Selasa, 13 Agustus 2013

Bahasa Indonesia Termudah di Dunia... Apa Benar?


Kita sering mendengar bahwa bahasa Indonesia seringkali dianggap sebagai bahasa yang paling mudah di dunia. Benarkah demikian?

Mungkin ada benarnya. Pemerintah Amerika Serikat dengan klasifikasi Foreign Service Institute (FSI), mengelompokkan bahasa Indonesia bersama dengan bahasa Melayu (Malaysia), dan bahasa Swahili ke dalam kategori III. Kategori III berarti bahasa ini tidak mirip bahasa Inggris baik dari sisi kebudayaan maupun linguistik dan memerlukan waktu 900 jam pelajaran atau dalam 36 minggu. Kategori III ini jauh lebih mudah dibandingkan bahasa Asia lainnya seperti bahasa dengan tulisan kanji (Mandarin, Jepang, Korea sebelum penerapan hangeul oleh Raja Agung Saejong), atau bahasa Arabis, yang kesemuanya dikelompokkan dalam kategori V yang memerlukan 2.200 jam pelajaran atau 88 minggu (setahun lebih!). Atau mungkin bahasa Indonesia masih lebih mudah dibandingkan bahasa tetangga yang masih bertulisan Latin, yakni Tagalog atau Filipino (yang masih memiliki "tenses") atau bahasa aborigin dari Taiwan. Lebih lanjut mengenai FSI bisa disimak di tautan ini.

Bahasa Indonesia itu mudah mungkin ada benarnya, oleh karena itu bahasa ini menjadi bahasa persatuan Nusantara. Bahasa yang menyatukan ratusan bahasa berbagai etnis di Indonesia. Karena fungsinya untuk menyatukan, maka bahasa Indonesia harus mudah dan masuk ke dalam semua logika linguistik berbagai etnis. Inilah hal yang selalu saya banggakan, karena seperti Singapura dan Malaysia saja mereka harus tetap "berjuang" mempertahankan kedudukan bahasa nasional mereka. Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang amat kuat dalam negeri ini baik secara konstitusional maupun realitas.

Bahasa Indonesia memang bukan bahasa tonal, bahasa tanpa pembeda waktu ("tenses"), dan bahasa tanpa gender, bahasa tanpa penentuan kasus (cases seperti nominatif, akusatif, datif, dan genetif seperti pada bahasa Jermanis). Ya, walau mungkin saja bisa bias karena saya penutur asli, namun bahasa Indonesia memang relatif lebih mudah dibandingkan bahasa lainnya.
Sumber: rdipress.files.wordpress.com

Ada yang mengatakan, "bahasa Indonesia adalah bahasa tanpa tata bahasa alias "grammar". Salah besar! Menurut saya, tidak ada bahasa yang tidak memiliki tata bahasa. Bahasa adalah suatu keteraturan logis. Kalau tidak akan terjadi chaos dalam sebuah bahasa.

Nah, ini adalah salah satu sisi sulit dalam bahasa kita. Pernah mendengar afiksasi atau imbuhan? Bahasa Indonesia memiliki afiksasi yang kuantitasnya amat masif. Afiksasi ini memang khas bahasa Indonesia (dan Melayu). Afiksasi yang berbeda memiliki arti yang sangat jauh juga. Saya coba mengambil contoh "lari": berlari, melarikan, dilarikan, pelari, pelarian. Lalu ada juga pengulangan: lari-lari. Dan perlu diperhatikan juga bahwa tidak ada "melari", "dilari", "melarii", atau "dilarii". Belum lagi afiksasi "memper-", "diper-", "ter-", "se-", "ke-" yang digabungkan "-an" atau "-i". Kemudian, arti "melarikan" dan "pelarian" pun tidak ada lagi artinya dengan "bergerak cepat dengan satu tapak kaki menyentuh tanah".

Afiksasi ini sungguh membuat pusing kepala. Bahkan saya yakin, penutur asli masih sering "keblinger" soal ini. Belum lagi proses nasalisasi afiksasi, misalnya pada "meN-" seperti "me-", "men-", "meny-", "mem-", "meng-". Bahkan banyak yang menjadi salah kaprah berjemaah seperti "menyintai", "mengkonfirmasi", "mempublikasikan", dan yang paling heboh, "memperkosa". Apakah kita sadar atas kekeliruan kita?

Namun, penutur bahasa Indonesia memang memiliki toleransi yang amat tinggi. Kalau ada yang mengatakan, "Orang baju kuning pergi sekolah", hal ini mungkin relatif masih dapat diterima. Padahal kalau ingin berbicara dengan tata bahasa baku, "Orang yang berbaju kuning itu sedang pergi ke sekolah". Apa yang bisa kita simpulkan? Tata bahasa yang "chaos" masih bisa diterima dalam bahasa sehari-hari (colloquial) atau "Melayu pasar". Namun untuk berbicara dalam bahasa formal atau bahasa baku, perlu kerja keras yang tak mudah. Jadi, apakah tata bahasa Indonesia gampang? Tidak juga.

Namun (lagi-lagi namun), bahasa Indonesia sehari-hari tidak begitu mudah loh. Apalagi kalau mengikuti dialek Jakarta yang sering menjadi tauladan bahasa "Indonesia" sehari-hari (misalnya bahasa Korea standard termasuk bahasa gaulnya akan merujuk pada dialek Seoul). "Apaan sih?", "Apaan tuh?", "Apaan lu?", "Apaan nih?", "Kok apaan?", "Loh, apaan?", atau gabungan ultimanya "Loh, kok apaan sih? Nih, lu!" akan membuat orang menderita tension headache. Belum lagi imbuhan khas "nge-", "-in", "-an", "ke-an", dan berbagai prokem. Ya, bahasa dialek Jakarta ada kursus dan ilmunya tersendiri. Ciyus, miapah.

Jadi, bahasa Indonesia memang relatif mudah, tapi jangan dipandang sebelah mata. Dan... Ayo berusaha untuk berbahasa yang baik dan benar. Lalu, apakah Anda juga sudah bisa menjawab, "Bahasa Indonesia Termudah di Dunia... Apa Benar?"

*Tulisan dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68

3 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

  1. Ada betulnya, karena memang tidak ada pembeda gender, juga waktu. Tapi, kesulitan bagi orang asing dalam bahasa Indonesia dan juga di masa depan adalah, ketidakteraturan dalam pengucapan dan penggunaan yang baik dan benar. Dengan kata lain...."Disiplin Bahasa" yang masih kurang.

    BalasHapus
  2. ini artikel ciyus??
    miapah? hehehe

    salam bahasa

    BalasHapus
  3. betul sekali Kakak. Imbuhannya itu membuat penutur asing bingung, terkadang kita saja juga bingung.

    BalasHapus

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: