Senin, 16 April 2012

Bahasa Ahe Boh!

Sudah seminggu saya berdinas di Kecamatan Menjalin, Bumi Samabue ini, mungkin sebuah yang berubah adalah lohat bicara saya. Ya, saya adalah orang yang mudah berubah logat bicara. Di Menjalin ini, saya sudah terlanjur latah dengan Ao', boh, dan lainnya.

Inilah bahasa Ahe yang berasal dari suku Dayak Kanayatn. Dayak Kanayatn adalah salah satu sub suku Dayak yang banyak berdiam di Kabupaten Landak. Komunitas ini cukup unik, karena mereka berada di perbatasan antara komunitas mayoritas Melayu di pesisir pantai barat (di Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Bengkayang) dengan komunitas Dayak di Kalimantan Barat bagian tengah dan timur.

Kalau bicara soal linguistiknya, Bahasa Ahe atau Bahasa Dayak Kanayatn ini adalah bahasa rumpun Melayu Polinesia dan termasuk rumpun Dayak Darat (Land Dayak). Istilah Land Dayak ini, menurut ahli bahasa, untuk membedakan dengan rumpun bahasa Dayak Iban (Ibanik) yang mendiami bagian utara Kalimantan (Daerah Kapuas Hulu, Kalbar atau daerah Sarawak, Malaysia Timur).

Bahasa ini memang menurut beberapa sumber sudah banyak mengalami perubahan kosakata hingga saat ini. Kosakata Bahasa Ahe akhir-akhir yang populer dituturkan ini memang sudah mirip dengan bahasa Melayu. Beberapa orang tua memang ada yang masih bisa menuturkan bahasa Ahe klasik.

Ahe sendiri berarti "apa", sebuah kata yang sering dituturkan oleh masyarakat.

Mungkin karena kemiripan dengan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, bahasa Ahe populer mudah untuk dimengerti.

Dari yang paling mudah, beberapa kata berimbuhan yang mirip dengan bahasa Indonesia. Banyak awalan beN- dengan segala nasalisasi, saya perhatikan menjadi ba-. Dan /e/ dalam kata "besar" menjadi /a/

  • bajalatn -> berjalan
  • badiri -> berdiri
  • bapikir -> berpikir
  • parut -> perut
  • batis -> betis
  • baranang -> berenang
  • banapas -> bernapas
  • bapinta -> meminta
  • ati -> hati
  • ari -> hari
  • idukng -> hidung
  • karaja -> kerja
  • banar -> benar
  • sa' ari -> sehari
  • atakng -> datang
  • uga' -> juga
  • urakng -> orang
Beberapa kata yang mirip dari pengucapannya:
  • guring -> baring
  • saparati -> seperti
  • jantuk -> jatuh
  • nanak / inak -> tidak
  • sete' -> satu
  • kao -> engkau (untuk sebaya), untuk dewasa gunakan "kitak"
Beberapa kata asli:
  • nyocok -> minum
  • manok -> ayam
  • manggala -> ubi/singkong
  • ka' mae -> ke mana / di mana, tergantung konteks
  • ka' dian -> ke sini / di sini, tergantung konteks
  • ka' naun -> ke sana / di sana, tergantung konteks
  • repo -> senang
  • kokot -> tangan
  • ahe -> apa
  • sangahe -> berapa
  • ampahe -> bagaimana
  • sae -> siapa
  • mile -> kapan
  • ene' -> kecil
  • aya' -> besar
  • dongo' -> demam
  • doho' -> dulu
  • boh -> partikel, seperti ya, loh, dll
  • parunyang -> nyamuk
  • ao' -> Iya
  • koa -> itu
  • nang -> yang 

Jadi saya, sebagai dokter, juga ada kata-kata sakti, seperti

  • Sangahe ari sakit bu?
  • Dipariksa dohok boh!
  • Nyocok obat tiga kali sa' ari.
  • Ka' mae sakitnya boh?
  • Sakit parutnya ka' dian?
Dan satu lagi, ada ungkapan "Gajah!!!" atau seperti ungkapan "Alamak!" "Astaga!" "Ya ampun!" "Astagfirullah". 

Jadi kalau ditanya apa binatang paling banyak di Landak? "Gajaaah!"



20 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

  1. Salam kenal,
    Nama saya Theodorus. Saya orang Pemuda yang berasal dari
    Kab. Landak asli, dulunya tinggal dan dibesarkan di daerah pedalaman yang bahasanya masih bisa dikatakan murni. Saya bisa menemukan Blog ini karena saya dengan iseng mencari Artikel yang membahas tentang sesuatu yang berhubungan dengan Kalbar. Dengan bantuan dari mesin pencari Mbah Google serta menuliskan kata kunci "Dayak Kalbar".

