Minggu, 14 Agustus 2016
Adaptasi di Kota yang Baru
Minggu, 15 Mei 2016
Awal dari Sebuah Perjalanan
Rabu, 15 Januari 2014
Ketika Pentil Dicabut
| Kertas "tilang" XD |
Waktu itu saya tengah mengajak saudara saya yang datang dari Ngabang untuk makan mie kepiting sekaligus silahturahmi dengan keluarga di Jalan Tanjungpura, Pontianak. Karena saya melihat parkir yang penuh di depan penjual mie tersebut, dan saya sungkan parkir di depan toko orang -karena pikir saya dapat mengganggu bisnis mereka-, akhirnya saya memarkirkan mobil di dekat pot di pinggir jalan.
Sekitar setengah jam kemudian, saya kembali ke mobil dan mulai menyalakan mobil, saya menemukan ada sebuah kertas putih nan mungil yang diselipkan di antara wiper. Ah, paling brosur properti? Tapi kenapa kecil? Ketika saya mengambilnya, ternyata itu kertas peringatan dari Dishub setempat, dan tertulis:
Saat ini kendaraan Anda parkir pada badan jalan / di atas trotoar, maka saudara dapat dikenai sanksi: pengempesan seluruh atau sebagian ban, denda… […]Belum saya sempat menyelesaikan membaca seluruh tulisan, paman saya mengatakan, "Erick, ban belakangmu kempis." Oh tidakk…
Saya merasa seperti "karma", karena selama ini di Jakarta saya kerap "menyumpahi" orang-orang yang parkir di badan jalan, dan mengatakan "rasain lu" ketika melihat ibu-ibu glamor mencak-mencak di teve saat memarkirkan mobilnya saat menjemput anaknya pulang dari sekolah. Dan kini jadinya, "rasain gue"!
Saya sendiri kaget bahwa tragedi cabut pentil ini pun berlaku di Pontianak. Kalau saya ingin mencari pembelaan, saya baru beberapa bulan terakhir intens mengikuti situasi Pontianak. Setahun lalu, walaupun saya berada di Kalimantan Barat, saya cukup sunyi senyap di Menjalin. Kalau saya melihat penanggalan di kertas "tilang" itu, November 2013, berarti cukup baru. Namun, saya memang akui bahwa saya telah salah parkir dengan setengah badan mobil melanggar marka badan jalan.
Apakah saya kapok? Ya, mau tak mau saya pribadi akan lebih berhati-hati memarkirkan kendaraan di Pontianak. Mengembalikan keadaan ban sediakala bukan hal yang mudah. Jika di Jalan Tanjungpura, di siang hari, dan kejadian yang saya alami saat itu, untungnya di seberang ada toko ban. Jika terjadi di malam hari atau tidak ada toko ban atau bengkel terdekat, apa kata dunia? Mana lagi mau mencari dongkrak, melepas ban, mengisi angin, mencari pentil, dan lainnya.
Untungnya, (masih bisa bersyukur), saya belum didenda ratusan ribu (kalau Ahok jadi walikota Pontianak, mungkin menjadi lima ratus ribu), atau diderek entah ke negeri mana.
Ya, intinya ini adalah pengalaman unik, sesuatu yang saya kira hanya terjadi di Jakarta Baru. Eh, di Pontianak ternyata ada juga. Baguslah, mudah-mudahan jadi Pontianak Baru juga di mana ketegasan hukum ditegakkan tanpa tedeng aling-aling.
Rabu, 08 Januari 2014
Lalu Lintas Kota Pontianak yang Bikin *Facepalm*
Selama 1 bulan terakhir ini saya berkendara dan menyetir di Pontianak. Ya, saya merasakan suasana yang cukup berbeda dengan pengalaman saya menyetir selama 5 tahun terakhir di Jakarta. Pendapat saya, pengalaman menyetir di Pontianak lebih buruk bila di Jakarta. Ya, lebih buruk.
Walaupun Jakarta mungkin terkenal dengan macetnya, namun menurut saya sebagian besar pengguna jalannya masih mengerti, terutama pengendara mobil pribadi dan tidak termasuk bajaj, mikrolet maupun bus sedang (baca: Metro Mini dan Kopaja). Pengendara motor walau ganas, namun saya masih bisa "menebak" apa maksud mereka.
