasiswa kedokteran tingkat pertama. Tetapi saya masih kadang-kadang merasa hingga saya di tingkat empat. Di tingkat lima kini memang sudah semakijn berkurang karena, -hipotesa saya- saya sudah melihat langsung bagaimana dinamika penyakit.

Dan hipotesa saya lagi, untuk menghilangkan pemikiran-pemikiran ini ialah dengan berpikir positif dan menjaga kebugaran tubuh. (Saya pun kembali mengamati diri ini, yang mana fascia camperinya semakin menggelembung dan kian menggelembung di saat ini hingga memberikan gambaran perut yang siap dileopold. Huaaa....)

Untuk rekan-rekan mahasiswa kedokteran: apakah Anda pernah mengalami sindroma mahasiswa kedokteran ini dalam hidup Anda?

Rabu, 09 September 2009

Akhirnya, Dokter Muda

9 September 2009,
sebuah tanggal yang tentunya akan dapat diingat dengan baik. Sebuah tanggal dengan deret kongruen di dalamnya. Dalam tanggal ini pula, saya dan kawan-kawan sejawat mengambil janji Dokter Muda. Sebuah awal kami, sebuah batu lompatan, melanjutkan apa yang telah kami alami selama empat tahun di studi pre-klinik. Walau ragu, cemas, kebahagiaan, kepuasan, kian beraduk dalam pikiran, kami tetap berharap Sang Khalik selalu menyertai langkah kami kemana pun kami melangkah!

Proficiat untuk rekan-rekan!

Selasa, 11 Agustus 2009

OSCE oh OSCE

OSCE - Ada apa di balik tirai...

Ah, sepertinya sudah lama sekali saya tidak memperbarui blog ini. Ya akhir-akhir ini di masa panum, saya merasakan rasa lelah dan jenuh dan berakibat menjadi malas melakukan apapun.

Hari ini saya dalam situasi yang tidak tenang, karena besok adalah pelaksanaan dari ujian OSCE. Ujian yang seharusnya objektif namun kadar subjektifnya juga tidak dapat dipungkiri. Besok konon hanya 11 stase yang diujikan dari 30an skill yang diajarkan. Fuuh...

Persiapan, bisa dibilang cukup bagi saya. Belajar di manekin setiap hari dan ada juga sesi belajar dengan rekan-rekan lainnya. Namun sekarang yang perlu diperkuat adalah hati. Hati yang mampu percaya bahwa saya tidak perlu mengkhawatirkan ujian ini.

Tapi tetap saja, saya terdiagnosa palpitasi dan kecemasan et causa OSCE...

Rabu, 22 Juli 2009

Hari Keduabelas Panum: Empati

Hari keduabelas kepaniteraan umum. Tidak terasa, sudah hari keduabelas. Apa artinya? Tinggallah sekitar sepuluhan hari lagi kepaniteraan umum ini berlangsung. Dan ujian OSCE semakin mendekat.

Hari ini berlangsung biasa saja hingga siang hari dengan kelas Pemeriksaan Mata dan Alloanamnesa Anak. Namun yang menarik perhatian saya adalah kelas Wawancara Psikiatri, yang dipandu oleh dr. Rusdi Maslim, SpKJ.

Sebuah kelas yang membuka mata saya, melihat sesuatu yang lebih dari yang sudah ada. Awalnya hanya dalam bentuk tanya jawab, meninjau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Banyak hal-hal yang sebenarnya mulai terbentuk kemarin dan kini bagi saya kembali memulai mencari bentuk. Anamnesa. Suatu hal yang sederhana. Suatu yang memulai deretan pemeriksaan, diagnosis, dan terapi. Sebagai pemula dari sebuah hubungan relasi dokter dan pasien.

Mungkin suatu hal yang sudah dihapalkan di luar kepala bak Indonesia Raya: Memberi salam, menyapa pasien, menanyakan identitas. Untuk apa? Agar pasien dapat merasa nyaman dalam proses terapinya. Kemudian apa lagi agar pasien dapat merasa nyaman? Hubungan yang ramah dan penuh empati. Bagaimana dengan empati itu?

Sebuah perspektif, bahwa kita bekerja melayani pasien. Dokter bukan bekerja demi kepuasan dirinya. Dalam anamnesa, dokter bukanlah interogator. Namun lebih kepada pemfasilitator. Pasien bukanlah alat yang kita amati senti demi senti dan mencari di mana penyakit bersarang. Namun kita memperlakukan pasien seperti diri kita. Apakah kita mau diperlakukan demikian pula?

Empati. Suatu rasa di mana seseorang bisa memahami perasaan orang lain, berkacamata dalam perspektif orang lain. Suatu definisi yang mudah dihapalkan, namun suatu hal yang cukup sukar dipraktikkan. Membangun rasa empati adalah sebuah tantangan bagi saya. Mengingat saya sendiri masih cukup lemah dalam hal seperti ini. Membangun rasa empati memang perlu dilakukan secara kontinu, bukan hanya sekedar dalam skills lab, namun pada setiap tempat dengan juga peningkatan kesadaran akan empati tersebut.

Apalagi dalam psikiatri, yang dimana wawancaranya sangat berfungsi untuk terapi, maka rasa empati ini harus lebih dikembangkan sehingga pasien merasa nyaman dan merasa terbantu dengan kehadiran kita.

