Tampilkan postingan dengan label pasien. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasien. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2013

Tenaga Kesehatan pun Punya Perasaan: Sopanlah dengan Dokter Anda

Suatu saat rekan online saya, dr. Andreas Kurniawan, memoskan suatu gambar yang menarik. Gambar tersebut ia dapat dari sebuah blog The Travel Art. Dari gambar tersebut mengatakan demikian, "Tenaga Kesehatan pun Punya Perasaan: Bersikap sopanlah dengan dokter Anda." Dari gambar tersebut tampak dokter berkulit hitam yang tengah dimarahi oleh pasiennya. Ya, ternyata inilah sebuah gambaran dari masyarakat di Malawi yang diambil pertengahan tahun 2008 silam.

  13820789611245704766 

Gambar tersebut diambil oleh seorang Barat yang tengah berkunjung ke Livingstonia, Malawi, negara di Afrika. Ia merasa heran karena di dunia Barat, dokter begitu dihormati. Namun di Afrika, entah mungkin karakter penduduk, dokter sering dibentak atau diomeli. Ya tentunya, di sini kita menyampingkan dahulu delik dugaan malapraktik atau kekeliruan.

Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, paling tidak selama saya menjalani pendidikan dan program PTT di daerah terpencil di Kalimantan Barat, untungnya saya tidak menemukan hal ini. Walau saya pun tidak jarang juga mendengar jeritan hati sejawat yang diperlakukan tidak baik oleh masyarakat di daerah lain. Kita tidak bisa menutup mata dengan ini. Jika demikian, apakah dokter harus dihormati? Saya jawab tegas, "Iya!". Namun tentunya dihormati bukan berarti sama dengan kami gila hormat. Namun kami pun menghormati pasien kami. Ya, sesuai aturan emas, "Lakukanlah kepada orang lain seperti apa Anda sendiri ingin diperlakukan." Sebenarnya hal ini tak berlaku di dalam relasi dokter-pasien saja, namun kepada semua orang, siapapun itu.

Masalah Pasien di Pedesaan?

Saya sudah menjalaninya selama 1 tahun di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Sekali lai apakah mungkin saya yang untung, bahwa relasi saya dengan masyarakat tidak ada masalah. Masyarakat justru mudah sekali mengenal "Pak Dokter", dan menyapa serta membantu saya ketika bertemu di pasar kecamatan. Tak jarang pula buah tangan pun diberi. Ya, pikir saya, selama kita mampu membawa diri dan menegakkan aturan emas, semua akan lancar-lancar saja.

Masalah di Pasien Perkotaan
Justru, saya melihat ada tunas masalah di daerah perkotaan. Dari sisi dokter, mungkin dokter tersebut terlalu tergesa-gesa, memiliki jam praktik yang ketat, sehingga kurang memiliki waktu untuk mendengar pasien dan memberi informasi. Dari sisi pasien juga, tidak sedikit pasien yang mulai mengarah ke swadiagnosis atau self-diagnosis karena mudahnya mendapat informasi medis, atau bahkan ekstrimnya malah tidak tahu sama sekali. Apalagi kalau ditambah bumbu sifat "sok tahu". Hal inilah yang sering kali menjadi bibit konflik di atas meja praktik sampai ke meja hijau.

Solusinya?

Saya kira, kembali ke aturan emas tadi dan kembali ke "kodrat"-nya masing-masing antara dokter dan pasien. Dokter dan pasien harus tahu betul apa-apa saja yang menjadi hak dan kewajiban mereka, sehingga relasi dokter-pasien pun sarat keharmonisan. Sebenarnya hal ini sudah sering kita dengar di masyarakat kok.

Pernah dengar, "Anda sopan, kami segan?"

Rabu, 27 Maret 2013

"Dokter, Tidak Akan Marah Kok"

Ada cerita unik, ketika saya bertemu dengan seorang ibu di rawat inap Puskesmas.

Saya: "Malam bu. Gajah, kitak agik ampus ka Puskesmas. Ada ahe nian?" (Malam bu. Ya ampun, Anda lagi datang ke Puskesmas. Ada apa ini?)

Ibu: "Auk Pak Dokter a. Itulah kami punya kaluarga ayak, manyak bapage. Tumare koa pak uda ku, nang ampeatn koa ipar ku" (Iya Pak Dokter. Itulah kami keluarga besar, banyak saudara. Kemarin itu om saya, sekarang ipar saya.)

Saya: "Ooo... Lekoa." (Oooo... Begitu.)

Lalu saya bersama ia masuk bersama Om Saibu, staf Puskesmas yang sedang dinas sore. Singkat cerita kami banyak berbicara, terutama tentang "pak uda"-nya yang sakit 2 hari yang lalu. Pak uda-nya ini dirawat di Puskesmas dan kemudian dirujuk ke Pontianak untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Namun, Bapak ini sebelum dirujuk sempat membuat "heboh" Puskesmas. Sebenarnya ia sudah mau dibawa rujuk ke Pontianak pada pukul 22:00 malam setelah semua keluarga dari Pontianak bersepakat. Namun pasien tersebut berkata lain dan keras kepala tidak mau dibawa, dan saya pun berusaha membujuk Bapak itu juga sampai ia berbicara kalimat pamungkasnya dengan suara agak tinggi, "Ba'i aku diincakng ka Pontianak. Parasaatnku tak nyaman, bisa calaka kita." (Tak mau saya dibawa ke Pontianak. Perasaanku tidak enak, bisa celaka kita.") Ya ini adalah kalimat pamungkas seperti yang saya katakan, tidak ada yang berani memaksa lagi jika ada yang berkata demikian. Hingga akhirnya keadaan memburuk dan pasien meminta sendiri untuk merujuk lagi pukul 03:00 pagi.

Bagaimana perasaan saya yang dibangunkan dua kali "hanya" untuk menyetujui rujukan di tengah subuh dan mimpi indah karena pasien yang tampaknya "keras kepala"? Ya seketika mungkin rasa dongkol, tapi saya selalu merasa tak elok mengungkapkannya.

Si ibu yang saya bertemu pada awal tulisan ini berkata ternyata ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya, bisa dikatakan konflik keluarga baik vertikal dan horizontal. Mungkin sebagai suatu mekanisme defensi secara emosional dari si Bapak ini, ia berbuat demikian, berbuat menolak pendapat-pendapat keluarganya.

Ibu itu mengatakan sesuatu yang menyentuh hati, "Oh ya Pak Dokter. Bapak titip pesan, ketika saya bertemu dengan Pak Dokter. Bapak minta maaf karena sudah bera (marah) ke Pak Dokter. Dia tidak bermaksud demikian. Saya katakan padanya, Dokter tidak akan marah." Di satu sisi saya tersentuh dan menjadi teringat akan sang Bapak, dan kedua ada pesan eksplisit dari si ibu, "Dokter tidak akan marah". Ya ada suatu ekspektasi atau harapan dari pasien.

Dokter yang pemarah pun pernah saya temui sejak dari pendidikan sampai sekarang. Banyak dokter yang kadang tersulut emosi ketika beban pikiran begitu berat dan belum lagi masalah lainnya selain masalah pasien. Pekerjaan dokter memang riskan untuk mengalami tekanan mental yang luar biasa. Tapi pasien, perawat, rekan kerja pun tak ada yang mau kena omelan bukan? Manusia setengah dewa ini, memang digadang-gadang menjadi seseorang yang welas kasih dan lembut.

Ya, saya pun agak menyesali sikap dongkol saya subuh itu setelah mendengar cerita itu, karena saya sudah keburu marah dan ternyata tidak ada maksud Bapak itu dengan sengaja. Dia hanya perlu waktu untuk mengungkapkan kekecewaannha pada keluarganya itu.

Saya pun perlu terus belajar mengelola emosi. Walau demikian, pasien tetap sesama. Kalau Anda menjadi pasien, maukah Anda atau bagaimana perasaan Anda jika dokter Anda marah atau paling tidak, jutek? Tentu tidak ada yang mau. Aturan emas lagi-lagi berlaku.

