Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2014

Belajar Bahasa Asing dengan Cepat?

Banyak yang mengatakan bahwa belajar bahasa asing baru itu sulit. Belajar bahasa asing itu akan meledakkan kepala kita. Benarkah?

Bagi saya, saya menganggap belajar bahasa baru adalah pengalaman yang amat menyenangkan. Saya seperti masuk ke dalam dunia "antah-berantah" yang baru dan menjalin relasi di dalamnya. Walau saya sulit menyatakan apa sebenarnya sumber kesenangan itu, saya menemukan sebuah video yang menarik yang juga menyatakan bahwa belajar bahasa baru itu tak sesulit yang diduga.

Video ini merupakan video dari TEDx talk di Universitas Lingnan yang dibawakan oleh Chris Londsale. Ia mengatakan bahwa postulat yang mengatakan bahwa untuk belajar bahasa asing diperlukan talenta adalah hal yang keliru. Menurutnya ada lima hal yang menjadi prinsip untuk memudahkan kita belajar bahasa asing:

Belajar Bahasa yang Relevan dengan Anda
Maksudnya di sini adalah belajarlah bahasa yang memang ada kaitannya dengan diri kita, entah tujuan atau kebutuhan kita, minat kita, atau memang di dalam dunia kita saat ini. Kita tentu akan menganggap sesuatu menjadi lebih kurang serius jika hal itu bukan yang kita inginkan, bukan? Seperti hal yang saya alami bahwa saya dulu memulai belajar hangeul ketika akan berpergian ke Korea Selatan, dan kemudian minat itu stagnan hingga saya diracuni hal-hal yang berbau Korea oleh adik saya (baca: kecanduan Running Man). Hingga saya pun berada dalam lingkungan yang memfasilitasi saya dalam belajar bahasa tersebut. Dan hal ini juga yang akhirnya menjadi sebab, pembelajaran bahasa Tagalog saya jalan di tempat.

Gunakan Bahasa yang Sedang Dipelajari Bahkan pada Hari Pertama Anda Belajar
Mungkin kita masih takut atau malu-malu untuk menggunakan bahasa kita yang kacau. Mungkin kita hanya bisa mengucapkan salam atau kata-kata dasar. Namun kita harus percaya bahwa ketidakmampuan kita pada hari pertama ini akan mulai menyemangati kita untuk terus belajar menutupi kekurangan.

Walaupun Hanya Mengerti Maksud Suatu Kalimat, Berarti Kita Mulai Menguasainya
Ya, kita mungkin hanya mengerti sepatah duapatah kata, mungkin kita buta dengan tata bahasa yang baku, namun kita sudah punya bayangan bahwa kita paham apa maksud suatu kalimat dalam bahasa asing tersebut. Sadarkah kita bahwa kita sebenarnya telah mencetak prestasi dalam penguasaan bahasa? Kunci dari komunikasi adalah pengertian atau pemahaman (komprehensi) walau mungkin dengan standar di luar kebakuan yang masih dapat ditoleransi.

Melatih Sisi Fisiologis Tubuh Kita
Yang menjadi penyebab suatu bahasa asing menjadi sulit adalah karena diri kita menganggap kata dalam bahasa asing tersebut menjadi bunyi tanpa arti yang pada akhirnya ditolak oleh otak kita. Untuk itu kita perlu menerima bunyi asing tersebut dan kita terima ke dalam otak kita, sehingga kita mengetahui dan mengenali bunyi tersebut. Ya, mulut manusia memang akan dapat membuat ribuan bunyi dan nada yang dapat saja menjadi sebuah bunyi dengan arti.

Begitu juga dengan kemampuan berbicara, bahwa kita memiliki kuasa atas diri kita sendiri untuk mengontrol puluhan otot wajah yang akan menghasilkan suatu bahasa.

Psikologis
Jika kita senang, rileks, memiliki rasa ingin tahu akan memudahkan kita untuk belajar bahasa asing. Jika kita terlalu berkutat, kita akan kehilangan hasrat untuk menerima bahasa asing ke dalam diri kita.

Dalam video ini pun dipaparkan 7 aksi dan contoh program belajar yang akan memudahkan kita.




Selasa, 07 Januari 2014

Merek dari Korea yang Sangat Meng-Korea

Hana Bank. Sumber: Myhana.co.id

Ide tulisan ini tiba-tiba timbul ketika saya tengah mengulang kembali untuk mengingat kosakata bahasa Korea yang sedang saya pelajari. Tiba-tiba saya menemukan kata yang menginspirasi saya, 현대, yang kalau diterjemahkan ke abjad latin yang disempurnakan (revised romanisation) menjadi hyeon-dae. Kata ini tidak asing bukan di telinga kita, apalagi penggemar otomotif. Ya, kata yang berarti "modern" atau "mutakhir" ini menjadi merek Hyundai.

Semakin naik daunnya budaya Korea di Indonesia, membuat kita semakin dekat dengan berbagai merek yang berasal dari Korea, misalnya Hyundai, Kia, Samsung, Daewoo, Hana Bank, LG, Lotte. Hampir sebagian besar nama yang merupakan chaebol (재벌, jae-beol dalam abjad latin yang disempurnakan) alias konglomerat bisnis ini menggunakan istilah bahasa Korea, kecuali Lotte, LG.

Walaupun dalam Korea Selatan sendiri, penggunaan bahasa Korea yang ke-Inggris-Inggris-an alias Konglish (콩글리시) juga semakin marak, namun penggunaan bahasa Korea yang mendunia ini patut dipuji. Memang, perusahaan chaebol ini adalah perusahaan lama, sehingga mungkin tampak agak "ketinggalan zaman".

Coba kita lihat beberapa arti merek tersebut:

  1. Hyundai (현대, hyeon-dae), berarti modern, mutakhir
  2. Kia (기아, gi-a), berasal dari hanja 起亞 yang berarti kebangkitan dari Asia
  3. Samsung (삼성, sam-seong), berarti tiga bintang. (Jadi ingat merek Mitshubishi dalam bahasa Jepang yang berarti tiga berlian, atau malah teringat merek Bintang Toedjoeh?)
  4. Daewoo (대우, dae-u), dae berarti besar atau agung, sedangkan woo diambil dari nama pendirinya Kim Woo Jung
  5. Hana (하나, ha-na), berarti satu atau kesatuan
Saya sendiri ingin sekali merek Indonesia dapat digunakan dengan bangga dan akhirnya mendunia. Beberapa perusahaan nasional yang telah dikenal cakap pun mulai dikenal seperti Pertamina (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara), Garuda Indonesia, Bank Mandiri. Dan beberapa merek Indonesia juga mulai dikenal di negara tetangga seperti Nabati, Kopiko, Indomie, dan lainnya.

Ya, pengaruh bahasa asing memang tidak bisa ditampik, namun adanya usaha untuk semakin meng-Indonesia-kan nama tentu adalah usaha yang bijak dan patut dihargai. 

Selasa, 13 Agustus 2013

Bahasa Indonesia Termudah di Dunia... Apa Benar?


Kita sering mendengar bahwa bahasa Indonesia seringkali dianggap sebagai bahasa yang paling mudah di dunia. Benarkah demikian?

Mungkin ada benarnya. Pemerintah Amerika Serikat dengan klasifikasi Foreign Service Institute (FSI), mengelompokkan bahasa Indonesia bersama dengan bahasa Melayu (Malaysia), dan bahasa Swahili ke dalam kategori III. Kategori III berarti bahasa ini tidak mirip bahasa Inggris baik dari sisi kebudayaan maupun linguistik dan memerlukan waktu 900 jam pelajaran atau dalam 36 minggu. Kategori III ini jauh lebih mudah dibandingkan bahasa Asia lainnya seperti bahasa dengan tulisan kanji (Mandarin, Jepang, Korea sebelum penerapan hangeul oleh Raja Agung Saejong), atau bahasa Arabis, yang kesemuanya dikelompokkan dalam kategori V yang memerlukan 2.200 jam pelajaran atau 88 minggu (setahun lebih!). Atau mungkin bahasa Indonesia masih lebih mudah dibandingkan bahasa tetangga yang masih bertulisan Latin, yakni Tagalog atau Filipino (yang masih memiliki "tenses") atau bahasa aborigin dari Taiwan. Lebih lanjut mengenai FSI bisa disimak di tautan ini.

Bahasa Indonesia itu mudah mungkin ada benarnya, oleh karena itu bahasa ini menjadi bahasa persatuan Nusantara. Bahasa yang menyatukan ratusan bahasa berbagai etnis di Indonesia. Karena fungsinya untuk menyatukan, maka bahasa Indonesia harus mudah dan masuk ke dalam semua logika linguistik berbagai etnis. Inilah hal yang selalu saya banggakan, karena seperti Singapura dan Malaysia saja mereka harus tetap "berjuang" mempertahankan kedudukan bahasa nasional mereka. Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang amat kuat dalam negeri ini baik secara konstitusional maupun realitas.

Bahasa Indonesia memang bukan bahasa tonal, bahasa tanpa pembeda waktu ("tenses"), dan bahasa tanpa gender, bahasa tanpa penentuan kasus (cases seperti nominatif, akusatif, datif, dan genetif seperti pada bahasa Jermanis). Ya, walau mungkin saja bisa bias karena saya penutur asli, namun bahasa Indonesia memang relatif lebih mudah dibandingkan bahasa lainnya.
Sumber: rdipress.files.wordpress.com

Ada yang mengatakan, "bahasa Indonesia adalah bahasa tanpa tata bahasa alias "grammar". Salah besar! Menurut saya, tidak ada bahasa yang tidak memiliki tata bahasa. Bahasa adalah suatu keteraturan logis. Kalau tidak akan terjadi chaos dalam sebuah bahasa.

Nah, ini adalah salah satu sisi sulit dalam bahasa kita. Pernah mendengar afiksasi atau imbuhan? Bahasa Indonesia memiliki afiksasi yang kuantitasnya amat masif. Afiksasi ini memang khas bahasa Indonesia (dan Melayu). Afiksasi yang berbeda memiliki arti yang sangat jauh juga. Saya coba mengambil contoh "lari": berlari, melarikan, dilarikan, pelari, pelarian. Lalu ada juga pengulangan: lari-lari. Dan perlu diperhatikan juga bahwa tidak ada "melari", "dilari", "melarii", atau "dilarii". Belum lagi afiksasi "memper-", "diper-", "ter-", "se-", "ke-" yang digabungkan "-an" atau "-i". Kemudian, arti "melarikan" dan "pelarian" pun tidak ada lagi artinya dengan "bergerak cepat dengan satu tapak kaki menyentuh tanah".

Afiksasi ini sungguh membuat pusing kepala. Bahkan saya yakin, penutur asli masih sering "keblinger" soal ini. Belum lagi proses nasalisasi afiksasi, misalnya pada "meN-" seperti "me-", "men-", "meny-", "mem-", "meng-". Bahkan banyak yang menjadi salah kaprah berjemaah seperti "menyintai", "mengkonfirmasi", "mempublikasikan", dan yang paling heboh, "memperkosa". Apakah kita sadar atas kekeliruan kita?

Namun, penutur bahasa Indonesia memang memiliki toleransi yang amat tinggi. Kalau ada yang mengatakan, "Orang baju kuning pergi sekolah", hal ini mungkin relatif masih dapat diterima. Padahal kalau ingin berbicara dengan tata bahasa baku, "Orang yang berbaju kuning itu sedang pergi ke sekolah". Apa yang bisa kita simpulkan? Tata bahasa yang "chaos" masih bisa diterima dalam bahasa sehari-hari (colloquial) atau "Melayu pasar". Namun untuk berbicara dalam bahasa formal atau bahasa baku, perlu kerja keras yang tak mudah. Jadi, apakah tata bahasa Indonesia gampang? Tidak juga.

Namun (lagi-lagi namun), bahasa Indonesia sehari-hari tidak begitu mudah loh. Apalagi kalau mengikuti dialek Jakarta yang sering menjadi tauladan bahasa "Indonesia" sehari-hari (misalnya bahasa Korea standard termasuk bahasa gaulnya akan merujuk pada dialek Seoul). "Apaan sih?", "Apaan tuh?", "Apaan lu?", "Apaan nih?", "Kok apaan?", "Loh, apaan?", atau gabungan ultimanya "Loh, kok apaan sih? Nih, lu!" akan membuat orang menderita tension headache. Belum lagi imbuhan khas "nge-", "-in", "-an", "ke-an", dan berbagai prokem. Ya, bahasa dialek Jakarta ada kursus dan ilmunya tersendiri. Ciyus, miapah.

Jadi, bahasa Indonesia memang relatif mudah, tapi jangan dipandang sebelah mata. Dan... Ayo berusaha untuk berbahasa yang baik dan benar. Lalu, apakah Anda juga sudah bisa menjawab, "Bahasa Indonesia Termudah di Dunia... Apa Benar?"