Selasa, 21 Juli 2009

Hari Kesembilan-Keduabelas Panum: Out of The Box, Harry Potter, Deterioration

Sudah lama tidak memperbarui blog ini lagi! Bukannya tidak ada hal yang bisa dituliskan, tetapi rasanya rasa badan ini malas untuk mengetikannya.

Panum kembali berjalan dengan kuliah (oh kuliah...). Banyak bahan hingga hari kesebelas. Pengendalian infeksi nosokomial, RJP neonatus, EKG, pemeriksaan anak, anamnesa interna, PF umum, PF thorax, anamnesa KV dan respirasi, cara menulis resep. Banyak tenan.

Di Luar Kotak

Namun saya mendapat sesuatu yang unik, sebenarnya, dari kuliah pengendalian infeksi nosokomial. Bukan masalah dengan infeksi nosokomialnya, tetapi saya cukup tertarik dengan cara berpikir dari dosen yang menyampaikannya, dr. Agus Sugiharto. Cara berpikirnya unik, out of the box. Cara pikir yang terus terang saja, tidak begitu dengan gampangnya diterima oleh orang lain secara umum. Pikiran-pikiran yang dianggap "psikotik". Ya, mengapa demikian? Mungkin saja, sebuah hipotesa, adalah orang lain tidak berpikir seperti itu!

Kadang-kadang ini saya rasakan juga. Dan terus terang ini yang saya rasakan pada belakangan ini. Walaupun akhir-akhir ini saya tidak terlalu terpapar lagi dengan kondisi ini. Di AToMA, saya ditempa untuk berpikir "di luar kotak". Berpikiran sebagaimana orang lain tidak berpikir sama. Mengambil jalur alternatif. Dari situlah lahir beberapa pemikiran, bersama rekan-rekan AToMA lainnya, membangun program yang unik seperti INTIMA, STROMA. Sebuah hal yang dianggap gila, tidak berotak, mustahil oleh orang lain. Tetapi? Hasilnya adalah keduanya acara yang mustajab. Acara yang menorehkan sejarah pada FKUAJ, terutama kemahasiswaan. Bukan saya tinggi hati, namun terjadi demikian. Namun apakah kedua ini hanya menjadi sekedar sejarah?

Berpikir unik, tidak salah. Menjadi berbeda, bukanlah masalah. Justru berpikir berbeda adalah sebuah langkah pembuka pintu inovasi.

Harry Potter... Hm Ya.

Sabtu, saya, Patsy, dan Ellen bersiap berangkat ke Puri Indah untuk menonton sekuel Harry Potter, The Half Blood Prince. Ya, saya sudah mendengar beberapa komentar dari rekan via status Facebook tentang film yang tertunda ini. Jelek, katanya.

Saya sendiri memberi bintang... 3 dari 5. Tidak bagus sekali, tidak buruk. Ya, agak mengecewakan, memang iya. Harry Potter seperti kehilangan nilai serunya. Agak datar. Ya, agak datar.

Deterioration

Selasa, adalah hari skills lab pertama. Seharian belajar anamnesa. Secara umum memang sama. Sama. Tetapi, dibutuhkan sebuah latihan yang cukup masif untuk membiasakan diri dalam menanyakan poin-poin yang perlu diperhatikan. Tidak hanya sekedar memberi salam, memperkenalkan diri, menanyakan identitas pasien, keluhan-keluhan, dan menutup. Tetapi, masih ada empati, dan hal-hal yang tidak bisa sekedar dihapalkan. dr. Bertha SpA mengatakan, anamnesa adalah 90% dari diagnosa. Tetapi yang menjadi hantu utama adalah "kepala padam tiba-tiba". Otak berhenti tiba-tiba dan tidak ada sinyal-sinyal untuk menggerakkan otot bibir untuk memberi pertanyaan dan komentar kepada pasien. Ergh. Memang tidak mudah.

Terus terang, hari-hari di panum memang sedikit sumpek. Bukannya tidak ada ruang untuk bernapas, tetapi mulai sedikit memberi sesak. Hari-hari terasa ramai dan hectic. Fuuuhh, sepertinya lebih nikmat ya, kalau berbaring di teras rumah yang tenang, dalam kesendirian, menikmati matahari yang terbit, dari pinggir batas air laut, dan rona jingga mentari pun mulai merebak.

Kamis, 16 Juli 2009

Kompilasi Panum Keenam-Kedelapan: Dedikasi Seorang Dokter

Ya memenuhi janji kemarin yang mengantuk dan menunda untuk bercerita...

Hari Keenam...

Hari keenam panum pada 13 Juli 2009, masih dengan kuliah dari dosen-dosen. Saya mendapat kuliah manajemen luka oleh dr. Iwan Irawan Karman, SpB. Kemudian pemeriksaan anorektal dari dr. Petrus Wirantono, SpB, pemeriksaan mata oleh Prof DR. dr. Harry Mailangkay, SpM(K). Kuliah sterilisasi dan sarung tangan oleh dr. Alex Kusanto masih ditunda.

Hari ini dilewati dengan rasa cemas menjelang esok hari yang merupakan hari jaga malam pertama. Mulai bersiap-siap dengan baju, peralatan higiene, dan lainnya. Apakah besoknya akan lancar?, demikian tanya saya. Bagaimana ya?