Pasien pun harus mengelola emosinya juga, walaupun demikian, pendapat saya, posisi dokterlah yang harus lebih legawa untuk menahan emosinya. Jika tidak ada satu pihak yang legawa atau tepa selira, maka timbullah masalah lainnya yang tak kunjung padam. Setuju?

 

Rabu, 06 Maret 2013

Pertanyaan "Sepele" Kepada Pasien

Suatu hal yang masih saya ingat dan tidak lupa saya lakukan saat melakukan anamnesis atau visite adalah sedikit berbasa-basi dengan pasien. Mungkin ini bukan basa-basi biasa.


Perihal saya dapat dari salah satu guru saya saat di Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya. Ya, tiga atau empat tahun yang lampau. Saat itu saya tengah ronde pagi (keliling memeriksa dan melaporkan keadaan pasien) bersama dr. Iwan Irawan, SpB. Kami di Atma Jaya sudah bak residen (peserta didik dokter spesialis). Semua harus detail kami perhatikan. Suatu saat itu, saya sudah hapal luar kepala apa yang perlu saya laporkan dari keluhan pasien, hasil pemeriksaan, diagnosis, dan rencana tatalaksana yang diusulkan untuk disetujui (SOAP, kami menyebutnya). Di satu titik saya tiba-tiba ditembak oleh konsulen, "Di mana Bapak ini tinggal?" Saya pun mulai buyar. "Ia berapa bersaudara?" Nah lo, pikir saya dalam hati. "Ini perlu kamu tahu, supaya memungkinkan tidak dia konsultasi lanjut, yang mengantarnya, dan lainnya... Lalu kemudian kemarin dia bisa tidur atau tidak?"

Mungkin saat itu saya berpikir, hal itu sepele. "Untuk apa sih saya perlu tahu hal itu? Apa mungkin kelak saya perlu tahu zodiaknya apa?" Tapi pada akhirnya keluh kesah ini menjadi makna pada kemudian hari.

Ya, tampak sepele. Tapi itu memiliki banyak makna.

Pertama, seperti yang ditekankan alm Prof Sidharta dalam bukunya dan alm dr. AJ Gozali SpPD waktu dulu mengajar. Anamnesa atau wawancara pasien itu penting. Konon 70-80% diagnosis akan tegak. Jadi, kita harus banyak bertanya pada pasien. Tapi apa hubungannya kelak dengan pertanyaan "sepele" itu? Ya, kita bisa akan banyak tahu soal kebiasaan atau sedentary lifestyle yang bisa memicu gangguan kesehatannya.

Kemudian kita bisa memperkirakan bagaimana tatalaksana lanjut pasien. Seperti saya di Menjalin, banyak desa-desa sangat terpencil. Maka kira-kira kita dapat tahu bagaimana mengedukasi atau berpesan pada pasien, walau memang realisasinya pun dipertanyakan. Namun kita telah melakukan hal yang seharusnya.

Kedua, ini bisa membangun relasi dengan pasien. Salah satu kawan saya, Ricky, mengatakan demikian, "Itu menambah kepercayaan pasien terhadap kita dan pasien serta keluarganya jadi merasa diperhatikan banget."

Ya, banyak keluarga yang senang ditanya dimana, bagaimana dirinya. Apalagi pasien lansia yang ditanya berapa cucu dan cicitnya. Mereka senang sekali, walau mereka tengah terbaring lemah.

Saya pun sering juga visite sambil sedikit bergurau agar suasana menjadi lebih cair antara dokter dan pasien. Dan pertanyaan-pertanyaan sepele itu pun membuat suatu cerita yang bisa diperbincangkan antara pasien dan dokter. Apalagi di desa, bisa terkuak gosip-gosip desa (loh?). Hehehe...

Memang walau demikian saya menyadari tidak semua hal kepada pasien ini saya terapkan kepada keluarga atau rekan saya diluar relasi pasien. Tapi entah kenapa saya lebih selesa jika melakukannya bersama pasien. Entahlah... (Jadi curcol? :p)

 

Jumat, 23 November 2012

Ya Inilah Risiko Seorang Dokter

Ada suatu hal yang ingin saya bagi. Suatu hal unik yang menyentil hati nurani saya sebagai dokter.

