Jumat, 26 Maret 2010

Diagnosis ala Google: Ancaman?

Sumber gambar: http://www.murtiindahsentosa.com

Disela waktu setelah morning report hari ini, saya tidak sengaja mendapat jurnal dari NEJM mengenai pengaruh perkembangan teknologi kedokteran dikaitkan dengan hubungan tradisional dari relasi pasien dan dokter. Dalam salah satu referensinya, ada judul yang menarik perhatian, Googling for a diagnosis - use of Google as diagnostic aid: internet based study yang diterbitkan oleh BMJ tahun 2006 yang ditulis oleh Tang dan Ng dari Australia.

Mereka bercerita bahwa mereka memiliki pasien laki-laki berusia 16 tahun dengan trombosis vena subklavia akut. Ketika dokter tersebut berusaha menjelaskan diagnosa kepada keluarga pasien, sekonyong-konyong ayah dari pasien tersebut berceletuk, "Itu sindroma Paget von Schroetter" Ia mendapatkan sindroma itu dengan menelusuri gejala klinis anaknya di bar google. Kemudian ia dapat menjelaskan patofisiologi singkatnya. Setidaknya ini mejadi buah pikiran bagi dokter, sejauh mana pencarian di google memberikan hasil diagnosa yang tepat.

Clinical decision support (CDS) memang menjadi pembicaraan. Dikala spektrum penyakit begitu banyak, CDS menjadi masalah etis dan non-etis, serta berkaitan apakah hal ini akan mengganggu keprofesian dokter. Sudah banyak CDS yang dikembangkan dari CDS mengenai nyeri abdomen, CDS Addison disease. Tang dan Ng menemukan bahwa 58% kasus benar "didiagnosa" oleh google. Apalagi google dapat menjadi CDS yang inklusif, karena google dapat diakses oleh sesiapa saja untuk apa saja. Apalagi hal ini ditunjang dengan distribusi akses jaringan internet yang kian meluas.

Internet menjadi dua muka, antara pasien dapat mencari data selengkapnya sehingga dapat saja melebihi apa yang diketahui oleh dokter. Dokter pun harus bisa legawa, terus memutakhirkan ilmunya agar dapat terjadi relasi yang ekuivalen. Dan pasien pun harus bisa menempatkan relasi setara, tanpa chauvinik satu sama lainnya.

Selain itu kita pun perlu mengingat adanya hak dan kewajiban legal, hak keprofesian dokter, bahwa hal ini tetap menempatkan posisi dokter yang mantap. Begitu juga dengan pasien. Maka seharusnya relasi ini sekali lagi tetap ekuivalen, dan tidak ada pihak yang menjadi objek penderita. Dan dokter ataupun pasien tidak perlu untuk takut dengan kehadiran teknologi apapun, CDS apapun.

Kamis, 18 Maret 2010

Rekan Jaga Malam

Sepertinya saya belum pernah cerita soal jaga malam di sini. Jaga malam sebenarnya adalah keseharian yang menjadi rutinitas para koas. Ada yang dua hari sekali hingga empat hari sekali. Tiap kali jaga ada yang seorang diri dan ada pula yang sepuluh orang bersama.

Memang jaga malam seyogyanya dalam ketentuan akademiknya, kita belajar lebih banyak, saat berinteraksi dengan pasien yang lebih intens, belajar menikmati suasana klinik dan rumah sakit di luar jam akademik lain seperti presentasi kasus atau ronde pagi.

Yang sebenarnya ingin saya tuliskan, bahwa jaga malam juga adalah saat interaksi yang lebih jauh dengan teman sejawat sehingga membuat saat penuh kisah dan cerita. Banyak hal-hal unik dan pribadi di sini.

Kasarnya, rekan jaga malam adalah rekan seatap, rekan satu kamar, rekan sepenanggungan. Rekan yang bisa diajak cerita dari cerita bodoh hingga curahan, rekan yang bisa meributkan makan malam yang hendak dipesan, rekan yang bisa berlelucon saat membagi jadwal jaga. Adapun rekan juga yang bisa diajak berebut bantal dan kantong tidur. Atau berebut remote AC ketika ada yang kedinginan dan kepanasan. Sungguh unik dan luas, peran dari rekan-rekan jaga malam.