Hari Ketujuh, The D-day

14 Juli 2009, hari jaga malam pertama saya. Dimulai dengan kuliah dari interna, pemeriksaan abdomen oleh dr. Swa Kurniati W, DTMH. Kemudian anamnesa ob-gyn dan pemeriksaan leopold oleh dr. Edihan, SpOG dan dr. Arman Djajakusli SpOG. Kuliah hari ini diawali dan tetap adanya cemas. Entah mungkin pikiran saya yang berlebihan. Selepas kuliah, tim orientasi bangsal untuk jaga malam sudah berkumpul, saya, Frusya, Virgi, Christie, dan Indah.

Jam 14an saya sudah mengambil absen dan kami segera bersiap di kelas akuarium kampus. Siap untuk ke bangsal Melati, bangsal dimana pasien interna dan neurologi berada. Kami datang dan mulai melapor ke dokter jaga bangsal, koas, perawat, dan asisten dosen yang ada. Kami diajak berkeliling bangsal untuk mengetahui ruangan yang ada oleh salah satu koas. Dan mulai jam 15:30 kami mulai bingung dan seperti jadi kuman yang datang tak diundang dan tidak jelas. Luntang-lantung. Bingung mau mengerjakan apa.

Untungnya datang koas yang mengajak kami untuk membantu pemeriksaan tanda-tanda vital pasien. Semua pasien yang ada di Melati harus diperiksa tanda-tanda vital pada jam 16:00, 23:00, dan 04:00 subuh. Tanda vital ini meliputi tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, dan suhu tubuh. Dalam pikrian saya berkecamuk. Saya bisa saja mengukurnya, tapi ada rasa yang tidak meyakinkan dalam diri saya. Apakah nantinya hasil ukur saya valid atau tidak. Setelah ditunjukkan salah satu koas caranya -yang saya pun seharusnya sudah mahfum-, saya dipersilahkan mengerjakannya. Awalnya saya masih tidak percaya. Sedikit grogi. Alat yang ada pada saya berantakan dan tampak tidak profesional, menurut saya. Tapi untungnya keluarga pasien tidak melihat atau tidak berkomentar hal ini. Untungnya pada pasien berikutnya saya berusaha meningkatkan percaya diri saya. Saya jadi teringat apa kata dr. Arman, selain percaya diri harus juga paksa diri. Berani dalam membuat tindakan.

Kami melihat beberapa tindakan medik seperti pemasangan infus, pemasukan obat intravena, dan lainnya. Selain itu juga pada malam itu terdapat 7 pasien baru, bahkan hingga pukul 02:00 pagi. Koas yang ada harus tetap bersemangat dalam melayani pasien, walau mungkin badan lelah. Dedikasi yang besar.

Selain itu pada bangsal interna juga setiap pasien harus dilakukan pengerjaan lab oleh koas. Aduh ilmu patologi klinik saya harus ditarik lagi. Harus baca lagi buku Gandasoebrata....

Menjadi koas memang tidak ringan. Yang saya dapat adalah bahwa menjadi koas juga harus berdedikasi yang tinggi. Memegang amanah yang tinggi. Melayani pasien dengan sepenuh hati. Mungkin pikiran mengkerut di malam hari tetapi sungging senyuman tetap harus ada.

Selain itu juga harus mampu untuk membangun relasi yang baik dengan pasien. Membangun relasi dengan orang yang asing bagi kita, sangat sulit. Namun dengan profesi dokter, membangun relasi yang baik dengan siapapun dia.

Saya juga mendapat sesuatu yang sederhana namun berharga bagi saya. Saya harus membangunkan pasien untuk mengukur tanda vital pada 23:00 wib. Saya membangunkan dengan pelan. Tidak tega sebenarnya, membangunkan pasien yang tengah istirahat. Namun mereka tetap tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya. Pekerjaan kita dihargai, begitu dalam rasanya.

Saya mulai tidur pada 02:45 hingga terbangun pada 05:00.

Hari Kedelapan

Hari dimulai dengan rasa kantuk. Untungnya makan pagi sudah dibawa oleh Patsy. Jadi kepala tidak lagi dipusingkan dengan masalah makan pagi. Dimulai dengan kuliah pemeriksaan ginekologi oleh dr. Ari Polim, SpOG, kuliah radiologi oleh dr. Yanto Budiman, SpR, MKes. Dilanjutkan dengan dua kuliah ob-gyn yaitu partus normal dan partogram oleh dr. Yuma Sukadarma, SpOG dan dr. Gahrani, SpOG.

Kulih ini memacu saya lagi untuk membuka lagi buku-buku kuliah ob-gyn. PR semakin banyak, tetapi ini adalah kewajiban sebagai mahasiswa juga. Bahkan seorang dokter adalah pembelajar sepanjang masa. Yang harus dipupuk semenjak mahasiswa.

Malamnya, masih mengerjakan beberapa tugas buku angkatan dan pesanan video dari teman. Alhasil dengan rasa kantuk, saya terlelap pada pukul 20:00 dengan buku EKG di tangan... Ngantuknya >.<

Hari Keenam-Kedelapan Panum: Ngantukkkk....

Sebenarnya banyak cerita yang bisa dituliskan mengenai Panum dari hari Keenam sampai Kedelapan. Tapi tampaknya tubuh ini tidak kuat dan mengantuk. Selepas jaga malam dari hari ketujuh panum dan badan ini masih ngantuk. Jadi, updatenya kalau tubuh sudah kuat. Huaammm.....

Minggu, 12 Juli 2009

Hari Kelima Panum: "Hura-Hura" Terakhir?