Suatu saat, saya mengabari ibunda saya, seorang ibu rumah tangga. Saya mengatakan maaf baru membala pesan singkatnya karena saya baru saja dipanggil ke rumah warga. Ya, mungkin karena insting ibu-ibu, ia menanyakan setiap detail.

Saya mengatakan bahwa saya melakukan resusitasi jantung paru pada pasien yang diduga terkena serangan jantung dan stroke. Ketika saya di sana, saya merasa masih bisa meraba sedikit nadi pasien tersebut dan akhirnya saya melakukan resusitasi itu hingga saya melihat bahwa pasien telah tak dapat diselamatkan lagi dan saya nyatakan pasien meninggal.

Ibu bertanya lagi detail bagaimana saya melakukan resusitasi tersebut. Saya mengatakan menekan-nekan dan memberi bantuan nafas kepada pasien. Ia bertanya apakah mulut ke mulut, saya mengatakan kebetulan saya membawa masker udara dari pelatihan ACLS dahulu. Saya tak membuat bantuan mulut ke mulut langsung.

Hingga suatu saat yang membuat saya gerah, bahwa kata ibunda, janganlah terlalu 'idealistis' menjadi seorang dokter, tak perlu katanya memberi bantuan nafas, "cukup pompa-pompa saja". Memang maksudnya baik, bahwa saya takut tertular penyakit dari "nafas" itu. Di kala dokter mempertahankan idealismenya dan menghindari malpraktik, nurani saya teriris perih.

Saya mencoba memberikan beberapa argumen pada ibunda:

  1. Apa yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, selalu memperhatikan kewaspadaan universal, bahwa mengondisikan atau memperhatikan sekitarnya agar dirinya tetap terhindar dari hal yang seharusnya dapat dihindari.
  2. Terkena penyakit memang risiko dokter dan tenaga kesehatan, namun seperti poin 1 bahwa kewaspadaan universal tetap dilakukan. Bagi saya, jika, umpamanya, suatu ketika saya dihadiahkan penyakit yang tertular karena kontak saya dengan pasien, saya tidak akan mempersalahkan siapa-siapa atau menyesalinya. Ya, memang itulah risiko saya sebagai dokter. Orang yang mencari dokter, adalah orang-orang yang memang sakit. Dan inilah klien dokter. Begitu pula bahwa profesi lain memiliki risiko-risikonya sendiri.
  3. Melakukan hal yang melemahkan pasien dengan mencoba melindungi diri secara berlebihan adalah hal yang sungguh keliru. Misalnya ada pasien yang perlu resusitasi, memberi nafas buatan, tetapi dalam diri Anda percaya sekali bahwa saya malah akan mendapat hawa nafasnya dan akan merugikan saya. Padahal sesuai ilmu yang sudah diamini, dengan hembusan nafas Anda, suatu rencana Pencipta bisa saja terjadi. Saya mengingat kembali ketika membantu bayi P, dimana saya dengan refleks memberi nafas mulut ke mulut. Dan suatu kebanggaan diri bagi saya ketika bayi P ini datang ke poli saya dan mengobati batuk pileknya. Saya sempat tercetus bahwa jika saja bayi biru itu tak saya beri nafas, apa mungkin dia kini bisa tumbuh baik. Bagi saya, sudah sangat cukup jika diri saya ini mampu berguna bagi mereka yang memerlukan saya, khususnya saya sebagai dokter.
  4. Coba kita memposisikan diri kita sebagai keluarga pasien. Bagaimana perasaan kita bila asa saudara kita yang sekarat yang memerlukan pertolongan kegawatdaruratan tapi dokternya memberi dengan setengah hati? Apakah hati kita tak sakit dibuatnya?
  5. Saya mengatakan bahwa saya adalah dokter desa, dokter dengan segala keterbatasannya. Ketika saya dalam keadaan tak membawa ambu bag, apakah saya boleh meniadakan bantuan nafas karena saya takut atau jijik dengan bantuan mulut ke mulut? Kalau saya memiliki fasilitas yang lengkap, maka tentu tidak demikian. Namun saya juga tak boleh menggerutu di balik ini, apapun itu saya tetap harus mencoba apa yang saya bisa untuk kebaikan pasien. Saya mempercayai satu hal, bahwa memang dalam keterbatasan mungkin tak sebaik yang lengkap, namun apapun itu seberkas cahaya tetap ada. Cahaya itu tetap ada dan dokter di dalam berkat Yang Kuasa, memberikan hal yang terbaik yang dapat diberikan.
Saya memang dokter yang idealis. Idealisme saya dan Anda mungkin berbeda. Mari kita kejar idealis dan harapan kita masing-masing. Dan inilah jalan hidup kita. Saya pun mengerti kecemasan dan kekhawatiran orang tua saya. Saya mencoba menjelaskan dunia profesi saya, yang mungkin asing bagi mereka.

 

*Dituliskan di Menjalin.

 

Rabu, 13 Juni 2012

Saat Pasien Menghadap Bapa

Hari ini adalah hari yang cukup mengena di hati saya dan mungkin hari di mana seluruh dokter pun di dunia pun pernah mengingatnya. Hari di mana seorang dokter kehilangan seorang pasiennya untuk selamanya.

Ya, hari ini pasien yang saya rawat menghadap Bapa. Kami berusaha dalam keterbatasan, memang Puskesmas di daerah tidak selengkap rumah sakit, dan kami pun masih harus bergelut dengan pertimbangan sosioekonomi dan lainnya. Apa yang saya lakukan memang tak serta merta buku teks yang begitu lugasnya menyatakan pasien ini harus dirujuk dan lainnya.



Dengan pasien ini, memang nurani saya berasa berbeda dengan pasien sebelumnya. Saya merasakan sesuatu insting yang tak nyaman. Hati saya berkata lain. Pasien ini tak biasa. Badannya begitu terkulai, kurus tak berdaya. Berbicara pun payah. Saya melihat kakinya yang bengkak. Di pikiran saya sudah bermain-main, "Gagal ginjal kah? Gangguan imunologis? Malnutrisi berat? Gangguan jantung?".

Saya pun meminta untuk segera memasang jalur infus untuk keperluan nanti. Saya pun meminta keluarga untuk segera merujuk ke rumah sakit, namun keluarga meminta untuk esok pagi saja. Saya hanya bisa menjawab bahwa, kami berusaha sebaik yang kami bisa di sini, tetapi memang lebih baik dirujuk. Namun semua kembali ke pertimbangan keluarga.

Dan tak lama 2-3 jam kemudian, saya dipanggil. Salah satu keluarga itu datang dan berkata, "Dok, tampaknya dia sudah tidak ada." Seketika adrenalin saya pecah ke ubun-ubun. Saya langsung menyergap tas kecil saya dan memanggil bantuan perawat. Ketika saya tiba di bangsal, memang sudah tidak berdaya, tidak ada denyut nadi, pupil sudah sangat melebar. Saya mencoba resusitasi dan hasilnya tetap nihil. Dan inilah saya pertama kali menyatakan, "Bapak sudah tidak ada." Dan seketika hening.

Perasaan berkecamuk dalam benak saya, ketika saya berjalan ke rumah dinas. Saya bertanya-tanya mengapa, apa yang sebabkan ia meninggal? Dan seketika saya merasakan nurani saya. Saya mungkin sangat senang, bahwa pasien saya sembuh, membaik. Bagaimana bila pasien meninggal? Tak pelak saya mencoba mengoreksi diri dan mencoba menyerahkan pada Tuhan.

Namun saya mencoba berpikir lagi, dokter tetap harus profesional. Konon, empati yang harus ditunjukkan, bukan simpati, apalagi apatis. Namun perasaan ini tetap melayang-layang dengan beribu perkataan.

Saya pun sempat melakukan kilas balik, ketika dulu koas. Saya seperti sudah "biasa saja" dengan kematian pasien, kecuali resusitasi jantung paru saya yang pertama saat stase Penyakit Dalam. Namun perasaan ini kembali lagi mencuat.

Saya mencoba lagi untuk membela diri, inilah hidup manusia dengan dinamikanya, ada senang dan susah, ada hidup dan kelahiran. Dan inilah pekerjaan dokter dan petugas kesehatan yang mana manusia adalah "objek" ilmunya, dan seketika mereka menceburkan diri juga dalam dinamika manusia tersebut.

13 Juni 2012, 00:31 WIB
Setelah sehabis menemani Mas Pur mengantar jenazah pasien tersebut di Silung, Menjalin.

Selasa, 01 Mei 2012

Komunikasi dengan Pasien, Tak Semudah Itu

Well, cuaca di Menjalin sedang panas-panasnya. Rasa ingin meleleh, namun ini tidak menggentarkan saya untuk tetap menulis.

Saya ingin berbagi mengenai hal ini. Saya mengalaminya sudah dua kali sebagai dokter PTT, walaupun sebenarnya sudah puluhan kali jika dihitung selama masa koas. Namanya kesulitan komunikasi dengan pasien.



Stroke


Yang pertama adalah ketika saya mencoba menikmati pagi pada Sabtu kemarin, tiba-tiba saya dipanggil oleh seseorang laki-laki bermotor. Teriaknya, "Tolong Pak ada yang sakit di gereja Advent sana." Saya pun langsung mengganti celana pendek saya dan mengambil perlengkapan seadanya. Saya pun dijemput dan diantar ke gereja.

Terlihat bagi saya seorang ibu 68 tahun, tergeletak di bangku gereja tak berdaya. Mengorok. Saya pun terlintas di kepala, wah apakah ini sinkop? Stroke? Apa yang dialami ibu ini Tuhan?

Saya mencoba memeriksa, tekanan darah 240/120 mmHg, gerakan refleks pupil kanan tidak bergerak, ada refleks saraf yang patologis. Saya pun menyimpulkan bahwa ini kemungkinan besar adalah stroke perdarahan. Saya pun berkata pada suaminya, "Pak. Kemungkinan ini stroke. Kita tidak bisa merawatnya di sini. Mumpung ini masih baru saja kejadiannya. Kita bisa cepat larikan ke Mempawah atau Pontianak untuk mendapatkan penanganan lanjut."

"Apakah bisa diselamatkan dokter?", tanya suaminya.

That's a though question. "Kita berharap yang terbaik pak. Kita larikan lebih cepat lebih baik."

"Saya mau dirawat di sini saja, dok."

Oh Tidak, Tuhan, pikirku. Saya mencoba mengatakannya, "Rawat inap Puskesmas tidak memungkinkan Pak. Tidak ada alatnya. Ini perlu obat suntik, monitor."

Salah satu umat lainnya mengatakan, "Kalau begitu bawa saja ke klinik susteran." Ini bukanlah pilihan yang lebih baik, pikirku lagi. Saya mencoba melobi pemikiran medis saya dengan pendeta. Namun ia mengatakan, "Memang benar dok. Namun memang ini pilihan dia. Keputusannya padanya."

Memang mungkin persetujuan keluarga sebagai proxy consent memang demikian adanya. Hati kecilku tidak setuju. Kita masih bisa berjuang dengan prognosis yang lebih baik.

Pada akhirya dengan ambulans kecamatan, ibu tersebut dirujuk ke klinik susteran. Sesuai dengan pikiranku, klinik susteran pun tidak mampu merawat. Memang, secara medis kasus ini harus dilarikan ke rumah sakit. Stroke berpacu dengan waktu. Setelah mendapat penjelasan suster, sang suami mengatakan, "Baiklah suster. Kita ke Mempawah."

Sayapun lega mendengarnya. Saya tidak mengantar sampai ke Mempawah dan saya turun di Puskesmas. 10 menit kemudian saat saya nongkrong di warung depan Puskesmas, saya melihat mobil ambulans kembali lagi. Saya bertanya pada Mas Pur, pengendara ambulans, apa sebab ia kembali. Ternyata suaminya meminta berhenti di rumahnya saja, tidak perlu ke Mempawah. Menurutnya, ia sudah pasrah. Saya pun hanya bisa menghormati keputusan itu.

Pada siang pukul 14, saya sempat dipanggil lagi ke rumah pasien untuk memperbaiki infus yang macet. Saya pun melihat keadaan yang makin buruk. Badannya panas sekali, khas stroke. Berdasarkan pengalaman saya di stase saraf, ini prognosis yang buruk. Sangat buruk.

Dan memang pada pukul 16 saya mendapat kabar duka bahwa ia telah meninggal.

Dalam hati kecil saya lagi, saya berandai-andai, andaikan ia cepat dirujuk "mungkin" ia akan tak seperti ini. Namun saya mengatakan lagi dalam diri saya, tidak ada ketepatan dalam hidup ini. Dan saya pun mencoba membela diri, mungkin ini yang terbaik dan jalannya, sesuai dengan kepasrahan suaminya.

Fraktur Terbuka


Yang kedua, baru saja terjadi kemarin. Saya dipanggil lagi untuk memeriksa pasien di Baweng, Desa Lamoanak. Dengan perjalanan jauh, hampir jatuh dari boncengan motor. Di sana ada seorang bapak mengalami patah tulang terbuka. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga tulang betis dan kering kanannya patah dan remuk dan sebagian tulang keringnya keluar dari kulit.

Ia sebenarnya sudah mendapat penanganan di Mempawah. Namun setelah saya gali, ternyata mereka minta pulang lagi atas permintaan keluarga. Saya mengelus dada. Mempawah adalah kota yang dekat dengan Pontianak, tempat satu-satunya yang ada dokter bedah ortopedi (bedah tulang). Tinggal selangkah lagi ia akan mendapatkan penanganan yang baik.

Keluarga tersebut menanyakan kepada saya, apakah bisa saya masukkan kembali tulang itu dan selanjutnya dirujuk saja ke dukun tulang kampung. Dalam imajinasi saya, there is a facepalm. Saya mencoba menjelaskan ini tidak mungkin saya reposisi mengingat keadaannya yang sudah bengkak. Pergeseran tulangnya pun sudah 2 cm ke depan dan patahan tulang saling bertumpu. Ini memerlukan penanganan seperti pemasangan pen.

Keluarga pun masih bersikeras. Saya menolak dan ini adalah kasus yang perlu dirujuk, lebih cepat lebih baik. Apalagi tulang ini sangat terekspos keluar.

Dengan segala daya upaya, menjelaskan satu per satu pada setiap pertanyaan. Mereka pun mau dirujuk. Saya bernapas lega lagi.

Komunikasi pasien


Apa yang saya dapat bahwa komunikasi dengan pasien dan keluarga adalah suatu hal yang sulit, sangat sulit. Apalagi jika mereka sudah berkomitmen atau memegang prinsip tertentu. Apa yang saya bisa lakukan sebagai dokter adalah menjelaskan sesuai dengan keilmuan saya sebagai medis. Apa yang terbaik secara medis inilah yang saya tawarkan. Walaupun memang tidak semua pasien akan mendengar advis saya.

Memang, apapun itu, ketika informed consent sudah terbubuhi tanda tangan, dokter seperti "lepas tangan". Namun saya pribadi memang tidak dapat langsung setenang itu. Saya sering kali ingin mencoba menawarkan terus. Namun saya sadar bahwa saya tidak dalam kapasitas demikian. I have done my job.

Namun saya pun berpikir lagi, sudah tepatkah hal yang saya lakukan ini? Ini menjadi sebuah kontemplasi.

Selasa, 17 April 2012

Anak F, Pasien Rawat Inap Pertamaku

Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang dokter, ketika melihat pasiennya kian pulih.

Inilah yang saya rasakan beberapa menit lalu, ketika memulangkan pasien rawat inap di pagi hari setelah visite pagi. Tawa, senyuman, dan lambaian tangan dari anak F, seorang pasien yang saya anjurkan untuk rawat inap di Puskesmas. Dan ia pun menjadi pasien rawat inap yang saya secara mandiri rawat.

Anak F, 1,5 tahun, datang pada kemarin malam dengan keluhan gastroenteritis (alias diare) dehidrasi ringan/sedang. Karena melihat keadaannya yang lemas, sulit minum, dan mata sudah mulai tampak cekung, saya menganjurkan rawat inap untuk diberikan cairan infus untuk mengoreksi keadaan dehidrasinya.

Si kecil F pun saya rawat dan saya observasi pada jam-jam pertama, hingga saya memberikan cairan yang cukup untuk menjaga dehidrasinya sampai esok pagi.

Dan datanglah pagi, saya bersiap untuk visite dan menemuinya ia sudah berada di pangkuan ayahnya dan aktif sambil memakan biskuit regalnya. Spontan saya berkata dalam hati, "Puji Tuhan! Ia sudah membaik dibandingkan malam tadi!" Saya sangat senang, bahwa apa yang saya lakukan berhasil. Padahal saya sudah deg-degan saja, bagaimana hasil terapi saya padanya.

Ketika ditanya kepada ayahnya, ia mengatakan anaknya tampak lebih aktif dibandingkan tadi malam, matanya sudah mulai tidak cekung, dan ia sudah aktif minum.

Sekali lagi, saya sangat senang mendengarnya. Syukur kepada Tuhan, pasienku kian pulih.

Syukron.

Rabu, 05 Oktober 2011

Dokter pun Juga Manusia, Cemas Bila Dibedah


Cemas. Yup, ini yang saya rasakan menjelang operasi esok hari. Besok pukul 4 sore, saya akan menjalani bedah untuk ekstraksi atau pengeluaran gigi bungsu saya yang tumbuh miring tidak pada tempatnya. Apapun itu yang saya rasakan adalah cemas. Saya tahu saya adalah seorang dokter. Seorang dokter! Namun kini saya berposisi sebagai seorang pasien. Pasien yang cemas menghadapi operasi.

Mengingat pasienku dulu


Saya masih ingat betul, 2 tahun lalu, ketika saya menjalani pendidikan profesi. Tepat waktu itu saya menjalani siklus ilmu bedah. Saya masih ingat Tuan R yang mengalami fraktur pada tulang di kakinya (os calcaneus kalau saya tak salah).

Karena saat itu siklus masih bersifat integrasi dengan anestesi, saya juga melakukan pemeriksaan pra-bedah (pre-op). Saat itu ibu dan ayahnya cemas bukan main, mereka khawatir dengan bedah ini. Mengingat mereka sempat kehilangan anaknya yang tak bisa tertolong karena meninggal akibat kecelakaan. Cemaslah mereka. Saat itu, saya adalah dokter muda yang menangani kasus itu. Saya hanya bisa menepuk bahu sang ayah, "Tenang pak, kami mencoba melakukan yang terbaik. Berdoa untuk dia dan kami ya." Saat itu saya mungkin hanya berkata sesuai dengan apa yang diajarkan dalam buku teks medis, bahwa sebagai dokter kita harus mendukung pasien, atau meningkatkan semangatnya. Saya kira hanya dengan begitu, selesai tugas saya, dan pasien menjadi tenang. Kini saya sadar bahwa apa yang saya lakukan mungkin hanyalah sebuah untaian kata dalam checklist buku teks.

Pecundang?

Saya sempat berpikir lagi dalam hati dan kembali merenungkan kebodohan saya. Hati saya berujar, "Hei kamu bodoh. Kamu adalah dokter. Kamulah yang selama ini mengatakan kepada pasien untuk tak perlu untuk cemas. Kamu yang selalu mengatakan semua akan baik-baik saja. Namun apa yang kamu rasakan kini?" Saya tampak menjadi pecundang.

Saya kembali berujar dalam diri bahwa esok adalah operasi kecil, operasi minor pada gigi. Saya mencoba menenangkan hati, tak perlu cemas. Jangan saya terus melebih-lebihkan. Namun saya pun harus jujur pada hati saya dan membiarkan di kepala saya menari-nari, "Bagaimana ya besok? Apakah akan terasa sakit? Ya Tuhan, semoga baik-baik saja."

Menjadi dokter, saya harus sedikit mematikan rasa. Saya harus tampak tenang dan tegar menghadapi apa yang disebut kesakitan. I should become an angel. Namun semua ini semakin saya sadari bahwa saya dokter, namun saya juga manusia. Saya juga seorang pasien.

Dan saya kini hanya berdoa dan Tuhan akan mengatakan, "Semua akan baik-baik saja."