Ada yang bilang, di koaslah taring terlihat. Pribadi-pribadi menjadi terbukakan, hingga ada yang menyebut bahwa "tidak ada cinta di antara sehidup semati koas". Ya, intinya bahwa hubungan yang ada cukup erat.

Ya seperti rekan-rekan satu kelompok jaga malam di interna ini. Saya mungkin tak akan tahu ada rekan yang toa dan cerewetnya minta ampun dengan rekannya yang selalu menggeplak dia. Ada rekan yang menggunakan aritmatika 2x+y=89 untuk menghitung harga sepotong martabak manis dan martabak telor, serta ingin berfoto -kiyut-kiyut-. Ada rekan yang mabuk (jelas bukan dalam artian mabuk alkohol, namun suasana yang membuat hilang tenaga) dan tidak niat makan saat jaga malam pertama selama hidupnya. Ada rekan dengan lelucon "me-Rumple Leede" leher. Rekan yang seringkali kehilangan apapun itu dari stetoskop, tensimeter, hingga pemutar musik -yang akhirnya ditemukan juga. Ada yang selalu sigap dengan kantung tidurnya. Ada yang selalu mengambil sapunya membersihkan kelas saat jam jaga tiba. Ada yang hompimpah untuk menelpon delivery makanan. Ada yang kebelet defekasi (BAB-red) saat tengah menelpon delivery. Ada yang selalu diapelin oleh kekasihnya saat jaga malam. Begitu warna-warni kehidupan koas.

Kehidupan jaga malam pun dapat melelahkan, apalagi ketika pasien baru datang dalam jumlah yang tak sedikit. Waktu tidur memang berkurang, namun menjadi cerita unik di pagi harinya dan mencoba menebak dan mencenayang, gara-gara muka siapa yang mengundang pasien?

Jaga malam adalah suatu rutinitas kehidupan koas, namun begitu berwarna, begitu unik.
Mengutip salah satu status facebook saya:

Seperih apapun hidup seorang koas, tawa dan riuh rendah teman sejawat menjadi obat.


Dan kelompok jaga malam ini telah berakhir dua hari lalu, dan berharap bahwa keriangan ini dapat terulang di kemudian hari.

Sabtu, 13 Maret 2010

Akhir Hayat



Aku sudah di akhir jalan Ya Tuhanku
Aku telah memprasahkan diriku dalam rintihanku
Aku memang telah sakit Ya Tuhanku
Sakit di masa mudaku, terluka di dalam batinku

Aku kini teringat sejenak
Ketika kemarin baru saja aku bersenda bersama sanak
Menikmati makanan enak
Ini adalah dunia

Aku kini dalam sebuah paradoks
Badanku tak dapat sedikitpun aku gerakkan
Di dalam kerongkonganku terpajan selang
Dan bunyi mesin yang menakutkan itu selalu kudengar
Mata ini tak dapat kukedipkan jua
Bahkan rintihanku takkan terdengar pada mereka yang mengelilingiku

Aku hanya berserah padamu Ya Tuhanku
Tak lambatkah aku mengakui kealpaanku
Aku tak ingin apa-apa lagi Ya Tuhanku
Hanya ingin agar Kau dapat menerimaku

Bunyi mesin itu kudengar berbeda
Iramanya semakin cepat bagai penanda
Aku merasa dadaku ditekan berirama
Dan resahan serta tangis dari sanakku mereka

Kini
Aku tak dapat mengelak lagi Ya Tuhanku
Aku siap menghadapiMu
Inilah akhir hayatku

Jakarta, 13 Maret 2010, 00:20 WIB
Bagi semua mereka yang telah berpulang

Jumat, 05 Maret 2010

Hadiah dan Doa Pasien

No greater opportunity, responsibility, or obligation can fall to the lot of a human being than to become a physician. In the care of the suffering, [the physician] needs technical skill, scientific knowledge, and human understanding. . . .
–Harrison's Principles of Internal Medicine, 1950

Ini adalah sebuah tulisan di malam hari di dalam dinas jaga malam di bangsal interna. Di kala 4 jam lagi matahari akan segera terbit. Seharusnya kini saya dalam jatah tidur saya sebelum harus bangun untuk melakukan follow-up pasien.