Hari sabtu kemarin adalah hari kelima kepaniteraan umum. Hari panum yang paling lowong, hanya ada kuliah anamnesa traktus urinarius dari dr. Santoso Sumorahardjo, SpPD. Ini cukup banyak membantu menyegarkan ilmu yang sebenarnya sudah didapat ketika semester 6 di kuliah Ilmu Penyakit Dalam sub Urologi.

Siangnya bersama Ellen, adik saya, pergi ke Taman Anggrek. Sudah direncanakan memang, untuk membeli MacBook yang sudah dipesan. Lumayan harganya sudah turun mengingat produk baru baru saja diluncurkan. Dan dapat diskon pembayaran tunai. Lumayanlah, semoga macbook ini bisa menemani saya dikala kepaniteraan klinik kelak.

Sorenya saya, Patsy, dan Ellen menuju Puri Mall untuk rehat sejenak menonton Inkheart. Film yang lumayan menghibur dan bagus. Ah, apa daya kalau saya juga silvertounge dan membaca buku Harisson keras-keras? Hahaha.... Sepertinya mengasikkan.

Bagaimana bila saya memabca buku Harisson keras-keras? Atau buku Forensik UI?

Mengingat jadwal minggu depan yang superpadat. Sudah dimulai juga jaga malam pada hari Selasa depan di bangsal Melati untuk Ilmu Penyakit Dalam. Hati ini tetap tidak tenang, antara penasaran dan cemas. Apalagi ini adalah kali pertama masuk ke bangsal. Walau hanya sebagai peserta orientasi, tetap entah kenapa hati ini tetap saja bergetar.

Melihat jadwal padat juga tampaknya "hura-hura" juga semestinya dikurangi. Walau memang penat selepas UAS kemarin belum hilang total. Namun keadaan memaksa kita harus tetap dapat beradaptasi. Tetap semangat!

Jumat, 10 Juli 2009

Hari Ketiga dan Keempat Panum: Lulus SKed!

Hari ketiga dan keempat kepaniteraan umum sudah saya lalui. Banyak kejutan-kejutan yang Tuhan berikan.

Hari ketiga, dimulai dengan kuliah Anamnesa dan Pemeriksaan Neurologi oleh dr. Dewi SpS. Kemudian kuliah Pemeriksaan Abdomen Anak oleh dr. Irene, SpA, dan Pemeriksaan Mammae oleh dr. Bonifacius Lukmanto, SpB.

Kuliah pemeriksaan neurologi banyak sekali memutar otak dan memacu otak untuk mengingat lagi bahan neurologi yang saya sudah selesaikan di semester 6, alias satu tahun lalu. Saya berusaha mengingat apa itu Tes Kernig, Burdzinski 1 dan 2, tes kaku kuduk untuk rangsangan selaput meningeal. Berbagai uji saraf kranialis juga. Memang cukup membantu, karena sebelumnya saya sudah mencoba mengulang bahan dari checklist yang ada. Saya berusaha untuk membangkitkan semangat lagi dan membuka buku buku neurologi. Begitu pula pada kuliah-kuliah berikutnya.

Ada rasa yang muncul lagi saat panum ini saya lakukan. Saya harus mengulang dan mengulang bahan-bahan yang sudah lalu. Bahan-bahan yang dapat saja sudah terlupa. Ada juga hasrat untuk mengulang lagi bahan farmakologi, patologi klinik. Bahan penting yang terlupa beriringan dengan waktu.

Hari keempat, hari ini. Dimulai dengan kuliah mengenai Mortalitas dan ICD dari dr. Sarimawar Djaja, MKes. Memang harus kita sadari bahwa data epidemiologi yang ada di Indonesia masih sangat buruk dibandingkan dengan negara maju. Namun hal ini tentu harus diperbaiki. Caranya? Mulailah dari diri kita sebagai dokter untuk mau membuat catatan yang baik akan epidemiologi. Kuliah lainnya, Pemeriksaan thorax anak oleh dr. Elvira, SpA juga memacu otak untuk membuka lagi materi pemeriksan fisik.

Kuliah Keperawatan dari Ns. Melissa Wahyu, SKep juga membuka wawasan apa itu keperawatan dan bagaimana seharusnya hubungan mitra antara kedokteran dan keperawatan. Dan bagaimana juga seorang dokter muda harus bersikap. Saya rasa yang perlu adalah kearifan antara keduanya dan hubungan yang profesional. Sebenarnya ini berkaitan juga dengan diskusi Etika Kedokteran bersama dr. T. Sintak Gunawan, MA yang mengangkat kasus e-mail keluhan pasien akan RS G di kota M. Memang terjadi perdebatan dan diskusi, mengapa RS melakukan begini, mengapa pasien begitu. Yang menjadi kesimpulan dari diskusi adalah seorang dokter harus menjadi orang yang tulus, rendah hati, profesional dan berdedikasi tinggi. Dengan seperti ini, apapun yang terjadi pada pasien bahkan meninggal, kerabatnya akan tetap menghormati dan berterima kasih kepada dokter karena ketekunan dan keseriusannya.

Saya terus berpikir sepanjang pulang di dalam taksi. Saya harus mampu untuk menjadi dokter idaman itu. Saya masih ingat kisah dr. Saito di Say Hello to Black Jack, hingga akhir hayatnya pasien berterima kasih pada dokter karena ketekunannya kepada pasien.

Dan sore hari, sesampai di rumah. Ada pesan SMS di telepon seluler saya. Katanya, nilai semester ini sudah ada di internet. Saya mulai panik, walau tidak keringat dingin atau takikardi. Membuka nilai...