*Tulisan dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68

Kamis, 25 Juli 2013

Jangan Malu Menggunakan Serapan ala Bahasa Indonesia

Saya masih ingat dulu ketika akhir SMA atau awal kuliah saya menyebutkan kata-kata yang tak biasa dalam kelompok peminatan komputer. Saya menyebutkan kata "mengunggah", "mengunduh", "antarmuka", "kuki". Semua orang bingung. Ketika saya mengganti dengan kata "upload", "download", "interface", "cookies". Semua baru mengerti dan teman saya tiba-tiba ada yang menyeletuk, "Aneh-aneh saja lu Hau, ngapain suka pakai istilah itu."

Sebenarnya ada sesuatu yang membuat saya lebih suka menggunakan kata-kata asing yang di-Indonesiakan. Pertama, ini bahasa Indonesia. Kedua, kata-kata itu seingat saya sudah dibakukan.

Saya terkadang berpikir, mengapa kita lebih suka menggunakan kata-kata yang tidak diserap dari bahasa asing padahal ada padanan katanya. Kita lebih suka menggunakan "blueprint" dibandingkan "cetak biru", "compact disc" dibandingkan "cakram padat", "fashion" dibandingkan "fesyen". (Pasti Anda berkomentar, "Apaaa? Fesyen?")

Bahkan kita sering menyerap sendiri dan membuat sinonim dari kosakata yang sebenarnya sudah ada padanannya. Coba seberapa sering menggunakan "snack" dibandingkan "kudapan", "coffee break" dibandingkan "rehat kopi", "feedback" dibandingkan "umpan balik", "implementasi" dibandingkan "eja wantah", "komparasi" dibandingkan "perbandingan", "event" dibandingkan "acara/kegiatan", atau "regulasi" dibandingkan "peraturan". Walaupun memang penggunaannya berbeda, tergantung pada konteksnya. Namun sayangnya, sinonim yang lama pun berangsur-angsur lenyap tak digunakan.

Kita pun sering latah menggunakan kata-kata asing yang tampaknya tidak ada usaha untuk meng-Indonesia-kan sama sekali, lihat saja "Jakarta Outer Ring Road" -atau yang disebut JORR-, bukannya "Jalan Lingkar Luar Jakarta, atau JLLJ?),  atau bahkan "Hati-Hati Busway" bukannya "Hati-Hati Jalan/Jalur Bus".

Jika kata-kata tersebut tidak ada padanan katanya, kita pun pada akhirnya menggunakan kata asli. Hal ini diperbolehkan oleh bahasa kita selama dicetak miring, digarisbawah, atau diberi tanda petik. Namun sayangnya, seringkali penggunaannya pun keliru. Istilah ini diserap secara mandiri tanpa melalui proses pembakuan oleh Pusat Bahasa. Misalnya "event" yang disalahkaprahkan menjadi "even" atau terkadang menjadi "iven", "contact person" menjadi "kontak person". Jika ingin menggunakan istilah asing yang tak diserap, sebaiknya kita pun mengerti bagaimana penulisannya yang benar menurut bahasa aslinya.

Mengapa kita tidak banyak menggunakan kata-kata asli atau baku dari bahasa Indonesia sendiri? Mengapa kita tidak menggunakan "fesyen" atau "kudapan"? Apakah mungkin terdengar kampungan? Saya sendiri tidak merasa kampungan, hanya kita saja yang enggan memakai. Seperti kata "mengunduh" yang kian tidak asing untuk menggantikan "download". Ya, kita hanya perlu menggunakannya saja.

Ketika saya coba membandingkan dengan bahasa lainnya, saya menemukan bahwa mereka justru bangga untuk menggunakan kata yang diserap dengan gaya bahasa mereka, misalnya Bahasa Korea. Kata pizza menjadi 피자 yang dibaca [phi-ja], party menjadi 파티 yang dibaca [pha-ti], shower  샤 워yang dibaca [sya-wo]. Mungkin saja untuk bahasa Korea, penyerapan lebih luwes karena tulisan ditulis dengan tulisan Hangeul. Walaupun demikian, abjad Latin bahasa Indonesia memiliki cara pelafalan sendiri. Sehingga penyerapan seperti "fesyen" adalah suatu yang memang demikian, bukan "kampungan", kecuali kalau kata "fashion" kita mau lafalkan sebagai [fa-si-yon]. Mana jadinya yang "alay"?

Minggu, 09 Desember 2012

Membara Lagi Belajar Bahasa Korea

Memang, sayanakui, bara belajar Bahasa Korea saya amat meredup pasca liburan di Korea tahun lalu. Namun rasa itu kembali lagi setelah beberapa minggu terakhir ini saya tiba-tiba terpincut untuk menonton streaming Running Man. Pasti Anda bertanya, apakah saya benar lagi PTT, kok bisa-bisanya streaming? Yeah, beberapa minggu ini sinyal Telkomsel di Menjalin tercinta ini sudah menjadi 3G. Dan saya pun leluasa untuk berstreaming ria.

Annyong!
 

Ya, Running Man. Saya terpincut karena lelucon-lelucon yang ada di dalamnya. Amat sangat menghibur di tengah di desa ini. Bahkan dalam 2-3 minggu terakhir ini saya sudah mencapai 60 episodenya. Wow *koprol*. Dari acara Running Man inj saya terpapar lagi banyak tulisan hangeul dan ucapan-ucapan bahasa Korea yang menggelitik saya untuk kembali membuka buku bahasa Korea. Untungnya saya masih menyimpan ebook Teach Yourself Korean dalam iBook dan podcast belajar Bahasa Korea.

 

Dan guratan hangeul dalam lembaran kertas pun kembali bergulir...

 

Sabtu, 23 Juni 2012

Belajar Abjad Sirilik: Done!

"Старославянская азбука (староболгарская азбука): то же, что кирилли́ческий (или кири́лловский) алфави́т: одна из двух (наряду с глаголицей) древних азбук для старославянского языка;" - Potongan artikel di Wikipedia
Apa artinya? Bagaimana cara membacanya? Saya penasaran.

Akhir minggu ini merupakan waktu yang sangat saya tunggu. Saya akan melewatkan bersama dua buku pesanan saya yang sudah tiba sejak satu minggu lalu. Ya, saya memesan buku secara online yaitu tentang travelling ke Filipina dan buku Russian for Tourism.


Yang saya buka yang pertama adalah buku bahasa Rusia tersebut. Saya sangat penasaran bagaimana dengan bahasa ini. Saya sangat ingin tahu sekali apa yang ada di balik tulisan-tulisan sirilik (Cyrillic alphabet) yang digunakan di bahasa-bahasa Slavik ini. Tulisannya tampak keren dan eksotik, dan tentu sangat menarik mempelajari hal yang tidak banyak dipelajari orang bukan?

Saya selalu penasaran dengan apa yang ditulis dan makna dari sebuah bahasa. Saya mengiyakan dengan apa yang disebut oleh loki2504 di youtube ini. Memahami sesuatu yang baru, memahami suatu yang unik, memahami suatu yang ada di luar sana, menjadi sebuah tantangan dan rasa ingin tahu tersendiri. Sangat menarik.

Tulisan Sirilik

Awalnya memang agak sulit, karena ternyata dari 33 alfabet sirilik, hanya 6 yang sama pengucapannya dengan bahasa Indonesia! Yaitu A, K, O, M, E, T. Sedangkan dua puluh tujuh lainnya sangat-sangat berbeda jauh, walau ada yang tulisannya mirip dengan Latin. Misalnya C yang dibaca /es/, P /er/, B /ve/, Y /u/. Namun ada huruf-huruf unik lainnya seperti Ш, Щ, dan si cantik Ж.

Banyak huruf-huruf vokal rusia yang tampak seperti huruf mati dalam bahasa Indonesia misalnya: Россия, yang ternyata adalah /russiya/. Ternyata tak begitu sulit dan sederhana.

Saya menemukan bahan belajar yang baik, walau awalnya sedikit membosankan. Namun dijelaskan dengan gamblang dan pelan yaitu Russian World Lesson. Pelajaran pertamanya di klik di sini. Saya baru samapai pelajaran ke delapan. Sangat menarik.

My Baby in the weekend


Saya pun mencoba-coba menuliskan nama saya dan impresi pertama saya: cool! Tulisan sirilik ini sangat keren.

Nama saya dalam abjad sirilik. Semoga benar translasi siriliknya :)


Abjad Sirilik dalam Bahasa Rusia
Hal yang unik juga dalam abjad sirilik adalah mempelajari tulisan kursifnya atau tulisan rangkainya. Sangat berbeda dengan apa yang dipelajari di bahasa latin. Seperti huruf T sirilik kursif yang mirip M dari tulisan rangkai yang saya pelajari di SD.

Saya pun jadi terbakar juga mempelajari skrip-skrip bahasa tertentu, mungkin seperti tulisan bahasan Brahmik seperti Devanagari, Thai, atau skrip lainnya seperti Arabia.

Well, Xорошо! /horosho/ (Baiklah!)

Sabtu, 16 Juni 2012

Udah Pane Bahasa Diri', Pak Dokter?

Kisah ini dimulai malam kemarin, ketika saya menjelang terlelap setelah bermain dengan iPad, saya mendengar tiba-tiba pintu rumah diketuk-ketuk. Ternyata ada orang ramai di luar rumah, tak pelak saya pun terkejut. Ada pun kata pertama yang terlontar di mulut saya, "Sae nang sakit? Ada urakng jantu'?". (Siapa yang sakit? Ada orang jatuh?) Laki-laki di depan pun menjawab, "Inak pak. Ada bayi kami nanak mao nangis satalah melahirkan barusan.". "Au pak. Tama' pak." (Ya pak, silakan masuk.)

Meja Praktik di Puskesmas :)


Dan tiba-tiba orang di sebelahnya bercetus, "Orang dayak-kah Pak Dokter? Kenapa bisa bahasa kami?". "Inak. Saya orang sobat (Istilah tionghoa dalam Dayak Kanayatn)." "Wah, udah pane bahasa diri' ya Pak Dokter?" (Sudah pandai bahasa kita ya Pak Dokter?) "Saya sudah 2 bulan di sini, sudah belajar sedikit-sedikit." Saya pun tersenyum simpul.

Saya pun menjadi tersadar akan suatu kelebihan yang saya miliki, belajar bahasa. Memang saya pun senang untuk belajar bahasa. Mungkin suatu hal yang paradoksal juga dengan saya yang cenderung introvert, hahaha. Namun saya semakin yakin ini bisa menjadi suatu plus bagi saya.

Penduduk yang kaget dengan saya yang berbahasa Dayak ini, bukan satu kali ini saja. Banyak yang bingung kalau saya berbahasa lokal. Hipotesa saya, rata-rata dokter PTT di Menjalin berasal dari luar Kalimantan Barat. Namun sebenarnya tidak juga, saya baru mengenal bahasa Dayak Kanayatn ini ketika saya bertugas di Menjalin.

Sebenarnya saya pun memiliki bingkai pikiran bahwa saya harus dapat mengenal bahasa lokal. Hal ini saya coba terapkan semenjak koas dulu. Seperti saat saya menjalani koas di Sukabumi, saya pun belajar sedikit bahasa Sunda. Dulu tujuan utamanya adalah memahami anamnesis pasien-dokter konsulen yang sering berbahasa Sunda. Dan lama-lama saya juga memahami bahwa dengan berbahasa lokal, kita lebih luwes dengan pasien.

Semakin luwes, inilah yang saya rasakan juga dengan pasien di Menjalin. Rata-rata mereka senang kalau mendengar kita berbahasa lokal, lebih akrab. Walaupun demikian biasanya saya hanya sebagai pembuka saja menggunakan bahasa lokal, karena saya sudah mulai pusing kepala kalau sudah menggunakan kosakata yang tidak saya ketahui. Hehehe, Pak Dokternya masih balajar uga'.

Dan kadang bahasa lokal ini juga menjadi satu-satunya jalan mewawancarai pasien, terutama pasien yang sudah lansia yang seringkali tidak fasih berbahasa Indonesia. Walaupun sebenarnya di Menjalin ini, tersebar juga bahasa Melayu, namun sepengamatan saya pada lansia-lansia yang bersuku Dayak juga tidak begitu fasih bahasa Melayu.

Jadi, sebenarnya ini sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Saya jadi belajar kearifan lokal, saya pun bisa meluweskan relasi dokter-pasien ini.

Pak Dokternyu udah pane sabebet bahasa diri'. Tapi masih nanak pane incakng bamotor koa. =D
(Pak Dokternya sudah pandai sedikit bahasa kita, tapi masih tidak pandai bawa motor :D) 

Senin, 16 April 2012

Bahasa Ahe Boh!

Sudah seminggu saya berdinas di Kecamatan Menjalin, Bumi Samabue ini, mungkin sebuah yang berubah adalah lohat bicara saya. Ya, saya adalah orang yang mudah berubah logat bicara. Di Menjalin ini, saya sudah terlanjur latah dengan Ao', boh, dan lainnya.

Inilah bahasa Ahe yang berasal dari suku Dayak Kanayatn. Dayak Kanayatn adalah salah satu sub suku Dayak yang banyak berdiam di Kabupaten Landak. Komunitas ini cukup unik, karena mereka berada di perbatasan antara komunitas mayoritas Melayu di pesisir pantai barat (di Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Bengkayang) dengan komunitas Dayak di Kalimantan Barat bagian tengah dan timur.

Kalau bicara soal linguistiknya, Bahasa Ahe atau Bahasa Dayak Kanayatn ini adalah bahasa rumpun Melayu Polinesia dan termasuk rumpun Dayak Darat (Land Dayak). Istilah Land Dayak ini, menurut ahli bahasa, untuk membedakan dengan rumpun bahasa Dayak Iban (Ibanik) yang mendiami bagian utara Kalimantan (Daerah Kapuas Hulu, Kalbar atau daerah Sarawak, Malaysia Timur).

Bahasa ini memang menurut beberapa sumber sudah banyak mengalami perubahan kosakata hingga saat ini. Kosakata Bahasa Ahe akhir-akhir yang populer dituturkan ini memang sudah mirip dengan bahasa Melayu. Beberapa orang tua memang ada yang masih bisa menuturkan bahasa Ahe klasik.

Ahe sendiri berarti "apa", sebuah kata yang sering dituturkan oleh masyarakat.

Mungkin karena kemiripan dengan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, bahasa Ahe populer mudah untuk dimengerti.

Dari yang paling mudah, beberapa kata berimbuhan yang mirip dengan bahasa Indonesia. Banyak awalan beN- dengan segala nasalisasi, saya perhatikan menjadi ba-. Dan /e/ dalam kata "besar" menjadi /a/

  • bajalatn -> berjalan
  • badiri -> berdiri
  • bapikir -> berpikir
  • parut -> perut
  • batis -> betis
  • baranang -> berenang
  • banapas -> bernapas
  • bapinta -> meminta
  • ati -> hati
  • ari -> hari
  • idukng -> hidung
  • karaja -> kerja
  • banar -> benar
  • sa' ari -> sehari
  • atakng -> datang
  • uga' -> juga
  • urakng -> orang
Beberapa kata yang mirip dari pengucapannya:
  • guring -> baring
  • saparati -> seperti
  • jantuk -> jatuh
  • nanak / inak -> tidak
  • sete' -> satu
  • kao -> engkau (untuk sebaya), untuk dewasa gunakan "kitak"
Beberapa kata asli:
  • nyocok -> minum
  • manok -> ayam
  • manggala -> ubi/singkong
  • ka' mae -> ke mana / di mana, tergantung konteks
  • ka' dian -> ke sini / di sini, tergantung konteks
  • ka' naun -> ke sana / di sana, tergantung konteks
  • repo -> senang
  • kokot -> tangan
  • ahe -> apa
  • sangahe -> berapa
  • ampahe -> bagaimana
  • sae -> siapa
  • mile -> kapan
  • ene' -> kecil
  • aya' -> besar
  • dongo' -> demam
  • doho' -> dulu
  • boh -> partikel, seperti ya, loh, dll
  • parunyang -> nyamuk
  • ao' -> Iya
  • koa -> itu
  • nang -> yang 

Jadi saya, sebagai dokter, juga ada kata-kata sakti, seperti

  • Sangahe ari sakit bu?
  • Dipariksa dohok boh!
  • Nyocok obat tiga kali sa' ari.
  • Ka' mae sakitnya boh?
  • Sakit parutnya ka' dian?
Dan satu lagi, ada ungkapan "Gajah!!!" atau seperti ungkapan "Alamak!" "Astaga!" "Ya ampun!" "Astagfirullah". 

Jadi kalau ditanya apa binatang paling banyak di Landak? "Gajaaah!"



Selasa, 24 Januari 2012

Ngapain Kamu (Masih) Belajar Bahasa Tagalog?

Jika ada orang di Indonesia yang mungkin membawa-bawa buku bahasa Tagalog, mungkin saja Anda bertemu dengan saya.

Mungkin terdengarnya cukup angkuh di atas. Namun sepanjang pengalaman saya selama hampir setahun ini (walau mulai seriusnya baru beberapa bulan belakangan), saya selalu mendapatkan kesan bahwa belajar bahasa Tagalog adalah hal yang cukup dapat membuat orang mengerutkan dahi.

Seperti apa yang disebut ayah saya kemarin, ia sempat berucap, "Daripada belajar bahasa Tagalog, mendingan belajar bahasa Mandarin." Entah apakah mungkin ia melihat saya terlalu bersemangat belajar bahasa Tagalog, apalagi pasca saya mengurungkan niat untuk belajar spesialisasi di Filipina. Ok, mungkin ia benar bahwa belajar bahasa Mandarin mungkin baik sekali (bertemu dengan pasien berbahasa Mandarin lebih mungkin toh daripada bertemu pasien Filipina). Walau sebenarnya dalam hati kecil saya, belajar bahasa "aneh" ini juga sebuah hal yang cukup menarik kok, dan sebenarnya (lagi) adalah bentuk pelarian saya dari kesulitan saya memahami bahasa tonal seperti Mandarin. Walau saya juga ada rasa ingin yang besar juga belajar bahasa Mandarin.

Mungkin saja tak hanya ayah saya yang bergidik ngeri. Mungkin rekan-rekan saya yang bersama di fakultas kedokteran pun mengira saya ingin segera belajar di Filipina. Namun alasan saya karena "keminatan belajar bahasa asing" pun masih agak-agak tidak masuk akal. Sekali lagi, mengapa harus Tagalog?

Progres

Istilahnya, saya memang terlanjur basah belajar bahasa Tagalog. Seperti yang pernah saya kisahkan awal saya belajar bahasa ini. Saya terlanjur jatuh cinta, eh terlanjur belajar. Rasanya tanggung benar kalau belajar hanya sekedar menyapa selamat pagi sampai petang. Mengapa tidak bercebur langsung saja? Buku-buku teks pun terlanjur terbeli. =)

Well, kemajuan belajar bahasa Tagalog saya sebenarnya cukup signifikan. Kalau ada rekan online saya dari Komunitas KalyeSpeak (Komunitas belajar bahasa Tagalog melalui podcast), saya sudah bisa menjawab. Kemudian kalau ada rekan yang sedang atau pernah ke Filipina dan bisa berbahasa Tagalog, saya juga dapat menanggapinya.

Belajar dari buku Basic Tagalog dari Paraluman S. Aspillera saya juga sebenarnya sudah lumayan jauh, ya kira-kira seperempat perjalanan. Kemudian saya juga ada Tagalog for Beginners yang isinya lebih banyak mengenai percakapan (colloquial?) dan banyak mengenai kultur. Sudah lumayan lah, menurut saya.

Semakin saya mendalami bahasa ini, saya pun mendapat banyak ilmu seperti semakin miripnya dengan bahasa Melayu (+Indonesia) dengan afiksasinya dan dekatnya dengan bahasa Eropa dalam sisi tata bahasanya yang lebih menganut P-S-O. Tentu berbeda dengan bahasa Indonesia atau Inggris yang S-P-O. Lebih menantang lagu kalau pada bahasa Korea atau Jepang yang S-O-P.

Kemudian yang saya suka juga adalah dengan kata-katanya yang sederhana namun terdengar unik walau tetap dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Seperti kata "kili-kili" (artinya ketiak, ups), atau "umuulan! umuulan!" (Hujan! Turun hujan!) yang jadi kata-kata favorit Ellen -adik saya- selain "Magandang umaga" (Selamat pagi).

Komunitas belajar bahasa Tagalog?

Namun yang saya rindukan juga sebenarnya adalah komunitas belajar bahasa Tagalog di Indonesia. Saya sudah menemukan komunitas belajar bahasa Tagalog secara global yaitu di KalyeSpeak. Namun di Indonesia masih sangat sulit. Walau sudah membuka di grup facebook, rasa-rasanya sedikit sekali (hampir tidak ada?) yang berminat. Jadi sulit menemukan rekan bicara di Indonesia.

Bahkan saya mencoba berselencar ke Google, hasilnya nihil. Yang banyak malahan penduduk Malaysia yang belajar bahasa Tagalog. 

Jika ada yang berminat, silakan japri ke saya. Tentu belajar bahasa bersama lebih baik =)

Referensi

Beberapa referensi untuk belajar:
1. Komunitas KalyeSpeak: Facebook, Situs
2. Grup FB yang saya buat, namun sepinya tidak ketolongan. Tagalog for Indonesian.
3. Channel amatir youtube dari MagicMaximo, seorang warga Amerika yang memperistri orang Filipina. Ia memiliki kemampuan bahasa Tagalog dasar, namun ia senang untuk berbagi.
4. Buku "Tagalog for Beginners" karangan Joi Barrios terbitan Tuttle. Kalau saya mengetik "Tagalog" di sesi buku di Amazon, yang keluar pertama adalah buku ini. Buku ini saya temukan di Periplus. Saya membelinya di Periplus Gandaria City.
5. Buku "Basic Tagalog for Foreignrs and Non-Tagalogs" karangan Paraluman S Aspillera terbitan Tuttle juga. Ini saya temukan di Periplus Kelapa Gading. Baru-baru ini (23 Januari 2012 lalu) saya menemukan tiga buku ini dijual dengan harga Rp 85.000,00 + Disc 50%. 
6. Beberapa lagu Filipina juga membuat saya belajar seperti lagu-lagu Ronnie Liang, Parokya ni Edgar, kemudian lagu "Para lang sa'yo" dari Aiza Seguerra (awalnya rekan saya, Limerick, yang menanyakan arti lagu ini).
7. Beberapa film box-office Filipina, Sarah Geronimo (A Very Special Love), Bea Alonzo, dan entah kenapa film yang saya tonton selalu ada John Llyod Cruz. --a

Dua buku sumber belajar saya

Dalam buku Tagalog for Beginners.  Lebih banyak ke percakapan.

Isi dalam buku Basic Tagalog, penekanannya lebih ke arah tata bahasa atau grammatikal.


Cerita lanjutan mengenai kerutan dahinya. Ia semakin mengerutkan dahi ketika saya membeli "Lao Basic" dari Periplus. Bahasa Lao? Bahasa Laos??? (Ya, sebenarnya alasan saya adalah penasaran dengan bahasa ini, dan bukunya cukup murah hanya 20an ribu saja, sedang sale di Periplus.) =D




Selasa, 29 November 2011

Annyeonghaseyo! 안녕하세요!

Dalam minggu-minggu ini, saya mungkin akan meninggalkan sejenak studi Tagalog saya dan mulai melirik bahasa Korea alias 한국 (Han-guk).

Sebenarnya saya dulu cukup penasaran dengan bahasa Korea. Saya sudah memiliki buku tata bahasa Korea sekitar 2 tahun lalu, tapi saya hanya pakai untuk mengerti penulisan Hangeul setelah itu bablas sudah. Namun karena saya berencana ingin ke Korea pada akhir tahun ini, tak ada salahnya juga bukan untuk paham bahasa mereka?

Ya, sebenarnya cukup menarik melihat tulisan a la Korea ini, dan ternyata tulisan ini adalah tulisan yang agak unik. Cara penulisannya berbeda dengan kanji Mandarin atau kana Jepang. Jika kanji Mandarin satu abjadnya adalah satu pengucapan, atau pada kana Jepang adalah satu suku kata, namun berbeda dengan abjad Hangul Korea. Ia memang satu suku kata seperti Jepang, tetapi penulisannya sebenarnya ada gabungan huruf-huruf seperti alfabet Latin.

Misalnya, 한국, sebearnya berasal dari ㅎ (h) ㅏ(a) ㄴ (n), dan ㄱ (g) ㅜ (u) ㄱ (k). Jadi, sangat-sangat mirip dengan aksara Latin. Kalau dalam aksara Latin semua dituliskan dalam bentuk memanjang, di sini penulisannya dengan gaya Kanji. Sungguh luar biasa hasil karya Raja Sejong ini. Memang dulu, sebelum abad ke-15, masyarakat Korea masih menggunakan kanji Mandarin (Hanja) dan akhirnya diganti dengan Hangul.

Selain itu, saya juga merasa tertantang untuk bisa membaca Hangul. Ya, kalau untuk membaca tulisan Latin atau sedikit kanji Mandarin mungkin saya bisa, namun untuk Hangul? Jangan salah, lumayan sulit untuk lancar membacanya. Apalagi kalau ingin membaca secara fasih seperti membaca Latin.

Yang tidak kalah buat saya penasaran adalah pengucapannya. Kalau selama ini saya menonton film Korea, mereka tampak bergumam-gumam penuh arti, atau dengan nada-nada cadelnya, atau berkata "Ne..." "Anio..." "Aboji..." atau kalau wanita-wanita suka berteriak, "Opaa.... Saranghae...." :)

Sungguh menarik tentu dan bisa menjadi pengalaman tersendiri dalam belajar bahasa Korea. Dan kini saya tengah memantapkan membaca Hangul :) Semoga saya mendapat sesuatu dalam belajar bahasa Korea.

Selasa, 22 November 2011

Maniak Buku Bahasa Asing

Saat itu saya tengah melakukan koas di Sukabumi, Jawa Barat, Tanah Parahyangan. Saat tiba di sebuah plaza, saya langsung ke toko buku. Apa yang saya cari? Kamus Bahasa Indonesia-Sunda. Dan rekan-rekan saya yang lain pun kebingungan melihat saya.

Beberapa pengalaman belajar bahasa asing sudah pernah saya tuliskan di blog ini misalkan di Belajar Logika dan Sejarah dengan Berbahasa. Dan kali ini saya terpikir untuk membahas mengenai buku bahasa yang saya punya.

Ketika saya memandang rak saya, saya tersadar bahwa koleksi buku bahasa saya tidak wajar. Pernahkah Anda melihat rak buku orang dengan deretan buku bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, Italia, Mandarin, Kanton, bahkan Latin, Tagalog, Thai. Di benak Anda mungkin, apakah iya ia belajar semua ini? 

Saya akan menjawab iya, namun tidak semua saya dalami. Seperti bahasa Thai, saya hanya sambil lalu saja, mempelajari salam seperti Sawadhee krap! (Jangan katakan Sawadhee kha! Ini untuk perempuan). Demikian juga bahasa Perancis, Italia. Yang pernah saya dalami benar adalah bahasa Indonesia (tentu), bahasa Inggris, Mandarin, Jerman. Ini yang saya pernah dapatkan secara formal.

Sedangkan lain-lainnya hanyalah karena rasa ingin tahu saja. Seperti bahasa Korea, saya penasaran bagaimana mereka membacanya. Untuk bahasa Latin, saya penganut Katolik rasa-rasanya bagai kopi tanpa susu kalau tidak tahu sedikit soal Latin. Bahasa Mandarin ya paling tidak untuk nilai plus bagi saya yang bahasa ibu Tiociu dan Hakka-nya tak lancar. Bahasa Kanton, karena saya keturunan dari Kanton dan punya saudara di Hong Kong. Bahasa Tagalog? Sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya :)

Buku seperti apa?

Ada beberapa jenis buku yang saya sukai secara pribadi, yaitu menjelaskan sejarah bahasa, tata bahasa, tulisan bahasa, kultur, dan cara pengucapan. Saya sadar bahwa saya sangat lemah di bahasa berirama, telinga saya sulit menangkap bahasa tonal, maka dari itu bahasa-bahasa Indochina seperti Mandarin, Thai, Lao, Vietnam, Khmer tidak cocok bagi saya, walaupun saya penasaran dengan di balik guratan tulisannya. Namun saya tetap berusaha di Mandarin dan Kanton, paling tidak sudah berusaha ya :D.

Buku bahasa Indonesia?

Belajar bahasa Indonesia, bukan berarti kita balik ke SD. Namun saya pun berpikir, apakah bahasa Indonesia saya sudah sampai ke tingkat mahir? Benarkah penggunaan kata-kata saya? Walaupun mungkin dalam bahasa cakapan hal ini tidak menjadi masalah yang besar. Namun ini menjadi bom ketika kita disuruh untuk membuat bahasa tulisan. Dalam bahasa tulisan, orang lain akan lebih mudah menilai kita. Karena saya merasa bahasa Indonesia saya tidak cukup mahir, maka dari itu saya akhirnya membelu buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dari Balai Pustaka. Saya pun memiliki satu kopi Ejaan yang Disempurnakan.

Saya kira jangan malu untuk terus menerus belajar bahasa Indonesia. =)

Buku bahasa Latin dan Tagalog

Kedua bahasa ini tidak populer di Indonesia. Mungkin populer di kalangan seminari (calon pastor) untuk bahasa Latin, atau pada mereka yang mau studi ke Filipina untuk belajar bahasa Tagalog. Semua ini sebenarnya berasal dari keisengan dan ternyata bahwa kedua bahasa menarik. Latin adalah bahasa hampir mati namun digunakan dalam sains dan agama Katolik, dan kalau Tagalog sebenarnya saya sempat memiliki rencana belajar ke Filipina namun saya tunda. Saat belajar Tagalog, saya juga menemukan komunitas online yang ingin mengajarkan bahasa ini, ini juga yang akhirnya membuat saya ada percikan api untuk belajar.

Kemudian di balik deretan buku ini, saya memiliki mimpi untuk melahapnya. Bahkan saya juga ingin menambahkannya dengan koleksi buku bahasa unik lainnya seperti Rusia dan bahkan Ibrani dan Arab. =D

Sabtu, 18 Juni 2011

Belajar Logika dan Sejarah dengan Berbahasa

Terkadang saya ditanyakan dengan orang-orang, mengapa saya suka dengan pengetahuan berbahasa. Yup, saya suka dengan bahasa. Paling tidak saya menguasai Bahasa Indonesia hingga tahap mahir, saya dapat menggunakannya hingga penulisan ilmiah. Bahasa Inggris saya, terus terang saja lebih bersifat pasif mendengar dan membaca, berbicara masih baik, namun yang terburuk adalah menulis. Bahasa lainnya saya pelajari hingga tahap dasar saja seperti Bahasa Mandarin, Bahasa Jerman. Saya pernah belajar bahasa lainnya, mulai dari Bahasa Latin, Jepang, namun kebanyakan saya sudah lupa >.<. Kini saya belajar bahasa Tagalog.

Saya sangat antusias belajar bahasa. Bila saya pergi ke tempat baru, saya berusaha untuk mempelajari bahasanya terlebih dahulu, misalnya seperti saya ke Thailand kemarin. (Saya hanya masih mengingat Sawadhee Krap/Kha!).

Sebenanrya, ini adalah hal yang sangat menyenangkan dalam belajar bahasa. Belajar bahasa artinya belajar berlogika dan belajar kebudayaan dasarnya. Seperti saya belajar bahasa Latin, bahasa yang dikatakan hampir mati, karena kini hanya digunakan di Tanah Suci Vatikan dalam berbahasa sedangkan dalam keilmuan digunakan sebagai istilah saja. Namun di dalamnya terkandung banyak nilai sejarah, apa yang terjadi dalam kehidupan Romawi dulu. Banyak sekali hal-hal yang dapat ditarik.

Bermain Logika

Selain itu logika juga turut bermain. Mungkin kita yang menguasai bahasa Indonesia, sudah terbiasa dengan logika berbahasa kita. Ketika berhadapan dengan bahasa Inggris menjadi merasa pusing. Mulai dari perubahan kata kerja menurut waktu dan segala tenses yang ada.

Ok, ini hanya dalam bahasa Inggris. Ketika saya masuk belajar bahasa Jerman di Goethe (karena saat itu ada rencana studi di Jerman, namun akhirnya gagal total =D). Saya terkaget dengan logika bahasa yang baru lagi. Mulai dari kata benda berjenis kelamin (maskulin, feminin, neutral),  macam-macam kata ganti (pronomen, akkusativ, kausativ, genetiv, dll), hingga logika dengan kata ehm... -saya lupa, kalau di bahasa Inggris disebut auxilliary verb-, yang harus menempatkan kata kerjanya bentuk pertama di paling belakang.

Belum lagi kini saya mempelajari Tagalog yang bisa menukar susunan kalimat dari SP (Subjek-predikat) menjadi PS (Predikat-subjek), tergantung dari seperti apa penekanan kalimatnya, seperti Si Budi ay mabait, bisa menjadi Mabait si Budi. Memusingkan, namun ini sangat menyenangkan. Kita bisa belajar logika mereka.

Budaya


Yang bisa dinikmati juga adalah mempelajari sisi budayanya. Hal ini bisa menjadi jembatan mempelajari latar historis, budaya tanpa berkunjung ke sana (Tapi tetap mau kalau bisa ke sana? :D ).

Misalnya saja dalam bahasa Indonesia, kita akan banyak menemukan kata serapan dari bahasa Belanda, Arab, China, Sanskrit, Jawa, Sunda, Melayu dan lainnya. Ini menandakan bahwa bangsa Indonesia melewati berbagai banyak hal saat perjalanan sejarahnya.

Selain itu kita bisa melihat relasi antar bahasa, misalnya setelah saya pelajari Bahasa Tagalog memiliki kedekatan dengan bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Jawa. Mungkin memang karena ditelusuri, bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia masih dalam satu keluarga bahasa. Misalnya saja angka dalam Bahasa Tagalog seperti isa, dalawa, tatlo, ampat, lima, anim, pito, walo, sayim, sampo. Mirip kan?

Suatu hal yang mengagumkan bukan?

Keinginan

Saya masih menginginkan belajar bahasa-bahasa lainnya, terutama bahasa yang tak biasa. Misalnya bahasa-bahasa besar Eropa (Italia, Perancis, Spanyol, Belanda) bahasa Yunani, bahasa Skandinavia, bahasa Rusia dengan huruf cyrillic-nya, bahasa Korea, dan lainnya. Karena ini semua membantu saya membuka dunia.

Minggu, 09 Januari 2011

Resolusi 2011

Hal ini terangkat dari rekan-rekan yang tengah gencar menuliskan Resolusi mereka di tahun 2011. Bagaimana dengan resolusi saya?


1. Menentukan Jargon Kriteria "Mau Jadi Dokter Seperti Apa?"

2. Menyelesaikan Sisa Kepaniteraan Klinik agar tak lagi jadi sarden dan lulus tepat waktu

3. Lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia

4. Menentukan Minat Bidang Studi Lanjut (PTT? Sp atau Magister?)

5. Mengembangkan Bahasa, terutama Bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman

6. Travelling setelah koas

7. Cari pengalaman dunia kerja setelah koas

8. Terus memperbaiki diri, spirituil terutama berpikir positif dan mengendalikan diri

9. Mengembangkan kemampuan menulis, minimal 1 tulisan masuk ke media cetak

10. Memperbaiki berat badan, menuju ke BMI Overweight (Bye bye- Obese 1)

11. Menjalani resolusi dengan tepat guna.

Minggu, 26 Desember 2010

Setelah Koas, Belajar Bahasa!

Saya dan rekan-rekan saat studi Bahasa Jerman di Goethe Institut Internationes Jakarta, Menteng.
Kalau tidak salah ini tahun 2003-2004!

Saya tiba-tiba ingin sekali menulis tentang ini. Ya, mungkin ini adalah tulisan mengenai hal-hal yang akan segera datang (Yeay!) paling tidak kurang dari 1 tahun mendatang. Artinya? Setelah saya menyelesaikan studi di Kepaniteraan Klinik ini. Mengapa harus setelah koas? Ya, koas ini secara tidak langsung mengubur beberapa impian saya, membuat hal-hal tidak bisa saya lakukan dalam masa ini. Ya, artinya hal-hal ini sudah terkubur selama 1,5 tahun terakhir. Saya sangat tidak sabar menunggu pertengahan 2011, dan artinya saya akan "bebas". Hahaha!

Pertama, saya sangat ingin melanjutkan kembali mempelajari kembali bahasa-bahasa, terutama beberapa bahasa yang saya rasa tanggung. Ya dulu sempat mempelajari beberapa tata bahasa sederhana. Saya ingin sekali melanjutkan lagi belajar bahasa Jerman, bahasa Mandarin, belajar bahasa Tio Ciu (Masak orang Pontianak, Tio Ciunya amburadul?), bahasa Jepang, bahasa Tagalog, dan ada keinginan untuk satu dari bahasa Eropa Selatan (Italia, mungkin?) dan satu bahasa Eropa Timur (Rusia!).

Saya kembali terinspirasi dari salah satu pengguna Youtube, loki2504, yang belajar banyak sekali bahasa dan dia bisa mempraktikkan dengan lancar. Seandainya, saya bisa seperti dia! Ingin sekali bisa seperti dia.

Hingga kini yang lancar saya hanya bisa Bahasa Indonesia (Hiks) baik untuk berbicara, menulis, dan mendengar serta menulis ilmiah. Bahasa Inggris ya kalau membaca buku teks kedokteran masih bisa, tapi berantakan juga kalau disuruh presentasi ilmiah (Jadi ingat presentasi Emergency Case Report ketika di stase Bedah). Kelompok bahasa Mandarin menjadi suatu impian juga untuk dikuasai, ya karena saya keturunan Tionghoa, paling tidak saya harus bisa juga. Bahasa Jepang sedikit-sedikit tahu kana (itu dulu, sekarang lupaa... ) karena kekerapan menonton anime. Bahasa Jerman, karena dulu terlanjur bahasa belajar resmi di Goethe. Bahasa lainnya menjadi keinginan.

Saya memang berusaha mempelajari secara otodidak, mendengar melalui ipod (sekarang ipodnya diwariskan ke adik saya). Koleksi beberapa buku belajar bahasa pun ada. Namun waktu tidak ada... Yang ada pulang ke rumah setelah koas, capai, dan tidur. Atau kalau tidak mengerjakan tugas. Hemmm, impian itu masih ada, dan sempat terkubur dan terlupa. Tetapi sejak melihat video dari loki2504, mimpi itu kembali bangkit.

Mungkin Anda bertanya mengapa susah-susah belajar bahasa? Saya juga sulit menjawabnya. Bagi saya sangat menarik belajar bahasa, dan itu sangat membuka wawasan yang ada di luar ilmu berbahasa lokal. Dan ternyata saya baru menyadari bahwa ini juga berhubungan dengan salah satu impian saya lainnya (setelah koas, tentunya) yaitu menjelajah, berpergian, keliling dunia. Semoga mimpi itu tetap ada!