Ada sebuah hal yang menarik, sebuah hal yang pertama terjadi pada saya. Sebuah hal yang akan diingat dalam karir saya.

Adalah sebuah hal yang tidak disengaja atau direncanakan. Syahdan, seorang rekan saya mau memfollow-up pasien di bangsal lain yang tengah melakukan rawat bersama antara interna dan bedah. Saya hanya menawarkan diri untuk ikut. Ya, sekedar menyertai saja. Setelah itu di bangsal bedah, tampak seorang yang menuju usia tuanya. Berambut putih, berbadan tegap. Ia baru saja dua hari yang lalu melakukan TURP, sebuah operasi untuk membantunya mengatasi pembesaran prostat jinaknya. Dia begitu tenang, tersenyum, dan mempersilahkan kami. Tak lama hanya berbasa-basi, kemudian ia berkisah akan kejadian masa kecilnya, di tahun 1942. Ketika ia berpencar karena sebuah khaos dalam lingkungannya. Saya sendiri tidak begitu mengerti dan saya hanya mengangguk, tanda saya tengah menyimak. Tak lama ia berceloteh, "Kalau kalian sudah menjadi dokter yang sukses, kelak saya akan berkisah bahwa saya pernah dirawat oleh kalian." Sebuah doa yang baik. Sebuah kata yang terus terang jarang saya dengar dari pasien, apalagi kepada kami, para dokter muda.

Tak hanya sampai di situ, tiba-tiba ia bertanya di mana kami tinggal, saya menyebut bahwa saya orang dari Kalimantan, dan kisah pun terus berlanjut hingga legenda yang pernah ia dengar mengenai seorang dokter asing di pedalaman gunung Kalimantan. Kadang pembicaraan tidak ada kaitannya, namun semua berjalan begitu lancar. Memang berbicara seperti ini, masih lebih sulit bila anamnesis. =)

Kemudian rekan saya ingin meminta pendapat soal rhonkinya. Dan di tengah saya memeriksa, ia tiba-tiba mengambil sesuatu dari lacinya. Ternyata, dua buah apel dan jeruk yang ia tak makan. Kami sempat kaget, bahwa ini akan diberinya. Siapa kami, sehingga ia berbuat demikian? Dan kami pun berterima kasih atas pemberian kecilnya. Terkadang mungkin terlihat aneh, namun bagi saya sendiri, ini memiliki arti.

Kemudian saya pun turun, kembali ke bangsal, dan menghampiri pasien yang menjadi penanganan saya di atas pengawasan konsulen. Seorang ibu muda, yang tengah sakit. Saya hanya berbasa-basi, kemudian berlanjut menjadi bercerita, dan hingga sesuatu yang tidak ada dalam alur anamnesis apapun. Beberapa hal yang tak pernah ia sampaikan pada siapapun dan ia pendam sendiri, tercurah. Hal yang sudah saya tulis di status, ada beberapa yang perlu direvisi karena fakta. Hingga di akhir bercerita, ia mengatakan, "Terima kasih dok, sudah mendengarkan." Saya merasa sesuatu yang berbeda dari ucapan ini. Sesuatu hal yang agak chauvinik sebenarnya. Saya merasa bahwa saya pun bermain peran dalam hidupnya, dan untunglah peran yang memberi arti dan baik baginya.

Inilah yang berkesan bagi saya pada jaga malam kali ini. Dan saya pun terus berharap agar saya pun dapat kelak memberi kontribusi positif pada mereka.

Tact, sympathy, and understanding are expected of the physician, for the patient is no mere collection of symptoms, signs, disordered functions, damaged organs, and disturbed emotions. [The patient] is human, fearful, and hopeful, seeking relief, help, and reassurance.
–Harrison's Principles of Internal Medicine, 1950