Ilmu Kedokteran Forensik C
Kedaruratan Medik A-
Ilmu Bedah II B
Radiologi A
Anestesiologi A-
Ilmu Kedokteran Jiwa B


Terlepas ada nilai C, hehehe.... Saya sangat bersyukur pada Tuhan Yesus. Akhirnya perjuangan 4 tahun di kuliah SKed, lulus! Dan siap mengarungi 200961!

Saya Lulus!!!!
*Masih terharu

*Buat Patsy yang juga lulus semua, tetap semangat UK IKMnya ^^

Jumat, 03 Juli 2009

Sakit Menjelang Panum? Acha-acha Fighting!

Ujian memang sudah selesai hari ini. Ujian psikiatri yang mudah-mudahan dapat terselesaikan dengan baik.

Kini tinggal satu hal yang belum terselesaikan adalah sakit yang semenjak selasa tidak urung sembuh. Saya sudah mulai pusing... Semua obat dihantam, pijat refleksi dari Papa Gav, kerokan dari Ci Erni, dan lain-lainnya. Mungkin beruntung juga, ada ibunda yang kebetulan datang ketika sakit. (atau justru malah saya yang jadi tidak enak pada ibu, malah buat dia jadi repot >.<).

Sampai hari ke-4 ini panas tidak turun, selalu naik 38-39 kalau efek paracetamolnya hilang. Kalau sudah demam, rasanya aduhai. Tidur super tidak karuan, bolak-balik sana-sini. Akhirnya tadi siang memutuskan bertanya kepada ibunya Patsy, kira-kira apakah perlu tes laboratorium. Karena saya sendiri saja belum SKed masih belum yakin membuat daftar uji lab Darah Rutin, IgM IgG anti dengue, typhoid anti salmonella, SGOT, SGPT.

Jam 19:00 nanti baru akan dikirim hasilnya ke rumah. Ah, gimana ya? Masalahnya bukan apa-apa. Kalau pas panum perlu opname kan amit-amit. Artinya bolos panum dan mungkin saja dihitung panumnya tidak absah dan diulang 6 bulan lagi.

JANGGAAANNN...... TT__TT

Saya sendiri sudah berpikir, nanti dengan kondisi apapun harus bisa masuk panum. Dengan kondisi apapun >.< Tapi saya tetap berharap tidak akan terjadi penyakit yang harus diopname.

Rabu, 01 Juli 2009

Ujian Anestesiologi: Keajaiban?

Sumber Gambar: medgadget.com

Ujian anestesiologi, entah kenapa selalu menjadi yang terberat, begitu pula dengan UTS. Bahannya memang adalah ulangan dari ilmu-ilmu fisiologi dan farmakologi. Tapi dasar memang otak ini, semua bak ditelan bumi.

Ujian kali ini berkesan. Karena saya sakit di H-1 ujian. Demam 39C, bahkan sempat menggigil, efek parasetamol pun hanya berlangsung sekelebat. Akhirnya minum trimetroprim dan sulfametoksazol (bener ga ya namanya hehehe).

Alhasil belajar sangat-sangat tidak maksimal. Saya hanya bisa meringkuk di depan diktat, sembari mengumpulkan asa untuk membuka lembar demi lembar diktat. Diktat sih terbaca, ya hanya terbaca. Sedikit sekali yang menempel di otak. Alhasil tidur super tidak tenang. Konon, menurut nyokap, saya sempat mengigau.

Alhasil pagi dimulai dengan sangat suram. Bertemu dengan Patsy di perpustakaan. Kemudian kelak datang si Prianto, Eric, dan Debby. Mereka bilang saya yang paling siap. Ya mungkin ditilik dari saya yang libur ujian dari Jumat minggu lalu. Oh my...

Saya mulai berkeringat dingin. Mereka mulai membahas bahan. Begitu lancarnya. Saya hanya bisa harap-harap cemas dengan membuka diktat. Ya sudah, saya memutuskan untuk membahas bahan setelah saya kelar mengulang bahan. Tetap saja, apa yang tertulis hanya seperti news ticker. Lewat saja.

Ok, saya mendengar diskusi bahan mereka. Kemudian datang Andy dan saya membahas bahan dengan Andy. Ya cukuplah buat saya.

Ketika masuk ke ruang ujian. Saya bisa mengerjakan 60% (mudah-mudahan) yang saya yakin bisa. Dan yang lain walahualam deh. Mudah-mudahan anestesiologi ini lulus. Sangat tidak lucu kalau harus Ujian Ulangan Khusus.... AARRGHHH.... Lulus dengan C saja, saya sudah sangat bersyukur.

Kyrie, eleison... (Lord, have mercy)

Kamis, 25 Juni 2009

Ketika Panum Menjelang




Hari ini sudah mulai hingar bingar menjelang perjalanan 200961 (mahasiswa FKUAJ yang akan menjalani Program Studi Pendidikan Dokter -PSPD- di tahun 2009/2010). Sudah memesan baju jaga malam di Komite Medik RSAJ (ukuran saya L -wew-). Kemudian jadwal kepaniteraan umum (program orientasi untuk menjalani rotasi stase klinik) sudah tersedia.

Saya tidak henti-hentinya melihat jadwal di tangan. Semacam anak kecil yang terkagum-kagum akan gambar hasil coretannya. Begitu pula saya yang terkagum-kagum, akhirnya saya akan masuk koas. Sebenarnya perasaan ini begitu awal untuk diungkapkan selekas ini. Toh, saya menyelesaikan UAS saja belum. Berharap demi berharap, agar UAS ini dapat terlewati dengan baik dan tidak ada meninggalkan nilai tidak lulus pada transkrip akhir.

Rasa absurd ini memang kelak dapat menjadi buah simalakama, apabila saya di sudah berada di hiruk pikuk. Ujian akhir anestesiologi dan psikiatri masih menunggu. Dan jangan sampai buah itu termakan. Amit-amit....

Sabtu, 20 Juni 2009

Menjelang 200961

Mungkin masih teringat dulu saya adalah hanya anak SMA, anak baru gede. Anak yang baru diperkenalkan dengan lika-liku dunia dewasa. Anak yang baru membuka mata.

Saya masih ingat betul ketika kami diberikan dua buah jalan yang akan membuka jalan masa depan kami. IPA atau IPS. Dua buah jalan yang kami harus hadapi menjelang naik ke kelas XI SMA. Saya saat itu sudah mantap mengambil IPA, dibandingkan saya harus IPS. Walaupun menurut tes potensi akademik, saya bisa kemanapun. Saya akhirnya masuk IPA dengan berbagai pertimbangan. Dan dengungan masuk fakultas kedokteran pun menjadi bergaung. Saya pun masih ingat bagaimana dulu belajar untuk Ujian Masuk Perguruan Tinggi di Universitas Atma Jaya. Padahal saya sudah diterima di PMDK Universitas Tarumanagara, karena alasan keuangan yang tidak bisa dikembalikan saya melepaskannya. Keuangan menjadi penting karena biaya yang sudah disetorkan akan tidak bisa ditarik kalau diterima di SPMB. (SPMB saya gagal masuk ke Universitas Indonesia, padahal saya diterima di pilihan kedua PTN saya.)

Saya masih menyimpan file pengumuman masuk gelombang I UAJ, 2005-60-0481 diterima masuk ke FKUAJ. Semua anak CC'05 yang mengajukan ke FK, diterima. Kami, anak CC'05 berbondong-bondong, 5 orang menaiki ke Sarinah untuk naik bus ke Semanggi. Masih teringat juga salah satu rekan harus merelakan dirinya sebagai mahasiswa FK karena lemah warna. Sungguh, sebuah perjuangan yang sebenarnya tidak terlalu berat, namun berkesan.

Menyandang mahasiswa FK pun menjadi sebuah predikat yang cukup membanggakan. Belajar ilmu-ilmu yang berat. Saya ingat dulu betapa sulitnya belajar biologi molekuler. Betapa hebohnya belajar dan ujian biokimia.

Saya masih ingat, kepanitiaan pertama saya yang gagal, Charity Night 2006. Namun tidak mengendurkan kepanitiaan dan organisasi. Masuk ke dalam AToMA, Senat Mahasiswa FK-UAJ, dan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI). Betapa suatu pengalaman, karena di FK-UAJ inilah saya berkesempatan ke Malang dan Medan. Karena ada kesempatan, terjadilah.

Dan kini saya adalah mahasiswa dipersimpangan jalan. Tidak kurang dua minggu saya akan berganti nomor mahasiswa. Saya akan melepaskan kaos dan jins pre-klinik, menjadi snelli dan celana bahan mahasiswa klinik. 2005-60-076 akan segera habis masa jabatannya.

Batu loncatan ini menjadi sebuah pemikiran bagi saya. Apakah benar saya sudah mempersiapkan dengan baik 4 tahun ini untuk masuk ke klinik. Banyak wejangan dari dr. Pangkuwidjaja yang beberapa saya serap. Saya terus membangun fondasi paradigma Non Scholae sed Vitae Discimus. Saya tidak bisa belajar untuk ujian, tetapi belajar bagaimana untuk hidup saya sebagai dokter.

Terkadang rasa rendah diri menyeruak di dalam hati. Saya sudah lupa kuliah Patologi dasar, saya lupa nama obat, bahan neurologi pun saya lupa. Saya mencari cara, bagaimana saya bisa bertahan di dalam masa studi baru ini. Saya tidak ingin masuk klinik dengan "kepala kosong".

Ini pun timbul dalam masa saya selama ujian akhir semester ini... Semoga tidak menganggu ujian semester ini. Mudah-mudahan...

Selasa, 19 Mei 2009

Guide Museum Anatomi: Asyik Tenan.

Marcella ketika menjelaskan di etalase embriologi



Hari ini adalah pengalaman pertama menjadi pemandu museum anatomi di kampus untuk pelajar SMA Bunda Hati Kudus. Awalnya, terus terang, ada rasa deg-degan karena ini pengalaman pertama dan kepala masih tidak memiliki pengalaman dalam menerangi anatomi kepada anak SMA. Tentu sulit bagi saya untuk menyebutkan kata "serambi" untuk menggantikan "atrium" pada jantung. Karena pendidikan kedokteran yang ada, begitu banyak menggantikan bahasa awam dengan bahasa yang begitu eksklusif.

Adalah pagi hari, saya pergi ke kantor kelurahan Pademangan Barat dulu untuk mengurus KTP yang akan habis masa berlakunya. Saya pagi-pagi melakukan review dulu dengan Debby dan Patsy akan bahan-bahan anatomi. Bayangkan kita masih saja membingungkan mana yang pengumpil dan hasta dari radius dan ulna! Mungkin anak SMA bisa saja tertawa cekikikan, melihat ulah ini.

Alhasil 11.45, kita sudah bersiap dengan jas oranye yang gagah. Anak SMA begitu antusias, bahkan sepertinya mereka menganggap kakak-kakak mereka ini sudah sangat pintar. Apalagi dokter Poppy menyebutkan kami akan segera lulus dari PSSK (Program Studi Sarjana Kedokteran). Label mahasiswa semester delapan begitu mendewa.

Walaupun dalam pikiran kami pun kadang berkecil hati. Apakah benar kami ini sudah kompeten? Bahkan kami masih meributkan pengumpil dan hasta! Kami meributkan jumlah gigi pada dewasa dan anak-anak! Dan kami masih meributkan berap jumlah tulang belakang lumbal dan sakral! Entahlah, mungkin ini adalah kecemasan yang menutupi akal budi.

Hari ini, para pemandu lengkap! Saya, Patsy, Debby, dan koko Pri dari 2005, serta Cipi, Andreas, Marcella, Tei dari 2006. Saya mulai bertugas di sesi pertama sebagai penunggu waktu dan sesi kedua baru menjadi pemandu.

Saya memulai di etalase embrio. Saya melihat mereka begitu tertariknya dengan rasa kasihan melihat preparat embrio asli di dalam stoples formalin. Ketika saya menjelaskan proses pembuahan dari penyatuan sperma dan ovum kemudian menjadi zigot dan seterusnya hingga kelahiran. Menjelaskan apa itu kembar identik dan kembar fraternal, seperti mengorek kembali ilmu-ilmu lampau di Obs-gyn.

Kemudian lanjut di etalase: Reproduksi-Vertebra-Respirasi-Urogenital. Di stand reproduksi memakan waktu yang begitu banyak! Yup, ini adalah etalase yang paling menarik bagi mereka. Menjelaskan letak prostat, proses ejakulasi, ereksi, sirkumsisi, dan mereka tercengang kalau wanita punya tiga lubang (-.-!) di pelvis, terus bertanya apakah wanita bisa ejakulasi, apa itu orgasme, dan bahkan mereka tidak tahu libido (ketika saya menyebutkan kata saat horny, baru mereka mengangguk). My oh my. Mungkin memang begitu, bahwa menyampaikan sesuatu ke awam bahkan pelajar SMA harus dengan bahasa yang dekat dengan mereka.

Terus terang vertebra saya hanya overview saja, berapa jumlahnya, dan berbahayanya bila terjadi cedera pada vertebra cervicalis. Begitupula pada respirasi dan urogenital. Pos berikutnya adalah kardiologi-stomatolog-THT-dan SSP. Kardiologi yang cukup memakan waktu banyak, stomatologi mengenai proses karies, menunjukkan epiglotis yang menutup trakea dan esofagus. Hanya itu. SSP, terus terang cukup sulit menerangkannya... Saya saja sendiri belajar neuroanatomi, empot-empotan ^^

Stand berikutnya adalah GI Tract-Sensorik-Muskuloskeletal. GI Tract terlewati karena masih ramai.. Sensorik dan Muskoskeletal hanya sekelebat. Mereka tercengang ketika mengetahui bahwa anak FK perlu mengingat nama-nama otot yang... aduh banyak banget. Dan saya seperti orang dewa uang hapal nama otot, padahal saya cuma menyebutkan tendon calcaneus... Aduh jangan-jangan saya grandeur delusion lagi. Hahaha....

Saya mendapat juga banyak pertanyaan mengenai kehidupan anak FK. Ada yang bertanya, berapa lama? Susah nggak? Pelajaran apa saja? Ya seperti kilas balik bagi saya, ketika saya masih dalam posisi mereka dengan culun, bertanya apakah mahasiswa FK beli mayat? Apakah anak FK harus menghapal mati plek-plek. Entahlah, tapi apa yang saya dapatkan tidak demikian. Anak FK masih bisa menikmati hiburan, tidak sesibuk apa yang dicemaskan. Ilmu kedokteran bukan hapalan murni melainkan sangat diperlukan logika dan pemahaman konsep. Dan FK, seperti fakultas lain, diperlukan usaha.

Banyak sekali yang dipelajari hari ini, dan walaupun menjadi pemandu tidak dibayar, namun pengalaman yang didapatkan tak ternilaikan. Saya sangat menantikan kegiatan museum berikutnya... ^^

Rabu, 29 April 2009

Ujian Semester Hari Keenam: Anestesiologi

Wew. Hari ini adalah hari terakhir ujian. Ujian dengan bahan yang banyak... Dimulai dengan tidur siang dulu dan terbangun pada jam 15an. Tapi hasrat belajar baru muncul pada malam. Bahan anestesti banyak.. Belum lagi farmakologi klinisnya. Dan prognosisnya pun tidak tahu, dubia. Hanya tadi ada belajar dan tanya jawab dengan rekan-rekan. Semoga dapat terbantu.

Selasa, 28 April 2009

Ujian Semester Delapan Hari Kelima: Psikiatri

Ujian psikiatri ini seyogyanya lebih matang saya persiapkan. Bahan-bahannya paling tidak sudah tidak asing ketika dibaca kembali. Tidak begitu menguras tenaga dibandingkan bahan ujian kemarin. Dan semua, entahlah, begitu cepat masuk dan terbayangkan. Memang ilmu ini saya cukup tertarik. Paling tidak seperti dapat menerawang hal-hal goib =) Memahami kejiwaan adalah hal yang paling sulit, dibandingkan orang untuk memahami kejadian fisika yang lumayan pasti dibandingkan gejolak jiwa seseorang. Mudah-mudahan prognosisnya bonam.. tidak ada dubia.

