Jumat, 03 Desember 2010

Kisah dengan Pasien-pasien Neurologi

Saya dan rekan-rekan koas neurologi

Blog ini sudah tampak berdebu, penuh tikus dan laba-laba. Sudah lama sekali -sangat lama-, saya tidak tulis menulis di tempat ini. Sebenarnya saya sangat merindukan untuk menulis. Tapi, ya, kegiatan koas begitu banyak memakan waktu. Dan bulan kemarin saya menghabiskan kepaniteraan di RSUD S di Kota Sukabumi. Celakanya, saya tidak memiliki akses internet kecuali si Blackberry yang semakin lama semakin rewel minta di-reboot ulang terus.

Yang saya ingin bagikan kali ini, lagi-lagi tentang pasien. Ya, saya tidak punya cerita tentang apapun lagi yang berkesan di bulan kemarin. Yup, sudah saya pikirkan dan bongkar-bongkar lagi. Mungkin Anda bosan dengan cerita tentang pasien melulu. Namun, ini cukup berbeda dari cerita dua anak retardasi mental dan pasien dengan penyakit jiwa yang sudah lalu saya kisahkan. Mari saya mulai.

Saya menghabiskan waktu sebulan di bagian neurologi di RSUD Syamsudin, ya sebelumnya di seminggu di RS A di Jakarta. Ada satu hal yang menarik saya ketika salah satu konsulen berkata: "Saya lebih suka Anda berada dengan pasien, menghabiskan waktu dengan pasien, ataupun sebisanya sering dengan pasien." Ya, mungkin kata-kata ini tidak biasa bagi para koas. Ada beberapa yang menganggap pasien adalah guru. Beberapa pihak juga merasakan pasien adalah beban, terutama bagi yang jaga malam karena harus mengisi laporan. Kalau saya? Saya memilih jalan tengah saja, pasien jangan terlalu banyak tapi saya senang bersama dengan pasien. =)

Saya senang bersama dengan pasien-pasien neurologi. Ya, tentunya bukannya saya senang dengan penyakit mereka. Tetapi karakteristik mereka yang berbeda dengan pasien bagian lainnya. Pasien neurologi, terutama pasien stroke adalah pasien yang secara sekonyong-konyong harus menerima kenyataan mereka stroke, badan lumpuh, atau berbicara pelo. Mereka adalah orang-orang yang menyesali diri akan kesehatan mereka, kebiasaan mereka. Mereka adalah pasien yang sepenuhnya bergantung pada orang lain. Selain karena dimakan usia, mereka kehilangan kemampuan untuk hal-hal dasar seperti berjalan, mandi, makan, dan bahkan berbicara. Dan dibalik itu semua, mereka masih memiliki jiwa yang sadar dan bergejolak dahsyat.

Tn L

Adalah pasien Tn L yang terbaring lemah di unit stroke. Pasien ini sebenarnya bukan pasien yang secara langsung saya terima. Ia sudah menjalani beberapa hari perawatan di sana sebelum saya memulai kepaniteraan. Pasien ini terkenal banyak maunya, sering memanggil perawat, sering meminta untuk diukur tekanan darahnya. Ketika membagi follow-up pasien, saya mendapat pasien ini. Ya, untuk permulaan saya tentunya mendatangi pasien untuk mengetahui riwayat penyakitnya. Dia banyak bercerita, banyak berkisah. Sampai suatu ketika saya menyimpulkan pasien ini memiliki kepribadian yang cemas. Ia takut stroke iskemik itu terjadi pada dirinya. Dia takut semuanya. Bahkan makanan rumah sakit ia takuti bergaram dan bisa memperburuk kesehatannya. Saya berusaha untuk memberitahunya berbagai hal yang tak perlu ia takuti. Setelahnya saya berpamitan dan pulang ke asrama koas di sana.

Keesokan harinya saya mendapati kabar bahwa ternyata saya dicari-cari oleh keluarga pasien itu. Mau ketemu "dr. Andrian" katanya. Ternyata dia lagi-lagi cemas pada malam itu. Memang kepribadiannya begitu rentan. Dan hari-hari berikutnya saya terus menerus dicari. Saya agak sedikit jengkel sebenarnya, hahahaha... Karena saya tidak jaga kok dicari-cari. Namun saya cukup senang, karena mungkin itu adalah tanda penghargaan. Dan ketika ia pulang pun saya sudah tak berdinas di unit stroke, saya masih dapat bertemu isterinya dan berpamitan.

Ny T

Ny T, seorang ibu separuh baya dengan stroke iskemik. Mulutnya pelo, badannya lemas separuh. Apa yang saya dapati berbeda dengan kasus Tn L. Walaupun ia terkena stroke, ia masih berusaha untuk semangat, bahkan ia menjawab pertanyaan dengan lantang. Ia pun sering tertawa, bahkan kadang-kadang menjadikan dirinya bahan humor di seantero bangsal kelas 3.

Keesokan harinya, saya mem-follow-up Ny T. Saya menemukan bahwa tangan dan kakinya yang lemas mulai pulih, mulai kuat. Saya pun mengatakan, "Wah ibu, Alhamdullilah. Ini sudah perbaikan. Sudah bisa main panco ya bu." Ny T terkejut dan senang sekali. "Benar dok?" Saya hanya bisa tersenyum dan anak yang menunggunya pun tersenyum senang. Saya pun menjawabnya, "Ini karena pikiran ibu yang tetap semangat." Saya pun meninggalkannya, dan ia pun menggerak-gerakkan tangannya yang dulu lemas itu. Dan hingga beberapa hari ke depan, ia tetap senang dan gembira sampai pada akhirnya pulang untuk perawatan di rumah.

Mungkin ini kebiasaan yang terkadang dikeluhkan oleh teman-teman saya. Bahwa kalau saya anamnesa terlalu lama. Terkadang saya keluar anamnesa malah menjadi mengobrol, tanpa membicarakan penyakitnya. =P Namun bagian ini yang saya suka, bergaul dengan pasien.

Tidak ada salahnya bukan kalau kita tahu berapa cucunya dan apa makanan kesukaannya?

2 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: