Minggu, 26 Juni 2011

Istora: Live Badminton

Tiket DIO 2011!
Saat mengetik tulisan ini tangan saya masih merasa sakit karena pegal. Seharian ini saya dan rekan-rekan (Rudi, Rico, Eddy, Debby, dan Ellen) menonton badminton langsung. Ya, final Indonesian Open 2011. Wew, walaupun sedih sekali, karena Indonesia tanpa gelar di kandang, namun hati ini senang. Senang karena baru pertama kali menonton langsung, merasakan riuh rendahnya suporter, merasakan serunya "bom-bom-bom" (Ini bukan bom peledak, namun suara dua bantal angin yang diketok). Pokoknya merasakan hal baru, hal yang belum pernah saya alami.

Sebelumnya saya hanya menatap teve saja untuk menonton, belum lagi dipotong sana-sini, atau tidak disiarkan oleh layanan First Media karena alasan hak siar. Jadi sangat senang bahwa kesempatan ini muncul. Apalagi hitung-hitung, mungkin tahun ini saya berada di Jakarta, kalau saya PTT. Jadi, ada kesempatan, ini waktunya, mengapa tidak?

Saya sungguh jadi udik. Seseorang yang terpukau dengan suasana. Ya, ini menjadi pengalaman lagi bagi saya. Saya ingin suatu saat menonton langsung dan merasakan atmosfer kemenangan Indonesia. Ayo, Indonesia!

*Ohya, dan cepat sembuh ya jempol kaki Eddy yang tersundut pintu Busway :(

Jumat, 24 Juni 2011

What an orgasmic exploring!

Saya memiliki kesukaan yang saya sendiri jarang temukan di orang lain. Saya suka untuk menjelajah tanpa mobil, berjalan kaki, dan tak sengaja menemukan hal-hal yang menarik.

Hari ini saya memutuskan untuk berjelajah sedikit, kebetulan Bimbim meminta saya untuk mengambil surat Atoma di Mayapada Tower. Saya memutuskan untuk tidak membawa kendaraan, karena sudah lama sepertinya saya tidak menggunakan kendaraan umum lagi. Semester 6, sebelum saya memiliki mobil, saya adalah pelanggan tetap Kopaja U27 dan Kopami B02, jalur dari rumah ke kampus dan sebaliknya. Hitung-hitung "latihan kardio" juga menerjang panas dan teriknya Jakarta.

Saya mulai pada pukul 9, harap-harapnya lalu lintas sudah sedikit tenang saat pergi kantoran. Ternyata saya salah total, Kopaja U27 begitu lama dan penuh, untungnya tak begitu sesak. Kemudian saya turun di Mangga Dua dan melanjutkan dengan Mikrolet ke halte Busway. Busway juga begitu penuh. Alamak.

Pada awalnya di busway, saya mendapatkan tempat duduk. Namun karena rasa kemanusiaan dan kelaki-lakian saya, saya memberikan tempat bagi mereka yang memerlukan, alhasil saya berdiri hingga ke halte Karet. Pagi-pagi sih masih kuat ya kakinya. =D

Ketika tiba di Mayapada Tower, saya menemukan atmosfer yang berbeda. Saya jarang masuk kantoran, beneran. Saya sempat kikuk dan canggung. Padahal cuma mengambil surat kan. Tapi suasananya tampak, ya berbeda. Berbeda dengan suasana rumah sakit yang jadi makanan saya sehari-hari.

Kemudian saya memutuskan melanjutkan ke Plaza Senayan. Ya, sudah lama sekali saya ingin ke Toko Buku Kinokuniya, toko buku yang bisa memenuhi hasrat saya. Namun dalam perjalanan ke Plaza Senayan, maka saya turun di Ratu Plaza, kalau tak mau dibawa lari abang Kopaja 19 ke Blok M. Saya mampir bentar karena teringat siapa tahu saya bisa menemukan kabel mini DVI saya yang hilang.

Ternyata tokonya masih tutup untuk shalat siang, jadi saya iseng ke Lotte Mart di bawah. Dan... saya menemukan Quaker beli 2 gratis 1! Hahaha, lumayan sekali. Akhirnya saya memutuskan beli 2 dengan 1 cuma-cuma, dan menambah beban 2,4 kg pada ransel saya...

Saya melanjutkan ke Plaza Senayan dan ke Kinokuniya. Ketika Saya melihat buku-buku, rasanya sangat senang. Apalagi di rak sejarah dan linguistik. Banyak sekali buku bahasa, bahkan buku bahasa Kamboja, Albania, Arab Mesir, dan lainnya. Semua tidak ada di Gramedia. Lalu hati saya tertancap pada buku frase Tagalog. Lumayan, untuk bahan belajar. Lain-lainnya saya hanya bisa mengiler saja. Ingin rasanya punya semua.... Begitu pula saat lihat buku Romawi Kuno, Sejarah Yunani di rak sejarah. Harganya ampun om...! Nanti suatu saat saya pasti bisa. Tak terasa 2 jam saya di Kinokuniya!

Akhirnya saya memutuskan untuk pulang karena takut macet di jalan pulang, sebelumnya mampir makan dulu di Ichiban Sushi, sebagai rasa selebrasi saja untuk diri sendiri. Dan saya tak lupa membeli kabel dulu di Ratu Plaza. Namun ada keajaiban, ketika saya masuk ke Ratu Plaza ternyata ada banner bazaar buku murah yang sebelumnya tidak terbaca. Kemudian saya menghampiri bazaar tersebut, dan ternyata bukan "bazaar". Sepi dan bukunya sedikit sekali, tapi akhirnya saya menemukan 3 buku kedokteran harga miring sekali (cuma Rp 5.000), dan buku Selimut Debu! Buku Selimut Debu ini sudah saya cari dibeberapa Gramedia dan akhirnya saya temukan di sini! Oh Tuhan! Rejeki!

Tanpa basa-basi kemudian saya pulang dengan busway lagi, dan lagi-lagi saya tak dapat tempat duduk. Namun saya melihat di tangga sisi kiri samping supir, ada penumpang lain yang sedang duduk disana. Penumpang itu kemudian turun dan akhirnya saya yang menjajahi tempat itu. Entah kenapa saya merasa senang sekali. Saya lurus melihat jalur busway yang lapang, melaju dengan kencang. Tidak penting ya, tapi sangat menyenangkan!

Saya pulang dengan kaki yang nyut-nyutan karena berjalan kaki seharian, namun what an orgasmic exploring that I had!

Memilih Jadi Dokter

Catatan: Ini adalah permenungan yang dituliskan oleh dr. Aditya Putra, yang kemarin dibacakan oleh dr. Alex Kusanto dalam pidatonya saat Sumpah Dokter FKUAJ Periode II/2011. Semoga bisa menjadi permenungan yang baik bagi para dokter.

Rekan sejawat yang terhormat.. 

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda. Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah. Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan. 

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga. 

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya. 

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan. 

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat. 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi. 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria. 

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma. 

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita. 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “Jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.” 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?” 

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya” 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam. 

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan. 

Kamis, 23 Juni 2011

Kung-kung dan Po-po: Mengingat Mereka

Foto saat Ultah saya ke-3. Saya digendong ibu (berbaju biru), bersama Ie Ie Gede (sebelah kanan ibu), dan Kung-kung serta Po-po di kiri ibu

Hari ini saya tiba-tiba penasaran dengan isi kardus-kardus yang ada di depan kamar saya. Kardus? Ya, kardus-kardus berisi barang-barang Ie Ie Susan (kakak ibu yang kelima). Sejak tiga tahun lalu ia banyak menitipkan barang-barangnya di rumah Ie Ie Puspa (kakak ibu juga yang keempat, tempat saya tinggal sekarang). Kardus-kardus ini menghiasi jendela kamar, alhasil sebenarnya jendela kamar saya tak bisa dibuka karena tertahan barang. Saat siang pun tak ada sinar matahari yang masuk. Oh tidak, risiko tinggi untuk kuman Mikobakterium huh?


Saya menemukan banyak harta benda di sana! Saya menemukan buku kenangan tante saya yang bertanggal 27 Agustus 1970 (Sudah masuk barang purba?), perangko lama yang masih rapi-jali, dan foto-foto. Saya menemukan banyak foto-foto lama, dari gaya ibu saya yang ajubileh (atau untung anak sekarang disebut ababil. Sorry mommy, beneran ini!). Saya juga menemukan foto saya saat ulang tahun ke-3! Berarti tahun 1990. Oh tidak, saya sudah om-om di umur 24 ini.

Ternyata ulang tahun ke-3 saya dirayakan di rumah Ie Ie Susan yang lama di Jakarta. Ulang tahun ini dirayakan bersama ulang tahun Cici Maya yang ke-11 (Ultahnya memang 4 hari sebelum saya). Saya masih tak berdosa, kecil mungil, rambut berbelah samping. Sekarang? Seperti shrek.

Ok, yang membuat saya tersentuh. Di foto ini ada senyuman Kung-kung dan Po-po alias kakek dan nenek dari pihak ibu. Entah mengapa terlintas di pikiran saya, I really miss them so much.

Saya merasa bahwa saya tidak cukup beruntung sebagai cucu. Sejauh otak saya ini mampu merekam pengalaman saya, saya tidak mengingat kenangan apapun tentang mereka. Po-po meninggalkan duluan kemudian beberapa tahun kemudian Kung-kung menyusul. Saya tidak pernah melihat (mengingat langsung) wajah mereka, kecuali dengan foto-foto ini dan cerita-cerita dari ibu.

Saya ingin sekali memiliki kenangan bahwa saya sebagai cucu mereka. Berjalan dengan mereka, atau paling tidak melihat saya tumbuh. Saya dulu memang tidak banyak berinteraksi dengan mereka, karena mereka tinggal di Jakarta dan masa kecil saya di Pontianak. Saya hanya bisa tersenyum simpul ketika rekan-rekan lainnya yang masih memiliki kakek dan nenek, menceritakan betapa mereka harus menemani kakek dan nenek mereka, berinteraksi, dan menghabiskan hari. Kadangkala ada semacam, "jika saja saya dapat mengalami hal yang sama".

Walau demikian saya tak merasakan langsung "kasih sayang" mereka, saya diceritakan oleh ibu. Bahwa suatu ketika Kung-kung bertandang ke Pontianak, saya dibawanya jalan-jalan ke kota. Dengan badan tuanya dan tongkatnya, ia menggendong dan menggandeng saya. Saya yakin bahwa saya pernah melewatkan hari-hari sebagai cucu.

Kini, saya memang hanya bisa membuka album foto, membayangkan apa yang terjadi saat itu, tawa dan canda, kemudian ketika mereka memanggil nama saya agar saya melihat ke arah kamera dan tersenyum saat difoto. Saya pun yakin bahwa mereka tersenyum berdua di sorga.

Miss you so much, Kung-kung dan Po-po.

Rabu, 22 Juni 2011

Muka Baru CatatanKoas

Yeah!

Sudah lama saya ingin membaharui lagi wajah web ini. Dan saya mencoba dengan warna yang lebih terang. Hm, tak buruk juga kan. Selamat datang di wajah baru Catatan Koas. =D

Masih dalam dilema: Mau tetap judulnya Catatan Koas atau bagaiamana =P

Suatu Hari Bersama Bhante: Menikmati Apa yang Kita Punyai sebagai Manusia

Kisah ini dimulai saat ponsel saya berdering. Saya melihat ternyata Jhonsen yang memanggil, koordinator acara sumpah dokter. Saya membantu rekan-rekan calon dokter baru yang akan disumpah. Ia meminta saya untuk bersamanya bertemu dengan bhikkhu yang diminta kesediannya untuk mendampingi saat pengambilan sumpah dokter keesokan harinya. Saya diminta untuk menjemput dan menghantar pulang bhikkhu, kebetulan rumah saya dan viharanya dekat.

Memang dasar saya yang entah kenapa bisa cemas. Saya merasa canggung. Saya tidak pernah bertemu, atau bercakap-cakap dengan bhikkhu. Saya takut kalau ada saja tingkah laku saya yang tidak sesuai. Apalagi ini pemuka agama! Dia harus duduk dimana? Bagaimana cara memulai pembicaraan? Apakah perjalanan Sunter-Semanggi akan jadi diam tanpa kata? Walau rasa-rasanya tak penting, ini berputar di kepala saya.

Ok, saya dan sepupu saya -yang kebetulan juga bertugas- menjemput bhikkhu di vihara. Saya memanggilnya bhante. Bhante, dengan pakaiannya yang sederhana saya jemput dan masuk ke mobil saya. Saya takut salah berucap, saya menguncupkan tangan dan mempersilahkannya. Tampaknya mungkin agak berlebihan, tapi saya tak mau jadi tak sopan.