Dan besok adalah ujian terakhir! Ujian anestesi dan saya akan tetap berjuang untuk itu. Setelah istirahat singkat tadi, kini sudah siap untuk membuka si Morgan dan diktat. Beri semua yang terbaik.

Senin, 27 April 2009

Ujian Semester Delapan Hari Keempat: Ilmu Bedah II

Jika dilakukan hitung-hitungan, maka hari ini adalah hari yang terberat bagi saya dalam menjalani ujian ini. Dengan persiapan yang semaksimal mungkin, menurut saya, namun tampaknya tidak begitu bermakna. Saya berusaha mengerti bahan-bahan yang ada, di balik memang ketidaktauladanan dalam belajar yaitu masih menganut sistem kebut semalam.

Saya memerlukan waktu 4 jam dalam mencoba memahami diktat mengenai payudara khususnya tumor-tumornya. Suatu kesulitan besar bagi saya yang konon gaya belajarnya banyak bergantung pada visual. Dengan histopatologi yang banyak misalnya ada sel besar dengan inti kecil dan sitoplasma bening dalam Paget Disease. Saya sulit membayangkannya. Begitu pula dengan penyakit dengan nama-nama baru semacam Cyto Sarcoma Pyhlloides atau Mammaria Ductectasia. Tidak terbayangkan pada pikiran saya.

Ujian hari ini berlangsung dengan memakan energi yang cukup menegangkan. Mengingat nilai bedah saya sebelumnya tidak terlalu baik. Namun saya tetap berusaha yang terbaik. Prognosis ujian hari ini: dubia ad bonam...

Kamis, 23 April 2009

Ujian Semester Delapan Hari Ketiga: Kedaruratan Medik

Saya tidur jam 02 di dini hari. Memang karena selain pikiran lagi tidak lurus, jadi ilmu-ilmu yang ada enggan untuk masuk ke otak. Bahannya sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya 5 topik dan apalagi 1 topik mengenai trauma thoraks sudah pernah didapatkan di kuliah bedah. Bahan CPR atau RJP sudah pernah saya serap saat mengedit video RJP Medisar. Buset, dah diulang berapa kali tuh video sampai membuat saya botak. Ceritanya sudah ada di artikel Orgasmus Maksimus.

Syukurlah saya bisa melewati dengan baik. Saya tidak berani berasumsi atau berjudi, bahwa ekpektasi ini bisa berakibat pada baiknya nilai. Tapi ini sebuah pengharapan, boleh-boleh saja toh. Asal tidak berlebihan.

Pertaruangan ujian akan disambung kembali pada Senin depan saat ujian Ilmu Bedah II. Aduh, harus belajar lagi, karena saya merasa lemah di ilmu bedah. T__T Belum lagi, dengan tak ada jeda, berturut-turut di Selasa dan Rabu masih terdapat ujian Psikiatri dan Anestesiologi!

Rabu, 22 April 2009

Ujian Semester Delapan Hari Kedua: Forensik

Hm, sebenarnya tidak ada yang terlalu khusus hari ini. Ilmu kedokteran forensik sebenarnya tidak begitu membebani otak dan lebih dapat masuk ilmunya dibandingkan radiologi kemarin. Mungkinkah karena melihat mayat-mayat di foto itu? Entahlah, saya tidak bergidik melihat mayat-mayat forensik di foto ini, bahkan cenderung menikmati, maksudnya jadi tertarik untuk menganalisa apa yang ada di foto itu.

Untuk ujiannya di siang hari dapat saya jalani dengan baik, dan memang apa yang dipelajari dapat saya kerjakan. Ya, mudah-mudahan saja semangat ini dapat tertular di hari berikutnya, Ujian Kedaruratan Medis. Tapi, hingga sekarang saya baru menyelesaikan 3 diktat dari 5 yang ada. Masih harus lanjut belajar trauma abdomen dan trauma thoraks. Mudah-mudahan dapat memberikan yang terbaik. Semoga!

Senin, 20 April 2009

Ujian Semester Delapan Hari Pertama: Radiologi

Hari ini adalah hari pertama ujian di semester yang saya harapkan menjadi semester terakhir di preklinik alias semoga di semester depan saya sudah diwisuda.

Semester ini sebenarnya dapat saya rasakan cukup lengang, karena hanya mengambil 6 mata kuliah dan salah satunya adalah mata kuliah perbaikan, Radiologi. Dan suasana ini juga tak jarang membawa saya larut dalam hedonisme dan aktivitas ekstrakurikuler.

Ini baru saja selesai ujian dan mudah-mudahan hasilnya memuaskan. Paling tidak nilainya bisa lebih baik dari yang dulu. Hanya tadi saya lupa.. akan Hounsfield Unit. Waa... Tebak tebak kancing, saya menebak ini adalah satuan pada USG, dan ternyata adalah satuan pada modalitas CT-Scan. Ya, apa daya. Namun positifnya, semua adalah hasil yang terbaik yang bisa saya berikan. Dan tentunya tidak perlu ada rasa penyesalan. Berpikir positif!

Ujian berikutnya adalah Forensik di hari Rabu dan... harus berusaha! Acha-acha fighting.