Jika di Jakarta, ada bajaj yang arahnya hanya tukang bajaj dan Tuhan yang tahu, di Pontianak ini saya menemukan motor dan bahkan mobil. Misalnya beberapa yang saya alami:
- Jika berpindah marka jalan (masih untung kalau marka jalannya ada), tidak ada lampu sein yang mengisyaratkan arah perpindahan tempat. Apakah sebagian besar motor mau ke arah kiri atau ke kanan, tidak ada yang tahu. Untungnya tidak ada bajaj di Pontianak, mungkin bisa lebih maknyus.
- Jika ingin berbelok arah ke kiri atau kanan (padahal arah masuknya hanya satu jalur), masih banyak yang berbelok dari jalur ke dua, sehingga mengagetkan kendaraan di lajur pertama.
- Ketika berbelok, motor seringkali tidak berhenti dahulu melihat kendaraan dari arah yang lurus dan mengambil radius putaran yang sangat besar.
- Motor seringkali berjalan zig-zag dan membuat nyaris-terserempet.
- Ketika kita akan berbelok dan teramat pelan, masih ada motor yang berani dengan kecepatan tinggi mendahului dari arah kiri.
Kamis, 20 November 2008
Rase Rindu Same Kampong La....
Ade jak hari ini aku bangon telat tadak seperti biase. Mate tidok ketike bace diktat untok ujian minggu depan. Pagi-pagi abes mandi la, buke aku punye komputer. De lame da, tadak buke aku punye youtube. Eeh, tengok ade pesan, ade lagu baru la dari budak Ponti, lagu base Tio Ciu yang de lama aku tadak pernah dengar. Walau ngomong hanye la sikit-sikit.
Name die punye lagu, Kam Cheng Wa Siang Sin... "Cinta yang Aku Percayai". Ooh, jiwe melankolis aku tibe-tibe terbangonlah. Tampak tu lagu nak persembahkan ke kedue orang tuenya. Tampaknya la.
"Khui Liao Hiao Coi Ni, Wo Nang Peng Se To Cio Pi"....
Setelah bertahun-tahun kite lewati, kite bise sampai di sini...
Kental sekali irama Ponti-nya... Terpikirkanlah aku teman-teman lama dan rumah di kampong (sebenarnya ini dibesak-besakkan jak, kampongnye di kote Ponti.. ^^). Cite rasenye terlekat di otak dan tadak bise dikoyakkan.
Terlintaslah segala pengalaman yang ade, mase-mase kecik, mase-mase budak, mase-mase sekolah di Suster, mase-mase main bersame budak-budak lain. Kenangan akan aek Kapuas. Inilah kampong. Mudah-mudahan ketika aku bise berlayar, aku bise mendarat kembali di kampong tercinte. Suse nak melupakan base Melayu Pontianak, Tio Ciu, dan Hakka. Walau lidah suse nak berucap, namun hasrat kerinduannya tetap tertanam...
"Pontianak, suse nak melupakannye..."
Senin, 28 Maret 2005
Pontianak, Sudah Lama Tak Berjumpa
Pak Kasih lurus pelabuhan
Tampak lurus tepat ke Jeruju
Macam hati tiada bertahan
Hendak pulang ke kampungku
Ah, lama sudah tiada terus diam di kampungku
Terpikirkan semua rasa manis daerah
Berpindah ke tanah metropolis tampak seperti rasa harapan
Tapi semua itu hanya bayangan ilusi belaka
Tiada aku dapat nak berbebas
Berbual "ngeramput jak kau!"
Mengatakan "macam kau bise jak!"
Bercanda "bale kau tu!"
Semua terdiam tanpa mengerti
Semua berubah dan berganti
Berbual "bokis loe!"
Mengatakan "kayaq loe bisa aje!"
Bercanda "dudulz banget seh!"
Ah, semua berubah dan berganti
Kini, diri tak sempat terpikir
Pukul 24.00 bukanlah momen penggantian hari
Pukul 02.00 menjadi penentu
Ajaib! Ada 26 jam di Jakarta
Ah, aku pun rindu dengan penganan
Sayur Asam,
Asam Pedas,
Ikan Tapa,
Chai Kue,
Lemang
Tiada lidahku berubah
Citanya masih terpendam dalam inderaku
Pontianak
Memang kau bukan tanah kelahiranku
Namun kau tempat ku dibesarkan dan hidup
Aku merindukan air Sungai Kapuasmu...
Pontianak,
Sudah Lama Kita Tiada Berjumpa....





Seorang dokter umum yang meminati Ilmu Penyakit Dalam dan Kardiologi, Kanisian, poliglot (kini sedang memperdalam Bahasa Korea), pecinta jalan-jalan, pecinta sejarah.