Mobil sudah melaju ke arah Semanggi, dan saya mulai pembicaraan mengenai sampai jam berapa beliau berkenan hadir, bagaimana makannya, dan lainnya. Ternyata beliau tak pantang makanan yang dijual di pasaran, daging yang dipantang biasa tak dijual. Bahkan beliau sempat bercanda bahwa, "Yang saya tak makan, daging manusia." Hahaha, suasana semakin cair. Kemudian ia bertanya-tanya soal dunia mahasiswa kedokteran dan lain-lainnya seperti, apakah dokter ada bedah mayat, dan teman-teman seangkatannya yang sudah menjadi dokter juga.

Akhirnya kami sampai, mengikuti acara, dan saatnya menghantar pulang. Di sini banyak ia bercerita juga tentang kehidupan bhikkhunya, bagaimana orang menjadi bhikkhu. Walau saya seorang katolik, apa yang diceritakan sangat menarik. Ketika berada di perempatan Harmoni, tiba-tiba beliau berkata, "Saya menikmati kesendirian. Saya juga menikmati kegembiraan. Itulah hidup. Ada banyak mantan-mantan orang besar, yang akhirnya luluh bila sudah tak bekerja lagi. Tapi inilah kita manusia, ketika sebaiknya menikmati apa yang kita punyai."

Saya cukup terkejut dan tertarik juga, serta termenung dalam hati "Yup, menikmati apapun yang kita punyai. Bersyukur apa yang kita dapati. Baik itu rasa kesepian, rasa kesenangan, rasa berbagi, lainnya." Suatu bait yang sederhana, dan selalu kita iyakan, namun sangat sulit diresapi di dalam hati. Ini menjadi permenungan bagi saya juga, mengapa saya tidak mudah untuk bersyukur?

Bhante pun menceritakan hal lainnya, bagaimana ia bersama umat-umatnya di Jambi dan Kepulauan Riau. Begitu banyak juga yang beliau untuk melayani umat-umatnya. Dengan segala apapun yang ia punya, ia selalu bersyukur dan menikmati. Kalau dibandingkan dengan awam, seorang bhikkhu melepaskan keduniawiannya, melepaskan harta, dan lainnya. Tetapi seorang biarawan mencapai suatu titik dimana ia mampu bersyukur dengan apa yang dipunyai. Suatu kedewasaan dan kelegawaan yang luar biasa, dan layak kita teladani. Kalau kita, tak ber-Blackberry-an sehari saja sudah cemberut bukan main.

Dan tak terasa kami sudah tiba di vihara, dan bhante telah memberi permenungan yang baik. Dan untungnya pula kecemasan saya tidak terjadi. Saya memang harus banyak belajar lagi untuk tak mudah cemas dan untuk mudah bersyukur. Saya pun belajar banyak mengenai kehidupan sesama manusia.

Sabtu, 18 Juni 2011

Belajar Logika dan Sejarah dengan Berbahasa

Terkadang saya ditanyakan dengan orang-orang, mengapa saya suka dengan pengetahuan berbahasa. Yup, saya suka dengan bahasa. Paling tidak saya menguasai Bahasa Indonesia hingga tahap mahir, saya dapat menggunakannya hingga penulisan ilmiah. Bahasa Inggris saya, terus terang saja lebih bersifat pasif mendengar dan membaca, berbicara masih baik, namun yang terburuk adalah menulis. Bahasa lainnya saya pelajari hingga tahap dasar saja seperti Bahasa Mandarin, Bahasa Jerman. Saya pernah belajar bahasa lainnya, mulai dari Bahasa Latin, Jepang, namun kebanyakan saya sudah lupa >.<. Kini saya belajar bahasa Tagalog.

Saya sangat antusias belajar bahasa. Bila saya pergi ke tempat baru, saya berusaha untuk mempelajari bahasanya terlebih dahulu, misalnya seperti saya ke Thailand kemarin. (Saya hanya masih mengingat Sawadhee Krap/Kha!).

Sebenanrya, ini adalah hal yang sangat menyenangkan dalam belajar bahasa. Belajar bahasa artinya belajar berlogika dan belajar kebudayaan dasarnya. Seperti saya belajar bahasa Latin, bahasa yang dikatakan hampir mati, karena kini hanya digunakan di Tanah Suci Vatikan dalam berbahasa sedangkan dalam keilmuan digunakan sebagai istilah saja. Namun di dalamnya terkandung banyak nilai sejarah, apa yang terjadi dalam kehidupan Romawi dulu. Banyak sekali hal-hal yang dapat ditarik.

Bermain Logika

Selain itu logika juga turut bermain. Mungkin kita yang menguasai bahasa Indonesia, sudah terbiasa dengan logika berbahasa kita. Ketika berhadapan dengan bahasa Inggris menjadi merasa pusing. Mulai dari perubahan kata kerja menurut waktu dan segala tenses yang ada.

Ok, ini hanya dalam bahasa Inggris. Ketika saya masuk belajar bahasa Jerman di Goethe (karena saat itu ada rencana studi di Jerman, namun akhirnya gagal total =D). Saya terkaget dengan logika bahasa yang baru lagi. Mulai dari kata benda berjenis kelamin (maskulin, feminin, neutral),  macam-macam kata ganti (pronomen, akkusativ, kausativ, genetiv, dll), hingga logika dengan kata ehm... -saya lupa, kalau di bahasa Inggris disebut auxilliary verb-, yang harus menempatkan kata kerjanya bentuk pertama di paling belakang.

Belum lagi kini saya mempelajari Tagalog yang bisa menukar susunan kalimat dari SP (Subjek-predikat) menjadi PS (Predikat-subjek), tergantung dari seperti apa penekanan kalimatnya, seperti Si Budi ay mabait, bisa menjadi Mabait si Budi. Memusingkan, namun ini sangat menyenangkan. Kita bisa belajar logika mereka.

Budaya


Yang bisa dinikmati juga adalah mempelajari sisi budayanya. Hal ini bisa menjadi jembatan mempelajari latar historis, budaya tanpa berkunjung ke sana (Tapi tetap mau kalau bisa ke sana? :D ).

Misalnya saja dalam bahasa Indonesia, kita akan banyak menemukan kata serapan dari bahasa Belanda, Arab, China, Sanskrit, Jawa, Sunda, Melayu dan lainnya. Ini menandakan bahwa bangsa Indonesia melewati berbagai banyak hal saat perjalanan sejarahnya.

Selain itu kita bisa melihat relasi antar bahasa, misalnya setelah saya pelajari Bahasa Tagalog memiliki kedekatan dengan bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Jawa. Mungkin memang karena ditelusuri, bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia masih dalam satu keluarga bahasa. Misalnya saja angka dalam Bahasa Tagalog seperti isa, dalawa, tatlo, ampat, lima, anim, pito, walo, sayim, sampo. Mirip kan?

Suatu hal yang mengagumkan bukan?

Keinginan

Saya masih menginginkan belajar bahasa-bahasa lainnya, terutama bahasa yang tak biasa. Misalnya bahasa-bahasa besar Eropa (Italia, Perancis, Spanyol, Belanda) bahasa Yunani, bahasa Skandinavia, bahasa Rusia dengan huruf cyrillic-nya, bahasa Korea, dan lainnya. Karena ini semua membantu saya membuka dunia.

Jumat, 10 Juni 2011

Finally!

Saya menyelesaikan studi kedokteran. Lulus.

Well, terus terang saya tidak menyangka. Entah mungkin saya sebut saja keajaiban, rahmat, atau apapun tentunya anugerah indah dari Tuhan. Saya tidak bisa terisak tangis bahagia ini. Saya hanya bisa berteriak dalam hati, "Finally!". Saya bersyukur saya melangkah lagi dalam jejak-jejak dalam hidup saya.

Sekali lagi saya merasakan waktu yang berjalan begitu cepat. Berlari dengan riuhnya. Saya baru merasakan, tampaknya saya kemarin baru masuk koas dan mengucapkan janji dokter muda, kemudian galau saat siklus pertama. Kini saya sudah menyelesaikan fase dokter muda, dan one step closer alias selangkah lagi untuk mengubah janji menjadi sumpah hipokratik. Sungguh 6 tahun yang menguras tenaga. Saya masih menepuk-nepuk pipi sendiri, apakah ini nyata?

Ok, saya tak boleh bereuforia. Tetap bekerja, menatap yang ada di depan. Seperti kata Cinta Fitri: "Jalan kita masih panjaaaanggg...." Ouch.

Seperti kata dr. Alex, dalam pesannya saat pidato sumpah dokter lampau: Saya sedang bertransformasi dari sarden menjadi tuna.

NB: Saya jadi terpikir, apakah nama blog ini perlu diganti? --'

Senin, 06 Juni 2011

Kala Malam di Taman Tribeca

Kala itu suatu malam

Aku berada di Taman Tribeca

Malam yang sejuk berkawankan angin sepoi

Dialuni lagu-lagu jazz yang bersahabat


Di kala itu aku sedang berkelahi

Meringkuk dengan pikiran dan nuraniku

Dengan segala serba-serbi kata

Yang terpapar riuh dalam benakku


Aku pun ricuh kepada Tuhan

Walau aku tahu segala apapun yang kudapat dariNya

Adalah sebuah hal yang disebut anugerah

Aku tak bisa melawan jaman dan takdir


Aku pun menertawai diriku dengan pilu

Hei dasar kamu bodoh, belajarlah dari apa yang kamu dapati

Tak semua orang bisa mendapat apa yang ia mau

Namun tetap itulah indah di mataNya


Akupun hanya bisa menatap rembulan sabit di atas Tribeca

Menghela segala napas yang aku punya

Aku berpikir akupun sebenarnya tak ingin merintih

Aku ingin tenang sebagaimana rembulan tanpa bintang


Akupun harus tetap seperti anak kecil di depanku

Lari kemana ia mau

Walau ia sebenarnya tak tahu

Bahwa selalu ada tangan yang menuntunnya


Aku ingin seperti itu


Tribeca Park, Central Park, Jakarta

6 Juni 2011, 18:37 waktu macintoshku yang setia

Jumat, 03 Juni 2011

Tolong! Teman-Teman Saya Mulai Bertunangan, Saya?

Ok, saat ini saya sedang berada di perpustakaan fakultas kedokteran tercinta. Saya harusnya stand by mengurus segala pernak pernik judisium. Sambil menunggu rekan yang belum datang, saya terpaksa merenungkan diri saya dan tiba-tiba terpikir hal ini.

Ketika kemarin malam saya menjawab beberapa konsultasi dan otak sudah mulai minta ditiduri -dalam arti kata sebenarnya- Saya mendapati berita-berita bahagia, yaitu pertunangan. Ya, sudah banyak teman-teman saya bertunangan, dari sejak SMA, teman senangkatan, kakak kelas, hingga adik kelas! Sepertinya harusnya ini adalah kabar yang sukacita dan ya… berita yang harus ditanggapi dengan senang hati. Tapi tiba-tiba saya merasa saya ada di dalam aura kegelapan dan memantik tuas yang ada di sanubari saya. Saya berteriak dalam hati, "Bagaimana dengan saya?"

Yang menjadi pikiran bagi saya, apakah saya yang terlambat? Mengapa semua orang begitu sibuknya mengurus hal-hal berkaitan dengan pertunangan atau pernikahan. Kok saya masih begini-begini saja? Apakah saya yang lamban bak siput, tidak ada progresnya sampai saat ini? Pikir dipikir, saya memang tidak memasukkan hal-hal itu dalam prioritas saya, paling tidak untuk detik ini.

Di balik ketidakacuhan itu, seperti tadi yang disebutkan, saya tersentil. Saya memikirkan juga bagaimana dengan saya? Bagaimana progres saya mengenai hal ini? Di balik saya anggota Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Nunggu Sampai Lumutan), ada secercah keinginan untuk bisa mencapai batu pijakan itu juga.Tapi entah kapan? Karena ini sudah berbicara masalah hati, namun saya tetap ingin mengawinkan dengan kerasionalan saya. Entah ini konsep yang benar, atau tidak?

Namun di satu sisi saya juga perlu memperhatikan "tuntutan" orang tua. Ya, tuntutan dalam tanda petik, walau saya yakin orang tua saya tak memaksa, namun saya juga ingin mereka bisa menikmati pernikahan saya yang bahagia, paling tidak dengan cucu mereka.

Wew, semuanya begitu berkomplikasi dan kronis. Tolooooonggg!