    Saya akan sedikit memperbaiki beberapa kata yang agak kurang sesuai, seperti pada perjodohan arti kata dalam bahasa Dayak dan bahasa indonesia di atas.
    Ya saya harap maklum kalau ada kesalahan arti kata yang selama ini Bapak yakini selama ini karena Bapak memang bukan orang dayak (Ahe).

    Ya, memang benar sekali. Bahasa dayak ahe itu sudah tidak murni lagi, sudah banyak penyerapan kata dari bahasa lain seperti bahasa indonesia dan bahasa melayu.
    Bahasa Dayak Kanayatn (Ahe) itu dulunya punya kosa kata sendiri sebelum menyerap kata dari bahasa indonesia & bahasa Melayu. Namun seiring berjalanannya waktu kata - kata yang asli itu pun mulai hilang karena penuturnya yang hidup beberapa generasi sebelum kita dulu telah tiada. Sebab, di masa sekarang ini masyarakat Dayak sudah banyak merantau ke segala tempat seperti kampung - kampung lain, perkotaan dan ke daerah luar pulau kalbar. Jadi, saat datang ke kampung halaman mereka yang merantau akhirnya membawa kosa kata baru dalam percakapan sehari - hari. Lama- kelamaan akhirnya warga setempat pun mulai terpengaruh dengan penambahan kata-kata tersebut.

    Sebagai contoh, kata kerja " berenang " dalam bahasa indonesia sesungguhnya dalam bahasa Dayak Kanayatn (ahe) menyebutnya bukan " baranang " tapi yang benar adalah "ngunanang", bahkan di sebagian tempat pedalaman menyebutnya " Balekok ". Ini semua bisa terjadi karena suku Dayak sudah lama hidup berdampingan dengan suku lain khususnya Melayu.

    Sebelumnya saya minta maaf, ada kata yang Bapak tulis di atas yang pasangan katanya agak kurang tepat. Sebagai contoh:
    Baranang -> berenang
    Banapas -> bernapas
    Alapm -> malam
    Saparati -> seperti

    Untuk kata " baranang " , sesungguhnya kata yang tepat adalah "ngunanang".
    Sedangkan kata " bernapas " yang tepat bukan "banapas" , yang tepat adalah "mansengat".
    Dan kata "Alapm" itu artinya bukan "malam" tapi yang benar adalah "pagi". Lalu, untuk kata " saparati ".
    Dalam bahasa Dayak (Ahe) memang sah - sah saja menyebut/mengatakan "seperti" dalam bahasa indonesia itu dengan "saparati" dalam bahasa Dayak. Tapi, yang lebih tepat diucapkan adalah kata "Lea".

    Namun, tidak bisa dipungkiri kalau masyarakat setempat yang bukan dari kalangan yang berpendidikan/tidak pernah sekolah saat berbicara dengan orang dari suku lain mereka mencampur bahasa dayak dan bahasa indonesia, bahkan memodifikasi kata dalam bahasa indonesia ke versi Dayak karena belum memiliki perbendaharaan kata yang cukup.Akhirnya yang terjadi adalah munculnya kata dalam bahasa dayak yang baru dengan dialek dan logatnya hampir percis sama dengan bahasa melayu dan bahasa indonesia.
    Saya rasa pengoreksian kata yang saya lakukan ini sudah cukup.

    Hehe...
    Kalau ada kata- kata dalam komentar saya tadi yang tidak berkenan dan menyakiti perasaan Bapak saya minta maaf.

    Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hari ini saya ingin mengunkapkan tentang perjalanan hidup saya,karna masalah ekonomi saya selalu dililit hutang bahkan perusahaan yang dulunya saya pernah bagun kini semuanya akan disitah oleh pihak bank,saya sudah berusaha kesana kemari untuk mencari uang agar perusahaan saya tidak jadi disitah oleh pihak bank dan akhirnya saya nekat untuk mendatangi paranormal yang terkenal bahkan saya pernah mengikuti penggandaan uang dimaskanjeng dan itupun juga tidak ada hasil yang memuaskan dan saya hampir putus asa,,akhirnya ketidak segajaan saya mendengar cerita orang orang bahwa ada paranormal yang terkenal bisa mengeluarkan uang ghaib atau sejenisnya pesugihan putih yang namanya Mbah Rawa Gumpala,,,akhirnya saya mencoba menhubungi beliau dan alhamdulillah dengan senan hati beliau mau membantu saya untuk mengeluarkan pesugihan uang ghaibnya sebesar 10 M saya sangat bersyukur dan berterimakasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala berkat bantuannya semua masalah saya bisa teratasi dan semua hutang2 saya juga sudah pada lunas semua,,bagi anda yang ingin seperti saya dan ingin dibabtu sama Mbah silahkan hubungi 085 316 106 111 saya sengaja menulis pesan ini dan mempostin di semua tempat agar anda semua tau kalau ada paranormal yang bisah dipercaya dan bisa diandalkan,bagi teman teman yang menemukan situs ini tolong disebar luaskan agar orang orang juga bisa tau klau ada dukun sakti yg bisa membantuh mengatasi semua masalah anda1.untuk lebih lengkapnya buka saja blok Mbah karna didalam bloknya semuanya sudah dijelaskan PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

      Hapus
  2. @Theodorus:

    Terima kasih boh koreksian kitak. :)

    Sekarang saya sudah masuk bulan ke-4 di Menjalin, dan mulai mengeksplorasi bahasa Ahe ini hehehe.
    Memang stelah saya berdiskusi, bahasa Ahe sendiri memang banyak variasinya seperti kalau daerah Darit/Meranti biasanya berbeda kosakatanya.

    Di Menjalin ini sepengamatan saya, mungkin karena ia termasuk kabupaten pesisir yang dekat dengan rumpun Melayu juga, jadi bahasanya pun sudah berasimilasi dan memang banyak pilihan kata yang dapat digunakan, apakah mau yang Ahe lama atau yang sudah terdengar seperti Melayu, misalnya yang saya temukan seperti banapas dengan basengat, lalu sasak dengan sangeh, sakit kapala dengan ngalukng kapala, dakat dengan samak. Bukankah begitu pak?

    Saya sangat senang bisa berdiskusi masalah linguistik bahasa Ahe ini dengan Bapak :)

    Kadang saya juga suka memperhatikan lirik lagu dayak dari Kakondan Ngabang, sekalian belajar bahasanya :)

    BalasHapus
  3. salam kenal
    saya pemuda asli pakumbang kabupaten landak nama saya edmundus saya dilahirkan dan besar di pakumbang tapi sekarang tingal di bali denpasar
    tapi saya masih tetap hapal bahasa asli kedua orang tua saya menjalin dari tempat saya kurang lebih 20kl
    saya mau meralat sedikit mengenai:
    ka'naun -> ke sana
    ka'naung->ke sana
    parunyang->nyamuk
    tapi saya senang denggan blog anda jadi mengigat kan saya pada kampung halaman
    akhir kata saya mohon maaf kalau ada kata-kata saya yang salah
    salam
    ya semoga
    parungga' -> nyamuk

    BalasHapus
  4. Hahahaha...asyik ni bahasa suku tempat kelahiran q d perbincangkan d google.. Walaupun sedikit salah yg d ucapkn doktr tadi itu,tp itu udah cukup menghibur juga. Lucu.. Yg sedikit agak berbeda dan salah itu "parunyang",yg bnr itu"parungang,atau rangit-nyamuk". Hahaha..well..well..well..sangat menghibur..terima kasih. Salam saya selfin angelo..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, makasih boh atas komentar kitak ka web aku. Memang kamampuan bahasa diri aku nian nape gagas, tapi manyak dah bantu aku untuk pasien-pasien nang urakng tuha, apalagi nian karaja ka Ponti manyak uga batamu urakng diri. Hehehe…. Tapi manyak nang madah dokter gek urakng diri ge? Bukek, urakng sobat nang bisa baahe sabebet hehehe...

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  5. sangat menyenangkan tuk mbaca ni blog! keren sangat :D keep blogging please, doc

    BalasHapus
  6. edo' sidi kiskusi nia, salam kenal boh.cuma kamusnya nia nape jadi-jadi hehehehehe

    BalasHapus
  7. lah trus kalo bahasa kalimantan selatan bisa dikatakan bahasa dayak kan... cari ilmu sob

    BalasHapus
  8. Rindu kalbar, pindah ke pulau jawa tahun 1991, sampai sekarang blm kembali.😒

    BalasHapus
  9. Rindu kalbar, pindah ke pulau jawa tahun 1991, sampai sekarang blm kembali.😒

    BalasHapus
  10. Adil ka talino bacuramin ka saruga basengat ka jubata..arus arus arus..

    BalasHapus
  11. Adil ka talino bacuramin ka saruga basengat ka jubata..arus arus arus..

    BalasHapus
  12. maaf boh yukng,ame bera, cuma mao ngoreksi sabebet. kata sapatati>seperti tadi, manurutku koa salah. manurut bahasa sangah, kade bahasa seperti koa, "lea/aya" bahasa daya' nya. baru' ng kata ene' td. ngkoa salah uga. nang gagasnya, "enek", buke' ene'. kalo ene'= nenek. tarima kasih, ame bera.
    Hapus

    BalasHapus
  13. Mantap nian blognya. Samangat terus karaja nya sabagai dokter

    BalasHapus
  14. Muleh lah sakali-sakali ayukng nian ampus ka blog ku nian utk barenyah hehehe ...
    Adil ka talino, bacuramint ka saruga, basengat ka jubata.

    https://lirikdanlagudayak.blogspot.co.id/

    BalasHapus

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: